KITAB PURĀṆA

Filed under: Tak Berkategori — wicaksana at 3:16 pm on Rabu, Mei 8, 2013

PADMA PURĀA

Oleh:

I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M.Hum.

Dosen Jurusan Pedalangan, FSP ISI Denpasar

 

A. Pendahuluan

Bagi umat Hindu, Purāṇa adalah naskah kuno yang disucikan, karena Purāṇa dikelompokkan kedalam Itihāsa bersama kedua epos besar yakni Rāmāyaṇa dan Mahābhārata. Meskipun Rāmāyaṇa tidak menyebut salah satu contoh purāṇa, namun dalam epos ini kata `purāṇa` disebutkan beberapakali, artinya bahwa pengarang kedua epos tersebut sudah sangat mengenal Purāṇa. Kata `itihāsa` berarti sesuatu yang benar-benar terjadi atau sejarah, dengan demikian berarti cerita-cerita yang dilukiskan dalam purāṇa dan kedua epos tersebut adalah peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Menurut Vāyu Purāṇa menyatakan bahwa purāṇa aslinya disabdakan oleh Dewa Brahma sehingga ia dianggap Veda ke lima. Bagi mereka yang mau menghargai kitab suci Veda dan Upaniṣad, maka ia harus memahami purāṇa terlebih dahulu.

Kitab Purāṇa terbagi menjadi 18 (delapan belas), dan naskah Purāṇa yang utama disebut dengan Mahāpurāṇa, sedangkan Purāṇa minor disebut dengan Upapurāṇa. Pada dasarnya setiap Mahāpurāṇa menggambarkan lima karakteristik permasalahan yaitu; 1) proses awal penciptaan alam semesta (sarga); 2) proses periodik penghancuran dan penciptaan kembali alam semesta (pratisarga); 3) perbedaan setiap jaman (manvantara); 4) sejarah dinasti sūrya (sūrya vaṁṣa), dan 5) dinasti bulan (candra vaṁṣa) serta silsilah para raja (vaṁṣanucarita). Disamping hal tersebut, setiap purāṇa juga berisikan hal-hal yang berhubungan dengan keagamaan, adat, upacara, persembahan, hari-hari raya, kewajiban dari masing-masing kasta, jenis-jenis sumbangan kemanusiaan, perincian tentang rancang bangun kuil, patung suci dan penjelasan tentang tempat-tempat penziarahan suci.

Padma Purāṇa termasuk ke dalam kelompok Satvika Purāṇa, yaitu purāṇa yang mengagungkan nama dewa Viṣṇu. Padma Purāṇa terdiri dari 55.000 sloka adalah purāṇa terpanjang kedua setelah Skanda Purāṇa yang terdiri dari 81.000 sloka. Padma Purāṇa terdiri dari 45 (empat puluh lima) ceritera, yaitu Śivaśarmā, Indra, Somaṡarma, Suvrata, Bala, Vṛtra, Para Māruta, Sunīthā, Aṅga, Vena, Pṛthu, Sukalā, Sudevā, Babi jantan, Babi betina, Ugrasena, Kembali ke cerita babi betina, Kembali ke cerita Sukalā, Pippala, Sukarmā, Yayāti, Cyavana, Divyādevī, cerita Samujjvala, Penjelasan, Cerita Vijjvala, Suvāhu, Cerita Kapiňjala, Śiva dan Pārvatī, Huṇḍa, Vihuṇḍa, Kuňjala, Putri-putri para Gandharva, Vikuṇḍala, Purāṇa, Daṇḍaka, Sang Tikus, Ṡrīdhara, Līlāvatī, Lakṣmī Vrata, Dīnanātha dan Viṡvāmitra, Citrasena, Bhīma, Hemaprabhā, dan penutup Padma Purāṇa. Ke-45 ceritera tersebut, yang akan dibahas secara singkat hanya bagian pertama sampai tujuh belas (1-17) sebagai berikut:

1. Śivaśarmā

 

Menceritakan tentang kisah Śivaśarmā oleh Lomaharsana kepada para ṛṣi dari berbagai aliran. Ada seorang brāhmana yang bernama Śivaśarmā yang tinggal di pinggir barat laut sebuah kota Dvārakā (Dvāravati), ia adalah seorang ahli Veda dan kitab suci lainnya dan selalu melakukan Yajña (upacara kurban). Suatu saat Śivaśarmā ingin menguji kesetiaan kelima orang anaknya, yaitu Yajñaśarmā, Vedaśarmā, Dharmaśarmā, Viṣṇuśarmā, dan Somaśarmā dengan menciptakan ilusi bahwa istrinya telah meninggal (ibu dari kelima putranya).

Keempat putranya berhasil melewati rintangan berat dari ujian ayahnya, sehingga mereka diutus pergi menuju sorga di alam Viṣṇu. Sedangkan yang bungsu bernama  Somaśarmā mendapat ujian menjaga sebuah sangku berisi Amṛta. Berkat tīrtha amṛta, kedua orang tuanya berhasil menuju Viṣṇuloka, sedangkan ia melanjutkan tapa brata sampai meninggal karena dikejutkan oleh kelompok dānava (raksasa). kelak ia terlahir sebagai seorang Prahlāda berwujud raksasa, putra dari Hiraṇyakaṡipu, namun tetap sebagai pemuja Viṣṇu.

