sejarah gamelan suling

http://https://www.youtube.com/watch?v=ReIm-NwtSjU

Di banjar munggu mengwi gong suling mulai terlahir pada tahun 1970. Pada tahun itu di banjar munggu mengwi pertama kali mempunyai gamelan gong suling diantara banjar-banjar yang ada di desa mengwi. wafatnya seniman gong suling di banjar munggu mengwi yang bernama (pekak kuno) gong suling sama sekali tidak pernah terpakai. pada 2006 gong suling mulai dikeluarkan dari tempat penyimpanan (bale gede) adanya beberapa instrument suling yang tidak bisa di pakai lagi akhirnya kelian banjar munggu memutuskan untuk membuatkan suling yang baru dan instrument-instrument yang lainya. pada tahun 2008 instrument gong suling yang sudah lawas dan kuno harus di simpan di gedong ratu bagus. menurut narasumber, gong suling yang berada di banjar munggu sangat sacral dan mistic. Di dalam barungan instrument gong suling yang berada di banjar munggu mengwi, barungan gong suling ini memiliki 4 suling kecil dan 14 suling besar. Pada tahun 70 gong suling ini dipinjem oleh banjar lebah. adanya pemberitahuan terhadapkelian saja tetapi tidak adanya pemberitahuan terhadap seka gong. Kemudian gong suling di perebutkan kembali tetapi banjar lebah tetap memaksa untuk meminjam gong suling tersebut akhirnya terjadiah konflik besar antara banjar munggu dengan banjar lebah. Karena terjadinya konflik tersebut maka seka gong suling diberikan nama seka lebah suara.

ANALISA GENDING TARI MARGAPATI

Gending tari margapati di ciptakan pada tahun 1942 oleh nyoman kaler. Gending margapati ini mimiliki karekter yang keras dengan kekebyaran yang dinamis dengan dinamika yang keras dengan aluran melodi yang tajam dan tempo yang cepat, membawakan suasana dari gending tari margapati ini keras dan berwibawa.

Gending tari margapati terinspirasi dari kata marga atau mrga yang artinya binatang sedangkan pati yang artinya raja. Arti dari kata margapati yaitu gerak-gerik raja hutan yang sedang mencari atau mengintai mangsanya. Gending tari margapati menggunakan konsep kawitan, pepeson, pengawak, pengecet dan pekaad. Pada teknik pukulan gending margapati juga menggunakan yang namanya gegebug dan tetekep. Gending tari margapati ini lebih dominan dengan permainan gangsa dan reong dengan teknik ngempyung dan noret.Gending tari margapati yang terinspirasi dari raja hutan, yang mengartikan gending ini berjiwa tegas, wibawa dan serta memiliki karakter yang keras dan dinamis.

ORGANOLOGI

PENGRAJIN GAMELAN SRI ANITA SEDANA

Dalam membuat barungan gamelan gong kebyar tidak begitu mudah karena banyak waktu yang di perlukan untuk mebuat barungan gamelan gong kebyar tersebut. hasil wawancara yang saya dapatkan dari pengrajin gamelan sri anita sedana tentang membuat barungan gamelan gong kebyar. Menurut, dewa ketut alit saputra ( pemilik prapen ) beliu mengatakan membuat barungan gamelan gong kebyar tidaklah mudah karena waktu, tenaga, dan ketelitian sangat di perlukan apalagi membuat bilah dan pecon sangat memerlukan tenaga dan ketelitian. Beliu mengatakan membuat suatu bilah nada sangat sulit dan harus teliti karena di dalam campuran antara karawang dan tembaga harus seimbang agar mendapatkan kualitas yang terjamin beliu tidak mengatakan campuran kerawang dan tembaga karena campuran tersebut rahasia pengrajin. Dalam membuat bilah nada sangat memerlukan keberanian karena, secara langsung kita berhadapan dengan api yang sangat panas dan banyak memerlukan tenaga pada metode memukul bilah yang panas tersebut atau yang sering di sebut dengan istilah (ngetok).
Metode Membuat pencon nada juga sama seperti membuat nada bilah tetapi tenaga yang di keluarkan dalam membuat pencon nada sangat banyak, agar proses pembakaran dan ngetok pencon bisa berbentuk bulat. Selain membuat bilah dan pencon, beliu uga mengatakan cara membuat pelawah dan bumbung suapaya mendapatkan kualitas yang bagus. Beliau mengatakan dalam pembuatan pelawah gamelan gong kebyar dan bubungnya kita pertama harus memakai kayu ketewel yang sudah berisi lees(kayu yang sudah tua) kemudian kita rendam 1 hari saja habis itu kita jemur kemudian baru kayu itu dipotong-potong menurut ukuran kemudian kayu itu di beri ornamentasi ukiran dan di cat sesuai keinginan sipembeli. Begitu pula dalam pembuatan bumbung kita harus memilih bambu yang berkualitas bagus beliu mengatakan sebenarnya bambu tutul yang bagus di jadikan bumbung dalam tahap penyetelan nada menurut beliu harus sangat teliti dan berkonsentrasi agar nada yang kita ingin tercepai dan jarak frekuensi nada dan bumbung sangat sesuai beliu mengatakan “pang sing nyilem munyine” dalam tahap inilah yang sangat penting menurut beliu.

