Sejarah Gong Kebyar

Gamelan Gong Kebyar

Gamelan gong kebyar sebagai seni musik tradisional Bali dalam sejarahnya yang ditulis babad bali, gong kebyar diperkirakan muncul di Singaraja pada tahun 1915. Desa yang sebut-sebut sebagai asal pemunculan Gong Kebyar adalah Jagaraga (Buleleng) yang juga memulai tradisi Tari Kebyar. Ada juga informasi lain yang menyebutkan bahwa Gong Kebyar muncul pertama kali di desa Bungkulan (Buleleng). Perkembangan seni Gong Kebyar ini mencapai salah satu puncaknya pada tahun 1925 dengan datangnya seorang penari Jauk yang bernama I Ketut Mario dari Tabanan yang menciptakan sebuah tari Kebyar Duduk atau Kebyar Trompong.

Perkembangan Gong Kebyar di Bali, seperti yang dikutip dalam catatan sukoco dalam blog http://etno06.wordpress.comterdapat tiga Gamelan kebyar yang berkembang di Bali yaitu :

  1. Gamelan kebyar yang bersumber dari Gong Gede,
  2. Bersumber dari gamelan palegongan.
  3. Murni buatan baru.

Yang pertama memiliki embat yang sesuai dengan embat gamelan gong gede yaitu agak rendah seperti yang banyak terdapat di Bali Utara. kelompok kedua menggunakan embat sama dengan embat gamelan palegongan (sumbernya) yaitu agak tinggi seperti yang sebagian besar terdapat di Bali bagian selatan, Gamelan-gamelan kebyar yang murni buatan baru sebagian besar ber-embat sedang seperti yang terdapat di berbagai daerah di Bali dan diluar Bali. Kenyataan ini menunjukan bahwa belum ada standarisasi embat untuk Gamelan kebyar di Bali. Juga Dinamakan gong kebyar, menurut kutipan catatan blog ekadarmaputra dalam ISI Denpasar, Gong kebyar ditabuh untuk pertama kalinya menyebabkan terjadinya kekagetan yang luar biasa. Masyarakat menjadi tercengang dan ternak sapi yang sedang diikatkan di ladang dan di kandangnya terlepas dan lari tunggang langgang. Disebutkan juga dalam catatan blog tersebut, gong kebyar merupakan tabuhan bersama dan serentak yang diikuti oleh hampir semua tungguhan pada perangkatnya kecuali tungguhan suling, kajar, rebab, kempul, bebende kemong, kajar dan terompong. Bentuk kebyar merupakan salah satu bagian dari satu kesatuan gending yang letaknya bisa di depan, di tengah atau di bagian akhir. Jenis tabuhan kebyar ini sering digunakan pada iringan tarian maupun tabuh petegak (instrumental). Karena itu kebyar memiliki nuansa yang sangat dinamis, keras dengan satu harapan bahwa dengan kebyar tersebut mampu membangkitkan semangat.

Struktur Gong KebyarGong Kebyar merupakan salah satu perangkat/barungan gambelan Bali yang terdiri dari lima nada ( panca nada ) dengan laras pelog, tetapi tiap-tiap instrument terdiri sepuluh bilah. Gong Kebyar bagi masyarakat Bali sudah tidak asing lagi, karena hampir seluruh desa maupun banjar yang ada di Bali memiliki satu perangkat/ barungan Gong Kebyar. Oleh karenanya gong kebyar menjadi satu barungan gambelan tergolong baru jika dibandingkan dengan jenis-jenis gambelan yang ada saat ini seperti misalnya, gambelan Gambang, Gong Gde, Slonding, Semara Pegulingan dan masih banyak yang lainnya.

