yudikrisnajaya

April 17, 2012

DIREKTORI INDUSTRI MUSIK

Filed under: Tulisan —— yudikrisnajaya @ 9:29 am

Cetakan :

Pertama, Juli 1999

Penerbit :

Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI)

Bekerjasama dengan Arti Line

Cover Depan :

Intrik Negeri Wayang (1998)

Yayat Surya

PERKEMBANGAN INDUSTRI MUSIK INDONESIA

Musik Populer, Kontemporer, dan Tradisional

          Salah satu pilar industri budaya Indonesia yang tahan gempuran dan kebal krisis adalah industri musik. Ditengah-tengah merosotnya industri manufaktur dan agraris; industri rekaman musik sepertinya melawan arus umum; terus berproduksi dan melahirkan talenta-talenta baru. Satu yang membanggakan dari industri ini, bahwa pangsa pasar yang dikuasai musik nasional bergerak antara 80% hingga 85%; dan baru sisanya di kuasai oleh musik asing. Kecenderungan ini, agaknya akan bertahan lama, mengingat semakin mahalnya nilai tukar dan sukarnya memperoleh hak cipta memproduksi untuk dalam negeri.

          Melihat perkembangan ini, industri musik In­donesia acap menjadi perhatian industri musik dunia; dengan memperhatikan potensi pasar dari kawasan ini. Apresiasi yang semakin luas dari masyarakat, kuamya struktur industri serta mulai berlakunya undang-undang hak cipta; memberi peluang bagi investor asing untuk menanamkan modalnya. Tak heran jika, beberapa produksi musik asing telah melangkahkan kakinya dengan mengibarkan bendera nasional, mencoba merambah peluang pasar yang ada.

Musik Indonesia sebagai Sebuah Industri

          Salah satu pilar utama industri musik Indo­nesia adalah musik pop. Pada kenyataannya, jenis musik ini berhasil merangkul khalayak yang paling luas dan meliputi berbagai emis dan latar belakang sosial. Tidak berlebihan kiranya, banyak pengamat menilai, jenis musik ini, sebagai musik (yang paling) Indonesia; karena dianggap hampir te,rdapat, didengar dan didukung oleh seluruh lapisan masyarakat.

          Perkembangan industri musik pop nasional, juga didukung oleh semaraknya musik pop djerah, yang memiliki pasar pada kalangan etnisnya sendiri. Perkembangan ini juga mendorong terbentuknya variasi dan keunikan dalam musik daerah. Musik tarling – merupakan singkatan dari gitar dan suling – awalnya berkembang di pesisixan arebon, kini menjadi musik yang didengar luas di Jawa Barat dan Jakarta. Begitu pula yang terjadi dengan musik campursari, yang dirintis oleh Manthaos dari Jawa Tengah, kini hampir-hampir menjadi lagu wajib .dalam perhelatan dan pertemuan-pertemuan umum. Perkembangan-perkembangan menarik juga terjadi di berbagai daerah lain, meskipun dengan intensitas produksi yang lebih rendah.

Musik Tradisi

          Industri musik tradisional, dapat dirujuk saat pemerintah Indonesia mendirikan PN Lokananta di Solo, dalam rangka memajukan dan mengembangkan kebudayaan nasional. Berbagai produksi musik telah direproduksi, dan menurut catatan tak kurang dari lima ribu komposisi lagu telah diterbitkan. Namun tak dapat disangkal karena pasaran musik tradisi terbatas dalam lingkungannya sendiri; Lokananta banyak memberi perhatian pada musik-musik tradisi Jawa dan Bali. Kalaupun musik-musik daerah lain diterbitkan, umumnya hanya sekitar musik pop daerah. Nasib Lokananta sebagai sebuah industri budaya, mulai terpuruk saat tumbuhnya industri musik swasta yang benar-benar berorientasi pasar. Sejak pertengahan delapan puluhan, praktis Lokananta berhenti berproduksi dan hanya mengandalkan reproduksi dari karya-karya lama.