2. Indra

 

Kisah ini menceritakan tentang para dewa menghadap dewa Viṣṇu untuk meminta seorang pemimpin bagi para dewa. Viṣṇu mengatakan bahwa seorang dewa bernama Indra akan lahir yang akan memimpinnya. Indra terlahir dari Aditi yaitu istri dari ṛṣi Kaśyapa. Aditi telah melakukan tapasya selama seratus tahun para dewa, dan lahirlah seorang putra yang memiliki empat tangan dan tubuh yang bersinar seperti sinar ribuan matahari. Anak ini memiliki banyak nama, yaitu Vasudatta, Vasudā, Akhaṇḍala, Marutvana, Māghaṿa, Vidouja, Pākaśāsana, Śakra dan Indra.

 3. Somaśarmā

Ada seorang brāhmaṇa bernama Somaśarmā (bukan putra Śivaśarmā), tinggal disebuah tīrtha (tempat suci) yang bernama Vāmana Tīrtha di pinggir sungai Revā dengan seorang istri yang bernama Sumanā. Pasangan suami istri ini hidup dalam keadaan miskin dan belum memiliki keturunan. Kemudian mereka minta nasehat kepada ṛṣi Vasiṣṭha agar memiliki seorang putra. Beliau menjelaskan bahwa ia pernah mengikuti jejak seorang brāhmana terpelajar pemuja Viṣṇu yaitu dengan melakukan Vrata bertepatan dengan Śuklapakṣa dan Ekādaśī Tithi.

Somaśarmā dan Sumanā pergi ke sebuah tīrtha bernama Kapilasaṅgama untuk memuja Viṣṇu.Setelah melalui berbagai macam godaan dan rintangan maka dewa Viṣṇu berkenaan muncul dan memberikan anugerah pada Somaśarmā dan istrinya, maka lahirlah seorang putra yang bernama Suvrata.

4. Suvrata

Diceritakan seorang raja bernama Ṛtadhvaja, memerintah di kerajaan Vidiśā dengan seorang putra bernama Vali dan cucunya bernama Rukmāṅgada. Ia (cucu Ṛtadhvaja) me-miliki seorang istri bernama Sandhyāvalī, melahirkan seorang putra bernama Dharmāṅgada. Anak ini adalah pemuja Viṣṇu yang taat sehingga setelah kematiannya, dia  dijemput menuju alam Viṣṇuloka. ia berada di sorga selama seribu yuga dan setelah itu iapun terlahir menjadi Suvrata.

5. Bala

 

Selain Aditi, ṛṣi Kaśyapa juga memiliki istri bernama Diti, merupakan ibu dari para raksasa. Ketika terjadi pertarungan antara para dewa dengan para raksasa yang dimenangkan oleh para dewa, dewa Viṣṇu adalah penanggungjawab semua itu, sehingga Diti sangat dendam kepadanya. Diti memohon kepada Kaśyapa agar diberi seorang putra, kelak bisa membalas dendamnya. Kaśyapa menyetujuinya serta menyuruh istrinya melakukan tapasya selama seratus tahun dan melahirkan seorang anak yang bernama Bala.

Ṛṣi Kaśyapa mengajarkan Veda dan berbagai sastra kepada Bala. Ketika Bala sudah besar, ibunya membisikkan dendamnya untuk membunuh Viṣṇu. Maka pergilah Bala ke tepi sungai Sindhū (Indus) melakukan tapasya untuk mendapatkan kekuatan sakti. Aditi mengetahui hal ini dan segera memberitahukan Indra agar menggagalkan niat itu. Ketika Bala sedang bermeditasi, segera Indra memotong kepala Bala dengan senjata Vajra yang berbentuk bajra/genta yang identik dengan halilintar, berakhirlah riwayat Bala.

6. Vṛtra

Diti tidak putus asa atas kematian Bala, ia kembali menghadap ṛṣi Kaśyapa untuk minta keadilan. Ṛṣi Kaśyapa setuju,  sontak ia mencabut sehelai rambutnya dan dilemparkan ke tanah, maka terciptalah seorang anak bernama Vṛtra, dengan warna kulit gelap dan matanya menyala kekuning-kuningan. Bersenjatakan perisai dan sebilah pedang, Vṛtra disuruh oleh Ṛṣi Kaśyapa membunuh Indra yang jadi raja para dewa.

Berita itu terdengar oleh Indra, maka ia mengutus sapta ṛṣi sebagai duta perdamaian, dengan tawaran ikut menikmati kekayaan dan setengah kerajaan yang dimiliki oleh Indra. Namun demikian, Indra terus mencari cara untuk membunuh Vṛtra. Disuruhlah seorang bidadari cantik bernama Rambha menggoda Vṛtra. Berkat minuman anggur yang diberi Rambha, ia jatuh pingsan. Saat itulah Indra membunuh dengan Vajra miliknya, maka matilah Vṛtra.

 7. Para Māruta

Diti kembali menghadap Kaśyapa dengan permohonan yang sama, maka ia lakukan tapa yang amat berat. Tanpa diketahui Diti, Indra menyamar menjadi brāhmana melayaninya dipertapaan. Suatu ketika Diti tertidur tanpa membasuh kaki dan tak merapikan rambutnya, Indra memanfaatkan kesempatan itu dengan masuk dalam rahimnya. Indra memotong janin itu menjadi tujuh potongan dengan Vajranya.

