Mei
22
2012
55

tugas 3 literatur musik nusantara I

 

PERKEMBABGAN GENGGONG SEBAGAI SENI PERTUNJUKAN

 

 

I.PENDAHULUAN

Genggong merupakan sebuah instrumen musik yang kita warisi sejak jaman lampau. Sebagai sebuah instrumen music yang tua,genggong memiliki bentuk yang sangat kecil dan sangat sederhana. Meskipun demikian,alat music yang sangat mudah di bawa ini memiliki akustik dan tekhnik yang yang cukup rumit. Hal yang juga sangat menarik dari genggong itu adalah  keberadaan atau kelangsungan hidupnya di masyarakat.

II.GENGGONG

Genggong merupakan sebuah instrumen musik yang sangat menarik. Alat musik ini terbuat dari pelapah enau (bhs.Balimpugpug), berbentuk segi empat panjang,dengan ukuran panjang lebih dari 16 cm dan lebar 2cm. ditengah-tenghnya sebuah pelayah sepanjang ukuran lebih 12cm pada ujung kanan di buat lobang kecil tempat tali benang yang panjangnya kurang lebih 17cm kemudian benang itu dikaitkan pada sebuah potongan bamboo kecil sepanjang 7 s/d 10 cm,seangkan pada ujung kirinya dikaitkan kain sebagai tempat pegangn ketika bermain.

Laras genggong disebut dengan laras selendro,kurang lebih mendekati laras gamelan Angklung di Bali. Adapun system ‘Harmoni Saries atau system overtone dari genggong’.

Selain genggong tersebut di atas ada juga instrumen enggung (sejenis kodok). Enggung merupakan instrumen yang juga terbuat dari pelapah enau,merupakan pelayah,dimankan dengan cara menhembus. Ukuranya sedikit lebih pendek dari Genggong dan tidak memakai benang serta kain. Engung dibuat sebagai instrumen untuk meniru suara kodok,yang nantinya akan dijalin satu dengan yang lainnya sehingga akan dijalin menghasilkan jalinan ritme yang sangat baik menggunakan prinsip kotekan ( interlocking).

Genggong sering dimainkan oleh para petani sambil melepas lelah di sawah,kadang-kadang dimainkan dirumah,bahkan tidak jarang bahwa seseorang memainkan genggong dengan masuk menarik perhatian wanita (kekasihnya),sebagai halnya instrument seruling. Dalam perkembangan selanjutnya,Genggong tidak saja di mainkan solo,tetapi ia di angkat menjadi sebuah barungan atau dipadu dengan alat musik lain.

III.PERKEMBANGAN GENGGONG SEBAGAI SENI PERTUNJUKAN

Genggong yang pada asalnya merupakan instrumen tunggal dalam perjalan sejarah kemudian berkembangmenjadi sebuah barungan (ensambel). Adnya perubahan seperti ini merupakan suatu bukti bahwa seniman kita tetap menginginkan suatu kemajuan dan kemudian akan memberi dampak tertentu kepada instrumentasi,komposisi gending,teknik,dan sebagainya.

Khususnya pada genggong,perubahan ini disebabkan beberapa mmotivasi dari dalam (internal) maupun dari luar (external). Factor dorongan dari dalam karna adanya keinginan dari anggota sekha atau masyarakat setempat,sedangkan factor luar terjadi berkat adanya motivasi dari luar sekha atau masyarakat itu sendiri.

 

  1. A.    Barungan Gambelan Genggong

Berdasarkan informasi dari beberapa seniman genggong,serta catatan yang berhasil di buat oleh beberapa sarjana/ahli (Mc.phee,beryl de zoete danWalter spies, dll), bahwa sekitar tahun 30an barungan gambelan genggong terdiri dari beberapa instrumen seperti : beberapa buah Genggong, suling, guntang, cengcengan kecil, botol yang dipukul dengan kayu kecil, enggung dan kendang. Yang cukup menarik disini kala kita tinjau dari segi kelengkapan instrumennya adalah botol sebaai salah satu bagiannya.

Kalau ditinjau dari segi fungsi instrumen itu dalam barungan Genggong tersebut, botol botol yang dipukul dengan kayu kecil berfungsi untuk memperkaya ritme.

