Meresensi Buku Gong Antologi Pemikiran

This post was written by yopyantara on Mei 21, 2012
Posted Under: Tulisan

Dalam buku Gong Antologi Pemikiran yang ditulis oleh I Wayan Rai S. terdapat 16 himpunan tulisan yaitu :

 

  1. 1.      Sekitar Garapan Padu Arsa

Pada bulan Agutus 1990, beberapa orang dari anggota dari reearch group university of california (Amerika Serikat) mengadakan kerja sama dengan STSI Denpasar. Rombongan ini dipimpin oleh dr. Linda Burman-hall dari UC. Santa Cruz bertujuan untuk mengadakan penelitian  terhadap bebrapa aspek dan komposisi gamelan (karawitan). diintalah tiga orang pengajar karawtan yaitu : I Nyman astita ,Ma, I Wayan Sweca SSKar dan saya sendiri untuk membuat garapan baru. Salah satunya garapan yang ditampilkan adalah PADU ARSA. Garapan padu Arsa ini terdiri dari alat-alat Instrumen dari musik bambu seperti suling bali, guntang, timbng, suling sunda, dan sebuah alat tiup bambu pemberian hans van Koolwijk (seniman Belanda).

 

  1. 2.      Peranan Teknologi dalam penyelamatan dan pengembangan Dolanan

Teknologi adalah kemampuan teknik yang berlandaskan ilmu pengetahuan eksakta yang bersansarkan proses teknis. Dolanan, sering juga disebut gending rare, sekar rare, merupakan salah satu warisan budaya yang hars kita jaga kelestariannya dijaman teknologi muktahir ini. Dolanan memiliki ciri-ciri antara lain ; berlaras slendro atau pelog, diikuti permainan, teksnya berbahasa bali lumrah atau kasar, isinya bermacam-macam menceritakan tentang binatang, porno bahkan hinaan.

 

  1. 3.      Legong Kraton Kuntir

Saah satu jenis seni pertunjuan klasik bali yang masih populer hingga saat ini adalah tarian legong kraton.tari ini biasanya dipertunjukkan oleh dua orang anak perempuan, kadang-kadang bisa juga ditarikan oleh beberpa orang, tegantung cerita yang dibawakan, tarian ini dtarikan dengan gerakan-gerakan yang sangat halus, luwes srta dinamis.

 

 

  1. 4.      Gamelan Jegog : Tinjauan Terhadap beberapa Aspeknya

Gamelan jegog mrupakan salah satu perangkat perangkat gamelan bli yang bilah-biahnya terbuat dari bamu. Tiap-tiap tungguh instrumen perangka jegog itu sendiri terdiri dari delapan bilah, dimainkan dengan dua buah panggul  baik terbuat dari kayu maupun karet. Jegog memakai laras pelog empat nada  dengan padantara yang khas sehingga akan menimbulkan laras yang sangat unik dan menarik. Gamelan jegog ini tumbuh dan berkembang di kabupaten Jembrana.

 

  1. 5.      Gamelan Semara Winangun

Karawitan bali bertambah lagi dngan munculnya sebuah barungan gamelan baru yang bernama Semara Winangun atau semarandana, Ide penciptaannya dicetuskan oleh I Wayan Beratha. Dalam penggarapan sebuah sendratari I Wayan Beratha menggunakan beberapa barungan gamelan seperti Gong Kebyar, semar pagulingan saih pitu, dan Gong Gede. Karena adanya tiga jenis gamelan ini, maka penabuh itu harus berpindah-pindah atau bergeser kearah gamelan yang akan dimainkan. Hal ini memang dapat dilakukannya namun nampaknya hal ini agak kurang praktis. Melihat kenyataan inilah mak timbul ide dari I Wayan Beratha untuk membuat barungan gamelan baru dengan jalan menggabungkan dua jenis barung gamelan menjadi satu. Adapun  jenis gamelan yang akn dipadukan itu adalah Gong Kebyar dan Semar pagulingan saih pitu maka dari hasil penggabungan dari dua buah barungan tersebut terciptalah satu barungan gamelan Semara Winangun.