Ketika  janin-janin itu lahir, dinamai Mārut (Māruta) diambil dan bisikan Indra sewaktu janin itu menangis karena dipotong. Diti tidak bisa menyelesaikan ritual tapanya dengan sempurna, maka para Māruta itu menjadi sahabat Indra, serta statusnya dinaikkan menjadi setingkat para dewa dan menjadi dewa-dewa Angin.

8. Sunīthā

Sunithā adalah putri dewa Yama, dewa kematian yang dikenal sebagai Mṛtyu. Sunithā memiliki kebiasaan pergi ke hutan bersama teman-temannya. Di tengah hutan ia melewati sebuah pertapaan, adalah seorang gandharva (penyanyi surga) bernama Suśańkha sedang bermeditasi. Ia berusaha mengganggu Suśańkha, namun tidak memperdulikannya. bahkan Sunithā menampar Suśańkha yang menyebabkan ia kehilangan kesabaran. Suśańkha bangkit dari tapanya dan mengutuk Sunithā agar menjadi wanita yang sangat jahat.

9. Añga

Suatu kali, raja Añga, putra dan ṛṣi Atri sedang jalan-jalan di sebuah taman Nandanakanana dan di sana ia melihat Indra sedang dilayani oleh para dewa, gandharva dan bidadari. Añga sangat terkesan mengamati Indra yang gagah dan hebat, seketika ia menanyai ayahandanya. Atas saran sang ṛṣi, Añga pergi ke gunung Sumeru untuk bermeditasi, berdoa pada Viṣṇu.

Sementara itu, Sunīthā telah kembali kepada ayahandanya dan memberitahu tentang kutukan Suśańkha. Yama sadar, Sunīthā telah melakukan perbuatan tercela, maka beliau menyuruh putrinya melakukan tapa di hutan. Sunīthā mengetahui bahwa raja Añga dapat anugrah dari Viṣṇu, maka ia berhasil membuat raja Añga jatuh cinta dan menikahinya. Dari pernikahannya lahir seorang anak bernama Vena.

10. Vena

Vena kemudian menjadi terpelajar dalam śāstra dan kitab suci serta mahir dalam seni perang. Ia menjadi anak yang baik dan mematuhi semua ritual dan aturan agama. Ibunya, Sunīthā, masih teringat pada kutukan Suśańkha dan senantiasa mengajarkan Vena tentang kewajiban untuk hidup dalam kebaikan. Vena kemudian jadi raja setelah Añga memerintah dengan baik rakyatnya pun makmur sejahtera.

Suatu ketika, datang seorang guru agama mengunjungi Vena, dengan prilaku aneh dan sama sekali tak mengenakan kain penutup badan serta kepalanya di gundul. Di tangannya ia membawa sebuah sapu yang terbuat dari bulu burung merak dan sebuah cangkir terbuat dari tempurung kelapa. Guru itu menyebut bahwa dirinya menganut agama sejati sebagai seorang Jain dan `dewanya adalah Arahat` serta mengajarkan agama pengampunan pada semua orang. “…Aku tidak mempercayai ritual- ritual yang tidak berguna ataupun pembacaan Veda-veda. Apa yang bisa didapatkan dari Yajña? Apa yang didapatkan dari upacara penguburan mayat? Semua itu diberlakukan adalah karena para brāhmana ingin selalu mendapatkan perjamuan pesta. Agama Veda mengajarkan pembunuhan binatang. Tapi apakah binatang juga bukan mahkluk hidup seperti kita? Mengapa harus ada kekerasan pada mereka? Apa pula yang dimaksudkan dengan sistem kasta yang kalian anut? Seorang Brãhmana ditentukan oleh sikap dan prilakunya, bukan karena seseorang terlahir dari keluarga tertentu. Bagaimana sebuah sungai bisa disebut sebuah tīrtha? Apakah karena adanya air yang mengalir di sungai itu? Bukan. Sebuah tīrtha (tempat suci) hanya bisa dikatakan tīrtha (tempat suci) di mana agama benar-benar dipraktekkan. Anutlah agamaku maka kau akan mendapatkan kebahagiaan…”

Kata-kata itu sepintas masuk akal, membuat Vena luluh hatinya dan iapun menjadi seorang jain (secara kebetulan, salah satu kitab suci penganut jainisme persis padma purāṇa). Dengan mengikuti ajaran ini Vena menjadi semena-mena dan mulai melenceng dan jalan kebenaran. Ia meninggalkan agama yang diajarkan oleh Veda. Ia memerintahkan bahwa kitab Veda tidak boleh lagi dibaca di seluruh kerajaannya dan semua Yajña dihentikan termasuk pemberian sedekah juga dilarang.

Takut kutukan tujuh ṛṣi agung (sapta ṛṣi), Vena kemudian pergi dan bersembunyi di sebuah pegunungan, namun ditemukan oleh para ṛṣi kemudian mengurut-urut tubuh Vena agar bisa terlahir seorang putra. Pertama di urut tangan kirinya, lahirlah seorang manusia cebol dengan tubuh berwarna gelap, matanya berwarna merah darah dan bernama Nisīda. Dan ketika tangan kanannya yang diurut, keluarlah seorang anak yang baik hati bernama Pṛthu. Sedangkan Vena sendiri, ia pergi ke pinggir selatan sungai Revā.

