GENJEK INOVATIF

Pengertian Genjek Inovatif :

Genjek adalah sebuah genre seni karawitan Bali yang menggunakan vokal sebagai sumber bunyi utama. Sepuluh hingga dua puluh orang pemain duduk membentuk sebuah atau setengah lingkaran ,menyanyi disertai gerak-gerakan tubuh dan menghasilkan sebuah bunyi.

Asal-Usul Perkembangan Genjek Inovatif

Ada satu tradisi unik dari sajian genjek,yaitu kebiasaan minum tuak/arak(minuman keras) sebagai teman akrab sebelum dan selama pertunjukan.Konon minuman berakohol tinggi ini dapat merangsang gairah mereka dalam bernyanyi sehingga sajiannya menjadi lebih mantap.

Jenis-jenis Intrument yang Digunakan Pada Iringan Genjek

1.Jenis alat musik melodis :

  • Dua buah gangsa

  • Dua buah kantil

  • Dua buah jublag

  • Satu gong

  • Satu kemong

  • Satu buah kecek

  • Satu buah seruling kecil yang berfungsi sebagai alat musik pembawa melodi pokok pada lagu

Pembahasan

Genjek merupakan sebuah garapan seni karawitan Bali yang menggunakan vocal sebagai sumber bunyi.Satu orang bertugas sebagai pemegang ritme, satu orang bertindak sebagai pembawa melodi sekaligus sebagai komando, dan yang lainnya bertindak sebagai kecak.Kecak disini menirukan suara-suara intrument karawitan Bali seperti: tawa-tawa,kendang,gong,kecek,reong, dans sebagainya.Misalnya suara seperti : sa , pak, sriak, cek, sek, de, tut, ces, jos, triang, tang.

Saran dan Kesimpulan

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh,maka dapat diajukan saran-saran sebagai berikut:

Bagi mahasiswa calon-calon guru pendidikan seni budaya ,diharapkan memanfaatkan kesenian-kesenian lokal yang ada untuk diajukan sebuah objek penelitian yang akan digunakan yag nantinya mampu berguna bagi mahasiswa dan masyarakat pada kalangan pencinta seni.

TARI KECAK

TARI KECAK

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang kaya akan kesenian, terutama seni tari. Bahkan pada setiap daerahnya Indonesia telah menetapkan tari khas daerahnya masing-masing”.

Dari uraian diatas telah jelaslah bahwa latar belakang terciptanya makalah ini karena begitu banyaknya kesenian-kesenian tari yang begitu beragam sehingga membutuhkan media untuk mempelajarinya.Disini kami telah memberikan sedikit dari pengetahuan yang kami miliki tentang seni tari. Apakah dan bagaimanakah seni tari itu?…Marilah kita pelajari dengan seksama uraian makalah ini.

 

1.2   Permasalahan

Banyak hal yang perlu diketahui dan dipahami oleh semua siswa untuk mengetahui dan memahami seni tari yang ada diindonesia. Agar terarah dalam penulisan makalah ini, penulis membuat rumusan-rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Apa pengertian seni tari ?
  2. Bagaimana pengaruh seni tari di indonesia ?
  3. Sebutkan ragam seni tari yang ada di Indonesia?
  4. Berfungsi sebagai apa sajakah seni tari ?
  5. Apakah keunikan seni tari ?

 

1.3  Tujuan Penulisan

Tujuan utama kami menulis makalah ini adalah untuk mendapatkan nilai yang memuaskan. Diluar itu, makalah ini ditulis karena kami ingin mengingatkan kepada para pembaca bahwa begitu banyaknya keunika-keunikan kesenian di Indonesia seperti seni tari ini yang harus selalu kita pelajari, kita lestarikan, dan kita kembangkan agar kesenian itu tidak hilang begitu saja, karena itu merupakan kebudayaan yang sangat berharga di Indonesia. Dan kami berinisiatif ingin meningkatkan pembelajaran Seni Budaya di MAN 1 Bogor ini dalam bentuk makalah.Secara garis besar makalah ini bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan kami dengan cara berbagi pengalaman melalui makalah ini kepada orang lain.

PENJELASAN

2.1 Pengertian

Tari kecak adalah salah satu jenis kesenian tradisional dari Bali yang diciptakan pada kisaran tahun 1930 oleh seorang penari sekaligus seniman dari Bali yakni Wayan Limbak. Sebagai seorang seniman tentu saja Wayan Limbak sangat akrab dengan para seniman lain, sebut saja Walter Spies yang merupakan seorang pelukis dari negara Jerman merupakan salah satu teman akrab Wayan Limbak. Kedua sahabat inilah yang menjadi pencetus tari kecak yang sangat terkenal hingga saat ini.

Tarian yang kerap dimainkan oleh laki-laki ini kini menjadi salah satu icon kebudayaan Bali yang cukup mendapat sanjungan oleh para wisatawan yang berkunjung ke Bali.
Meskipun gerakan yang dilakukan oleh para penari tergolong sangat sederhana, namun pembawaan para penari yang berjumlah cukup banyak mulai dari puluhan hingga ribuan orang membuat gerakan yang dimainkan tergolong sangat unik dan menarik.Pementasan dan pertunjukan tari tradisional dari bali ini dapat dengan mudah kita saksikan di beberapa wilayah Bali seperti Uluwatu, Garuda Wisnu Kencana, Ubud, dan Gianyar Bali.

