Gebug ende

 

Musim kemarau kala itu di desa Seraya Karangasem belum berahir.Hujan yang dinanti-nanti berlum juga menunjukkan tanda-tanda akan turun.Bagi masyarakat di desa Seraya kondisi ini
sangat tidak menguntungkan.Mereka juga ingin merasakan tanah mereka diguyur hujan
meski berada pada daerah kering.Terutama bagi mereka yang berprofesi sebagai
petani.Tentunya masyarakat di daerah tersebut tidak akan tenang dan bissa diam dengan
keadaan seperti itu.
Ahirnya mereka melakukan suatu rapat untuk menjalankan suatu tradisi yang sangat sakral
yang mungkin dapat mengatasi masalah kemarau yang berkepanjangan.Dari hasil paruman
desa,tercetuslah ide untuk melaksanakan ritual yang bernama “GEBUG ENDE”. Gebug Ende adalah salah satu tradisi yang unik dan diyakini oleh masyarakat sekitar dapat
membantu masalah mereka mengatasi masalah kemarau yang berkepanjangan,tentunya
tradisi ini sudah berjalan lama secara turun temurun dan menjadi kepercayaan masyarakat
setempat.
1.Pengertian Gebug Ende :
Istilah Gebug Ende dikenal juga dengan nama Gebug Seraya.Gebug Ende berasal dari kata
Gebug dan Ende,Gebug berarti memukul dan Ende berarti alat yang digunakan untuk
menangkis (tameng).Alat yang digunakan untuk memukul adalah rotan dengan panjang
sekitar 1,5 centi meter hingga 2 meter.Sedangkat alat untuk menangkisnya terbuat dari kulit
sapi yang dikeringkan dan dianyam berbentuk lingkaran.Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa Tari Gebug Ende merupakan salah satu tarian/permainan yang menjadi tradisi
masyarakat Seraya yang dimainkan oleh dua orang lelaki baik dewasa maupun anak-anak
yang sama-sama membawa ende dan penyalin,dimana pemainnya saling memukul dan
menyerang.Tehnik yang dibutuhkan adalah memukul dan menangkis.
2. Sejarah Singkat Gebug Ende :
Konon zaman dahulu krama desa Seraya adalah prajurit perang Raja Karangasem yang
ditugaskan untuk menggempur atau menyerang sebuah kerajaan di Lombok Barat yaitu
Kerajaan Seleparang.Karena pada waktu itu orang” asli Seraya kebal(kuat) sehingga
dijadikan benteng oleh raja Karangasem sehingga Kerajaan Seleparang takluk terhadap
Kerajaan Karangasem.
Belum puas berperang menghadapi musuh dan smangat ksatria masih berkobar maka
bertarunglah dengan teman-temannya sendiri ,saling menyerang (memukul dan menangkis
dengan alat yang dibawa).Seiring perkembangan zaman maka terciptalah tarian/permainan
Gebug Ende yang secara turun temurun dapat dimainkan dan disaksikan hingga
kini.Tombak,pedang dan tameng yang digunakan pada zaman dahulu diganti dengan
peralatan rotan dan ende.
Selain itu Di Desa Seraya merupakan daerah kering dan disertai dengan musim kemarau yang
tak kunjung berahir.Hujan yang dinanti oleh masyarakat setempat belum juga menunjukkan
tanda-tanda akan turun.Sehingga dari hasil parum desa tercetuslah untuk melaksanakan ritual
memohon turunnya hujan yakni dengan mengadakan Gebug Ende.Menurut Kepercayaan
masyarakat tarian ini dianggap suci atau sakral,lebih-lebih disaat tarian/permainan
berlangsung salah seorang bisa memukul bagian tubuh lawan hingga mengeluarkan darah
maka akan cepat turun hujan.
3. Cara Memainkan Gebug Ende :
Areal Gebug Ende dapat ditentukan dimana saja asalkan medannya datar.Tidak ada ukuran
yang pasti untuk menentukan tempatnya namun disesuaikan dengan kondisi arealnya
saja.Sementara untuk menjaga keamanan pemain dari desakan penonton lapangan dapat
diberi pembatas seperti dengan tali ataupun bambu sebagai pagar pembatas.Sebelum
permainan dimulai para juru banten biasanya melaksanakan ritual permohonan berkat agar
permainan Gebug Ende ini dapat berjalan lancar dan memberikan kemakmuran bagi krama
Seraya pada khususnya.
Setelah persiapan rampung akhirnya permainanpun segera dilangsungkan.Pembukaan diawali
dengan ucapan selamat datang untuk para pemain dan penonton.Selain itu terselip pula
pembekalan bagi para pemain untuk selalu mengedepankan kejujuran dan
sportifitas.Tetabuhan gamelan menambah semarak dan khidmatnya permainan .Dua orang
wasit yang disebut saya (baca:saye) berperan sebagai peminpin pertandingan.Mereka inilah
yang mempunyai tugas untuk mengawasi permainan tersebut.Sebelum permainan mulai
saya(wasit) terlebih dahulu yang memperagakan tarian Gebug Ende tersebut dan
memberitahu uger-uger atau batasan yang harus ditaati oleh para pemain.Uger-uger tersebut
diantaranya :
Pemain hanya boleh memkul diatas pinggang sampai kepala.
Tidak boleh memukul di bawah pinggang sampai kaki.
Permainan dapat usai bilamana satu pemain terdesak.
Ditengah lapangan terdapat sebuah rotan digunakan sebagai garis batas yang digunakan
membagi lapangan menjadi 2 bagian.Kali pertama diawali dengan kelompok anakanak.
Tidak tampak ketakutan pada tubuh kecil itu,ende dan rotan pun ditarikan.Betapa
sakitnya apabila bekas cambukan tergores dibadan.Usai kelompok anak-anak,tibalah giliran
pria dewasa.Tidak ada perbedaan tentang tata cara permainan yang ada hanyalah kerasnya
pukulan dan kelihaian menangkis pukulan.
4. Tujuan Dari Gebug Ende :
Menurut bendesa pakraman seraya,selain melestarikan tradisi yang mesti diwarisi secara
turun temurun Gebug Ende adalah merupakan permainan/tarian sukacita penduduk desa
Seraya bertujuan memohon hujan kepada pencipta alam ini.Unsur olahraga sangat ditekankan
dalam permainan ini yakni kekuatan fisik untuk melakukan pukulan serta kelincahan untuk
menangkis.Selain Gebug Ende disakralkan tradisi ini juga diwariskan kepada generasi muda
sebagai tari perang.Sehingga pada tiap tanggal 1 Agustus kerap diselenggarakan untuk
memeriahan HUT RI.
5. Costum Pemain/Penari :
Ikat kepala (destar) warna merah,merah sebagai simbol keberanian
Kain/Kamben
Saput hitam putih (poleng)
Iringan Tari/Tabuh :
Satu pasang kendang cedugan
Ceng-ceng rincik
Tawa-tawa
Emat buah reong
Seruling
Dan kempur