 

 

Dewasa ini seperangkat gambelan Genggong terdiri dari beberapa instrumen di antaranya :

  1. Sebuah atau dua buah suling kecil, yang berfungsi untuk memulai gending, memegng melodi atau membuat gineman.
  2. Sebuah kendang krumpung kecil ( sedikit lebih besar dari kendang angklung), bertugas sebagai pemurba irama, member komando pada aksen-aksen tertentu.
  3. Beberapa buah Genggong ( 8 buah atau lebih), bertugas sebagai pembuat hiasan system kotekan,karna itu sebagian akan bermai sangsih dan sebagian lagi bermain polos. Ada kalanya juga seorang pemain Genggong bermain tertentu pada gending tertentu.
  4. Satu pangkon ceneceng kecil, bertugas sebagai memperkaya ritme, bersama kendang membuat angsel.
  5. Kleneng sebuah, bermain imbal dengan guntang kecil.
  6. Dua buah Guntang ( besar dan kecil). Guntang yang besar berfungsi sebagai Gong sedangkan yang kecil ( Klentit) berfungsi untung memegang mat ada juga sekha yang memakai Gong pulu sebagai pengganti guntang besar.
  7. Beberapa buah Enggung, bertugas untuk membuat jalinan ( kotekan) terutama untuk iringan tari Godogan ( kodok).

Dari jenis instrumen yang dipergunakan dewasa ini nampaknya botol tidak lagi dimasukkan.

 

  1. Jenis-jenis Gendingnya.

Gending-gending Genggong berasal dari beberapa sumber antara lain dari beberapa gending Angklung, Dolanan, Pagongan, dan lain-lainnya. Karna adanya beberapa sumber tersebut maka gending-fending Genggong biasanya berukuran oendek-pendek jumlah ketukan dalam satu kempul (Gong) sering ganjil, kecuali beberapa gending yang di transper langsung dari barungan lain seperti pagongan atau palegongan misalnya :

 

 

  • Dalam sebuah pertujukan Genggong, Gending-gending tersebut dapat dikelompokan menjadi : gending petegak dan pengiring tari /dramatari.
  • Gending petegak adalah jenis gending yang berdiri sendiri atau tidak ada hubunganya dengan tari/dramatari.
  • Gending jenis sering juga disebut gending pereren,misalnya : gegineman Angklung, Sekar sandat, Jenggot uban, Elag-elog, Tabuh telu, Pengecet  Angklung, dan sebagainya.
  • Sedangkan gending pengiring Tari/dramatari adalah jenis gending yang dipergunakan untuk tari dramatari misalnya : Tari godogan (ngelembar) diiringi dengan tabuh Enggung (Batur sari, butuan), di Ubud (Genggong Catur Wangsa Budaya) gending pengiring tari godogan ini disebut Katak Ngongkek.

 

  1. C.    Fungsi.

Dilihat dari segi fungsinya, Genggong lebih banyak berfungsi sebagai seni Balih-balihan. Bila ia dipentaskan dalam rangkaian suatu upacara, dipura misalnya, Genggong hanyalah sebagai hiburan masyarakat saja. Pada masa yang lalu gambelan Genggong sering dipergunakan dalam rangkaian upacara perkawinan yaitu pada saat pengantin pria menjepiut wanita atau pada waktu mapejati. Selain untuk mengiringi pengantin, Gnggong pula pernah dimainkan dalam upacara potong gigi (mesangih) dan ngaben, untuk membayar kaul. Belakangan ini nampaknya jarang sekali Genggong dipergunakan untuk mengiringi pengntin. Yang paling sering adalah untuk konsumsi para wisatawan.

 

  1. D.    Sekilas tentang musik kontemporer

Apabila kita amati akhir-akhir ini ternyata perkembangan musik Bali menunjukan hal yang mengembirakan. Pada saat ini semakin banyak munculnya karya atau komposisi baik melalui pendekatan tradisi maupun mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan garap baru sehingga menghasilkan warna musik baru. Satu diantara karya-karya itu adalah musik kontemporer.

Genggong sebagai instrumen musik yang tua tidak pernah ketinggalan. Pada beberapa karya musik kontemporer garapan ASTI Denpasar, genggong juga dimasukkan. Ia dipadukan dengan alat-alat lain seperti Okokan (kroncongan),timbul, guangan, dan lain-lain.

Perkembangan lain yang juga terjadi adalah Genggong tidak saja di padukan dengan alat-alat Bali, melainkan juga dengan insatrumen musik barat dan beberapa ensambel musik lainnya.