Barungan gong kebyar terdiri dari :

  • Dua buah (tungguh) pengugal/giying
  • Empat buah (tungguh) pemade/gansa
  • Empat buah (tungguh) kantilan
  • Dua buah (tungguh) jublag
  • Dua buah (tungguh) Penyacah
  • Dua buah (tungguh) jegoggan
  • Satu buah (tungguh) reong/riyong
  • Satu buah (tungguh) terompong
  • Satu pasang gong lanang wadon
  • Satu buah kempur
  • Satu buah kemong gantung
  • Satu buah bebende
  • Satu buah kempli
  • Satu buah (pangkon) ceng-ceng ricik
  • Satu pasang kendang lanang wadon
  • Satu buah kajar

Di Bali ada dua macam bentuk perangkat dan gaya utama gambelan gong kebyar yaitu gambelan gong kebyar Bali Utara dan gambelan gong kebyar Bali Selatan. Kedua gambelan gong kebyar ini perbedaannya terletak pada :

  • Tungguhan gangsa, Bali Utara bentuk bilah penjain dan dipacek sedangkan Bali Selatan menggunakan bentuk bilah kalorusuk dan digantung.
  • Gambelan Bali Utara kedengarannya lebih besar dari suara gambelan Bali Selatan, meskipun dalam patutan yang sama.

Dalam perkembangannya gong kebyar munculah istilah gaya Bali Utara dan gaya Bali Selatan, meskipun batasan istilah ini juga masih belum jelas. Sebagai gambaran daerah atau kabupaten yang termasuk daerah Bali Utara hanyalah Kabupaten Buleleng. Sedangkan Kabupaten Badung, Tabanan, dan lain mengambil gaya Bali Selatan. Disamping itu penggunaan tungguhan gong kebyar di masing-masing daerah sebelumnya memang selalu berbeda karena disesuaikan dengan kebutuhan maupun fungsinya.

Fungsi Gong Kebyar
Sebagaimana kita ketahui lewat literatur dan rekaman telah tampak bahwa Gong Kebyar itu telah berfungsi sebagai pembaharu dan pelanjut tradisi. Sebagai pembaharu maksudnya adalah lewat gong kebyar para seniman kita telah berhasil menciptakan gending-geding baru yang lepas dari tradisi yang sudah ada. Sedangkan sebagai pelanjut tradisi maksudnya adalah gong kebyar telah mampu mempertahankan eksistensi reporter gambelan lainnya melalui transformasi dan adaptasi. Seperti apa yang telah diuraikan di atas bahwa gong kebyar memiliki fungsi untuk mengiringi tari kekebyaran. Namun sesuai dengan perkembangannya bahwa gong kebyar memiliki fungsi yang sangat banyak. Hal ini dikarenakan gong kebyar memiliki keunikan yang tersendiri, sehingga ia mampu berfungsi untuk mengiringi berbagai bentuk tarian maupun gending-gending lelambatan, palegongan maupun jenis gending yang lainnya. Disamping itu Gong Kebyar juga bisa dipergunakan sebagai salah satu penunjang pelaksanaan upacara agama seperti misalnya mengiringi tari sakral, maupun jenis tarian wali dan balih-balihan. Karena gong kebyar memiliki multi fungsi maka gong kebyar menjadi sumber inspirasi karya baru. Dengan demikian Gong Kebyar telah berfungsi sebagai pembaharu dan pelanjut tradisi. Sebagai pembaharu maksudnya adalah lewat Gong Kebyar para seniman kita telah berhasil menciptakan gending-gending baru yang lepas dari tradisi yang sudah ada. Sedangkan sebagai pelanjut tradisi Gong Kebyar telah mampu mempertahankan eksistensi reporter gambelan lainnya melalui transformasi dan adaptasi. Misalnya dalam gending gong kebyar kita mengenai istilah gegambelan, gender wayang dan gong luang. Juga disebutkan dengan menggunakan iringan gamelan gong kebyar, dalam sejarah drama klasik di Bali, maka drama tersebut berganti nama menjadi drama gong.dan sejak itulah banyak muncul sekaa-sekaa drama gong baru lainnya

 

( Sumber, http://senitradisionalbali.blogspot.co.id/2012/05/gamelan-gong-kebyar.html)

