UPAKARA DALAM UPACARA YADNYA

PENGERTIAN UPAKARA

Upakara sering dikenal dengan sebutan banten, upakara berasal dari kata “Upa” dan “Kara”, yaitu Upa berarti berhubungan dengan, sedangkan Kara berarti perbuatan/pekerjaan (tangan). Upakara merupakan bentuk pelayanan yang diwujudkan dari hasil kegiatan kerja berupa materi yang dipersembahkan atau dikurbankan dalam suatu upacara keagamaan. Dalam kehidupan agama Hindu di Bali, setiap pelaksanaan upacara keagamaan selalu mempergunakan upakara atau banten sebagai sarana untuk berhubungan/mendekatkan diri dengan pujaannya yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa/manifestasi-Nya yang akan dihadirkan.

Upakara atau banten tersebut dibuat dari berbagai jenis materi atau bahan-bahan yang ada, kemudian ditata dan diatur sedemikian rupa sehingga berwujud aturan atau persembahan yang indah dilihat, mempunyai fungsi simbolis dan makna filosofis keagamaan yang mendalam. Dalam pustaka Bhagawadgita Bab IX sloka 26 menyebutkan tentang unsur-unsur pokok persemambahan itu adalah :

Patram Puspam phalam to yam yo me bhaktya prayacchati      tad aham bhaktyupahrtam asnami prayatatmanah

 

Artinya :

Siapapun yang dengan kesujudan mempersembahkan padaKu daun,    bunga, buah-buahan atau air, persembahan yang didasari oleh cinta dan keluar dari hati suci, Aku terima sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci.

Dari sloka diatas dapat dilihat hal-hal sebagai berikut :

  1. Daun; dapat berupa janur, ron, tlujungan/daun pisang dan daun yang lainnya yang disebut dengan plawa, sirih, daun pilasa dan sebagainya.
  2. Buah; dapat berupa buah-buahan seperti : kelapa, padi,tingkih,pangi,pinang,pisang, jenis kacang-kacangan serta semua jenis buah-buahan yang dapat dimakan.
  3. Bunga; dapat berupa segala bentuk dan jenis bunga-bungaan yang harum, segar dan yang ditetapkan dan diperkenankan untuk banten.
  4. Air; berupa zat cair seperti : air untuk pembersihan segala sarana banten, air kelapa, arak-berem-tuak, madu, empehan/susu, air kumkuman dan lainnya.
  5. Api/Gni; yang berfungsi sebagai pembakar sarana upakara berupa kemenyan, majagau,serbuk kayu-kayuan seperti cendana,dupa,lilin, dan lainnya.

v  BAHAN UPAKARA

Mengenai bahan-bahan upakara untuk persembahan atau korban suci tersebut, semuanya diambil dari ciptaan Ida Hyang Widhi Wasa di dunia ini dan kesemuanya itu dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu :

  • Mataya

Adalah sesuatu yang tumbuh. Bahan-bahan ini terdiri dari tumbuh-tumbuhan yang dipakai sarana upakara terdiri dari berbagai jenis daun,bunga dan buah-buahan.

  • Mantiga

Adalah sesuatu yang lahir dua kali seperti telur itik, ayam, angsa dan lainnya.

  • Maharya

Adalah sesuatu yang lahir sekali langsung menjadi binatang, seperti binatang-binatang berkaki empat misalnya sapi,babi,kerbau dan lain sejenisnya.

v  FUNGSI UPAKARA

1. Sebagai alat konsentrasi

Upakara sebagai alat konsentrasi, hal ini disebabkan oleh kemampuan yang dimiliki oleh manusia sangat terbatas adanya, dalam usaha untuk mendekatkan hubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasi-Nya, untuk menyampaikan rasa terima kasih karena berbagai anugrah yang diberikan. Dengan melihat banten/upakara, pikirannya sudah teringat dan terarah pada yang dihadirkan atau dipuja. Penggunaan upakara sebagai alat konsentrasi, umumnya dilakukan oleh mereka yang menempuh jalan melalui bhakti marga dan karma marga dalam ajaran catur marga. Bagi bhakti marga mengutamakan penyerahan diri dan pencurahan rasa yang didasari dengan cinta kasih terhadap yang dipuja yaitu Ida Hyang Widi Wasa dan segala menifestasi-Nya, untuk mencapai kebahagiaan yang tertinggi.