11. Pṛthu

Pṛthu terlahir setelah sifat jahat dikeluarkan dari tubuh Vena, maka ia jadi manusia yang baik hati. Para ṛṣi membuat upacara penobatan Pṛthu, bahkan dewa Brahma sendiri langsung menunjuknya untuk memerintah seluruh bumi. Berkat pemerintahan raja Pṛthu, mampu menciptakan ladang untuk kemakmuran rakyatnya. Karena jasa-jasanya itu, bumi kemudian dinamai Pṛthivī yang diambil dari Pṛthu. Untuk menebus dosa-dosa ayahnya, ia melakukan upacara Āśvamedha (kurban kuda), sehingga Vena bisa naik ke sorga.

12. Sukalā

            Sukalā seorang istri dari seorang Vaisya di pinggir sungai Gaṅga yang bernama Kṛkala yang tugasnya bertani, beternak dan berdagang. Sukalā adalah orang sakti dan menurut pada suami. Ketika suaminya ingin pergi meninggalkan dirinya untuk pergi ziarah (tīrtha) ke tempat-tempat suci namun Sukalā tidak mau diajaknya, maka ia memberikan penjelasan panjang lebar bahwa seorang suami adalah satu-satunya tīrtha (tempat suci) bagi seorang istri.

13. Sudevā

            Sudevā adalah permaisuri dari raja Ikṣvāku yang merupakan seorang pemburu binatang dan seorang raja yang jujur dan ajaran Veda dan Brāhmana. Suatu ketika di dalam hutan terdapat keluarga babi hutan yang mengetahui bahwa pada hari itu raja Ikṣvāku akan pergi berburu maka keluarga babi hutan itupun menunggu untuk dapat mati ditangan seorang Ikṣvāku, karena merupakan suatu kehormatan mati di tangan seorang raja yang sangat mulia. Semua anggota keluarga babi hutan itu terbunuh namun hanya babi betina yang tidak dibunuh dengan alasan membunuh seorang wanita adalah suatu dosa yang sangat besar. Namun babi betina itu terbunuh juga di tangan seorang pemburu yang bernama Jharjara.

14. Babi Jantan

Sudevā menolong babi betina yang sedang sekarat dengan memberikannya seteguk air, maka babi betinapun menceritakan asal-usul diri dan keluarga mereka kepada Sudevā. Bahwa suaminya yaitu babi jantan adalah gandharwa yang dikutuk menjadi babi akibat menganggu seorang ṛṣi yang sedang melakukan tapa di gunung semeru. Dan dikutuk akan bisa menjadi Ggandharwa lagi jika dibunuh oleh raja Ikṣvāku.

15. Babi Betina

Babi betina pun menceritakan asal-usul dirinya pada Sudevā, yang pada kehidupan terdahulu dirinya adalah seorang istri (Vasudatta) yang tidak bisa menghormati suaminya dan menyebabkan suaminya (Śivaśarmā) pergi meninggalkannya. Maka dia diusir oleh mertuanya dan diingatkan tentang cerita Ugrasena.

16. Ugrasena

Ada seorang raja bernama Ugrasena, memerintah di sebuah kota Mathura. Ugrasena menikah dengan Padmāvatī, putri seorang raja Satyaketu memerintah di negeri Vidarbha. Ugrasena memang lebih miskin dan Padmāvatī yang selalu membandingkan kekayaan ayahnya.

Pada suatu saat Padmāvatī kebetulan melewati sebuah gunung, ada seorang sahabat dari Kubera bernama Govila sedang melintas dengan kereta angkasanya dan pandangannya tertuju pada Padmāvatī. Karena itu Govila spontan jatuh cinta dengan Padmāvatī, namun karena Govila mengetahui bahwa Padmāvatī adalah istri dari raja Ugrasena maka ia menyadari bahwa Govila tidak mungkin menikahi Padmāvatī. Namun Govila memiliki akal dengan merubah dirinya menjadi Ugrasena, dan menghampiri Padmāvatī. Betapa terkejut ia dengan perubahan pada suaminya, yang tidak biasa bernyanyi. Padmāvatī menanyakan kenapa Govila menipu dirinya dengan menyamar sebagai Ugrasena. Govila menjawab karena ia mengetahui bahwa Padmāvatī tidak setia kepada suaminya. Mengetahui hal itu maka Padmāvatī ditinggal oleh Govila dalam kemeranaannya. Setelah sepuluh tahun lahirlah seorang anak dari rahim Padmāvatī, namun anak itu bukanlah anak dari Ugrasena melainkan anak dari Govila. Ia adalah raja Kamsa yang akhirnya dibunuh Kṛṣṇa.

17. Kembali ke Cerita Babi Betina

Segera setelah Sudevā meninggal, utusan Yamadipati datang menjemputnya dan menyeretnya untuk menghadap pada dewa Yama. Dewa Yama menjatuhkan hukuman yang sangat berat pada Sudevā. Dia dibuang dari neraka satu ke neraka lain dan tubuhnya dipotong-potong dan direbus dan mendapatkan berbagai macam hukuman. Setelah terlahir kembali ia menitis menjadi mulai dari seekor semut, serangga, dan pada akhirnya adalah menjadi babi betina. Setelah selesai menceritakan kisahnyua, Sudevā memohon agar dirinya diberikan anugrah. Maka setelah diberikan pahala yang dikumpulkan selama satu tahun oleh sang permaisuri, maka seketika itu Sudevā dalam wujud babi betina menjadi seorang wanita ilahi, berpakaian amat fantastis dan memakai perhiasan permata. Sebuah kendaraan ilahi (vimana) turun dari langit dan membawanya ke Surga.