Ekspresi para penari nan memukau membuat para penonton tercengang akan penampilan mereka. Di lain sisi musik pengiring hampir tidak ada, hanya suara dan lantunan kata-kata yang berbunyi “cak-cak-cak-cak” terdengar dalam mengiringi gerakan tarian.
Jika kita dapat menyaksikan tari kecak dari awal hingga akhir, maka kita akan memahami mengenai alur cerita yang disajikan dari gerakan-gerakan pementasan oleh para penari.
Antusias masyarakat Bali akan keberlangsungan dan kelestarian kesenian tradisional membuat banyak orang belajar dan tertarik untuk melakukan tarian yang diciptakan oleh Wayan Limbak ini. Tak heran jika hampir semua pemuda bali khususnya para laki-laki mampu melakukan gerakan tarian ini dengan cara duduk melingkar. Para penari mengenakan pakaian khas bercorak kotak-kotak hitam putih mirip dengan papan catur.
Dari tahun 1970 tari kecak terus mengalami peningkatan, bahkan pemerintah daerah setempat menjadikan tari ini sebagai icon budaya masyarakat Bali.
2.2 Sejarah dan Perkembangan

 

Tari kecak merupakan tarian yang dicetuskan dan diciptakan oleh seniman asal Bali yakni.Wayan Limbak dan seorang sahabatnya dari Jerman.Pada awal kemunculan nya jenis tari ini tercipta secara tidak sengaja yang diambil dari sebuah tarian adat pemujaan yang dikenal dengan sebutan Shangyang.Sanghyang adalah jenis tarian tradisional Bali yang dilakukan dalam upacara religi seperti menolak bala serta mengusir suatu wabah penyakit.

Dari sebuah pementasan Sanghyang inilah kemudian Wayang Limbak bersama Walter Spies berinovasi menciptakan sebuah gerakan tari sebagai salah satu wujud kecintaan mereka terhadap budaya dan kesenian Bali.Salah satu jenis kesenian tari ini disajikan oleh para penari yang duduk melingkar serta mengucapkan kata “cak-cak-cak-cak” secara serentak, karena ini pula tarian ini diberi nama dengan sebutan tari kecak. Gerakan tangan yang disajikan dalam pertunjukan sebenarnya mengisahkan sebuah cerita Ramayana yakni pada peristiwa Dewi Shinta diculik oleh Rahwana.Hingga akhir pertunjukan biasanya tari ini menyajikan kisah pembebasan Dewi Sintha dari tangan Rahwana.Guna mendukung cerita yang disajikan maka dalam pertunjukan tari tradisional Bali juga harus terdapat beberapa tokoh yang memerankan peran utama sebagai Hanoman, Sugriwa, Dewi Shinta, Rhama, dan Rahwana.Pada tahun 70-an Wayang Limbak bekerja keras guna mempromosikan dan mengenalkan tari kecak hingga ke mancanegara. Selain mengenalkan keunikan dalam pementasan tarian ini tentu saja daerah asal kesenian ini ikut melambung di dunia Internasional yang kemudian menarik para wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Bali.Dalam perkembangannya pertunjukan tari yang juga menceritakan kisah pewayangan ini dimainkan oleh laki-laki yang berjumlah tak terbatas. Ada kalanya disajikan oleh puluhan orang namun dalam acara tertentu ada pula yang dipertunjukkan secara massal oleh ribuan penari.

Perkembangan tari kecak dari awal terciptanya hingga kini memang bisa dikatakan cukup membanggakan.Selain antusias masyarakat Bali terhadap seni garapan Wayan Limbak ternyata para wisatawan yang berkunjung ke Bali juga sangat tertarik dalam menyaksikan sebuah pertunjukan gerak seni ini.Tak heran jika pemerintah daerah setempat menjadikan tari kecak sebagai salah satu icon kesenian dan kebudayaan daerah.The Monkey Dance juga diberikan sebagai sebutan tari tradisional Bali yang satu ini. Hal ini diberikan karena salah satu adegan dalam pertunjukan tari tersebut menggunakan properti api serta tokoh utama yang berperan sebagai kera/ Hanoman.

  2.3 Fungsi Tari Kecak 

Seperti telah tertuliskan di atas, tari kecak merupakan tarian yang berasal dari kreasi upaca shangyang.Karena upacara shangyang merupakan jenis kegiatan sakral dan hanya boleh dilakukan di Pura maka Wayan Limbak berinovasi dari inspirasi gerakan shangyang menjadi gerakan tari yang terkenal hingga ke mancanegara.

Sebagai sarana hiburan

Penciptaan gerakan tarian ini secara sadar dilakukan guna mempertunjukkan suatu kesenian khas bali pada masyarakat umum. Tarian ini bertujuan sebagai sarana hiburan baik bagi masyarakat setempat maupun bagi para wisatawan yang berdatangan ke Bali.
Usaha melestarikan kebudayaan

Dalam tarian yang berawal dari upacara Sanghyang ini juga terdapat kisah dan cerita yang tersirat dari awal hingga akhir pertunjukan.Cerita pewayangan yang di angkat dalam sebuah gerakan tari merupakan inovasi baru dalam usaha melestarikan kebudayaan Hindu khususnya dalam kisah Ramayana.
Alat Musik Pengiring