Bagi karma marga, menekankan rasa bhaktinya pada pengabdian yang berwujud kerja tanpa pamrih. Kerja merupakan simbol hidup, hidup adalah untuk beryadnya, karena melalui yadnyalah semua yang hidup di dunia ini diciptakan oleh Ida Hyang Widhi Wasa pada jaman dahulu. Hidup manusia dibelenggu oleh kerja, seperti dinyatakan dalam pustaka suci Bhagawadgita sebagai berikut :

“yajnarthat karmano’ nyatra lako’yam karma bandhanah adhartham karma kaunteya mukta sangah samachara (III.9)

Artinya :

Kecuali untuk tujuan berbakti,               dunia ini dibelenggu oleh hukum kerja,        karenanya bekerjalah demi bhakti,         tanpa kepentingan pribadi, oh Kuntipura.

2) Upakara sebagai persembahan atau kurban suci

Upakara sebagai persembahan, apabila ditujukan kehadapan yang lebih tinggi tingkatannya dari manusia. Disebut kurban suci apabila ditujukan kepada yang tingkatannya lebih rendah daripada manusia seperti dalam pelaksanaan upacara bhuta yadnya. Maksud dan tujuan dari persembahan atau korban suci itu adalah sebagai pernyataan dari perwujudan rasa terima kasih manusia kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasi-Nya. Sebagai contoh yang paling sederhana adalah yadnya sesa yaitu persembahan yang dilakukan setiap hari setelah selesai memasak. Mengenai tempat dan dasar sastra dari yadnya sesa adalah ada disebutkan pada Manawa Dharma Sastra III. 68-69 sebagai berikut :

Panca suna grhastasya culli pesanyu paskarah, kandani codakumhasca badhyate yastu vahayan.

Tasam kramena sarvasam niskrtyartham mahasibhih ,  panca klpta mahayajnah pratyaham grhamedhinam.

Artinya :

Seorang Kepala Keluarga mempunyai  lima macam tempat penyembelihan yaitu tempat masak, batu pengasah, sapu, lesung, dengan alunya, tempayan tempat tempat air dengan pemakaian mana Ia diikat oleh belenggu dosa

Untuk menebus dosanya yang ditimbulkan oleh pemakaian kelima alat itu,para Maha Rsi telah menggariskan untuk Kepala Keluarga agar setiap harinya melakukan Panca Yadnya.

 

3) Upakara sebagai sarana pendidikan memuja Ida Hyang Widhi Wasa.

Upakara  yang telah dapat diwujudkan, merupakan hasil dari pengendalian diri terhadap keterikatan akan benda-benda duniawi. Bila hal itu dihayati lebih mendalam, maka mereka yang telah berhasil membuat upakara untuk diyadnyakan, itu berarti ,mereka telah berhasil menyucikan pikirannya dari rasa ego terhadap karunia Ida Hyang Widhi Wasa yang telah menjadi miliknya. Rasa rela dan rasa tulus ikhlas telah diamalkan, sekaligus perbuatan yang demikian itu telah termasuk dalam upaya penyucian diri secara lahiriah dijiwai dengan rasa bathiniah. Usaha untuk membebaskan diri dari keterikatan pada hawa nafsu guna mencapai kesucian secara lahir dan bathin, sangat diperlukan untuk mendekatkan diri kehadapan Ida Hyang Widhi Wasa, sebagaimana yang telah dinyatakan dalam pustaka suci Bhagawadgita sebagai berikut :

“Vita raga bhaya krodha manmaya mam upasritah bahavo jnanam pasa             puta madbhavam agatah (IV.10)

Artinya :

Terbatas dari hawa nafsu, takut dan benci bersatu dan berlindung pada-ku        dibersihkan oleh kesucian budi pekerti banyak yang telah mencapai diri-ku

 

4) Upakara sebagai perwujudan Ida Hyang Widhi Wasa dalam berbagai manifestasi.bsuci yaitu rontal “Yadnya Prakerti,Tegesing Arti Bebantenan”, semua sarana yang dipakai mempunyai arti simbolis, seperti contoh upakara yang paling sederhana yaitu canang, didalam canang itu terdapat daun kayumas (plawa), bunga, dan porosan. Semua itu arti tersendiri, seperti plawa, disebutkan dalam Lontar Yadnya Prakerti bahwa Plawa adalah lambang pertumbuhan pikiran yang hening dan suci. Dalam proses pelaksanaan pemujaan terhadap Tuhan/Hyang Widhi, sangat wajib hukumnya dilakukan dengan pikiran yang hening dan suci dan atas dasar hati yang tulus ikhlas dengan tanpa berharap akan pahala, karena semua yang dilakukan ini merupakan suatu kewajiban atas ciptaan-Nya. Dalam Bhagawadgita II. 51 disebutkan sebagai berikut :

Karma-jam budhi-yukta hi phalam tyaktva manisinah, janma-bandha-vinirmuktah padam gacchanty anamayam.

