sejarah tari cendrawasih

Tari Cendrawasih merupakan tarian yang mengisahkan tentang sepasang burung Cendrawasih yang sedang memadu kasih. Dalam Babad Bali pengertian Tari Cendrawasih adalah kehidupan burung Cendrawasih di pegunungan Irian Jaya pada masa birahi.Tari Cendrawasih ini termasuk tari berpasangan yang ditarikan oleh dua penari putri atau kelipatannya, kendatipun dasar pijakannya adalah gerak tari tradisi Bali, beberapa pose dan gerakannya dari tarian ini telahdikembangkan sesuai dengan interpretasi penata dalam menemukan bentuk – bentuk baru sesuai dengan tema tarian ini. Tema tarian ini adalah pantomim yang berarti menirukan gerakan.Dalam busana tarian ini ditata sedemikian rupa agar dapat memperkuat dan memperjelas desain gerak yang diciptakan. Tarian ini di ciptakan oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem (yang juga sebagai penata busana dari pada tarian ini) dalam rangka mengikuti Festival Yayasan Walter Spies. penata tabuh pengiring adalah I Wayan Beratha dan I Nyoman Widha pada tahun 1988. Tari Cendrawasih merupakan tarian yang mengisahkan tentang sepasang burung Cendrawasih yang sedang memadu kasih. Dalam Babad Bali pengertian Tari Cendrawasih adalah kehidupan burung Cendrawasih di pegunungan Irian Jaya pada masa birahi.Tari Cendrawasih initermasuk tari berpasangan yang ditarikan oleh dua penari putri atau kelipatannya, kendatipun dasar pijakannya adalah gerak tari tradisi Bali, beberapa pose dan gerakannya dari tarian ini telahdikembangkan sesuai dengan interpretasi penata dalam menemukan bentuk – bentuk baru sesuai dengan tema tarian ini. Tema tarian ini adalah pantomim yang berarti menirukan gerakan.Dalam busana tarian ini ditata sedemikian rupa agar dapat memperkuat danmemperjelas desain gerak yang diciptakan. Tarian ini di ciptakan oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem (yang juga sebagai penata busana dari pada tarian ini) dalam rangka mengikuti Festival Yayasan Walter Spies. penata tabuh pengiring adalah I Wayan Beratha dan I Nyoman Widha pada tahun 1988.

Ragam gerak tari Cendawasih
Dari pengamatan penyusun, struktur Tari Cendrawasih pada kaset video ini terdiri dari : Papeson 2 kali , Pangawak 2 kali, Pangecet 3 kali dan Pakaad. Ragam gerak tari yang terdapat dalam Tari Cendrawasih adalah gerak-gerak tari yang umumnya dipakai dalam tari Bali dan memenuhi 4 unsur pokok tari Bali seperti Agem, Tandang, Tangkis dan Tangkep. Kendatipun demikian dapat pula terlihat interpretasi penata dalam menemukan bentuk-bentuk baru yang tercermin dari gerakan-gerakan tari yang bertemakan percintaan burung, ciri khas dalam Tari Cendrawasih terletak pada agem yang terbuka dengan tangan kanan yang agak lurus dan tangan kiri menyudut (agem kanan) telapak tangan menghadap ke belakang, pergelangan tangan ditekuk dan jari tangan dibuka, gerakan kecas kecos dan maaras-arasan yang dilakukan dengan mengembangkan sayap. Berikut adalah ragam gerak Tari Cendrawasih yang dilakukan pada kaset video tersebut :
 Papeson
– 1 penari : Ngumbang, gelatik nut papah, agem kanan, sledet, nyregseg agem kiri, sledet,
– Gelatik nut papah, kipek-kipek, agem kanan sledet, dilakukan pula ke kiri, gandang uri, tanjek kanan, agem menghadap pojok kanan kiri depan, ngengsog, nyalud tanjek, sledet pojok
– Nyregseg sambil mengembangkan sayap, agem kanan dan kiri, anggut-anggut seperti mengusap-usap bulunya, diakhiri ngagem dan sledet, ngumbang kanan kiri, tanjek, ngegol, kecas kecos, makesiab, ngagem
– 2 penari : Ngumbang, maaras-arasan

 Pangawak
– Sogok kiri, ngagem, luk nglimat, makecos, gerak menjongkok seperti nginem yeh, loncat, gerakan kaki seperti ngehkeh, ngagem, mapincer dengan ngotag, kecas kecas, ngengsog, sogok, agem kiri, gerakan dilakukan ke kiri.