 18. Kembali ke Cerita Sukalā

Sukalā membuat teman-teman terkagum-kagum oleh ceritanya itu. Maka segera kisah pengabdian Sukalā pada suaminya, tersebut luas. Sukalā tidak hanya terkenal dikalAñgan manusia namun para dewa juga mendengarnya. Indra, raja dari para dewa, ingin menguji Sukalā. Beliau mengirim seorang utusan pada Sukalā. “Kau menyia-nyiakan waktumu” kata sang utusan pada Sukalā. “Suamimu telah pergi untuk berziarah. Tapi sebenarnua kau telah ditinggalkannya. Mengapa kau sia-siakan masa mudamu dalam penantian yang tiada kunjung habis ini? Menikahlah dnegan majikanku.”

“Siapa majikanmu/” tanya Sukalā. “Mintalah agar dia muncul dihadapanku.”

Indra kemudian menampakkan diri dengan segala kemewahan dan kemegahannya. Beliau berusaha membujuk Sukalā agar mau menikah dengannya. Namun Sukalā mengabaikan, mengacuhkan kelebihan yang dimilik oleh dewa Indra. Dia tidak saja menolak namun dia juga memberikan kuliah yang cukup panjang tentang kewajiban seorang istri yang setia kepada suaminya.

Sedangkan di tempat lain, Kṛkala, suami Sukalā, telah kurang lebih menyelesaikan ziarah (tīrthayātranya) dan sedang dalam perjalanan pulang. Namun tiba-tiba sebuah suara gaib dari langit terdengar. “Kṛkala” kata suara itu. “Semua perjelananmu untuk mengumpulkan pahala itu, sia-sia. Kau melakukan tīrthayātranya hanya untuk memuaskan ego randahmu. Namun para leluhurmu tetap berada di Neraka.”

“Mengapa itu bisa terjadi?” tanya Kṛkala. “Mengapa tīrthayātranya hamba dis emua tempat suci menjadi sia-sia?”, “Itu karena kau tidak membawa istrimu bersamamu” jawab suara gaib itu. “Seorang istri yang setia dalam pengabdiannya harus selalu membagi berat ataupun ringan tugas suaminya. Karena kalau tidak demikian, maka tidak ada punya yang bisa dikumpulkan dalam sebuah rumah di mana seorang istri yangs etia dalam pengabdiam adalah jauh lebih suci dibandingkan dengan gabungan semua tempat suci. Mengapa kamu meninggalkan istrimu sendirian di rumah? Apakah hal itu pantas dilakukan?”

Mendengar semua itu, Kṛkala bergegas pulang ke rumahnya. Dan suami istri yang cukup lama berpisah itupun slaing peluk satu sama lain. Dan mereka berdua kemudian bergabung untuk melakukan sebuah upacara agama agar leluhur Kṛkala bisa selamat dari neraka.

Indara kemudian tiba untuk memberkati pasAñgan itu. “Aku telah menguji Sukalā agar menikah denganku. Namun pengabdiannya pada suaminya sangat tulus hingga semua usahaku gagal. Terberkatilah istrimu. Aku mau memberikan sebuah anugrah untuk kalian berdua. Mintalah”. “Mohon berkatilah kami anugrahi agar kami tidak pernah melenceng dari jalan kebenaran” kata pasAñgan itu. “Semoga kami selalu setia dalam pengabdian kepada para dewa dan para ṛṣi”. Maka anugrah itupun telah diberikan. Dan tempat dimana Sukalā dan Kṛkala tinggal sekarang menjadi tempat terkenal bernama Nārītīrtha.

19. Pippala

ṛṣi Kaśyapa memiliki seorang putra bernama Pippala. Pippala menginginkan kekuatan yang tidak tertandingi oleh siapapun di alam semesta. Oleh karena itulah ia kemudian pergi ke hutang Daśāranya dan mulai bermeditasi di sana. Ia bermeditasi tanpa makan dan minuman. Demikian hebatnya tapa itu hingga para dewa dan ṛṣi terpena oleh pemandAñgan itu. Musim yang berlalku tidak membuat Pippala bergeming. Dia duduk di sana bagaikan sebuah batu karang yang kokoh.

Seribu tahun telah berlalu, semut-semut mulai membukit di sekitar Pippala. Namun sang ṛṣi ini tetap tak tergoyahkan. Berebgai jenis ular berbisa menggerayangi dan menggigitnya. Namun Pippala tidak terpengaruh olehnya. Maka segera, kekuatan tapanya itu membuat tubuhnya beṛṣinar. Dan lingkaran energi menyelubungi tubuhnya.

Pippala hanya menghirup udara untuk mekanannya.s etelah tiga ribu tahun berlalu, para dewa mulai menyiram bunga padanya. “Kau telah membuat kami berkenan dengan meditasimu, mintalah sesuatu yang kau inginkan” śabda para dewa.

“Hamba menginginkan kekuatan yang membuat segala benda dan makhluk di alam semesta ini selalu mematuhi keinginan, kehendak hama” kata Pippala. Para dewa memberikan anugrah itu. Dan Pippala bangga atas apa yang telah dicapainya. Ia duduk di dekat sebuah telaga dan merayakan pencapaiannya. Tentu saja tidak ada, orang ataupun mahluk di alam semesta ini yang sanggup menandingi kekuatannya.