Hampir tidak ada alat musik pengiring tari kecak kecuali suara gemerincing serta suara dari para penari yang berbunyi “cak-cak-cak-cak”.Meskipun tidak ada alat musik khusus sebagaimana tarian lain namun justru disini letak keunikan tari tersebut.Suara yang bersahut-sahutan dan kadang kala kompak membuat nada-nada unik yang sangat menarik utuk didengarkan seiring gerakan tarian yang dilakukan oleh para penari.Suara gemerincing terdengar dari properti tari yang dikenakan oleh para penari khusunya tokoh utama dalam seni pertunjukan khas Bali tersebut.
Properti Dalam Tari Kecak

Sama halnya dengan dan tari gambyong surakarta, tari kecakjuga  memiliki properti khas yang menjadi ciri khas dalam sebuah pertunjukan kesenian tradisional. Adapun properti yang biasa digunakan dalam pertunjukan antara lain sebagai berikut:
Selendang 

Selendang atau kain yang dikenakan oleh para penari tari kecak memiliki corak kotak-kotak dengan warna hitam putih menyerupai papan catur.
Gelang kincringan

Properti ini dikenakan baik pada pergelangan tangan dan sebagian juga pada pergelangan kaki.Gelang kicringan ini yang menimbulkan bunyi gemerincing pada saat gerakan tari dilakukan.
Tempat sesaji

Adanya tempat sesaji sebagai properti tari kecak menjadikan tarian ini sangat unik dan terlihat sakral.Terlebih asal usul gerakan tari yang berasal dari sebuah upacara adat Sanghyang membuat tarian ini juga terlihat mistis dikalangan para penonton.
Topeng

Minimal terdapat 3 topeng yang dikenakan oleh penari utama yang berperan sebagai tokoh Hanoman, Sugriwa, dan Rahwana pada cerita yang disajikan selama tarian berlangsung.
Keunikan Tari Kecak

Secara garis besar dalam seni pertunjukan tari kecak terdapat beberapa keunikan, keunikan tersebut antara lain terdapat pada:
1 Gerakan

Gerakan tarian yang ada dalam sebuah pertunjukan baik di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Ubud, maupun tempat lain terlihat seperti seseorang yang tengah melakukan suatu pemujaan pada upacara Shangyang.
2 Musik pengiring

Musik pengiring dalam tari kecak memang tergolong sangat unik.Karena hampir tidak ada alat musik yang dimainkan guna mengiringi pertunjukan.Musik yang terdengar pada sajian tarian khas dari Bali yang satu ini hanya terdengar dari gemerincing gelang grincingan yang dikenakan oleh para penari. Sementara suara lain hanya bersumber dari mulut para penari yang seolah saling bersahutan mengucapkan “cak-cak-cak-ke-cak-cak-cak”.
3 Drama

Drama yang dimainkan dalam pementasan merupakan cerita Ramayana yang mengisahkan usaha pembebasan Dewi Shinta dari tangan Rahwana yang dilakukan oleh Rama dan beberapa sahabatnya.
 

Cerita Dalam Tarian

Sebagaimana telah kita sebutkan di atas, pertunjukan tari kecak yang berfungsi sebagai usaha melestarikan kebudayaan disini alur cerita yang disajikan dalam suatu pementasan biasanya berupa kisah diculiknya Dewi Shinta oleh Rahwana, dan usaha Rama dalam membebaskan Dewi Shinta dari tangan Rahwana. Secara garis besar terdapat 5 bagian cerita yang mengisahkan demikian:

Bagian 1
Menceritakan tentang keberadaan Rama dan Dewi Shinta di dalam hutan yang kemudian disusul kemunculan kijang emas. Dalam akhir cerita bagian 1 ini Shinta berhasil diculik oleh Rahwana dan dibawa ke Alengka yang menjadi kerajaan Rahwana.

Bagian 2
Pada bagian kedua ini Dewi Shinta ditawan di lingkungan kerajaan Alengka dengan dijaga Trijata yang merupakan keponakan dari Rahwana. Dalam adegan ini terlihat Shita bersedih hati akan peristiwa yang tengah menimpanya serta sangat berharap kedatangan Rama membebaskan dirinya dari Rahwana.

Pada bagian ini pula Hanoman muncul sebagai utusan Rama dan mengisyaratkan kepada Dewi Shinta bahwa Rama akan datang dan menyelamatkan dirinya. Pada akhir bagian kedua ini Hanoman mempora-porandakan bangunan keraton Alengka dengan membakar beberapa bangunan keraton serta taman.

Bagian 3
Mengisahkan tentang kedatangan Rama ke negeri Alengka dengan bala tentaranya untuk membebaskan Dewi Shinta dari sekapan Rahwana.Pada awal pertempuran pihak Rama mengalami kekalahan melawan pasukan Rahwana.

Setelah memanjatkan doa kepada Sang Dewa datanglah burung garuda menyelamatkan Rama dari pengaruh sihir yang dilakukan oleh keturunan Rahwana.

Bagian 4

Pertempuran antara Rama dan Rahwana kembali terjadi dan semakin seru.Pada bagian ini Sugriwa yang diperintahkan Raja Rama berhasil mengalahkan Megananda.

Bagian 5

Merupakan pucak dari pertunjukan tari kecak dimana menceritakan tentang kemenangan Rama atas Rahwana sehingga berhasil menemukan Dewi Shinta dan membebaskannya dari Rahwana.Cerita diakhiri dengan bertemunya kembali Rama dan Dewi Shinta serta beberapa pasukan pihak Rama seperti Hanoman dan Sugriwa.

