Archive for Maret, 2018

Bulan jatuh di pejeng

Senin, Maret 26th, 2018

Pura Penataran Sasih terletak di Banjar Intaran, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Pura ini memiliki sejarah yang panjang. Di pura ini menyimpan mitos, salah satunya tentang Bulan Pejeng. Nekara perunggu terbesar yang berada di Pura Penataran Sasih ini berukuran 186,5 cm dan dengan garis tengah 160 cm. Nekara tersebut dianggap sangat suci dan dipuja penduduk. Nekara tersebut di letakkan di sebuah pelinggih yang di sebut Ratu Sasih. Orang-orang mempunyai kepercayaan bahwa nekara ini adalah bagian bulan yang jatuh dari langit. Sehingga Pura Penataran Sasih berasal dari nama bulan (sasih=bulan). Nekara ini dimungkinkan sebagai sarana upacara untuk memohon hujan agar hutan-hutan menjadi rindang, menumbuhkan tanaman bahan makanan dan obat-obatan, sungai mengalirkan air yang jernih, dan adanya bulan bersinar sejuk merupakan panorama alam yang indah dan memukau.

Sumber-sumber tradisional menyebut, benda ini adalah bulan yang dahulu kala jatuh dari langit, yang membuat Desa Pejeng menjadi terang-benderang sepanjang hari, sehingga para pencuri tidak dapat beraksi. Para pencuri jadi marah, lalu bulan itu dikencingnya, sehingga tidak bersinar lagi sampai sekarang. Sementara itu, ada yang menceritakan bahwa Bulan Pejeng adalah subang Kebo Iwa, seorang tokoh legendaris yang dengan segala kesaktiannya dapat memahat sejumlah kekunaan seperti candi tebing Gunung Kawi di Tampaksiring. Dari beberapa referensi dan sumber yang ada menyebutkan bahwa Pura Penataran Sasih merupakan pura tertua yang merupakan pusat kerajaan pada zaman Bali Kuno. Seorang arkeologi, R. Goris dalam buku “Keadaan Pura-Pura di Bali” menyebutkan bahwa pusat kerajaan pada zaman Bali Kuno terletak di Bedulu, Pejeng.

Pura Penataran Sasih merupakan pura penataran sekaligus sebagai pemujaan awal terjadinya kehidupan di dunia. Sedangkan menurut ahli ilmu purbakala, Von Heine Geldern yang dikutip oleh Prof. I Gst. Gede Ardana dalam bukunya “Penuntun ke Obyek-obyek Purbakala” menyatakan bahwa nekara tersebut merupakan hasil Kebudayaan Dongson dari Vietnam Utara. Maka di duga Pura Penataran Sasih telah ada sejak jauh sebelum Hindu masuk ke Bali. Karena kebudayaan Dongson ada pada tahun 300 SM. Sementara itu adanya Hindu masuk ke Bali diperkirakan sekitar abad ke-8. Ini artinya tempat pemujaan yang bernama Pura Penataran Sasih ini sudah ada sebelum datangnya pengaruh Hindu ke Bali. Setelah adanya pengaruh Hindu di Bali, barulah Pura Penataran Sasih ini diperluas secara bertahap menurut konsep pemujaan Hindu oleh penguasa dan masyarakat Bali yang beragama Hindu pada saat itu. Sekali lagi bahwa nekara tersebut difungsikan sebagai sarana pemujaan agar alam menjatuhkan hujan menurut musimnya.

Nekara yang ada di Pura Penataran Sasih ini mengandung nilai simbolis magis yang tinggi. Pada nekara tersebut terdapat hiasan kedok muka yang disusun sepasang-sepasang dengan mata bulat membelalak, telinganya yang panjang, dengan anting-antingnya yang dibuat dari uang kepeng, dan hidungnya yang berbentuk segitiga. Bulan Pejeng ini dianggap sebagai subagnya Kebo Iwa. Nekara perunggu ini adalah hasil teknologi logam yang mencapai puncaknya pada akhir zaman prasejarah, yaitu pada masa perundagian, sekitar 2000 tahun silam. Jauh sebelum pengaruh Hindu masuk di Bali.Para ahli arkeologi berpendapat, hiasan kedok muka ini berfungsi simbolis magis atau religius magis, yaitu sebagai lambang leluhur yang arwahnya berdiam di puncak gunung atau bukit dan mempunyai kekuatan magis yang dapat menentukan nasib kaum kerabat atau masyarakat yang ditinggalkannya.

