RSS Feed
Okt 18

SEJARAH KEBERADAAN GENDER WAYANG DI Br.WATES DESA DATAH KECAMATAN ABANG,KARANGASEM

Posted on Jumat, Oktober 18, 2013 in SEJARAH

PENDAHULUAN

Suluruh umat manusia di dunia pasti mempunyai yang namanya kepercayaan atau upacara keagamaan yang tentunya sudah berbeda antara satu dengan yang lainnya.dengan adanya upacara keagamaan tersebut sudah barang tentunya sangat erat kaitannya dengan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan upacara keagamaan masing-masing,seperti upacara keagamaan umat hindu yang khususnya di pulau yang terkenal denga pulau seribu pura-pura yang disebut dengan pulau Bali.

 

Keberadaan umat hindu di Bali di dalam kaitan dengan upacara yadnya sudah barang tentunya ada sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan upacara yadnya seperti diantaranya:

  1. Sarana dan prasarana bebantenan atau sesaji
  2. Weda atau mantra untuk menyampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa
  3. Tarian sebagai simbul atau wujud bakti kita kepada tuhan yang maha esa
  4. Kidung intung memuji-muji kebesaran tuhan
  5. Gambelan untuk mengiringi kelengkapan sarana dan prasarana kelengkapan upacara yadnya yang dilaksanakan

Mengingat betapa pentingnya ke lima dari sarana dan prasarana yang dimaksud maka,seharusnya seluruh umat hindu yang ada di bali melengkapi sarana dan prasarana di dalam kegiatan upacara yadnya tersebut,sehingga kegiatan upacara yadnya tersebut berjalan dengan sempurna dan di dukung juga oleh persembahan yang tulus ikhlas oleh semua umat Hindu.Diantara kelima sarana dan prasarana untuk melengkapi kegiatan upacara yadnya tersebut adalah gambelan yaitu Gender wayang.

 

Keberadaan gender wayang kerandan Banjar wates 

Foto0202

Menurut pendapat I MADE TUWEL gender wayang ini pertama kali dimiliki oleh pauman  (pauman adalah sejenis organisasi ke masyarakatan yang di himpun oleh anggota banjar) .Pertama kali pauman ini membeli dua buah gender yang besar di banjar Bau nama penjual tersebut yang bernama Bapak Rauh.Setelah gender wayang tersebut berada di pauman Banjar Wates lalu dibelikan lagi yang dua tungguh kecil dari gender wayang tersebut, dan akhirnya menjadi lengkap empat tungguh yaitu:satu pasang tungguh yang lebih kecil dan satu pasang tungguh yang lebih besar.Yang menbeli gender wayang tersebut ditenggarai adalah pengelingsir pauman waktu itu yang bernama kumpi Rame yang juga menjadi klian banjar dinas Wates.

 

Dari masa tersebut anggota pauman aktif belajar menabuh gender wayang,sehingga banyak lagu-lagu yang sudah bisa dimainkan seperti misalnya lagu sekar ginotan,gedebong basah,tulang lindung,pemungkah untuk lagu wayang kulit sebelum pentas,dan yang lain-lainnya. Dari masa kemasa akhirnya anggota pauman disana mulai berangsur-angsur melupakan gender wayang tersebut atau tidak ada yang melanjutkan mempelajari tetabuhan gender tersebut,perawatan gender tersebut diambil alih oleh Kumpi Karmi diantaranta manggurin,memperbaiki tali jangat,bilah atau daun gender dan yang lain-lainnya,boleh dibilang keberadaan gender tersebut dirawat oleh Kumpi Karmi yang merupakan keluarga dari keturunan I Nyoman Jelantik yang rumahnya deket dengan Pura Dadya ibu belodan.Lama – kelamaan gender itu tidak ada yang mengurus dirumah kumpi Karmi atau ditaruh sedemikian rupa  akhirnya gender itu  hilang dan tidak ada yang tau siapa yang mencurinya. Sehingga kumpi karmi menjadi bingung dibuatnya,karena memikirkan siapa yang menjadi dalang di dalam pencurian gender tersebut.Karena hilangnya gender wayang tersebut oleh pauman kumpi karmi dimintai pertanggung jawaban atau ganti rugi dengan ukuran uang yang bernilai sangat banyak oleh kumpi Karmi tidak bisa membayar nilai dalam hitungan uang gepeng yang cukup banyak pada waktu itu.

 

Dengan hilangnya ke empat instrument gender wayang tersebut ada pengelingsir yang bernama Kaki Senah keturunan dari pada Kaki Ketut Geledug mempunyai ide untuk dapatnya atau kembalinya gender wayang tersebut memohon bantauan kepada Kaki Abig yang merupakan seorang Balian (Dukun) yang sangat munpuni, keturunan dari PekaK Tedun yang berasal dari Banjar Tengah Desa Datah.Berkat usahanya dari Kaki Senah keberadaan gender wayang tersebut diketemukan tetapi tidak di informasikan siapa yang mengambil atau mencuri gender wayang yang sebelumnya pernah hilang.Agar bisa kembali gender wayang yang pernah hilang tersebut dengan syarat harus membayar tebusan dengan uang kepeng sebesar empat belas pusung uang kepeng Bali asli yang kalo dirupiahkan sekarang sebesar (14 x 5 = 70 gencet,harga per gencet Rp 400.000 x 70 = Rp.28.000.000).

 

Dengan adanya kembalinya gender wayang tersebut oleh Kaki senah kembali di tuntut KUmpi Karmi untuk membayar dalam bentuk uang kepeng sebesar empat belas pusung tersebut.Kumpi Karmi mau membayar uang tebusan sebesar yang di maksud yaitu empat belas pusung dengan syarat Kaki Senah mau menceritakan siapa dalang di balik pencurian atas hilangnya gender wayang tersebut.Dengan adanya permasalahan yang terjadi waktu itu kedua belah pihak baik pihak Kaki Senah maupun pihak Kumpi Karmi sama-sama mengadakan penyelidikan secara diam-diam denganm maksud dan tujuan yaitu supaya menemukan pencuri gender wayang tersebut.Ternyata setelah berbulan-bulan mengadakan penyelidikan kepada kedua belah pihak akhirnya pencuri gender wayang yang sempat hilang waktu itu adalah anaknya dari Kumpi Karmi,yang bernama I Gisu.Setelah kejadian tersebut bahwa di ketahuinya oleh kedua belah pihak bahwa pencurinya adalah anaknya dari Kumpi Karmi,pihak Kumpi Karmi sendiri tidak mau bertanggung jawab atau tidak menepati kesepakan  yang telah disepakati diantara kedua belah pihak yaitu pihak Kaki Senah dan pihak Kumpi Karmi.Dengan tidak bertanggung jawabnya pihak Kumpi Karmi dengan masalah kehilangan gender wayang ini meskipun gender wayang tersebut sudah kembali atau sudah ditemukan dan juga dari pihak Kumpi Karmi tidak bertanggung jawab  dengan adanya kesepakatan yang telah disepakati oleh kedua belah pihak,namun dari pihak Kaki Senah leggowo atau mengembalikan gender wayang tersebut ke organisasi pauman banjar Wates dengan tanpa syarat apapun.Pernyataan ini juga didukung/dibenarkan oleh kelian Kerandan yang bernama I Nyoman Loka seumuran dengan klian dinas Banjar Wates .

 

Dan pernyataan ini juga dibenarkan oleh pemangku Banjar Dinas Wates  yang mendapatkan informasi cerita tentang keberadaan gender wayang dari orang tuanya yang bekas kelian Banjar Dinas Wates lebih dulu dari I Made Tuwel,pemangku Banjar Dinas Wates ini bernama Jero Mangku Nyoman Berata.Dari kelegowoan Kaki Senah menyerahkan gender wayang ini ke organisai pauman yang waktu itu pauman ada anggota dari wilayah Teki namun dari pihak pauman sudah memberikan ganti rugi berupa uang kepada pihak pengelingsir Teki sehingga sisanya dari anggota organisasi pauman  merupakan anggota pemaksan kerandon Wates  gender wayang tersebut disepakati untuk di rawat oleh pemaksan/kerandan Wates, dengan tujuan dan maksud agar tidak ada kepakuman di dalam kepemilikan gender wayang tersebut.Alasannya adalah karena anggota pauman tersebut selain yang dari Teki (Teki sudah mendapatkan ganti rugi dalam berupa uang maka tidak berhak untuk memiliki lagi gender wayang tersebut) adalah murni anggota pemaksan kerandan Wates .Dikemudian hari atas saran dari pengelingsir/klian dusun Banjar Wates yaitu I Made Tuwel dan juga beberapa tokoh masyarakat yang juga membenarkan cerita dari I Made Tuwel untuk tidak mempermasalahkan keberadaan gender wayang masuk ke pemaksan /krandan Wates karena murni dari mulai jaman tersebut adalah dimiliki sah oleh pemaksan /kerandan wates,ini berdasarkan informasi dari pengelingsir yang tahu benar keberadaan gender wayang ini dan bisa dipertanggung jawabkan.

 

Harapan kedepan /pesan dari pada pengelingsir untuk tetap menjaga keutuhan gender wayang tersebut yang sudah pernah hilang dan dapat diketemukan kembali atas jasa pengelingsir Kaki Senah yang merupakan keturunan dari Kaki Ketut Gledug.Adapun untuk memperjelas sejarah keberadaan kembalinya gender wayang ini adalah sifat logowo dari Kaki Senah yang menyerahkan kepada organisasi pauman Wates dengan tampa syarat apapun,walaupun di pihak Kaki Senah banyak pengorbanan yang beliau keluarkan,diantaranya :

-         Pengorbanan materi/yang brupa uang kepeng sebanyak empat belas pusung

 

-         Pengorbanan moral dengan mengerahkan tukang atau telik sandi untuk mengungkap keberadaan gender wayang yang sebelumnya hilang,dan banyak lagi pengorbanan yang beliau keluarkan demi kembalinya gambelan gender wayang tersebut

 

Demi untuk menghormati semua pengorbanan beliau /Kaki Senah kita harus menjaga dan merawat keberadaan gender wayang tersebut dan tetap gender wayang tersebut hak milik sah pemaksan (Kerandan Wates).

Demikianlah seklumit tentang sejarah keberadaan gender wayang pemaksan /Kerandan Banjar Wates Desa Datah,kecamatan Abang,kabupaten karangasem,semoga berguna bagi para pembaca.

 

Informan : I Made Tuwel

Penulis      : I Nyoman Windu Laksana

Okt 18

BIOGRAFI DARI BAPAK I KETUT SUWECA (Alm) SALAH SATU SENIMAN ALAM DI BATUBULAN

Posted on Jumat, Oktober 18, 2013 in BIOGRAFI

IMG00569-20120708-0811Bermula dari desa terpencil di ujung barat Gianyar yaitu Desa Batubulan yang terkenal dengan berbagai macam keseniannya.Disanalah Telah terlahir  seorang anak laki – laki dari pasangan I WAYAN REGUG dengan NI WAYAN SUKUN yang notabene berdarah seni.

          Anak kecil yang lahir di banjar Denjalan,batubulan,sukawati,gianyar pada tanggal 31- desember -1952 ini  di beri nama I KETUT SUWECA seorang anak laki – laki lugu dan sederhana. Semasa hidupnya I KETUT SUWECA banyak menghabiskan waktunya dengan ngayah di Puri Batubulan , seperti mencari air ke sungai untuk di haturkan ke Puri  demi mendapat segenggam beras untuk kebutuhannya sehari – hari. Itulah masa – masa sulit yang di lakukan seorang anak I KETUT SUWECA.

Di samping itu karena pada jaman dahulu Puri sebagai barometernya seni tari atau tabuh , di sinilah timbul niat dari seorang Ketut Suweca  untuk belajar menari dan menabuh hanya dari sekedar  mengintib (melihat).Dan dari sinilah awal mula I KETUT SUWECA mengenal seni tari maupun tabuh yang di luar didikan orang tua, dengan kata lain I KT SUWECA belajar secara otodidak.

Beliau mulai sekolah pada umur 9 tahun di sekolah SR (Sekolah Rakyat). Karena tekanan – tekanan ekonomi beliau hanya sempat menganyam pendidikan formal sampai SR saja.

Seiring dengan waktu pengalaman belajar menari beliau juga dapatkan di banjar.kebetulan saat itu di banjar ada kegiatan belajar menari baris dari seorang maestro tari dari desa Batuan yaitu Bapak I NYOMAN KAKUL (alm).keseriusan pada saat itu pula Ketut Suweca mulai merasakan olah gerak tari yang serius dari sang maestro tersebut.

Hari demi hari telah di lalui oleh Ketut Suweca untuk belajar menari sampai beliau dapat menguasai semua tarian baris yang di ajari oleh sang maestro.di samping piwai menarikan tari baris,lama-lama beliau mulai belajar menari topeng,singkat waktu hampir semua tarian dapat dikuasai oleh beliau pula.Tak hanya disini,darah seni dari seorang Ketut Suweca terus menggebu-gebu yang pada akhirnya beliau berkeinginan belajar olah vocal (megending).mulailah Ketut Suweca berguru ke desa Singapadu tepatnya pada Bapak Wayan Griya (alm) bapak dari I wayan dibya . Pada seorang bapak wayan griya inilah Ketut Suweca banyak mendapat tehnik atau cara belajar megending yauitu gending penasar,dan tehhnik itu pula dipakai oleh Ketut Suweca hingga sekarang.

Disamping itu pula hal yang paling terlucu di alami oleh Bapak Ketut Suweca yaitu sering berendam di kubangan yang aliran airnya cukup deras,di situlah beliau berendam hingga keleher katanya untuk mendapatkan suara pecah dan itu beliau lakukan hampir setiap hari.

Hari demi hari telah dilewati oleh Ketut Suweca dalam menari dan belajar olah vocal terusik juga jiwa seninya untuk belajar melukis sendiri. Hingga dari belajar melukis itu, Ketut Suweca banyak menghasilkan karya – karya lukisan yang bergaya tradisional.  Itupun beliau lakukan semenjak itu hingga sekarang,dan banyak lukis-lukisannya dipajang dirumah sendiri.IMG01247-20130406-1148 IMG01252-20130406-1152 IMG01246-20130406-1147

 

Seiring perubahan jaman Ketut Suweca sudah mulai menari topeng ke seluruh polosok-polosok desa di bali hingga banyak masyarakat yg mulai mengenal sepak terjang beliau dalam melakukan aktifitas berkeseniannya.Cerita mulai terdengar dari mulut ke mulut hingga banyak masyarakat yang sering mintak menari di pura untuk mengiringi upacara agama.Sering beliau di minta untuk menarikan topeng pajegan di samping juga topeng prembon. Proses ini juga beliau lalui semenjak disuruh mengabdi di sekolah URIL atau di RRI sekarang.

Tanpa disadari pula beliau sering diminta untuk mengajar tari topeng,calonarang,arja,cak,dll.disamping itu pula beliau juga diminta untuk menari ke luar negri,seperti ke Jepang,Itali,Jerman,Canada,Belanda,Amerika.Pengalaman itu beliau dapatkan semenjak bergabung di sekhe gunung sari peliatan ubud.Sudah banyak Negara beliau kunjungi  untuk memperlihatkan kepiwaiannya dalam menari.Dari dinas kebudayaan gianyar beliau juga mendapatkan sebuah penghargaan yauitu “WIJA KUSUMA”.

Waktu demi waktu  hari demi hari telah dijalani oleh beliau dalam melakukan aktifitas menari,mengingat tanggung jawab beliau dalam menanggung keluarga satu istri dan lima anak.Siang malam beliau tak henti – hentinya disuruh menari oleh masyarakat demi kelangsungan hidup beliau dan kluarga.

Menyadari keadaan yang serba tidak menentu pada waktu itu,beliau memutuskan untuk tetap bekerja kesawah,walaupun hal itu sulit dilakukan ,karena beliau sadar seniman dan petani tidak bisa di pisahkan,karena kita tahu seorang seniman pedesaan tidak bisa hidup bila tidak dibarengi dengan kerja kesawah.Yang pada akhirnya itu beliau lakukan terpaksa hampir setiap hari.Sering pula disaat beliau menari arja atau drama gong yang setiap saat menghabiskan waktu sampai pagi,belaiu kadang-kadang langsung bekerja ke sawah,itupun beliau lakukan hampir setiap hari pula.Bertahun-tahun masa itu dilewatkan oleh beliau,tanpa disadari penyakit sudah mulai menggrogoti tubuhnya.Mengerti dengan keadaan pada saat itu beliau tidak pernah menghiraukannya.Mulailah Ketut Suweca menjalankan swadarmanya sebagai seorang seniman dan seorang anak petani walaupun dalam keadaan sakit,itulah perjuangan hidup yang dilakukan oleh beliau.

Tahun demi tahun beliau melawan rasa sakit walaupun beliau ada kegiatan menari semangatnya tidah pernak pudar,itupun masyarakat tidak pernah mengetahui jikalau pada saat itu beliau menari dalam keadaan sakit.Bertahun-tahun beliau menari sambil mellawan rasa sakit yang dideritanya,hingga ajal menjemputnya,dengan kata lain beliau telah dipanggil oleh yang maha kuasa pada tanggal 08-08-2012.pada saat itulah gianyar telah kehilangan maestro seni tari yang bernama Bapak I KETUT SUWECA  .

Demikian biografi I KETUT SUWECA ialah salah satu orang senimann alam yang ada di kabupaten gianyar. Dari cipta rasa dan karsa nenek moyang kita pada zamannya yang masih dapat bertahan dari terpaan gelombang peradaban manusia dalam rentan waktu yang cukup lama, dan ini hanya dimungkinkan oleh adanya suatu vitalitas nilai universal yang terkandung didalamnya dan terjalin erat dengan masyarakat pendukungnya. Apabila ada kesalahan yang kurang berkenan di hati para pembaca, saya minta maaf sebesar-besarnya. Sekian dan Terimakasih.

 

“ …SELAMAT JALAN SANG MAESTRO …”

Informan: I Made Mahardika

Jun 11

GAMBELAN GONG KEBYAR

Posted on Selasa, Juni 11, 2013 in Tak Berkategori

Gong Kebyar merupakan salah satu bentuk gambelan Bali yang menggunakan laras pelog lima nada (panca nada) dengan tahun kelahiran yang sama yaitu pada tahun 1915. Salah satu sebab munculnya gambelan ini yaitu adanya kebanggaan untuk “berkompetisi” dari masyrakat khususnya seniman Bali. Sejak pemunculannya gong kebyar telah mampu merebut hati masyarakat karena gambelan ini merupakan salah satu media yang dipergunakan oleh para seniman untuk mengungkapkan ekspresi estetiknya baik yang masih mengacu pada tradisi maupun yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu yang baru.
Gong kebyar ini pada mulanya berasal dari barungan gong gede yang terdiri dari lima bilah, namun sesuai dengan perkembangannya gong gede ini telah mengalami perubahan bentuk menjadi Gong Kebyar namun gending-gending tersebut tidak berubah ciri khasnya bila diperdengarkan dengan menggunakan gambelan Gong Kebyar. Suasana yadnya yang agung dan megah tetap terasa dan membawa orang akan terbayang dengan kedamaian.
Gong kebyar ditabuh untuk pertama kalinya menyebabkan terjadinya kekagetan yang luar biasa. Masyarakat menjadi tercengang dan ternak sapi yang sedang diikatkan di ladang dan di kandangnya terlepas dan lari tunggang langgang.
Kebyar adalah tabuhan bersama dan serentak yang diikuti oleh hampir semua tungguhan pada perangkatnya kecuali tungguhan suling, kajar, rebab, kempul, bebende kemong, kajar dan terompong. Bentuk kebyar merupakan salah satu bagian dari satu kesatuan gending yang letaknya bisa di depan, di tengah atau di bagian akhir. Jenis tabuhan kebyar ini sering digunakan pada iringan tarian maupun tabuh petegak (instrumental). Karena itu kebyar memiliki nuansa yang sangat dinamis, keras dengan satu harapan bahwa dengan kebyar tersebut mampu membangkitkan semangat.

Struktur Gong Kebyar
Gong Kebyar merupakan salah satu perangkat/barungan gambelan Bali yang terdiri dari lima nada ( panca nada ) dengan laras pelog, tetapi tiap-tiap instrument terdiri sepuluh bilah. Gong Kebyar bagi masyarakat Bali sudah tidak asing lagi, karena hampir seluruh desa maupun banjar yang ada di Bali memiliki satu perangkat/ barungan Gong Kebyar. Oleh karenanya gong kebyar menjadi satu barungan gambelan tergolong baru jika dibandingkan dengan jenis-jenis gambelan yang ada saat ini seperti misalnya, gambelan Gambang, Gong Gde, Slonding, Semara Pegulingan dan masih banyak yang lainnya.
Barungan gong kebyar terdiri dari :
- Dua buah (tungguh) pengugal/giying
- Empat buah (tungguh) pemade/gansa
- Empat buah (tungguh) kantilan
- Dua buah (tungguh) jublag
- Dua buah (tungguh) Penyacah
- Dua buah (tungguh) jegoggan
- Satu buah (tungguh) reong/riyong
- Satu buah (tungguh) terompong
- Satu pasang gong lanang wadon
- Satu buah kempur
- Satu buah kemong gantung
- Satu buah bebende
- Satu buah kempli
- Satu buah (pangkon) ceng-ceng ricik
- Satu pasang kendang lanang wadon
- Satu buah kajar

Bentuk dan gaya gong kebyar

Di Bali ada dua macam bentuk perangkat dan gaya utama gambelan gong kebyar yaitu gambelan gong kebyar Bali Utara dan gambelan gong kebyar Bali Selatan. Kedua gambelan gong kebyar ini perbedaannya terletak pada :
a. Tungguhan gangsa, Bali Utara bentuk bilah penjain dan dipacek sedangkan Bali Selatan menggunakan bentuk bilah kalorusuk dan digantung.
b. Gambelan Bali Utara kedengarannya lebih besar dari suara gambelan Bali Selatan, meskipun dalam patutan yang sama.
Dalam perkembangannya gong kebyar munculah istilah gaya Bali Utara dan gaya Bali Selatan, meskipun batasan istilah ini juga masih belum jelas. Sebagai gambaran daerah atau kabupaten yang termasuk daerah Bali Utara hanyalah Kabupaten Buleleng. Sedangkan Kabupaten Badung, Tabanan, dan lain mengambil gaya Bali Selatan. Disamping itu penggunaan tungguhan gong kebyar di masing-masing daerah sebelumnya memang selalu berbeda karena disesuaikan dengan kebutuhan maupun fungsinya.

Fungsi Gong Kebyar

Gong Kebyar berfungsi sebagai pembaharu dan pelanjut tradisi. Sebagai pembaharu maksudnya adalah lewat gong kebyar para seniman kita telah berhasil menciptakan gending-geding baru yang lepas dari tradisi yang sudah ada. Sedangkan sebagai pelanjut tradisi maksudnya adalah gong kebyar telah mampu mempertahankan eksistensi reporter gambelan lainnya melalui transformasi dan adaptasi.
Seperti apa yang telah diuraikan di atas bahwa gong kebyar memiliki fungsi untuk mengiringi tari kekebyaran. Namun sesuai dengan perkembangannya bahwa gong kebyar memiliki fungsi yang sangat banyak. Hal ini dikarenakan gong kebyar memiliki keunikan yang tersendiri, sehingga ia mampu berfungsi untuk mengiringi berbagai bentuk tarian maupun gending-gending lelambatan, palegongan maupun jenis gending yang lainnya.
Disamping itu Gong Kebyar juga bisa dipergunakan sebagai salah satu penunjang pelaksanaan upacara agama seperti misalnya mengiringi tari sakral, maupun jenis tarian wali dan balih-balihan. Karena gong kebyar memiliki multi fungsi maka gong kebyar menjadi sumber inspirasi karya baru. Dengan demikian Gong Kebyar telah berfungsi sebagai pembaharu dan pelanjut tradisi.

Apr 30

ensambel

Posted on Selasa, April 30, 2013 in Tak Berkategori

PENGERTIAN ENSAMBEL RINDIK

 

Rindik merupakan salah satu alat tradisional BALI yang di buat dari beberapa potongan bambu yang nadanya di buat secara merdu dan dinamis yang pada nadanya berdasarkan laras slendro.

Esambel rindik ini berfungsi sbagai mengiringi upacara pernikahan, resepsi, menabuh kehotel – hotel untuk mengiringi suatu toris mancan negara maupun lokal. Ensambel rindik ini juga berfungsi sebgai mengiringi tarian jogged bumbung. Tarian jogged bumbung ini biasanya di iringi oleh sepuluh atau dua puluh orang pemain gamelan atau penabuh. dan sebagai mana mestinya ensambel rindik ini sangat banyak fungsinya. Dengan itu saya akan membahas ensambel rindik sebagai fungsi untuk mengiringi  pernikahan, dan acara resepsi.

Fungsi rindik dalam suatu mengiringi acara pernikahan sebagai pelengkap suasana pernikahan dan membuat tamu-tamu undangan sangat nyaman dalam acara pernikahan itu dan membirikan gambaran suasana tenang dan bahagia di dalam suatu acara perikahan tersebut.

Fungsi rindik di dalam suatu mengiringi acara resepsi sebagai pelengkap suasana di dalam suatu kegiatan resepsi dan memberikan suasana tenang dan nyaman di saat para tamu-tamu menikmati suatu hidangan.

Sebuah ensambel rindik ini adalah sebuah alat musik yang bernuansa klasik dan kental dan penampilannya terlihat natural (karena berbahan dari bambu). Dan rindik ini sangat bersuara tenang dinamis dan merdu. Apabila rindik ini di mainkan dengan apik dan merdu akan terdengar sangat akur dan indah aplagi di saat sedang berduet dengan suling. Rindik ini di pukul dengan alat pemukul khusus rindik yang batang (katik) panggulnya terbuat dari fiber dan boleh juga di buat dari bambu , dan pangkal panggulnya terbauat dari kayu untuk pemegang panggulnya, sedangkan ujung panggulnya terbuat dari bahan karet bekas yang berbentuk bulat dan tebal. Maka dari itu rindik akan bersuara lembut dan klasik dengan memukulnya dengan alat pemukulnya khusus gamelan rindik. Kalu rindik di pukul dengan alat pemukul lainnya rindik akan mudah pecah dan menyebabkan menjadi suaranya rusak dan tidak enak didengar.

 

 

 

PENGERTIAN TATA CARA PEMBUATAN RINDIK

 

Gamelan rindik ini terbuat dari sebuah potongan-potongan bambu.

Sedangkan bambu yang di pakai adalah bambu yang berukuran  besar dan tebal,biasanya  dari sejenis bambu di sebut tiing petung.

Sebagai mana bambu untuk membuat suling dan sifat alami dari bambu itu, maka  bambu baru di tebang dan sudah cukup tua dan di keringkan dan jangan sampai pecah ada kalanya bambu di rendam beberapa hari di dalam air agar tidak lapuk di makan nyengat dan serangga lainnya.

Prinsip pembuatan bilahan rindik hampir sama seperti pembuatan bilah dari kerawang. Tinggi rendah nada rindik ini sesuai dengan tebal tipisnya  dari bambu, keadaan bambu dari pangkal batang bambu ke ujung bambu semakin menipis oleh sebab itu untuk nada-nada yang tertinggi di pakai bambu  dari bagian pangkal bambu dan nada-nada yang rendah di pakai dalam bagian ujung bambu. Hal lain yang perlu di perhatikan adalah waktu memotongnya hrus tertinggal minimal 2 buku bambu  di dalam ruas-ruas potongannya. Sebab batas ujung potongan harus terdiri dari buku atau ruas mata bambu. Selanjutnya berupa buku yang ada pada bilahan tersebut tergantung pada panjang pendeknya potongan bambu mungkin terdiri dari satu,dua atau tiga buku.

Gamelan rindik ada yang memakai resonator dan ada juga yang tidak. Yang memakai resonator ukurannya selawang, yaitu konstruksi penyangga gamelan itu tinggi, sedangkan yang tidak memakai resonator ukuran selawangnya rendah.  Seperti pada bilah gamelan kerawang , bilahan rindik bambu di lubangi pada dua ujungnya. Cara melekatkan kepada pelawahnya  di masing-masing “tungguh” yaitu konstruksi utuh dalam suatu wujud instrumen ada dua macam yaitu:

1, Dengan menempatkan lubang-lubang bilahan rindik pada paku-paku yang terpasang pada pelawahnya yang ukurannya sudah di sesuaikan dengan jarak dan besar masing-masing lubang bilahan.

2, Dengan mengikuti simtem pacek yang di terapak pada system gamelan gambang dan saron keduanya menghubungkan antara bilahan satu dengan yang lainnya dengan menggunakan tali. Tali itu di masukan pada lubang-lubang dan masing-masing di tahan atau di sekat dengan potongan kecil lidi atau bambu. Setelah kedua jalur tali baik di bagian ujung bilahan atau di bagian pangkalnya  terpasang baru di lekatkan pada pelawahnya.

 

Apr 30

TENTANG SAYA

Posted on Selasa, April 30, 2013 in Tulisan

 

Daftar Riwayat Hidup

Nama saya I NYOMAN WINDULAKSANA saya lahir di Denpasar,14-oktober-1994 .Saya bertempat tinggal di Br.Denjalan Batubulan,kec Sukawati ,kab Gianyar,prov Bali dan bernegara Indonesia.saya beragama Hindu,saya anak ke 3 dari tiga bersaudara dan nama orang tua saya I MD KAWI dan ibuk NI MD PURNIWATi.Hobby saya Seni dan Olahraga,di bidang seni saya byasaanya menabuh dan di bidaang olahraga saya senang bermain sepak bola .Pendidikn saya ,saya TK (Taman Kanak-kanak) di Tk Batabulan pada tahun 2000-2001 bertempat di Batubulan sesudah tamat TK saya melanjutkan ke sekolah dasar(SD) di SD Negri 3 Batubulan pada tahun 2001-2006.Sedikit pengalaman saya ketika duduk diwaktu SD,waktu SD sperti biasa saya brangkat skolah dengan berjalan kaki bersama teman-teman,sambil ngobrol gk jelas tak tau sudah sampai skolah.Sesampai sekolah saya biasanya sebelum mulai jam pelajaran saya bersama teman-teman kadang-kadang sempat bermainpetak umpet/segala permainan yg lain dan kadang juga pernah juga sampai dimarah guru karena sampai berkeringat dan kotor-kotoran,tetapi pada waktunya jam pelajaran mulai saya dan teman-teman semua masuk kelas untuk mengikuti pelajaran sebagai mana mestinya.Waktu itu juga pada saat saya duduk di bangku kelas 5 saya dapat ikut serta lomba dagongan mewakili skolah dalam kejuaran porseni di tingkat SD sedesa Batubulan.Selain itu pada saat saya duduk di bangku kls 6 saya dapat prestasi di bidang olahraga yaitu sepak bola.Dengan tidak sengaja saya dipilih dan saya juga mau bergabung ikut serta mewakili sekolah dan bergabung dengan seluruh sekolah SD lainnya yang ada di Batubulan khususnya.Ketika itu dapat meraih juara 1 di kecamatan dan sampai di kabupaten cuman bisa meraih juara 3,tetapi saya dan teman-teman tetap gembira walaupun kalah karena saking senangnya dapat pengalaman itu apalagi  yang namanya sampai meraih juara walaupun tidak semaksimal mungkin sperti yang diingin kan.Setelah tamat SD saya melanjutkan  ependidikan saya ke SMP dan saya SMP di SMP SILA CHANDRA BATUBULAN pada tahun2006-2009 disana saya melanjutkan pendidikan saya selama 3 tahun sampai tamat.Ada pula pengalaman saya waktu SMP tidaklah sangat jauh berbeda sperti biasa juga sekolah masih berjalan kaki bareng teman-teman.dan lainnya lagi saya dapat mengnal gambelan,dari sinilah saya ikut menabuh.Sebelumnya juga sudah mengenal gambelan pada saat duduk di bangku SD.Mungkin waktu itu saya belum pernah berkecimpung di gambelan,dan terus menerus saya jadi suka menabuh.sesudah saya tamat SMP saya melanjut kan ke SMA,saya SMA di Denpasar di SMA N 7 DPS pada tahun2009-2012 di sana saya juga melanjutkan pendidikan saya selama 3 tahun.disini pengalaman saya tidaklah banyak cuuman bedanya dari skolah berjalan kaki dan sampai SMA sudah bisa bawa motor.disini saya juga dapat pengalaman selain belajar yg sangat serius tapi tetap tidak hilang dari kesenian saya menabuh. sesudah saya tamat saya melanjutkan kuliah di ISI DPS  .