yudikrisnajaya

Desember 21, 2011

Sejarah Singkat Gamelan Gong Kebyar Di Banjar Kepisah Desa Sumerta, Denpasar Timur

Filed under: Tulisan —— yudikrisnajaya @ 5:42 pm

Banjar Kepisah merupakan salah satu banjar yang ada di Desa Sumerta Kecamatan Denpasar Timur yang terletak di jalan Hayam Wuruk  yang  berdekatan dengan Art Center. Art Center itu sendiri merupakan pusat pementasan kesenian di Bali. Menurut Bapak Nyoman Sondra dan pengelingsir di Banjar Kepisah, sejarah gamelan di Banjar Kepisah pertama kalinya sekitar tahun 1967. Awalnya sekitar tahun 1967, Banjar Kepisah hanya memiliki gambelan Gong Suling. Pada masa-masa Drama Gong  yang diadakan di Tanjung Bungkak, masyarakat Banjar Kepisah banyak yang ikut berperan dalam pementasan Drama Gong tersebut. Ada yang berperan sebagai penabuh dan ada pula yang berperan sebagai penari. Semenjak masa-masa Drama Gong itulah masyarakat Banjar Kepisah berantusias untuk memulai berkesenian. Dan pada saat itu, masyarakat Banjar Kepisah berinisiatif untuk memiliki Gambelan sendiri, yaitu gamelan Gong Kebyar . Namun, pada saat itu masyarakat hanya memiliki dana yang sangat minim. Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat demi memiliki Gambelan Gong Kebyar yaitu, dari sekha manyi (panen padi) menghimpun diri untuk mengisi waktu luang dengan membuat sekha demen , khususnya yang senang menabuh gamelan. Untuk bisa membeli gamelan, kelompok itu menyisihkan upah yang di dapat dari penjualan padi. Sekitar tahun 1969 dana terkumpul, namun masyarakat Banjar Kepisah hanya bisa sebatas membeli daun gangsa, sedangkan pelawah dan bumbungnya hanya bisa meminjam di banjar Tanjung Bungkak. Selama tahun 1969, selain melaksanakan kegiatan latian- latian rutin di Banjar Kepisah, masyarakat Banjar Kepisah tetap melakukan latihan-latihan megambel diluar Banjar, salah satunya melakukan latihan di Banjar Bengkel yang pada saat itu sudah memiliki gambelan.

Akhirnya sekha yang ada di Banjar Kepisah ini pun berkembang, dan membentuk kesenian Drama Gong yang pada akhirnya sering dipentaskan baik di lingkungan banjar , bahkan mampu mementaskan Drama Gongnya  keluar desa dan beberapa kali juga pernah pentas di hotel-hotel seputaran Denpasar . Tokoh Drama Gong Banjar Kepisah waktu itu yaitu Bapak wayan desi , bapak made maren , kakek saya sendiri kak nyoman sebeg , bapak wayan ase , dll . Drama Gong yang sering dipentaskan adalah Drama Gong yang menceritakan tentang Celuluk. Topeng Celuluk yang digunakan didalam pementasan Drama Gong tersebut disumbangkan oleh Art Shop Bapak Rismawan yang bertempat di jalan Hayam Wuruk yang sekarang sudah menjadi Bank BRI. Konon topeng celuluk tersebut dikatakan angker.Masyarakat berusaha menaruh topeng Celuluk tersebut di tempat-tempat yang  tidak mungkin akan dimasuki oleh roh-roh halus , namun kejadian yang tidak diinginkanpun terjadi,Topeng Celuluk itu hidup (bergerak dengan sendirinya). Masyarakat Banjar Kepisah pun menjadi panik, dengan pawisik dari jero mangku, akhirnya topeng celuluk tersebut diubah bentuk menjadi rangda. Rangda itu kemudian disungsung oleh masyarakat di Banjar Kepisah dengan sebutan Ratu Ayu Alit.