Sejarah Okokan Kerambitan

Kesenian Okokan KerambitanTabanan

tradisi okokan desa kerambitan tabanan
tradisi okokan desa kerambitan tabanan
Selain terkenal dengan Pura-puranya seperti Pura Tamba Waras, Pura Pucak Bukit Rangda dan lainya bisa di lihat di label Tabanan, juga memiliki kesenian yang sudah sangat terkenal dan kuno pastinya, yaitu Kesenian Kokokan. Kesenian Okokan merupakan gamelan khas yang berasal dari Banjar Belong, Desa Baturiti Kerambitan,Tabanan. kata okokan berasal dari bunyi yang dikeluarkan oleh okokan itu “klok-klok-klok” sehingga disebut okokan.
Sejarah Okokan
Pada jamanya dulu ditemukan Okokan diberi nama Bandungan oleh penduduk desa. Okokan pada masa lalu itu adalah sebuah kegiatan yang sangat mistis dilakukan untuk mengusir wabah penyakit. Pada saat senja para penduduk berkeliling desa untuk mengusir roh-roh jahat yang menyebarkan wabah penyakit. Peduduk membawa berbagai macam kentongan dari bambu kemudian dipukul secara bertalu-talu yang melahikan bunyi-bunyian yang dipercaya bisa mengusir hawa negatif yang mengancam desa. Pada awalya Okokan ini merupakan alat musik yang digunakan pada hewan binatang ternak seperti sapi atau kerbau, biasanya dikalungkan dilehernya.
Okokan ini tidak dipasang pada binatang piaraan, tetapi dikalungkan langsung pada leher orang dan di ayun-ayunkan, kegiatan ini dilakukan untuk hiburan mengisi waktu luang saat menunggu musim panen para peduduk memainkan alat okokan ini sehigga mejadi alat musik sampai sekarag. Tradisi ini dilakukan secara turun temurun dari para tetua atau para leluhur, maka alat musik ini sudah merupakan bagian dari kehidupan petani tradisional masyarakat Banjar Belong bermula dari wabah, okokan ini pun dimainkan untuk mengusir wabah, sesuia dengan kepercayaan bahwa wabah yang menyerang itu disebabkan oleh mahluk halus, maka harus diusir dengan membunyikan alat-alat yang bisa menghasilkan bunyi, maka digunakanlah okokan dengan dimainkan oleh beberapa orang untuk mengusir wabah.
tradisi okokan desa kerambitan tabanan
tradisi okokan desa kerambitan tabanan
Dimainkan oleh beberapa orang sambil berkeliling desa, Ritual ini disebut Ngerebeg, ngerebeg akan dilaksanakan setiap ada wabah yang melanda masyarakat seperti cacar, kolera dan sebaginya, maka tetua desa akan mengambil tindakan demi keselamatan warga dengan upacara pecaruan diiringi dengan gegerebegan, selain itu juga dilaksanakan sehabis melakukan upacara tawur kesanga dengan mengelilingi desa. Dan untuk menambah sakral ngerebeg, maka okokan ini diiringi dengan dua buah kendang, yang disebut kendang gede, dibuat kira-kira pada tahun 1917 selanjutnya masyarakat mempercayai bahwa kendang gede ini yang dipercaya warga Banjar Belong diyakini memiliki kekuatan magis. Okokan pada umumnya terbuat dari bahan kayu yang bagian dalamnya dilobangi yang hampir menyerupai kentongan tapi bentuknya lebih besar, dan didalamnya diisi pemukul yang disebut palit. Alat bunyi-bunyian ini umumnya dipasang pada binatang ternak seperti sapi atau kerbau, sebagai penghias atau tanda hewan tersebut, okokan ini akan mengeluarkan bunyi jika “klok-klok-klok” diayun-ayunkan.
( Sumber, http://colekpamor.blogspot.co.id/2016/03/kesenian-okokan-kerambitan-tabanan.html)

Tari Kecak

Tari Kecak

Tari Kecak biasanya disebut sebagai tari “Cak” atau tari api (Fire Dance) merupakan tari pertunjukan masal atau hiburan dan cendrung sebagai sendratari yaitu seni drama dan tari karena seluruhnya menggambarkan seni peran dari “Lakon Pewayangan” seperti Rama Sita dan tidak secara khusus digunakan dalam ritual agama hindu seperti pemujaan, odalan dan upacara lainnya.  Bentuk – bentuk “Sakral” dalam tari kecak ini biasanya ditunjukan dalam hal kerauhan atau masolah yaitu kekebalan secara gaib sehingga tidak terbakar oleh api.

Keunikan.
Tidak seperti tari bali lainnya menggunakan gamelan sebagai musik pengiring tetapi dalam pementasan tari kecak ini hanya  memadukan seni dari suara – suara mulut atau teriakan – teriakan seperti “cak cak ke cak cak ke” sehingga tari ini disebut tari kecak.

