Biografi I Made Sidja

I Made Sidja

I Made Sidja atau yang lebih akrab disapa Bapa Sidja lahir di Desa Bona, Tahun 1933, beliau tinggal di Banjar Bona Kelod, Bona, Belahbatuh, Gianyar. Beliau memiliki seorang istri yaitu Ni Nyoman Saprug (Alm.) dan 6 orang anak yaitu Ir. I Nyoman Sanglah, Ni Ketut Sulandari, Ni Wayan Sasi, I Made Sidia, SSP. Ni Nyoman Sari, SSn. I Wayan Sira, SSn. Pendidikan beliau adalah di Sekolah Rakyat (SR), selain itu beliau juga mengikuti kursus: KB Propinsi; P4 Propinsi.
Beliau mulai menekuni bidang kesenian sejak tahun 1945, beliau menganggap ketertarikan beliau dengan kesenian karena senang dan panggilan hidup. Kesenian yang beliau lakukan pertamakali adalah gamelan gender wayang. Beliau berguru dan berlatih pertama kali kepada I Gusti Lanang Oka (Bona) dan Dewa Ketut Tibah (Gianyar). Berguru dan berlatih menari kepada I Ketut Rinda (Blahbatuh) dan ngwayang kepada I Nyoman Granyam (Sukawati, Gianyar). Pertamakali beliau pentas ngwayang sekitar tahun 1947. Untuk mendukung kegiatan berkesenian, Bapa Sidja belajar hampir seluruh jenis kesenian seperti, topeng; arja; calonarang; gender wayang; gamelan batel; palegongan; geguntangan; menatah wayang; pemahat topeng; membuat berbagai jenis perangkat upakara (sate tegeh/gayah; palagembal; bade; lembu dll.). Seniman yang beliau idolakan adalah I Ketut Rinda (alm.).
Beliau adakah pendiri dan kini menjadi Sesepuh Sangggar Seni Paripurna. Hasil karya beliau yang fenmenal adalah Wayang Kulit Arja tahun 1976. Selain itu beliau adalah pencipta Wayang Suling, Wayang Topeng tahun 1980 an, beliau juga sebagai pencetus konsep keseimbangan hidup Dasanama Kerta pengembangan dari Tri Hita Karana.
Beliau juga sering ikut serta dalam kegiatan – kegiatan seni, yaitu :
1. Mengikuti festival Topeng se-Bali tahun 1974
2. Mengikuti festival wayang Arja tahun 1976
3. Sebagai pembina dalang tahun 1977
4. Mengikuti Pesta Seni Jakarta tahun 1978
5. Pembina dalang tingkat Kabupaten tahun 1979
6. Pembina dalang se-Bali tahun 1979
7. Mengikuti Loka Karya bersama Menteri Lingkungan Hidup di Swedia tahun 1982
8. Mengikuti Pertunjukan Rakyat se-Bali tahun 1982
9. Mengikuti Pekan Wayang mewakili Indonesia di Seoul (Korea) tahun 1982
10. Merangkai Taman Bunga Kabupaten tahun 1983
11. Mengikuti Pekan Wayang Senawangi di Jakarta tahun 1983
12. Mengikuti Pekan Pariwisata se-Bali tahun 1984
13. Merangkai Bunga dalam bentuk Condong tahun 1984
14. Pembina Arja Cilik se-Bali tahun 1986
15. Pameran Wayang Kulit tahun 1987
16. Mengikuti Loka Karya Lingkungan Hidup di Swedia tahun 1987

Beliau juga mendapatkan beberapa penghargaan yaitu:
1. Kabupaten : Wija Kusuma
2. Propinsi : Dharma Kusuma Madya
3. Pemerinatah Pusat : Mentri Lingkungan Hidup, Emil Syalim
4. Luar Negeri : Sekar Jaya California & Pemerintah Swedia
5. Penghargaan cincin emas “Siwa Nataraja” dari STSI Denpasar

Beliau mengatakan satu pesan untuk para seniman – seniman muda, yaitu : “banyaklah belajat kepada seniman tua dan carilah tutur-tutur sebagai pengetahuan”.