Artinya :

Bagi orang bijaksana, yang pikirannya bersatu dengan Yang Maha Tahu, tidak ,mengharap akan hasil dari perbuatannya (sebagai motif), akan tetapi bebas dari perbuatannya karma dan mencapai tempat dimana tak ada penderitaaan.

 

v  MAKNA UPAKARA.

Berbicara mengenai Makna Upakara Yadnya atau banten, dapat dipetik dari pustaka Bhagawadgita Bab III pada sloka 10 sampai 16, dalam pembicaraan Sri Krisna dengan Arjuna, mengenai pentingnya upacara yadnya itu. Pemaknaannya diawali dari yadnya yang dipergunakan oleh Prajapati pada jaman dahulu kala menciptakan manusia untuk mengembangkannya guna memenuhi semua keinginannya.

Apabila dihayati secara mendalam, mengenai diciptakannya manusia dengan yadnya mengingatkan pada kita akan peranan dan kedudukan manusia dalam kehidupannya bila dibandingkan dengan mahluk-mahluk hidup yang lainnya sesama ciptaan-Nya, maka manusia dinilai mempunyai peranan mampu sebagai subyek dan sekaligus obyek dalam memaknai Yadnya itu. Melalui peranan manusia sebagai manusia sebagai subyek dan obyek, akan mampu mengantarkan mencapai tujuan agama Hindu itu yaitu “Mokshartham Jagadhita ya ca iti Dharma. Singkatnya mencapai kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin melalui jalan dharma.

Untuk mempedomi dan menghayati akan makna upakara atau yadnya tersebut, maka “pentingnya yadnya” dalam pustaka suci bhagawadgita pada 7 sloka, dapat dimaknai secara mendalam. Sloka-sloka tersebut berbunyi sebagai berikut :

10. Sahayajnah prajah srstya puro vaca prajapatih          anena prasavisyadhvam     esa vo stv ista kamadhuk

Artinya

Pada jaman dahulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan bersabda, dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi Kamadhuk dari keinginanmu.

Kamadhuk adalah sapi Indra yang dapat memnuhi segala keinginan. Makna yang terkandung dalam pengertian sloka ini, adalah sebagai sarana penciptaan manusia pleh Prajapati/Tuhan untuk menciptakan manusia sebagai mahluk utama dan sempurna yang nantinya akan mengembang dan dapat memenuhi semua keinginannya, karena manusia termasuk mahluk hidup yang sempurna dari yang lainnya.

Selanjutnya pada sloka 11, berbunyi sebagai berikut

Devan bhavayata, nena   te deva bhavayantu vah parasparam bhavayantah sreyah param avapsyatha

Artinya :

Dengan ini kamu memlihara para Dewa dan dengan ini pula para Dewa memelihara dirimu, jadi dengan saling memelihara satu sama lain, kamu akan mencapai kebahagiaan yang maha tinggi.

Makna yang terkandung dalam pengertian sloka ini adalah melalui yadnya yang dipakai sebagai sarana pemeliharaan hubungan antara manusia dengan para Dewa, bermakna saling memelihara dapat mencapai kabaikan yang maha tinggi. Singkatnya hubungan antara rasa subhakti manusia dengan anugrah sweca Ida Hyang Widhi Wasa, tetap dipelihara dengan dasar falsafah Tatwam Asi.

Selanjutnya  pada sloka 12, berbunyi sebagai berikut :

Istan bhogan hi vo deva dasyante yajnabhavitah   tair dattan apradayai ‘bhyo yo bhunkte stena eva sah

Artinya :

Dipelihara oleh yadnya, para Dewa akan memberi kamu kesenangan yang kau ingini. Ia yang menikmati pemberian-pemberian ini, tanpa memberikan balasan kepada-Nya adalah pencuri.

Makna yang terkandung dalam pengertian pada sloka ini adalah melalui saling memelihara dengan yadnya itu antara manusia yang berhutang hidup pada Dewa (Dewa Rna salah satu dari Tri Rna itu) dengan Dewa yang telah memberikan kesempatan pada manusia untuk hidup, maka para Dewa akan memberikan kesenangan yang diinginkan. Sebaliknya bila manusia hanya menikmatinya saja tanpa memberikan pemeliharaan sebagai balasannya, maka manusia yang demikian dinyatakan sebagai pencuri.

Dalam kehidupan keseharian, manusia telah mendapatkannya apa yang dikehendaki, dan ini semua adalah ciptaan-Nya, maka manusia wajib untuk memelihara dan memanfaaatknnya sesuai dengan maksud dan tujuannya masing-masing. Namun apa yang telah diciptakan oleh Tuhan dan dinikmati umat, wajib untuk dihaturkan kembali sebagaiannya sebagai ungkapan rasa bhakti umat kehadapan Hyang Widhi dengan berupa yadnya.