          Wilayah budaya yang intensif memproduksi tnusik daerah antara lain ; Padang khusus pada musik Mimang, Denpasar dengan gamelan Bali yang secara terus menerus memiliki pasamya, baik di dalam dan luar negeri. Lagu-lagu Batak di Medan, Bugis-Makasar, Ambon dan Manado juga merupakan sentra produksi bagi musik­musik etnis.

          Dari sekian banyak produksi musik etnis daerah, mungkin Seri Musik Indonesia merupakan salah satu master-piece dalam khasanah musik Indonesia – baik karena luas cakupan, keragaman maupun kualitas rekaman. Seri yang diproduksi bersama antara Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia dengan Smithsonian Folk-ways, terdiri atas dua puluh seri yang dirampungkan hampir sepuluh tahun. Tak kurang dari enam puluh etnomusikolog dan antropolog dilibatkan, dengan dua ratus kelompok kesenian yang direkam. Edisi intemasional seri ini telah diterbitkan oleh Smitsonian Institution Folk Ways dan mendapat sambutan luas di mancanegara. Karena dalam jenisnya, seri ini dikenal sebagai seri terpanjang, paling beragam dari sebuah bangsa – tak mengherankan jika, seri ini membantu pembentukan citra baru tentang In­donesia di luar negeri.

Beberapa Perkembangan Lain

          Kolaborasi gamelan dengan beragam jenis musik lain digelar di berbagai pusat pertunjukan musik dunia (terutama setelah festival gamelan sedunia 1986 di Vancouver, Kanada), ledakan penjualan kaset penyanyi anak-anak – bak tumbuh jamur yang mempesona di musim hujan- penyanyi dan grup musik pop menghiasi lembaran media, silih berganti grup musik tarling, campur sari dan musik etnik lainnya melakukan rekaman di studio, jutaan kaset dan compact disk meluncur dari kamar-kamar rekaman dan menjejali toko musik, sexta tak habis-habisnya agenda pertunjukan musik dipentaskan di berbagai obyek-obyek pariwisata, adalah sekedar contoh bagaimana musik telah menjadi sebuah industri di Indonesia.

          Dapat disebut bahwa sejumlah even kompetisi dan perlombaan musik telah menjadi fungsi apresiasi yang memiliki unsurpembinaan sekaligus pengembangan kreativitas ekspresi musik. Tercatat sejumlah even reguler berskala nasional termaksud seperti Iomba Cipta Iagu Remaja Prambois, Lomba cipta Lagu Populer, Lomba Cipta lagu Keroncong, Festival Musik Dangdut, Festival Campursari, Asia Bagus, Pemilihan Bintang Radio, serta berbagai jenis festival tingkat lokal berskala propinsi. Unsur-­unsur menang dalam berbagai even kompetisi tersebut baik berupa lagu maupun penyanyi terbaik selanjutnya akan memperkaya industri musik dalam bentuk dihasilkannya produk-­produk rekaman musik baru.

SERI MUSIK INDONESIA

          Di antara banyak rekaman dalam industri musik Indonesia, maka Seri Musik Indonesia produksi Masyarakat Seni Pertunjukan Indone­sia (MSPI) merupakan salah satu contoh paling tepat bagi rekaman yang memiliki dimensi citra seni budaya bagi pariwisata Indonesia. Rekaman awal Seri Musik Indonesia yang telah menyelesaikan enam volume ini (dari rencana keseluruhan 20 volume) selengkapnya adalah:

Volume 1

Nyanyian Me njelang Fajar :

Tema rekaman: Gandrung Banyuwangi adalah pesta tarian semalam suntuk dengan melibatkan penari gadis remaja yang sekaligus bertindak sebagai penyanyi (gandrung). Kesenian gandrung dimainkan dengan iringan ensembel musik kecil yakni: dua buah biola kluncing (triangle), dua buah kendang, dua buah kethuk, kempul, serta gong.