 Pangecet
– Berhadapan, ngegol bertukar arah, penari 1 ngagem, penari 2 mengembangkan sayap, kembali ke tempat, penari 1 ngagem dan gerakan mencium penari 2 yg duduk.
– Ngumbang, Maaras-arasan, tayung, penari 1 ngumbang ke kiri dan kanan dengan kipekan memperhatikan penari 2 yang ngegol memperlihatkan keindahan tubuh dan sayapnya, kemudian berputar, penari 2 duduk, penari 1 berdiri, berpindng-pindah tempatke kiri dan kekanan berlawanan. Gerakan ini diulang 3 kali menghadap belakang ke depan kembali ke belakang, diakhiri dengan ngengsog dan ngagem

 Pakaad
– Makesiab, ngebet, ngegol dengan menggunakan sayap, nyregseg, ngumbang, ngagem kanan, kiri, piles agem kanan, ngelayak, berputar, ambil sayap, ngumbang
Menurut penyusun, dari mengamati gerak tari dalam tari Cendrawasih ini dapat memunculkan suatu pemikiran bahwa pemilihan desain-desain gerak tarinya memang sangat tepat karena betul-betul terlihat penggambaran dua ekor burung yang sedang memadu kasih dengan gerakan-gerakan yang lincah, hanya saja semuanya ditentukan oleh kemampuan penari membawakan tarian tersebut. Disamping itu pula konsep tari duet sudah sangat terlihat dari gerak-geraknya yang memiliki keterkaitan satu dan lainnya yang terlihat dari gerak maaras-arasan, ngumbang dan lain-lain