Karena kenginginan yang masih menggebu-gebu , akhirnya pada tahun 1975 timbul kenginginan dari masyarakat Banjar Kepisah untuk memiliki perangkat gamelan Gong Kebyar sendiri, melalui prajuru/kelihan banjar dijualah sebagian tanah Banjar Kepisah untuk membeli pelawah baru . Semenjak sudah memiliki perangkat gambelan yang lengkap, tepatnya tanggal 20 Maret 1975, Banjar Kepisah mendirikan sekha Gong Mertha Jaya.

Adapun instrumen yang terdapat didalam gamelan Gong Kebyar di Banjar Kepisah :

  1. 1 tungguh terompong
  2. 2 buah kendang
  3. 1 buah cenceng ricik
  4. 3- 5 buah suling
  5. 1 buah ugal
  6. 1 buah kajar
  7. 4 buah pemade
  8. 4 buah kantilan
  9. 1 tungguh reyong
  10.  2 buah jublag
  11.  2 buah jegog
  12.  2 buah gong
  13.  1 kempur
  14.  1 buah bende
  15.  1 buah kemong
  16.  1 buah kempli

Dengan perangkat gamelan yang telah dimiliki di banjar Kepisah, sekha mampu mewujudkan rasa bakti dengan konsep ngayah-ngayah di lingkungan Banjar bahkan di luar Banjar. Dengan perkembangan gamelan Gong Kebyar masa kini yang telah adanya tambahan instrument 1 buah ugal , dan 2 buah penyacah, di banjar Kepisah tidak terdapat instrument tersebut karena sekha Gong Mertha Jaya masih mempertahankan konsep tradisi dan gamelannya juga tidak meprada seperti gamelan masa kini yang banyak menggunakan prada untuk mempercantik penampilan gamelan Gong Kebyar tersebut. Dan hingga saat ini konsep tradisional tersebut masih dipertahankan dengan baik agar dapat di warisi kepada anak cucu di generasi akan datang.

Informasi sejarah gamelan di Banjar Kepisah ini saya dapat dari Bapak Nyoman Sondra selaku Kelihan Gong, dan pengelingsir- pengelingsir di Banjar Kepisah yang saya wawancarai pada Hari Rabu, tanggal 31 Agustus 2011.

KOMENTAR VIDEO SHADOW OF SORROW

Filed under: Tulisan —— yudikrisnajaya @ 5:41 pm

Sebuah band super keras yang telah menjadi fenomena di populasi musik keras khususnya di Indonesia  yang namanya diambil dari selewengan sebuah nama restaurant fast food asal Amerika, mereka adalah Burgerkill. Band Burgerkill ini berasal dari Ujungberung, tempat orisinil tumbuh dan berkembangnya komunitas Death Metal / Grindcore di daerah timur kota Bandung. Burgerkill berdiri pada bulan Mei 1995. line-up pertamanya terdiri dari Eben, Ivan vokalis, Kimung, Toto dan Andris. Di tahun 2000 Burgerkill merilis album perdana mereka dengan title “Dua Sisi”.

 

Dan setelah itu akhir tahun 2003, Burgerkill merilis album kedua mereka dengan title “Berkarat”. Dan di sector musik pun banyak perubahan dengan masuknya gitaris baru Agung. Sebuah kejutan hadir pada pertengahan tahun 2004, lewat album “Berkarat” Burgerkill masuk kedalam salah satu nominasi dalam salah satu event Achievement musik terbesar di Indonesia “Ami Awards” dan secara mengejutkan mereka berhasil menyabet award tahunan tersebut untuk kategori “Best Metal Production”.

