CALONARANG

Rabu, Mei 2nd, 2018

Sebuah dramatari klasik Bali yang memakai lakon calonarang. Dalam pertunjukannya minimal menampilkan peran sebagai berikut :

  1. Rangda, sebagai perwujudan ilmu hitam
  2. Matah Gede, sebagai perwujudan calonarang sebelum memperaktekan ilmu hitam
  3. Sisya, sebagai murid calonarang yang mempelajari ilmu hitam
  4. Pandung, sebagai perwujudan patih kerajaan Kadiri, bertugas untuk membunuh Calonarang
  5. Leak-leakan, sebagai perwujudan ilmu hitam dari sisya.

Calonarang dikatakan sebagai cerita semi sejarah. Kendatipun nama calonarang tidak pernah diungkapkan dalam sejarah. Kejadian diduga terjadi pada zaman pemerintahan raja Airlangga di Kahuripan (Jawa Timur) pada abad XI. Dr. R. Goris dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Bali Kuno” halaman 7, menjelaskan bahwa yang menjadi calonarang adalah putri Gunapriya, yang dibuang oleh suaminya karena dituduh melakukan desti (Ilmu Hitam). Dari uraian diatas dikatakan calonarang ialah Sang Ratu Luhur Cri Gunapriya Dharma Patni, istri dari Cri Dharmodayana Warmadewa yang memerintah Bali pada tahun 989 M dan merupakan ibu dari Raja Airlangga yang menjadi tokoh utama dalam cerita Calonarang. Sebagai Tema dari dramatari calonarang di Bali, maka cerita ini dapat dibagi menjadi 3 versi antaralain :

  1. Kadundung (diusirnya) Ratna Mangali
  2. Perkawinan Mpu Bahula (putra Mpu Bharadah) dengan Ratna Mangali
  3. Ngeseng Waringin (membakar pohon beringin) merupakan puncak perkelahian calonarang dengan Mpu Bharadah
  4. Kautus Rarung (rarung diutus untuk menegaskan perkawinan Ratna Mangali dengan Prabhu Airlangga).

Asal Mula Dramatari Calonarang

Menurut informasi I Ketut Rindha, calonarang sudah ada di Gianyar tahun 1825 pada pemerintahan I Dewa Agung Sakti di Klungkung. Penarinya diambil dari penari gambuh Gianyar, Klungkung dan Bangli. Pelatih tarinya adalah I Sabda dan I Goya dan pelatih tabuhnya adalah Dewa Ketut Blancing dan I Gusti Ketut Rencong. Pada saat itu Raja Gianyar merupakan pengayom berbagai jenis kesenian dan seni dramatari calonarang merupakan suatu hal yang mendapat perhatian pada saat itu. Dari sanalah dramatari calonarang berkembang keberbagai daerah diantaranya Blahbatuh, Singapadu, Pagutan, Tegaltamu, Batubulan dll. Pada tahun 1930-an Welter spies melakukan penelitian tentang tari Bali dan saat itu dramatari calonarang sering dipertunjukan untuk touris.

Bagi masyarakat Bali, dramatari calonarang dapat berfungsi sebagai :

  1. Pengiring upakara agama Hindu
  2. Penolak wabah penyakit
  3. Sebagai pendidikan (dilihat dari jalan cerita)
  4. Sebagai hiburan.

Antawacana

Antawacana dilakukan dengan Bahasa Bali dan Kawi (Jawa Kuno). Bahasa Kawi digunakan oleh tokoh-tokoh utama seperti Raja, Calonarang, Patih dsb. Bahasa Bali digunakan oleh tokoh-tokoh pendukung seperti, penakawan dan bondres. Bahasa Bali juga digunakan sebagai penerjemah bahasa Kawi yang diucapkan oleh para tokoh utama.

Pembendaharaan Gerak.

Pembendaharaan gerak yang dipakai dalam dramatari calonarang yaitu mengambil gerak-gerak penggambuhan seperti nyelog, milpil, tetanganan, nayog, nabdab, pinggel, dll.

Busana dan Iringan

Busana dalam dramatari calonarang berupa saput, jaler, kain perada, stagen, stewel, ampok-ampok, gelungan, dan sebagainya sesuai dengan busana dramatari gambuh. Pertunjukan ini diiringi dengan gamelan penyalonarangan, bentuknya serupa dengan gamelan bebarongan atau palegongan.

PUSTAKAAN :

Bandem, I Made, 1983, Ensiklopedi Tari Bali, Denpasar, Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar Bali.

Comments are closed.