 

PENUTUP

3.1 Kesimpulan dan saran

Pengertian Tari kecak adalah salah satu jenis kesenian tradisional dari Bali yang diciptakan pada kisaran tahun 1930 oleh seorang penari sekaligus seniman dari Bali yakni Wayan Limbak.Selain antusias masyarakat Bali terhadap seni garapan Wayan Limbak ternyata para wisatawan yang berkunjung ke Bali juga sangat tertarik dalam menyaksikan sebuah pertunjukan gerak seni ini.Tak heran jika pemerintah daerah setempat menjadikan tarian ini sebagai salah satu icon kesenian dan kebudayaan daerah.

Tari tradisional Bali ini berfungsi sebagai sarana hiburan sekaligus usaha melestari kebudayaan Hindu di Bali.Dalam tarian ini hampir tidak ada alat musik pengiring kecuali suara gemerincing serta suara “cak-cak-cak-cak” dari para penari.

Adapun properti yang digunakan dalam tarian ini antara lain kain kotak-kotak, topeng, gelang kicringan, serta tempat sesaji. Sendra tari ini menceritakan tentang kisah Ramayana yakni peristiwa diculiknya Dewi Shinta oleh Rahwana hingga pembebasannya yang dilakukan oleh Rama beserta pasukannya.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.senitari.com/2015/07/tari-kecak-sejarah-gerakan-kesenian-tradisional-bali.html

 

 

 

SEJARAH GAMELAN GONG KEBYAR BR SEMAGA

PENDAHULUAN

 

1.1            Latar Belakang

Seni Karawitan adalah musik tradisional Indonesia baik vokal maupun instrumental yang berlaras pelog atau selendro. Seni Karawitan dapat dibedakan menjadi dua yaitu seni karawitan vokal dan seni karawitan instrumental. Seni karawitan vokal medianya suara manusia lazim disebut tembang, sedangkan seni karawitan instrumental medianya alat bunyi-bunyian lazim disebut gamelan. Seni karawitan terutama gamelan berkembang sangat pesat di Bali. Dari segi ragam ansambelnya tak kurang dari 38 perangkat gamelan kini tersebar di seluruh Pulau Dewata. Hampir setiap banjar memiliki sedikitnya satu barung gamelan. Fungsi utama dari masing-masing gamelan tersebut adalah untuk mendukung kegiatan upacara agama dan upacara adat bagi masyarakat setempat. Kini dengan gencarnya industri pariwisata sebagian masyarakat, telah mengembangkan fungsi sekunder gamelan yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan hidup sekelompok masyarakat, terutama seni gamelan yang memiliki peran menopang kegiatan senituristik.

Dalam perkembangan-perkembangan sejarah di mana sejak abad ke VIII sampai pada abad ke XVIII adanya kontak antara Jawa dan Bali yang menyebabkan terbawanya banyak barang-barang kesenian, khususnya gamelan, kendatipun berupa instrument yang terpisah. Bentuk gamelan yang di buat dari besi. Dan bergai jenis-jenis Gong yang ada di Bali merupakan instrument kebudayaan Asia Tenggara yang tergolong kebudayaan Melayu Kuna.

1.2            Tujuan

Tujuan membuat makalah ini adalah ingin mengetahui lebih dalam fungsi gamelan bali pada satu upacara keagamaan, agar kebudayaan bali yang terus berkembang turun menurun dan leluhur supaya tetap lestari dan tidak hilang ciri khasnya.

1.3            Rumusan Masalah

1.3.1  Bagaimana sejarah gong kebyar tersebut ?

1.3.2  Apa fungsi gong kebyar di mata masyarakat ?

1.3.3  Apajenis-jenis gamelan gong kebyar ?

1.3.4  bagaimana kendala yang penah di hadapi ?

1.3.5  apa saja event yang pernah diikuti ?

 

PEMBAHASAN

2.1       Fungsi Gong Kebyar

Sebagaimana kita ketahuilewatliteraturdanrekamantelahtampakbahwa Gong Kebyaritutelahberfungsisebagaipembaharudanpelanjuttradisi.Sebagaipembaharumaksudnyaadalahlewat gong kebyarparasenimankitatelahberhasilmenciptakangending-gedingbaru yang lepasdaritradisi yang sudahadaSedangkansebagaipelanjuttradisimaksudnyaadalah gong kebyartelahmampumempertahankaneksistensi reporter gambelanlainnyamelaluitransformasidanadaptasi.Sepertiapa yang telahdiuraikan di atasbahwa gong kebyarmemilikifungsiuntukmengiringitarikekebyaran. Namunsesuaidenganperkembangannyabahwa gong kebyarmemilikifungsi yang sangatbanyak.Hal inidikarenakan gong kebyarmemilikikeunikan yang tersendiri, sehinggaiamampuberfungsiuntukmengiringiberbagaibentuktarianmaupungending-gendinglelambatan, palegonganmaupunjenisgending yang lainnya. Disampingitu Gong Kebyarjugabisadipergunakansebagaisalahsatupenunjangpelaksanaanupacara agama sepertimisalnyamengiringitarisakral, maupunjenistarianwalidanbalih-balihan.Karena gong kebyarmemiliki multi fungsimaka gong kebyarmenjadisumberinspirasikaryabaru.Dengandemikian Gong Kebyartelahberfungsisebagaipembaharudanpelanjuttradisi.Sebagaipembaharumaksudnyaadalahlewat Gong Kebyarparasenimankitatelahberhasilmenciptakangending-gendingbaru yang lepasdaritradisi yang sudahada.Sedangkansebagaipelanjuttradisi Gong Kebyartelahmampumempertahankaneksistensi reporter gambelanlainnyamelaluitransformasidanadaptasi.Misalnyadalamgending gong kebyarkitamengenaiistilahgegambelan, gender wayangdan gong luang.Jugadisebutkandenganmenggunakaniringan gamelan gong kebyar, dalamsejarahdrama klasik di Bali, maka drama tersebutbergantinamamenjadidrama gong.dansejakitulahbanyakmunculsekaa-sekaa drama gong baru lainnya.

