Mengenal instrumen suling yang ada di Bali

Bentuk dan Pengertian Suling Secara Umum

Suling sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Musik adalah flute tradisional yang umumnya terbuat dari bambu. Secara fisik, suling yang terbuat terbuat dari bambu memiliki 6-7 lobang nada pada bagian batangnya dan lubang pemanis (song manis) pada bagian ujungnya. Sebagai salah satu instrumen dalam barungan gamelan Bali, terdapat berbagai bentuk ukuran dari yang panjang, menengah dan pendek. Dilihat dari ukurannya tersebut, suling dapat dibedakan jenisnya dalam beberapa kelompok yaitu: Suling Pegambuhan, Suling Pegongan, Suling Pearjan, Suling Pejangeran dan Suling Pejogedan . Dari pengelompokan tersebut masing-masing mempunyai fungsi, baik sebagai instrumen pokok maupun sebagai pelengkap. Penggunaan suling sebagai instrumen pokok biasanya terdapat pada jenis barungan gamelan Gambuh, Pe-Arjan, Pejangeran dan Gong Suling

 

Kemunculan suling pada gamelan kekebyaran

Dalam seni karawitan kekebyaran, hingga saat belum diketahui secara pasti kapan instrumen suling masuk sebagai bagian barungan gamelan tersebut. Munculnya gamelan gong kebyar sebagai salah satu bentuk ensambel baru dalam seni karawitan Bali pada abad XIX, tidak dijumpai adanya penggunaan suling dalam komposisi-komposisi kekebyaran yang diciptakan. Penyajian komposisi ”kebyar” yang dinamis, menghentak-hentak serta pola-pola melodi yang ritmis tidak memungkinkan bagi suling untuk dimainkan di dalamnya. Sebagai salah satu contoh, dalam komposisi ”Kebyar Ding”, yang diciptakan pada tahun 1920-an tidak terdengar tiupan suling. Ini dapat dijadikan salah satu indikator bahwa pada awal munculnya gamelan gong kebyar, suling masih berfungsi sebagai instrumen sekunder dan belum menjadi bagian yang penting dalam sebuah komposisi.

 

Fungsi Suling.

Dewasa ini, telah terjadi pergeseran atau perubahan fungsi beberapa instrumen yang terdapat dalam barungan gamelan gong kebyar. Salah satu perubahan tersebut adalah semakin berkembangnya fungsi instrumen suling dalam barungan gamelan tersebut,dan pada beberapa barungan gamelan lainnya termasuk gamelan gong kebyar suling berfungsi sebagai instrumen ”pemanis” lagu dan memperpanjang suara gamelan, sehingga kedengarannya tidak terputus. Dalam fungsinya itu, suling hanya menjadi instrumen pelengkap dalam arti bisa dipergunakan ataupun tidak sama sekali.

Sebagai salah satu tonggak penting perkembangan fungsi suling dalam komposisi kekebyaran, dapat disimak dari salah satu komposisi yaitu Tabuh Kreasi Baru Kosalia Arini, yang diciptakan oleh I Wayan Berata dalam Mredangga Uttsawa tahun 1969, dimana dalam komposisi tersebut mulai diperkenalkan adanya penonjolan permainan suling tunggal. Terjadinya perkembangan fungsi suling tersebut merupakan salah satu fenomena yang sangat menarik dimana suling yang pada awalnya memiliki fungsi sekunder yaitu instrumen pendukung, berkembang menjadi instrumen primer yaitu instrumen utama.

Sebagaimana terjadi dalam perkembangan komposisi tabuh kekebyaran saat ini, suling memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan komposisi kekebyaran dimana melodi yang dimainkan tidak hanya terpaku pada permainan laras pelog lima nada, namun oleh para komposer sudah dikembangkan sebagai jembatan penghubung hingga mampu menjangkau nada-nada atau melodi menjadi lebih luas melingkupi berbagai patet seperti tembung, sunaren bahkan mampu memainkan nada-nada selendro. Dari pengembangan fungsi tersebut komposisi tabuh kekebyaran yang tercipta pada dua dekade belakangan ini menjadi lebih inovatif dan kaya dengan nada atau melodi.

Adanya pengembangan fungsi instrumen suling dalam komposisi kekebyaran terkadang menimbulkan fenomena yang lebih ekstrim dimana dalam sebuah karya komposisi instrumen ini muncul sebaga alat primer dan vital, tanpa kehadiran instrumen tersebut sebuah komposisi tidak akan dapat dimainkan sebagaimana mestinya.

 

Teknik Permainan Suling     

Sebagai salah satu alat musik tradisional, suling tergolong alat musik tiup (aerophone) dimana dalam permainan karawitan Bali dimainkan dengan teknik ngunjal angkihan yaitu suatu teknik permainan tiupan suling yang dilakukan secara terus menerus dan memainkan motif wewiletan yang merupakan pengembangan dari nada-nada pokok atau melodi sebuah kalimat lagu.

 

Bunyi suling dihasilkan melalui sebuah teknik pernafasan dari proses pemompaan dari rongga perut , kemudian udara disalurkan melalui rongga mulut yang diatur pengeluaranya oleh perubahan bentuk bibir yang seterusnya udara masuk melalui sebuah lubang suling yang telah dibingkai oleh seutas tali rotan kemudian masuk kedalam rongga bambu (resonator), yang akhirnya suara atau bunyi dapat didengar melalui lobang-lobang nada, serta lobang pembuangan. Untuk menghasilkan warna-warna suara, baik itu suara tinggi sedang atau rendah, sangat tergantung pada tekanan udara yang disalurkan melalui lubang sumber suara pada suling, selain itu posisi mulut dan bibir memiliki peran untuk menghasilkan perbedaan dinamika atau warna suara.Dengan demikian teknik tiup yang dilakukan dengan baik dan benar akan berpengaruh terhadap kualitas bunyi yang dihasilkan dengan baik pula.

 

Gambaran Suling Bali

cenik), suling menengah Kalau dilihat secara umum suling tradasional Bali memiliki 3 bentuk yakni suling kecil (suling ( suling sedang), suling besar( suling gede). Memiliki 6 lubang nada tutupan serta satu lubang pemanis. Dalam permainan Gong kebyar tutupan (tetekep) suling yang digunakan adalah tetekep Deng   : Deng , Dung  ,Dang, Ding, Dong (laras pelog)

Tetekep Deng  :  Nada deng ( menutup semua lubang nada).

