Tari Baris Jangkang

 

Tari Baris Jangkang merupakan salah satu tari sakral yang ada di Desa Pejukutan Kecamatan Nusa Penida Kabupaten Kelungkung Bali. Tari ini dipentaskan untuk mengiringi prosesi upacara tertentu, yang dipentaskan di tempat-tempat pelaksanaan upacara. Selain dipentaskan di pura (tempat suci), tari baris Jangkang juga dapat dipentaskan di lingkungan rumah tangga ketika melaksanakan upacara manusa yadnya (upacara daur hidup). Pementasan di lingkungan rumah tangga biasanya dipentaskan untuk naur sesangi (membayar kaul). Secara rutin tari ini dipentaskan pada saat upacara di Pura Desa. Dalam pementasan tari baris jangkang ada beberapa pantangan yang harus ditaati ;

Pada saat pementasan tari baris jangkang penonton tidak boleh ribut dan berkata tidak sopan. Apabila itu dilanggar diyakini si pelanggar akan mendapat hukuman seperti mengalami sakit, kecelakaan, dan lain-lain.
Kepemilikan, pementasan, penyebarluasan informasi, harus sepengetahuan ahli waris atau keturunan langsung sang pencipta tari baris jangkang (keturunan I Jero Kulit). Apabila itu dilanggar diyakini akan menimbulkan keadaan yang tidak baik.
Penari Baris Jangkang umumnya laki-laki berjumlah sembilan orang. Jumlah itu dapat ditambah atau dikurang yang terpenting jumlahnya harus ganjil. Semua penari maupun penabuh diusahakan berasal dari Dusun Pelilit keturunan penari dan penabuh sebelumnya. Kostum penari terdiri atas saput (penutup tubuh), jaler (celana panjang), awir (selempang dada), kamben (kain), udeng (ikat kepala), dan tombak. Lakon yang dipentaskan umumnya berasal dari cerita rakyat setempat, sesuai keadaan upacara yang diiringi. Sebagai tari sakral, pementasan tari baris jangkang diawai dengan upacara tertentu dipimpin seorang pemangku (pemimpin upacara).

 

 

SEJARAH PURA PUNCAK MUNDI NUSA PENIDA

Pura Puncak Mundi terdiri dari tiga paleban pura yaitu Pura Beji tempat persembahyangan pertama, disusul Pura Krangkeng dan Pura Puncak Mundi yang merupakan stana Ida Bhatara Lingsir.

Bendesa Pangempon Pura Puncak Mundi, I Wayan Sukla mengatakan, pangempon Pura Puncak Mundi terdiri dari 504 kepala keluarga yang tersebar di sebelas banjar adat. Di antaranya Banjar Baledan Duur, Banjar Baledan Beten, Banjar Klumpu Kauh, Banjar Klumpu Kangin, Banjar Angas, Banjar Mentaki, Banjar Rata, Banjar Tiagan, Banjar Bila, Banjar Cubang dan Banjar Iseh.

Dihimpun dari berbagai sumber, Wayan Sukla menceritakan, keberadaan pura-pura di Pulau Nusa Penida, diilhami dari kisah pertemuan antara Bhatara Guru dan Dewi Uma. Dari pertemuan itu, lahirlah seorang putra yang diberi nama Bhatara Kumara. Namun, kelahiran Bhatara Kumara ternyata juga menjadi awal perpecahan antara Bhatara Guru dan Dewi Uma. Soalnya, Bhatara Kumara lebih senang diasuh ayahnya, dan hanya sesekali menghampiri ibunya ketika ingin disusui.

Karena kesal, Dewi Uma menganiaya Bhatara Kumara saat menyusui. Saking marahnya, kedua bola matanya memerah dan taringnya juga keluar. Bhatara Kumara pun dibanting sampai kepalanya pecah dan darahnya diminum Dewi Uma. Ternyata, perlakuan itu diketahui Bhatara Guru. Menyaksikan perilaku sang istri seperti kala, Bhatara Guru pun marah. Beliau mengutuk Dewi Uma agar menjelma ke dunia menjadi manusia.

“Selama menjalani kutukan, Dewi Uma diceritakan sempat tiba di tengah hutan. Di tempat sunyi itu, ada sebatang pohon beringin tinggi besar. Di sanalah beliau menangis, air susunya merembes keluar sampai ke tanah. Di tempat itu kemudian tumbuh pohon pisang raja (gedangsaba). Itulah sebabnya pisang tersebut sangat baik untuk makanan bayi,” katanya.