2.2       PenjelasanSejarah

Gong Kebyaradalahbarungan gamelan Bali sebagaiperkembanganterakhirdari Gong Gede, memakailaraspelog lima nada, yaitu :nding, ndong, ndeng, ndung, ndang. Yang awalmulanyatidakmempergunakaninstrumenterompong.Selanjutnya Gong Kebyardapatdiartikansuatubarungan gamelan gong yang didalampermainannyasangatmengutamakankekompakansuara, dinamika, melodidan tempo.Ketrampilanmengolahmelodidenganberbagaivariasipermainandinamika yang dinamisdanpermainan tempo yang diatursedemikianrupasertadidukungolehteknikpermainan yang cukuptinggisehinggadapatmembedakan style  GongKebyar yang satudengan yang lainnya.Dalamtulisan-tulisanmengenai gamelan baliterdahulusecaraumumtelahdikemukakanolehmasing-masingpenulisnyabahwa gamelan gong kebyarinibarumunculpadapermulaanabad XX, yang pertama kali diperkirakanmuncul di daerah Bali Utara tepatnyasekitartahun 1915 di desaJagaraga.Namunkenyataan yang diungkapkanoleh Beryl de Zoetedan Walter Spies dalambukunya yang berjudul“ Dance and Drama in Bali “ mengatakanbahwaI Ketut Mario yang sudahlahirsekitartahun 1900 sudahmenarisisiadalamcalonarang di tahun 1906. Dalamungkapanselanjutnyasamasekalitidakadamenyinggungmasalah gong kebyaratautarikekebyaran. Dari ungkapaninikiranyadapatdiketahuibahwaBapak I Ketut Mario yang dikenalsebagaisalahseorangtokohdalam gong kebyarsampaidengan 1906   ( perangpuputanBadung ) masihmenjadipenarisisiadalampencalonarangan yang dapatdiartikanbahwasampaitahun 1906 ituBapak Mario belummengenaltarikebyardanberartibahwa gamelan gong kebyarbelumadapadatahun 1906 itu. Menurut Colin McPhee dalambukunya“ Musik in Bali ” adamenyebutkanbahwauntukpertamakalinya gamelan gaongkebyardiperdengarkandidepanumumadalahpadabulanDesember 1915 dimanaketikaitutokoh-tokoh gong Bali Utara mengadakankompetisi yang pertama kali untuk gong kebyar di Jagaraga. Colin McPhee sendirimengakuibahwaapa yang dikemukakanituadalahhasilinterviunyadengan A.A GdeGustiJelantikmantanRegenBuleleng( Colin McPhee, 1966 : 328 ). Apabiladiperhatikanbaik-baikapa yang dikemukakan Colin McPhee makaakannampakbahwatahun 1915 ituadalhsaatkompetisi yang pertama kali di Bali Utara yang menampilkanbentuk-bentukkekebyarandansudahtentusekaa-sekaa yang ikutambilbagiandalamkompetisiinisudahmenciptakanbentuk-bentukkekebyaransatuatauduatahunsebelumnyabahkanmungkinbeberapatahunsebelumnya. Adalahmustahilapabila gong-gong yang ditampilkandalamkompetisi di tahun 1915 denganmengambiltempat Di Jagaragaitumenciptakanbentuk-bentukkekebyaranbeberapa jam ataubeberapaharisebelumnya. Lain daripadaungkapan Colin McPhee inidapatdiketahuijugabahwadesaJagaraga yang selamainidianggapsebagaidaerahasalmulamunculnya gamelan gong kebyar di Bali Utara padatahun 1915 ternyatahanyadijadikantempatkompetisi gong kebyarpadatahun 1915 tersebut di atas. Berdasarkanapa yang dikemukakanoleh Beryl de Zoete, Walter Spies dan Colin McPhee diatasmakakiranyadapatditariksuatubataspemunculan gong kebyar di Bali yaknidiantaratahun 1906 sampaitahun 1915 dengan kata lain sesudahtahun 1906 dansebelumtahun 1915 dantempatpemunculannyapertama kali bukan di desaJagaraga.Setelahditelusurilebihmendalam, didapatkanlahbeberapa data yang dapatdijadikansuatupegangangunamengetahuiasalmuladaripada gamelan gong kebyarini.InformasipertamadatangnyadariBapak I NyomanRembangseorang guru karawitanpadaSekolahMenengahKarawitan Indonesia ( SMKI ) Denpasar yang dulunyabernama KOKAR Bali, mengatakanbahwaberdasarkanhasilwawancaranyadenganBapak I GustiBagusSugriwa yang berasaldaridesaBungkulanBulelengmengatakanbahwalagu-lagu gong kebyardiciptakanpertama kali oleh I GustiNyomanPanji di desaBungkulanpadatahun 1914 danketikaitudicobauntukditarikanolehNgakanKuta yang berdomisili di desaBungkulan. Informasiinimenunjukanbahwapadatahun 1914 di desaBungkulantelahdiciptakanlagu-lagukekebyaran.Hanyasajabelumdiketahuibagaimanabentuklagukebyar yang diciptakanketika di Bungkulanitudanbagaimana pula bentuk gamelan gong kebyar yang telahmenampilkan motif-motif kekebyaranitu.