Nada dung ( membuka  Lubang 5 dan 6 saja)

Nada dang ( membuka Lubang 4,5,dan 6 saja)

Nada ding ( menutup  Lubang 1dan3 saja yang lainnya di buka)

Nada dong( membuka Lubang 1 dan 4 saja yang lainnya di tutup)

Ket      : lubang 1 mulai dari lubang atas suling

Suling merupakan instrument melodis yang dalam komposisi lagu sebagai pemanis lagu. Teknik permainan bisa simetris dengan lagu atau memberikan ilustrasi gending baik mendahului maupun membelakangi melodi gending. Tetekep dan cara meniup akan berubah itu tergantung kebutuhan dari pada nada lagu yang dimainkan  sebagai melodi atau ilustrasi lagu serta ketika ada suling yang dipakai memiliki saih gamelan lain, sehingga haru menyesuaikan dengan nada gamelan dengan mengubah tetekep, sepeerti menggunakan tetep Ding, Dong ,dan tetep yang lainnya.

 

Cara pembuatan suling

 

Pemilihan Bambu

Bambu yang digunakan Untuk membuat suling di desa saya Umumnya memkai Bambu semat , karena memiliki tekstur yang tipis dan mudah dilobangi,

 

Pengambilan bambu

Pengambilan bambu sebagai bahan suling mempunyai tata-cara yang telah turun-temurun, kebiasaan ini masih dilakukan sampai sekarang ini. Bambu yang di ambil haruslah berumur lebih kurang lima tahun hal ini dimaksudkan agar bambu itu benar-benar tua dan tidak akan keriput ketika telah dikeringkan, waktu pengambilan bambu, yaitu setiap bulan Juni, Juli dan Agustus karena bulan ini adalah bulan kemarau.Sehingga kadar air pada bambu sedikit, lebih baik lagi pertengahan bulan Agustus sebab merupakan puncak dari musim kemarau. Selain itu ada jam-jam khusu dalam pengambilan bambu ini, yaitu : jika pengambilan dilakukan pada pagi hari haruslah dilakukan pada jam 10 pagi sampai jam 12 siang dan waktu berikutnya adalah jam 14 sampai 16 sore.  Sebagai logikannya adalah watu jam 10 sampai 12 dan 14 sampai 16 tersebut merupakan saat dimana kadar air didalam bambu berkurang. Kemudian penebangan tidak dilakukan dari akarnya, namun disisakan satu sampai dua ruas dari akar, ini dimaksudkan agar bambu tersebut tumbuh kembali.

 

Pengolahan Bahan Baku

Bambu yang telah ditebang kemudian direndam di dalam lumpur sawah atau kolam ada juga cara lain yaitu menggunakan cairan tembakau. Lama perendaman ini dilakukan satu sampai dua minggu dengan tujuan agar bahan menjadi kuat. Setelah perendaman bahan selesai maka mulailah dilakukan pengeringan yaitu dengan cara di jemur. Teknik penjemuran bahan inipun bermacam-macam, ada beberapa cara dalam pengeringan bahan ini, cara pertama yaitu : dengan di jemur di panas matahari, cara ini adalah cara yang paling baik karena sumber panas yang alami sehingga warna bambu akan lebih muncul namun jika waktu pengeringannya tidak tepat bahan akan cepat pecah. Kemudian cara kedua adalah : bambu di garang yaitu dipanaskan diatas tungku perapian tempat masak orang kampong, kelemahannya tekstur bambu akan mengalami noda berwarna hitam karena disebabkan oleh asam atau percik api dari tungku, sehingga keindahan warna suling akan tidak terlihat, hal ini bisa di atasi dengan cara di ampelas namun membutuhkan waktu lama, hal baiknya adalah karena faktor pengasapan tadi bamboo akan tahan terhadap serangga, cara ketiga, yaitu : bahan di angin-angin di beranda rumah, kekurangannya cara ini membutuhkan waktu yang lama kelebihannya bahan akan tahan terhadap kemungkinan pecah dan yang terakhir adalah di open, cara ini memang tidak alami namun produksi dalam pembuatan suling lebih efektif karena proses pengeringannya tidak memerlukan waktu yang lama

 

PENGERAJIN SULING

Nama Pak Made Rana , beliau tinggal di Jln. Nara Kusuma Gg 2 no 2 , beliau mulai usahanya sejak tahun 1992 dan beliau satu-satunya pengerajin suling di desa adat Sumerta , Pak Made rana menjual bermacam-macam suling seperti :

  1. Suling gong kebyar
  2. Suling diatonis
  3. Gambuh
  4. Pengarjan

Pak made rana dalam satu hari bisa mengerjakan 15 suling kecil dan 18 besar dan beliau jg pengerajin gantugan kunci suling J , beliau biasanya menjual 1 (satu) suling besar seharga Rp. 60.000 dan 1 (satu) suling kecil seharga 30.000 sampai 35.000 dan harga suling pengarjan sama dengan suling gong kebyar , suling diatonis satu suling seharga Rp. 80.000 dan tergantung pesanan, sedangkan suling gambuh 1 (satu) suling seharga Rp. 125.000.

Beliau biasanya mencari bahan untuk pembuatan suling dari BANGLI , 1 batang tiing besar seharga Rp. 4000 , sedangkan tiing kecil 1 batang seharga Rp. 2000 ,  dan suling gambuh 1 batang seharga Rp. 5000.

Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan suling :

  1. Tiing buluh
  2. Tiing tali
  3. Tali plastik
  4. Dan alat – alat lainnya

Beliau bianya membuat lobang suling dengan alat mesin , suling yg dibuat beliau biasanya dikirim sampai ke LUAR NEGERI seperti :

  • JEPANG
  • NEPAL
  • MALAYSIA
  • NEWZELAND

Disamping menjadi pengerajin suling, belia juga membuka prifat SULING .

Biasanya perdatang satu orang Rp. 40.000 , dan bisa juga tidak dibayar, karena menurut beliau SENI itu tidak bisa di nilai dengan  uang ,Beliau juga biasanya mengajar di banjar-banjar

Beliau dulu tamatan KOKAR BALI.

beliau sebenarnya tidak ada hobby ke seni dan sama sekali tidak bisa bermain gambelan , karena ekonomi tidak mendukung  beliau langsung jadi pengerajin suling.