Jegog Jembrana

Gamelan Jegog Gamelan Bali ini dalam sejarahnya diciptakan oleh seniman yang bernama Kiyang Geliduh dari Dusun Sebuah Desa Dangin Tukad Aya pada tahun 1912, demikian dikutip dari artikel blog Gambelan Jegog Kesenian Khas Kabupaten Jembrana, Bali.

Dalam artikel Jegog (Bali) | Budaya, disebutkan bahwa bahan gambelan ini terbuat dari bambu, biasanya dari tiing betung, tetapi ukurannya besar-besar. Di antara gambelan-gambelan Bali yang terbuat dari bambu, maka jegog inilah yang mempunyai ukuran paling besar, terutama bagian instrumennya yang disebut jegogan.

Gambelan ini disamping hanya dinikmati tabuh atau lagunya, juga berfungsi mengiringi tari khas daerah Jembana yang juga bernama Tari Jegog. Gerak-gerik tarinya banyak diangkat dari pencak silat. Tetapi akhir-akhir ini banyak dimasukkan tabuh-tabuh gong Kebyar untuk mengiringi tari kekebyaran.

Selain dari bentuk gambelannya yang lebih besar, hal lain yang membedakannya dari gerantang adalah posisi penabuh waktu memukulnya. Jika gerantang dipukul dalam posisi penabuh bersila, gambelan jegog dipukul sambil duduk di atas kursi karena ukuran selawahnya tinggi. Malahan yang betul-betul memberikan ciri khas cara menabuhnya adalah cara memukul instrumennya yang berukuran terbesar, yaitu jegogannya. Penabuhnya dua orang dengan jongkok bertengger di atas selawah bagian belakangnya.