 

Di awal tahun 2005 di tengah kesibukan mereka mempersiapkan materi untuk album ketiga, Toto memutuskan untuk meninggalkan band yang telah selama 9 tahun dia bangun bersama. Namun kejadian ini tidak membuat anak-anak Burgerkill putus semangat, mereka kembali merombak formasinya dengan memindahkan Andris dari posisi Bass ke posisi Drums dan terus melanjutkan proses penulisan lagu dengan menggunakan additional bass player. Akhirnya mereka sepakat untuk tetap merilis album ke-3 “Beyond Coma And Despair” di bawah label mereka sendiri Revolt! Records di pertengahan Agustus 2006. Namun tak ada gading yang tak retak, sebuah musibah terbesar dalam perjalanan karir mereka pun tak terelakan, Ivan sang vokalis akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya ditengah-tengah proses peluncuran album baru mereka di akhir Juli 2006. Peradangan pada otaknya telah merenggut nyawa seorang ikon komunitas musik keras di Indonesia.Tanpa disadari semua penulisan lirik Ivan pada album ini seolah-olah mengindikasikan kondisi Ivan saat itu, dilengkapi alur cerita personal dan depresif yang terselubung sebagai tanda perjalanan akhir dari kehidupannya.”Beyond Coma And Despair” sebuah album persembahan terakhir bagi Ivan Scumbag yang selama ini telah menjadi seorang teman, sahabat, saudara yang penuh talenta dan dedikasi dengan disertai karakter karya yang mengagumkan.

 

Burgerkill pun berduka, namun mereka tetap yakin untuk terus melanjutkan perjalanan karir bermusik yang sudah lebih dari 1 dekade mereka jalani, dan sudah tentu dengan menghadirkan seorang vokalis baru dalam tubuh mereka saat ini. Akhirnya setelah melewati proses Audisi Vokal, mereka menemukan Vicki sebagai Frontman baru untuk tahap berikutnya dalam perjalanan karir mereka.

 

Shadow of Sorrow merupakan salah satu lagu dari band Burgerkill yang merupakan bagian dari album ketiga yaitu “Beyond Coma And Despair” yang dirintis pada pertengahan tahun 2006. Di album ketiga ini dibagi menjadi video dan mp3. Banyak aspek yang mendukung terciptanya sebuah video tersebut, diantaranya aspek sound system, pencahayaan (lighting), dan teknik pengambilan gambar. Semua aspek tersebut sangatlah berpengaruh didalam menentukan layak atau tidaknya video tersebut untuk dipertontonkan atau dijual untuk pasaran.

 

Ada beberapa hal yang saya komentari dari video Shadow of Sorrow ciptaan Burgerkill ini, yaitu dari aspek sound system, pencahayaan (lighting), dan teknik pengambilan gambar.

 

Dari aspek sound system sudah cukup menarik akan tetapi masih ada kekurangannya, yaitu disini terjadi tidak adanya kestabilan antara sound di setiap sisi panggung, yang menyebabkan kurang jelasnya suara ivan sang vokalis pada video tersebut.  Ini terjadi karena kurangnya pengaturan sound yang terletak di alat musik dan  microphone yang digunakan oleh vokalis tersebut. Hal yang perlu diperbaiki didalam pengaturan sound system adalah dengan  penataan sound yang ditempatkan pada setiap alat yang berperan didalam alat musik tersebut, dan pengaturan microphone agar terjadi keseimbangan antara semua komponen yang berperan di dalam band tersebut.

 

Dari aspek pencahayaan juga sudah cukup menarik akan tetapi masih juga ada kekurangannya, yaitu kurang jelasnya cahaya ketika terjadi gerakan- gerakan dari setiap pemain musik tersebut. Hal itu menjadikan kurang jelasnya aksi panggung dari band tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut, sebaiknya efek cahaya perlu ditambah dengan warna- warna yang menarik dan terang yang dapat  menyinari panggung secara merata agar penonton dapat menikmati aksi panggung dari band tersebut.

 

Begitu juga dari aspek tehnik pengambilan gambar juga sudah cukup menarik akan tetapi masih juga ada kekurangannya, yaitu kurang jelasnya video yang di dapat dari aksi panggung band tersebut, dan terlalu cepatnya kamera berpindah- pindah, mungkin karena posisi panggung tersebut diapit oleh penonton. Hal tersebut mengakibatkan kurang jelasnya aksi panggung yang dilakukan dari band tersebut. Hal yang perlu diperbaiki adalah mungkin disetiap sisi panggung di tempatkan kamera untuk merekam aksi panggung band tersebut agar semua aksi dari band tersebut dapat dinikmati penonton khususnya pencinta musik  metal.