SEJARAH GAMELAN GONG KEBYAR DI BANJAR JASRI BELEGA

Gamelan Gong Kebyar yang terdapat diseluruh wilayah Bali merupakan perangkat gamelan yang sudah tua keberadaannya dan merupakan salah satu jenis gamelan yang termasuk ke dalam golongan Gamelan Madya. Barungan ini memiliki karakteristik yang dinamis dan keras, karena dalam permainannya lebih banyak didominasi oleh irama yang cepat, pukulan keras dan pukulan ngebyar. Maka dari itu Gamelan Gong Kebyar dipergunakan sebagai instrumentalia yang membawakan gending-gendig kekebyaran, disamping juga sering sebagai instrumen iringan tari.
Melihat bentuknya Gamelan Gong Kebyar merupakan gamelan yang terdiri dari beberapa aspek yang mewujudkan salah satu bentuk kesempurnaan refertuarnya yaitu dalam bentuk fisik instrumen, seperti Gamelan Gong Kebyar memakai pelawah atau terampa yang terbuat dari kayu yang merupakan tempat atau alas instrumen, pada pelawah ini terdapat ukiran – ukuran, adanya system ngumbang – isep pada setiap nada, yang merupakan ciri khas yang sangat unik dari karawitan Bali dan tidak dimiliki oleh karawitan dari daerah lain. Adapun instrumen yang menjadi pelengkap dalam barungan ini adalah: Terompong, Ugal, Pemade, Kantilan, Penyacah, Jublag, Jegogan, Kempur, Gong, Kempli, Klenog, Kajar, Ceng-ceng kopyak atau ricik, Kendang, Suling dan rebab. Mengenai laras yang dipergunakan adalah laras pelog panca nada. Gamelan Gong Kebyar juga dibagi atas dua bagian besar yaitu instrument yang berbilah dan instruman yang berponcol.
Gamelan gong kebyar yang ada di Banjar Jasri Belega, Belahbatuh, Gianyar, dibeli pada tahun 1963, gamelan ini dibuat oleh Pande Gabeleran yang sekarang lebih dikenal dengan nama “Pande Gong Sida Karya” yang diwariskan pada anaknya yaitu Ir. I Wayan Pager. Gamelan gong kebyar ini dibeli seharga Rp.125.000,-. Untuk mendapatkan uang, masyarakat Banjar Jarsi membentuk sebuah sekha manyi yang diberi nama “Sekha Manyi Banjar Jasri”. Sekha manyi ini beranggotakan 65 orang, hampir semua anggota banjar ikut didalam skha manyi ini, karena antusias mereka untuk bisa memiliki gamelan.
Pada zaman itu gamelan seharga Rp.125.000,- pelawahnya belum diukir, jadi masyarakat Banjar Jasri sepakat untuk mengukir pelawah gamelan gong kebyar ini di Desa Keramas pada tahun 1968. Sekha manyi pun kembali bangkit agar bisa mngumpulkan uang untuk membayar upah juru ukir sebesar Rp.25.000,-. Juru ukir yang mengukir pelawah gamelan ini bernama Nang Siada, beliau tinggal di Banjar Gegel Keramas, Belahbatuh, Gianyar, beliau adalah juru ukir yang cukup dikenal pada zaman itu.
Setelah gamelan itu diukir maka sempurnalah gamelan itu seperti gamelan gong kebyar di daerah lain. Hingga saat ini gaemelan tersebut masih digunakan dan dirawat secera turun-temurun.

KUDA MANDARA GIRI

Identitas Video

Judul : Kuda Mandara Giri
Penggarap : I Nyoman Windha,S.Skar,MA
Tahun : 2002
Penabuh : Sanggar Semara Ratih Ubud
Event : Pesta Kesenian Bali XXIV

Komentar:

Dilihat dari segi penataan sound sistem, pengaturan suara dari masing-masing instrument kurang balance. Disini suara gangsa dan riong terlalu mendominasi, suara melodi penyacah, jublag dan jegog volumenya kuarang diangkat, dan suara gong kempul volumenya juga kurang diangkat. Volume instrument kendang sangat kurang, sehingga pada saat memainkan motif kebyar, kedengaran kurang semarak dan kurang mengglegar.
Sedangkan dilihat dari segi kualitas gambar video, gambarnya kurang jelas, disini gambarnya terlihat pecah. Dan untuk pengambilan close up penabuh, close up untuk pemain kendang sangat kurang, disini terlalu menonjolkan pemain ugal dan gong.
Karena kualitas videonya cukup bagus, dari pengamatan saya hanya itu yang dapat komentari.
Terima kasih