Seorang memukul di sebelah kiri di daerah yang bilahannya bernada rendah dan seorang lagi di sebelah kanan yang bilahannya bernada tinggi. Masing-masing membawa panggul besar seperti pemukul gong yang karena berat dan besarnya digenggam dengan kedua tangannya. Sedang seorang yang di sebelah kiri memukul dengan cara “polos” dan yang di sebelah kanan dengan cara “sangsih”. Untuk instrumen yang lain seperti undir, penyacah, dan kantil sama seperti gerantang masing-masing oleh seorang penabuh.

Tiap-tia instrumen mempunyai jumlah bilahan yang sama, yaitu delapan buah. Larasnya adalah laras selendro, tetapi hanya memakai empat nada hingga memberi nada selendro dengan wana yang khas, yang berbeda dengan nada selendro dalam gambelan gerantang atau yang lainnya dengan sistem lima nada. Urut-urutan nadanya yaitu:

Satu barung gambelan jegog terdiri dari :

  • Kantil : tiga tungguh
  • Penyacah : tiga tungguh
  • Undir : tiga tungguh
  • Jegogan : tiga tungguh

Semar Pagulingan

       

 

“GAMELAN SEMAR PEGULINGAN”

 

 

Semar Pagulingan adalah sebuah gamelan yang dekat hubungannya dengan gamelan Gambuh, di mana ia juga merupakan perpaduan antara gamelan Gambuh dan Legong. Semar Pagulingan merupakan gamelan rekreasi untuk istana raja-raja zaman dahulu. Biasanya dimainkan pada waktu raja-raja akan kepraduan (tidur). Gamelan ini juga dipergunakan untuk mengiringi tari Leko dan Gandrung yang semula dilakukan oleh abdi raja-raja kraton. Semar Pagulingan memakai laras pelog 7 nada, terdiri dari 5 nada pokok dan 2 nada pamero. Repertoire dari gamelan ini hampir keseluruhannya diambil dari Pegambuhan (kecuali gending Leko) dan semua melodi-melodi yang mempergunakan 7 nada dapat segera ditransfer ke dalam gamelan SemarPagulingan.
Bentuk dari gamelan Semar Pagulingan mencerminkan juga gamelan Gong, tetapi lebih kecil dan lebih manis disebabkan karena hilangnya reong maupun gangsa-gangsa yang besar. Demikian bejenis-jenis pasang cengceng tidak dipergunakan di dalam Semar Pagulingan. Instrumen yang memegang peranan penting dalam Semar Pagulingan ialah Trompong. Trompong lebih menitik beratkan penggantian melodi suling dalam Gambuh yang dituangkan ke dalam nada yang lebih fix. Gending-gending yang dimainkan dengan memakai trompong, biasanya tidak dipergunakan untuk mengiringi tari. Di samping trompong ada juga 4 buah gender yang kadang-kadang menggantikan trompong, khususnya untuk gending-gending tari. Dalam hal ini Semar Pagulingan sudah berubah namanya menjadi gamelan Pelegongan. Instrumen yang lain seperti gangsa, jublag dan calung masing-masing mempunyai fungsi sebagai cecandetan ataupun untuk memangku lagu. Semar Pagulingan juga memakai 2 buah kendang, 1 buah kempur, kajar, kelenang, suling. Kendang merupakan sebuah instrumen yang mat penting untuk menentukandinamikadaripadalagu. Proses pelarasan gamelan semar pegulingan saih pitu (SPSP) Secara tradisi pelarasan gamelan SPSP dilakukan hanya dengan mengandalkan kepekaan telinga dan musical aesthetic. Oleh sebab itu pelarasan gamelan haruslah dilakukan dengan seksama.
