Archive for April, 2018

Senin, April 23rd, 2018

 

Sang Kalika Maya

Sang Kalika Maya, Sisya Sanghyang Durga Birawi, penghuni Setra Gandamayu. Keberadaaannya di Sentra Ganda Mayu untuk menjaga keseimbangan setra. Sang Kalika Maya terkenal karena kemampuan ilmu hitam/ pengeleakan yang dimiliki. Tak ayal, begitu banyak orang dari berbagai penjuru desa datang menghadap, memohon agar berkenan dijadikan murid Sang Kalika Maya. Diceritakan kalau ada manusia yang berbuat tidak sesuai dengan tata karma / swadarma-nya pun semisal ada manusia yang melakukan upacara yadnya tanpa didasari oleh rasa iklas dan suci, maka Sang Kalika Maya akan memberikan hukuman. Zaman Kali Yuga, zaman dimana sifat manusia tamak dengan keinginan / kama, sifat-sifat satwan / kebenaran sudah diselimuti oleh rajas, tamas.

Sang Kalika Maya menceritakan pada muridnya, ia masih teringat akan tugas yg diberikan padanya. Dari dalam hatinya, ia melihat bahwa seorang manusia yang bernama Ki Dukuh Macan Gading sedang persiapan dalam melaksanakan upacara yadnya yang didasari oleh sifat angkuh, menyombongkan diri. walau upacara yadnya dilakukan penuh dengan kemegahan duniawi, namun sang dukuh lupa bagaimana seharusnya bersikap dalam melaksanakan upacara yadnya. Upacara yadnya yang dilakukan, baik dalam dewa, rsi, manusia, pitra maupun butha yadnya (panca yadnya – 5 korban suci ), harus didasari oleh rasa iklas, tulus dan suci. Jika tidak, sia-sialah yadnya tersebut. Tugas Sang Kalika Maya –lah yang akan memberikan hukuman akibat kelalaian tingkah Ki Bendesa Macan Gading.
Di Setra Gandamayu, malam pekat yang tak biasanya, deras hujan mengguyur tanah kering, mengalirkan air bercampur tanah basah, guntur menggelegar, petir menyambar menyilaukam mata. Sang Kalika Maya berdiri bersama para sisya, berdoa kehadapan Sanghyang Durga Birawi. Memohon anugrah agar dapat membuat wabah penyakit di Desa Gading Wana. Mereka bersiap menggagalkan upacara yadnya yang sedang digelar oleh Ki Bendesa Macan Gading di Desa Gading Wana. Wabah di Gading Wana Desa Gading Wana yang sedang hingar binger oleh persiapan upacara yadnya mejadi geger. Kehidupan yang tenteram berbah menjadi suasana menyeramkan. Tidak ada masyarakat yang berani keluar rumah di malam hari. Persiapan upacara menjadi kacau. Bahan-bahan yang menjadi persiapan untuk upacara menjadi cepat busuk. Berbagai perlengkapan upacara yang lain menjadi rusak tak menentu. Banyak warga yang tiba-tiba jatuh sakit dan tak berselang lama, meninggal. Ki Dukuh Macan Gading menjadi risau, kebingungan akan kejadian aneh yang menimpa masyarakatnya. Rasa sedih tak tertahankan menyaksikan masyarakatnya dalam keadaan menderita akibat sesuatu yang tidak jelas. Dalam keadaan pasrah, ia teringat akan saudaranya, Ki Bendesa Manik Mas. Segeralah ia berangkat menuju Desa Mas, meminta bantuan Ki Bendesa Manik Mas.
Pertemuan Kalika Maya

Di tengah perjalanannya, Ki Dukuh Macan Gading bertemu dengan Sang Kalika Maya. Sang Kalika Maya menanyakan kenapa Ki Dukuh Macan Gading begitu tergopoh-gopoh dalam perjalanannya. Ki Macan Gading mengatakan bahwa ia terburu-buru untuk bertemu saudaranya , Ki Dukuh Manik Mas di Desa Mas. Sang Kalika Maya, yg sudah tahu dengan apa yg terjadi kembali menyindir, kenapa saat puncak upacara yadnya yg Ki Dukuh Macan Gading lakukan, justru ia pergi meninggalkannya. Ki Dukuh Macan Gading yg terkenal karena kesaktiannya, seakan lari dari tanggung jawab yg sedang ia hadapi.. begitu Sang Kalika Maya menyindir sikap Ki Dukuh Macan Gading. Ki Dukuh Macan Gading sadar, ia sedang berhadapan dengan siapa. Sang Kalika Maya, seorang dengan dengan kemampuan ilmu hitam / pengeleakan tingkat tinggi.