2.3       Sekaa yang menjadipemilik gamelan tersebutsertanamapenabuhserta  pengurus

Pemilik Gamelan:

Br. Semaga, Penatih

NamaPengurus Dan Anggota:

  1. Wira 2. AdiWiguna 3. Edi arsana 4. Ekaputra DoniSantika 6. Hendra 7. Surya
  2. Trisnayasa 9. Herisantika 10. Ari Marta 11. Angga 12.Dwipayana 13. Budi Artawan
  3. GanesSwara 15. Tuagus 16.Buana Putra 17. PurnaWijaya 18. Puguh 19.gita suastika 20.Wika Juliarta 21.dika sanjaya.22 putrapangjaya 23.sandi

2.4       Aktivitas yang di lakukan

– Pernah mengikuti parade gong kebyar pada tahun lalu di kota denpasar

 

2.5       Proses latihan yang dilalukan

Jadwal latihan dilaksanakan dalam satu minggu dua kali

 

 2.6      Materi yang telah di kuasai

Tabuh :gajahnongklang , sekargadung ,buayamangap ,tabuhgilak ,tabuhgari

Tari :kebyarduduk ,gabor, baristunggal ,wirayuda ,tenun ,cendrawasih ,puspanjali

 

 2.7      Even yang pernahdiikuti

Pernah ngayah di PuraPenataran Agung danPuraDalemPenatih

 

2.8       Jenis-jenisinstrumenbesertafotodanfungsinya

–        Kecek/ ceng-cengrincik

Fungsinya untuk meramaikan irama pada sebuah gending

–      Gangsa/ pemade

Fungsinya memberi angsel dan motif-motif tertentu

–      Kantil/ pemade

Fungsinya memberi angsel dan motif-motif tertentu

            Jublag / pemangku

Fungsinya untuk sebuah irama pada gending

2.9       Kendala-kendala yang pernah dihadapi

  1. Penabuh kadang-kadang tidak datang tepat waktu

2.Pada latihan penabuh sering ngare datang dalam latian

     PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari Paparanataupenjelasan di atas, makapenulisdapatmenyimpulkanbahwasesuaidenganmakalah “PenggunaanBahasa Baku dalamjunalistik ” penulismenyimpulkanbahwabahasadalamjunalistiktidak di haruskanmenggunakansatubahasanamunbisajugadenganmamadukandenganbahsa lain namundenganpenggunaan yang tepat. Bahasa Indonesia dapat di kembangkandengan di padukandenganbahasamelayumaupunbahasaasing yang lain dalampenerapannya di duniajurnalistik

 

3.2 Saran

Menyadaribahwapenulissayamasihjauhdari kata kurangsempurna, kedepannyasayamenulisakanlebihfokusdan details dalammenjelaskantentangmakalah di atasdengansumber – sumber yang lebihbanyak yang tentungadapat di pertanggungjawabkan.

 

sejarah tari katekok jago

                                             Katekok Jago

TARI BARIS KATEKOK JAGO

PENDAHULUAN 

Salah satu bentuk Baris Wali tersebut adalah Baris Katekok Jago yang akrab disebut Baris Polengkarena kostum yang dipakai dominan hitam putih dan membawa tombak yang juga dicat hitam putih. Tarian ini merupakan tari tradisional yang langka karena hanya dijumpai di Desa Tegal Darmasaba (Badung) dan Tangguntiti (Kota Denpasar). Sebelumnya pernah ada di Tembaudan Begawan (Kota Denpasar). Baris Katekok Jago mempunyai fungsi ganda, selain sebagai sarana upacara Dewa Yadnya, juga sering dipentaskan untuk upacara Pitra Yadnya. Tarian tersebut bisa diupah oleh perorangan atau kelompok terutama untuk upacara yang tergolong utama, baik untuk Dewa Yadnya maupun Pitra Yadnya.

karena kostum yang dipakai dominan hitam putih dan membawa tombak yang juga dicat hitam putih. Tarian ini merupakan tari tradisional yang langka karena hanya dijumpai di desa Tegal Darmasaba (Badung) dan Tangguntiti (Kota Denpasar). Sebelumnya pernah ada di Tembau dan Begawan (Kota Denpasar). Baris Katekok Jago mempunyai fungsi ganda, selain sebagai sarana upacara Dewa Yadnya, juga sering dipentaskan untuk upacara Pitra Yadnya. Tarian tersebut bisa diupah oleh perorangan atau kelompok terutama untuk upacara yang tergolong utama, baik untuk Dewa Yadnya maupun Pitra Yadnya.
Tarian Baris terdiri dari sekitar 30 jenis, masing-masing memiliki tempat dan pakaian yang berbeda penggunaannya. Contohnya tari Baris Katekok Jago hanya ditarikan saat mengiringi pembakaran jenazah pada upacara Pelebon (Ngaben). Tarian ini ditarikan oleh 20 penari laki-laki yang sudah melakoni penyucian terlebih dahulu.