Setelah lama menyesali perbuatannya, timbul keinginan beliau untuk membangun keraton yang tidak berbeda dengan swargaloka. Dewi Uma membangun sebuah asrama di puncak Bukit Mundi dan mendapat gelar Bhatari Rohini. Di asrama itulah, Bhatari Rohini melaksanakan yoga samadhi.

Singkatnya, Bhatara Guru juga tidak tahan mengasuh putranya sendirian. Sebab, Bhatara Kumara terus meminta disusui ibunya. Bhatara Kumara lantas didudukkan di plangkiran untuk menjaga para bayi. Seketika, Bhatara Guru kembali teringat dengan Dewi Uma yang sebelumnya dikutuk dan kini berstana di puncak Bukit Mundi. Bhatara Guru akhirnya memutuskan juga turun ke dunia pada tahun saka 50, tepatnya ke tempat Dewi Uma melaksanakan yoga samadhi di puncak Bukit Mundi. Bhatara Guru menjelma menjadi seorang dukuh atau pandita (rohaniwan) bernama Dukuh Jumpungan dan bertemu dengan Dewi Uma. Daerah ini kemudian diberi nama Nusa Panida, yang berasal dari arti Manusa Pandhita.

Demikian juga Dewi Uma kemudian menjelma menjadi seorang wanita yang bernama Ni Puri sebagai istri Dukuh Jumpungan di dunia dan menetap di Gunung Kila, Pucak Bukit Mundi. Pangempon Pura Puncak Mundi menyebut keduanya dengan nama Ida Bhatara Lingsir. Sesuai waktu yang terus berlalu tibalah saatnya tahun Saka 90, istri Dukuh Jumpungan melahirkan seorang putra bernama I Merja. Keturunan dari I Merja inilah yang diyakini menjadi awal sejarah terbentuknya kesekian pura yang ada di Nusa Penida, yang di awali dengan didirikannya Pura Puncak Mundi.

Sukla menambahkan, pujawali di Pura Puncak Mundi dilaksanakan setiap enam bulan, setiap Budha Umanis Prangbakat. Dudonan piodalan akan diawali dengan sangkepan dan matur piuning pada Anggara Kliwon Wuku Tambir. Kemudian ngemargiang pecaruan, nedunang sesuunan sepisanan ngaturang pengias pada Anggara Kliwon Wuku Prangbakat. Selajutnya, Ida Bhatara katur masucian ke Pura Beji lan ngaturang piodalan pada Budha Umanis Wuku Prangbakat. Setelah piodalan, selanjutnya ngaturang penganyar pada Wrespati Paing Wuku Prangbakat sampai Sukra Pon Wuku Prangbakat

Pura Puncak Mundi merupakan pura penataran Agung dengan bagian-bagiannya (jaba sisi,jaba tengah, dan jeroan). Bila para umat Hindu yang hendak sembahyang / tirta yatra ke Nusa Penida urutan tangkilnya persembahyangan di Pura Puncak Mundi yang pertama kali sebelum ke pura Dalem Peed. Di Pura Puncak Mundi bersthana Ida Bhatara Lingsir, yang mana pura yang satu ini terdiri dari tiga pura pelebahan (pura Beji, pura Krangkeng, dan Pura Puncak Mundi). Pura Beji merupakan tempat persembahyangan pertama sebelum ke pura-pura yang lain, misalnya pura Krangkeng dan Pura Puncak Mundi, lanjut ke Pura Dalem Peed. Di desa Batu Kandik lokasi pura Penataran Agung Puncak Mundi, setiap 210 hari sekali (sesuai pawukon Hindu Bali) piodalan/petoyan di Pura Puncak Mundi yakni pada : Rabu/Buda Umanis Perangbakat. |sumber

SEJARAH SINGKAT NUSA PENIDA

Sejarah singkat Nusa Penida Bali – Sebuah perjalanan peradaban Bali kuno sampai menjadi destinasi wisata yang terkenal Nusa penida adalah sebuah Pulau yang ada di ujung tenggara pulau bali yang termasuk dalam wilayah teritori Kabupaten Kelungkung salah satu dari 9 kabupaten dan kota madya yang ada di bali. Nusa Penida merupakan salah satu pulau dari gugusan pulau kecil lainnya yakni Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.