 

 

Ditambahkan oleh TariKecak.com, Tarian Kecak ini bisa ditemukan di beberapa tempat di Bali, tapi yang di Uluwatu adalah yang paling menarik untuk ditonton karena atraksinya bersamaan dengan sunset atau matahari tenggelam. Menurut Wikipedia, kecak diciptakan pada tahun 1930-an oleh Wayan Limbak yang bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana. Wayan Limbak memopulerkan tari ini saat berkeliling dunia bersama rombongan penari Bali-nya.

Selain kisah Ramayana, ada beberapa judul dan tema kecak yang sering dipentaskan seperti :
– Kecak Subali dan Sugriwa, diciptakan pada tahun 1976.
– Kecak Dewa Ruci, diciptakan pada tahun 1982.
Keduanya merupakan hasil karya dari Bapak I Wayan Dibia.

 

( Sumber, http://sejarahtaribali.blogspot.co.id/2011/05/tari-kecak.html)

 

Sejarah Tari Oleg Tamulilingan

  1. Sejarah Tari

 

Tari Oleg Tamulilingan diciptakan oleh seniman besar tari Bali yaitu I Mario. Oleg dapat berarti gerakan yang lemah gemulai, sedangkan tamulilingan berarti kumbang pengisap madu bunga. Tari Oleg Tamulilingan melukiskan gerak-gerik seekor kumbang, yang sedang bermain-main dan bermesra-mesraan dengan sekuntum bunga di sebuah taman. Tarian ini sangat indah. Tari Oleg Tamulilingan merupakan karya cipta seniman besar I Ketut Marya alias I Mario yang paling populer di antara sejumlah ciptaannya. Tarian ini digarap tahun 1952 atas permintaan John Coast, budayawan asal Inggris yang sangat terkesan dengan kesenian Bali, untuk dipromosikan ke Eropa dan Amerika Serikat. Tari ini merupakan tari berpasangan ditarikan oleh seorang panari wanita dan seorang penari laki-laki. Gerakan-gerakan Tari Oleg Tamulilingan menggambarkan keluwesan seorang penari wanita, dan kegagahan penari laki-laki. Kedua penari menampilkan gerakan-gerakan bermesraan dengan penuh dinamika. Bernama John Coast (1916-1989), kelahiran Kent, Inggris, sangat terkesan dengan kebudayaan Bali. Sebelum berkiprah di Bali, ketika perang dunia kedua meletus, Coast masuk wajib militer dan sebagai perwira, sampai sempat bertugas di Singapura. Ketika Singapura keburu dikuasai Jepang, Coast yang berstatus tawanan lalu dikirim ke Thailand. Namun begitu, Coast memang berbakat seni. Ia ternyata melahirkan tulisan “Railroad of Death” pada 1946 yang kemudian mencapai best seller dalam waktu singkat. Hal itu mendorong semangatnya lagi untuk menulis buku “Return to the River Kwai” pada 1969. Di sela itu, Coast sempat berkolaborasi dengan seniman musik dan tari dari berbagai latar budaya, hingga menggelar pertunjukan konser pasca-perang. Setelah merasa aman, pada 1950 Coast meninggalkan Bangkok menuju Jakarta karena terdorong untuk mengabdi kepada perjuangan Indonesia. Dalam waktu singkat, ia mendapat kepercayaan dari Bung Karno untuk memegang jabatan sebagai atase penerangan Indonesia. Selama di Indonesia, Coast menikah dengan Supianti, putri Bupati Pasuruan. Ketika menetap di Bali, ia tinggal di kawasan Kaliungu, Denpasar. Cinta Coast pada seni budaya Bali mulai tumbuh saat tersentuh tradisi dan kehidupan masyarakat. Kesenian ternyata amat memikat hati dan obsesinya untuk mengorganisir sebuah misi kesenian ke Eropa. Selama petualangannya