IV. PENUTUP

Dari uraian di atas kia ketahui bahwa Genggong sebagai salah satu musik warisan nenek moyang kita, tetap bisa bertahan sam pai saat ini.

Besar harapan kita bahwa dengan masuknya Genggong kedalam karya-karya kontemporer, alat musik yang kecil ini semakin dikenal dan di sayang.

Demikianlah hal-hal yang dapat kami bisa sampaikan pada kesempatan ini, dan kami mohon maaf atas segala kekurangaannya.

Written by in: Lainnya |
Mei
22
2012
56

tugas 2 literatur musik nusantara I

 

Bhagawad Gita

 

Latar belakang peristiwa ‘Bhagawad Gita’ adalah kisah perang Mahabarata yang melibatkan pihak Pandawa dan pihak Kurawa. Pandawa berarti suci dan bersih dengan kata lain simbol ‘kesucian’, Diwakili oleh keluarga pandu yang. Kurawa adalah symbol kekuatan nafsu, amarah, tamak, Kecongkakan dan dengki diwakili oleh 100 keturunan dari Dritharashta secara simbolis medan pertempuran itu sendiri memiliki dua nama, nama asal adalah Dharma Kshetra ( yakni tempat historis & suci ), sedangkan nama yang kedua adalah Kuru Kshetra ( yakni medan pertempuran ). Arti simbolis kedua nama ini adalah : berawal dari kelahiran sebagai bayi yang suci bahagia dan banyak tertawa karena tak mengenal dosa, harus beranjak dewasa dan berbuat banyak dosa sehingga harus berjuang di medan pertempuran agar kembali menjadi bayi yang murni. Jalannya peristiwa Arjuna penengah Pandawa  maju dalam peperangan dan menaiki kereta yang dikusiri oleh Kresna. Menyaksikan bahwa lawan dan kawan yang pada kaki katnya adalah teman, kerabat dan saudara, maka Arjuna menjadi lemah hati dan bermaksud untuk mengundurkan diri dari peperangan. Saat itulah Kresna bergeser fungsi menjadi Sang Guru yang memberi wejangan-wejangan dalam dialog yang disebut dengan ‘Bhagawad Gita’. Inti wejangan Kresna : Manusia (wayang) memiliki dua keakuan yang mendasar, bentuk keakuan pertama adalah aku yang berwujud ragawi, badan kasar yang menjadi wujud lahir ialah manusia, keakuan ini melahirkan banyak keterikatan seperti : negaraku, milikku, mobilku, perusahaanku, istriku dll. Sedang keakuan kedua adalah Aku besar yang berada dalam samudra kalbu manusia, diri yang sejati inilah yang memberi pertimbangan baik dalam diri manusia. Arjuna maju kemedan perang dan menyaksikan keluargaku, kerabatku, temanku, saudaraku harus bertempur dan salah satu pihak akhirnya harus lenyap. Inilah yang memberatkan hati & pikirannya. Keterikatan akan keakuan yang kecil inilah yang mengakibatkan terjadinya duka &  derita, maka Kresna memberi wejangan pada Arjuna agar meninggalkan sifat lemah dan dengan gagah berani harus maju bertempur dan mengalahkan segala keangkara murkaan. Makna yang terdalam manusia, seperti halnya Arjuna, harus berani maju kemedan pertempuran, berpihak pada keakuan yang besar dan dengan gagah berani harus mengalahkan segala keterikatan keakuan yang kecil (yang dipenuhi oleh keangkara murkaan). Peperangan batin ini tidak lah pernah akan berakhir selama hidup manusia.

Dalam kitab Bhagawad Gita ini tertulis bahwa pada saat dimulainya suatu peperanagan para pasukan Pandawa dan Kurawa memakai instrument bunyi tertulis pada BAB I, 1 – 18 yang berbunyi :

 

drupado draupdeyas ca sarvasahprthivi-pate,saubadras ca maha-bahuh sankhan dadhmuhprthak”.

Wahai penguasa bhumi (dhartarastra) raja drupe dan putera-putera draupadi,serta putera subadhra,dengan persenjatannya yang kuat semua meniup trompet mereka  masing-masing dari segala penjuru.