Deskripsi Tari Telek

Sejarah Tari Telek
Pada suatu hari , I Sweca alias Nang Turun menemukan kayu terdampar (kampih) di pantai sudah berbentuk calonan (sebuah kayu yang belum berwujud) Rangda. Sambil membawa pahat dan temutik (pisau paraut kayu), Nang Turun membawa kayu tersebut sambil menggembala sapi. Ketika itu cuaca sangat panas dan ia pun berteduh di Pura Dalem Kekeran. Semasih ia sadar, ia mendengar suara “tempe kai” (tirulah aku) dan datang suatu bayangan berwujud rangda. Dengan segera ia meniru bayangan tersebut, baru selesai wajahnya dan belum bertelinga, bayangan Rangda itu sudah menghilang, sehingga perwujudan rangda sampai sekarang tidak ada telinganya. Oleh karena tapel tersebut dianggap terlalu besar setelah selesai dibuat oleh Nang Turun dan memiliki kekuatan magis yang terlalu besar (misalnya saat dipentaskan/mesolah aura magis dari tapel tersebut menimbulkan pagar – pagar rumah masyarakat di sekitar tempat pementasan roboh), atas petunjuk seorang yang kesurupan dibuatlah tapel yang baru dengan meminta ijin pada penunggu pohon Pole ke setra Akah dan membawa sesajen.
Namun, sebelum itu, pada suatu masa di Desa Jumpai mengalami wabah penyakit hingga rakyat yang berjumlah 800 orang tinggal 300 orang. Karena banyak yang mati dan ada pula yang meninggalkan desa mengungsi ke Badung, Seseh, dan Semawang, dan banjar menjadi menciut dari 5 banjar menjadi 2 banjar. Saat itu masyarakat Desa Jumpai menganggap kejasian tersebut diakibatkan oleh daya magis yang ditimbulkan oleh Rangda, Barong, dan Telek yang setiap mesolah menggunakan tapel yang dibuat oleh Nang Turun dari kayu yang ditemukan di tepi pantai. Kemudian, oleh masyarakat Desa Jumpai tapel-tapel tersebut dihanyutkan kembali ke pantai. Akan tetapi, tapel-tapel tersebut datang kembali diusung oleh makhluk halus (gamang) ditempatkan dipinggir pantai lagi. Berselang beberapa hari, tapel-tapel tersebut ditemukan oleh sekelompok masyarakat Desa Jumpai di pinggir pantai. Selanjutnya, maskyarakat Desa Jumpai meyakini bahwa tapel-tapel tersebut memang untuk Desa Jumpai dan masyarakat di Pura Dalem Penyimpenan (sampai sekarang).
Oleh karena tapel tersebut terlalu besar daya magisnya, maka atas kesepakatan tetua-tetua di desa Jumpai, dibuatkanlah tapel baru lagi dengan fungsi yang sama, yaitu menghindari Desa Jumpai Dari wabah penyakit. Adapun yang membuat tapel-tapel tersebut (Barong, Rangda, dan Telek) bernama Kaki Patik bersama Tjokorda Puri Satria Kanginan. Upacara pamlaspas dipimpin oleh Ida Pedande Gde Griya Batu Aji yang berasal dari Pura Satria dan diselenggarakan di Desa Akah. Pada saat itu pula, selesai dibuat tapel Barong, Rangde dan Telek secara bersama untuk di Desa Akah dan untuk di Desa Muncan dengan warna tapel yang berbeda beda (Desa Akah warna tapelnya putih, Desa Muncan berwarna hitam, dan Desa jumpai berwarna merah), shingga kini Bhatara Gde di desa Akah dan di Desa Jumpai dianggap masemeton (bersaudara)
Seperti yang diuraikan diatas, maka jelaslah proses terjadinya Telek. Akan tetapi, dalam penjelasan tersebut tidak dijelaskan kapan peristiwa itu terjadi. Demikian pula dengan halnya mula pertama timbulnya Tari Telek anak-anak Desa Jumpai yang sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Informasi yang dapat dikumpulkan selama penelitian, bahwa Tari Telek anak-anak di Desa Jumpai sudah ada begitu saja atau sudah diwarisi secara turun temurun. Tetapi, informasi yang diinginkan adalah sedapat mungkin diperoleh data menyangkut perkembangan tarian ini.
I Wayan marpa ,mengatakan, bahwa Tari Telek anak-anak di Desa Jumpai diperkirakan mulai berkembang sekitar tahun 1935 hingga sekarang. Tarian ini dipentaskan 15 hari sekali, yaitu setiap rahinan Kajeng kliwon, dan setiap ada upacara piodalan di pura yang ada dilingkungan Desa Jumpai. Tari Telek ini biasanya ditarikan 4 orang penari dan penarinya boleh laki-laki ataupun perempuan, yang terpenting masih anak-anak. Jenis tari wali ini merupakan warisan leluhur yang pantang untuk tidak dipentaskan dilingkungan setempat. Warga setempat meyakini pementasan Telek sebagai sarana untuk memohon keselamatan dunia, khususnya di wilayah desa adat setempat. Jika Tari Telek tidak dipentaskan oleh masyarakat setempat, dipercaya akan dapat mengundang datangnya merana (hama penyakit pada tumbuhan dan ternak), sasab(wabah penyakit pada manusia), serta marabahaya lainnya yang dapat mengacaukan keharmonisan dunia. Untuk menghindari bencana yang menimpa desa tersebut, maka dengan kesepakatan masyarakat Desa Jumpai diadakanlah pementasan Tari Telek anak-anak dengan Barong Ket yang merupakan susuhunan Desa Jumpai. Sejak itu kematian semakin berkuarang.
Pementasan Telek di Desa Jumpai sempat terputus beberapa tahun sebelum Gunung Agung meletus hingga tragedi G-30-S/PKI pecah.dua tragedi besar itu sempat menghancurkan kedamaian masyarakat di seluruh Bali. Guna mengembalikan kedamaian tersebut, para tetua di Desa Jumpai sepakat menggelar serangkaian upacara tolak bala, salah satunya menghidupkan kembali kesenian Telek yang mereka yakini sebagai sarana memohon keselamatan dunia-akhirat. Desa Jumpai sekarang, terbagi menjadi 2 banjar, yaitu Banjar Kangin dan Banjar Kawan. Dua banjar tersebut secara bergiliran mementaskan Tari Telek, namun di masing-masing banjar memiliki tapel Telek dan penari Telek. Seriap kali Telek dipentaskan, seluruh warga dipastikan mennyaksikan sekaligus memohon keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi.
Tari Telek ini dibawakan oleh 4 penari yang boleh ditarikan oleh laki-laki maupun perempuan yang masih berusia anak-anak sampai memasuki masa Truna Bunga (akil balik kira-kira berusia 6 tahun sampai 12 tahun). Keempat penari itu memakai topeng berwarna putih dengan karakter wajah yang lembut dan tampan serta diiringi Tabuh Bebarongan. Baik di Banjar Kangin maupun Banjar Kawan, tarian ini tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa di rangkaikan dengan Tari Jauk, Tari Topeng Penamprat, Bhatara Gede (barong), Rarung dan Bhatara Lingsir (Rangda). Seluruh unsur tarian itu berpadu membangun satu kesatuan cerita yang utuh dengan durasi sekitar dua jam. Akhir pertunjukan diwarnai dengan atraksi narat/ngunying yaitu menusukkan keris ke dada yang bersangkutan maupun ke dada Bhatara Lingsir.
Adapun cerita yang dipergunakan dalam pertunjukan ini, sebagai berikut.
Diceritakan bahwa Bhatari Giri Putri turun ke bumi untuk mencari air susu lembu, untuk suaminnya, Bhatara Siwa yang berpura-pura sakit. Bhatara Siwa ingin menguji keteguhan hati istrinya. Di bumi Bhatara Giri Putri bertemu dengan seorang pengembala lembu yang sedang memerah susu, lalu beliau mendekatinya dan meminta air susu lembunya untuk obat suaminya si pengembala akan memberinya apabila Bhatara Giri Putri mau membalas cinta asmaranya dan Bhatara Giri Putri menyetujuinya. Sebenarnya si pengembala tersebut adalah Bhatara Siwa sendiri yang ingin menguji kesetiaan istrinya.
Setelah air susu lembu diperolehnya, lalu dihaturkan kepada Bhatara Siwa, tetapi Bhatara Siwa ingin menguji air susu tersebut dengan memasang nujumnya yang dilakukan oleh Bhatara Gana. Ternyata air susu tersebut didapat dengan jalan mengorbankan dirinya (berbuat serong). Seketika itu juga Bhatara siwa marah dan membakar lontar nujunya. Bhatara Siwa lalu mengutuknya mejadi Durga dan tinggal sebagai penghuni kuburan yang bernama Setra Ganda Mayu dengan hambanya yang bernama Kalika.
Sang Hyang Kumara yang masih kecil ditinggalkam oleh ibunya, Bhatara Giri Putri, menangis kehausan. Bhatar Siwa lalu mengutus Sang Hyang Tiga untuk mencari ibunya ke bumi. Pertama, turunlah Sang Hyang Wisnu dengan berubah menjadi Telek menyebar ke empat penjuru, tetapi tidak menemukannya. Terakhir, turunlah Sang Hyang Iswara yang berbentuk Banspati Raja (Barong). Karena dekat dengan Setra Ganda Mayu, maka beliau melihat Kalika sedang bersemedi. Kemudian Kalika dikoyak-koyak maka timbul marahnya, dan terjadilah perang antara Kalika dengan Barong (Bhatara Iswara). Akhirnya kalika kalah, lari menuju Bhatara Durga untuk melaporkannya. Pada saat itu Durga berbentuk Rangda dan kemenangan ada pada Raangda. Demikianlah perkembangan Tari Telek pada anak-anak di Desa Jumpai, serta cerita yang dipakai dalam pementasannya di Desa tersebut dan cerita tersebut masih dipergunakan sampai sekarang.
Tari Jauk ini menggambarkan raja atau pemimmpin yang sangat angkuh dan sombong seperti raksasa bermahkotakan raja, gerak geriknya cenderung kasar dan tidak menghiraukan sopan santun.
Tari Jauk dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Jauk Keras, seperti namanya, gerakannya pun lebih bringas. Dimana gerakannya lebih energik dan gamelan gongnya pun cepat, biasanya mempunyai gerakan standar sendiri. Topeng yang dipakai adalah topeng yang berwarna merah, dimana menggambarkan keberingasan sang Raksasa. Topeng yang dipakai seperti ini. Jadi merah, ada kumis dan mata melotot tajam, menggambarkan keberingasan.
2. Jauk Manis, jauk ini seperti namanya, mempunyai gerakaan yang lebih berwibawa. Aslinya Jauk Manis ini pakaiannya sama denga Jauk Keras tetapi bedanya ada di topengnya dimana Topengnya berwarna putih dan kelihatan lebih berwibawa. Karena Jauk Manis ini lebih fleksibel dari Jauk Keras, para seniman tari di Bali akhirnya mengimprovisasi dan membentuk tarian Jauk yang berbeda. Misalnya topeng tua, tari ini termasuk tari topeng jauk. Dimana menggambarkan orang tua. Jadi gerakannya pun mirip seperti orang tua, itulah keunggulan jauk manis yaitu topengnya lebih lembut dari Jauk Keras.