 

  1. 6.      Incep-incepan Tingkat Dalam enabuh gamelan Bali : Resik, Rontong, dan Roman

Incep dalam gamelan Bali, istilah ini sering dipakai untuk menyebutkan hasil tetabuhan yang kompak dan rapi.

Resik, meupakan incep-incepan pada tingkat yang paling baik. Sebuah hasil tetabuhan yang dikatakan Resik apabila sebuah sekaa mampu menghasilkan tabuh yang bersih dalam artian kompak, rapi dan jiwa gendingnya cocok ditambah dengan penampilan sekaa yang betul-betul harmonis dengan gending yang sedang dimainkan.

Rontong, yang artinya kurang rapi. Beberapa hal yang bisa menyebabkan hasil tetabuhan itu rontong, misalnya kemampuan teknik dari penabuh yang kurang merata.

Romon, yang berati kotor, dikaitkan dengan incep-incepan, romon merupakan urutan yang paling bawah. Tetabuhan romon dihasilkan oleh sekaa yang belum matang; misalnya teknik menabuh yang belum baik, tetekepnya kurang, gendingnya belum hapal, dan sebagainya. Kebiasaan yang sering itulah yang menghasilkan tabuh romon.

 

  1. 7.      Baro, Bero, dan Pemero

Baro, Bero dan pemero merupakan tiga istilah yang sering kita dengar dalam kaitannya dengan karawita Bali.

Baro adalah salah satu patet yang dalam gamelan gambuh. Teknik dalam memainkan dalm suling maupun rebab disebut dengan tetekep Baro. Kalu Bero lain lagi misalnya, bero berati tidak cocok dengan laras tertentu. Sedangkan yang terakhir, pemero, merupakan istilah yang menyebutkan suatu nada. Ada dua jenis pemero yang kita kenal dalm karawitan Bali yaitu : Pemero Pokok dan Pemero Cengkok. Pemero pokok adalah sebuah pemero yang terletak pada dua buah nada pokok yang kita dapatkan pada gamelan yang berlarasa pelog saptanada. Letaknya diantara nada ndang-nding dan ndeng-ndung. Nada yang terletak pada nada ndang-nding disebut ndaing, sedangkan nada yang terletak pada nada ndeng-ndung disebut nada ndeung. Selain dalam hal nada, Pemero pun dipergunakan sebagai nama pada instrumen Gamabang. Fungsi Pemero dalam gamelan Gambang adalah untuk membuat kotekan.

 

  1. 8.      Perkembangan Genggong sebagai Seni Pertunjukan

Gengong merupakan sebuah instrumen musik yang telah kita warisi sejak jaman yang lampau. Genggong memiliki bentuk yang kecil dan nampaknya sangat sederhana. Meskipun demikian alat musik ini memiliki akustik dan teknik yang sangat rumit. Genggong tidak saja dapat ditemukan di Bali, melainkan hampir terdapat di seluruh dunia seperti : di India yang dknal dengan nama Morsing, di Eropa dan Amerika Serikat dengan sebutan Jew’s harp. Perkembangan Genggong sebagai sseni pertunjukan adalah bermula dari seorang seninam yang bernam Rudolf  Bonnet seorang seniman (pelukis) berkebangsaan Belanda. Ia saring sekali mendatangkan teman-temannya(orang asing) ke Ubud dalam sebuah acara pesta, yang selalu dilengkapi dengan acara hiburan baik merupakan gamelan atau tarian. Suatu ketika Rudolf Bonnet mendengarkan suara Genggong yang dimainkan oleh  Anak Agung Raka Cemeng. Kemudian Rudolf Bonnet menyarankan agagr mengumpulkan bebberapa buah Genggong dan jenis instrumen lainnya, sehingga terwujudlah barungan gamelan Genggong beserta sekaanya.