Berkat kemampuannya, Ki Dukuh Macan Gading juga mampu mengetahui bahwa wabah penyakit yang menimpa masyarakatnya akibat ulah dari Sang Kalika Maya. Sang Kalika Maya menyangkal dan mempertanyakan hal apa yg bisa dijadikan alasan untuk dapat menuduh bahwa dirinyalah yang menjadi sebab wabah penyakit di desa. Sesuatu yang diucapkan tanpa dasar yang kuat merupakan sebuah fitnah dan itu pasti menyakitkan. Justru ia mempertanyakan, bukahkan setiap upacara yg dilakukan harus mendapat restu dari Tuhan. Bukan melaksanakan upacara yang asal-asalan. Setiap tindakan tanpa didasari oleh pengetahuan adalah sesuatu yang sia-sia. Upacara yang dilakukan seharusnya didasari oleh pengetahuan, disesuaikan dengan desa kala patra (tempat waktu dan keadaan) serta berpedoman pada tri hita karana (tiga hubungan yang harmonis) yang akan mengarahkan kita pada kebahagiaan. Harta kekayaan yang dimiliki adalah sesuatu yang palsu. Walau mendapat anugrah, walau berasal dari keturunan terhormat, kalau sesana tidak mencerminkan anugrah, kalau perilaku tidak layak menyandang gelar terhormat, ibarat berjalan tanpa pengetahuan, sia-sia apa yang telah dilakukan. Merasa panas karena didera oleh manusia “hitam” seperti Sang Kalika Maya. Harga diri dari keturunan, kemampuan dan pengetahuan serasa tiada mampu menahan cercaan. Beragam cercaan pernyataan, Ki Dukuh Macan Gading merasa tersudutkan. Pikiran sempit menyelimuti dan pembicaraan tidak akan menyelesaikan permasalahan.. Mengasah sebatas mana kemampuan masing-masih adalah jalan keluar terbaik diantara keduanya. Mereka bersiap untuk mengadu kesaktian.

cak subali sugriwa

Minggu, April 1st, 2018

Cak Subali Sugriwa

Sebuah drammatari baru, Cak Subali Sgriwa, ternyata mendapat sambutan yang cukup hangat dari kalangan masyarakat. Garapan baru yang berpangkal pada dramatari Cak ini adalah ciptaan I Wayan Dibya bersama para mahasiswa dan dosen Asti Denpasar pada tahun 1976. Pengaruh Cak ini sudah nampak pada pertunjukan akhir-akhir ini. Pola-pola gerak, teknik kekilitan suara Cak dan konfigurasi Cak Subali Sugriwa. Cak Subali Sugriwa adalah sebuah garapan baru melakonkan pertempuran Subali dan Sugriwa. Kisah ini diawali dengan kedatangan Hyang Indra ke tempat Subali dan Sugriwa bersemedi. Hyang Indra meminta kepada kedua putra Rsi Gotama ini untuk membunuh raksasa Lembu dan Maisasura. Jika mereka berhasil akan diberikan hadiah seorang putri bernama Dewi Tara. Ketika Subali masuk untuk menyerang kedua raksasa ini, cairan merah dan putih pun keluar dari dalam Goa yang ditafsirkan oleh Sugriwa bahwa kakaknya sudah mati terbunuh.

Sementara tektik kekilitan suara Cak-Cak-Cak masih dipergunakan didalam Cak Modern, formasi lingkaran berlapis-lapis mengiringi lampu seperti yang biasa dilakukan pada Cak Tradisional, ditiadakan atau dikurangi.