Taksu dalam kesenian yang ada di Bali

Pengrtian taksu.

Kata taksu dalam bahasa Bali mempunyai arti abstrak dan konkret. Ari yang pertama adalah kekuatan suci untuk meningkatkan intelektualitas, dan arti yang ke dua adalah tempat pemujaan keluarga (sanggah) yang memberikan kekuatan magis Warna dalam artian yang pertama,Taksu merupakan kekuatan suci yang berasal dari Tuhan yang dapat di perholeh melalui upacara ritual dan olah spiritual.

Kekuatan suci atau spiritual ini muncul dalam dunia seni dan di bidang profesi lainnya dan sangat di butuhkan oleh semua orang dari berbagai bidang profesi. Dalam artian yang kedua, taksu adalah objek material, sanggah taksu, sebuah tempat pemujaan dengan bentuk dan struktur fisik tertentu.Tempat pemujaan sanggah taksu dapat dijumpai di setiap rumah orang Bali Hindu.

Tata-kata dalam bahasa jawa kuno kawi yang paling dekat dengan taksu adalah caksu, caksuh, chaksur, semua kemampuan untuk memahami, dan persepsi (Zoetmulder, diwyacaksuh dan dibyacaksus yang berarti memiliki persepsi kuat alami, Kata-kata ini mengisyaratkan bahwah dampak dari kehadiran taksu dapat tangkap melalui presepsi.

Pandangan dan pendapat tentang taksu menunjukan bahwa taksu pada dasarnya adalah energi yang memiliki kukuatan dahsyat, semacam factor X yang bukan saja sangat menentukan melainkan juga bisa merubah sesuatu yang bisa menjadi luar biasa.Oleh karena itu, di kalangan masyarakat Bali, banyak yang memandang keberadaan taksu seperti angina, banyak orang bisa menangkap dan merasakan kehadiran atau ketiadaannya namun tidak pernah melihat rupa dan wujudnya secara nyata.

 

Jenis – jenis taksu.

Masyarakat Bali pada umumnya mengenal tiga jenis taksu yang diidentifikasi berdasarkan keberadaan da nasal mulanya. Tiga jenis taksu yang dimaksud adalah: Taksu bekel, Taksu paica dan Taksu gegaen. Pada umumnya Taksu gegaen yang mereka maksud adalah semacam ajimat buatan orang pintar.

Taksu bekel pada dasarnya adalah kekuatan spiritual atau kekuatan dalam yang di miliki oleh setiap orang sejak lahir, yang mencul dari dalam sendiri dan tumbuh secara internal.Embrio taksu ini bisa jadi sudah ada dalam diri seseorang sejak lahir dan kemudian akan berkembang menjdi kekuatan taksu setelah diaktifkan melalui pelatihan fisik yang berat, di tambah dengan latian mental dan spiritual, ketika seseorang menjdi lebih matang atau dewasa dalam profesi mereka.

Taksu  paica pada dasarnya adalah kekuatan suci yang dianugrahkan atau diturunkan oleh Hyang Kuasa. Taksu-taksu semacam ini dapat diperoleh malalui doa dan upacara-upacara lain yang menggunakan berbagai jenis sesaji. Seperti di sarankan oleh wiener, orang Bali menggunsksn upacara ritual untuk memperoleh kekuatan suci ini dengan jalan nunas ica atau mohon anugrah di sebuah pura di malam hari.

Kepemilikan taksu.

Taksu bisa diperoleh dan didapat oleh semua orang tampa memandang batas usia, jenis kelamin, status social semua orang sama-sama memiliki potensi untuk mendapatkan kekuatan spiritual ini. Dengan mempelajari kesenian atau aspek lain dari seni budaya Bali secara serius dan sungguh-sungguh dengan dedikasi tinggi dan penuh rasa pengabdian baik orang Bali maupun orang luar termasuk prang asing memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan kekuatan spiritual ini.

Satu hal yang penting untuk dicatat bahwa taksu bukan sesuatu yang di wariskan atau diteruskan dari generasi ke generasi. Di balik terus meningkatnya jumlah seniman pertunjukan Bali selama dekada terakhir ini agak mengejutkan bahwa jumlah seniman yang mampu mencapai taksu masih relative kecil.Jika di bandingkan dengan jumlah pelaku seni pertunjukan yang terus bertambah jumlah pemain yang memiliki taksu terasa terus berkurang.

 

Taksu dalam kesenian.

Di dalam teradisi Bali karya seni yang baik selalu mengintergrasikan tiga unsur: kebenaran (satyam) kesucian (shiwam) dan keindahan (sundaram). Masing-masing unsur menyangkut moralitas spiritualitas dan kualitas di harapkan mampu memnerikan kepuasan yang mencakup ketiga unsur diatas. Hanya seni pertunjukan yang seperti itu yang akan mampu menyentuh para penonton, menghibur serta memperkaya kehidupan mereka dengan nilai-nilai moral, spiritual, dan kehindahan. Sejalan dengan trilogy satyam, shiwam, sundaram, semua kesenian di Bali memerlukan taksu. Kegiatan seni baik pertunjukan maupun pameran yang menyajikan karya seni dengan kekuatan taksu akan mampu memikat perhatian penonton.

Sebuah karya seni dengan taksu ambil misalnya sebuah topeng akan membantu penari yang merubah dirinya menjadi sebuah karakter sebuah makhluk baru hamba raja, perdana menteri, seperti yang di gambarkan oleh topeng yang bersangkutan. Sebagai seorang penari topeng Bali penulis merasa lebih muda untuk tampil di atas panggung dan untuk berkomunikasi dengan penonton ketika menggunakan semuah topeng yang sudah di berkahi dengan taksu.

Idup , lenguh ,dan jaen adalah tiga kata yang umum digunakan oleh masyarakat Bali untuk menyebutkan karya seni dan jenis hasil ciptaan manusia lainnya yang memiliki taksu.

Para seniman pertunjukan di Bali pada umumnya percaya akan kekuatan transformatif taksu dalam penampilan mereka di atas panggung.Dengan ini dimaksudkan bahwa kualitas terbaik dari suatu karya music, tari dan sajian teater hanya dapat dicapai dengan berkah dari Hyang Maha Kuasa dengan kekuatan sucinya.