GOLONGAN GAMELAN GANDRUNG

PEMBAHASAN

Jenis/ Golongan Gambelan Gandrung.
Tentang jenis gambelan( alat karawaitan instrumental) di Bali cukup banyak yang tiap-tiap kesatuannya mempunyai persoalan mengkusu lagi. Bapak Nyoman Rembang dala prasarannya yag disampaikan pada seminar Gambuh Bali( 1973) di Denpsar mengemukakan bahwa dengan dugaan sementara perkembangan alat-alat karawitan bali di klompokan menjadi tiga bagian,;
1 Klompok 1 ( Gambelan golongan tua).
Disini di maksudkan barungan gambelan gambelan yang di perkirakan sudah berkembang dengan baik dan pesat pada sebelum abad ke-X masehi, adapu gambelan yang sudah berkembang pada saat itu meliputi:
-Barungan Gambang.
-Barungan Saron.
– Barungan Glunggang.(Selonding bahan Kayu)
– Barungan Selonding Besi.
– Barungan Gong Besi.
– Barungan Gong Luwang.
– Barungan Genggong.
– Barungan Gender Wayang.

2 Klompok 2( Gambelan Golongan Madya).
Disini di maksudkan Gambelan/ barungan gambelan yang sudah di perkirakan berkembang sesudah abad ke-X , adapun barungan yang sudah berkmbang pada saat itu:
– Barungan Gandrung.
– Barungan Pegambuhan.
– Barungan Semara Pegulingan
– Barungan Pelegongan.
– Barungan Bebarong
– Barungan Joged Pingitan.
– Barungan Gangsa Jongkok
– Barungan rindik Gegandrungan.

3 Kelompok 3( Gambelan Golongan Baru)
Disini di maksudkan dengan Barungan Gambelan yang diperkirakan berkembang sejak awal abad ke-XX, ADAPUN Barungan yang berkembang pada jaman itu:
– Barungan Pengarjan
– Barungan Gong Kebyar.
– Barungan Janger.
– Barungan Joged Bungbung.
– Barungan Kendang Barung
– Barungan Gong Suling.
– Barungan jegog
Berdasarkan dari penggolongan atau klasifikasi dari gambelan Bali di atas, sudah jelas bahwa Gambelan Gandrung merupakan gambelan golongan Madya , hal itu dapatdi lihat dalam gambelan tersebut dengan adanya instrument tambahan seperti misalnya kendang sebagai pemurba irama yang belum ada pada gambelan golonan tua.

Eksistensi Bentuk Barungan.
Dalam setiap Gambelan Bali pada umumnya menyebut istilah barungan dalam menyatakan seklompok alat-alat musiknya, barungan adalah sama dengan Ensambel/ Instrumental yaitu yang terdiri dari beberapa alat/ instrument yang sudah di tentukan jenis dan fungsinya. Satu barungan Gandrung terdiri dari:

– Sepasang Rindik Gede
– Dua pasang Rindik Barangan
– Satu buah Kendang Gupekan
– Satu buah Gong Pulu
– Satu buah Ceng-ceng Ricik
– Satu buah Suling pearjan
– Satu buah Kajar
– Satu buah bidik Jegogan
Gambelan gandrung di dominasi oleh alat/ instrument perkusi, khususnya yang terbuat dari bamboo, beberapa instrument yang bilahnya terbuat dari bambu adalah: Rindik Gede, dan Rindik kantilan dan ketimbung, berdasarkan ukukuran maupun pelawahnya rindik yang paling besar adalah Rindik jegogan, kemudian yang no dua Rindik Gede dan yang terakhir adalah Rindik kantilan/ Barangan,
Kontruksi bentuk dalam gambelan ini/ Gandrung, yaitu: Rindik jegogan, Rindik Gede, dan Rindik kantilan sama dngan Rindik pada gambelan jogged, persamaannya yaitu sama-sama memaikai empat” terampa/ adeg-adeg pelawah” juga sama menggunaka” tabing” di atas bilah bagian depan, bentuk instrument lainnyaseperti ketimbung yaitu berbentuk kodok dengan memiliki dua bilah diatasnya. Kemudian bentuk atas ceng-ceng Ricik seperti patung Garuda, yandi gunakan sebagai hiasan.