SEJARAH BERDIRI TARI BARIS KATEKOK JAGO

 Literatur tertua yang mengungkap tentang Baris adalah lontar Usana Bali yang menyatakan: setelah Mayadanawa dapat dikalahkan maka diputuskan mendirikan empat buah kahyangan di Kedisan, Tihingan, Manukraya dan Kaduhuran. Begitu kahyangan berdiri megah, upacara dan keramaianpun diadakan dimana para Widyadari menari Rejang, Widyadara menari Baris dan Gandarwa menjadi penabuh. Legenda Mayadanawa tersebut terjadi pada saatBali diperintah raja Sri Candrabhaya Singha Warmadewa sebagai raja keempat dari dinasti Warmadewa yang memerintah dari tahun 962 hingga 975. Dengan demikian dapat disimak bahwa pada abad X sudah ada tari Baris, namun bentuknya apakah sama dengan Baris upacara yang ada sekarang, memerlukan perenungan lebih mendalam.

FUNGSI TARI KATEKOK JAGO

 Untuk kepentingan upacara Pitra yadnya dan bahkan juga untuk upacara Dewa yadnya. Sebagian besar masyarakat menanggap tarian ini menjadi pengiring jenazah ke alam nirwana. Sementara tarian sakral itu lebih menonjolkan makna yang tersirat ketika para penari melakoninya.Para penari pun tak sembarangan menggerakkan tangan dan kakinya.

 

Struktur Pertunjukan :

 

1 Pelaku / Penari
Jumlah penari seluruhnya 20 (dua puluh) orang, semuanya laki-laki. Seperti halnya, di tempat lain, maka dari sejumlah penari tersebut dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, yakni : sebagian menjadi angsa dan sebagiar besar lainnya menjadi burung gagak.
Analisa penulis sendiri nama “Tekok Jago” berasal dari peran yang dibawakan oleh penari yang merupakan jenis burung dan unggas.

 

Tata-busana
Bhusana atau kostum yang dipergunakan pada waktu menari terdiri dari :
•Gelungan
• Celana panjang warna putih tetapi pada bagian bawahnya ada strip strip hitam putih (poleng).
• Baju lengan panjang : pada badan warna hitam putih kotak-kotak, lengan berwarna lurik (putih, kuning, hijau, dan hitam).
Kain Putih
Saput, warna hitam putih (poleng)
Saput, warna hitam putih (poleng)
• Badong; hiasan leher

 

Iringan
Tari Baris Tekok Jago di banjar Tengah, Tegal Darmasaba ini mempergunakan seperangkat gambelan gong kebyar. Kalau di Tangguntiti, maupun di Begawan Pedungah, dipergunakan sebagian kecil dari gambelan gong kebyar, di banjar Tengah ini dipergunakan hampir seiuruh instrumen, kecuali gambelan terompong.
Adapun jenis jenis gambelan / instrumen yang dipakai adalah :
1) Kendang 2 (dua) buah
2) Suling
3) Cengceng
4) Giying / pengugal
5) Pemade 4 (empat) buah
6) Kantil 4 (empat) buah
7) Jublag 2 (dua) buah
8) Kajar
9) Kenong
10) Reong
11) Jegogan 2 (dua) buah
12) Kempur dan gong
Sedangkan lagu-lagu yang dipergunakan adalah :
1) Lagu Omang
2) Lagu Barong
3) Lagu Kale
4) Lagu Pengeset Jauh luh

KESIMPULAN

Tari Baris Tekok Jago di desa Tegal Darmasaba merupakan tari upacara yang biasanya ditarikan untuk upacara Pitra yadnya (ngaben) maupun Dewa yadnya.. Karena tari ini merupakan tari upacara jadi tidak terlalu mementingkan dari estetika melainkan lebih mementingkan fungsinya. Ini terlihat dari gerak yang sederhana dengan tatabusana yang sederhana pula dan tidak memerlukan tempat pementasan yang khusus.
Kurangnya perhatian dari masyarakat menyebabkan regenerasi dari tari Baris Tekok Jago ini menjadi lambat. Hal ini juga disebabkan karena para penarinya merupakan pengayah (peletan) dari pura Dalem Gegelang.

OGOH-OGOH SOMYA RUPA

PENDAHULUAN

Nyepi berasal dari kata sepi(sunyi,senyap). Hari raya Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Dalam menyambut perayaan hari raya nyepi atau tahun baru caka, umat Hindu atau kushusnya warga Bali sudah mulai membuat ogoh-ogoh sekitar satu bulan sebelum tibanya hari pengerupukan. Tujuannya agar memperoleh hasil yang memuaskan karena dengan waktu yang cukup lama, pembuatan ogoh-ogoh tersebut bisa dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Ogoh – ogoh adalah sebuah patung yang dibuat dengan bahan tradisional, yang dibuat menyerupai butha kala. Adapun yang sering membuat menyerupai Dewa, atau seperti karakter lucu lainya. Diiringi dengan gambelan baleganjur, kemudian dibakar. Ogoh – ogoh merupakan cerminan sifat –sifat negatif pada diri manusia sehingga pengarakannya berbagai lokasi di sekitar banjar atau desa, yang melewati jalan – jalan utama sehingga tampak oleh semua warga banjar yang memiliki suatu makna tersendiri. Selain itu ogoh-ogoh diarak keliling desa bertujuan agar setan-setan yang ada di sekitar desa agar ikut bersama ogoh-ogoh, karena setan-setan tersebut menganggap bahwa ogoh-ogoh tersebut merupakan rumah merak dan kemudian ikut dibakar. Lain dengan Ogoh-ogoh yang berbentuk atau menyerupai dewa seperti ogoh-ogoh Narasinga. Bisa saja dibuat dengan tujuan untuk dinikmati keindahannya kemudian di pajang di tempat tempat tertentu atau bisa juga di jual ke peminat yang menginginkan. Seperti yang diketahui, Narasinga merupakan Awatara dari Dewa Wisnu yang turun ke bumi untuk menumpas kejahatan.