Benda-benda lainnya dalam seni pertunjukan Bali di mana energy Tuhan mungkin berada adalah mahkota berupa tutup kepala( gelungan) dan ansambel gamelan.Tutup kepala dengan taksu akan mampu mengubah penggunanya menjadi sosok baru yaitu satu karakter yang akan di perankan di atas panggung.

 

Taksu di luar bidang seni.

Seperti telah disinggung di depan taksu sangat dibutukan oleh semua profesi lain di luar kesenian krhadiran taksu memungkinkan setiap pelaku suatu bidang profesi untuk mengembangkan bakatnya hingga ke level yang dibutuhkan oleh profesi masing-masing.Seperti di Bidang seni dimana hanya dengan kehadiran taksu para seniman akan mampu menampilkan kehebatannya atau mengasilkan karya-karya terbaiknya tampa di berkahi oleh kekuatan suci taksu sangat mustahil seorang professional akan mampu mengasilkan hasil karya yang memuaskan.

  • Pejabat Pemerintah/politisi.

Mantan Gubernur Bali, almarhum Ida Bagus Mantra mungkin termasuk salah seorang model terbaik dan contoh yang paling nyata, dari pejabat pemerintah yang memiliki taksu.

Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi seorang dokter yang beragama Hindu di Bali untuk meletakan sebuah tempat sesaji pada salah satu sudut ruangan prakteknya biasanya di sudut timur laut.dokter akan menaruh sesaji berupa canang sari dan dupa di tempat suci tersebut. Ritual ini dimaksudkan untuk memohon berkah dari Hyang Maha Kuasa sekaligus memohon kekuatan taksu.

Dukun(balian) atau shaman adalah seorang medium atau perantara spiritual yang sangat penting dalam tradisi budaya Bali. Masyarakat Bali pada umumnya memandang seorang dukun sebagai seorang yang memiliki kemampuan khusus untuk berkomunikasi dengan para penghuni dari dunia tidak nyata niskala dari dunia diatas atau dibawah kita. Jenis yang kedua adalah balian balian yang memiliki kemampuan mengobati berkat kekuatan taksu.

Sebelum berangkat dari rumah, seorang guru biasanya melakukan persembahyangan sederhana di hadapan sanggah taksu di tempat pemujaan keluarganya. Beberapa guru melakukan  hal serupa setibanya di tempat mengajar dengan cara meletakan sesaji dan dupa di tempat persembahyangan sekolah.

Di Bali, sudah menjadi kebiasaan seorang pedagang makanan untuk meletakan sebuah tempat sesaji di suatu sudut dari warung atu restorannya. Tempat ini merupakan tempat suci untuk sipenjual makanan mengaturkan sesaji dan melakuan pemujaan setiap pagi sebelum mulai berdagang.

  • Supir taxi.

Mengaitkan taksu dengan supir taksi mungkin terkesan sedikit aneh dan berlebihan. Namun sesungguhnya seperti yang banyak dialami orang hanya supir taksi yang diberkahi taksu yang akan mampu membuat penumpangnya selalu merasa aman dan nyaman ketika berada di dalam taksi, dan merasa puas dengan pelayanannya.

 

Cara mendapatkan taksu.

Diyakinkan bahwa tiga hal yang dapat dijadikan modal untuk mendapatkan taksu adalah kejujuran, ketulusan, dan tolalitas dalam menekuni suatu bidang tertentu.

  • Perinsip Bayu-Sabda-Idep

Aspek pertama bayu atau fisik adalah menyangkut pemahaman atau penguasaan terhadap segala teknis yang dibutuhkan oleh suatu bidang seni.

  • Aspek Sabda

Setelah menguasai hal-hal yang bersifat fisik atau material dari suatu kesenian, tahap berikutnya adalah untuk memahami hal-hal yang berhubungan dengan sikap mental dan moral termasuk etika berkesenian

  • Aspek Idep

Keberasilan setiap aktivitas seni di Bali sangat tergantung kepada kepekaan para pelakunya terhadap aspek spiritual atau kekuatan magis suatu bentuk kesenian termasuk kemampuan para seniman pelakunya untuk membangkitkan menghidupkan kekuatan magis dari kesenian yang bersangkutan.

Tari Baris Wayang di Pura Dalem Manik Penataran Agung Lemintang.

Sebuah karya seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat sangat berperan penting bagi kehidupan masyarakatnya[1]. Karya seni yang merupakan hasil kreatifitas manusia merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dan memberikan arti, fungsi dan makna  tersendiri bagi kehidupan masyarakat. Salah satu bentuk karya seni yang tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat khususnya di Bali adalah senipertunjukan, karena seni pertunjukan sangat erat kaitannya dengan ritual keagamaan atau upacara yadnya.

Secara fungsional seni pertunjukan di Bali dibagi menjadi tiga yaitu seni wali, bebali dan bali-balihan. Seniwali dan bebali terdiri atas kesenian yang religius dan sakral karena di samping melibatkan benda-benda yang disucikan atau dikeramatkan, kesenian ini juga melibatkan upacara ritual[2]. Oleh karena itu, seni wali merupakan seni sakral yang sangat penting kebutuhannya bagi peristiwa-peristiwa keagamaan di Bali.

Seni sakral merupakan kesenian yang dipentaskan pada saat pelaksanaan suatu yadnya dan disesuaikan dengan keperluannya[3]. Penggunaan kesenian sakral sebagai bagian dan pelengkap upacara, baik Panca Yadnya maupun upacara lainnya sangat sering dilakukan. Terdapat berbagai macam kesenian sakral di Bali seperti Rejang, Pendet, Sanghyang, Baris Gede dan Barong dengan berbagai jenis dan variannya[4].  Dan salah satu kesenian sakral yang sering di jumpai dalam pelaksanaan upacara adalah Tari Baris.