Seeokor burung bangau berdiri di telaga itu dan burung ini dapat mengetahui yang ada dalam pikiran Pippala. “Kau bodoh” kata burung itu pada Pippala. “Mengapa kau begitu bangga dengan dirimu? Aku tidak melihat bahwa kau telah mendapatkan segalanya. Kau telah membuang-buang waktu selama 3000 tahun dalam tapasya. Sukarmā jauh lebih terpelajar darimu. Dan dia tidak pernah melakukan tapa yang sulit untuk menjadi terpelajar.” Pippala sangat heran mendengar seekor bangau berbicara seperti manusia. “Siapa sebenarnya kau?” tanyamya. “Apakah kau Brahma, Viṣṇu atau Śiva?”. “Mengapa kau tidak pergi dan menanyakan siapa diriku pada Sukarmā?” teriak bangau itu. Namun burung itu juga memberitahu Pippala bagaimana menemui Sukarmā.

20. Sukarmā

Terdengarlah seorang brahmāna bernama Kuṇḍala dan Sukarmā adalah putra dari ṛṣi Kuṇḍala. Sukarmā menghabiskan waktunya untuk melayani kedua orang tuanya yang sudah amat tua. Inilah satu-satunya tujuan hidupnya. Pippala mencari Sukarmā di tempat pertepaan ṛṣi Kuṇḍala. Sukarmā kemudian menyambut Pippala dengan persembahan “ṛṣi Agung” kata Sukarmā. “Hamba benar-benar bersyukur, Anda telah datang mengunjungi kami. Hamba tahu mengapa anda datang ekmari. Anda telah melakukan tapa selama 3000 tahun dalam tapasya berat. Dan para dewa telah memberkati anda dengan anugrah dimana anda dapat memerintahkan atau melakukan apapun terhadap semua objek alam semesta sekehendak anda. Namun burung bangau itu mengatakan anda sangat bodoh dna tidak tahu apa-apa.”

“Siapakah burung bangau itu? Tanya Pippala. Burung itu adalah Brahman” jawab Sukarmā. “Adakah lagi yang ingin anda ketahui?” tanya Sukarmā. (Brahman adalah esensi ialahi dari seluruh semesta). “Apakah kau juga bisa mengendalikan semua objek di alam semesat?’ tanya Pippala penuh penasaran. “Nilai saja sendiri” kata Sukarmā yang kemudian memanggil para dewa untuk datang kepadanya, dihadapannya. Indra dan dewa-dewa lainnya secara bersamaan muncul dan melakukan aňjali pada Sukarmā. “Mengapa anda memanggil kami?’

Sukarmā kemudian menjelaskan bahwa ia melakukan semua itu untuk menunjukkan kekuatan yang diperolehnya. Pada dewa telah memberkatinya agar selalu setia dalam pengabdian kepada orang tuanya. Sukarmā juga mengatakan bahwa semua kekuatannya adalah karena pengabdiannya kepada kedua orangtuannya. Ia tidak pernah melakukan tapasya, ataupun mengulang-ulang mantra tertentu. Tidak ada tīrtha yang harus dikunjunginya. Karena punya (pahala) yang didapatkan dari melakukan Yajňa bisa lebih besar dari pelayanan kepada kedua orang tua dengan tulus. Apa gunanya mempelajari Veda jika seseorang tidak melayani kedua orang taunya”. “Hanya pengetahuan inilah yang bisa hamba bagi dengan anda” demikian Sukarmā memberitahu Pippala. ‘Dan jika anda mau hamba akan menceritakan tentang kisah raja Yayāti”.

21. Yayāti

Terdapatlah seorang raja yang bernama Nahuṣa yang terlahir dalam dinasti Candra (bulan), Nahuṣa adalah seorang raja yang baik hati. Beliau memberikan banyak sedekah dan melakukan banyak Yajňa. Karena begitu besarnya kekuatan punya-nya hingga ia mendapatkan gelar Indra dan memerintah di alam para dewa. (Kisah ini diceritakan dalam padma purāna. Namun juga ada dalam Mahābhārata).

Nahuṣa memiliki seorang putra yang bernama Yayāti dan ketika Nahuṣa mangkat dna pergi ke surga, maka kerajaanpun diserahkan pada Yayāti. Yayāti menjadi raja yang baik dan memerintah sesaui dengan aturan Dharma (Kebaikan). Beliau memelihara seluruh rakyatnya dengan baik. Yayāti memiliki empat orang putra, pemberani dan terpelajar. Nama mereka adalah Ruru, Puru, Kuru dan Yadu. (Nama-nama ini agak berbeda dari nama-nama yang terdapat dalam purāna lain ataupun di dalam Mahābhārata. Yayāti memiliki dua orang istri, Devayāni dan Śarmisthā. Dalam sumber-sumber itu dinyatakan putra-putra Devayāni adalah Yadu dan Turvasu sedangkan putra Śarmisthā adalah Druhyu, Anu dan Puru.)

Selama 81.000 tahun Yayāti memerintah dan mananya termashyur. Indrapun mendengar tentang Yayāti dan ingin bertemu dengannya. Sais kerta Indra adalah Mātalai.  Dan Indra mengirim Mātalai agar raja Yayāti di bawa ke surga. Mātalai menggoda Yayāti dengan segala kenikmatan dan keindahan surga. Namun Yayāti menolak pergi kesana jika ia tidak diijinkan kesana dengan tubuh fisiknya. Ia menolak untuk mati.