 

 

Written by in: Lainnya |
Mei
22
2012
1

tugas 1 literatur musik nusantara I

GAMBELAN  GAMBANG DI SEMPIDI DESKRIPSI FUNGSI DAN STRUKTUR

 

Gamelan gambang  adalah sebuah barungan  musik Ritual bali yang menggunakan laras pelog tujuh  nada. Dalam satu barung, terdapat du jenis instrument, yaitu gangsa yang sering juga disebut saron dan instrtumen, yaitu gangsa atau sering juga disebut saron dan instrument yang satu lagi bernama gambang. Jumlah penabuh gambelan gambang berkisar antara 5 sampai 6 orang, tergantung dari banyaknya tungguhandalam satu barung. Gangsa atau saron (selanjutnya disebut gangsa saja) merupakan sebuah instrument berbilah dengan bahan bilah terbuat dari perunggu;  sebaliknya gambang, meskipun juga merupakan instrument berbilah, namun bahan bilahnya terbuat dari bumbu. Dalam barungan gambelan Gambang, gangsa bertugas  sebagai pembawa melodi,  sedangkan gambang bertugas untuk membuat kotekan (interlocking figuration).

 

Dilihat dari segi sejarahnya, Gambang merupakan music yang tergolong sudah tua umurnya. Dari data-data peningalan sejarah dapat diketahui bahwa gambar-gambar  instrument Gambang telah terpahat pada relief candi penataran di Jawa Timur yang diduga berasal dari abad ke XIV. Selain itu nama gambang telah pula disebut-sebut pada beberapa buah literature seperti : Malat, Panji Kuda Narawangsa , Babad Blahbatuh tambahan pula bahwa gambang telah disingung tentang cara memukul dan suara dari gambang itu sendiri. Menurut prakempa, cara memukul gambelan gambang dinamakan angantraruru dan suaraya disebut geleng pengasuh. Disamping itu pada beberapa seka gambang di bali masih didapatkan  informasi mengenai asal usul gambang yang dimilikinya yang dikaitkan dengan mitologi maupun cerita local. Penelitian tentang gambelan gambang yang merupakan salah satu music ritual kita ini telah pernah dilakukan oleh beberapa orang peniliti.

 

Gambelan yang dijadikan objek dalam rangka penulisan ini terletak di banjar tengah kelurahan sempidi kabupaten badung. Dikalangan masyarakat luas gambelan ini telah dikenal dengan sebutan gambelan sempidi. Gambelan itu kini disimpan dirumahnya guru gede janem. Salah seorang tokoh dari gambang sempidi yang telah banyak dikenal masyarakat khususnya pencinta gambang bernama I Gede Rai Jadi, yang lahir kira-kira pada tahun 1916. Mengenai asal usul gambelan ini sampai saat ini smasih sulit diketahui sangat pasti karena belum ditemukan data yang akurat. Berdasarkan informasi dari bapak I Gede Rai Jati dikatakan bahwa gambelan gambang itu merupakan gambang kuno yang diwariskan oleh leluhurnya. I Gede Rai Jadi sendiri telah mulai menabuh gambang kira-kira tahun 1927 diajarkan oleh ayahnya yang bernama I Gede Gerebeg (Alm) selanjutnya dikatakan bahwa kemahiran ayahnya dalam memainkan gambelan gambang diperoleh dari kakeknya yang bernama I Nyoman Karta , demikianlah tradisi itu berlangsung sampai saat ini secara turun temurun.

Instrumentasi

–          Gangsa : merupakan sebuah instrument yang berbilah denagn bahan bilah terbuat dari perunggu, tiap tunguh terdiri dari tujuh bilah , dipasang dengan cara dipatol pada sebuah pelawah yang terbuat dari kayu dan dimainkan dengan sebuah panggul yang terbuat dari kayu atau tanduk kerbau. Wujud dari instrument ini menyerupai gangsa jongkok yang terdapat dalam barungan Gong Gede di Bali.

–          Gambang : merupakan instrument yang berbilah juga dengan bahan bilah yang terbuat dari bambu. Pada barungan gambang sempidi ada 4 tunguh gambang yang dipergunakan masing-masing besar kecilnya tersebut. Setiap instrument dimainkan oleh seorang penabuh dengan menggunakan dua buah panggul yang bentuknya bercabang dan menyudut.