Kegiatan penduduk Nusa Penida

Dari ketiga pulau tersebut, Nusa Penida lah yang memiliki wilayah yang paling luas dengan luas total 2095ha atau 10 kali lipat Nusa Lembongan. Nusa Penida merupakan sebuah pulau (nusa=pulau) yang terletak di sebelah tenggara Bali yang dipisahkan oleh selat badung. Pada abad ke-18 Nusa Penida digunakan sebagai tahanan oleh dinasti gelgel klungkung dibawah pimpinan Kerajaan Majapahit. Untuk diketahui Dinasti Gelgel merupakan sebuah kerajaan dibali yang daerah kekuasaannya sampai ke lombok.

Seiring runtuhnya peradaban majapahit Nusa penida berubah tidak lagi menjadi lokasi pemasyarakatan dimana penduduknya mulai bercocok tanam dengan tanaman yang banyak dibudidayakan adalah padi gage atau padi yang tumbuh di ladang. Padi gage ini adalah komoditas yang paling banyak dijumpai di nusa penida karena nusa penida sendiri adalah daerah kering dimana intensitas hujan tidak seperti di bali. Selain itu banyak juga masyarakat nusa penida yang beraktivitas sebagai nelayan dengan hasil utama mereka adalah ikan dan juga budi daya rumput laut.

Pariwisata Nusa Penida

Pada era 1990 an. Nusa penida mulai banyak dilirik oleh para investor dengan dibangunya dermaga untuk bersandarnya beberapa kapal yang mengangkut para wisatawan untuk menikmati keindahan nusa penida. dan seiring waktu berjalan banyak fasilitas yang dibangun di nusa penida seperti akomodasi hotel dan villa serta sampai saat ini sebuah kapal pesiar mewah setiap hari membawa kurang lebih 400 wisatawan untuk menikmati nusa penida. Nusa penida saat ini berbeda dengan yang dulu. Akses sudah memadai dan juga banyak objek wisata terutama pantai yang dulunya terisolir sekarang sudah mudah di akses.

SEJARAH PASIH UUG NUSA PENIDA

“Legenda Rakyat Tentang Pasih Uwug (Broken Beach)”

Menurut legenda atau cerita rakyat yang singkat tentang terbentuknya pasih uwug ini bermula dari salah satu keluarga yang bermukim tepat diatas yang belum terbentuk lubang besar menganga.

Seputaran pasih uwug ini dihuni oleh beberapa keluarga petani, tempat tinggalnya pun terpencar, selain yang tinggal diatas tanah yang dulunya sebelum terjadi proses lubang ada yang tinggal ditepi tebing bahkan di seberang tebing yaitu tepatnya di atas batu yang ada di seberang, konon dulunya menjadi satu daratan dengan posisi lubang besar sekarang ini.

Awal kisah terjadinya pasih uwug bermula dari Pak Tani yang hendak menanam jagung. Menanam jagung di Nusa Penida pada umumnya mempergunakan alat yang berupa kayu yang ber ujung lancip untuk membuat lubang kecil ditanah yang akan di tanami jagung.

Saat Pak Tani membuat alat tersebut (penyugjugan) kayu yang telah diperoleh dari hutan seputaran pasih uwug ini lalu dilancipkan menggunakan parang yang dibawah pohon besar dan beralaskan akar pohon tersebut.

Namun hal aneh yang terjadi saat parang Pak Tani mengenai akar pohon tersebut, akar pohon yang terkena parang Pak Tani terluka dan mengeluarkan darah.

Dengan adanya darah yang keluar dari akar pohon tersebut membuat Pak Tani semakin penasaran untuk lebih tahu seraya memberitahu tetangga dan teman- temannya.

Datanglah rame-rame orang-orang yang tinggal diseputar pasih uwug ketempat akar yang berdarah. Dan tanpa berpikir panjang akar pohon tersebut dipotong-potong lalu dibagikannya pada semua warga pasih uwug untuk dimasak dan dimakan.

Setelah malam tiba, kebetulan malam itu malam menjelang bulan purnama, berkumpullah sebagian besar warga pasih uwug dipelataran rumah Pak Tani yang menemukan akar berdarah tersebut sembari menceritakan betapa enaknya akar kayu yang berdarah itu.

Tidak berapa lama datanglah seorang Pak Tua yang sudah renta dan kumal yang tak dikenal oleh siapapun yang ada diseputaran pasih uwug. Pak Tua pun segera memberikan nasehat pada semua yang ada di pelataran rumah Pak Tani, untuk kedepannya jangan lagi berbuat seperti siang tadi sembarangan memotong dan membagi-bagi daging sapi milik orang lain.