Langkah pertama yang dilakukan seorang pande (pembuat gamelan)atau tukang laras gamelan adalah menentukan petuding. Petuding berasal dari akar kata “tuding” yang artinya tunjuk. Dengan demikian petudng atau artinya adalah petunjuk. Dalam kaitannya dengan pelarasan gamelan petuding ituberarti petunjuk nada. Petuding terbuat dari bambu, terbentuk segi empat panjang menyerupai bialh gangsa. Bahan yang dipilih untuk petuding itu adalah jenis bambu yang di bai disebut “tiing santong” dan “tiing jelepung”. Bahan petuding itu haruslah bamboo yang sudah benar-benar kering sebab dengan bamboo yang kering ini suara petuding yang nantinya akan stabil. Bambu yang kering sering didapatkan dari iga-iga dan tenggala (bajak). Setelah bahan petuding didapatkan langkah-langkah selanjutnya adalah, menentukan suaradari petuding itu sendiri. Untuk gamelan SPSP sumber dari sura petuding itu biasanya didapatkan melalui suling gambuhatau sering juga meniru dari gamelan SPSPyang sudah ada. Apabila suara petuding itu di ambil dari gamelan diambil dari gamelan yang sudah ada, maka proses ini disebut dengan istilah “nurun”. Dalam hal nurun, seorang pande biasanya mengandalkan kepekaan telinganya sendiri, tanpa bantuan alat-alat pengukur nada seperti misalnya sroboco TAHAP PELARASAN
Proses dalam pelarasan gamelan SPSP dimulai dengan melaras instrument yang berbilah. Pelarasan ini dikerjakan oktaf (pengangkep) demi oktaf dengan berpatokanpada petuding. Instrument pertama yang dilaras adalah jublag instrument ini dianggap sebagai starting point dari gamelan itu sendiri. Setelah jublag dapat dilaras dengan baik, maka pelarasan itu bisa  dilanjutkan ke pengangkep yang lebih rendah, yaitu jegogan, atau bisa juga ke pengangkep yang lebih tinggi mulai dari mulai dari pemade terus ke kantil. Perlu dicatat bahwa dalam pelarasan gamelan inihendaknya jangan dimulai jangan di mulai dri pengangkep yang lebih tnggiyaitu kantilan sebab kantilan itu memiliki frekuensi (getaran per’detik) yang paling tinggi dalam gamelan SPSP. Apabila pelarasan itu dimulai dari kantilan, biasanya tukang laras itu akan mengalami kesukaran untuk melanjutkan ke pengangkep yang lebih rendah.
Selain semua instrument yang berbemtuk bilah laras, maka dilanjutkan dengan melaras instrumen yang berpencol (pencon) seperti terompong, kempur, kemong. Klenang, dan kempyung. Biasanya instrument pencon yang dilaras untuk pertama kali adalah terompong. Dalam gamelan SPSP terompong itu pada dasarnya terdiri dari dua pengangkep (oktaf) sesuai dengan pengangkep jublag dan pemade. Jumlah pencom dalam tiap tungguh terompong biasanya bervariasi (17 pencon (gamelan SPSP kamasan), ada yang menggunakan 15 pencon (gamelan STSI), ada juga yang menggunakan 14 pencon (gamelan SPSP abian kapas kaja dan Puri Agung Gianyar). Enggan adanya perbedaan jumlah pencon itu maka cara penyusunan nada-nada pun ada variasinya, misalnya di kamasan klungkung nada terendahadalah nada 1, sedangkan nada tertinggi adalah nada 2. Di pagan nada terendah adalah nada 1, sedangkan nada tertinggi adalah nada 2,  di STSI nada terendah dan tertinggi adalah nada 1, di Puri Agung Gianyar dan Abian Kapas Kaja yang terendah adalah 1 sedangkan nada yang tertinggi adalah 7. Instrument terompong itu tidak dibuat dengan sistem “ngumbang-ngisep” oleh karena itu pelarasan terompong bisa mengikuti pengisep atau pengumbang. Kalau terompong itu dilaras sesuai dengan pengisep maka suara terompong itu tidak akan menonjol apabila seluruh instrument dalam barungan gamelan itu dimainkan secara bersama-sama. Suara dari terompong itu disebut dengan istilah “meplekes” sebaliknya apabiala terompong itu dilaras sesuai dengan pengumbang maka suara terompong itu akan sangat menonjol yang disebut dengan istilah “ngulun”