Tari Baris merupakan tarian yang tumbuh dan berkembang di Bali. Kata baris berasal dari kata bebarisan yang dapat diartikan pasukan, yang artinya Tari Baris merupakan tari yang memiliki gerakan gerakan yang lincah namun kokoh, lugas dan dinamis yang menggambarkan ketangkasan pasukan[5]. Di Bali terdapat berbagai macam jenis Tari Baris upacara seperti Baris Tombak, Baris Tamiang, Baris Dadap, Baris Presi, Baris Katekok jago, Baris Poleng, Baris Pendet,  Baris Wayang dan lainnya

Pembedaan varian Tari Baris tersebut adalah terletak pada properti yang di gunakan, pada Baris Tombak membawa tombak, pada Baris Tamiang membawa tameng atau pelindung, pada Baris pendet membawa canang pemendak. Dan kebanyakan dari Tari Baris tersebut  menggunakan properti yang berupa senjata. Akan tetapi terdapat salah satu Tari Baris yang menggunakan media seni pertunjukan lain (pedalangan) pada propertinya  yaitu Tari Baris Wayang yang terdapat di daerah Lemintang Denpasar.

Tari Baris Wayang adalah tarian kelompok yang ditarikan oleh 9 orang penari laki–laki. Tari Baris Wayang ini memiliki keunikan, yaitu penarinya membawakan wayang saat menari dan menyanyikan lagu–lagu ritual, dan lagu tersebut merupakan lagu pengruwatan. Berbeda dari baris upacara pada umumnya, yang iringannya kebanyakan menggunakan Gong Gede ataupun Gong Kebyar, pada Tari Baris Wayang ini menggunakan gambelan Batel Wayang yang penabuhnya juga ikut menyanyikan kidung atau tetembangan.

Tari Baris Wayang yang sempat penulis saksikan pada Pesta Kesinian Bali tahun 2012 menambah pemahaman dan pengetahuan penulis mengenai varian Tari Baris yang ada di Bali. Berdasakan hal tersebut, muncul ketertarikan untuk mengangkat tentang keunikan dari Tari Baris Wayang tersebut, seperti properti yang di gunakan berbeda dari properti baris upacara pada umumnya yaitu menggunakan wayang. Mengingat pada umumnya wayang adalah benda yang di mainkan di balik layar putih oleh orang yang disebut Dalang. Namun pada hal ini wayang di bawakan oleh sembilan orang penari yang membawakan kidung-kidung pengruatan.

[1]Umar Kayam, 1981, Seni, Tradisi, Masyarkat, Jakarta : Sinar Harapan. Hal. 38

[2] I Wayan Dibia, 2012, Ilen Ilen Seni Pertunjukan Bali, Denpasar : Bali Mangsi. Hal. 4

[3]I Made Yudabakti dan I Wayan Watra, 2007, Filsafat Seni Sakral dalam Kebudayaan Bali, Surabaya : Paramita, hal. 34.

[4] I Wayan Dibia, 2012, Ilen Ilen Seni Pertunjukan Bali, Denpasar : Bali Mangsi. Hal. 9.

[5] I Wayan Dibia, 2012, Ilen Ilen Seni Pertunjukan Bali, Denpasar : Bali Mangsi, Hal. 13.

PEMBAHASAN

 

2.1       Sejarah Tari Baris Wayang di Pura Dalem Manik Penataran Agung Lemintang.

            Banjar Lemintang merupakan banjar yang termasuk kedalam wilayah Desa Dauh Puri Kaja, Kecamatan Denpasar Utara. Terdapat berbagai macam kesenian sakral yang ada di daerah tersebut seperti, Rejang Luang, Legong Sang Hyang, Telek dan lainnya, namun kesenian yang baru ini mendapat perhatian dari pemerintah kota Denpasar adalah Tari Baris Wayang.

Tari Baris Wayang merupakan tari wali yang ditarikan pada saat upacara Dewa Yadnya tingkat Utama (Upacara Bebangkit dan Pulagembal) dan Madya (Upacara Pulegembal) di kawasan Lemintang. Tari Baris Wayang telah berkembang pada pertengahan abad ke 16 berdasarkan legenda yang berkembang di masyarakat, Hal ikhwal terbentuknya tari Baris Wayang ketika terjadinya perjanjian antara Sira Arya Notor Wandira dengan Ki Buyut Lemintang (Penglingsir Desa Lemintang Terdahulu) yang telah berhasil melakukan perjalanan meditasi di Puncak Gunung Batur, apabila Sira Arya Notor Wandira mampu menjadi raja dan mendirikan kerajaan di Badung maka Ki Buyut Lemintang akan dipersembahkan putra mahkota.

Setelah berdirinya kerajaan Badung Pemecutan, maka Ki Buyut Lemintang kembali mengingatkan Raja Badung Pemecutan (Sira Arya Notor Wandira) untuk bisa menempatkan putra mahkotanya sebagai junjungan di wilayah Lemintang. Maka diserahkanlah putra beliau yang bernama Kyai Anglurah Tegeh, karena ditempatkan di wilayah Lemintang, sebagai penghormatan kepada Ki Buyut Lemintang maka putra beliau diberi nama Kyai Anglurah Tegeh Lemintang (leluhur Jero Lanang Tegeh Lemintang),

Kedatangan Kyai Anglurah Tegeh Lemintang ke wilayah Lemintang di ikuti oleh beberapa treh (keturunan) seperti Bendesa Manik Mas, Pasek Sumerta serta pengikut yang semua jumlahnya 40 orang. Kyai Anglurah Tegeh Lemintang membawa beberapa alat kesenian seperti Wayang, Gambelan Wayang, dan Satu Bonangan Gede.

Kedatangan Kyai Anglurah Tegeh Lemintang disambut baik oleh Ki Buyut Lemintang. Pada saat itulah upacara pejayan-jayan di persembahkan oleh Ki Buyut Lemintang kepada Kyai Anglurah Tegeh Lemintang karena menempati wilayah baru dengan nama Jero Lanang Tegeh Lemintang. Tidak terlepas juga pada saat itu keturunan Bendesa Mas dijadikan anak angkat oleh Ki Buyut Lemintang serta diserahkan tahta Pura Dalem Manik Penataran Agung Lemintang, agar bisa melangsungkan upacara dan mempertahankan adat istiadat di Desa Lemintang, mengingat keberadaan Ki Buyut Lemintang putung (tidak memiliki keturunan).

Penataan tata desa serta aturan-aturan desa terjadi setelah Kyai Lanang Tegeh Lemintang berkuasa di Desa Lemintang yang di dampingi oleh Bendesa Mas dan Pasek Sumerta. Perkembangan pendudukpun terjadi, ada beberapa keturunan dari Tangkas Kori Agung, Pulasari dan yang lainnya mengabdikan diri di wilayah DesaLemintang.