Hiasan kedok muka seperti itu juga terdapat pula pada sarkofagus (peti mayat) yang tersebar di seluruh Bali, dengan berbagai gaya dan mempunyai fungsi yang sama dengan kedok muka pada “Bulan Pejeng”. Mungkin juga hiasan ini mempunyai fungsi estetik dekoratif. Selain itu ada juga sarkofagus Bali yang memakai hiasan berbentuk geometris, yaitu bundar (agak bulat) dan persegi yang mungkin digunakan untuk mengikat tali pada saat peti mayat di turunkan ke liang kubur. Di sebuah pura di Desa Manuaba ditemukan lima buah fragmen cetakan batu untuk nekara tipe Pejeng, maka timbul dugaan bahwa nekara Pejeng adalah hasil industri logam lokal yang telah maju. Perkiraan ini di dukung kenyataan bahwa cetakan batu dari Manuaba memakai hiasan kedok muka yang memperlihatkan persamaan dengan kedok muka pada nekara Pejeng, walaupun mempunyai ukuran yang lebih kecil.

Nekara yang ada di Pura Penataran Sasih ini sebagai gendrang upacara yang dipukul dengan aturan religius sebagai sarana pemujaan agar hujan jatuh pada musimnya yang tepat. Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan hiasan nekara dengan adanya binatang dan matahari dengan delapan sinar. Di samping itu hiasan nekara ada motif lajur-lajur lingkaran terpusat. Pada badan nekara terdapat gambar delapan kepala orang menghadap ke delapan arah. Karena dalam kitab suci agama Hindu pun keberadaan hujan sebagai sumber alam yang paling utama.

Dalam perkembangan selanjutnya, A.J. Bernet Kempers menyatakan bahwa Pura Penataran Sasih ini menjadi pura penataran sabagai pusat kerajaan di Bali yang berstana di Pejeng. Sedangkan sebagai pusat pura gunungnya adalah Pura Puncak Penulisan di Kintamani. Dalam agama Hindu diharapkan adanya perpaduan antara unsur kejiwaan yang disebut Purusa dengan unsur kebendaan yang disebut Pradana. Dua unsur yang berpadu itu akan mendatangkan kesuburan dan kemakmuran. Di Pura Penataran Sasih ini terdapat beberapa peninggalan purbakala, baik yang berasal dari tahun 300 SM maupun abad X Masehi dan pada abad XIV Masehi. Nekara yang biasa disebut Bulan Pejeng oleh masyarakat setempat ini merupakan peninggalan pada tahun 300 SM. Sedangkan berdasar pecahan prasasti yang dapaat di jumpai di pura ini menunjukan bahwa prasasti tersebut sudah ada sejak abad X Masehi. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan Huruf Kawi dan Bahasa Sansekerta yang digunakan oleh prasasti tersebut.

 

Sibelius 4

Senin, Maret 26th, 2018

Sibelius adalah sebuah program software khusus untuk mengetik notasi musik berupa not balok. Program ini dipakai oleh para penggubah lagu, arranger, musisi, videografer, DJ, penerbit lagu. Biasanya digunakan dalam menggubah atau mengedit musik klasik, jazz, pop, band, dan vokal.

Sejarah sibelius

Pada tahun 1986 Ben dan Jonathan Finn, saudara kembar yang berasal dari Britania Raya, memulai membuat perancangan program Sibelius untuk Acorn Archimedes. Penamaan Sibelius berasal dari nama seorang komposer Finlandia, Jean Sibelius, yang merupakan salah satu komposer favorit mereka. Alasan mengapa mereka menciptakan program tersebut karena mereka adalah mahasiswa musik yang kurang menyukai proses menulis dengan tangan.Oleh karena itu mereka membuat sebuah program yang dapat mempermudah penulisan musik.

Ben dan Jonathan Finn menjual produk mereka secara luas pada bulan April tahun 1993, dengan memori yang masih kecil, hanya kurang dari 1 MB, untuk sistem operas RISC. Pengguna pertama program Sibelius adalah Richard Emsley, komposer Inggris, yang menggunakannya sebelum rilis dan merekomendasikan Sibelius untuk dipakai oleh para musikus lainnya. Partitur yang pertama kali dicetak adalah Antara, oleh George Benjamin. Pengguna awal lainnya yang cukup dikenal kalangan masyarakat adalah John Rutter, dirigen Michael Tilson Thomas, dan penerbit Music Sales. Sejak itu, Sibelius dengan cepat mendominasi pasar Inggris.

Pada tahun 1998, versi pertama untuk Windows dirilis, yaitu Sibelius 1.0. Versi untuk Mac baru dirilis sebulan kemudian. Sibelius semakin dikenal banyak orang hingga membuka cabang di Amerika Serikat pada akhir tahun 1996, dan meraih kesuksesannya pada tahun 1999, dengan perubahan menjadi Sibelius 1.2.