Gong Suling

Gong Suling pada dasarnya merupakan pengembangan dari Gong Kebyar, teknik tabuh yang digunakan hampir semuanya berasal dari Gong kebyar, hanya saja pembawa melodinya tidak lagi gangsa yang terbuat dari krawang melainkan sejumlah suling bambu dengan ukuran yang berbeda-beda. Gong Suling diperkuat dengan melodi bersifat unisono oleh ricikan rebab dengan memiliki dua utas dawai yang disebut wadon dan lanang. Terkait dengan fungsi suling dalam seni karawitan kebyar, hingga saat belum diketahui secara pasti kapan instrumen suling masuk sebagai bagian barungan gamelan tersebut. Munculnya gamelan gong kebyar sebagai salah satu bentuk ensambel baru dalam seni karawitan Bali pada abad XIX, tidak dijumpai adanya penggunaan suling dalam komposisi-komposisi kekebyaran yang diciptakan. Penyajian komposisi ”kebyar” yang dinamis, menghentak-hentak serta pola-pola melodi yang ritmis tidak memungkinkan bagi suling untuk dimainkan di dalamnya. kesenian ini adalah salah satu kesenian tua yang ada di kabupaten Jembrana. kesenian ini hanya ditampilkan pada saat ada upacara keagamaan saja. Namun dengan perubahan jaman, kesenian ini berubah menjadi sebuah seni umum yang dipertontonkan.

Sajian Gong Suling didominasi oleh suling. Diawali dengan ber­jajarnya para pemain suling dengan pemain Rincik, klenang dan klenyir di dalam sajiannya. Para pemain saling mengisi dalam sajian yang secara tidak langsung mengambil pola dari gong kebyar tersebut. Terjadinya per­kembangan fungsi suling tersebut merupakan salah satu fenomena yang sangat menarik dimana suling yang pada awalnya memiliki fungsi sekunder yaitu instrumen pendukung, berkembang menjadi instrumen primer yaitu instrumen utama.

Gamelan Gong Suling adalah barungan gamelan yang didominir oleh alat-alat tiup suling bambu yang didukung oleh instrumen-instrumen lainnya. Gamelan ini berlaraskan pelog lima nada.

Gong Suling pada hakekatnya merupakan pengembangan dari Gong Kebyar, tabuh – tabuh yang dibawakan hampir semuanya berasal dari Gong Kakebyaran, hanya saja pembawa melodinya tidak lagi gangsa yang terbuat dari krawang melainkan sejumlah suling bambu dengan ukuran yang berbeda-beda.

Salah Satu instrumen alam Gong Suling adalah terdapatnya suling bambu yang besar ukurannya. Panjangnya ada sekitar 35 inci dan berdiameter 1,7 inci. Wilayah nadanya lebih sedikit dari dua oktaf dan bermula pada nada B, di bawah nada C pusat. Ini adalah jenis suling vertikal dengan tiup ujung dan merupakan suling bass. Suling tersebut pada bagian bawah jika sedang dimainkan dalam kedudukan vertikal maka akan terbuka. Pada bagian bawah diraut atau diiris sedikit dari buku ruasnya. Lubang-lubang jari yang dinamakan song, terdapat pada bagian atas dari suling dan jumlahnya diselaraskan dengan tangga nada yang diperlukan. Ukuran suling pada kesenian Gong Suling yang panjang tersebut, mengharuskan pemainnya merentangkan tangannya dalam memainkan atau meniupnya dan ujungnya yang terbuka harus ditopangkan ke tanah.

Instrumen-instrumen yang digunakan dalam Gamelan Gong Suling ialah:

  1. 2 (dua) buah kendang
  2. 1 (satu) buah kajar
  3. 1 (satu) buah kemong
  4. 1 (satu) buah ceng-ceng kecek
  5. 1 (satu) buah gong pulu
  6. 1 (satu) buah kempur
  7. 2 (dua) buah suling berukuran kecil
  8. 4 (empat) buah suling berukuran sedang
  9. 4 (empat) buah suling berukuran besar.

Lagu yang dimainkan dalam Gamelan gong Suling terdiri dari:

Gending petegak

Gending petegak yang dimaksud ialah gending-gending yang disajikan secara instrumental. Garis yang tegas untuk menyatakan cirri-ciri ini memang belum mengikat dalam hubungan praktik karawitan dalam masyarakat luas dewasa ini. Pengaruh kreasi local dimana instrument yang bersangkutan hidup sangat sering mempengaruhi fungsi atau tugas-tugas dari sebuah ansambel/barungan gamelan. Gending-gending petegak ini disajikan saat-saat diadakannya upacara adat-keagamaan. Sering juga karawita tari disajikan sebagai gending-gending petegak.