Volume 2

Musik Populer Indonesia:

Keroncong, Dangdut, La nggam Jawa

Tema rekaman: pengalaman sosiologis dan empiris menunjukkan bahwa musik keroncong, dangdut serta langgam Jawa telah menjadi jenis musik populis pada masa dan segment yang luas dalam masyarakat Indonesia. Musik keroncong dan langgam Jawa populer di kalangan generasi usia menengah dan tua, tak sebatas komunitas Jawa saja melainkan juga pada komunitas yang tumbuh dengan nilai ke-Indonesia-an yang cair. Sementara musik dangdut selain amat populer di lapis masyarakat menengah bawah pedesaan dan perkotaan, secara pasti juga kian diterima di kalangan muda menengah atas.

Volume 3

Musik Dari Daerah Pinggiran Jakarta:

Gambang Kromong

Tema rekaman: gambang kromong, genre yang ditampilkan dalam rekaman ini merupakan potret musik dari daerah pinggiran terselubung yang keberadaannya sering terabaikan. Secara paradoksal, gambang kromong adalah musik daerah di Jakarta. Para pemain dan penonton gambang kromong berasal dari kalangan rakyat kebanyakan, khususnya dari sisi kota Jakarta. Berbeda dengan penggemar jenis-jenis musik populer nasional, penonton gambang kromong dapat ditandai dari segi etnis, ekonomis dan geografis. Jika musik populeryang diproduksi studio-studio rekaman di Jakarta mencoba mewujudkan suatu budaya yang ideal dan seragam untuk seluruh pelosok negeri, maka sebaliknya gambang kromong mengungkapkan sebuah riwayat pertumbuhan budaya lokal dengan segala keunikannya. Ensambel gambang kromong adalah suatu perpaduan alat-alat musik Cina dengan Indonesia, dan sering pula dengan alat musik Eropa. Ia memperoleh namanya dari dua alat musik Indonesia yakni gambang dan kromong (satu set gong-gong kecil).

Volume 4

Musik Nias dan Sumatera Utara:

Hoho, Gondang Karo, Gondang Toba

Tema rekaman: nyanyian hobo dari Nas adalah jenis musik yang umumnya diketengahkan pada upacara ritual seperti upacara kematian, dinyanyikan oleh para pria dengan dipimpin oleh seorang penyaji yang disebut sondroro hobo. Beberapa lagu hobo paling sedikit membutuhkan dua kelompok koor. Sementara gondang (selain merupakan pengertian dari seperangkat alat musik, ensambel musik, suatu upacara, serta bagian dari kelompok kekerabatan) adalah komposisi musik rakyat yang dimainkan pada rangkaian upacara yang berkaitan dengan religi atau adat masyarakat Batak. Ada dua jenis ensambel yang digunakan. Ensambel yang lebih besar dan bersuara lebih keras dipakai untuk peristiwa berskala besar (biasanya diadakan di lapangan terbuka), sedangkan ensambel yang lebih kecil dan bersuara lebih lembut dipakai untuk upacara yang diadakan di dalam rumah dalam hal mana ensambel bersuara keras tidak diinginkan. Pemain ensambel selalu laki-laki. Ensambel musik yang besar, disebut gondang sabangunan, sedangkan ensambel musik kecil disebut gondang hasapi.

Volume 5

Musik Betawi dan Sunda dari Pesisir Lhara jawa:

Topeng Betawi, Tanjidor, Ajeng

Tema rekaman: fokus album ini adalah musik sebuah wilayah kecil tetapi penting, yakni sebuah dataran segitiga di pesisir utara Jawa Barat yang mencakup: DKI Jakarta, Tangerang, Mauk, Bogor dan Kerawang. Hubungan antara Betawi dan Sunda merupakan topik utama rekaman, yang menyelidiki genre-genre topeng Betawi, tanjidor dan ajeng. Topeng Betawi sebagai sebuah teater rakyat, lazimnya ditampilkan pada perayaan-perayaan keluarga seperti pesta perkawinan atau khitanan, dan perayaan-perayaan komunal yang melibatkan orang banyak untuk memuja roh-roh di suatu tempat atau untuk menjamin panen yang berhasil.