Dengan kesatuan pemikiran dari orang-orang yang tinggal di wilayah Lemintang dlu, maka terwujudlah upacara Ngusaba Dalem, yang mana dalam upacara tersebut tersebut ada upacara yang dinamakan mawayang-wayang dalam proses maecan-ecan (mengharapkan Ida Bhatara melimpahkan anugrah kepada ciptaannya). Upacara mewayang-wayang mengandung arti melihat kehidupan terdahulu atau mengkaji kehidupan yang lalu (instropeksi dan mulat sarira).

Pada upacara mewayang-wayang dipersembahkan tarian sakral sebagai refleksi mewayang-wayang, dimana dalam tarian tersebut ditarikan oleh anak-anak dengan menggunakan properti wayang sebagai bentuk persembahan dalam konteks pengruatan. Demikianlah cikal bakal berdirinya Tari Baris Wayang di Pura Dalem Manik Penataran Agung Lemintang.

Sayangnya pada saat ini, pementasan Tari Baris Wayang sangat sulit di laksanakan karena penari dan sarana pendukungnya telah terkikis oleh perkembangan jaman. Pada tahun 2000 bertepatan dengan karya agung Di Pura Dalem Manik Penataran Agung Lemintang, Baris wayang mulai direkontruksi dan di bangkitkan kembali.

Meskipun menjadi kebutuhan dalam prosesi upacara di Pura Dalem Manik Penataran Lemintang, namun pementasan Tari Baris Wayang tersebut tidak boleh sembarangan dilaksanakan, kesenian tersebut akan dipentaskan apabila ada pawisik dari Ida Batara yang berstana di Pura Dalem Manik Penataran Agung Lemintang melalui perantara pamangku atau paremas (orang yang disucikan). Ritual yang dilakukan sebelum pementasan Tari Baris Wayang adalah dengan terlebih dahulu Nuwur Ida Bhatara Taksu Ratu Bagus Taman Kembar, yang spirit taksunya melinggih di Pura Taman Beji Batu Bolong Dalem Silemintang yang merupakan tempat penyiraman atau penyucian Ida Batara di Pura Dalem Manik Penataran Agung Lemintang.

 

2.2       Penggunaan dan Fungsi Wayang Pada Tari Baris Wayang diPura Dalem Manik Penataran Agung Lemintang.

            Pada umumnya wayang dimainkan oleh seorang Dalang, dan cara memainkannya menggunakan media kain putih yang disebut dengan kelir.  Namun pada hal ini didalam pementasan Tari Baris Wayang, boneka wayang yang biasanya dimainkan oleh dalang diatas kelir, justru digunakan oleh para penari baris sebagai properti dan sarana dalam tarian tersebut.

Adapun wayang yang digunakan antara lain wayang Panca Pandawa yang terdiri dari Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa, serta ditambah  Wayang Kresna, Hanoman dan dua Punakawan yaitu Tualen dan Merdah. Kesembilan wayang tersebut diyakini memiliki makna dan filosofi tersendiri menurut kepercayaan masyarakat Lemintang. Tokoh  Panca Pandawa merupakan karakter yang menjadi panutan dalam epos besar Mahabrata, dan menurut tradisi Hindu kelima tokoh tersebut secara tidak langsung merupakan penitisan dari dewa-dewa yang  mampu memberikan perlindungan [1].

Dalam dunia pewayangan di Bali gerak merupakan salah satu komponen penting dalam pertunjukan wayang yang sering disebut dengan istilah tetikesan atau sabetan[2]. Namun pada Tari Baris Wayang penggunaan wayang secara strukturnya seperti, sabetan atau tetikesantersebutberbeda dengan cara memainkan wayang pada umumnya. Menurut I Gusti Ngurah Agung Bagus Supartama, penggunaan wayang pada Tari Baris Wayang dimainkan  sesuai dengan karakter dan mengikuti tetembangan atau kidung Baris Wayang. Jadi pada tarian tersebut peranan wayang adalah sebagai sebuah contoh, dimana penarinya bergerak mengikuti karakter dari masing-masing wayang tersebut [3].

Dalam tarian tersebut  wayang  memiliki nilai konsekrasi/kesakralan yang tinggi. Wayang yang digunakan sebagai property pertunjukan tari Baris Wali ini diyakini mampu sebagai media pengeruatan dan juga sebagai penangkal akan datangnya bahaya.

Kekuatan magis dan pengalaman yang pernah terjadi berdasaran pemberitahuan seorang pemangku Desa Lemintang adalah ketika prosesi upacara berlangsung terjadi awan mendung, pemangku mengisyaratkan untuk menurunkanwayang Hanoman guna menghilangkan awan mendung tersebut. Dan setelah wayang hanoman diturunkan seketika awan mendung tersebut menghilang[4]. Demikian pula wayang-wayang yang lain yang digunakan pada tarian tersebut diyakini memiliki fungsi dan makna tersendiri sebagai media pengeruatan.

Pengeruatan tersebut terjadi seiring dengan lantunan-lantunan tembang pengundang yang dibawakan langsung oleh penarinya. Adapun contoh tembang yang dibawakan dalam pementasan Tari Baris Wayang adalah sebagai berikut :

Panji Medal, Kori Menga, Dendulurin

Tindak tanduk, Tindakane, Dentanjekin

Mentek mencar, Uduh Sempyar, Ban menyilih

Kalimat tersebut seyogyanya tidak diartikan, karena sudah mengandung kekuatan sudamala yang luar biasa. Hal tersebut di ungkapkan oleh Anak Agung Made Supartha selaku  penglingsir Jero Lanang Tegeh Lemintang, setelah melakukan kontemplasi di Pura Taman Beji Dalem Silamintang, yang mengatakan kekuatan lantunan-lantunan kidung tersebut mengawali bangkitnya Tari Baris Wayang[5]. Dan antara gerakan tarian dan lantunan kidung tidak bisa lepas secara struktur, hal ini diyakini memiliki kekuatan magis dalam bentuk tarian dan nyanyian itu sendiri.

Apabila dijabarkan, Baris merupakan perlambang dari unsur sekala dimana kata baris yang berasal dari bebarisan melambangkan kekuatan, ketangkasan dan kegagahan seorang prajurit perang. Dan wayang melambangkan unsur niskala dimana pada dasarnya fungsi wayang adalah sebagai media pengeruatan. Jadi Tari Baris Wayang merupakan tarian yang melambangkan keseimbangan antara unsur sekala.