Penyajian gending-gending petegak seperti disinggung diatas, bentuknya bentuknya termasuk jenis-jenis tabuh. Ada bagian-bagian tertentu cara memainkannya diulang-ulang dan bagian penghubung yang berfungsi sebagai perantara dari bagia-bagian yang dihubungkan. Bagian yang harus diulang tidak diharuskan dengan satu perhitungan pasti, tetapi tergantung berapa kali pemain ingin mengulang bagian tertentu itu, kemudian beralih dengan kode-kode tertentu dari satu atau lebih alat yang berfungsi mengendalikan irama (biasanya instrument kendang) dan yang mengendalikan melodi (biasanya instrument terompong) atau kalau tidak memakai instrument terompong biasanya yang mengendalikan melodi adalah instrument gangsa giing. Alat pengendali irama dengan pengendali melodi bekerjasama untuk memimpin tempo, dinamika, dan tujuan penyajian pada waktu lagu itu beralih. Demikian juga kerjasama antara kedua tugas alat pengendali irama dan pengendali melodi selalu dibutuhkan dalam menyelesaikan lagu.

Adapun tabuh petegak yang dimainkan dalam barungan Gamelan Gong Suling diantaranya:

  1. Sinom ladrang
  2. Lengker
  3. Sekar gadung
  4. Bapang gede, dll

Gending untuk mengiringi tari

Sistim penyajian gending-gending jenis ini disesuaikan dengan kepentingan penyajian tarian yang diiringi. Jumlah dan jenis gending-gending ini sangat banyak, sama banyak dengan jumlah dan jenis  tari-tarian yang ada. Hampir semua jenis barungan gamelan Bali dapat dipakai untuk mengiringi tari-tarian, kecuali barungan gamelan Gambang belum popular untuk kepentingan musik iringan tari. Dalam hubungan dengan gending-gending iringan tari, maka gending yang termasuk jenis gending pengilak memegang posisi yang menonjol. Sering juga beberapa jenis gending untuk satu iringan tari, meskipun dimainkan hanya dengan satu barungan gamelan saja.

 

TARI BELIBIS

TARI BELIBIS

Hasil gambar untuk TARI BELIBIS

Tari adalah keindahan expresi jiwa manusia yang di ungkapkan berbentuk gerak tubuh yang diperhalus melalui estetika. Dalam bahasa sansekerta, kata seni di sebut cilpa. Sebagai kata sifat , cilpa berarti berwarna , dan kata jadiannya su-cilpa berarti dilengkapi dengan bentuk yang indah atau dihiasi dengan indah. Sebagai kata benda ia berarti pewarnaan ,yang kemudian berkembang menjadi kekriaan yang artistic. Sayang sekali pengetahuan orang Indonesia akan budayanya sendiri sangatlah kecil.Maka dari itu dalam penulisan deskripsi ini saya akan mengulas sedikit salah satu tentang kekayaan budaya tari Indonesia . Sebut saja Tari Belibis namanya.

Bali sebagai tujuan utama wisata Indonesia tidak hanya menyediakan keindahan alam saja namun juga keindahan budaya  seperti tari-tarian.seiring perkembangan zaman , seni budaya tari mulai ditinggalkan . Masuknya budaya asing / baru ke zaman era globalisasi ini membuat seni tari menjadi sesuatu yang kurang diminati .

Tari Belibis berdasarkan pengelompkanya dimasukan kedalam “tari kelompok”, karena ditarikan lebih dari 3 orang penari. Tari ini merupakan tari yang berfungsi sebagai tari pertunjukan yang sengaja digarap untuk dipertontonkan kepada masyarakat luas, karena tari ini lebih menitik beratkan pada segi artistiknya, penggarapan koreografinya yang matang, serta memiliki tema dan tujuan yang jelas.