mengamati beberapa sekeha gong di Bali, Coast tertarik dengan penampilan sekaha gong Peliatan. Pada 1952, Coast menilai bahwa Gong Peliatan dengan permainan kendang AA Gde Mandera yang ekspresif cukup layak ditampilkan di panggung internasional. Dalam rencana lawatan ke Eropa itu, Coast ingin juga membawa sebuah tarian yang indah dan romantik, di samping beberapa tarian yang sudah sering dilihatnya. Atas saran Mandera, Coast lalu menghubungi penari terkenal sekaligus guru tari I Ketut Marya yang kemudian akrab dipanggil I Mario. Mario yang kala itu sudah menciptakan tari Kebyar Duduk yang kemudian menjadi tari Terompong, bersedia bergabung dengan Gong Peliatan. Coast “merangsang” Mario untuk berkreasi lagi dengan memperlihatkan buku tari klasik ballet yang di dalamnya terdapat foto-foto duet “Sleeping Beauty” yaitu tentang kisah percintaan putri Aurora dengan kekasihnya Pangeran Charming. Maka terinspirasilah Mario menciptakan tari Oleg. Inilah yang diinginkan Coast. Untuk membawakan tari Oleg — tarian baru itu, I Mario memilih I Gusti Ayu Raka Rasmi yang memiliki basic tari yang bagus. Dalam menata iringannya, Mario mengajak I Wayan Sukra, ahli tabuh asal Marga, Tabanan. Di samping itu, dilibatkan pula tiga pakar tabuh Gong Peliatan dalam menggarap gending Oleg itu yakni Gusti Kompyang, AA Gde Mandera, dan I Wayan Lebah. Tari Oleg itu semula bernama Legong Prembon. Nampaknya Coast kurang berkenan dengan nama Legong Prembon karena kata itu sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. I Mario lantas menggantinya menjadi tari Oleg Tamulilingan Mengisap Sari dan atas kesepakatan bersama akhirnya disebut Oleg Tamulilingan atau “The Bumble Bee Dance”. Tarian ini menggambarkan dua ekor kumbang, jantan dan betina, sedang bersenang-senang ditaman bunga sambil mengisap madu. Sebagai kumbang jantan pasangan Raka Rasmi, dipilihlah I Sampih yang jauh lebih tua, berasal dari Bongkasa, Badung. Kata oleg dalam kamus bahasa Bali berarti “goyang”. Dalam tarian yang melambangkan kumbang betina itu, memang terdapat gerakan bergoyang lemah gemulai seolah-olah pohon tertiup angin. Gerakan lemah gemulai tari Oleg ini nampak pada bagian pengadeng — saat penari memegang oncer yang bergantian dengan kedua tangan ditekuk silang di depan dada, sambil bergoyang ke kanan dan ke kiri. Maka dinilai, pemeran yang cocok membawakannya adalah yang berperawakan langsing semampai sebagai pemberi kesan ngoleg. Begitulah. Tarian ini lantas awalnya lebih dikenal di mancanegara daripada di Bali, karena begitu tercipta lalu dipakai ajang promosi Bali di luar. Sebelum berangkat ke Eropa, misi kesenian pemerintah RI itu terlebih dahulu pentas di Istana Merdeka untuk pamitan kepada Presiden Soekarno karena akan melawat sekitar 10 bulan mengunjungi Prancis, Jerman, Belgia, Italia, Inggris dan beberapa kota besar di Amerika Serikat. Mario tidak turut dalam rombongan itu. Namun beberapa tahun kemudian, bersama Gong Pangkung Tabanan, ia “menghipnotis” masyarakat Eropa, Kanada dan Amerika Serikat dengan berbagai improvisasi gerak tari indah dalam tari Kebyar Duduk dan tari Terompong pada acara “Coast to Coast Tour” pada 1957 dan 1962.