I MADE RANA, TOKOH SENIMAN DI BANJAR KEPISAH

Filed under: Tulisan —— yudikrisnajaya @ 5:39 pm

Salah satu seniman yang ada di daerah tempat tinggal saya bernama I Made Rana. Beliau lahir di Denpasar, pada tanggal 16 Oktober 1967. Alamat beliau di Jalan Narakusuma gang II no.2 , Banjar Kepisah Desa Sumerta Kelod. Seniman asli Banjar Kepisah ini pernah mengenyam pendidikan di SD 4 Sumerta yang beralamat di Jalan Hayam Wuruk pada tahun 1882, SMP Pertiwi pada tahun 1885 yang beralamat di Jalan Mawar , dan pendidikan beliau terakhir di SMKI/SMK 3 Sukawati. Beliau memilih sekolah di SMK 3 Sukawati karena sejak kecil beliau memiliki bakat seni. Dan setelah beliau lulus dari SMK 3 Sukawati beliau banyak melakukan kegiatan kesenian antara lain membuat instrument suling  sejak tahun 1990  sampai sekarang. Beliau bisa membuat instrument suling karena pada waktu sekolah di SMK 3 Sukawati beliau hobi memainkan suling, dari hobi tersebut beliau terinspirasi dan mencari tahu bagaimana cara pembuatan suling, kemudian beliau banyak belajar dari pengalaman- pengalaman dari lingkungan sekitar yang akhirnya beliau pun bisa membuat suling dan terus membuat suling hingga sekarang. Banyak orderan suling yang di buat oleh beliau. Selain sebagai pengerajin suling beliau juga mengajar menabuh anak- anak di Banjar Kepisah sekitar tahun 1998 sampai sekarang. Seniman pengrajin suling ini menikah pada umur 29 tahun,tepatnya menikah pada tanggal 28 april 1995 dan telah di karuniai dua orang anak perempuan.

Seniman dengan nama panggilan De Rana ini selain sebagai pengerajin suling, beliau juga pernah bekerja sebagai guru tabuh honorer di TK Gita Yani Kumara yang beralamat di Jalan Ahmad Yani, TK Indra Prasta yang beralamat di Jalan Sulatri, TK Indra Kumara 2 yang beralamat di Jalan Waribang, TK Children House di perumahan Puri Gading Jimbaran, dan beliau juga mengajar di SD tempat beliau dulu menuntut ilmu yaitu di SD 4 Sumerta Banjar Kepisah.

Selain sebagai guru honor beliau juga pernah mengajar menabuh anak- anak di Banjar Dangin Peken  untuk Parade Gong Kebyar dalam rangka Parade Gong Kebyar Se-Kota Denpasar di Puputan pada tahun 2008, 2009, dan 2010 serta mengajar menabuh anak-anak di Sanur pada saat Parade Gong Kebyar Se-Denpasar Selatan pada tahun 2008, 2009, dan 2010. Beliau juga sempat ngayah di pura- pura sekitaran Sanur bersama anak didiknya, dimana penabuhnya terdiri dari 3 grup anak- anak yang terdiri dari tingkat SD, SMP, dan SMA.

Pengalaman mengajar beliau tidak hanya itu saja namun masih banyak lagi yaitu beliau pernah mengajar menabuh anak- anak dan ibu-ibu PKK di Banjar Pekambingan untuk Parade Gong Kebyar dalam rangka Parade Gong Kebyar Se-Kota Denpasar di Puputan yang dimana anak-anaknya pentas pada tahun 2007 dan ibu-ibu PKKnya pada tahun 2007 dan 2008, mengajar menabuh ibu-ibu PKK di Banjar Abian Tubuh Kesiman untuk Parade Gong Kebyar dalam rangka Parade Gong Kebyar Se-Kota Denpasar di Puputan pada tahun 2011, mengajar menabuh ibu-ibu PKK di Banjar Kerta Sari yang beralamat di Jalan Ahmad Yani untuk kegiatan ngayah- ngayah di pura atau di banjar tersebut, mengajar menabuh dharma wanita di PD Pasar,  mengajar menabuh pegawai yang bekerja di Museum Bali yang bertempat di selatan Jagad Nata Kota Denpasar, mengajar menabuh di Panti Asuhan Dharma Jati, dan beliau juga pernah mengajar menabuh di Desa Subuk Singaraja