Pada bulan Agustus 2006, Sibelius Software Ltd. diambil alih oleh Avid (perusahaan Amerika yang bergerak di bidang software dan hardware untuk produksi audio dan video). Avid terus merilis versi-versi Sibelius sebagai satu-satunya produk yang dapat menulis not balok serta mengintegrasikannya dengan beberapa software yang ada.

Pada bulan Juli 2012, Avid berencana untuk melepaskan konsumennya, menutup kantor Sibelius Software di London untuk mengembangkan lebih jauh di Kiev dan memberhentikan beberapa pegawai kerjanya.

 

Kronologi[sunting | sunting sumber]

  • 1986: Jonathan & Ben Finn memulai mendesain Sibelius 7 untuk Acorn Archimedes.
  • 1993: Perangkat lunak Sibelius berdiri sendiri dan menjual Sibelius 7 ke pasar di Inggris. Pelanggan pertama merupakan penerbit musik terbesar di Eropa, komposer John Rutter, dan Royal Academy of Music. Selain itu, pada tahun yang sama, Sibelius 6 untuk edukasi dirilis.
  • 1994: Sudah mendistribusikan ke seluruh Eropa, Australia, dan Selandia Baru. Sibelius 7 untuk edukasi pelajar dirilis.
  • 1995: Sibelius versi bahasa Jerman dirilis.
  • 1996: Membuka cabang di California, AS. Sibelius Junior (program untuk SMP) dirilis.
  • 1998: Sibelius untuk Windows, diluncurkan ke seluruh dunia.
  • 1999: Sibelius untuk Mac, PhotoScore dan Scorch diluncurkan. Ada seorang Amerika yang mensubsidi pembukaan cabang di AS, membuat Sibelius Group yang memiliki 25 karyawan.
  • 2000: Sibelius edisi internet diluncurkan, dan diadopsi untuk diluncurkan di internet oleh penerbit Music Sales dan Booset & Hawkes di Eropa dengan link SibeliusMusic.com.
  • 2001: Penerbit partitur musik terbesar, Hal Leonard, juga mengadosi Sibelius edisi internet. Lalu Sibelius Group sudah mencapai 50 karyawan.
  • 2002: Sibelius adalah program musik paling utama untuk Mac OS X.
  • 2003: Pendapatan Sibelius mengalahkan kompetitornya MakeMusic Inc (20% lebih besar), menjadikan Sibelius sebagai pemimpin pasar dunia. Starclass, Instrumen, G7 dan G7music.net diluncurkan. Sibelius Group memulai pendistribusian Musition dan Auralia. Di Jepang, Sibelius diluncurkan oleh Yamaha.
  • 2004: Compass, Kontakt Gold, Sibelius edisi pelajar, Sibelius dalam bahasa Perancis dan Spanyol diluncurkan. Perusahaan memperoleh SequenceXtra. Perangkat lunak Sibelius digunakan di lebih dari 50% sekolah tingkat SMA di Inggris.
  • 2005: Cabang yang disubsidi di Australia, dibentuk setelah memperoleh distributor Australia. Perusahaan mencapai 75 karyawan. Sibelius memenangkan penghargaan bergengsi, “Queen’s Award for Innovation”. Pada tahun yang sama, merilis koleksi suara Rock dan Pop.
  • 2006: Groovy Music dan Keyboard berwarna diluncurkan. Perangkat lunak Sibelius dibeli oleh Avid Technology.
  • 2007: Cabang kantor di Jepang dibuka.
  • 2012: Avid menutup kantor di Inggris dan memberhentikan tim orisinil pengembang Sibelius

Tabuh dua mastaka maya

Senin, Maret 19th, 2018

 

 

Tabuh dua mastaka maya

 

 