Perkembangan Tari

Tari Oleg Tamulilingan dianggap sebagai Tari Klasik, karena menampilkan gerakan-gerakan dasar tari Bali, yang belum mendapatkan (mengalami kreasi). Perkembangan tari Bali benar-benar diperhatikan.Minat para penari Bali terhadap Tari Oleg Tamulilingan cukup besar. Walaupun tarian ini cukup sulit di tarikan. Penari wanita Oleg Tamulilingan sangat memerlukan kelenturan tubuh, keluwesan tangan dan dasar tari Bali yang cukup kuat. Sedangkan penari laki-lakinya juga memerlukan kelenturan tubuh dan keluwesan.Tari Oleg Tamulilingan ini juga sering dijadikan materi lomba tari bali. Perkembangan Tari Oleg dalam beberapa periode belakangan memang mengalami perubahan gerak Perkembangan ini dilakukan oleh Sekaa Gong Belaluan, Denpasar, di bawah komposer terkenal I Wayan Berata, sebelum tahun 1960. Selanjutnya terjadi pula perkembangan pada perbendaharaan gerak tarinya. Jika diamati dengan cermat, perubahan itu bisa berakibat buruk. Pengenalan gaya Mario menurut Agung Suparta lebih memicu kreativitas generasi muda terhadap bentuk-bentuk “pemberontakan” Mario pada masanya. “Dalam tari Oleg Tamulilingan, bisa dilihat simbol-simbol pemberontakan gerak yang dilakukan Mario dalam seni tari Bali,” tutur seorang pengamat seni muda Tabanan, Putu Arista Dewi. Gaya asli Mario memang seharusnya dikenali secara cermat. Banyak puncak-puncak pencapaian gerak dari Mario yang sulit ditandingi seniman masa kini. Misalnya dari segi properti, kipas, panggul terompong dan kancut dalam tarian ciptaan Mario bukan hanya berfungsi sebagai alat semata, namun menyatu dan saling mendukung dalam gerak tubuh penari. “Oleh sebab itu gaya Mario perlu dilestarikan, sebelum punah dan sulit melacak asal-usulnya,” ujar Ayu Trisna Dewi Prihatini, pengelola sekaligus Pemilik Sanggar Tari Ayu di Tabanan. Dosen Karawitan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar, I Made Arnawa, S.S.Kar menambahkan, lomba tari Oleg secara berkesinambungan akan mampu membuktikan sejauhmana ciptaan Mario ini telah direvisi dan diaplikasikan oleh koreografer penerus. I Gusti Ayu Raka Astuti asal Kedaton, Denpasar, yang mantan pengajar tari Oleg Tamulilingan di Kokar (kini SMK 3 Sukawati) Bali, bertutur soal itu. Katanya, ketika ia menarikan Oleg yang telah direvisi di hadapan I Mario sang pencipta Oleg, ternyata Mario sendiri tidak bereaksi alias mendiamkannya saja. Sebelumnya, Raka Astuti diajar tari Oleg yang “asli” gaya Mario oleh guru tari asal Lebah, Denpasar, I Wayan Rindi. Di situ Raka Astuti melakukan perubahan pada bagian papeson. Saat akan bergerak di samping, dirasakan agem nampak lukus — kurang enak. Bila bergerak ke samping kiri, tangan kanan digerakkan di depan dada menuju ke arah samping kiri. Menurut Raka Astuti, gerakan itu akan menutupi muka dan mengakibatkan olah tubuh tidak kelihatan.Menghindari hal itu, maka ia membuat olah gerak baru, bila akan ke samping kiri maka tangan kiri yang digerakkan lebih dahulu ke kiri dan olah tubuh akan nampak dengan gerakan badan nyeleyog ke kiri. Masih dalam papeson, sebelum menghadap ke samping kanan ataupun kiri, ada tambahan gerakan angsel kado. Demikian pula pada perbendaharaan gerak lainnya terdapat pembaruan-pembaruan lain. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1961. Inilah yang kemudian mengantarkan Raka Astuti sebagai salah seorang penari Oleg Tamulilingan yang memiliki gaya tersendiri.Dalamkoreografinya, sebelum penari “kumbang jantan” atau muanin Oleg memasuki arena, Oleg Tamulilingan sebagai simbol “kumbang betina” menari sendirian. Jadi ini merupakan tari solo. Hal ini memberi ruang lahirnya berbagai style Oleg sesuai dengan kemampuan dan ciri pribadi masing-masing penarinya.