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, beliau juga sempat membuka  privat yaitu mengajar memainkan suling, rebab, gangsa, dan kendang. Seniman asli Banjar Kepisah ini sempat megambel hingga keluar pulau Bali yaitu Jawa Timur pada saat acara Solo Festival dan beliau juga sempat mengajar menabuh di Palembang  untuk umat hindu yang ada di sana selama 6 bulan untuk ngayah di pura-pura yang terdapat di Palembang.

Pekerjaan saat ini yang masih terus digeluti oleh seniman yang bernama I Made Rana yaitu sebagai pengrajin suling dan mengajar tabuh di Banjar Dangin Peken Sanur, di Banjar Abian Tubuh Kesiman, di Banjar Kerta Sari dan banyak lagi yang lain. Walaupun beliau terus mengajar tabuh di Banjar-banjar tetapi beliau masih tetap aktif pada kegiatan ngayah-ngayah megambel dan masih aktif mengajar tabuh di Banjarnya sendiri yaitu Banjar Kepisah.

KOMENTAR VIDEO KAMANALA

Filed under: Tulisan —— yudikrisnajaya @ 5:37 pm

Kamanala dalam bahasa Jawa Kuno berarti Api Cinta, orang mengatakannya perasaan yang paling tidak bisa dibohongi. Berbagai perasaan dialami dalam menjalani cinta seperti senang, sedih, gembira, terkadang juga orang rela mati demi cinta.

Kamanala merupakan garapan TA mahasiswa ISI Denpasar yaitu I Putu Eka Arya Setiawan.  Dalam pementasannya banyak aspek yang mendukung, diantaranya adalah lighting, tata panggung, sound system.

Dalam video ini pencahayaannya sangat kurang, hanya terdapat sedikit cahaya dan juga efek-efek cahaya juga tidak ada. Hal itu menjadikan kurang jelasnya pementasan garapan tersebut oleh penonton juga bisa berakibat kurangnya daya tarik dari penonton untuk menonton garapan tersebut. Dan juga kurangnya efek pencahayaan menjadikan pementasan tersebut monoton, karena hanya ada lampu cahaya yang redup saja , sehingga para penabuh yang ikut mendukung garapan tersebut tidak terlalu kelihatan. Untuk mengatasi hal tersebut, sebaiknya efek cahaya perlu ditambah dengan warna- warna yang menarik dan terang yang bisa menyinari panggung secara merata agar penonton dan dosen penguji dapat menonton garapan tersebut dengan baik.

Dalam video ini tata panggung juga sedikit tidak mendukung pementasan tersebut,  karena dengan adanya panggung yang luas di gedung Natya Mandala, seharusnya tata panggung bisa diperluas agar ruang gerak penabuh di dalam pementasan tersebut menjadi lebih jelas. Dan para penabuh yang mendukung pun tentunya nampak lebih leluasa dalam menabuh dan dapat dengan jelas dilihat oleh para penonton dan dosen penguji.

Sama halnya dengan sound system, disini terjadi ketidakstabilan antara suara dalam gamelan, dan tidak adanya kestabilan antara sound disamping kanan dan kiri panggung. Suara yang terdengar hanyalah suara instrumen-instrumen yang di depan saja sedangkan instrument yang berada di belakang suaranya tidak terdengar jelas. Ini terjadi karena kurangnya pengaturan sound yang terletak di gamelan tersebut. Hal yang perlu diperbaiki didalam pengaturan sound system adalah dengan  penataan microphone yang ditempatkan pada setiap alat yang berperan didalam gamelan Angklung, agar terjadi keseimbangan suara dalam pertunjukan Angklung.

Powered by WordPress WPMU Theme pack by WPMU-DEV.