PEMBAHASAN

  1. OGOH OGOH SOMYA RUPA

ogoh-ogoh somya rupa merupakan Akibat dari kutukan dewa siwa kepada dewi parwati menjadi panca durga di setra gandamayu, suatu saat dewa siwa merasa rindu kepada saktinya dewi parwati. Karena dewi parwati berupa durga maka sang hyang siwa berubah wujud menjadi kala ludra maya untuk bisa bertemu dengan saktinya yaitu dewi durga. Akibat dari pertemuan senggama antara kala ludra maya dengan dewi durga maka lahirlah bhuta bhuti di setra gandamayu, di catuspata dan di bale agung. Bhuta bhuti inilah yang mengganggu atau merusak kehidupan manusia yaitu rakyat kerajaan medang kemulan. Raja medang kemulan dalem takipati merasa sangat sedih melihat rakyatnya dalam kesengsaraan ditimpa wabah penyakit (gering). Suatu saat raja memuja sanghyang tri semaya atas peristiwa tersebut. Sanghyang trisemaya pun bersabda menganjurkan sang raja melakukan yadnya berupa caru. Disaat itulah sanghayng tri semaya turun ke dunia menjadi bebalihan, brahma menjadi topeng bang, wisnu menjadi telek, iswara menjadi barong guna untuk menetralisir segala gangguan dari bhuta bhuti atau pengaruh negatif yang mengganggu kehidupan rakyat medang kemulan sehingga terciptanya suasa kehidupan manusia aman, damai dan sejahtera

BALEGANJUR YANG MENGIRINGI

Adapun gambelan baleganjur yang mengiringi saat pengarakan ogoh-ogoh di waktu malam pengerupukan. Disini kami menggunakan beberapa alat-alat gambelan diantaranya :

  • 2 kendang cedugan
  • 4 reong terompong
  • 10 ceng – ceng
  • 2 gong lanang wadon
  • 1 kempur
  • 2 tawa-tawa
  • 1 bende

Kami menggunakan tetabuhan secara cepat yang terdapat pada kekebyaran dan terdapat beberapa lagu jaipongan yang digunakan agar para pengarak ogoh-ogoh semangat saat mereka mengarak ogoh-ogoh. Kami memainkan gending dengan tempo yang cepat saat berada di setiap pertigaan jalan ataupun perempatan jalan karena disitulah para pengarak ogoh-ogoh akan memutar dan menarikan ogoh-ogoh dengan semangat. Saat di perbatasan desa, disitulah tempat terakhir pementasan kami dilakukan. Dari mulai dari tabuh pejalan saat ogoh-ogoh akan memasuki tempat pementasan, setelah itu memainkan gending kreasi sedikit hingga gending dengan tempo cepat saat detik-detik akhir pementasan. Setelah itu kami kembali menggunakan gending jaipongan dengan saat menuju tujuan akhir, yaitu kembali kebanjar masing-masing.

PERAN DAN KETERLIBATAN DALAM KEGIATAN

Banyak penabuh yang kami gunakan sekitar dua puluh satu, diantaranya dua orang pemain kendang, empat pemain reong, sepuluh orang pemain ceng-ceng, dua orang pemain gong dengan kempur, dua orang memainkan tawa-tawa, dan satu orang memainkan bende. Disini saya mendapat peran memainkan ceng-ceng. Seiring meainkan ceng-ceng. Selain itu, saya dengan dua teman saya, mencoba untuk membina teman-teman yang lain saat melakukan kegiatan latihan. Kami menggunakan tetabuhan/ gending-gending iringan yang sudah ada dari setahun yang lalu. Itu karena waktu yang kurang memadai akibat keikutsertaan para pemuda yang lain untuk membuat ogoh-ogoh. Dan para penabuhnya tetap dari penabuh-penabuh yang dulu. Kami bertiga mencoba menggunakan waktu singkat ini

KESIMPULAN

Dari kegiatan ini dapat di simpulkan bahwa, tradisi yang di warisi oleh leluhur patut kita lestarikan dan menjaganya agar tidak punah.Walaupun jaman sudah modern, dan juga tradisi sudah mengikuti jaman setidaknya kita tidak meninglkan pakem- pakem yang sudah ada sejak dulu. Seperti hanyal nya menggunakan bahan ramah lingkungan dan menggunakan gambelan baleganjur untuk mengiringi. Agar tradisi kita tidak punah, kita sepatutnya ikut serta turun kebanjar atau desa masing-masing untuk memberi semangat atau pengetahuan seberapa yang kita ketahui. Bertujuan untuk mempertahankan warisan budaya leluhur.

SUMBER YANG MENDUKUNG PAPARAN DI ATAS

  1. Narasumber ( I Wayan Dwija Putra )