Tari kreasi baru ini, menggambarkan kecanitkan dan keindahan burung belibis yang dengan riangnya mereka menikmati keindahan alam sekitarnya. Tema tarian ini diambil dari ceritra Raja Angling Dharma yang dikutuk oleh istrinya yang sakti menjadi seekor burung belibis. Setelah Raja Angling Dharma menjadi burung belibis, ia kemudian melakukan pengembaraan untuk dapat bersua dengan kelompok burung belibis lainya. Kemudian ia melihat sekelompok burung belibis yang sedang bercanda dengan riang, lalu timbulah keinginanya untuk dapat bergabung dengan belibis – belibis itu. Tetapi pada saat Raja Angling Dharma mendekati sekelompok burung belibis itu, mereka tiba- tiba terkejut mendengar Raja Angling Dharma yang telah dikutuk menjadi belibis itu berbicara seperti manusia, sehingga mereka menolaknya untuk dapat bergabung dengan mereka. Sekelompok burung belibis itu kemudian pergi dan meninggalkan Raja Angling Dharma sendiri.

RAGAM GERAK DAN STRUKTUR TARI BELIBIS

 

Sebagai bagian dari seni pertunjukan, gerakan dari sebuah seni tari adalah unsure yang paling dominan dan menjadi media pertama yang mengungkapkan apa yang ingin disajikan. Tari Belibis sendiri mengoleksi gerak tari yang cukup kaya yang melibatkan gerakan kepala, leher, tangan, mata, dan kaki.

  1. Gerakan kepala dan leher bervariasiada gerak leher kekanan dan kekiri namun pandangan pandangan mata tetap mengarah kedepan( ngileg ). Ada gerak leher patah-patah kekanan dan kekiri, sementara arah pandangan dan mata mengikutinya. Ada juga gerak pacak gulu gagah yakni gerakan kepala menunduk sejenak yang didahului pandangan mata lalu kepala tegak kembali.
  2. Gerakan mata : gerakan mata dilakaukan tanpa menoleh, melirik seakan-akan melihat ujung alis ( nyeledet ).
  3. Gerakan tangan : Gerakan tangan adalah salah satu kekhasan tari bali ini. Saat ngagem kanan ditinggikan sejajar hampir dengan kepala dsn ditekuk sedikit yang mana jari-jarinya sampai pergelangan tanga ditekuk kebelakang. Sementara itu, tangan kiri hampir sejajar dengan pinggang d ditekuk sama dengan tangan kanan. Selain itu, ada juga gerak tangan lurus kebawah, agak miring sedikit ketika akan ngeseh.
  4. Gerakan kaki : awalnya gerakan kaki cukup cepat dan menjinjit. Beberapa variasi gerak kaki termasuk gerak kaki menyilang, gerak lompat dengan kaki ditekuk, terlebih dahulu dan kaki kanan bersimpuh saat kaki kiri ditekuk sampai kaki sejajar dengan lutut.

 

TATA BUSANA TARI BELIBIS

 

Tata busana merupakan salah satu unsur terpenting dalam pementasan tari.Dengan busana yang dikenakan pada saat pementasan tari akan mempertegas karakter yang diekspresikan oleh penari, memperindah penanpilan penari, sehinggaorang melihat / menontonya dapat membedakan suatu tarian yang satu denganyang lainnya. Berikut ini perlengkapan /aksesoris yang digunakan dalam tarian belibis yaitu:

 

  1. Di kepala aksesoris yang digunakan adalah gelungan
  2. Di telinga aksesoris yang digunakan adalah subeng.
  3. Di leher aksesoris yang digunakan adalah badong.
  4. Di badan aksesoris yang digunakan adalah kain, sabuk,selendang.
  5. Di tangan aksesoris yang digunakan adalah ampok – ampok pada pergelangan tangan dan pada lengan atas.
  6. Di pinggang sampai bagian bawah menggunakan kain songket.

 

Keunikan tata busana tarian belibis, karena tariannya menggambarkan kisah sekelompok burung belibis yang sedang menikmati keindahan alam sekitarnya yang kemudian di kejutkan dengan kedatangan seekor burung belibis lainnya yang ingin bergabung dengan mereka, karena belibis itu dapat berbi’ara seperti manusia akhirnya ia di tolak untuk bergabung. ( jalan cerita yang begitu menarik membuat tarian belibis ini semakin terasa indah untuk ditonton dengan paduan busana yang menarik.

 

 

 

PENCIPTA TARI BELIBIS

 

Tari belibis diciptakan pada tahun 1984 oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem (koreografer) dan I Nyoman Windha (komposer).

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. blogspot.com/2013/02/tari-belibis.htm
  2. babadbali.com/seni/tari/tl-belibis.htm