Tabuh dua mastaka maya

Maret 19th, 2018

 

 

Tabuh dua mastaka maya

 

 

Konsep Terciptanya tabuh dua ini tidak terlepas dari ide garapan atau gagasan pertama ketika ingin membuat suatu karya, seperti karya karya tabuh dua yang lainnya semua berawal dari ide garapan yang nantinya akan membentuk suatu karya yang baik dan terinci, sebelum membuat garapan ini pastinya melihat dan memperhatikan tabuh dua yang lain sehingga dapat membayangkan bentuk tabuh dua itu sendiri, Ide atau gagasan pertama ketika ingin membuat garapan tabuh dua ini adalah ingin membuat sebuah garapan tabuh dua yang berbeda dari yang lain tetapi tidak terlepas dari uger uger atau jajar pageh tabuh lelambatan yang sudah ada, meskipun ingin membuat tabuh dua yang berbeda dengan yang lain namum tabuh dua ini masi mengacu pada konsep tri angga, yaitu kawitan, pengawak, pengecet. Pembahasan karya Sebelum membahas lebih dalam tentang karya ini harus diketahui bagaimana awal terbentuknya tabuh dua ini. Tabuh dua ini awal terbentuknya ketika menjelang karye dipadang tegal ubud pada tahun 1996 yang akan diselenggarakan sebuah pementasan atau yang biasa disebut dengan mebarung dalam istilah penyebutan dua kelompok penabuh yang pentas saling bergantian satu sama lain, dari sinilah akhirnya perkumpulan sanggar samara ratih memulai proses pembentukan tabuh dua ini, proses latihan ini cukup panjang sehingga terciptanya tabuh dua yang apik dan memiliki kesan menarik yang seperti ide garapan diawal sebelum membentuk tabuh dua ini yang berbeda tetapi tetap mengutamakan jajar pageh atau uger uger tabuh lelambatan. Lelambatan tabuh dua ini berjudul mastaka maya yang artinya selalu berubah ubah pengawitnya. Dari tahun 1996 sampai 2017 tabuh ini mengalami perubahan pengawit sebanyak tiga kali, dari penjelasan komposer dari sanalah akhirnya tabuh dua ini berjudul mastaka maya. Sebelumnya gending tabuh dua ini sudah dibuat oleh kompeser pada tahun 1996 dengan judul mulat sarira, tapi sering di pakai untuk mebarung barung dan di ubah ubah pengawitnya maka dari itu gending ini dinamakan mastaka maya yang artinya maya ber ubah ubah kepalanya ( pengawitnya) tetapi pengawak dan pengecetnya sama seperti sebelumnya hanya pengawitnya saja berubah ubah. Peranan Masing-Masing Instrumen dan Motif Pukulannya Pada bagian ini akan coba saya uraikan motif pukulan dan peranan masing- masing instrumen pada tabuh dua mastaka maya berdasarkanyang saya dengar dari narasumber. Namun tidak semua instrumen saya uraikan, tetapi hanya instrumen-instrumen yang memiliki peranan sangat vital.

Nara sumber

I Ketut Cater, S.Sn adalah seorng seniman karawitan yang berasal dari banjar pinda, desa pering, kecamatan belahbatuh, kabupaten gianyar, merupakan lulusan STSI/ Sekolah tinggi seni Indonesia denpasar yang sekarang bernama ISI Denpasar tahun 1993. Sekarang ini masi aktif sebagai tenaga pengajar di sekolah SMK N 3 Sukawati dibidang seni karawitan.

 

 

pengertian tari Rejang Renteng

Maret 19th, 2018

 

 

Tari Rejang Renteng adalah sebuah tarian kesenian rakyat Bali yang ditampilkan secara khusus oleh perempuan dan untuk perempuan. Gerak-gerik tari ini sangat sederhana namun progresif dan lincah. Biasanya pagelaran tari Rejang Renteng diselenggarakan di pura pada waktu berlangsungnya suatu upacara adat atau upacara keagamaan Hindu Dharma.

Tidak diketahui secara pasti kapan tari Rejang Renteng itu ada, dan siapa penciptanya.
Tari Rejang mempunyai arti penting bagi masyarakat penyusung Pura.
Rejang adalah satu simbolis tarian bidadari di surga dimana tari Rejang Renteng tergolong dalam tari wali, (khusus di pentaskan hanya pada saat wali/ upacara).
Sebagai tari wali tari Rejang Renteng ini ditarikan oleh anak-anak (yang belum akil balik) pemaksaan atau pengempon pura dengan tujuan untuk mendapatkan kesucian. Tari ini disajikan sebagai pelengkap dalam upacara pengider buana.
Tari Rejang Renteng ini adalah salah satu jenis tari Rejang yang ditarikan berkelompok. Jumlah para penari rejang ini selalu ganjil. Dan hiasan yang dipergunakan sangat sederhana. Penari rejang memakai kain Bebali berupa anteng yang dikenakan di dada. Sedangkan saputnya memakai kain rembang dan kain cepuk serta kemben lumlum. Ditangannya memakai benang tukelan yang berisi uang kepeng satakan (pis bolong). Penari bergerak beriringan secara seragam. Para penari diikat ke dalam suatu untaian atau rangkaian yang disebut “renteng” dengan seutas benang yang pada umumnya berwarna putih. Ciri khusus dari tari Rejang Renteng yaitu, jempana sebagai linggih Ida Bhatara dituntun dengan benang panjang yang diikatkan pada pinggang si penari.

Pementasan kesenian ini merupakan tradisi yang diwariskan nenek moyang secara turun temurun hingga sekarang. Salah satu desa yang masih mementaskan tari Rejang Renteng adalah desa Kesiman Petilan yang terletak di jantung kota Denpasar. Walaupun masyarakatnya termasuk modern karena mengikuti perkembangan teknologi, namun hingga sekarang masih menjalankan adat dan budaya leluhur yang mereka warisi secara turun temurun.

 

 

Halo dunia!

Februari 28th, 2018

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!