Sumber : buku selayang pandang

gambelan semara dhana

Minggu, April 1st, 2018

Deskripsi gambelan semara dhana

Gamelan Smara Dhana ini muncul pertama kali di desa Ubud Gianyar yaitu bertempat di Puri Saren Ubud pada tahun 1988. Gamelan ini diciptakan oleh Bapak Wayan Beratha seorang seniman asal Denpasar. Menurutnya gamelan ini dibuat berdasarkan ide yang bersumber dari pengalaman di dalam penggarapan sendratari yang mulai dari Pesta Kesenian Bali yang pertama tahun 1979. Pada waktu itu sipentaskan sendratari SMKI dengan mempergunakan cerita Mahabrata yang mengambil judul “Sayembara Dewi Ambara”, iringannya memakai 2 jenis barungan gamelan yaitu gamelan gong gede dan semar pegulingan. Bentuk garapan seperti ini dipentaskan setiap tahun sekali, dengan demikian dari tahun ke-tahun, cerita-cerita yang dipergunakan  sebagai garapan sendratari semakin berkembang dan bertambah unik dengan berbagai bentuk adegan, otomatis iringannyapun bertambah dari 2 barungan gamelan menjadi 3 barungan. Melihat dari pengalaman tersebut di atasa, untuk menghemat tenaga maka timbul ide dari Bapak Wayan Beratha untuk membuat satu jenis barungan gamelan lagi yang diberi nama Gong Smara Dhana. Pemberian nama ini tidak bersumber pada salah satu buku, lontar atau prasasti, melainkan timbul dari hati nuraninya sendiri.

Arti Kata Smara Dhana dalam

Smara Dhana merupakan istilah yang banyak dipinjam dalam dunia karawitan, khususnya karawitan Bali. Secara umum karawitan dibedakan atas karawitan vokal dan karawitan instrumental. Karawitan vokal yang dimaksud adalah salah satu bentuk keseniaan yang mempergunakan suara manusia sebagi media ungkap, di Bali dikenal dengan sebutan “Tembang”. Lebih lanjut dijelaskan, tembang adalah seni suara yang diwujudkan melalui seni suara manusia, dan perwujudan ini merupakan suatu pernyataan keindahan melalui suara. Tembang pada hakekatnya adalah jalinan antara melodi, cengkok, wilet dan gregel dalam bentuk seni duara yang mempergunakan laras selendro maupun pelog. (Bandem, 1983:57). Smara Dhana dalam kaitannya dengan karawitan vokal merupakan salah satu jenis dari bentuk tembang macapat yang lazim digunakan untuk adegan suasana sedih khususnya dalam pertunjukan tari arja. Demikian juga dalam karawitan instrumental, sebelum barungan gamelan Smara Dhana dibuat, di dalam lagu-lagu lelambatan klasik pegongan yang menggunakan instrument barungan Gong Kebyar maupun Gong Gede, terdapat juga jenis lagu yang sudah ada yang diberi nama Smara Dhana yaitu digolongan ke dalam lelambatan Tabuh Pat yang komposernya bersifat anonym. Selain itu juga kata Smara Dhana juga merupakan salah satu bentuk dan jenis tari legong yang diambil dari kakawin “Smaradahana”, mengisahkan kemurkaan (kemarahan) Siwa, karena Batara Kamajaya dan Batari Ratih berthasil menggoda dan menggoyahkan tapaNya dengan panah “Panca Wiyasa”, tatkala sorga kedatangan musuh raksasa yang bernama Nilaruraka. Saking marahnya Batara Siwa, lalu Batara Kamajaya dan Batari Ratih dibunuh dan dikutuk agar Batara Kamajaya menjelma pada setiap orang laki, dan Batari Ratih pada setiap orang perempuan. (Poerbatjaraka, 1957:20-21). Menurut Bapak I Wayan Baratha, kata Smara Dhana dipilah menjadi “Semara dan Dhana”. Semara berarti suara, sedangkan Dhana berarti kaya. Jadi kata Smara Dhana dapat diartikan “kaya akan suara.

 

Sistem laras

Semara Dhana satu oktaf mempergunakan laras pelog 5 nada, dan satu oktaf lagi mempergunakan laras pelog 7 nada yang sama dengan gamelan Semara Pagulingan.

  1. Pelog tujuh (7) nada sebagai oktaf ; dong,deng,deung,dung,dang,daing,ding
  2. Pelog lima nada ; dong,deng,dung,dang,ding

Dari rangkaian pelog tujuh (7) nada yang dimiliki kemudian timbulah sebuah patet atau patutan. Adapun jenis-jenis patutan yang berhubungan dengan tujuh (7) nada skala, salah satunya dalam gamelan Smara Dhana adalah sebagai berikut:

  1. Selisir                        123-56-
  2. Selendro Gde          -234-67
  3. Baro                          1-345-7

4.Tembung                  12-456-

  1. Sunaren                   -23-567
  2. Pengenter alit          1-34-67
  3. Pengenter                12-45-7
  4. Lebeng                    1234567

 

Periodisasi

Gambelan semara dhana merupakan gambelan golongan baru.barungan gambelan ini nampak pada ciri ciri yang menonjolkan permainan kendang.gambelan ini muncul pertama kali pada tahun 1988 di desa ubud kabupaten gianyar.