Perkembangan Tari Telek
Perkembangan tari telek pada saat ini masih menunjukkan eksistensinya khususnya di daerah jumpai , walaupun di daerah lain di Bali tidak banyak yang mengetahui tentang tari telek. Tari telek masih mengalami eksistensi yang baik di daerahnya, Ini disebabkan tari telek adalah tarian sakral daerah desa jumpai yang terkenal dengan mistisnya dan harus dipentaskan setiap hari rahinan kajeng kliwon, maka dari itu tarian ini masih tetap ada hingga saat ini, walaupun tidak banyak yang mengetahui
Tarian ini tidak diketahui kapan munculnya, tarian ini ditarikan oleh anak-anak, tarian ini setiap dipentaskan selalu disandingkan dengan rangda atau barong. Karena dipercaya menolak bala sampai saat ini desa jumpai rutin mementaskan tarian tersebut. Bagi warga khususnya warga Bali yang tidak mengetahui tentang tari telek, semoga dengan laporan ini bisa memberi atau menambah wawasan nya mengenai tarian sakral yang ada di bali seperti contohnya tari telek.

Fungsi tari Telek
Tari telek merupakan salah satu tari wali atau tari sakral. Tarian ini biasa ditarikan setiap hari rahinan kejng kliwon khususnya hanya di Desa jumpai, tarian ini mengandung aura mistis yang sangat kuat yang juga diyakini atau dipercaya oleh warga setempat sebagai penolak bala dan jika tidak dipentaskan secara rutin akan menimbulkan bencana atau menyebabkan keadaan sekitar menjadi kacau dan bisa juga menjadi penyebab datangnya wabah penyakit.
Tarian ini juga sekaligus sebagai tari hiburan karena setiap tarian ini dipentaskan, dipastikan seluruh warga desa jumpai akan menyaksikan tarian ini, setelah atau sebelum melakukan persmbahyangan.