BIOGRAFI SENIMAN ALAM BR MUNGGU MENGWI

BIODATA SENIMAN ALAM

NAMA: I NYOMAN ARNAWA
ALAMAT: BR. MUNGGU DESA MENGWI KABUPATEN BADUNG.
TGL/THN LAHIR: 10-10-19940

SEJARAH BERKARIR
Inyoman arnawa adalah seorang seniman berbakat alam. Beliu mulai belajar menari waktu kelas 6 sd. Beliu di ajarkan oleh guru nya yaitu guru widnya(alm) kemudian beliu pentas pertama kali pada tahun 1966 pertama kali beliu menarikan topeng keras. singkat cerita kemudian beliu melanjutkan karir nya di bidang bondres beliu mempunyai Seka bondres yang bernama TIGA DARA. Pemain seka itu antara lain beliu sendiri guru widnya(alm) dan ketut baya(alm) beliu pernah pentas di mana saja, beliu juga seniman yang ramah pada waktu itu, siapa yang mau ngajak beliu nari beliu ikut kemana pun mereka nari. Beliau juga pernah mengatakan “ jangan mementingkan uang terlebih dahulu,pentingkanlah bakat mu terlebih dahulu” selain beliu menari dengan seka topeng,beliu juga menjadi penari TASKARA MAGUNA(PANDUNG). Beliau mulai mandung thn 1969 pertama kali beliau mandung di mengwi di pura bekak.sampai sekarang pun beliau masih dikenang jasa nya oleh masyarakat di mengwi dan sekarang beliau mengalimi sakit hernia dan beliau sudah mulai pensiun nari pada thn 2016.

“TRADISI NEKANG BR MUNGGU MENGWI”

tradisi yang berada di banjar munggu mengwi mempunyai tradisi yang unik yaitu “NEKANG”. masyarakat se-Banjar munggu mengwi mulai berdatangan ke rumah pengantin baru . Jarak hari pawiwahan dan nekang Galungan ini memang sangat dekat selang 5 hari dari hari pawiwahannya. Tradisi ini cukup unik karena berlaku bagi semua masyarakat di banjar tersebut. Jika jumlah pasangan yang nekang lebih dari satu, biasanya akan didatangi satu persatu dari rumah yang jaraknya terjauh atau terdekat.
Selain itu, nekang atau ngejot tumpeng biasanya di cirikan dengan hiasan penjor yang sangat bagus di depan rumah dan sampian gantung nya sangat panjang minimal 1m. Seperti yang terjadi di Br.munggu mengwi, pasangan yang nekang berjumlah 5 pasang. Sehingga masyarakat mendatangi satu persatu dari yang jaraknya terjauh dari rumah masyarakat. Tumpeng yang dibawa sesuai dengan jumlah pasangan yang nekang. Isi dari tumpeng yang dibawa sesuai dengan kemampuan, ada yang membawa beras, jaja gina jaja uli di bawah tumpeng lengkap dengan sampyannya yang biasanya dihiasi warna warni perambat.
Masyarakat yang berfikir praktis biasanya membawa satu buah sampyan tumpeng pada saat ngejot. Selanjutnya hanya isi tumpengnya yang diserahkan dan sampyannya dibawa kembali ke tempat nekang yang lain.
Bukan hanya ibu-ibu yang melakukan ngejot tumpeng, sebagian mereka adalah remaja yang mewakilkan biasanya datang secara berkelompok sehingga terlihat suasana kebersamaan di hari nekang.
Dahulu masih terlihat perbedaan masyarakat nekang dengan yang tidak, hiasan penjor biasanya menunjukkan identitas sebuah rumah melaksanakan nekang Galungan. Berbeda dengan perkembangan saat ini. Masyarakat sudah semakin kreatif dan seolah berlomba-lomba membuat penjor yang bagus. Sehingga agak susah dibedakan, namun hal ini bisa diatasi dengan mengetahui informasi siapa saja yang nekang.
Persiapan bagi yang empunya karya nekang, bale dangin digunakan sebagai tempat nekang tampak dihiasi pengangge bale. Jerimpen, gebogan dan hiasan lainnya terlihat semarak menghiasi suasana nekang. Biasanya tape jaja uli selalu disiapkan keluarga pasangan yang nekang, ini tidak ada batasannya sesuai dengan kemampuan keluarga tersebut. Tape inilah yang diberikan sebagai balasan tumpeng yang dibawa oleh orang yang ngejot tumpeng. Suasana penuh kekeluargaan dan keakraban mewarnai suasana nekang.