“Lihatlah padaku” kata Yayāti. “Aku berusia 150 tahun namun tidak tampak usia tua dalam diirku. Ini berkat pahala yang telah aku kumpulkan dan aku tampak seperti baru berusia enam belas tahun. Lalu mengapa aku harus meninggalkan tubuh ini? Sedangkan kekayaan, aku miliki kekayaan yang berlimpah di permukaan bumi”.

(Di sini tampak kejanggalan di mana orang berusia 150 tahun, memerintah selama 81.000. Namun padma purāna menjelaskan bahwa 150 tahun usia Yayāti adalah 150 tahun para dewa, bukan tahun manusia). Mātali kemudian melaporkan apa yang dikatakan oleh raja Yayāti kepada Indra. Sementara itu raja Yayāti memerintahkan rakyatnya untuk selalu mengikuti jalan Dharma dan memuja Viṣṇu. Maka hasilnya,s eluruh rakyat Yayāti menjadi baik: usia tua, penyakitan dan kesedihan sirna dari bumi. Tidak ada orang yang mati dalam usia pendek. Yama menjadi tidak punya tugas dan terpenjat oleh hal ini. Ia kemudian mengeluh kepada Indra bahwa kedudukannya terancam oleh kebaikan Yayāti. Bumi telah menjadi seperti surga.

Indra kemudian memutuskan untuk menguji agar Yayāti menjadi orang jahat dan melenceng drai jalan kebenaran. Ia kemudian mengutus dewa cinta, Kendarpa, untuk melakukan tugas ini. Dan karena kemahiran Kandarpa maka Yayāti mulai meninggalkan kesucian jalan yang ditempuhnya. Kadang ia mulai lupa melakukan peramdian pada wkatu yang ditetapkan. Dan melihat kesempatan ini, maka usia taupun menggerogoti tubuhnya dan ia menjadi orang tua. Dan seklai ia telah menjadi tua maka ia semakin kencanduan pada hal-hal keduniawian.

Pada suatu kesempatan Yayāti pergi ke hutan untuk berburu. Ketika sedang mengejars eekor kijang, ia tiba dis ebuah telaga indah yang terdapat di tengah hutan. Di tengah telaga itu mengambang sebuah teratai yang amat besar dan dia tasnya berdirilah seorang wanita cnatik. Wabita itus edang bernyanyi. Begitu indhanya nyanyian itu, hingga raja Yayāti spontan jatuh cinta padanya.

“Siapaha dirimu?” tanya Yayāti. “Aku adalah maharaja Yayāti, raja generasi candra. Aku jatuh cinta padamu. Menikahlah denganku”. “Nama hamba adalah Aśruvindumatī” jawab wanita itu “dewi cinta bernama Rati dan hamba adalah putrinya. Hamba sedang menunggu suami yang cocok untuk hamba. Tapi hamba tidak akan menikah dengan anda. Karena anda sudah tua. Jika mau menikah dengan hamba, anda harus menjadi mudada kembali maka hamba akan bersedia menikah.”

Yayāti kemudian kembali ibukota kerajaannya. Beliau kemudian memanggil keempat putranya dan menjalaskan permasalahan yang dihadapinya. Beliau berharap ada salah satu putranya yang bersedia diajak bertukar usia dan tubuh muda padanya. Karena inilah acara untuk bisa menikahi Aśruvindumatī. Yayāti berjanji akan mengembalikan masa muda itu jika ia sudah bosan dengan kenuniawian dan mengambil kembali masa tuanya.

Terkecuali Puru, semua putranya yang lain tidak bersedia memberiakn tubuh dan masa muda mereka. Mereka merasa bahwa Yayāti telah tutup umur dan tidak pantas memikirkan perkawinan lagi. Oleha karena itu Puru, Kuru dan Yudu dikutuk oleh ayahnya bahwa mereka dan keturunanya tidak akan pernah mewarisi kerajaan. Sedangkan Puru yang mau memberikan usia mudnaya pada ayahandanya, mendapatkan berkat yang sebaliknya dari saudara-saudaranya.

Yayāti kemudian kembali ke telaga itu dengan tubuh dan semangat muda lalu menemui Aśruvindumatī. “Tentu saja sekarang tidak ada amsalah bagimu untuk menikah denganku” kata Yayāti. “Ya, ada tuan. “jawab Aśruvindumatī. “anda memiliki dua orang permaisuri – Śarmisthā dan Devayānī. Sebelum menikah denganku, dan harus memberikan suatu janji penghormatan bahwa tidak akan memperlakukan kedua orang sebagai istri. Dan lagi anda selalu memenuhi permintaanku.”

“Aku setuju dengan persyaratan itu” jawaba Yayāti (maka Yayāti memninta Yadu untuk membunuh untuk membunuh Śarmisthā dan Devayānī. Ketika Yadu menolak, ia dikutuk bahwa keturunannya, para Yādava akan menjadi suku yang pemimpinannya adalah wanita). Setelah persyaratannya dipenuhi, Aśruvindumatī  bersedia menikah dengan Yayāti dan pasAñgan ini hidup bahagia selama 20.000 tahun. Aśruvindumatī meminta Yayāti untuk melakukan upacara Āśvamedha (kurban kuda) dna upacara ini dipercayakan para Puru yang berhasil melaksanakannya dnegan sukses yang luar biasa.