 

Tehnik Pukulan

Teknik pukulan gambelan gambang disebut dengan istilah gegebug. Adapun gegebug dari setiap instrument adalah sebagai berikut :

–          Gangsa sebagai instrument pemegang melodi, gangsa menggunakan gegebug kekonyongan atau sawitan dan gegebung agal, kekonyogan merupakan gegebug yang jatuhnya tepat pada ketukan sedangkan agal adalah sebaliknya.

–          Pengenter : Teknik pukulanya disebut gegebug pengenter , pengenter dikatakan memiliki gegebug megending karena rangkaian melodi yang dihasilkan seolah-olah merupakan sebuah nyanyian yang dikembangkan berdasarkan pokok gending.

 

–          Pemeru, Tehnik pukulan disebut gegebug pemeru, berfungsi nyongot dalam oncang-oncangan , karena pada dasarnya gegebug  pemeru  ini membelakangi pokok gending maka sering pula disebut gegebug ngungkurin.

–          Penyelat, menggunakan gegebung penyelat dan berfungsi sebagai pemolos dalam oncang-oncangan.

–          Pemetit , tehnik pukulanya disebut gegebug pemetik dan berfungsi nyandet dalam oncang-oncangan. Gegebungya selalu nguluin melodi, misalnya kalu melodi akan jatuh pada nada  nding  maka penabuh pemetit akan mendahului penabuh gangsa dalam mencapai nada ending itu.selain dari gegebung telah disebutkan diatas keempat gambang juga bermain kekonyongan khususnya pada bagian gineman dan bagian penyuut yaitu bagian paling awal dan paling akhir dari sebuah komposisi gending gambang.pada bagian transisi keempat gambang juga bermain nyading dan ngikal . nyading dan ngikal merupakan satuan yang tidak terpisah meskipun sebenarnya terdapat sedikit perbedaan dalam tehnik pukulanya nyading selalu dimainkan lebih dahulu kemudian disusun oleh ngika.

 

Seting (penempatan Instrumen)

Gambang memiliki seting yang sangat khas. Penempatan instrument baik dalam latihan maupun dalam pementasan yang sebenarnya diatur sebagai berikut :

  1. Gangsa , baik gangsa gede maupun gangsa cenik akan ditempatkan ditengah-tengah.penempatan semacam ini dimasukan agar suara dari gangsa itu bisa didengarkan secara baik oleh semua penabuh gambang
  2. Gambang, ditempatkan dengan posisi berhadap-hadapan disebalah kanan kiri gangsa. Pengenter akan berhadapan langsung dengan pemetit dan pemero berhadapan dengan penyelat. Dengan posisi ini pemain gambang akan mudah untuk mengontrol gegebung masing-masing untuk dapat menghasilkan oncang-oncangan yang diinginkan.

 

 

 

 

 

Laras dan Gending

–          Laras adalah rangkaian nada-nada dalam satu oktaf telah mempunyai jarak nada tertentu. Gambelan gambang menggunakan laras pelog sapta nada atau di bali dikenal dengan saih pitu.dari laras pelog saih pitu kemudian dapat diturunkan menjadi tigasaih yaitu saih lima, saihnem, saihpitu. Timbulnya ketiga saih ini disebabkan oleh penggunaan nada-nada dalam satu gending misalnya saja kalau nada-nada yang dipergunakan itu berjumlah lima buah maka saih itu disebut saih lima.

 

Notasi

Notasi gambang ditulis dengan lontar dan disebut lontar gending gambang atau gerantang gambang. Notasi itu menggunakan pengangending aksara bali sebanyak tujuh buah sesuai dengan banyaknya nada dalam laras pelog saih pitu, dalam lontar gending gambang yang ditulis hanyalah pokok gendingan saja. Yang penting untuk diketahui bila antara notasi yang tertuluis dengan cara membecanya adalah berbeda. Pada sebuah notasi itu seolah –olah semua not atau nada itu kena ketukan, padahal dalam prakteknya tidak demikian. Notasi untuk keempat gambang tidak ditulis sama sekali, karena itu penabuh gambang harus telah hafal denga melodi pokok; ataupaling tidak mereka harus dapat mengantisipasi jalanya melodi dengan baik, sehingga tiap orang akan dapat bermain sesuai dengan gegebug masing-masing.

 

t

Written by in: Lainnya |

Powered by WordPress | Theme: Aeros 2.0 by TheBuckmaker.com