2.4 Ragam gerak tari Telek
Gerakan Tari Telek Jumpai dapat dikatakan tidak jauh berbeda dengan gerak-gerak Tari Telek pada umumnya ditempat lain. Akan tetapi terdapat salah satu gerak yang menunjukkan ciri khas dari Tari Telek di Desa Jumpai, yaitu gerakan yang berpusat pada kaki dengan disertai gerakan di lutut, tangan kanan ngembat dang tangan kiri ngepel kipas. Gerakan ini disebut gerakan kambing buang. Adapun gerakan Tari Telek di Desa Jumpai dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Agem, sikap berdiri sesuai dengan karakter yang dibawakan, dan dikenal dengan adanya agem kanan dan agem kiri. Agem kanan Tari Telek Anak-anak di Desa Jumpai adalah posisi tangan kanan sejajar mata ngepel kipas, sedanhkan tangan kiri sirang susu, pandangan ke depan, kaki tapak sirang renggang kira-kira du genggam tangan. Begitu pula sebaliknya dengan agem kiri.
2. Nyalud, gerakan tangan kesamping bawah dengan posisi tangan ngemudra.
3. Nyer segala arah, posisi tangan, satu sirang susu dan satu lagi ngembat.
4. Aras-arasan, gerakan leher ke kanan dan ke kiri mulai dengan lambat kemudian cepat. Mearas-arasan menurut I Made Santa selaku koordinator Tari Telek ini adalah sama dengan pengipuk, yaitu ekspresi cinta yang siungkapkan melalui tarian atau gerak tari.
5. Ngeliput, pegangan kipas diujung jari tangan (nyungsung) dengangerakan yang bernama utul-utul, yaitu pegekangan tangan diputar.
6. Malpal, gerakan berjalan menurut mat atau kajar dalam suatu lagu gamelan. Dalam gerakan ini jatuhnya kaki tetap tapak sirang pada. Begitu pula gerakan malpal yang terdapat pada Tari Telek di Desa Jumpai.
7. Ulap-ulap, posisi lengan agak menyiku dengan variassi gerak tangan seperti memperhatikan sesuatu.
8. Ngumbang, gerakan berjalan pada tari dengan jatuhnya kaki menurut mat gending atau pukulan kajar. Ngumbang ada 2 macam yaitu ngumbang ombak segara dan ngumbang luk penyalin. Ngumbang ombak segara adalah berjalan ke depan, ke belakang posisi badan ngeed (rendah) dan kelihatan seperti ombak segara. Sedangkan ngumbang luk penyalin adalah berjalan membentuk garis lengkung kanan dan kiri, kelihatan speprti lengkungan rotan. Begitu pula ngumbang yang terdapat pada Tari Telek di Desa Jumpai ada ngumbak ombak segara dan ngumbang luk penyalin.
9. Gerakan kambing buang, gerakan ini seperi gerakan ngitir yaitu, dilakukan lebih cepat dari ngegol, dilakukan ditempat dengan posisi tangan kiri ngembat, sedangkan tangan kanan ngepel kipas. Gerakan ini berpusat pada lutut yangb bergetar.
10. Gerakan ngotes oncer gelungan, gerakan ini adalah gerakan tangan kiri mengibaskan oncer pada gelungan, semacam ngotes rambut pada Tari Gambbuh hanya saja putarannya kedepan.
11. Gerakan angkih-angkih, gerakan mengatur nafas sehingga gerakan badan menjadi naik turun.

Struktur gerak dan pola lantai Tari Telek.
Tari Telek yang terdapat di Desa Jumpai kabupaten Klungkung mempunyai struktur gerak dan pola lantai yang cukup sederhana, yaitu sebagai berikut :
 Pepeson (pembukaan),
o Setelah diawali dengan tabuh pembukaan, muncullah 4 orang penari telek dengan gerakan malpal atau berjalan menyilang, tangan kanan memegang kipas ngeliput, tangan kiri sirang susu.
o Kemudian mengambil tempat masing-masing yaitu dibagian depan 2 orang penari, dan bagian belakang 2 orang penari, dengan gerakan agem kanan, mengatur nafas, diikuti kipekan dan sledet, dan dilanjutkan dengan agem kiri yang gerakannya sama seperti agem kanan. Gerakan ini dilakukan 2 kali berturut-turut.

 Pengawak (isi),
o Nyeregseg bersama-sama ke kanan dan kekiri sebanyak 4 kali, agem kanan diteruskan dengan berjalan kemudian bertukar tempat lalu melakukan gerakan kambing buang atau ngitir, kemudia nyregses lagi, dilanjutkan dengan agem kanan.
o Mearas-arasan, yaitu 2 orang penari jongkok dan 2 orang penari lainnya berdiri. Ini dilakukan secara bergantian.
 Pekaad (penutup),
o Kemudian para penari Teelek ini mencari tempat semula dan duduk dengan kipas ngeliput. Maka datanglah dua orang penamprat yang melakukan gerakan agem kanan, agem kiri, opak lantang, berjalan malpal, kemudian para penari Telek bangun malpal menjadi satu baris menghadap ke belakang.
o Setelah itu, 2 penari Telek nyregseg ke kanan dan 3 orang lainnya ke kiri. Ini dilakukan bergantian dengan gerakan ngeliput, tangan kiri sirang susu, dan penari atau penamprat pulang, dan berakhirlah Tari Telek ini.

2.5 Tata rias dan busana kostum tari Telek
Tata rias dan busana kostum atau busana adalah segala perlengkapan pakaian dalam tari Bali. Busana merupakan faktor pendukung yang sangat penting dalam tari Bali, karena melalui busana penonton dapat membedakan setiap tokoh yang tampil.
Tari telek di Desa Jumpai memakai busana awiran yang sangat sederhana. Dari semula busana yang dipakai tidak mengalami perubahan. Adapun busana yang digunakan oleh penari Telek di Desa Jumpaidapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu hiasan badan, hiasan kepala, dan perlengkapan yang dibawa, serta tapel.
Dari kedua banjar (Banjar Kangin dan Banjar Kawan) busana yang mereka pakai sama, namun mereka memiliki dan perlengkapan masing-masing. Hanya saja tapel yang dimiliki kedua banjar tersebut berbeda bentuknya. Tempat menyimpan busana dan gelungan di Banjra Kawan dan Banjar Kangin adalah di dalam ruangan khusus yang berada di masing-masing bale banjar. Hanya tapel Telek saja yang disimpan bersama-sama dengan Barong dan Rangda di Pura Dalem Pesimpenan.