Fungsi Gambelan Gandrung
Pengertian Gambelan Gandrung jika di lihat dari asal katanya yaitu terdiri dari dua kata, Gambelan/ ensambel adalah kumpulan alat-alat musik/ instrument, dan Gandrung menurut Winter dalam bahasa Jawa kuno berarti tontonan atau dapat di samakan dengan pengertiannya dengan “ Cina’’. Menurut W.J.S. Poedarminto dalam bukunya” kamus umum bahasa indonesia’

mengatakan Gandrung berarti : rindu/ kasih( sangat rindu) , dari kedua pengertian di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa Gandrung berarti” Cinta atau rindu’ , secara logika dalam kata tersebut sudah mengandung makna erotik( Ensiklopedi:1978:108)
Gandrung dalam seni pertunjukan Bali adalah sebuah tari pergaulan atau sebagai hiburan/ tontonan pada sebua upacara perkawinan dan ulang tahun pemuda. Gandrung di tarikan oleh seorang pria , dengan diiringi Gambelan Gandrung memainkan lagu Gegandrangan.
Timbulnya pertunjukan Gandrung muncul pada abad ke-19, yaitu pada pemrintahan I Dewa Agung Anom( I Dewa Agung Mantuk Ring Patemon) di puri Sukawati. Olih bapak I Wayan Mudra dari Banjar Kendal, Sesetan( Seorang pelatih tari gandrung) mengatakan bahwa tari gandrung sudah ada sejak tahun 1974, dan diyakini memiliki kekuatan spiritual dalam kehidupan masyarakat, khusunya di banjar Suwung. Pertama tari Gandrung di iringi dengan gambelan Semara pegulingan,, setelah berkembangnya zaman kemudian di iringi dengan gambelan gandrung yang terbuat dari bamboo.( laporan penelitian ‘ Gandrung sebagai pertunjukan untuk pelestarian budaya”1995: 8)
Fungsi dalam pembahasan ini di bedakan menjadi tiga macam,yaitu:
1 fungsi masing-masing instrument dalam satu barungan Gambelan Gandrung.
2 fungsi Gambelan Gandrung,
3 fungsi tarian Gandrung
Fungsi masing-masing instrument dalam gambelan gandrung, Rindik Gede dan Rindik Kantilan dalam barungan berfungsi sebagai pelilit rangka lagu ( Amardawa) dengan memainkan system polos dan sangsih, Rindik Jegogan berfungsi sebagai pemegang melodi yang di sbut dengan(Arkuh Lagu), kajar dan Gong pulu berfungsi sebagai pemangku irama, ceng-ceng ricik bertugas untuk memeriahkan / meramaikan suasana, Kendang sebagai pemurba irama dan mengiringi angsel.

Angsel adalah tehnik permaina tempo bersama-sama dengan dinamika lagu sesuai dengan tema lagu tersebut.( pengetahua karawitan Bali).
Fungsi Gambelan Gandrung adalah untuk mengiringi tarian Gandrung dalam suatu pertunjukan baik itu yang bersifat sakral maupun yang non sacral, dengan memainkan gending-gending petegak terlebih dahulu untuk menarik
perhatian penonoton, kemudian mengiringi tarian gandrung dengan pengibing, setelah mengeringi Gandrung dalam” melahpahkan atau melakonkan” suatu cerita, seperti calonarang.
Fungsi tarian Gandrung ada dua macam yaitu yang bersifat sakral maupun yang bersifat tontonan atau hiburan, yang bersifat sacral, seperti di Batab Kendal. Tarian Gandrung di pentaskan merupakan bagian dari Wali, karena elungan yang di pakai oleh penari merupakan gelungan sacral dan di yakini memiliki kekuatan gaib, penarinya pun sudah di tentukan yaitu anak laki-laki yang erumur 10-12 tahun, tari gandrungtersebut di pentaskan di Pura Khayangan Tiga di Banjar Suwung . Sedangkan yang hanya sebagai hiburan di pentaskan pada saat upacara perkawinan dan ulang tahun pemuda, tamu yang menonton juga di persilakan untuk menari atau ngibing.

Halo dunia!

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!