 

  1. 9.      Laras Genggong dan hubungannya dengan laras selendro empat nada di Bali

Beberapa seniman dan ahli karawitan Bali berpendapat bahwa laras Genggong berhubungan erat dengan laras selendro empat nada yang dipakai dalam gamelan Bali, khususnya gamelan angklung. Ada tiga rekaman rekaman genggong yang yang dipergunakan untuk kepentingan penelitian ini, yaitu :1). rekaman genggong dari Tenganan(1989), 2). Rekaman Genggong dari Ubud (1992), 3). Rekaman dari Desa Batuan (1988). Ketiga rekaman tersebut dianalisa dalam Melograph dengan menggunakan “Fast Fourier Transform”untuk mendpatkan “spektra” dari suara. Karena “spectrum” darisuara-suara tersebut bervariasi, maka beberapa sampel dari tiap-tiap nada  menunjukkan perbedaan. Namun demikian partial dari nada-nada dasarnya tetap konsisten. Oleh karena itu keempat nada dasar tersebut dianggap sebagai nada-nada yang membangun laras selendro empat nada pada genggong.

 

  1. 10.  Peranan Sruti dalam Pepatutan Gamelan Semar Pegulingan Saih Pitu

Istilah ‘sruti” berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya adalah kitab- kitab weda. Sruti merupakan sebuah terminologi yang berati jarak antara dua buah nada. Sruti atau interval memegang sangat penting dalam pepatutan atau pelarasan gamelan Bali. Sruti dan laras gamelan SPSP secara ilmiah akan dilakukan dengan jalan menggunakan pendekatan tradisi dan modern. Dari pendekatan tradisi akan diketahui konsep  melandasi seorang tukang laras gamelan. Dari hasil pengukuran nada-nada gamelan  itu akan dapat diketahui dengan rinci baik sruti, getaran perdetik, dan beberapa karakteristik lainnya dari gamelan SPSP.

 

  1. 11.  Rwa Bhineda Berkesenian di Bali

Seni adalah ekspresi dari jiwa manusia yang diwujudkan dalam bentuk karya seni tertentu. Bali merupakan hasil cipta, rasa dan karsa para empu kita yang telah diwarisi sejak masa lampau. Hingga kini berbagai jenis, bentuk, fungsi dan makna dari kesenian Bali yang dijiwai oleh agama hindu itu terus berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat pendukungnya. Dalam kesenian Bali Rwa Bhineda ini merupakan salah satu konsep yang sangat penting dan mendasar. Dari ini muncullah konflik yang selanjutnya akan menjadi kekuatan yang estetis. Rwa bhineda ini akan dilihat khususnya pada seniman, karya seni dan penonton. Seorang seniman pensipta biasanya memasukkan konsep Rwa Bhineda itu kedalam karyanya. Dengan adanya dimensi ini maka akan terjadi kpnflik yang pada akhirnya membuat karya itu menjadi indah. Kesenian Rwa Bhineda itu adalah konsep yang menuju kearah keseimbangan,sehingga akan mengghasilkan kekuatan yang sangat estetis. Pemahaman kesenian Rwa Bhineda  sebagai mana tercermin dalam kesenian Bali, kita dapat memantapkan intergrasi bangsa.

 

  1. 12.  Seni Musik dalam Konteks pariwisata

Seni musik dalam konteks pariwisata maka tekanannya akan difokuskan pada dua hal yaitu ; fungsi serta pengaruh dari pariwisata musik itu sendiri. Musik merupakan salah satu bentuk seni yang diekspresikan lewat vokal, instrumental, atau perpaduan antara vokal dan instrumental. Pariwisata merupakan salah satu industri yang digalakkan di dunia. Berbagai negara telah berlomba-loma untuk menarik wisatawan sebanyak-banyaknya untuk datang ke negara masing-masing. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika setiap negara, termasuk Indonesia telah menempuh berbagai cara untuk mempromosikan industri pariwisatanya. Fungsi musik dalam konteks pariwisata , setidaknya musik itu dapat memberi pengalaman estetis kepada para wisatawan, sebagai salah satu identitas daerah atau negara dan salh satu sarana penghubung atau alat komunikasi antar bangsa.