Sebagian warga yang hadir dengan suara yang keras membentak Pak Tua dan tidak terima atas nasehatnya yang juga secara tidak langsung mengatakan warga mencuri sapi. Dengan demikian untuk menguji kebenaran warga bahwa dirinya tidak mencuri sapi seperti yang dituduhkan oleh Pak Tua, Pak Tua lalu mengeluarkan sebatang lidi daun kelapa dan langsung menancapkannya ketanah, setelah lidi tertancap di tanah, Pak Tua berkata, “Hai orang-orang yang ada disini, barang siapa yang mampu mencabut lidi ini dan lidi ini mampu tercabut olehnya, itu menandakan bahwa orang-orang disini memang jujur dan tidak benar mencuri sapiku”.

Setelah Pak Tua selesai berkata demikian, saling berebut orang-orang yang hadir ingin mencabut lidi tersebut, sehingga tak satupun orang yang mampu mencabut lidi tersebut. Karena tak ada yang mampu mencabut lalu Pak Tua berkata lagi.

“Nah karena kalian tidak mampu mencabut lidiku maka itu artinya kalian sudah tidak jujur lagi pada diri kalian semua dan lihatlah sekarang aku akan mencabut lidi ini.

Pak Tua dengan segera mencabut lidi yang ditancapkanya ditanah, setelah lidi tercabut keluarlah air dengan sangat cepat dari tanah bekas lidi menancap, air keluar dengan kecepatan yang tak terpikirkan, air lautpun bergejolak keras disebelah barat pasih uwug sehingga banyak menghancurkan daratan dan rumah penduduk yang ada, lubang besarpun timbul dengan sangat cepat sehingga rumah yang ada di seputaran lidi tertancap hilang dengan seketika bagaikan ditelan bumi.

Pak Tua hilang tanpa bekas, orang-orang seputaran pasih uwugpun juga ikut hilang diterjang air dan ombak gejolak air laut.

Demikianlah sekelumit cerita rakyat yang beredar di Nusa Penida bagian barat, sehingga tempat itu dinamakan Pasih Uwug atau Pantai Rusak, sebagai bukti bahwa tempat ini pernah dihuni penduduk, di bongkahan batu karang besar yang ada di seberang barat lubang besar pasih uwug beberapa tahun yang telah lalu sekitar tahun 1982 sd 1985 penulis melihat diatas bongkahan batu karang besar tersebut masih berdiri sebuah tiang rumah (jineng) yaitu rumah yang selalu ditempatkan ditengah-tengah pekarangan sebagai tempat menyimpan hasil panen.

Namun terakhir sang penulis datang di pasih uwug tiang rumah tersebut telah menghilang, mungkin karena termakan usia atau mungkin pula karena ulah manusia.

Hanya menyambung lidah tetua penulis untuk selalu diingat dan dipetik hikmahnya khususnya kejujuran untuk diri sendiri sangat diperlukan dalam menjalani hidup ini untuk landasan perjalanan menuju ujung kehidupan.

Dan ingat, semua cerita ini hanya sebuah cerita rakyat dari mulut ke mulut. Jadi cerita ini bisa saja benar, bisa saja salah.

Mohon disempurnakan, dimaafkan kalau ada kekeliruan dalam penulisan cerita ini.

* Sumber | cerita rakyat

SEJARAH TENTANG PURA MOBIL (paluang)