Bagian bagian busana Tari Telek :
1. Hiasan kepala
• Satu-satunya hiasan kepala pada Tari Telek di Desa Jumpai adalah memakai gelungan yang berbentuk cecandian yang terbuat dari kulit, penyalin dan benang putih yang melingkar sampai ke bahu yang gunanya untuk menjaga agar gelungan tidak jatuh, juga menutupi supaya karet talinya tidak terlihat kotor. Pada sisi kiri gelungan ada hiasan benang yang disebut dengan oncer. Masing-masing banjar memiliki gelungannya sendiri. Sebelum
• para penari Telek anak-anak ini menggunakan gelungan, mereka menggunakan penutup kepala terlebih dahulu. Penutup kepala tersebut berupa udeng putih yang merupakan selembaran kain berwarna putih yang berukuran 1 meter berbentuk persegi dan berfungsi sebagai penutup kepala
2. Hiasan badan
Hiasan badan adalah yang digunakan untuk menutupi badan bagian bawah, yaitu terdiri dari :
• Celana putih yaitu, celana panjang dengan warna putih yang guunanya untuk menutupi badan bagian bawah.
• Baju putih, baju berlengan panjang dibuat dari kain putih
• Gelang kana, hiasan pada pergelangan tangan yang terbuat dari kulit dan dicat prada.
• Badong, hiasan pada leher yang bentuknya bundar, dibuat dari kain beludru yang dihiasi dengan batu-batu manik (mute)
• Awiran, hiasan yang berjurai-jurai berwarna-warni dan digantungkan pada badan dan juga dibawah keris.
• Lamak, hiasan depan yang dibuat dari kain yang berwarna-warni dan diihiasi dengan bermacam-macam warna mute.
• Stewel, hiasan yang membalut celana atau jaler dari bawah lutut sampai pada pergelangan kaki.

Sejarah Gambelan Gong Kebyar di Banjar Lodsema

Sebelum adanya gambelan gong kebyar, banjar lodsema hanya memiliki gambelan bebatelan. Gambelan bebatelan ini dulu dipakai untuk mengiringi ida ratu gede putra melancaran, biasanya melancaran setiap hari raya galungan dan hari raya kuningan. Geambelan ini masih ada sampai sekarang namun gambelan ini tidak pernah dipakai sejak adanya gambelan baleganjur bebarongan di banjar lodsema. Pada tahun 1984 banjar lodsema saja yang tidak mempunyai gambelan gong kebyar karena kurangnya biaya bikin gambelan dan didesa mawang ada 4 banjar yaitu banjar mawang kaja, mawang kelod, lodsema dan apuh, didalam 4 banjar ini hanya banjar lodsema saja yang belum mempunyai gambelan gong kebyar dan pada waktu itu banjar mawang kaja dan banjar mawang kelod mengeledeki banjar lodsema karena tidak mempunyai gambelan gong kebyar, pada tahun 1986 I ketut sudra dari banjar lodsema membeli gambelan gong kebyar 1 barung di tihingan dan beliau menempatkan gamelan itu dibanjar lodsema ujar ayah saya (I ketut wiranata) dan pada waktu itu I ketut sudra mendengar bahwa banjar lodsema akan membeli gambelan gong kebyar dan akhirnya gambelan gong kebyar milik I ketut sudra dibawa pulang oleh belia karena belia mau membuka sangar dan pada waktu itu beliau mendirikan sangar yang bernama sanggar mekar sari, sanggar ini dulu sangat aktif karena krama banjar lodsema terus belajar di sanggar tersebut, pada tahun 1987   banjar lodsema membeli gambelan  gong kebyar di blahbatuh, karena sedikitnya biaya, banjar lodsema hanya membeli gangsa 4, calung 2, gong lanang wadon, kempur, kajar, kecek, dan kendang lanang wadon itupun gambelannya belum diukir ujar ayah saya.

pada tahun 1990  adanya suatu biaya buat membeli kekurangan barungan gambelan gong kebyar, kelihan banjar lodsema langsung bergegas memesan kerurangan tersebut seperi kantilan 4 buah, ugal 1 bual, reyong , trompong, dan jegogan 2 buah, dan itupun masih kurang dari barungan gong kebyar seperti penyacah 2 buah dan ugal 1 buah. gambelan dibanjar lodsema diukir pada tahun 1995 oleh krama banjar yang dipimpim oleh I wayan tunas.

 

Fungsi gambelan gong kebyar ini adalah untuk mengiringi tari-tarian di pura-pura desa pekraman mawang, disamping itu gambelan ini difungsikan untuk gambelan lelambatan jika banjar lodsema mempunyai amongan ( tugas) dipura. Gambelan ini sejak dulu sampai sekarang masih kurang karena sejak dulu belum lengkap sampai sekarangpun krama banjar lodsema tidak membelikan kekurangan itu.