 

  1. 13.  Pembangunan Pariwisata : Peerwujudan interkoneksitas Multi-disipliner

Pembangunan Pariwisata memerlkan adanya interaksi dan koneksi multi displin dari bidang – bidang yang terkait.interkoneksitas ini akan sangat dirasakn pentingnya terutama diberlakukannya Undang Undang No. 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah. Salah satu komponen yang penting dalam pembangunan Pariwisata adalah kesenian. Kesenian dapat memberi suatu identitas atau jati diri bagi suatu daerah atau bangsa dan seni juga berfungsi sebagai alat komunikasi antar bangsa.

 

  1. 14.  Gong kebyar : Sebagai Salah satu Sumber Inspirasi Karya Baru

Gong Kebyar telah terbukti sebagai salh satu sumber inspirasi bagi seniman dan sarjana, baik dalam maupun luar negeri. Berkat inspirasi tersebut beberapa karya seni telah terwujud. Potensi atau kekuatan yang dimiliki Gong Kebyar teletak pada keunikannya. Keunikan tersebut terletak dari aspek musikalnya, hubungan sosial seniman dan sarjana sehingga lahir karya- karya baru.

 

  1. 15.  Baris cina : A case Study of Acuculturation in balinese Music and dance

In the village of Renon, located near a harbour in shout Bali, there is a trance ceremony unique to the island, wich is well known since the time of  Jane Belo and Margaret mead (1930’s). The ceremony is very unusual because of the diversity of  influences it display, namely Balinese, Javanese, Chinese, European, Hindu, Buddhist, and, remarkably, Islamic elements.

 

  1. 16.  Transformasi Babad dalam Seni Pertunjukan Bali

Babad merupakan sebuah karya satra sejarah yang telah lama ditransformasikan ke dalam seni pertunjukan Bali. Transformasi dalam konteks ini adalah karya Babad itu diubah bentuk penampilannya, situasi atau karakternya untuk selanjutnya diekspresikan ke dalam bentuk seni pertunjukan. Seni pertunjukan ini sendiri adalah sebuah cabang kesenian yang terdiri dari; seni tari, musik, dan pedalangan/teater. Babad merupakan sebuah karya yang telah ditransformaasikan ke dalam seni pertunjukan Bali sejak masa lampau berlanjut hingga sekarang. Inspirasi ini terus berlajanjut karena babad merupakan salhah satu sumber inspirasi, imformasi, dan motivasi serta menyimpan nilai- nilai luhur budaya bangsa. Babad dapat dipergunakan memperkuat jati diri, merperkuat rasa persatuan dan kesatuan.

 

Dari 16 himpunan artikel tersebut yang sangat bermanfaat nantinya dalam penulisan sekripsi TA adalah artikel tentang peranan sruti dalam perpatutan gamelan semar pegulingan saih pitu.

Istilah sruti berasal dari bahasa sansekerta yang artinya adalah kitab- kitab weda. Selain itu dalam dunia musik, misalnya musik India dan Bali. Sruti merupakan sebuah teminologi yang berarti jarak antara dua buah nada. Dalam musik barat jarak antara dua buah nada itu dikenal dengan nama interval. Sruti dan interval memegang peranan yang sangat penting dalam pepatutan dan pelarasan gamelan Bali. Mengenai gamelan Semar Pegulingan Saih Pitu, gamelan ini menggunakan laras pelog tujuh nada (saih pitu), dengan bahan bilah dan pencon terbuat dari perunggu.

Studi tentang sruti dan laras gamelan SPSP secara ilmiah akan dilakukan dengan jalan menggunakan pendekatan tradisi dan modern. Secara tradisi akan dilihat proses pelarasan gamelan itu sesuai dengan apa yang diwarisi secara turun temurun dan secara modern akan dilakukan pengukuran nada- nada gamelan tersebut dengan sebuah alat pengukur nada modern yang bernama strobocom. Dari pendekatan tradisi seorang tukang laras gamelan itu bekerja  dan tahap- tahap yang dilalui dari awal hingga akhir. Dari hasil pengukuran nada- nada gamelan itu akan dapat diketahui dengan rinci baik sruti , getaran perdetik, maupun beberapa karakterristik dari gamelan SPSP itu sendiri.