Konsep Terciptanya tabuh dua ini tidak terlepas dari ide garapan atau gagasan pertama ketika ingin membuat suatu karya, seperti karya karya tabuh dua yang lainnya semua berawal dari ide garapan yang nantinya akan membentuk suatu karya yang baik dan terinci, sebelum membuat garapan ini pastinya melihat dan memperhatikan tabuh dua yang lain sehingga dapat membayangkan bentuk tabuh dua itu sendiri, Ide atau gagasan pertama ketika ingin membuat garapan tabuh dua ini adalah ingin membuat sebuah garapan tabuh dua yang berbeda dari yang lain tetapi tidak terlepas dari uger uger atau jajar pageh tabuh lelambatan yang sudah ada, meskipun ingin membuat tabuh dua yang berbeda dengan yang lain namum tabuh dua ini masi mengacu pada konsep tri angga, yaitu kawitan, pengawak, pengecet. Pembahasan karya Sebelum membahas lebih dalam tentang karya ini harus diketahui bagaimana awal terbentuknya tabuh dua ini. Tabuh dua ini awal terbentuknya ketika menjelang karye dipadang tegal ubud pada tahun 1996 yang akan diselenggarakan sebuah pementasan atau yang biasa disebut dengan mebarung dalam istilah penyebutan dua kelompok penabuh yang pentas saling bergantian satu sama lain, dari sinilah akhirnya perkumpulan sanggar samara ratih memulai proses pembentukan tabuh dua ini, proses latihan ini cukup panjang sehingga terciptanya tabuh dua yang apik dan memiliki kesan menarik yang seperti ide garapan diawal sebelum membentuk tabuh dua ini yang berbeda tetapi tetap mengutamakan jajar pageh atau uger uger tabuh lelambatan. Lelambatan tabuh dua ini berjudul mastaka maya yang artinya selalu berubah ubah pengawitnya. Dari tahun 1996 sampai 2017 tabuh ini mengalami perubahan pengawit sebanyak tiga kali, dari penjelasan komposer dari sanalah akhirnya tabuh dua ini berjudul mastaka maya. Sebelumnya gending tabuh dua ini sudah dibuat oleh kompeser pada tahun 1996 dengan judul mulat sarira, tapi sering di pakai untuk mebarung barung dan di ubah ubah pengawitnya maka dari itu gending ini dinamakan mastaka maya yang artinya maya ber ubah ubah kepalanya ( pengawitnya) tetapi pengawak dan pengecetnya sama seperti sebelumnya hanya pengawitnya saja berubah ubah. Peranan Masing-Masing Instrumen dan Motif Pukulannya Pada bagian ini akan coba saya uraikan motif pukulan dan peranan masing- masing instrumen pada tabuh dua mastaka maya berdasarkanyang saya dengar dari narasumber. Namun tidak semua instrumen saya uraikan, tetapi hanya instrumen-instrumen yang memiliki peranan sangat vital.

Nara sumber

I Ketut Cater, S.Sn adalah seorng seniman karawitan yang berasal dari banjar pinda, desa pering, kecamatan belahbatuh, kabupaten gianyar, merupakan lulusan STSI/ Sekolah tinggi seni Indonesia denpasar yang sekarang bernama ISI Denpasar tahun 1993. Sekarang ini masi aktif sebagai tenaga pengajar di sekolah SMK N 3 Sukawati dibidang seni karawitan.

 

 

pengertian tari Rejang Renteng

Senin, Maret 19th, 2018

 

 

Tari Rejang Renteng adalah sebuah tarian kesenian rakyat Bali yang ditampilkan secara khusus oleh perempuan dan untuk perempuan. Gerak-gerik tari ini sangat sederhana namun progresif dan lincah. Biasanya pagelaran tari Rejang Renteng diselenggarakan di pura pada waktu berlangsungnya suatu upacara adat atau upacara keagamaan Hindu Dharma.

Tidak diketahui secara pasti kapan tari Rejang Renteng itu ada, dan siapa penciptanya.
Tari Rejang mempunyai arti penting bagi masyarakat penyusung Pura.
Rejang adalah satu simbolis tarian bidadari di surga dimana tari Rejang Renteng tergolong dalam tari wali, (khusus di pentaskan hanya pada saat wali/ upacara).
Sebagai tari wali tari Rejang Renteng ini ditarikan oleh anak-anak (yang belum akil balik) pemaksaan atau pengempon pura dengan tujuan untuk mendapatkan kesucian. Tari ini disajikan sebagai pelengkap dalam upacara pengider buana.
Tari Rejang Renteng ini adalah salah satu jenis tari Rejang yang ditarikan berkelompok. Jumlah para penari rejang ini selalu ganjil. Dan hiasan yang dipergunakan sangat sederhana. Penari rejang memakai kain Bebali berupa anteng yang dikenakan di dada. Sedangkan saputnya memakai kain rembang dan kain cepuk serta kemben lumlum. Ditangannya memakai benang tukelan yang berisi uang kepeng satakan (pis bolong). Penari bergerak beriringan secara seragam. Para penari diikat ke dalam suatu untaian atau rangkaian yang disebut “renteng” dengan seutas benang yang pada umumnya berwarna putih. Ciri khusus dari tari Rejang Renteng yaitu, jempana sebagai linggih Ida Bhatara dituntun dengan benang panjang yang diikatkan pada pinggang si penari.

Pementasan kesenian ini merupakan tradisi yang diwariskan nenek moyang secara turun temurun hingga sekarang. Salah satu desa yang masih mementaskan tari Rejang Renteng adalah desa Kesiman Petilan yang terletak di jantung kota Denpasar. Walaupun masyarakatnya termasuk modern karena mengikuti perkembangan teknologi, namun hingga sekarang masih menjalankan adat dan budaya leluhur yang mereka warisi secara turun temurun.