[1] I Kadek Widnyana, brosurPanca Pandawa Sebagai Cerminan Masyarakat Kutuh. Koleksi pribadi.

[2] Made Marajaya, 2003, “Analisis Bentuk Wayang Dan Mamfaat Siaran Wayang Kulit Di Televisi”.  Dalam Jurnal Ilmiah Seni Pewayangn Wayang Vol.2 No.1. Denpasar: Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar, hal. 17

[3] Wawancara I Gusti Ngurah Aagung Bagus Supartama, 18 mei 2014.

[4] Wawancara dengan Jero Mangku Wayan Patra, Pemangku Pura Dalem Manik Penataran Lemintang, 20 Mei 2014

[5] Wawancara dengan Anak Agung Made Supartha, Penglingsir Jero Lanang Tegeh Lemintang, 20 Mei 2014

Pengenalan komunitas seni dalam bidang karawitan yang ada di Desa Pemecutan Kelod

KOMUNITAS

CARAT COBLONG

Jalan Imam Bonjol Br.Tegal Agung Pemecutan, Denpasar Barat.

 

Sejarah singkat

Awal terbentuknya komunitas ini karena ada kegiatan ngayah, yang membuat anggota komunitas berkumpul dan saling mengajak teman  teman yang lain untuk mengisi kekurangan pada suatu instrument. Awalnya komunitas ini bernama Ksatria Dwi Tunggal yang berada di bawah naungan Jero Gelogor Pemecutan, namun karena adanya masalah kepengurusan yang membuat komunitas ini merubah nama menjadi Carat Coblong. Nama Carat Coblong di dapat dari sarana upakara yang biasanya tidak bisa di pisahkan.

Tujuan

Adapun tujuan yang dimiliki dari komunitas ini adalah :

  • Untuk tetap melestarikan seni dan budaya Bali.
  • Membantu anggota komunitas untuk menjalankan upacara yadnya.
  • Mengisi waktu kosong anggota dengan hal yang positif.
  • Membantu anggota komunitas mencari uang tambahan ( pekerjaan sampingan ).
  • Mempererat tali persaudaraan sesama anggota komunitas.

Materi/modal

a.Secara fisik :

  • 30 set udeng dan saput batik.
  • 30 baju kemeja hitam.
  • 30 baju kemeja putih.
  • 30 set udeng putih tepi garis hitam.
  • 1 barungan gamelan semarandana.

b.Secara fisik :

  • Skill anggota yang cukup bagus dalam hal menabuh.

Proses

Proses pada umumnya sangat penting dilakukan untuk menunjang suatu hasil yang maksimal. Komunitas ini tidak memiliki jadwal latian yang tetap, namun pada saat akan ada suatu pagelaran atau acara ngayah yang membawakan materi-materi baru dan proses sangat dibutuhkan maka akan diadakan latihan sesuai kesepakatan dan kebutuhan. Di karenakan sebagian anggota punya prioritas kegiatan masing-masing dan komunitas ini hanyalah untuk menjalankan hobby dan menambah penghasilan ( pekerjaan sampingan ).

Produk

Komunitas ini tidak terlalu mementingkan sebuah produk untuk di pasarkan, tidak seperti komunitas atau sanggar lainnya, karena seperti yang di bahas di atas, komunitas ini berkumpul hanya untuk acara-acara ngayah dan event-event tertentu. Namun komunitas ini memiliki beberapa produk ketika ada kebutuhan untuk memproduksi, diantaranya :

  • Tabuh baleganjur bebarongan ( tanpa judul )
  • Tabuh baleganjur Prawireng Laga (diproduksi saat lomba balegajur yang di adakan pemkab badung tahun 2013)
  • Tabuh baleganjur Ksatriyang Mecutan (diproduksi saat lomba balegajur yang di adakan pemkab badung tahun 2014)

Pemasaran

Pemasaran dari komunitas ini dilakukan dari mulut ke mulut, tidak begitu memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk memasarkan jasa dari komunitas ini. Namun walaupun tidak begitu memanfaatkan kemajuan teknologi, komunitas ini sering medapat orderan untuk menabuh pada hari-hari tertentu ( rahinan ).

Ogoh-ogoh Kajeng Kliwon Pamelastali karya STT.Dwi Putra Br.Tegal Agung Desa Pemecutan Kelod

Nyepi  merupakan hari raya agama Hindu yang dirayakan setiap satu tahun sekali tepatnya pada tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan tilem kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa  yang berada di samudera yang membawa intisari amerta air hidup.

Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai dari sejak tahun 78 masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru masehi, Tahun Baru Caka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilaksanakan oleh Agama Hindu khususnya di daerah Bali.

Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada “tilem sasih kesanga”, umat Hindu melaksanakan upacara Bhuta Yadnya di segala tingkatan masyarakat mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan dan seterusnya, dengan mengambil salah satu jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Mecaru diikuti oleh upacara pengrupukan, yaitu menyebar nasi tawur, mengobor-ngobori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburri rumah dan pekarangan dengan mesiu, dan memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Di Bali pengrupukan biasanya di meriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan dan kemudian dibakar.

Bhuta dan kala diimajinasikan sebagai sesuatu yang seram seperti misalnya Kalamretyu (waktu kematian),  Kala Gumarang  (waktu Kegarangan), Kala Agni (api yang berkobar) dll. Serta imajinasi kepada bhuta sebagai wujud material yang member dan membangun Adbhutarasa (rasa ngeri) di dalam diri manusia. Ogoh-ogoh tersebut kemudian mendapat konteks dan posisinya yang tepat dalam prosesi pecaruan atau bhutayajnya.

Disinilah kita melihat bahwa ogoh-ogoh tak terpisahkan dari upacara tersebut terlebih lagi yang menyajikan sebuah renungan yang sangat mendalam tentang ruang dan waktu. Bersama dengan itu generasi muda ingin mendekatkan diri kepada sesuatu yang mengerikan sehingga dia dapat merasakannya. Hal itu tentu sangat berguna dalam pembangunan karakter generasi muda.