Sejarah pura mobil

Berbagai keunikan di Bali kayaknya tidak habis-habisnya untuk dilacak diantaranya adalah pura mobil. Terbukti hampir sepuluh tahun Tabloid Bali Aga berdiri hingga kini Pura-pura yang angker masih saja tetap banyak. Tidak heran memang kalau Bali sering disebut sebagai Pulau Seribu Pura, Pulau Dewata dan berbagai sebutan lainnya. Yang menyebut Bali begitu magisnya. Di Nusa Penida banyak sekali ternyata pura-pura yang tersebar dari timur hingga barat. Bahkan ada yang tidak sama sekali diketahui keberadaanya karena begitu mistisnya. Seperti Pura mobil dan pura yang ada di Nusa Ceningan beberapa waktu lalu sempat dimuat Tabloid Bali Aga. Untuk mendapatkan beritanya saja harus menginap selama tiga hari ditempat tersebut. Mengingat banyak sumber yang harus dicari berkaitan dengan pura tersebut.
Menggali lebih dalam tentang pura mobil
Sementara, beberapa waktu lalu ada Krama Desa Sebun Ibus yang memberitahukan ada Pura yang mana pelinggihnya ada mobil di dalamnya. Pura tersebut terletak di Desa Karang Dawa, Nusa Penida yang berada di kawasan paling barat Nusa Penida. Untuk mencari lokasi ini dari pelabuhan Nusa Penida bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor selama kurang lebih 40 menit. Itu juga kalau diajak sama orang sana, karena jalanan aspal yang tidak begitu baik dengan dipenuhi pasir di jalanan sangat sulit untuk dilalui. Dengan berbekal keterangan krama tersebut, selain rasa keingintahuan yang cukup besar, dengan diantar beberapa pemuda dari Desa Sebun Ibus, akhirnya perjalanan pun tiada halangan. Bahkan hingga di lokasi kebetulan Kelihan Desa Karang Dawa, I Wayan Partai ada di rumahnya.
Awalnya yang dicari bukan kelihan desanya melainkan bendesa adatnya, namun dia kebetulan tidak ada di rumahnya bahkan dua orang jro mangku pura juga tidak ada di rumahnya karena sedang pergi ke ladang.
Kami pun diajak langsung ke lokasi pura mobil yang berada tepat di atas laut lepas, dengan hutan yang cukup lebat. Awalnya kita disambut oleh ratusan ekor kera yang mendiami lokasi tersebut. Kera-kera tersebut bergelayutan di atas pohon juwet yang mulai berbuah. Terasa tidak terganggu dengan kedatangan beberapa kendaraan, kera-kera tersebut sibuk memunguti buah-buahan yang ada di sana.
Dari depan tampak bangunan pura yang sepertinya baru beberapa bulannya di rehab ulang oleh krama pangempon. Dengan batu paras putih, khas Nusa Penida, bangunan Pura Paluang / pura mobil ini cukup megah berdiri. Ketika masuk ke jaba sisi pura, aura magis sudah nampak jelas, yang mencirikan ketengetan pura ini. Betapa tidak, pura ini letaknya saja sudah di atas tebing terjal dan di pinggiran desa, yang lumayan jauh dari perumahan krama Karang Dawa.
Selanjutnya langkah kaki pun dilanjutkan ke jaba Tengah dengan persetujuan Jro Kelihan Desa. Baru melangkahkan kaki masuk ke jaba tengah, hal yang mengherankan muncul. Di mana bangunan pura yang sangat luar biasa, sangat berbeda dengan kahyangan lainnya di Nusa Penida, Bali Daratan dan bahkan di dunia sekali pun hanya ada satu pura dengan palinggih yang ada mobilnya.
Bentuk pelinggih seperti mobil

bentuk pelinggih pura mobil

Namun mobil yang ada bukanlah mobil beneran namun itu hanya bentuk bangunan palinggih dengan bentuk mobil yang lengkap dengan roda, kap yang terbuat dari batu padas. Untuk diketahui palinggih mobil yang di sebelah timur adalah berbentuk mobil Jimmy dengan ukuran dan desain modern zaman kekinian. Dan di tengah-tengah areal palinggih ada juga bangunan berbentuk mobil namun mobilnya ini berukuran kecil. Dengan reposisi mobil dibentuk seperti sedan VW. Selain bangunan itu ada palinggih yang biasa seperti taksu, padma, gedong dan palinggih lainnya.
Menurut Wayan Partai, pura mobil / Pura Paluang tidak memiliki prasasti hingga kini. Namun menurutnya dulu sempat ada prasasti, dan belum sempat dibaca sudah hilang dan belum diketemukan hingga kini. Namun dari cerita-cerita leluhur di desa tersebut, kata dia, bangunan berupa mobil ini sudah ada sejak zaman dahulu kala. “Entah siapa yang membuat mobil ini, namun yang jelas sebelum ada mobil di Indonesia di sini sudah ada,” ujar pria 35 tahun ini.
Dulunya bangunan berupa mobil tersebut dibuat dengan menggunakan kayu yang dibentuk sedemikian rupa menyerupai sebuah mobil. Namun karena kayunya sudah mulai keropos dengan tidak menghilangkan ukuran, bentuk dan desainnya bangunannya pun direhab ulang dengan menggunakan batu dengan tujuan agar lebih awet dan tahan lama.
Ida Bhatara yang berstana di Mobil Jimmy tersebut adalah Ida Bhatara Ratu Gede Ngurah dan Hyang Mami. Entah siapa beliau yang jelas, dia menyebutkan itu adalah leluhur dari krama Desa Karang Dawa yang sangat disungsung hingga kini oleh sekitar 80 KK krama pangempon.
Medal dengan Mobil Saat Grubug Krama Jadi Keneknya