Fungsi

Tari Oleg Tamulilingan merupakan tari bebalian atau hiburan. Kalau dipentaskan di pura, tari ini hanyalah sebagai hiburan tidak terkait dengan upakara di pura. Tari ini juga sering dipentaskan untuk hiburan bila bila ada acara-acara baik di hotel-hotel maupun di instansi pemerintah. Sebagai ajang lomba untuk melestarikan Tari Oleg Tamulilingan yang baru ini di selenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tabanan telah menggelar Lomba Tari Oleg Tamulilingan dan Kebyar Terompong yang terbuka untuk peminat di seluruh Bali, guna mengenang dan mendiang Mario. Bupati Tabanan, Nyoman Adi Wiryatama menyambut baik penyelenggaraan lomba ini. Ratusan remaja dari delapan kabupaten/kota di Bali sempat mendaftarkan diri sebagai peserta, namun panitia hanya menyediakan tempat bagi 40 pasang penari Oleg dan 16 penari Kebyar Terompong. Jumlah peserta kali ini lebih banyak jika dibandingkan dengan lomba serupa tahun lalu hanya diikuti 20 peserta. Kompetisi tari Bali yang berlangsung 25-27 Maret lalu di Gedung Mario Tabanan ini juga menjadi hiburan segar bagi masyarakat, selain tujuan utamanya sebagai ajang peningkatan kreativitas seni di daerah “lumbung beras” Bali itu. Generasi muda terlihat antusias mengikuti lomba tari Oleg yang menjadi wadah untuk membuktikan kemampuan dan penguasaan tari serta memperebutkan hadiah total senilai Rp 37 juta. “Tari Oleg itu lembut namun punya tingkat kesulitan tinggi, mendorong saya ingin menjadi penari Oleg terbaik di Bali,” tutur Wiwik (18), peserta dari Karangasem. Niat luhur dari Disbudpar dalam mempertahankan gaya tari rancangan Mario patut dihargai, ungkap I Gusti Agung Ngurah Supartha, salah seorang tim juri dalam lomba tersebut. Mantan Kepala Taman Budaya Denpasar itu melihat dalam perkembangan Tari Oleg dan Kebyar Terompong belakangan ini muncul semacam rasa waswas bahwa “Oleg asli ciptaan Mario” bisa punah “ditelan gelombang” tari baru yang tak tentu arah dan akar budayanya.

Ragam Gerak

Tari Oleg Tamulilingan ini di awali dengan keluarnya penari wanita dengan gerakan ngegol perlahan sedangkan kedua tangan memegang selendang ke atas lalu memungkah lawang agem kanan, nyeledet, menganggukan kepala. Keluwesan penari wanita diperlihatkan dengan nyeleog perlahan-lahan lalu agem kiri. Kaki penari wanita harus bisa mempermainkan lancingan agar lacingan tidak melilit kaki.Gerakan duduk metimpuh di ikuti gerakan tangan dan seledet mata yang amat dinamis. Gerakan metimpuh ini diakhiri dengan gerakan badan nyeleog ke kanan nyeleog kiri, berdiri agem kanan. Mata nyeledet kanan, pecuk alis menganggukan kepala. Pindah agem kiri, pecuk alis menganggukan kepala. Berjalan ngegol, kaki ngenteb, lalu tangan nyilang di dada dengan ngegol perlahan. Berganti dengan tangan kanan dan tangan kiri memegang selendangke atas ngegol, gerakan ini diulangan tiga kali. Selanjutnya gerakan duduk metimpuh,gerakan tangan ngejet, seledet kanan,seledet kiri. Diakhiri dengan gerakan tangan kiri ditaruh di lutut dan tangan kanan ditaruh di pinggang. Saat penari wanita duduk, masuklah wanita penari laki-laki. Tangan kiri memegang kancut, tangan kanan memegang atau memainkan kipas, kaki melangkah perlahan kanan dan kiri, agem kanan pecuk alis menganggukan kepala, nyeledet kanan elog-elog. Sementara penari wanita berdiri lalu ngehadap ke penari laki-laki (berhadap-hadapan). Dilakukan pertukaran tempatsebanyak dua kali. Penari wanita ngegol sambil memegang selendang keatas, sedangkan penari laki-laki mengajar penari wanita. Gerakan-gerakan ini menirukan gerak-gerakan kumbang yang sedang memadu kasih. Ragam gerak tari Oleg Tamulilingan benar-benar dapat memperlihatkan kemesraan dari sepasang remaja yang sedang memadu kasih.

Musik Iringan

Gambelan Gong Kebyar :

  1. Gangse pemade 4
  2. Gangse kantilan 4
  3. Kenyur (pengacah) 2
  4. Dublag 2
  5. Jegogan 2
  6. Barangan (reong)
  7. Kendang
  8. Kempul
  9. Cengceng kecil
  10. Gong
  11. Bende
  12. Suling

 

(sumber, https://pn-tabanan.go.id/tari-oleg-tamulilingan/)

Halo dunia!

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!