 

 

  • Sinopsis Ogoh-ogoh

Diceritakan Raja Kulagiri berkata kepada kedua istrinya Dewi Sintakasih dan Dewi Sanjiwartia bahwa dirinya akan pergi bertapa ke lereng Gunung Semeru. Dewi Sintakasih ditinggalkannya dalam keadaan hamil. Setelah cukup lama waktu berjalan Dewi Sintakasih pun hamil tua. Dewi Sintakasih pun hendak mencari suaminya ke lereng Gunung Semeru.

Dalam perjalanan perut Dewi Sintakasih pun sakit dan ia pun memutuskan untuk beristirahat diatas batu yang datar dan lebar. Lama tak lama kemudian Dewi Sintakasih pun melahirkan seorang anak. Anak itu menimpa batu tersebut dan pecahlah batu tersebut ditimpanya.

Pada saat bersamaan Dewa Brahma pun turun dan bersabda memberikan anugrah tidak terbunuh oleh para Dewa, Denawa, Detya, Manusia. Tak terbunuh pada malam maupun siang hari, dan tidak mati diatas ataupun dibawah. Tidak terbunuh oleh senjata kecuali Dewa Wisnu.

Disaat bersamaan Dewa Brahma pun memberi bayi tersebut nama “I WATUGUNUNG” karena ia terlahir diatas batu. Singkat cerita bayi tersebut tumbuh secara pesat sampai ibunya kewalahan meladeninya. Dan pernah terjadi saat ibunya sedang memasak nasi, Watugunung pun datang untuk meminta makan sedangkan nasi yang dibuat masih mentah, tetapi Watugunung memaksa ibunya karena ia sangat lapar, kemudian dimakanlah nasi tersebut mentah-mentah. Karena marah melihat perilaku anaknya, Dewi Sintakasih melemparkan sutil nasi dan tepat mengenai kepala Watugunung. Kepala Watugunung pun berdarah.

Watugunung pun lari sambil menahan sakit karena lemparan sutil nasi tersebut. Kemudian Ibunya pun meninggalkan Kerajaan menuju Gunung Emalaya. Diceritakan dalam perjalanan  menuju Gunung Emalaya, Watugunung berbuat seenaknya. Ketika lapar ia merampas makanan masyarakat sekitar. Masyarakat pun heran melihat perilaku anak kecil yang serba berani ini.

Singkat cerita Watugunung sudah memerintahkan seluruh kerajaan karena kekuatannya yang tidak tertandingi, tetapi ada satu kerajaan yang belum dikuasai yaitu sebuah kerajaan yang dipimpin oleh dua orang perempuan yang amat bijaksana dan rupawan bertahta di Kunda Dwipa. Jika dapat menaklukannya ia berpikir untuk menjadikan kedua perempuan itu sebagai permaisurinya.

Watugunungpun menjajah Kerajaan Kunda Dwipa, terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat. Dan akhirnya Kunda Dwipa pun berhasil ditaklukkan oleh Watugunung dan kedua perempuan itu diperistri olehnya. Watugunung tidak mengetahui bahwa kedua istrinya  itu adalah ibunya sendiri.

Pada suatu hari Watugunung meminta istirnya untuk mencari kutu dikepalanya, pada saat itu badai, petir, angin yang berombak-rombak terjadi. Dewi Sintakasih pun terkejut melihat ada bekas luka yang sama dengan anaknya dahulu.

Melihat luka itu Dewi Sintakasih pun ingat tehadap sabda Brahma bahwa Watugunung akan mati oleh Dewa Wisnu. Diperintahkanlah Watugunung untuk mencari istri Dewa Wisnu untuk dijadikan budak dengan alasan Dewi Sintakasih ngidam. Dewi Sintakasih pun menuruti kemauan istrinya tersebut dan bertemulah dengan Dewa Wisnu dialam bawah.

Tanpa basa-basi Watugunung  meminta agar istri Dewa Wisnu untuk dijadikan budak dikerajaannya. Mendengar perkataan Watugunung, Dewa Wisnu pun murka. Tetapi Dewa Wisnu masih berusaha untuk sabar. Watugung pun meninggikan suaranya, jika Dewa Wisnu tidak memberikan istrinya maka Watugunung menantang untuk perang. Mendengar perkataan Watugunung, Dewa Wisnu menyanggupi tantangannya. Terjadilah perang yang sangat dahsyat selama 7 yuga, lalu Dewa Wisnu berubah wujud menjadi kura-kura raksasa berbajra utama dan bersenjatakan cakra.

Watugunung pun kalah dan mati ditangan Dewa Wisnu karena terkena Cakra tepat didadanya. Watugunung pun dicempahkan ke bawah sehingga disebut WATUGUNUNG RUNTUH dan tepat terjadinya KAJENG KLIWON PEMELAS TALI.

 

 

  • Baleganjur yang mengiringi

Baleganjur yang mengiringi ogoh-ogoh ini menggunakan :

  1. 2 pasang kendang jedugan
  2. 1 gong
  3. 1 kempur
  4. 2 ponggang
  5. 4 riong
  6. 2 tawa-tawa
  7. 10 cakup ceng-ceng kopyak

 

  • Peran dan keterlibatan

Keterlibatan saya di dalam ogoh-ogoh  ini adalah saya sebagai bendahara panitia ogoh-ogoh. Di samping itu saya sebagai penabuh yang memainkan  kendang dan sekaligus menjadi pemimpin saat lomba ogoh- ogoh yang di selenggarakan oleh Karang Taruna Desa Pemecutan Kelod.

Karena hampir semua penabuh tidak memiliki keahlian di bidang seni, jadi harus ada salah satu yang memimpin agar pementasan berjalan lancar.

 

  • Kesimpulan

Melestarikan tradisi dan budaya Bali adalah tugas bagi generasi muda seperti Sekaa Truna Truni yang ada di banjar masing-masing. Namun kini banyak tradisi yang kita miliki hampir hilang, contohnya seperti mengarak ogoh-ogoh menggunakan sound dengan alunan house music. Namun di STT.Dwi Putra ini sebisa mungkin tetap menggunakan gamelan baleganjur agar tradisi yang sudah di ariskan kepada kita sebagai generasi muda tidak hilang.

 

  • Sumber acuan

IBG. Agastia, 2005, NYEPI SURYA DAN SUNYA, Denpasar Bali,YAYASAN DHARMA SASTRA.

Blog.isi-dps.ac.id/panyryandhy/hari..

Sejarahbabadbali.blogspot,com/2010/