Sementara di palinggih mobil yang bentuknya sedan itu ada juga Ida Bhatara yang malinggih yang tidak jelas diketahui itu sebagai Bhatara siapa namun yang jelas itu adalah leluhur dari krama.
Pada saat malam hari seringkali krama mendengar suara deru mobil dengan kecepatan tinggi menuju arah barat laut. Bahkan krama setempat yang lain ketika ditanya juga menyebutkan saat malam hari tampak seperti mobil yang lewat dengan suara deru yang keras dengan sinaran lampu yang begitu terang. Namun deru itu hanya sepintas saja dan lari bagaikan pesawat jet yang sudah tidak tampak lagi ke mana perginya.
Namun menurut kelian Desa, mobil tersebut keluar yang dikendarai langsung oleh Ida Bhatara sendiri dengan keneknya dari desa setempat. Namun sayang, kini bukti orang yang menjadi kenek tersebut sudah almarhum. Sebelum meninggal dia katanya sempat bercerita bagaimana dirinya menjadi kenek. Sebagaimana mobil biasa, perlu adanya lampu sein, rem dan lain sebagainya hal itupun dilihat langsung oleh juru kenek yang mengikuti ke mana sang sopir mengarahkan setirnya.
Mobil tersebut katanya ke luar di saat ada grubug di daerah lain yang mana tujuan keberangkatan ini adalah untuk memberikan bantuan pengobatan oleh Ida Bhatara. Dengan demikian disebutkan, di sini juga banyak orang yang datang secara diam-diam untuk mendapatkan merta, anugerah untuk menjadi seorang pengusada mumpuni.
Bagi balian yang ingin mempertajam ilmunya bisa saja matirtayatra ke pura ini, atau bahkan juga bisa meditasi. Karena suasana yang sepi sangat mendukung untuk kegiatan meditasi maupun melakukan kegiatan ritual keagamaan lainnya.
Rencang Ratusan Bojog

Yang menambah keangkeran dari Pura ini adalah bentuk patung-patung kuno yang sangat aneh-aneh. Ada hanya tinggal kepalanya saja, ada tinggal badannya saja. Ini terjadi karena pergerakan bumi yang terus mengikis benda-benda seperti ini.
Sebagaimana pura-pura lainnya pastinya ada penjaga sebagai pengaman secara niskala dari Pura ini. Disebutkan ratusan kera yang disebutkan di atas tadi adalah rerencangan beliau. Namun tidak semuanya.
Kera-kera tersebut tampak aneh, mereka tidak masuk ke pelataran pura melainkan berdiam di sekeliling panyengker pura yang luasnya sekitar 50 are. Sambil mencari buah-buahan kecil, kera tersebut sepertinya terus mengawasi gerak-gerik krama yang datang ke Pura.
Gong Aneh

Selain keangkeran dan keanehan pura tadi, Wayan Partai juga menyebutkan di bawah sebelah timur dari Pura ini terdapat sebuah gua yang aneh. Tidak sembarangan krama yang bisa datang ke tempat ini.
Menurutnya goa yang ada di pinggang jurang ini tidak bisa dilalui langsung turun dari pura ini, karena sebelah pura sudah langsung jurang, hanya ditutupi semak dan juga pohon juwet dengan rindangnya, hingga pinggir jurang pun tidak tampak. Untuk mendapatkan lokasi ini biasanya dilewati dengan cara berjalan di pinggiran laut lewat barat dengan jarak tempuh hingga dua jam lebih lamanya dari desa setempat.
Di goa ini menurutnya ada sebuah hal aneh di mana ada seperangkat gambelan gong yang lengkap bahkan sangat lengkap. Yang dibentuk menggunakan batu padas. Dia perkirakan benda tersebut sudah ada lebih dari 500 tahun lamanya. Selain gong batu tersebut juga ada yang patung orang yang sedang memegang gamelan layaknya mereka sedang megambel.
Apakah mereka dulunya itu benar, mungkinkah kena kutukan atau apa, yang jelas kelian satu ini tidak berani berkesimpulan seperti itu. Karena selain aneh juga sangat angker sekali. Sayangnya gambarnyapun tidak bisa diambil karena kebetulan saat itu pinggiran laut sedang kebek hingga tidak bisa dilalui.