Selanjutnya pada sloka 13, berbunyi sebagai berikut :

Yajnasistasinah santo mucyante sarvakilbisaih bhunjate te tv agham papa   ye pacanty atmakaranat

Artinya :

Orang –orang yang baik yang makan apa yang tersisa dari yadnya, mereka itu terlepas dari segala dosa. Akan tetapi mereka yang jahat yang menyediakan makanan untuk kepentingannya sendiri mereka itu adalah makan dosanya sendiri.

Makna yang terkandung dalam pengertian pada sloka ini, adalah orang yang baik, akan beryadnya terlebih dahulu sebelum makan kepada para Dewa agar terhindar dari dosanya, tetapi bagi mereka yang tidak baik atau disebut jahat, semua makanan disediakan atau dimakan hanya untuk kepentingannya saja, hal itu disebut mereka memakan dosanya sendiri sehingga menjadi makin besar dosanya.

Berikut pada sloka 14, berbunyi sebagai berikut :

Annad bhavanti bhutani   parjanyad annasambhavah yajnad bhavati parjanyo yajnah karmasamudbhavah

Artinya :

Dari makanan, mahluk menjelma, dari hujan lahirnya makanan dan dari yadnya muncullah hujan dan yadnya lahir dari pekerjaan.

Makna  yang terkandung dalam pengertian pada sloka ini, adalah lingkaran kehidupan yang menghidupkan  semua yang ada dan kegunaannya saling memerlukan antara yang satu dengan yang lainnya atau ketergantungan itu terletak pada makna dari yadnya yang diciptakan oleh Ida Hyang Widhi Wasa itu.

 

Selanjutnya pada sloka 15, berbunyi sebagai berikut :

Karma brahmodbhavam vidhi brahma ksarasamudbhavam tasmat sarvagatam brahma nitya yajne pratisthitam

Artinya :

Ketahuilah asal mulanya “karma”  didalam weda dan brahma muncul dari yang abadi. Dari itu brahma yang meliputi semuanya selalu berpusat disekeliling yadnya.

Makna yang terkandung dalam pengertian pada sloka ini adalah Brahma yaitu manifestasi Tuhan sebagai pencipta untuk semuanya itu berpusat disekililing yadnya melalui karma-Nya, yang didalam pustaka suci Weda dikatakan bahwa Brahma itu muncul dari yang abadi yaitu Tuhan/Ida Hyang Widhi Wasa. Makna yadnya dalam hal ini adalah sebagai sarana pusat penciptaan.

Selanjutnya pada sloka 16, berbunyi sebagai berikut :

Evam pravartitam cakram na nuvartayati ha yah aghayur indriyaramo mogham partha sa jivati

Artinya :

Ia yang di dunia tidak ikut memutar roda (cakra) yadnya yang timbal balik ini adalah jahat dalam alamnya dan ia, O Arjuna hidup sia-sia.

Makna yang terkandung dalam pengertian pada arti sloka ini adalah mengenai penggunaan yadnya secara timbal balik, yang pada awalnya Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan selanjutnya manusia memelihara semua ciptaan-Nya itu dengan yadnya pula. Bila tidak dilaksanakan seperti itu, maka manusia sebagai mahluk ciptaan-Nya yang paling utama dan sempurna keberadaannya , dinyatakan jahat pada kehidupannya, puas dengan indriyanya dan hidupnya sia-sia serta hampa.

5 Responses to “UPAKARA DALAM UPACARA YADNYA”

  1. soy oil Says:

    Thank you, I have recently been looking for information about this subject
    for a while and yours is the best I have discovered so far.
    However, what concerning the conclusion? Are you
    sure about the source?

  2. MEDIAN NERVE Says:

    I’m amazed, I must say. Rarely do I encounter a blog that’s both
    equally educative and entertaining, and without a doubt, you’ve hit the nail on the head.

    The issue is something that too few folks are speaking intelligently
    about. Now i’m very happy I came across this during my hunt for
    something relating to this.

  3. kiev live Says:

    Undeniably believe that which you said. Your favorite reason
    seemed to be on the web the simplest thing to be aware of.
    I say to you, I definitely get irked while people consider worries that they just
    do not know about. You managed to hit the nail upon the top and defined out the whole thing without having side-effects , people can
    take a signal. Will likely be back to get more. Thanks

  4. SURGERY MATERIALS Says:

    Very good info. Lucky me I recently found your blog
    by accident (stumbleupon). I’ve bookmarked it for later!

    Also visit my blog: SURGERY MATERIALS

  5. yogagiri Says:

    thanks for your comment,, i hope this informasion can add your knowledge

Leave a Reply