Bentuk Struktur Fungsi Tabuh Serta Fungsi Tari Legong Raja Cina

  1. Bentuk Struktur Tabuh

Tabuh legong raja cina adalah tabuh dengan bentuk dikontruksi. AA. SEMARA SEMADI mengatakan tabuh legong cina pernah ada sekitar tahun 30 . pada waktu pelantikan propesor bapak sudana beliu bertemu dengan bapak WAYAN BRATA. Kemudian beliau bertanya untuk meminjem buku kepada pak brata. akhirnya pak brata mempunyai buku gending tentang legong raja cina yang dikasi dari AA. AGUNG AJI GRIYA. Kemudian beliau meminjem buku gending itu dari pak brata, buku gending itu berbentuk tulisan tangan, kemudian beliau mempelajari dan beliau membuat pada tahun 2012 yang baru kontruksi. Dalam buku gending terbsebut, tertuli tentang gending bagian pengawit pengawak dan pengecet saja. Dari gending pepeson, penyalit dan bebatelan beliaulah yang membuatnya. Dalam membuat gending legong raja cina tersebut, beliau memikirkan cerita, analisis cerita dan tokoh-tokohnya dan beliau juga mencari informasi kepada professor-profesor karawitan dan tari. disana beliau banyak mendapatkan informasi tentang legong raja cina, beliau disuruh membangun legong tersebut oleh professor-profesor tersebut. Akhirnya beliau sudah mendapatkan cerita yang jelas dan pasti. Pada awal nya ayah beliau mengatakan raja cina  itu adalah cerita raja bali kawin dengan orang cina kalimat itulah yang beliau pakai pedoman untuk menkontruksi ceritanya, kemudian beliau menganalisis cerita itu dan beliau membuat strukturnya, beliau langsung membuat gendingya dan mengadakan suatu proses latihan. Setelah adanya proses latihan akhirnya legong raj cina pentas dalam festival pesta kesenian bali dan lahirlah legong raja cina dalam bentuk rekontruksi.

struktur tabuh legong cina memiliki struktur yang seperti legong pada umumnya. Struktur dan bentuk dari legong cina terdiri dari bentuk dan struktur. Struktur dan bentuk tabuh legong raja cina terdiri dari pepeson, pengawak, penyalit perarang-perangrang, bebatelan dan pengecet. Tabuh tari legong cina memiliki bentuk yang sangat jelas ( setiap perpindahan bagian-bagian adanya penyalit, untuk mengetahui perpindahan dari bagian-bagian tersebut ). Tabuh legong raja cina ini memiliki karakter yang lembut dan keras dan mengambil suasana yang romantic. Tetapi dalam gending tari legong raja cina memiliki beberapa teknik pukulan yang ada pada tabuh legong pada umumnya. Pada bagian pepeson tabuh legong raja cina ini dimulai dari instrument gender rambat. Pada bagian pengecet adanya gending bebatelan yang membawa suasana menjadi dramatis. pada bagian bebatelan ini adanya unsur gending yang sering dikatakan manis. Pada bagian linilah biasanya penonton sangat  antusias menontonnya. Pada tabuh legong raja cina ini memiliki tempo yang pelan dan datar. Gaya stail gending saba memiliki aksen tersendiri seperti ngumbang isepnya.

  1. Bentuk struktur Tari legong raja cina

Legong raja cina sudah ada pada tahun 30. Menurut kontruksi oleh AA. SEMARA SEMADI adanya legong raja cina karena akulturasi budaya bali dan cina Untuk saling menghormati dan mengingat akulturasi budaya. Jumlah penari pada tahun 30 sudah 3 orang penari, kalau penari kurang dari 3 orang penari, tari legong raja cina itu tidak bisa ditarikan. Beliau mengatakan ada 2 tari legong yang di kontruksi pada tahun itu ada legong baramara dan legong raja cina. Pada tahun 2000 rekontruksi tidak bisa dijalankan karena, ayah dari bapak AA. SEMARA SEMADI meninggal dunia. Tetetapi keinginan beliau tetap untuk membangun legong raja cina tersebut. Peran-peran yang ada didalam tari legong cina yaitu peran khang cing wi, jaya pangus dan dewi danu. rekontruksi tari legong raja cina ini kita harus bisa memaknai akulturasi budaya. Gerak-gerak yang ada pada tari legong raja cina yaitu ada gerak seperti orang cina ada gerak seperti barong landung. Semua gerak ini dikumpulkan inilah yang menjadi dasar untuk merekontruksi. Penari pada tari legong saba ditarikan oleh penari cewek bukan laki-laki. Legong raja cina yang dibuat di puri saba memiliki stail atau gaya sendiri misalnya dari nyregseg tanjek dan gerak yang lainnya.