Volume 6

Musik Malam dari Sumatera Barat:

Saluang, Rabab Pariaman, Dendang Pauah,

Tema rekaman: nama genre saluang diambil dari nama seruling panjang yang acapkali menjadi alat pengiring tunggal pada acara perayaan kampung, pesta keluarga, serta acara pengumpulan dana yang disebut `malam bagurau’. Walau dalam konteks pertunjukan lokal masih tersedia peluang penampilan bagi para pemain amatir, namun pada umumnya pertunjukan saluang menuntut agar para pemain menghapal banyak repertoar lagu dan syair, dan harus memperagakannya dengan keterampilan yang begitu tinggi. Karenanya, sering hanya seniman saluang profesionallah yang sanggup memuaskan harapan publik.

MUSIK KONTEMPORER

Perkembangan dan Perubahan

World Music, Multikulturalisme dan Silang Budaya

          World music, istilah yang sudah akrab bagi pemusik kontemporer dan para apresiatornya, mendapat tempat positif dalam khazanah musik kontemporer Indonesia selama tahun 1998 lalu. Ini ditandai bukan saja oleh pendekatan fisikal, melainkan pula dari sisi konsep dan kinerja berkarya. Barangkali, world music baru mengalami proses realisasi, setelah pada 70-80­an mendapat perhatian dari sisi gagasan untuk berkarya.

          Kulturalisme dan silang budaya-juga etnosentrisme-merupakan isu yang termasuk sentral di dalam kajian sosiologi masa kini, terutama posmodernisme. Itu agaknya, para pemusik kantemporer pun ikut menggarap isu tersebut dengan penuh semangat. Barangkali, Paul Gutama Soegijo yang begitu bersungguh­sungguh mengetengahkan musik silang-budaya itu. Menurut Dieter Mack, meskipun istilah tersebut masih dapat diperdebatkan karena menghasilkan pendekatan berbeda-beda, tetapi hasil yang baik mestilah diperhatikan secara bersungguh-sungguh pula.

          Yang inti di dalam isu kulturalisme dan silang budaya ialah upaya kuat memunculkan ciri setempat. Rasa percaya diri etnik yang memang menguat pada paro akhir tahun 90-an muncul di mana-mana, tidak hanya di musik, melainkan pula di film, seni rupa, seni pertunjukan, tari, dan lain-lain. Fenomena kebangkitan Asia adalah salah satu ciri kecil adanya kesadaran bangga menjadi bangsa mandiri, dengan ciri budaya mandiri pula, tidak bergantung dan terpengaruh budaya Barat yang tetap mendominasi di mana­-mana.

          Pendekatan multikulturalisme dan silang budaya menjadi yang paling banyak dilakukan oleh pemusik kontemporer Indonesia. Untuk yang sangat fisikal, misalnya Tony Prabowo menghadirkan Stephanie Griffin untuk menjadi solis pada pementasan karyanya di Art Summit II. Pendekatan antarbangsa dan antartradisi ini diharapkan menghasilkan pengalaman auditf baru, sebagaimana diharapkan Dieter Mack.

          Selain Art Summit II, ada dua festival musik yang perlu dicatat sebagai ruang ekspresi, ialah Jak jazz dan Temu Musik September. Sangatlah kebetulan yang baik Jak jazz memberikan ruang agak luas kali ini untuk musik-musik kon­temporer dan eksprimental, sehingga nama seperti Djadug Ferianto dapat tampil. Ini adalah kesempatan berharga bagi para pemusik kontemporer, karena mereka tentu memiliki sejumlah pendengar baru. Temu Musik Septem­ber memang dimaksudkan sebagai pekan temu komponis, diadakan di Solo, menghadirkan sekitar dua puluh satu komponis.