Secara tradisi pelarasan gamelan SPSP dilakukan hanya dengan mengandalkan kepekaan telinga dan musical aesthetic. Langkah pertama yang dilakukan seorang pande atau tukang laras gamelan adalah menentukan “petuding”. Petuding berasal dari kata “tuding” yang artinya tunjuk. Dengan demikian petuding adalah petunjuk, dalam kaitannya dengan pelarasan gamelan petuding itu berarti petunjuk nada. Petuding ini terbuat dari bambu, berbetuk segi empat panjang menyerupai bilah gangsa. Bahan dari petuding ini terbuat dari jenis bambu yang ada di Bali disebut “tiing santong” dan “tiing jelepung” bambu ini haruslah benar- benar kering sehingga suara petuding nantinya akan stabil.

Ada empat pengangkep (oktaf) petuding yang dibuat untuk gamelan SPSP. Tiap pengangkep terdiri dari tujuh bilah. Adapun keempat pengangkep itu adalah : pengangkep jegogan, pengangkep jublag, pengangkep pemade dan pengangkep kantil. Karena gamelan SPSP menggunakan system ngumbang- ngisep, maka bagian yang dipilih untuk petuding adalah bagian pengisepnya, yaitu nada yang frekwensinya lebih tinggi.

Pelarasan gamelan dimulai dengan bagian pengisepnya. Setelah bagian pengisep itu betul- betul dirasa baik, barulah disusul dengan bagian pengumbang. Pengumbang dibuat dengan frekwensi yang berbeda dengan pengisep. Perbedaan antara pengumbang dan pengisep yaitu : a pengejer, a pengumbang bulus dan a pengumbang lambat. A pengejer artinya suara dari ombak itu sangat cepat dari frekwensi antara pengisep dan pengumbang yang sangat besar. A pengumbang bulus artinya ombak dari gamelan itu sedikit lebih lambat  dari a pengejer yang disebabkan oleh frekwensinya yang lebih kecil. A pengumbang lambat artinya selisih frekwensi antar pengisep dan pengumbang sangat kecil sehingga ombak dari gamelan itu betul- betul lambat.

Dalam gamelan SPSP dikenal adanya lima jenis patutan atau saih yaitu: patutan tembung, sunaren, selisir, baro dan lebeng. Tiap patutan menggunakan nada dasar yang berbeda, maka susunan sruti dari tiap patutan itu akan berbeda pula.

Patutan tembung menggunakan nada dasar : 1-2-4-5-6 atau ndung, ndang, nding, ndong, ndeng. Patutan ini adalah patutan yang terrendah yang bisa dicapai dalam gamelan SPSP. Patutan selisir menggunakan nada dasar :1-2-3-5-6 atau nding, ndong, ndeng, ndung, ndang. Patutan selisir ini dianggap patutan yang paling tinggi yang dapat dicapai dalam gamelan SPSP. Patutan sunaren menggunakan nada dasar : 2-3-5-6-7 atau ndung, ndang, nding, ndong, ndeng. Patutan ini adalah patutan “menengah” terletak diantara tembung dan selisir. Patutan lebeng menggunakan tujuh nada yaitu: 1-2-3-4-5-6-7 atau  nding, ndong, ndeng, ndeung, ndung, ndang, ndaing. Dengan titik berangkat dari patutan selisir. Dalam patutan lebeng nada ndeung dan ndaing dianggap sebagai “pemero” nada ndeung sering disebut dengan istilah “penyorong atau pengayah” sedangkan nada ndaing disebut dengan istilah “pemanis”. Patutan yang terahir yaitu patutan baro, menggunakan nada dasar : 2-3-4-6-7 atau ndung, ndang, nding, ndong, ndeng. Susunan sruti ini sangat khas karena kedengarannya seolah- olah terletak diantara laras pelog dan selendro.

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address

Next Post: