RSS Feed
Jul 8

TARI BARIS JANGKANG, KLUNGKUNG, NUSA PENIDA

Posted on Selasa, Juli 8, 2014 in Tak Berkategori

BARIS JANGKANG

Bali sebagai tujuan wisata tidak hanya menampilkan keindahan pantai, keindahan gunung, danau, air terjun atau wisata alam lainnya tetapi juga ada budaya dan seni nya. Wisata ke Bali pasti akan selalu mengasyikkan. Bali terkenal sebagai pusat seni. Salah satu seni yang paling menonjol di Bali selain seni patung/seni pahat adalah seni Tari. Membahas Seni Tari Bali hampir tak ada habisnya karena di Bali ada bermacam – macam seni Tari salah satunya adalah Tari Baris. Tari Baris ini adalah tari Bali yang menggambarkan ketangkasan pasukan. Sebagai tarian upacara, sesuai dengan namanya “Baris” yang berasal dari kata bebaris yang dapat diartikan pasukan maka tarian ini menggambarkan ketangkasan pasukan prajurit. Tari ini merupakan tarian kelompok yang dibawakan oleh pria. Ada banyak tari-tarian Baris yang masih ada di Bali, salah satunya adalah Tari Baris Jangkang. Sebagai tarian upacara, sesuai dengan namanya “Baris” yang berasal dari kata bebaris yang dapat diartikan pasukan maka tarian ini menggambarkan ketangkasan pasukan prajurit. Tari ini merupakan tarian kelompok yang dibawakan oleh pria, umumnya ditarikan oleh 8 sampai lebih dari 40 penari dengan gerakan yang lincah cukup kokoh, lugas dan dinamis, dengan diiringi Gong Kebyar dan Gong Gede. Setiap jenis, kelompok penarinya membawa senjata, perlengkapan upacara dan kostum dengan warna yang berbeda, yang kemudian menjadi nama dari jenis- jenis tari Baris yang ada. Tari-tarian Baris yang masih ada di Bali antara lain seperti Tabel 2.1:

Tabel 2.1. Jenis Tari Baris yang Ada di Bali

Baris Katekok Jago Baris Tumbak
Baris Dadap Baris Presi
Baris Pendet Baris Bajra
Baris Tamiang Baris Kupu-Kupu
Baris Bedil Baris Cina
Baris Cendekan Baris Panah
Baris Jangkang Baris Gayung
Baris Demang Baris Cerekuak
Baris Mamedi Baris Ketujeng
Baris Gowak Baris Omang
Baris Jojor Baris Kuning
Baris Tengklong Baris Kelemet

            Pada umumnya tari baris tersebut kebanyakan digunakan pada saat upacara keagamaan seperti upacara Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Bhuta Yadnya,Manusa Yadnya, Rsi Yadnya.

Gambar 2.1 Tari Baris Jangkang

Tari Baris Jangkang adalah sebuah tarian yang yang dipentaskan oleh sekelompok pria dewasa yang  ada di Desa Pelilit, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Tari Baris Jangkang sangat jauh berbeda, dengan tarian-tarian sakral lainnya. Dimana tarian ini memiliki nilai kesakralan dan unsur magis yang sangat tinggi. Secara keseluruhan, tarian ini melambangkan tentara kuno dari daerah-daerah terpencil di Bali. Para penari bergerak seperti tentara dalam koreografi yang militer di alam. Pada satu titik, mereka memanfaatkan tombak untuk membentuk sebuah garis pertahanan; di lain, para penari bertindak bersama-sama sebagai sebuah kekuatan ofensif. Ada juga saat-saat mereka membentuk dua kelompok dan mulai menyerang satu sama lain. Gerakan mereka dan gerak tubuh yang sederhana, mendasar dan langsung. Tarian ini di pentaskan ketika ada wabah penyakit di desa, masyarakat percaya bahwa hal itu dapat menangkis setiap wabah atau kekuatan-kekuatan jahat di desa. Lakon dari baris Jangkang yaitu Goak maling taluh, Buyung masugi.

Sejarah Tari Jangkang

Bali rupanya sejak dulu dikawal oleh para prajurit yang tangguh dan gagah berani. Bali Utara dijaga oleh pasukan yang siap siaga menyambut serangan musuh dengan presi atau tamiang. Bali Selatan dipertahankan oleh para prajurit bersenjata tombak. Bali Timur dibela mati-matian oleh pasukan rakyat dengan senjata gada. Bali Barat dikawal oleh para prajurit membawa pecut. Bali Tengah dijaga oleh pasukan tangkas membawa sanjata panah. Bahkan Pulau Nusa Penida juga ditakuti musuh karena memiliki pasukan bersenjata tombak panjang. Para prajurit patriotik tanah Bali itu masih eksis hingga kini. Para prajurit Bali masa lalu itu kini bermetamorfose menjadi puspa warna tari baris yang dipersembahkan dalam ritual keagamaan. Sebuah upacara ngaben besar di Singaraja lazim disertai dengan penampilan tari Baris Presi. Ketika piodalan penting di pura-pura besar di Denpasar selalu diikuti oleh penyajian tari Baris Gede. Ritual bayar kaul di kalangan masyarakat Nusa Penida, Klungkung, akan terasa mantap bila disertai dengan suguhan tari Baris Jangkang. Pada jaman kerajaan Klungkung ada seseorang yang berasal dari Dusun Pelilit Nusa Penida yang di anggap sakti bernama (I Jero Kulit) kesaktiannya terbukti membuat tirta dengan memanah batu. Sebagai pasukan kerajaan Klungkung tugasnya adalah memberi makan babi. Tempat makanan babi itu berupa besi yang berbentuk gong.

Suatu hari Jero Kulit mencoba memukul tempat makanan babi (gong) ternyata mengeluarkan suara dasyat. Saat itu pula Jero Kulit ingin memiliki gong tersebut, tapi dia minta izin dulu sama raja. Dan raja pun tidak percaya. Pada suatu hari anak raja sakit dan Jero Kulit membunyikan gong tersebut dan saat itu pula anak raja bangun dan kembali sehat. Jero Kulit meminta gong itu dibawa ke Pelilit, raja pun mengijinkan asal si Jero Kulit membuat tari-tarian. Si Jero Kulit pun pulang.

Pada suatu hari gong dibawa ke kebun (jurang rumput) di wilayah Pelilit. Pada saat itu kelian banjar mengetok kentongan karena di datangi musuh dari Desa Tanglad dan Desa Watas di suruh datang ke bale banjar dan mempersiapkan senjata. Tempa perangnya di perbatasan jurang kumut, perang pun segera di mulai Jero Kulit membunyikan gong tadi karena dasyatnya musuh melihat tanaman ilalang bergerak seperti senjata dan musuh berlari dengan jengkang-jengkang maka Jero Kulit membentuk tari jangkang. Setelah berbentuk tari berubah menjadi kempul.

 

Fungsi Tari Baris Jangkang

            Sebelum dideskripsikan fungsi Tari Baris Jangkang, dibawah ini akan dideskripsikan fungsi umum tari Baris. Fungsi umum tari Baris adalah sebagai berikut:

1)      tari baris yang berfungsi sebagai upacara Dewa Yadnya ini banyak jenisnya. Biasanya pada upacara ini, tari baris merupakan simbul widyadara, apsara sebagai pengawal Ida Batara sesuunan turun ke dunia pada saat upacara piodalan (odalan) di pura bersangkutan dan befungsi sebagai pemendak (penyambut) kedatangan beliau. Pada upacara ini tari baris biasanya disertai tari rejang yang ditarikan oleh beberapa dara manis sebagai simbul widyadari, apsari yang memberikan keindahan suasana turunnya Ida Betara Sesuunan.

2)      Tari baris yang berfungsi sebagai prasarana upacara Pitra Yadnya adalah sebagai simbul para widyadara menjemput roh (atma) orang yang meninggal untuk diajak menuju tempat yang abadi.

3)      Tari baris multifungsi. Di Nusa Penida tari baris jangkang digunakan untuk bermacam – macam upacara keagamaan baik itu upacara dewa yadnya maupun upacara pitra yadnya bahkan pada upacara bhuta yadnya pun penduduk di sana menggunakan tari baris tersebut. Di dalam pecaruan di lautan pun mereka menggunakan tari baris jangkang seperti yang pernah ditayangkan TVRI Studio Denpasar beberapa waktu yang lalu. Hal ini dapat kita maklumi bahwa di dataran Nusa Penida hanya terdapat satu jenis tari baris selai tari baris tunggal dan baris melampahan yang bersifat sebagai hiburan.

4)      Tari baris berfungsi sebagai penolak bala, sampai saat ini hanya satu jenis tari baris yang dijumpai sebagai sarana penolak bala dan wabah penyakit, yaitu tari baris cina. Oleh karena peranannya sebagai penolak bala dan wabah penyakit, maka baris cina sering disebut ratu tuan sama seperti sebutan barong dan rangda.

5)      Tari baris yang berfungsi sebagai hiburan biasanya tanpa melalui proses penyakralan. Kemungkinan hanya memohon taksu (charisma) agar tari baris tersebut laris atau banyak penanggapnya. Tari baris ini biasanya sebagai pertunjukan untuk menghibur masyarakat antara lain : baris tunggal, baris melampahan, baris masal, baris bandana manggala yudha, dan baris buduh.

Fungsi Tari Baris Jangkang yang ada di Nusa Penida adalah sebagai berikut;

1)      Menyembuhkan orang sakit

2)      Mengabulkan permintaan agar mempunyai keturunan atau bayar kaul.

3)      Melindungi Desa.

Kostum Tari Jangkang

Kostum yang digunakan oleh penari Tari Baris Jangkang sangat sederhana yaitu terdiri dari tongkat seperti tombak dengan hiasan benang tridatu, kamben cepuk, kain, baju dan celana panjang putih, selendang kuning, putih, dan udeng/destar batik. Tombak memiliki makna kesiapan dalam melawan kejahatan dengan hiasan tridatu yang berarti kekuatan Tri Murti (Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa).

Tombak ini seperti pada cerita sejarahnya bahwa ilalang berubah menjadi senjata tombak. Kamben cepuk merupakan kain khas tenunan yang berasal dari Nusa Penida. Kamben ini dipercaya sebagai simbul penolak bala, karena dalam motif dan warna kain yang digunakan melambangkan symbol tri murti. Selendang kuning yang digunakan melambangkan symbol Dewa Mahadewa penguasa arah mata angin barat, baju dan celana panjang putih perlambang kesucian dan juga penguasa arah mata angin timur. Udeng/destar batik melambangkan kesederhanaan dan perlambang aneka warna sebagai symbol Dewa Siwa.

Gambar 2.2 Kostum Penari Tari Baris Jangkang

Iringan dan Instrumen Musik Tari Baris Jangkang

Iringan musik yang digunakan untuk Tari Baris Jangkang ialah berupa balaganjur. Balaganjur adalah pengiring prosesi yang paling umum dikenal di Bali. Hampir dapat dipastikan bahwa setiap prosesi membawa sesajen ke pura, atau melasti (mensucikan pusaka / pratima), atau upacara ngaben akan diiringi oleh barungan yang sangat dinamis dan bersemangat. Instrumen yang digunakan pada Tari Baris Jangkang di Desa Pelilit Nusa Penida yaitu kendang (lanang dan wadon), cengceng, tetawe, gong, kempul, bonang.  Kendang berfungsi sebagai pemurba irama (mengatur irama gending). Tetawe  berfungsi sebagai pemeganga tempo dan pada bagian tertentu memberi ilustrasi dan aksentuasi sesuai dengan pupuh kekendangan.  Ceng-ceng berfungsi sebagai instrumen yang dianggap peramu atau pemersatu instrumen lainnya sekaligus juga memberi aksen berupa angsel bersama kendang. Cengceng dimainkan secara kakilitan atau cecandatan, dengan pola ritme yang bervariasi dari pukulan besik atau negteg pukulan “telu” dan “nenem” di mana masing-masing terdiri dari pukulan polos (sejalan dengan mat), sangsih (disela-sela mat), dan sanglot (di antaranya). Reyong menjadi satu-satunya kelompok instrumen pembawa melodi. Sebagaimana halnya cengceng, reyong juga dimainkan dalam Balaganjur terdiri dari Gilak yang dimainkan dalam tempo cepat atau sedang dan pelan.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah dan pembahasan maka dapat disimpulkan hal-hal berikut.

1)        Tari Baris Jangkang adalah sebuah tarian yang yang dipentaskan oleh sekelompok pria dewasa yang  ada di Desa Pelilit, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung yang memiliki nilai kesakralan dan unsur magis yang sangat tinggi. Tarian ini melambangkan tentara kuno dari daerah-daerah terpencil di Bali. Para penari bergerak seperti tentara dalam koreografi yang militer di alam. Lakon dari baris Jangkang yaitu Goak maling taluh, Buyung masugi.

2)        Nama Tari Baris Jangkang berasal dari larinya musuh (desa Watas dan Tanglad) dari Jero Kulit (desa Pelilit) dengan berlari jengkang-jengkang setelah melihat ilalang berubah menjadi senjata seperti tombak yan kemudian dibentuk menjadi Tari Baris Jangkang karena melibatkan barisan pasukan.

3)        Fungsi Tari Baris Jangkang yang ada di Nusa Penida sebagai sarana dalam upacara menyembuhkan orang sakit, mengabulkan permintaan agar mempunyai keturunan atau bayar kaul, dan melindungi desa.

4)        Kostum yang digunakan oleh penari Tari Baris Jangkang sangat sederhana yaitu terdiri dari tongkat seperti tombak dengan hiasan benang tridatu, kamben cepuk, kain, baju dan celana panjang putih, selendang kuning, putih, dan udeng/destar batik.

5)        Iringan musik yang digunakan untuk Tari Baris Jangkang di Desa Pelilit Nusa Penida ialah berupa balaganjur, dengan instrumen yaitu kendang (lanang dan wadon), cengceng, tetawe, gong, kempul, bonang.

Dalam pembahasan tentang tari Jangkang diharapkan agar kita mampu mempelajari jenis-jenis tarian yang ada di Nusantara, tidak hanya di dalam wilayah atau daerah setempat serta mampu ikut dalam pelestariannya.

Sumber:

http://blog.isi-dps.ac.id/komangsuryawan/

http://taribali.blog.com/2012/11/27/seni-tari-baris-jangkang-di-bali/

Jul 8

Wayang Kulit Bali Bertahan dalam Tradisi, Bergerak Menghadapi Globalisasi

Posted on Selasa, Juli 8, 2014 in Tak Berkategori

Wayang Kulit Bali

Bertahan dalam Tradisi, Bergerak Menghadapi Globalisasi

 

                    Terima kasih sebesar besarnya saya ucapkan kepada I Dewa Ketut Wicaksana SSP.Mhum. dan I Made Sidia SSP.Msn selaku penulis dan peneliti yang mengizinkan saya untuk mengangkat artikel ini untuk kedepanya dapat di publikasikan dan di gunakan sebagai sebuah reverensi bagi dunia pedalangan khusunya bagi dalang-dalang muda yang akan menjejaki dunia pedalangan di era moderen seperti saat ini.

Mencermati kondisi masa kini, para dalang di Bali mencoba berusaha mempertahankan habitat kesenian wayang dengan daya kreativitasnya mencoba berinovasi dengan hal-ihkwal yang berbau kekinian dengan pertimbangan bisa eksis. Mereka berhasrat menumbuh-suburkan kegairahan wayang agar tidak tercerabut bahkan punah dari generasi kini yang sudah tak lagi meliriknya. Namun, ketika ia berinovasi atau memunculkan pembaharuan-pembaharuan, dibalik itu muncullah pro dan kontra. Beberapa seniman konservatif memandang bahwa pertunjukan wayang kulit sudah sempurna, tidak perlu dikembangkan lagi dan cukup dilestarikan saja, akan tetapi naluri kreatif yang tumbuh pada sebagian seniman (khususnya dalang) masih terus berkembang dengan menyajikan karya-karya inovasi.

Masalah perkembangan pertunjukan wayang pada hakekatnya meliputi tiga komponen yaitu, konsep estetis, teknik kesenian, dan kelompok sosial yang merupakan wadah dimana seni pertunjukan wayang berada (Soetarno, 1999: 2). Konsep estetis adalah nilai-nilai keindahan yang menjadi dasar dari suatu ekspresi pertunjukan wayang, serta yang dianut oleh bersama oleh para dalang maupun anggota masyarakat pendukung pewayangan. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa nilai-nilai estetis dalam pakeliran sangat terpelihara dan dihormati serta diterima oleh para dalang dan para pengamat atau pendukung pakeliran wayang. Kedua, bahwa perkembangan dunia pewayangan dalam kondisi masyarakat yang bersifat kota yang akan menuju ke masyarakat industri diperlukan teknik berkesenian yang tinggi, atau yang rumit/canggih (sophisticated), artinya teknik kesenian yang tidak membodohkan masyarakat bangsa. Misalnya mulai dari pemilihan tema lakon, penggarapan detail jalannya cerita, garapan isi, iringan pakeliran, tetikesan/sabet dan sebagainya. Teknik yang maju tentu akan memerlukan pemikiran yang matang, fantasi yang hidup, perasaan yang kaya dan intuisi yang tajam. Ketiga, adalah golongan sosial yang menjadi pendukung kehidupan pewayangan. Suatu kesenian sebagai pranata sosial tidak hidup di awang-awang tetapi ada golongan yang menjadi pendukung, pembina, dan penggerak sekaligus sebagai konsumen (ibid, 4-9).

Analogi dengan hal tersebut di atas, akan dicoba diamati ketiga konsep itu, atas perkembangan wayang di Bali yang dilakukan oleh seniman-seniman dalang dalam rangka berinovasi dan bereksperimen untuk menggali, melestarikan, dan mengembangkan wayang, serta bagaimana respon masyarakat pendukung kesenian adhiluhung ini. Tulisan kecil ini akan dicoba mengamati wayang tradisi sebagai upaya pelestarian, kemudian akan dibahas inovasi pewayangan yang dilakukan oleh seniman dalang untuk mengembangkan khasanah genre wayang dan model-model lakon yang bisa ditransformasikan dalam seni pewayangan. Dan ditelaah pula eksperimen-eksperimen pewayangan untuk menggali kemungkinan-kemungkinan garap sebagai sebuah proses kreatif akibat dari penemuan baru dalam bidang teknologi.

II. Pakeliran Tradisi, Inovasi, dan Eksperimen

Wayang Tradisi

Seni pedalangan dan jagad pewayangan begitu dikenal sebagai salah satu bentuk kesenian tradisional, yang bersumber dan berakar dari nilai-nilai moral budaya para leluhur, serta telah dirasakan sebagai milik bersama masyarakat pendukungnya. Bentuk garap jenis kesenian tradisional ini didasarkan pada cita-cita masyarakat meliputi, tata nilai, pandangan hidup, filosofi, rasa estetik, etika dan ungkapan-ungkapan lingkungan hidup tertentu sesuai dengan lokal genius yang menopangnya. Selanjutnya dituangkan ke dalam format seni pewayangan sebagai wahana simbolik pendukungnya, oleh Ernest Cassirer seperti dikutip Kasidi menyebutnya sebagai human simbolicum (1999: 2). Bentuk pakeliran tradisi di Bali dibedakan menjadi dua jenis yaitu, wayang lemah dan wayang peteng. Wayang lemah adalah pertunjukan wayang kulit yang diselenggarakan pada siang (lemah) hari, seiring dengan penyelenggaraan upacara, karena fungsinya sebagai bagian upacara ritual keagamaan (panca yajnya).[2] Sedangkan wayang peteng adalah pertunjukan wayang kulit yang diselenggarakan pada malam (peteng) hari, setelah penyelenggaraan upacara ritual selesai yang fungsinya sebagai tontonan dan tuntunan. Sarana/perlengkapan wayang lemah lebih sederhana yakni, batang pisang (gedebong) dipasang sedemikian rupa tanpa kelir (layar) hanya dibentangkan seutas benang (tukelan) dililit mata uang kepeng bolong (China) diantara cabang kayu dapdap (erythrina indica). Dalang beralaskan tikar duduk bersila dengan iringan gamelan gender dua/empat orang. Jenis wayang ini sering disebut wayang gedog, hal ini diduga karena ceritera yang dibawakan seorang dalang hanya “satu babak” dan tidak sampai berakhir/tuntas (sering disebut apalet). Berbeda halnya dengan wayang peteng yang memerlukan persiapan lengkap baik tempat pentas (panggung) sarana, maupun pendukung (crew) lainnya. Tradisi pertunjukan wayang di Bali masih dipegang teguh oleh dalang-dalang di pedesaan seluruh Bali oleh karena bentuk kesenian ini secara estetik dan ritual masih terkait erat dengan kehidupan sosial masyarakatnya. Kaidah-kaidah pakeliran tersebut di atas pernah menjadi dasar ekpresi pertunjukan wayang pada pertengahan abad XX.

Wayang Inovasi

Daya kreativitas atau inovasi dalam pengembangan pewayangan di Bali telah mengejawantah kedalam dua cara yakni, menambah perbendaharaan jenis-jenis wayang kulit, dan memodifikasi bentuk dan cara tradisi (Bandem dan Sedana, 1993: 20). Dua puluh tahun terakhir ini telah muncul bentuk-bentuk wayang kulit baru selain wayang kulit ramayana; wayang kulit parwa (Mahabharata) antara lain, wayang kulit arja, kemudian disusul munculnya wayang kulit tantri, wayang kulit babad. Ketika wayang arja diciptakan oleh I Made Sidja (67 tahun) pada tahun 1976, tentu baginya mudah mewujudkan hal-hal baru dalam seni karena ia memiliki kemampuan lebih, dalam hal ikhwal berkesenian (khususnya Bali). Berangkat dari respon kreatif dan dimotivasi oleh state (atas dorongan Listibiya Gianyar dan Propinsi Bali), Sidja berimajinasi atas dasar keyakinan tiga hal yakni, melestarikan, menggali, dan mengembangkan seni budaya dengan mentransformasikan dramatari Arja kedalam wayang kulit seutuhnya. Maka jadilah wayang hasil ciptaannya “arja wayang”, karena baik prototipe wayang, iringan (gamelan geguntangan), vokal (tembang/ pupuh), antawacana (bahasa Bali), termasuk struktur dramatik mendekati sama dengan dramatari Arja. Sidja mampu membawakan semua peran/tokoh pearjan dan menembangkan lagu (pupuh) dengan iringan gamelan geguntangan, yang berbeda dalam satu kemasan wayang kulit dan hal tersebut belum pernah dilakukan oleh dalang-dalang lainnya di Bali.

Dalang I Wayan Wija (50 tahun) ketika menciptakan wayang tantri pada tahun 1988, berawal dari keinginan menampilkan khasanah yang berbeda dari bentuk pewayangan yang sudah ada. Lebih jauh ia ingin memvisualisasikan ceritera tantri (Tantri Kamandaka) yang banyak berkisah tentang tabiat/perilaku hewan dan binatang. Dalang Wija sepertinya berjodoh dengan satwa (ceritera) tantri, karena ia bisa bebas berkreativitas diluar norma pakem pewayangan tradisi yang ketat. Dalang Wija diakui memiliki kemampuan lebih, selain suara/tembang (vokal) sangat empuk dan memikat serta kemampuan tetikesan (Jawa: sabet) sangat terampil. Figur-figur wayang tantri garapan Wija sepintas tak jauh beda dengan wayang kulit tradisi Bali lainnya, hal itu disebabkan ia masih tunduk dengan pola wayang tradisi dan tidak berani berinovasi terlalu tajam, serta mengkawatirkan dapat cemohan dari masyarakat pencinta pewayangan. Hal ini disebabkan norma-norma dalam seni tradisional lebih ketat dari seni modern, selain itu individu-individu kreatif tidak pernah dapat membuang begitu saja warisan budaya yang masih hidup, karena masih relevan sebagai titik tolak untuk menciptakan bentuk-bentuk yang baru (Murtana, 1996: 62-63). Diiringi instrumen gamelan palegongan, sajian Wija semakin menarik dan asyik ditonton, karena gamelan ini berlaras pelog memungkinkan ia bisa bebas berolah vokal tidak seperti gamelan gender dengan laras slendro untuk bervariasi tandak (gending) sangat terbatas. Namun demikian, dalang Wija masih patuh dan mengikuti struktur pertunjukan wayang konvensional. Dalang Wija mendapat predikat I dalam festival Wayang Kulit Ramayana se-Bali tahun 1982. Berkat kepiawaiannya itu, ia beberapa kali diundang pentas “ngwayang” ke luar negeri antara lain, Amerika Serikat (1982), Jepang (1983). Wija yang sempat mengajar di SMKI/SMK3 (1984-1990) dan STSI Denpasar (1990 – 1999), ia juga turut misi kesenian pada Asia Pacific Festival di Vancouver (1985). Pada tahun 1992 dia tampil di India dan melanjutkan perjalananya ke Amerika bergabung dengan Mabou Mimes Theatre Company. Wija bertemu dengan dalang asing Larry Reed (AS) lantas berkolaborasi menggarap wayang raksasa dengan kelir lebar dan tata cahaya listrik yang kemudian disebut wayang listrik.

Pada tahun 1988, khasanah pewayangan Bali bertambah lagi ketika muncul jenis wayang yang baru mengambil lakon legenda dari sejarah Bali yang dinamakan wayang babad. Diketahui bahwa, ada dua orang kreator yang sama-sama ngripta wayang babad dan sekaligus menjadi dalangnya yakni, I Gusti Ngurah Seramasemadi, SSP. (44 tahun) dari puri Saba, Blahbatuh (Gianyar), dan I Ketut Klinik (47 tahun) dari Sukawati, Gianyar. Prototipe wayang kulit babad yang diciptakan oleh kedua seniman tersebut di atas, satu sama lainnya ada perbedaan dan persamaannya. `Gung Seramasemadi menatah wayang dengan muka atau wajahnya menghadap kedepan serta kedua matanya kelihatan mirip lukisan klasik wayang gaya Kamasan (Klungkung). Tata busana dan mahkotanya (gelungan) sangat realistis, menyerupai busana raja-raja Bali atau tata busana adat Bali. Sedangkan Klinik menggarap tatahan wayangnya dengan memodifikasi atribut patopengan dengan memasukkan sesaputan sebagai ciri khas dramatari topeng dalam tata busana wayang, sehingga sekilas mendekati bentuk-bentuk wayang parwa/ramayana. Walaupun perbedaan bentuk wayang keduanya sangat menonjol, namun ada bagian yang sama antara kedua kreator ini, seperti terlihat pada bentuk tangan dan kakinya sama dengan bentuk wayang kulit Bali. Pada akhir tahun 1999, Dinas Kebudayaan Bali memprakarsai penyebaran wayang “anyar” ini lewat parade wayang kulit babad se-Bali.

Wayang Eksperimen

Memodifikasi bentuk-bentuk penyajian wayang kulit Bali sebagai sebuah eksperimen, pertama kali dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa pedalangan dari ASTI/STSI Denpasar yang menempuh ujian akhir (TA). Semua lulusan di lembaga tinggi seni tersebut diharuskan membuat karya komposisi seni baik Jurusan Tari, Karawitan, maupun Pedalangan. Tahun 1988, penulis bersama I Ketut Kodi (angkatan I, S1 Pedalangan) menggarap bentuk revolusioner dalam pewayangan Bali bernama pakeliran layar berkembang dengan judul Anugrah, mengambil lakon Arjuna Tapa (kakawin Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa). Pada dasarnya garapan tersebut menitik-beratkan pada proses ceritera, teknik penggarapan ruang dan waktu termasuk penciptaan suasana dengan membangun layar/kelir yang sangat lebar untuk ukuran wayang tradisi disertai penerangan lampu elektrik. Istilah “berkembang” lebih berkonotasi kuantitatif artinya, mengembangkan, membesarkan, dan meluaskan seni pewayangan. Eksperimen pakeliran ini bertujuan untuk mengembangkan kreativitas untuk mewujudkan pembaharuan dalam seni pertunjukan wayang tradisi dengan membesarkan volume penyajian, meluaskan wilayah pengenalan pakeliran wayang kulit (Kodi, dan Wicaksana, 1988: 1-2). Secara bentuk, pengembangan pakeliran jenis ini menggunakan aparatus yang lebih besar lagi dengan digunakannya kelir besar dan lebar (berukuran 5,5 x 3 meter), wayang-wayang dengan ukuran besar dan tinggi (berkisar antara 50 cm sampai 1,15 cm), penggunaan cahaya listrik lewat media overhead proyektor; follow sport dan sport light, iringan non-konvensional (gamelan gong gede) dengan 35 orang penabuh, beberapa orang penggerak wayang (12 orang), dalang (3 orang dalang laki-laki dan 1 orang wanita), dan gerong/sinden. Secara isi, pakeliran layar berkembang memadatkan struktur lakon untuk kepekatan alur dramatik dengan penekanan pada aspek ruang, suasana, waktu, tokoh, tema, dan pesan yang hendak disampaikan. Pakeliran layar berkembang menjadi perintis/pionir model penggarapan wayang oleh mahasiswa Jurusan Pedalangan STSI/ISI Denpasar dikemudian waktu.

Perkembangan eksperimen yang paling mutakhir dalam pewayangan Bali adalah digunakannya teknologi komputer dan laser compec disc (LCD) untuk memproyeksikan wayang-wayang dan background atau diorama seperti hutan, istana, tempat ibadah (pura), taman/kolam dan lain-lainnya. Bentuk eksperimen pakeliran ini dilakukan oleh dosen dan mahasiswa Pedalangan STSI Denpasar ketika perayaan Siwaratri di lapangan Puputan Badung, Denpasar pada Selasa, 12 Februari 2002. Dengan kelir lebar khusus yang terbuat dari bahan plastik berukuran 8 x 4 meter dipasang mirip layar tancap dengan melibatkan crew berjumlah 75 orang, cukup berhasil menyedot ribuan penonton sampai subuh. Ide ini muncul dari keinginan untuk mengakomodir berbagai kemampuan, pengalaman dan keterampilan yang dimiliki kalangan para dosen, mahasiswa dan alumnus Pedalangan STSI/ISI Denpasar. Kemampuan mereka bersinergi satu dengan yang lainnya dalam satu sajian yang bertajuk pakeliran layar lebar dengan lakon khusus Lubdaka, berkisah tentang kematian seorang pemburu bernama Lubdaka, rohnya mendapatkan sorga karena tanpa sengaja ia jagra/suntuk pada malam Siwarartri (Kakawin Siwaratrikalpa karya Empu Tanakung).

Karya-karya eksperimental yang dipersembahkan oleh para insan dalang akademis, menunjukkan bahwa pertunjukan wayang kulit Bali sudah ditumbuh-kembangkan dalam dua aspek yakni, aspek isi dan bentuk. Aspek isi, dikembangkan dengan mengadakan penafsiran kembali terhadap plot/pembabakan ceritera-ceritera wayang yang sudah umum dikenal, sehingga dapat disusun struktur narasi baru dari lakon-lakon tradisi. Penyusunan narasi ini sudah barang tentu akan diikuti oleh perubahan alur dramatik, dan urutan pepeson (struktur pertunjukan). Dengan cara-cara seperti ini akan muncul teknik-teknik baru dalam pertunjukan wayang yang belum lazim dalam penyajian tradisi. Sebagai contoh, penggunaan teknik kilas balik (flash back) – dalam pewayangan tradisi, kilas balik biasanya hanya diceriterakan oleh para panakawan, tetapi dalam karya inovasi sering digarap keduanya baik wacana maupun visualnya. Pengembangan aspek isi, juga dilakukan dengan cara mementaskan ceritera-ceritera baru yang tidak terdapat dalam repertoar tradisi wayang seperti, lakon Dalem Dukut, maling sakti, sengit Grigis (babad); kamandaka (tantri); bandana pralaya (sejarah Bali); luh mertalangu (panji); Gadjahmada (sejarah Jawa); dalang buricek, murwaka bhumi, muktipapa (tokoh-tokoh bangsa/masyarakat) dan lain-lainnya. Aspek bentuk, terjadi pada teknik penyajian dan perubahan aparatusnya. Salah satu teknik yang paling menonjol ialah, adanya kecendrungan untuk memperkaya dimensi pewayangan dari dua menjadi tiga dimensi, termasuk penggunaan aparatus yang lebih besar seperti, pemakaian layar/kelir lebar, wayang besar, tata lampu modern, ansamble gamelan non-konvesional, dekorasi panggung, scenery, computer, LCD, gerong/sinden, dan jumlah dalang lebih dari satu orang sekaligus. Dengan kondisi seperti ini, peluang untuk memperbaharuhi teknik pementasan wayang kembali semakin bertambah dan berkembang. Konsep-konsep pembaharuan yang mendasari karya-karya/ garapan seni kampus menunjukkan adanya kelentikan, kebebasan, dan kreativitas, sehingga ciri-ciri ini identik dengan sifat kampus sebagai lingkungan dimana kebebasan mimbar-akademik menjadi ciri utama (Rustopo, 1991: 1).

III. Tantangan dan Strategi Wayang Kulit Bali pada Era Globalisasi

Meneropong masa depan kesenian wayang di dalam konteks arus globalisasi dewasa ini, menghadapkan kita pada berbagai panorama masa depan yang menjanjikan berbagai optimisme, sekaligus pesimisme. Optimisme itu muncul, disebabkan globalisasi dianggap dapat memperlebar `cakrawala` kebudayaan dan kesenian, yang kini hidup di dalam sebuah `pergaulan` global, sehingga semakin terbuka peluang bagi penciptaan berbagai bentuk, gagasan, atau ide-ide kebudayaan dan kesenian yang lebih kaya dan lebih bernilai bagi kehidupan itu sendiri. Akan tetapi pesimisme itu muncul, mengingat bahwa proses globalisasi dianggap tidak dengan sendirinya menciptakan pemerataan dan kesetaraan dalam setiap bentuk perkembangan, termasuk perkembangan kebudayaan dan kesenian (wayang).

Globalisasi sering diterjemahkan sebagai gambaran dunia yang lebih seragam dan terstandar melalui teknologi, komersialisasi, dan sinkronisasi budaya yang dipengaruhi oleh Barat. Oleh karena itu, globalisasi erat kaitannya dengan modernitas. Namun dalam perkembangannya, konsep globalisasi masih menjadi perdebatan karena dipahami secara bervariasi, karena setiap pakar mempunyai cara pandang dan argumentasinya sendiri tentang globalisasi. Menurut Jan Nederveen Pieterse, seperti dikutip M. Jazuli menyebutkan bahwa konsep globalisasi sebagai hibridisasi yakni budaya baru sebagai hasil saling silang atau pencangkokan dari berbagai budaya, transisi dari berbagai sumber budaya, dan pengemasan baru dari budaya lama (2000: 91-98). Analogi dengan hal tersebut di atas, ada masalah mendasar selain pergeseran nilai yang disebabkan oleh perubahan kondisi struktural, yakni semakin berkembangnya cara pandang dan kepentingan seniman (dalang) dalam kerangka global. Perkembangan tersebut terkait dengan ideologi seniman meliputi 3 (tiga) varian yakni, konservatif, progresif, dan pragmatis. Setiap kategori akan dilihat dari beberapa indikator yaitu, orientasi, format sajian, hubungan dengan penikmat, profesionalisasi, tantangan, dan strategi seniman (Jazuli, ibid).

Pertama, seniman (dalang) berideologi konservatif, cendrung berorientasi pada masa lampau dengan tujuan preservasi. Kelompok dalang ini mempunyai kepentingan untuk memperoleh prestise dengan format sajian pakelirannya masih tampak konservatif atau tradisional (relatif sederhana) dengan memanfaatkan teknologi yang relevan dalam jangkauan lokal. Posisi ini terjadi pada dalang tradisional (otodidak) yang banyak bertebaran di desa-desa di Bali. Dalang dalam hubungan dengan penonton sebagai akomodator yaitu, mengkomunikasikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan (sering ritual dan agama) serta menyesuaikan dalam kesatuan sosial (menghindari konflik). Tingkat profesionalismenya cendrung defensif, persaingan terjadi dalam tataran internal. Tantangan yang dihadapinya adalah tuntutan perubahan yang mengakibatkan krisis vitalitas dan intensitas, sedangkan jaringan (sistem) yang ada tidak berfungsi, tak mampu mengeliminasi keadaan. Adapun strategi yang dilakukan untuk mengatasi tantangan oleh kelompok dalang ini, di antaranya adalah tetap mengikuti konvensi yang berlaku, mengadakan kaderisasi (pembinaan) secara terus menerus, melakukan pergelaran secara rutin, dan memanfaatkan teknologi yang relevan. Positifnya, dalang-dalang konservatif yang banyak melestarikan keberadaan wayang kulit Bali sehingga bisa utuh sampai saat ini, seperti wayang parwa, wayang ramayana, wayang gambuh, wayang calonarang, dan wayang cupak.

Kedua, berideologi progresif adalah kategori seniman/dalang yang berorientasi masa depan, dengan tujuan menawarkan alternatif. Kepentingan dalang seperti ini adalah pengenalan dan reputasi. Munculnya wayang arja, wayang tantri, wayang babad, dan pakeliran layar lebar merupakan produk pakeliran dengan format sajian karyanya lebih bersifat inovatif dan hibrid. Format penyajiannya berbeda, namun prototipe wayangnya (kecuali wayang arja) mendekati sama dengan wayang tradsi karena berupa vokabuler yang bersifat konvensional, sedangkan yang baru adalah repertoarnya (lakon dan iringannya). Sekalipun penggagas genre wayang tersebut di atas (I Made Sidja, I Wayan Wija, dan I Ketut Klinik) adalah dalang otodidak, namun mereka itu adalah sosok seniman dengan wawasan sangat luas dan profesional, serta banyak bersentuhan dengan dunia luar. Kehadiran wayang itu mendapat sambutan yang sangat presentatif dari masyarakat Bali yang selalu respon terhadap kesenian tradisi yang inovatif. Tantangan yang dihadapinya adalah belum memiliki jaringan yang kuat, artinya belum banyak dalang di Bali yang menekuni jenis wayang tersebut, dan wilayah penyebarannya masih terbatas. Sekalipun state (Dinas Kebudayaan Propinsi Bali) memplopori dengan event festival wayang arja (1998), festival wayang tantri (1999), dan parade wayang babad (2000), namun ia hanya sebatas pengenalan. Hal yang sama juga terjadi pada penyajian pakeliran karya seniman akademis. Adapun strategi yang dilakukan untuk mengatasi tantangan tersebut, baik pemerintah maupun penggagas yakni proaktik dan kreatif, mencari alternatif lain atau penafsiran baru dari karya yang sudah ada. Hal itu dilakukan dengan cara mengadakan eksperimen secara terus menerus sebagai bentuk penawaran dari sejumlah kemungkinan, meningkatkan wawasan, menjalin dan membangun relasi, memanfaatkan berbagai kekuatan produksi (sumber daya manusia), serta berupaya menguasai teknologi yang ada.

Ketiga, berideologi pragmatis, dalang yang cendrung berorientasi masa kini. Kelompok seniman ini selalu mencari keseimbangan (moderat) dan melayani kepentingan serta selera massa/pasar (ambivalen). Adapun tujuan kelompok dalang moderat adalah prestise dan komersial, sedangkan seniman ambivalen adalah reputasi dan komersial. Format sajian (moderat dan ambivalen) cendrung glamor, spektakuler, sensasional, hibrid (pencangkokan berbagai unsur), asal beda, asal laku (Jazuli, op. cit: 99). Sekitar tahun 1970-an di Bali, sempat geger dengan kehadiran pakeliran gaya dalang I Ketut Rupik (70 tahun) yang disebut nyeleneh/soleh (lain dari kebiasaan/tradisi) dalam mementaskan wayang baik tempat pementasannya maupun tuturan/antawacananya. Rupik yang terkenal dengan julukan “dalang wakul”, adalah dalang otodidak namun melek dengan kondisi kini, penyajian pakelirannya teradopsi oleh aneka budaya dari pop hingga klasik. Rupik sadar bahwa, wayang sudah menjadi barang komoditi, maka ia melihat dan berfikir tentang gejala pangsa pasar, maka ia berusaha terus bersinggungan dengan budaya-budaya global yang sangat amat deras menjejali ruang dan waktu saat ini. Ia mengangkat isu-isu aktual disela-sela ceriteranya yang kontekstual dengan masyarakat penonton, maka sajian pakelirannya disebut `berita dunia II` setelah berita dunia pertama pada layar kaca (TV). Ia tidak menampik bahwa, sajian pewayangannya rada nyeleneh, mengeksploitasi sex dan humor, menyalahi pakem/wimba dan lain sebagainya. Baginya “biarkan anjing mengonggong kafilah tetap berlalu, yang penting penonton tidak berlalu” (Wicaksana, 1999: 1-3).

Dalang I Wayan Nardayana (39 tahun) yang dikenal `dalang Cenk Blonk` juga yang dianggap kesenian `ngepop` dalam tradisi pewayangan di Bali, karena pakelirannya dikemas ringan petuah/tutur dan lebih menonjolkan humor yang sifatnya menghibur. Sesungguhnya struktur pementasannya tradisi, namun yang membedakan adalah musik pengiringnya merupakan gabungan dari instrumen non-konvensional seperti, gamelan batel suling dipadu dengan gemelan gender rambat (unsur palegongan); cengceng kopyak (unsur balaganjur); rebab (unsur gambuh); dan kulkul bambu (unsur tektekan). Untuk mencapai kualitas sajiannya, ia merangkul seniman-seniman akademis ikut menggarap komposisi karawitan, panggung kelir dirancang knout down dengan ukiran kayu gaya Bali, efek sinar listrik, teknik tetikesan (sabet), dengan harapan pagelarannya menjadi semarak dan memikat. Tak cukup suara gamelan yang dipikirkan, ia memasukkan gerong (Jawa, sinden), suara vokal `chourus` yang ditembangkan oleh empat wanita sebagai fungsi narasi baik saat mulai pertunjukan (pategak/talu), adegan petangkilan (sidang), rebong (adegan romatis) tangis/mesem (sedih), dan akhir pertunjukan (ending). Yang menonjol penyajiannya, Nardayana mengangkat isu sosial aktual masa kini mendominasi gaya pakelirannya lewat tokoh rakyat bernama Nang Klenceng dan Pan Keblong, dua panakawan `sisipan` dengan dialek (logat/aksen) khas daerah Tabanan. Pada awalnya banyak mengeksploitasi humor yang bernada pornografi seperti halnya dalang Wakul pendahulunya, sehingga penonton hanya menanti-nantikan panakawan (Ceng-Blong) yang akan memainkan berbagai strategi humor semisal sex dan perselingkuhan. Namun begitu terkenal, ia tidak larut dan mulai mengurangi unsur pornografi dengan cara mengemas humor-humor isu sosial pilitik yang tengah aktual di masyarakat. Secara intensitas, ia melakukan sistem paket dalam kemasan penyajiannya, dengan struktur dan isi serta waktu yang ketat dan tepat. Maka tak heran Nardayana bisa pentas dua kali dalam semalam dan penonton selalu membanjirinya, terutama anak muda (Wicaksana, 2000: 61-63). Model yang sama juga dilakukan oleh `dalang Joblar` (I Made Nuada), dalang muda dari daerah Badung. Kehadiran kedua dalang muda berbakat ini dianggap sebagai kesenian pinggiran, sebagai media alternatif untuk menggairahkan kembali seni pewayangan di Bali yang lesu dan sepi penonton.

Mengamati penyajiannya, ada kecenderungan para dalang tersebut sangat kondusif dan sinergi yaitu, mengimbangkan antara tuntutan situasi dengan norma dan komitmennya, namun senantiasa merespon fenomena yang nge-trend, asal beda. Tantangan yang dihadapinya diantaranya, harus selalu mempertahankan vitalitas dan intensitas sesuai tuntutan, harus produktif dan menarik penggemar agar laku, piawai mencari dan mengantisipasi peluang pasar, menjalin relasi, dan memanfaatkan berbagai sumber kekuatan produksi. Strategi yang dilakukan oleh kelompok dalang ini adalah menjawab tantangan tersebut, terutama lewat pemanfaatan berbagai bidang keahlian serta memanfaatkan teknologi sesuai perkembangan jaman bagi proses produksinya. Sekalipun moderat dan ambivalen, mereka berkomitmen untuk tetap mengutamakan nilai keseimbangan, sambil melayani berbagai kepentingan dan selera pasar.

Wayang sebagai karya kolektif mempunyai hubungan dialektika antara tradisi, inovasi, partisipasi, dan profesi. Logika demikian menandakan bahwa keberadaan wayang dan dalang tak terlepas dengan bidang kehidupan lainnya. Dalam konteks kehidupan tradisional dapat dijabarkan sebagai berikut, (1) hubungan antara seni tradisi dan inovasi memerlukan pengaturan atau sistem manajemen; (2) hubungan antara inovasi dan partisipasi membutuhkan pengkayaan dan rekayasa; (3) hubungan antara partisipasi dengan profesi dijembatani oleh legalitas; (4) hubungan antara tradisi dengan profesi dimediasi oleh tatanan etis dan normatif; (5) hubungan antara tradisi dengan partisipasi memerlukan subsidi; dan (6) hubungan antara inovatif dengan profesi memerlukan proaktif dan kreatif. Penentuan tersebut didasarkan oleh berbagai faktor diantaranya adalah orientasi, tujuan, kemampuan memformat sajian, respons terhadap penonton (konsumen), profesionalisasi, tantangan yang dihadapi dan strategi untuk mengatasinya (Jazuli, op. cit: 100).

Terjadinya kolaborasi dan penggunaan teknologi modern dalam berkreativitas sebagai salah satu bentuk yang inovatif tidak mengurangi nilai yang dikandung oleh karya tersebut sebagai hasil karya cipta seni karena pedoman budayanya tetap berakar pada seni budaya Bali. Penggunaan teknologi modern dalam penggarapan atau penciptaan karya seni dianggap hanya sebagai salah satu elemen dalam memberikan suasana estetik terhadap karyanya. Dengan demikian penyelamatan dan pengembangan kesenian Bali memang menyatu antara kebutuhan masyarakat, pemerintah, dan konsumen seni di Bali. Menyatunya dukungan tersebut telah terbukti sampai sekarang Bali tetap dikenal oleh masyarakat dunia sebagai daerah seni yang memiliki aneka ragam kesenian dari yang berfungsi ritual dan seni yang bersifat hiburan sampai pada seni kontemporer (Seramasara, 2004: 88). Bila dicermati secara mendalam tentang aspek-aspek yang dimiliki oleh wayang sebagai sebuah wujud seni tradisi, ia mempunyai kekuatan spiritual (mental) maupun material (fisikal) yang merupakan kaidah-kaidah universal yang berlaku disemua bentuk ekspresi seni pertunjukan. Sebuah kekuatan lokal yang sangat efektif untuk bekal memasuki global village (desa global) maupun global culture (budaya global) (Bandem, 2000: 32-33). Wayang merupakan aktualisasi konsep kehidupan yang abstrak yang disajikan sebagai ajaran moral, oleh karena itu pakeliran yang banyak mengadopsi teknologi modern, diharapkan tetap mematri ungkapan nilai budaya lokal disamping informatif dan edukatif (identitas lokal, watak global).

Sebuah anjuran yang arif nan bijaksana dari Sri Hastanto mengatakan, Melihat globalisasi, industrialisasi, modernisasi sebagai suatu kesempatan bukan sebagai suatu ancaman. Bahkan kita harus menggunakan teknologi modern itu untuk wahana mempersiapkan calon-calon anggota masyarakat pewayangan itu untuk mengembangkan lembaga kritik pedalangan/pewayangan yang harus disosialisasikan secara nyata. Masyarakat kini sudah membutuhkan hal-hal yang membumi, yang riil, bukan sekedar hal-hal yang normatif saja (1998 : 6-8).

IV. Simpulan

Semakin besar minat untuk mengembangkan ide-ide pewayangan, maka semakin besar pulalah kepedulian seniman (dalang) menimbang aspek-aspek keindahan dan logikanya. Ide yang mengarah pada aspek keindahan, sekiranya sudah banyak diolah dalam struktur pertunjukannya, sedangkan dari aspek logika akan terwujud melalui kecendrungan meliput gejala-gejala sosial untuk diangkat dalam pakeliran. Munculnya lakon-lakon wayang yang bertemakan kerakyatan berpeluang besar menguak peristiwa aktual yang sedang dan akan terjadi pada masyarakat kini sebagai konskuensi globalisasi. Kekuatan yang ada pada seni pewayangan, telah memberikan nilai sejarah dan sumber penggarapan seni untuk dikembangkan sebagai kekayaan budaya yang dapat menata kehidupan masyarakat baik secara moral maupun material. Pengembangan seni pewayangan diharapkan akan tetap mempunyai arah karena memiliki pedoman budaya yang hidup dan dapat dijadikan sumber penciptaan atau penggarapan karya seni

Sebagai seniman, dalang memiliki posisi ganda, yakni sebagai aktor yang bermain dan sebagai agen yang berperan. Dalang sebagai aktor dapat berpikir dan bertindak atas kehendak bebas, sedangkan dalang sebagai agen selalu terkonstruksi oleh norma dan nilai tertentu dalam lingkungannya. Dengan kata lain, bahwa dalang bukanlah hamba struktur yang pasif melainkan agen yang aktif, karena setiap pilihan tindakannya melibatkan interpretasi kesadaran dan makna subyektif tertentu.


DAFTAR PUSTAKA

 

Bandem, I Made. “Melacak Identitas di Tengah Budaya Global”, dalam MSPI, Jurnal Seni Pertunjukan Indonesia, Th. X/2000,                                            Penerbit Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, Bandung, 2000.

 

______________ dan I Nyoman Sedana, M.A. Pertunjukan Wayang Kulit Bali antara Tradisi dan Inovasi, Makalah disampaikan                                    pada Sarasehan Nasional Wayang Kulit, Pesta Kesenian Bali XV, Denpasar, 1993.

 

Djelantik, A. A. M. “Peranan Estetika dalam Perkembangan Kesenian Masa Kini”, dalam Mudra, Jurnal Seni Budaya, No. 2, Th. II,                                       STSI Denpasar, 1994.

 

Hastanto, Dr. Sri. Wayang Kulit: Ke-Adiluhungan-nya, Profesionalisme, dan Prospek Masa Depan, Makalah disajikan pada                                     Sarasehan Wayang Senawangi, TMII Jakarta,1988.

 

Kasidi Hadiprayitno. Perkembangan dan Masa Depan Seni Pedalangan Gagrag Yogyakarta, Makalah disampaikan pada Sarasehan                                      Wayang Indonesia, Jakarta, 1999.

 

Kodi, B.A., I Ketut, dan I Dewa Ketut Wicaksana, B.A. Pakeliran Layar Berkembang “Anugrah”, Skrip Pedalangan,                                        STSI Denpasar,   1988.

 

M. Zajuli. “Seni Pertunjukan Global: Sebuah Pertarungan Ideologi Seniman”, Global-Lokal, Jurnal Seni Pertunjukan Indonesia,                                              Penerbit MSPI, Bandung, 2000.

 

Murtana, I Nyoman. Kiwa-Tengen: Dua Hal yang Berbeda dalam Pertunjukan Wayang Kulit Bali, Sebuah Kajian Baik-Buruk                                                       terhadap Pertunjukan Wayang Kulit Tantri lakon Batur Taskara sajian I Dalang Wija, Laporan Penelitian                                                     STSI Surakarta, 1996.

 

Seramasara, I Gusti Ngurah. “Usaha-usaha Menyelamatkan Wayang Kulit dalam Goncangan Modernisasi” dalam Wayang, Jurnal                                       Ilmiah Seni Pewayangan, Jurusan Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, 2004.

 

Soetarno, 1988. Perspektif Wayang dalam Era Modernisasi, Pidato Dies Natalis XXIV ASKI Surakarta.

 

Wicaksana, I Dewa Ketut. Dalang Wakuldalam Menyikapi Pewayangan Masa Kini, Makalah disampaikan dalam diskusi                                                         “Gelar Dalang Wakul” serangkaian HUT Warung Budaya Bali, di Taman Budaya “Art Centre” Denpasar, Selasa 16                                             Februari 1999.

 

________________. “Perkembangan dan Masa Depan Seni Pedalangan/Pewayangan Bali”, dalam Mudra, Jurnal Seni Budaya, no. 8, Th. VIII, STSI Denpasar. 2000.

 

 

Tulisan ini semula merupakan sebuah makalah disampaikan pada Seminar Wayang, diselenggarakan oleh Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Pusat Jakarta, di Hotel Matahari, Jl. Parangtritis 123, Yogyakarta, 15-16 April 2005. Kemudian digunakan sebagai bahan Magang Guru-guru Pedalangan SMK3 Sukawati, Gianyar (14 Januari – 14 Februari 2011)

 

 

Apr 16

PERSAMI PROSES DASAR PEMBENTUKAN KARAKTER MENUJU GENERASI EMAS TAHUN 2045

Posted on Rabu, April 16, 2014 in Tak Berkategori

ABSTRAK

Persami sendiri merupakan singkatan dari perkemahan sabtu minggu oleh pramuka golongan penggalang setinggkat SD/SMP di suatu sekolah/gugus depan (GUDEP), yang di dalam prosesnya terdapat berbagai kagiatan menggembirakan sekaligus mendidik baik keterampilan, sikap dan budipekerti peserta yang mengikutinya. Kegemaran akan berkemah tidak pernah menurun, bahakan ahir-ahir ini di setiap masa liburan, para remaja banyak yang menghabiskan waktu mereka dengan berkemah, terlebih bagi anak-anak yang terbawa rasa penasaran seperti apa kegiatan tersebut. Dalam prosesnya anak-anak di didik dan di latih pada latihan-latihan rutin pramuka yang merupakan extra-kurikuler di SD merekayang dalam hal ini kami mengambil sempel serta praktek di SD N 1 Sumerta yang selanjutnya teori dan praktek yang di berikan akan menjadi dasar bagi mereka untuk mengikuti kegiatan Persami tersebut. Perubahan sikap menjadi lebih baik akan terlihat ketika kegiatan-kegiatan tersebut di laksanakan, mulai dari Kedisiplinan, Bersaing menjadi yang terbaik, hingga mereka dapat memahami arti dan makna mengapa mereka harus melakukan hal tersebut. Pendidikan dalam bentuk Persami perlu di tingkatkan dan di kembangkan lagi baik dari sumber daya pengajar serta tuntunan pelaksanaan yang lebih baik dan menarik, hal tersebut di dasari akan perlunya teknik serta cara melatih anak-anak yang hidup di masa moderen agar tetap memahami serta dapat melaksanakan suatu cara hidup dengan mengandalkan cara-cara tradisional yang selain dapat membina fisik juga dapat melatih pola fikir yang kretif tanpa merusak lingkungan di sekitar mereka. Terlebih dalam kegiatan ini mereka dapat berkreatifitas dalam bidang seni tradisional yang merupakan ciri khas bangsa Indonesia serta melestarikanya lewat pertunjukan budaya Api unggun. Apabila kegiatan ini rutin di laksanakan maka tak ayal tujuan dari bangsa Indonesia menciptakan generasi emas yang memiliki budi pekerti, rasa tenggungjawab dan pengabdian penuh terhadap bangsa Indonesia di tahun 2045 akan terwujud.

Kata Kunci : Pramuka, Manfaat Persami, SD N 1 Sumerta, Denpasar

A. Pendahuluan

Boy Scout (Gerakan kepramukaan dunia), gerakan internasional yang bertujuan untuk meningkatkan karakter anak-anak dan remaja serta melatih mereka untuk dapat bertanggung jawab di masa dewasa nanti. Gerakan ini di mulai di inggris pada tahun 1907 oleh Sir Robert Boden Powell, yang program-program dasar gerakanya di ilhami oleh dua organisasi remaja yang lebih dahulu terbentuk: Sons Of Daniel Boone, didirikan oleh Daniel Carter Beard, seorang naturalis-illustrator, dan Woodcraft Indian, yang di pelopori oleh Ernest Thompson Seton, seorang penulis Inggris kelahiran Kanada. Organisasi-organisasi kepanduan internasional adalah organisasi yang independen tetapi biasa bertemu setiap dua tahun sekali dalam Boys Scout World Confrence. Biro Kepandua Sedunia (The Boys Scout World Bureau) yang terletak di Jenewa, Swizerland, berfungsi sebagai sekretariat organisasi. Kegiatan pertemuan besar internasional, yang di sebut Jambore, di laksanakan setiap 4 tahun sekali.

Kepanduan telah berkembang pesat di lebih dari 140 negara di dunia. Di Indonesia, organisasi yang bersifat kepanduan telah ada sebelum tahun 1961 di buktikan dengan adanya organisasi Pandu Rakyat Indonesia (PRI), Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI), Pandu Kesultanan (PK) dan lain-lain. Ini membuktikan bahwa eksistensi pramuka masih sangat di gemari oleh masyarakat khususnya di Indonesia. Hal tersebut membuat kepanduan di Indonesia mendapat dukungan karena berbagai macam hal yang terdapat didalamnya merupakan dasar yang telah diuji serta dibuktikan dapat membentuk dan menciptakan karakter calon penerus bangsa yang memiliki akhlak serta budi yang tidak diragukan lagi akan membawa Indonesia menuju kesuksesan. Maka dari itu untuk memperkuat perkembangan kepanduan di Indonesia, pemerintah telah menetapkan beberapa pasal yang telah di patenkan dalam; Undang-Undang Republik Indonesia Nomor, 12 Tahun 2012 tentang Gerakan Pramuka, yang isinya menetapkan undang-undang tentang gerakan pramuka. Dan telah di cantumkan dalam Bab II, tentang Asas, Fungsi dan Tujuan, pasal 4 berbunyi: Gerakan Pramuka bertujuan untuk membentuk setiap pramuka agar memiliki kepribadian yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjungjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup.

Maka kegiatan yang di adakan di SD N 1 Sumerta, Denpasar Timur, Kodya Denpasar, tidak hanya merupakan suatu pembelajaran bagi peserta didik tetapi juga bagi panitia sekaligus penulis yang mengkaji kegiatan tersebut.

B. Tujuan

            Tujuan dari penulisan artikel ilmiah ini adalah :

  • Untuk mengetahui sejauh mana penerapan siswa calon penerus bangsa dalam mempraktekkan rasa nasionalis yang dilatih dalam ekstra-kurikuler Pramuka, serta mendidik mereka melalui kegiatan Persami yang bersifat kepanduan yang bermuara pada meningkatnya kedisiplinan diri di masing-masing siswa.
  • Melatih diri dalam berorganisasi serta beradministrasi dalam kegiatan tersebut sehingga mampu memiliki pengalaman dalam bidang yang bersangkutan.
  • Mengenalkan Pramuka SD N 1 Sumerta, Denpasar Timur yang disiplin serta memiliki rasa tanggung jawab dan sosial kepada masyarakat di sekitar dan menuangkanya dalam artikel.

C. Metode    

Adapun metode yang dipakai dalam penulisan artikel ilmiah ini adalah sebagai berikut:

  • Metode Observasi, dengan cara mengumpulkan bahan artikel melalui pengumpulan data baik berupa foto kegiatan yang telah di simpan saat kegiatan dan penulis turut serta melaksanakan kegiatan tersebut sebagai panitia.
  • Metode Pengamatan, dengan cara melakukan pencatatan dan pendokumentasi-an dari setiap aktivitas yang melingkupi aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan dan membahasnya bersama-sama sehingga didapatkan kesimpulan mengenai evaluasi dan tercapainya tujuan kegiatan.
  • Metode Kepustakaan, dengan cara mencari dan mengumpulkan buku-buku yang mendukung kegiatan Kepramukaan serta Persami. Adapun buku-buku tersebut yakni; BOYMAN:Ragam Latihan Pramuka oleh Andri BOB Sundari, Tahun 2013. “Buku Pedoman Kegiatan Tahunan Pramuka SD N 1 Sumerta”, buku Dasar-Dasar Pendidikan Kepramukaan, disusun oleh Hasan Zeta, Pramuka yang di dalamnya memuat beberapa trik dasar kepramukaan.

 

D. Hasil dan Pembahasan

Menyongsong masa depan tidak hanya dibutuhkan kecerdasan tetapi juga budi pekerti serta prilaku yang baik dari insan muda yang akan menjadi penerus perjuangan bangsa ini melalui pendidikan. Kepramukaan salah satunya Persami yang merupakan singkatan dari Perkemahan Sabtu Minggu. Sebelum memapar-kan lebih jauh tentang Persami hendaknya perlu diketahui fungsi dan tujuan dari didirikanya Gerakan Pramuka di Indonesia, yang sudah pasti di dalamnya terdapat berbagai macam kegiatan yang besifat mendidik. Di Indonesia fungsi pramuka adalah: (1) kegiatan menarik bagi anak atau pemuda. Kegiatan menarik dimaksudkan adalah kegiatan yang menyenangkan dan mengandung pendidikan, karena itu permainan harus mempunyai tujuan dan aturan permainan, jadi bukan kegiatan yang hanya bersifat hiburan saja; (2) pengabdian bagi orang dewasa. Bagi orang dewasa, kepramukaan bukan lagi permainan tetapi suatu tugas yang memerlukan keikhlasan, kerelaan, dan pengabdian sehingga orang dewasa mempunyai kewajiban untuk secara sukarela membaktikan dirinya demi suksesnya pencapaian tujuan organisasi; dan (3) alat bagi masyarakat. Organisasi kepramukaan merupakan alat bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, dan juga alat bagi organisasi untuk mencapai tujuan organisasinya. Jadi kegiatan kepramukaan yang diberikan sebagai latihan berkala dalam satuan pramuka dan bukan tujuan pendidikannya.

Adapun tujuan dari didirikannya Pramuka di Indonesia adalah mendidik anak-anak dan pemuda Indonesia dengan prinsip-prinsip dasar dan metode kepramukaan yang pelaksanaannya disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia agar anggota-anggotanya:

  • Menjadi manusia yang berkepribadi dan berwatak luhur serta tinggi mental, moral, budi pekerti dan kuat keyakinan beragamanya;
  • Menjadi manusia yang tinggi kecerdasan dan keterampilannya;
  • Menjadi manusia yang kuat dan sehat fisiknya;
  • Menjadi manusia sebagai warga negara Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia;
  • Menjadi angota masyarakat yang baik dan berguna, yang sanggup dan mampu menyelanggarakan pembangunan bangsa dan negara.

Di dunia Kepramukaan juga terdapat pembagian golongan serta tingkatan yang pencapaiannya berdasarkan spesifikasi. Tingkatan dalam kepramukaan adalah sebuah tingkatan yang ditentukan oleh kemampuan anggotanya, kemampu-an itu disebut dengan Syarat-syarat Kecakapan Umum atau SKU. Untuk Pramuka Siaga dan Penggalang, masing-masing kelompok umur memiliki tiga tingkatan. Untuk Penegak memiliki dua tingkatan, sedangkan Pramuka Pandega hanya satu tingkatan. Adapun tingkatan tersebut antara lain:

  • Tingkatan Pramuka Siaga, terdiri dari: Siaga Mula, Siaga Bantu, Siaga Tata;
  • Tingkatan Pramuka Penggalang, terdiri dari: Penggalang Ramu, Penggalang Rakit, Penggalang Terap;
  • Tingkatan Pramuka Penegak, terdiri dari: Penegak Bantara, Penegak Laksana.

Ada juga sebuah tingkatan khusus yang disebut dengan Pramuka Garuda, yaitu tingkatan tertinggi dalam setiap kelompok umur dalam kepramukaan.
Kelompok umur adalah sebuah tingkatan dalam kepramukaan yang ditentukan oleh umur anggotanya. Pembagian kelompok umur dibagi menjadi 4 (empat) sebagai berikut:

  • Kelompok umur 7-10 tahun, disebut Pramuka Siaga;
  • Kelompok umur 11-15 tahun, disebut Pramuka Penggalang;
  • Kelompok umur 16-20 tahun, disebut Pramuka Penegak;
  • Kelompok umur 21-25 tahun, disebut Pramuka Pandega

Ada juga kelompok khusus, yaitu kelompok yang ditujukan untuk orang yang memiliki kedudukan dalam kepramukaan, misalnya Pramuka Pembina, adalah sebutan untuk orang dewasa yang memimpin Pramuka. Dan Pramuka Andalan, adalah anggota Pramuka yang mengambil bagian dalam keanggotaan Kwartir dalam Pramuka, seperti Pelatih, Pamong Saka, Staff Kwartir dan Majelis Pembimbing. Tak kalah pentingnya sebelum melaju kepada kegiatan perlu di ketahui macam-macam jenis perkemahan apabila dilihat dari beberapa sudut pandang  beserta fungsinya. Di pandang dari jenis perkemahanya, dibagi emnjadi 4 (empat) sebagai berikut:

  1. Perkemahan Bakti: Perkemahan wirakarya, Kemah kerja;
  2. Kemah Ilmiah: Untuk penelitian, Observasi, atau Survey;
  3. Perkemahan Rekreasi: Liburan, Wisata;
  4. Perkemahan Pendidikan: Pramuka, PMR, atau Organisasi Pecinta Alam.

Di pandang dari lamanya waktu berkemah, perkemahan bisa dibedakan menjadi:

  1. Perkemahan 1 (satu) hari: yang di awali dari pagi hingga sore hari. Biasanya kemah seperti ini mengambil tempat kegiatan yang tidak jauh dari sekolah/gugus depan;
  2. Perkemahan 2 (dua) hari: Persami (Perkemahan Sabtu Minggu) atau jumat sabtu, dan lain sebagainya;
  3. Perkemahan yang lebih dari dua hari: Perjusami (Perkemahan Jumat, Sabtu, Minggu), Jambore, Raimuna, dan lain sebagainya.

Berdasarkan tempatnya, dapat dibagi menjadi 2 (dua) yakni:

  1. Perkemahan menetap (standing camp)
  2. Perkemahan berpidah-pindah (Safary camp)

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas mengenai fungsi, tujuan, peserta dan macam-macam jenis perkemahan, maka selanjutnya akan di paparkan berbagai kegiatan serta fungsi dan manfaatnya dalam kegiatan Persami yang di adakan di SD N 1 Sumerta, Denpasar Timur, Kodya Denpasar. Proses pelaksanaannya diawali dengan pembentukan kepanitian, dan penulis sendiri tergabung langsung didalamnya. Kegiatan yang bersifat perkemahan merupakan rekreasi yang amat populer, biasanya menggunakan tenda/semacam kendaraan khusus (vehicle) atau yang lebih sering di sebut karavan. Kebanyakan berkemah dilakukan di hutan, Pegunungan, di dekat laut (pantai), atau di sekitar danau. Sementara di SD N 1 Sumerta, Persami dilakukan di seputar lingkungan sekolah dengan pertimbangan pengawasan yang lebih mudah dengan mempertimbangkan kondisi cuaca. Selain itu untuk mempermudah kegiatan dan perlombaan, karena jalur dan lingkungan yang sudah fasih di lalui oleh peserta di seputar lingkungan sekolah. Dalam kegiatan Persami, para siswa mengikuti kegiatan yang sudah terjadwal dan di susun oleh panitia.

Adapun pilihan kegiatan, teknis pelaksanaanya dan maknanya dari runtutan teknis pelaksanaan Persami di SD N 1 Sumerta, dipilih oleh panitia sebelum dan menjelang kegiatan Persami agar tetap menyenangkan, dimengerti dan dapat diserap dengan baik oleh siswa-siswi pramuka sebagai dasar bagi mereka dalam berkehidupan di masa depan. Beberapa kegiatan tersebut secara spesifik akan di paparkan sebagai berikut.

1)      Pemilihan Pemimpin regu utama (Pratama) putra/putri. Sebelum kegiatan Persami di mulai, sesuai agenda tahunan dalam rangka perombakan susunan keanggotaan pramuka di SD N 1 Sumerta dan untuk lebih meningkatkan rasa tanggung jawab serta persaingan untuk menjadi lebih baik. Dalam tempo 1 tahun sekali siswa akan di ajak untuk belajar berdemokrasi dengan memilih seorang pemimpin regu utama (Pratama) untuk memimpin keseluruhan regu yang di pecah menjadi dua yaitu regu putra dan putri dan akan di pimpin oleh  seorang siswa putra dan seorang siswa putri yang telah sah terpilih dari hasil pemilihan tersebut. Kandidat akan di ambil dari masing-masing regu dengan rekomendasi dari anggota masing-masing regu yang ada. Dalam persiapan Persami ini siswa di ajak untuk menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum Pemimpin Regu Utama(pratama).

2)      Upacara Pembukaan dan Penutupan Latihan. Dalam materi berikut ini, masing masing regu akan diundi untuk menjadi peragkat/kelompok pelaksana dan akan dipraktekkan hasil dalam materi baris-berbaris, yang akan di laksanakan sebelum latihan secara keseluruhan di mulai dan begitu juga setelah latihan usai. Peserta akan di ajak untuk belajar menghormati situasi dan kondisi ketika berlangsungnya upacara tersebut. Di sini peserta juga di ajak untuk menghayati serta mengenang jasa-jasa pahlawan melalui pesan dan masukan dari pembina yang di sampaikan dalam sesi “Amanat oleh Pembina”. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati para pendahulunya.

3)      Out Bond (Kegiatan Luar Ruangan). Dalam out bond akan di adakan permaianan serta game-game yang tentunya akan menyenangkan dan bermanfaat bagi siswa. Beberapa out bond biasanya menggunakan alat-alat peraga seperti tali yang tergantung di atas pohon, tali berbentuk jaring laba-laba dan lain-lain. Namun di SD N 1 Sumerta, panitia membuat beberapa perubahan yang bertujuan untuk lebih mengingatkan siswa-siswi pramuka akan permainan tradisional. Dalam out bond digunakan permainan-permainan yang menggunakan fisik dan bersifat tradisional namun tetap dilakukan di luar sekolah, seperti di tengah persawahan/ ladang dekat sungai dan lain sebagainya. Beberapa permainan tersebut adalah sebagai berikut: (a) `Pesan Antar`, merupakan permainan yang mengandalkan ingatan dan kekompakan. Para peserta akan berbaris per/regu dan menghantarkan pesan yang disampaikan lewat mulut dan diawali dari barisan yang paling depan dan disampaikan dengan cara berteriak oleh orang yang paling belakang. Apabila jawaban orang yang paling belakang sama dengan orang yang paling depan maka regu tersebut di anggap berhasil; (b) `Anak Ayam`, merupakan permainan yang akan menguji keagresifan siswa dalam bergerak. Siswa akan dipilih dan saling mengejar. Orang yang dikejar akan mendapatkan pangganti apabila ia menyentuh salah seorang yang berbaris pada barisan paling belakang pada sebuah regu. Apabila si pengejar tidak dapat menyentuh seorang yang dia kejar sebanyak 4 kali, maka ia dinyatakan kalah dalam permaianan; (c) `Gala-gala`, ialah permainan tradisional yang dimainkan oleh 10 orang dengan membagi diri menjadi 5 orang penjaga dan 5 orang penerobos. Jika misalnya kita ambil satu posisi yaitu menghadap ke utara, maka akan didapatkan 3 orang penjaga dengan menjaga garis horizontal yaitu depan, tengah dan belakang serta 2 orang menjaga garis vertikal yaitu tengah depan dan tengah belakang. Sementara 5 orang lagi akan berusaha menerobos masuk dan keluar lagi tanpa tersentuh oleh 5 orang penjaga. Apabila tersentuh 1 team yang terdiri dari 5 orang, di anggap gagal dan akan bertukar posisi menjadi penjaga sampai akhirnya ada yang menang. Dalam permainan ini diharapkan siswa dapat mempelajari kekompakan dan berstrategi demi mencapai kemenangan; (d) `Wide Game`, permainan dimana siswa akan meninggalkan sekolah mengikuti jejak-jejak berupa sandi dan kode yang akan membawa mereka ke pos-pos yang telah di siapkan di sepanjang perjalanan yang akan mereka tempuh. Di sini siswa akan di uji secara keseluruhan, baik kemampuanya dalam memimpin, dipimpin serta life skill yang telah mereka pelajari demi mencapai tujuan akhirnya yaitu ke sekolah kembali. Dalam wide game dipergunakan beberapa sandi yang sebelumnya telah diajarkan kepada siswa-siswi ketika mengikuti latihan rutin sebelum memulai Persami. Dalam wide gamepun peserta mendapatkan pengetahuan dalam beberapa bidang yang tentunya akan sangat berguna bagi mereka di masa mendatang. Materi tersebut di berikan ketika siswa telah sampai di beberapa pos yang telah di siapkan oleh panitia.

Beberapa materi yang disiapkan juga untuk kegiatan fisik adalah sebagai berikut:

1)      Peraturan Baris-berbaris. Dalam materi ini masing-masing regu (1 regu terdiri dari 5-10 siswa) akan diajarkan bagaimana teknik dasar baris-berbaris yang didalamnya tentu akan dilatih kosentrasi dalam mendengar aba-aba, memimpin diri-sendiri agar dapat melakukan gerakan yang serentak serta kekompakkan dalam barisan yang pertama-tama akan akan dipimpin oleh pelatih lalu dicontoh oleh masing-masing pemimpin regu (Pinru) dari setiap regu.

2)      Materi Dengan Alat-Alat Peraga, antara lain: (a) Tali-temali, peserta akan diajarkan teknik mengikat menggunakan seutas tali, dengan menggunakan beberapa simpul dasar yang sudah disesuaikan agar siswa mudah untuk mempraktekkannya. Dengan mempelajari simpul-simpul dasar diharapkan dapat membatu meningkatkan kemampuan siswa dalam mengikat serta mengembangkan ilmu ketali-temaliannya dan mempraktek-kannya dalam masyarakat. (b) Sandi dan kode, dalam materi ini siswa akan mempelajari dasar-dasar beberapa sandi dan kode di antaranya morse. Kode dengan peluit atau dengan sinar lampu adalah siswa di ajarkan untuk dapat memahami dan ada pula petugas yang berkomunikasi menggunakan sinar lampu yaitu petugas penjaga aktivitas gunung berapi, petugas marcusuar dan pelabuhan dan lain-lain. (c) Semaphore, kode dengan 2 buah bendera yang dikibarkan dengan teknik tertentu bagaimana berkomunikasi menggunakan bendera, dalam aktivitas sehari-haripun banyak pekerjaan yang alat peraganya menggunakan bendera. Beberapa di antaranya adalah ketika para nakhoda menambatkan kapal laut, petugas plane parking/juru haluan tempat parkir pesawat dan lain-lain. (d) Sandikotak 1 dan 2, kode dengan bentuk-bentuk kotak yang ditulis pada secarik kertas. Dalam kepramukaan dasar sandi kotak merupakan sandi yang biasanya paling awal diajarkan kepada peserta pramuka, selain mudah dimengerti sandi ini juga dapat dipergunakan untuk memberi petunjuk dalam peta, map sederhana dan lain sebagainya. (e)  Pionering, merupakan sebuah benda terapan yang berbentuk meja makan, menara pandang, tenda dengan rangka, gapura dll. yang pada real-nya berukuran besar rata-rata 3 meter dan dibuat menggunakan bambu serta biasa ditampilkan dalam kegiatan kemah atau perlombaan yang dominannya di ikuti oleh pramuka tingkat penegak. Namun bagi para siswa dasar-dasar pionering akan diberikan menggunakan alat yang lebih kecil dan ringan seperti tongkat pramuka dan batang bambu berukuran kecil. Di harapkan dengan mempelajari materi ini, para siswa dapat mempelajari bentuk-bentuk alat terapan/yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat menerapkanya di rumah masing-masing sehingga mempunyai manfaat tersendiri bagi siswa. (f) Api Unggun, siswa akan diajak untuk menikamati malam keakraban selama Persami demi menghilangkan rasa jenuh dan lelah mereka. Dalam mengisi api unggun masing-masing regu di wajibkan untuk membuat sebuah pertunjukan hasil kreasi regu mereka sendiri diantaranya berupa: bernyanyi bersama, musikalisasi puisi, band style (tarian anak band masa kini) dan masih banyak lagi. Sebagai insan Indonesia yang terkenal dengan sejuta ragam budayanya dan keseniannya, sudah tentu kita sebagai generasi muda minimal memahami dan pernah melakoni beberapa kebudayaan. Melalui prosesi `api unggun` inilah para peserta menuangkan segala ide kreatifnya dalam berkesenian baik tradisional maupun moderen. (g) Memasak, dalam sesi ini peserta diajak melakukan kegiatan mengolah pangan dengan peralatan serta bahan makanan yang sederhana dan telah di persiapkan sendiri oleh peserta. Tidak hanya mengolah pangan dengan alat-alat yang mereka bawa, namun bahan pangannya dibeli dengan hasil tabungan regu yang memang sejatinya dialokasikan untuk kebutuhan Persami. Karena itu, sejak dini siswa yang mengikuti pramuka telah diajarkan untuk mengamalkan `dasa dharma` ke-7 yang berbunyi, …”hemat cermat dan bersahaja…”, serta `dasa dharma` ke-6 yang berbunyi, …”Rajin terampil dan gembira, dan `Tri Satya` dan `Dwi Dharma` yang merupakan pedoman kehidupan bagi para pramuka.

3)      Bioskop Terbuka, adalah siswa-siswi pramuka peserta Persami diajak untuk menyaksikan film bergenre kepramukaan yang dalam hal ini panitia mengambil salah satu film ciptaan anak negeri yaitu film LIMA ELANG, yang mengisahkan perjalanan lima anak yang mengalami jatuh bangun dalam dunia kepramukaan hingga mereka menjadi lima orang pramuka sejati baik dalam fisik maupun kesatuan hati. Harapanya peserta dapat menghayati bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak dapat dicapai dengan mudah namun selalu melewati berbagai kesulitan yang merupakan tempaan hidup serta menjadi pengalaman berguna di masa depan.

Telah di simak beberapa kegiatan dalam Persami di SD N 1 Sumerta, Denpasar. Masih banyak trik serta materi yang disampaikan oleh beberapa pembina yang berbeda di Gugus Depan yang berbeda pula. Namu semua itu tetap memiliki tujuan yang sama yaitu menciptakan generasi muda Indonesia yang memiliki akal, budi, serta prilaku yang baik sehingga menjadi penerus bangsa yang siap menjadi Generasi emas di tahun 2045, yang saat ini telah di seru-serukan oleh pemerintah serta menjadi impian dan harapan para pendahulu bangsa.

 

E. Kesimpulan

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan beberapa manfaat serta hasil dalam mengikuti Persami sebagai berikut.

  1. Siswa belajar mencintai alam: dengan kegiatan memungut sampah di sekeliling lingkungan sekolah selama persiapan Persami dan sepanjang jalur Wide Game.
  2. Siswa menjadi lebih respect dalam menyikapi setiap perintah serta lebih terlatih untuk sigap dalam menyikapi suatu permasalahan.
  3. Siswa terlatih untuk menjadi yang terdepan di barisannya. Hal tersebut mencerminkan persaingan positif yang terjadi di setiap individu yang mengikuti Persami.
  4. Siswa juga terbiasa untuk mendapatkan pelajaran baik sikap, keterampilan maupun pengetahuan dengan hasil jerih payahnya sejak dini. Hal tersebut terbukti dengan dimilikinya beberapa sarana berupa bahan makanan dan beberapa atribut pakaian dari hasil tabungan regu yang telah di kumpulkan beberapa waktu sebelum kegiatan Persami.
  5. Siswa dapat mengembangkan ide kretifnya di bidang seni melalui pentas budaya seperti, menari, menyanyi dan api unggun.

F. Saran-saran

Apabila kegiatan tersebut di lakukan secara berkala, maka akan semakin banyak siswa-siswi yang di latih mental serta fisiknya secara tidak langsung melalui Persami, di harapkan teknik mendidik yang bersifat kepramukaan seperti ini dapat di terapkan ke berbagai macam ilmu dan mata pelajaran yang ada pada sekolah-sekolah/lembaga di Indonesia. Sehingga melalui prosesnya terbentuk calon penerus bangsa yang memiliki rasa hormat, tanggap, bertanggung jawab, cerdas, berbudi pekerti luhur dan mandiri dalam menyongsong generasi emas pemuda Indonesia di tahun 2045.

Ucapan Terima Kasih

            Melalui kesempatan baik ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Ibu Dr. Ni Luh Sustiawati, M.Pd., selaku Koordinator kegiatan PKM-AI dan PKM-GT ISI Denpasar, atas dukunganya memberikan motivasi kepada penulis supaya lebih giat mengikuti program karya tulis ilmiah.
  2. Bapak  I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M.Hum., selaku Pembimbing, tidak bosan-bosannya membimbing penulis dalam penyusunan artikel ilmiah ini.
  3. Bapak Basuki Swara S.Pd., selaku guru dan pembina Pramuka di SD N 1 Sumerta, Denpasar Timur, Kodya Denpasar, beliau telah mencurahkan pengetahuan dan pengalamnya di bidang kepramukaan sehingga menjadi referensi yang amat penting di gunakan sebagai bahan artikel bagi penulis.
  4. Sahabat-sahabat kami terutamanya: I Kadek Oktayana Dwiputra, Putu Wiliska Wilasitha, Ni Kadek Witcitaningsih, Dewa Ayu Widya Saniswari, karena telah bersedia mendampingi serta membantu penulis dari awal persiapan sampai akhir kegiatan Persami dan membantu penulis mengumpulkan bahan berupa info untuk penyusunan artikel ini.
  5. Dan pihak-pihak lain yang tak dapat disebutkan namanya satu-persatu, telah membantu memberikan dukungan moril dan material.

 

Daftar Pustaka

Sunardi, Andri BOB. 2013. Boyman Ragam Latih Pramuka, CV. Nusa Muda Bandung.

Zeta, Hasanudin. 2010. Dasar Dasar Pendidikan Kepramukaan Lengkap. CV Karya Utama, Surabaya.

http://asticukup.blogspot.com/2013/11/contoh-makalah-pramuka.html, 21 Maret 2014.

http://blogkudera.blogspot.com/2013/10/makalah-sejarah-pramuka.html,22 Maret 2014.

http://cruzerfleur.blogspot.com/2012/09/makalah-kepramukaan.html, 23 Maret 2014.

http://lovelyscout.blogspot.com/2010/12/makalah-tentang-kepramukaan.html, 22 Maret 2014,

 

Apr 13

TUT DE RAI, Sebuah cerpen Bali Moderen karangan Wicaksandita

Posted on Minggu, April 13, 2014 in Karya, Tak Berkategori

TUT DÉ RAI

P

akesirsir anginé ngobiah punyan-punyanan di natahé, kadulurin baan   munyin kedis crukcuké nguci di carang kayuné. Dugasé ento jagaté terang galang tanpa awan. Di batan punyan pohé ané ngrimbun, I Ketut Gedé Rai bengong ningalin wayang Tualén ané magantung di duur jelanané. Busan-busan, makesiur alus anginé di muanné Tut Dé Rai, ngaénang ia inget tekén belinné I Wayan Japa. Dugas enu idup, wayangé ento pepes anggona ngayah ngwayang ka désa-désa.

I Wayan Japa, tuah mula taruna luih, jemet magarapan, seleg nyalanang isin sastra dharma pawayangan tur liu ngelah timpal, saih saja tekén bapanné dugas ipidan truna. Kéto masih adi-adiné Madé Raka lan Komang Artini, mula tuah tukang tabuh gendér ané sajan cageranga baan panyamané. Dugasé ento     Tut Dé Rai mara matuuh telung tiban. Adina satonden Tumpek Wayang, Nyoman Amung, panyamané uling Desa Gitgit, Buléléng, teka ka umahnné Wayan Japa, bakal matemu sambilanga ngaba atur-aturan marupa nasi, saté céléng, lawar lan ané lénan, nglaut ia ngorahang tekén I Wayan Japa, tetujoné kema: ”Yan…, Pak Man sing ja liu lakar mamunyi, tetujon Pak Mané mai sing ja ada lén, jani pianak Pak Man sakit tusing nyidayang seger, sawiréh sabilang otonané rikala Tumpek Wayangé, tusing taén nyolahang wayang gedog lan bebayuhan  tirtan wayang. Nah…. mapan né jani dingeh Pak Man, Wayan suba ngentosin bapan wayanné dadi dalang, buina Wayan seleg nyalanang sastra dharma pewayangané,  Pak Man ngidih tulung kapining Wayan apanga nyidayang ngisinin ilén-ilén rikanjekan nyalanang upacarané buin mani, ”raos Nyoman Amung sada alus di arepané Wayan Japa.

”Oohh kéto Pak Man”, pasautne Wayan Japa,” nggih yén tiang baanga galah cara né, tusing ja bakal lémpasin tiang sawiréh suba tetamiané uling pidan, sangkaning kérti lan baktiné kapining Ida Sang Hyang Widhi Wasa”.               Lega kenehné Nyoman Amung ningehang penyawis Wayan Japa lantas nilarin keponakané mewali mulih ka Buléléng.

Rahina Tumpek Wayangé rauh, Wayan Japa lan adi-adinné Madé Raka lan Komang Artini luas ka Désa Gitgit, Buléléng, negakin pick up ané suba sedianga baan Nyoman Amung. Pejalan pick upé adeng tur pamandangané ngulangunin manah, nanging neked di Bukit Puncak Pangéléngan, Désa Candi Kuning, sagét ada trek gedé ngangkut semén, nyrémpét mobil pick up ané tegakina baan     Wayan Japa. Grbuaaak….., mobil pick upé numpel punyan-punyanan di sisin jalan, nglantas ulung ka abingané. Tangkejut tur mabyayuhan krama Desané, ané mapitulung, napetang truna-truniné maka telu suba tusing magoba jelema ulian keras pick upé muntag-mantig nyrosok di sisin abingané. Runtag tur kaplengek  reramané ulian kaliwat sebetné nampi sapetekan pianakné maka telu ané tan samandana  matinggal.

Suba makelo sapetilar sangtiga. Karasa kesyuran anginé nyangsan baret ngampehang don-donan punyan pohé. Sedek iteh maangen-angen: “Tut Dé Rai….Tut Dé Rai….Bukahang bapa jelanan besiné jebos”, suaran Pan Rai ngaukin pianakné. Tut Dé Rai tangkejut tur gegéson mukahin bapanné jelanan besi. Lega tur bingar kenehné ngatonang sapetekan bapanné ané luas ngayah nopéng Sidakarya ka Jembrana uli ngedas lemah ituni nganti tengai.

“Bapa-bapa kénkén ayah-ayahané tuni pa?” Tut Dé Rai matakon girang, kapining bapanné. Nanging buka anaké keta Pan Rai tusing nyautin patakon pianakné lantas macelep ka jumahan masalin kamen tur udeng laut  nyeritin panuur dalangé ané uli tuni suba ngantosang di sisi, tur nglaut metaki-taki lakar ngwayang di Pura Samuan Tiga, Désa Bedulu. Pan Rai tuah mula dalang ané kaloktah di désanné, Désa Sumerta. Tuah uling panglingsirné Pan Rai mula dadi dalang. Tut Dé Rai merasa sebet kenehné krana Pan Rai tusing nyaurin patakonné, wireh gegéson mataki-taki lakar mawali ngayah ngwayang ring                          Pura Samuan Tiga.

“Bapa, bapa lakar ngwayang?. Dija pa?. Dadi tiang bareng pa?”  patakon Tut Dé Rai sada ngreremih.

Pan Rai nolih pianakné ané matuuh sia tiban ento lantas nyautin                  : “Bapa lakar ngwayang ning di Pura Samuan Tiga. Yén seken cening lakar nutug bapa kema, énggalang masalin, ingetang nganggo udeng!” Mara ningeh munyin bapanné, buka méngé timpugin batu, jeg gegéson ya masalin lantas majalan nutug Bapanné, menékin mobil Pick up ané misi gendér lan gedog wayang. Tut Dé Rai baanga negak duri apang élah kenehné, wiréh Tut Dé Rai tusing biasa menékin mobil. Galahé jani tuah  galah kapertama Tut Dé Rai nutug bapanné ngwayang, Méh…..hhh!. Jeg kendel atinné.

Disubané teked di  jaba pura, Tut Dé Rai kilang-kileng cara siap sambehin injin nepukin anaké ramé di pura buka semuté ngrebut gula. Di jaba purané Tut Dé Rai nolih makudang-kudang balih-balihan luiré Gong gedé, Igel-igelan Topéng, mwah ané lénan. Buka petapan guntingé nebek cepok bakat dadua, liang kenehné Tut Dé Rai maan nututin bapanné sambilanga mabalih ilén-ilén di pura. Tusing makelo Tut Dé Rai maan mabalih, lantas sang prawartaka karya rauh lan ngatehang Pan Rai ka genah pasanekan, ditu suba sekaan gendér wayangé ngantosang dalangé sambilanga ngroko. Tusing makelo sagét rauh pangayah istri makta panyanggra kopi lan téh miwah jaja bali luiré, jaja klepon, jaja bantal, sumping, godoh muah ané lénan. Nepukin panyanggrané ento Tut Dé Rai mara inget, tungkula kendel nutug I bapa, kanti engsap ya madaar ituni. ”Méh….hhh! seduk basangé”, Pan Rai  nawang tekén pianakné seduk lantas nyemakang téh lan jaja.

Sawetara duang jam suba Pan Rai ngwayang nglimur anaké di Pura, nuturang indik swadharmaning dadi manusa apang nyidayang  nemuang karahajengan kadasarin baan Tri Kaya Parisudha. Ngraos, maparilaksana lan mapineh ané rahayu ngardi jagaditha, asah, asih lan asuh di jagaté. Pan Rai tusing lémpas masih magagonjakan nganggon wayang sangut lan délem, ané ngawinang para penontoné girang tur kedék kanti ingkel-ingkel. Nanging tonden suud satuan wayangé majalan, sagét karasa sakit tangkahné Pan Rai, sakéwala sakité ento tusing karunguang. Pan Rai tusing inget unduké pidan, ia taén masuk rumah sakit sawiréh kaliwat kenyel ngurukang pargina prembon Désa Sumertané. Mén Rai kurenan Pan Rai inget pesan tekén munyin dokteré ané ngorahang Pan Rai kena gejala sakit Jantung. Ento awanan  Mén Rai setata nglémékin yan kurenanné      bas kaliwat nyemak gaé. Nanging ulian asih, punia, bakti lan rasa sayang kapining pianakné Tut Dé Rai, Pan Rai nutugang satuan wayangé ngantos peteng. Kéto masih Tut Dé Rai ané biasanné jam sia suba masaré nanging né jani kanti jam roras nu nyelenging,  mabalih bapanné ngwayang.

Tan karasa guminé sayan peteng, wayangé suba suud, Tut Dé Rai nu masih ngortaang indik wayang ané igelanga baan bapanné. Sang prawartaka karya rauh makta  canang sari misi amplop matekep baan saab cenik, kaaturang ring Pan Rai. Sakéwala kawaliang buin aturané baan Pan Rai mangda kadadosang dana punia ring Pura.

Suud ngwayang Pan Rai lantas mapamit mulih ka pondok. Di tengah marginé, para seka wayangé makedékan ngortaang unduk pajalan ayah-ayahan  ituni, Tut Dé Rai ané negak di arep ngajak bapanné nu nyelenging tur metakon kapining bapanné:

“Bapa-bapa apa isin amplop ring duur canangé mara to pa? Ngudiang uliang bapa buin?”

Masaur bapanné sambilanga makenyem: “Cening ento isiné tuah sesari, upah bapa ngwayang sakéwala buin uliang bapa apang bapa sida madana punia”.

“Bapa, apa adan wayangé duur jelanané di jumah to pa?  Kénkén ambek-ambekan wayangé ento pa?”

Makenyem Pan Rai ningehang patakon pianakné tur nuturang indik wayangé ento: ”Tut Dé Rai, wayangé ento madan wayang Tualén, ya setata  nuturang piteket, pawarah-warah, tur ajah-ajahan ring sang sané ningehang”.

“Ooo kéto, men ngudiang bapa dadi dalang?” Patakonné Tut Dé Rai ané sajaan cucud.

“Nah Tut Dé Rai, uli pidan kulawargan bapa dadi dalang. Pekak masih Dalang, Kumpin Tuté masih dalang, jani bapa Dalang, belin ceningé ané ngemasin mati masih Dalang, kéto masih Bli Madé lan Mbok Komang ané milu nutug pejalan Bli Wayan kema ka swargan, suba masih nyalanang           swadharma seniné. Ento tuah suba tetamian uli pidan. Yan sing iraga ané nglestariang budaya lan kesenian Baliné, nyén buin. Apa buin jaman janiné suba jaman modérn, cerik – ceriké jaman jani suba engsap tekén kabudayan muah keseniané, ento ngranayang budayané angkenina tekén panagara lén. Nah sanget pangaptin bapané tekén Tut Dé Rai apang nyidayang ngentosin bapa dadi Dalang buin pidan. Kénkén tut…?. Ada kénehé nyak dadi Dalang….?”

Béh…hhh, mara takonina kéto tekén bapanné prajani Tut Dé Rai masaut, “Nggih pa, tiang nyak, sajaan pa, tiang lakar seleg malajah apang sida cara bapa taksun tiangé”.

Makenyum manis tur ngetél yeh paningalanné Pan Rai ningehang pasaut pianakné. Neked di jumahnné, Tut Dé Rai lantas mecelep ka jelananné tur nuju kamar raris masaré.

Sang Hyang Surya sampun nadarin nyiriang guminé lemah. Semengan pisan kulkul Désa Sumertané suba masuara, krama désa Sumertané uyut mabyayuhan, raméééééééé sajan, ningeh orta ané nyebetang ati. Sawiréh                ningehang munyin kulkul, Tut Dé Rai bangun uli pasaréané tur napetang umahné suba ramé: ‘Ada apa ya né?‘  kéto kenehné Tut Dé Rai.

Magébras ya nyagjagin lantas napetang méménné suba nyelémpoh sigsigan di arepan bapanné ané sirep tan maangkihan. Mii….hhhh déwa ratu, kaplengek Tut Dé Rai napetang unduké ento, lantas sing nyidayang nahenang yéh paningalané, ngeling sigsigan kélangan bapa: “Bapa…bapa…bapaaaa…. Ngudiang kalahin tiang? Bangun pa, banguun, mai urukang tiang ngwayang pa, bapaaaaa….!”.

Semengané ento saja-sajaan dadi semengan paling nyungsutang kenehné Tut Dé Rai. Rasa gedeg, rasa sebet, rasa kélangan, rasa lemet, makejang duhkitané nglikup dadi besik, tusing ada rasa lega. Petengé ibi, tuah dadi peteng panguntat Tut Dé Rai bareng-bareng ngajak bapanné. Jani suba katinggal mati, duuuhhh tusing nyidaang nahanang sebet atinné, katinggalin olih I bapa pinaka guru rupakanné.

Kutus tiban suba sepaninggal Pan Rai, karasa sebeté enu neket di ulu hati. Kutus tiban suba liwat, tuwuh Tut Dé Rai suba pitulas tiban. Tut Dé Rai dadi anak truna luih, bagus, tur suputra. Saih saja tekén goban bapanné dugas  truna.

“Tut Dé Rai…Tut Dé Rai…, né panuwur uli Pura Désa suba teka, énggalang mataki taki apang tusing énggalan peteng!” Raos méménné sada lemuh sambilanga matanding canang. Mén Rai, kurenan Pan Rai satulusa pesan miara pianakné kanti gedé tur dadi pianak ané maguna, dadi putra ané suputra.

“Nggih mé, tiang sampun usan, tiang majalan nggih mé, tunas icayang titiang mangda selamet”, sambilanga nyemak liman méménné saha mapamit. Menék lantas Tut Dé Rai ka mobilé, sakéwala jani Tut Dé Rai ané negak di malu ngajak sopiré. Mara idup mesin mobilé, sagét Tut Dé Rai nadak inget, tur gagéson pesu, macelep buin ka jumahan nyemak wayang Tualén ané megantung duur jelananné, sambilanga ngincepang keneh: “Bapa, tiang sampun dadi dalang, bapa iring tiang ngwayang mangkin, cingakin tiang uli kadituané Bapa, suksma antuk piteket bapa”.

Suud ngincepang keneh nyambat bapanné lantas Tut Dé Rai  maangsengan, nyemak wayang Tualénné usap-usapanga, anggona paneteg keneh, tur anggona piranti miteketin nyama braya, ring swadharmané dadi dalang, nglanturang tetamian anaké lingsir pinaka dasar nglestariang jagat Bali.

Rahina Saniscara Kliwon Uku Wayang

26-Mei-2012

I Dewa Ketut Wicaksandita

Apr 3

Tentang kampungku

Posted on Kamis, April 3, 2014 in Tak Berkategori

 

NUSA PENIDA

Pura Ratu Gede

Nusa Penida merupakan pulau dengan berbagai ciri khas dan keunikan yang masih sangat kental dengan tradisi kebudayaanya, keramahan penduduk dan lingkungan yang masih berbau alam pedesaan. Untuk mencapai pulau Nusa Penida yang terdapat di Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali ini dapat di akses melalui beberapa tempat penyebrangan laut/dermaga yaitu melalui pelabuhan Padang Bay, Karangasem, Pelabuhan Kusamba di Kabupaten Klungkung, Pelabuhan yang terdapat di Pantai Sindu, Sanur, di Ibu Kota Denpasar, dan melalui Pelabuhan Benoa, Denpasar, dan seiring berjalanya waktu banyak prusahaan bidang jasa pariwisata yang memberikan akses penuh dari keberangkatan, penginapan sampai tour keliling di seputar wilayah Nusa Penida.

Berbagai macam kesenian asli daerah pun terdapat di sana salah satunya adalah Baris Jangkang, yang akan di tarikan ketika di laksanakanya suatu upacara sakral di daerah tersebut, Tarian ini di tarikan oleh 5-10 orang penari dengan memegang sebuah tombak dengan mengenakan pakain unik yaitu kain Cepuk dengan corak yang sangat tradisional khas serta di iringi oleh tetabuhan Gong menambah kesan mistik dalam pertunjukanya, tidak hanya itu Beberapa obyek pariwisata yang unik pun terdapat di sana. Tak lupa di Nusa Penida juga terdapat salah satu pura terbesar di seputar wilayah Bali yaitu Pura Penataran Ped yang terletak di Desa Ped. Setiap hari Buda Cemeng Klawu yang jatuh setiap enam bulan sekali dalam kalender Bali di adakan upacara besar yang diperkirakan ribuan pemedek  datang untuk menghaturkan sembah bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi/ Tuhan Yng Maha Esa. Pura Dalem Ped terkenal dengan pelinggih Ratu Gede Mecaling yang merupakan sungsungan di berbagai pura di bali karena di percaya memberikan keselamatan dan keamanan dari penyakit dan mara bahaya yang mengancam baik bagi wilayah maupun masyarakatnya, tidak hanya itu namun juga banyak pura lain yang menjadi tujuan bersembahyang dan juga tujuan obyek pariwisata antara lain Pura Goa Giri putri yang terletak di Desa Karang Sari, Kecamatan Nusa Penida yang di dalamnya terdapat tempat pemujaan kepada Dewa Giri Putri yang di percaya melakukan tapa dan moksa di goa tersebut, terletak di tempat yang sama terdapat juga pemujaan terhadap Dewi Kwan Im yang di percayai oleh masyarakat sekitar sebagai pelindung dan pemberi kesuburan di tanah Pulau Nusa Penida serta banyak lagi pura-pura unik di sekitarnya, bahkan terdapat salah satu pura yang terdapat di Desa Palungang yang di dalamnya terdapat Pelinggih/ arca yang berbentuk seperti Mobil dan terbuat dari semen, masih sedikit info mengenai di buatnya arca terebut namun dengan keunikanya telah membuat Pulau Nusa penida Menjadi pulau yang tidak hanya indah namun juga kaya akan berbagai hal yang menarik untuk di explorasi.

kerang_kuningTerlepas dari itu Pulau nusa penida identik dengan Wilayah Pantainya yang sangat indah bahkan banyak Wisatawan yang datang untuk sekedar berenang dan menghabiskan beberapa hari waktu beribur di sana, terlebih kini telah banyak terdapat beberapa Resort, penginapan dan bungalaow yang memberikan pelayanan yang tidak kalah dengan hotel-hotel pada umumnya yang terdapat di seputar wilayah pantai, yang kesemuanya dapat di nikmati dengan biaya yang terjangkau bagi wisatawan lokal maupu asing. tidak kalah dengan pesisirnya wilayah bawah lautnya merupakan sesuatu yang sangat patut untuk di kunjungi, berbagai macam jenis karang dengan bentuk dan warna yang menarik di kelilingi biota laut yang menjadi suatu kesatuan dengan lingkungan pantai yang berbalut pasir putih yang indah membuat siapapun yang mengunjunginya menjadi terpukau. sungguh sautu obyek yang sangat patut untuk di kunjungi apabila sedang berada di Nusa Penida.

Tidak hanya terkenal dengan obyek Spiritual dan Pariwisatanya Nusa Penida Juga terkenal dengan hasil olahan dan kelezatan dari ikan Pindang Awanya yang terkenal, bahkan kelezatan Pindang Awan Nusa Penida sudah terkenal hingga ke beberapa wilayang di Bali, olahan pangan dari pindang awan ini akan menggoyang lidah setiap penikmatnya, beberapa olahan pindang awan yang terapdat di Nusa Penida tidak asing kita lihat, bahkan hampir sama dengan olahan pindang pada umumnya contoh: Pindang bakar, Pindang Kuah, lempet/ pepes pindang dll, namun perbedan yang mencolok adalah kegurihan dan empuknya daging pindang yang sangat berbeda dengan pindang-pindang lain yang kita ketahui. Selain pindang terdapat juga pangan khas Nusa Penida yaitu Jukut / sayur Undis yang terbuat dari kacang undis dan di olah dengan basa genep/ bumbu lengkap kahas Nusa Penida dan di campur dengan beberapa sayuran yang menambah gizi serta manfaat dari pangan tersebut, bahkan beberapa olahan pangan di Nusa Penida telah masuk dan di patenkan sebagai pangan Nasional asli Indonesia.DSC09193

kincirDi Nusa Penida juga telah di terapkan sebuah pembangkit listrik tenaga angin yan terpasang di bagian atas perbukitan,yang tepatnya terdapat di Desa Pncak Mundi, Kecamatan Nusa Penida akses menuju ke sanapun dapat di capai melalui pelabuhan Nusa Penida dengan kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Dengan adanya pembangkit listrik tersebut telah menambah suatu obyek pariwsata baru yang kedepanya di harapkan dapat meningkatkan tidak hanya kemajuan kehidupan di sektor masyarakatnya namun juga daya tarik pariwisata yang kini menjadi salah satu prioritas pemerintah/dinas-dinas terkait di Provinsi Bali dan Kecamatan Nusa Penida khususnya.

 Tidak terlepas dari itu Kehidupan di sekitar Pulau Nusa Penida pun masih sangat jauh dari hiruk pikuk kota Metropolitan yang identik dengan kemacetan dan polusi di imbangi dengan keramahan setiap penduduknya yang masih sangat menerima kehadiran wisatawan baik asing maupun lokal, Hal inilah yang menjadi daya tarik  tersendiri bagi para wisatawan yang ingin mencari obyek berlibur yang selain bermanfaat menghilangkan penat juga jauh dari kebisingan kota. Banyak Obyek wisata yang kini menjanjikan kemewahan dan fasilitas yang menawan namun untuk mendapatkan suatu kenyamanan dan ketenangan dan manfaat yang merupakan tujuan dari wisata tersebut masih cukup sulit dan jarang di temui, di harapkan kedepanya melalui salah satu sektor yaitu pariwisata Nusa Penida dapat menjadi salah satu tempat tujuan yang memiliki manfaat tidak hanya kepada wisatawan namun juga masyarakat yang mengelolanya.