          Djadug Ferianto pada 1998 melahirkan Kompi Susu, sebuah repetoar untuk peralatan perkusi. Meskipun sebenarnya ini perkembangan lanjut salah satu komposisi dari cd Orkes Sumpeg, Kompi Susu adalah nomor yang sangat menarik. Pada awalnya tampak dimaksudkan sebagai intro untuk pertunjukan monolog adiknya, Butet Kertaradjasa, Kompi Susu merupakan karya yang sangat bermuatan politik. Sekalipun nomor perkusi, Djadug berhasil membawakannya dengan sangat segar, bergairah dan inspiratif.

Pemetaan Musik Kontemporer

          Beragamnya pendekatan bermusik para komponis tentu diakbitkan akar tradisi mereka yang juga khas di setiap daerah. Pada Temu Musik September, muncul agar musik-musik itu dipetakan berdasarkan kategori pendekatan karyanya. Pemetaan itu diharapkannya bukannya mengekang kemungkinan eksplorasi, melainkan mempermudah pendekatan proses kreatif. Kategori itu antara lain etnik, perkawinan pentatonik-‘diatonik, elektronika-komputer, pendekatan religius, dan cross culture.

          Kategori itu bukannya tidak menitnbuikan bias, sebab pamusik, biasanya tidak mau terikat mati dalam satu media. Contoh paling mutakhir adalah yang dilakukan Djadug, ketika dia mengeksplorasi perkusi, padahal scbelumhya dia sangat menekankan gamelan/karawitan dan etnik. Irwansyah pun demikian, dia menggali dimensi religius dan etnik seklaigus; raeligius Is­lam dan etnik Sumatera.

          Tujuan pemetaan itu adalah menghindari adanya chaos di dalam proses penciptaan komponis. Chaos adalah semacam kehilangan orientasi karya karena ketidakkonsistenan pada sejarah musik beserta konsekuensi pendekataan karyanya. Artinya, adalah tidak sah mengin­terpretasikan musik dari etnik tertentu tidak berdasarkan konteks emik tersebut. Pencerabutan aejarah dan interpretasinya ditakutkan Dieter Mack hanya akan menghasilkan kebingungan interpretasi terhadap karya, seperti kerap terjadi pada banyak komponis yang tampaknya berusaha mengawinkan akar budaya padahal sebenamya tidak sepenuhnya memahami makna budaya daerah itu.

          Kesadaran komponis tentu diuji oleh kategori-kategori penciptaan itu. Mereka tidak akan asal mencipta karya atas nama kolaborasi maupun cross culture. Dan komponis kontempo­rer Indonesia yang telah dianggap berhasil membawakan ciptaan mereka, dari manapun ilhamnya., telah membuktikan betapa per­kembangan yang terjadi di sekitar mereka ditanggapi secara positif dan terbuka, karena memungkinkan ruang baru penciptaan.

TOKOH-TOKOH MUSIK INDONESIA

  1. 1.      G. YUDHANA

Komponis kontemporer Bali, lulusan dari STSI Denpasar. Dia sering bekerja sama dengan musisi Eropa mengerjakan musik yang terkomputerisasi. Karyanya menggunakan prinsip Laya dalam kesenian Bali.

  1. 2.      I MADE BANDEM

Etnomusikolog kelahiran Gianyar Bali. Seorang peneliti, pencipta dan penggagas berbagai kegiatan budaya di Denpasar. Pernah menjadi Ketua sekaligus pendiri STSI Denpasar dan kini Rektor ISI Yogyakarta. Karya-karya kerawitan dan buku-buku peneletian tentang musik dan tari Bali, menjadi acuan dari peminat serius.

  1. 3.      I WAYAN SADRA

Pemusik eksperimental kelahiran Bali yang menjadi pengajar STSI Surakarta. Pernah mendapatkan penghargaan New Horizon Award, dari Berkeley. Dia mengolaborasi gamelan Jawa, Bali dan musik Barat kontemporer. Pernah melakukan konser “Bunyi bagi Suara yang Kalah”, dengan pendekatan yang sangat naturalis.

Tinggalkan Balasan

Powered by WordPress WPMU Theme pack by WPMU-DEV.