Cerita Tari legong raja cina hampir mirip dengan cerita kang ching wi. cerita tari legong raja ini mengisahkan khang cing wi yang sedang bingung, di rumahnya (balikang) dia yang sudah kawin dengan jaya pangus, tetapi tidak mempunyai keturunan lalu jaya pangus meminta izin agar dia bisa bertapa di gunung batur. akhirnya bertapalah jaya pangus, pertapaan beliau sangat lama sampai tidak pulang-pulang akhirnya khang ching wi curiga dan dicarilah suaminya. Tari legong cina pada bagian pengecet menceritakan jaya pangus yang telah lama dalam pertapaan dan khang cing wi mencari jaya pangus. Akhirnya bertemulah khang ching wi dengan jaya pangus di hutan gunung batur. pertemuan mengambarkan kesedihan dan kegembiraan bahwa khang ching wi bisa bertemu dengan suaminya dan akhirnya ada roman yang mengambarkan kesenangan yang sangat terharu. Dalam roman itu, jaya pangus mengatakan bahwa dirinya sudah menikah dengan dewi danu, mendengar suaminya berkata seperti itu akhirnya khang ching wi pun keberatan. tiba-tiba datanglah dewi danu, dewi danu pun terkejut melihat suaminya dengan istri orang lain, akhirnya terjadilah perang antara dewi danu dan khang ching wi. supaya perang teidak berkelanjutan akhirnya di lelailah khang ching wi dengan suaminya saking marahnya dewi danu, jaya pangus pun kena pukulan dari dewi danu. saking marahnya dewi danu, dewi danupun membakar jaya pangus dan khang ching wi. dengan kaeadaan terbakar, datanglah pasukan orang balikang yang memohon agar jaya pangus dan khang ching wi dihidupkan. Redalah marahnya dewi danu dan dewi danu tidak bisa menghidupkannya. Dewi danu pun tidak bisa menghidupkannya dan ini sebgai simbul akulturasi budaya cina dan bali dibuat dalam perwujudan BARONG LANDUNG.

 Seni Tari Dalam Legong Raja Cina

            Tari legong Raja Cina ini diciptakan di Puri Taman Saba oleh dan di rekontruksi ulang pada tahaun 2012 oleh. Tari Legong Raja Cina ini mengisahkan tentang raja bali yaitu Sri Jaya Pangus dengan putri cina Kang Cing Wie sehingga menjadi akulturasi budaya di bali. Perkawinan Raja Jaya Pangus dan putri Kang Cing Wie tidak di karuniai keturunan sehingga Jaya Pangus memutuskan untuk pergi bertapa di Gunung Batur.

Dalam  perwujudan juga di simbulkan BARONG LANDUNG. Yang melambangkang gadis cina dan orang bali. Semua nilai unsur akulturasi yang menjadi makna filasafat dengan tari legong raja cina ini. Adanya nilai keindahan dalam tari legong raja cina dan adanya unsur estetika . semua itu terlahir dari bentuk rekontruksi dan akulturasi budaya. AA. SEMARA SEMEDI mengatakan, bahwa hubungan cina dan bali sangat kuat, dari sanalah rekontruksi dan akulturasi beliau dapatkan dan mengapa beliau merekontruksi dan akulturasi budaya? Karena beliau ingin melestarikan dan saling menghormati sesama budaya. Beliau memaknai bahwa nilai akulturasi dan estetika sangat kuat dan harus di lestarikan. Itulah filasafat atau filosofi tari legong raja cina.

Cara Pembuatan Kendang Bali

Proses Pembuatan Kendang

Kayu yang paling bagus untuk membuat kendang yaitu kayu tewel atau nangka. dari kayu glontongan/ kayu utuh itu diserut dibikin bunteran 2 segi 8 yang diproses memakai mesin bubut manual, mesin ini hanya untuk membantu proses pembuatan kendang lebih cepat. pembentukan dan melobangi kayu itu tetep memakai tangan karena mesin bubut manual itu fungsinya hanya bisa memutarkan kayu tersebut.

 

Setelah proses pembentukan selanjutnya proses perendaman dan penjemuran, proses penjemuran ini memakann waktu terlalu lama kalo kayu masih mentah, kalo kayu masih mentah kendang sudah di tukub akan menjadi tidak maksimal ato tukubnya akan cepet kendor.

Proses kulit kendang sembelum ditukub yaitu diserut,rendam dan dijemur proses ini memakan waktu 1 sampai 2 hari.

 

Proses pembuatan tali kendang, yang juga memakan waktu yang cukup lama dalam pemjemuram tali kendang

 

Proses pembuatn rompe kendang, yang diulat pakai tangan sendiri yang dibantu dengan tang membantu untuk menarik” supaya rompe tidak cepet rusak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Proses penjemuran kendang setelah ditukub, penjemuran ini memakan waktu sekitar 3 sampai 5 hari tergantung cuaca, pengambilan nukub diambil dari bunderan yang lebih besar setelah selesai dijemur lanjut nukub bunderan yang kecil. Tali kendang ini lingkarannya dibagi mejadi 11 ada yang 11 senti ato 9 senti menurut ukuran kendang.

 

 

 

Inilah kendang yang sudah jadi, membuat kendang ini bisa dari nol ato dari proses awal bisa memakan waktu 4 sampai 5 bulan karena diproses penjemuran memakan waktu yang sangat lama karena dipengaruhi cuaca. Ada beberapa ukuran kendang : kendang barong 26 sampai 27, kendang cedugan atau kendang baleganjung 30 sampai 32,5.