Setelah bertahun-tahun berlalu Aśruvindumatī memberitahu Yayāti, “Kita telah cukup berada dan menikmati keduniawian. Sekarang mari kita pergi ke surga.” Maka Yayāti pun memanggil Puru dan mengembalikan masa mudanya. Dan mengambil kembali masa tuanya. Kemudian bersama Aśruvindumatī iapun meninggal dan menuju ke Surga,s etelah memberkati Puru dengan segala miliki dan berkat mereka. “Seseorang haruslah seperti Puru” kata Sukarmā pada Pippla. “Karena tidak ada punya (phala) yang lebih besar dari apda pahala melayani orang tua”.

22. Cyavana

Dalam garis keturunan ṛṣi Bhṛgu, terdapatlah seorang ṛṣi bernama Cyavana. ṛṣi Cyavana berhasrat untuk mendapatkan pengetahuan sejati. Dan beliau menganggap bahwa satu-satunya jalan untuk itu adalah dengan menjunjungi tempat-tempat suci (tīrthayātra). Oleh karena itulah beliau kemudian mengunjungi semua tempat suci yang ebarda di pinggir sungai Narmadā, Saraswatī dan Gaodāvarī. Perjalanan tīrthayātranya itupun akhirnya membuat beliau tiba di sebuah tempat bernama Amarakantaka, di pinggir selatan sungan Narmadā. ṛṣi Cyavana sangat lelah dalam perjalanan itu lalu beristirahat di bawah sebuah pohon beringin. Tinggalah seekor burung nuri yang terpelajar. Burung nuri itu bernama Kuňjala. Kuňjala memiliki istri dan empat orang anak. mereka adalah Ujjvala, Samujjvala, Vijjvala, dan Kapiňjala.

Setiap pagi keempat anak burung ini selalu pergi keluar untuk mencrai makan. Dan mereka sellau menyisakan mekan itu untuk kedua orang tua mereka. Pada suatu sore ketika Cyavana seddnag duduk di bawah pohon itu. Keempat anak burung itu baru saja kembali dari perjalanan mereka. Setelah seluruh keluaraganya kebagian makanan. Kuňjala kemudian bertanya pada Ujjvala, Nak, ke mana kau mencari makanan hari ini? Ceritakanlah apa yang kau lihat dan dengar.”

“Saya selalu pergi ke Plaksadvīpa untuk mencari makanan” jawabnya. “Wilayah itu memiliki banyak negara bagian, pegunungan, sungai dna hutan. Di negara ini memerintah seorang raja bernama Divodāsa. Ia memiliki seorang putri cantik yang bernama Divyādevī.” Ketika putri ini sudah tumbuh dewasa, Divodāsa mencari-cari seorang mennatu dan memutuskan menikahkannya dengan Citrasena, raja dari kerajaan Rūpa. Makana upacara pertunangan dilaksanakan. Namun sebelum pernikahan ditetapkan, Citrasen tiba-tiba meninggal.

“Apa yang harus aku lakukan sekrang?” tanya Divodāsa pada para menterinya. “Karena perkawinan itu belum terjadi, maka Divyādevī bisa menikah lagi” jawab para menterinya. “Mohon anda mencarikan mempelai laki-laki yang baru”. Saat itu raja Divodāsa memiliki raja Rūpasena. Dan dilakukanlah upacara pertunangan. Namun sebelum pernikahan dialngsungkan, Rūpasena mengalami nasib yang sama seperti Citrasena, meninggal. Divodāsa kemudian mencarikan mempelai yang baru, namun juga mengalami nasib yang sama, semikianlah berlangsung selama 21 kali. Setiap kali berganti pasAñgan, maka mempelai yang laki pasti meninggal sebelum pernikahan.

Dalam keputusannya Divodāsa memutuskan untuk membuat sayembara. (Dalam upacar ini, pengantin wanita memilih orang yang disuakinya di antara para undAñgan yang hadir). Seluurh raja dan pangeran yang ada di wilayah Plaksadvīpa diundang dalam syembara ini. Namun terjadi suatu peristiwa yang sangat aneh. Seluruh raja dan pangeran itu tiba-tiba bertarung dan saling membunuh satu sama lain. Setelah kejadian itu Divyādevī  tidak bisa menikah. Maka dia mulai mengasikan diri dan bermeditasi di hutan. “Itulah yang hamba amati di Plaksadvīpa. Mohon jelaskan pada kami mengapa Divyādevī bernasib malang seperti itu?’ demikian Ujjvala mengakhiri ceritanya. “Aku tahu kisahnya. Aku akan menceritakannya pada kalian” jawab Kuňjala.

23. Divyādevī

Terdapatlah sebuah kotasuci bernama Vāranāsī. Di Kota itu hiduplah seorang Vaiśiya (kasta ketiga dalam agama Hindū) yang baik hati bernama Sudhīra. Istri dan Sudhīra bernama Citra. Sudhīra orang kaya dan ia menyayangi istrinya. Namun sebaliknya Citra dalah wanita bertemperamen tidka baik. Dia tidak berminat melakukan perbuatan-perbuatan yang berphala. Dia tidka patuh pada suaminya dan selalu menentang keinginan suaminya. Satu hal yang paling disukainya adalah mengkritik suaminya. Ketika bosan mencela seuaminya maka dia pergi ke rumah untuk menyebar gosip permusahan dan kecemburuan.

Setelah beberapa waktu Sudhīra tidak sangup menahan semua itu. Maka ia menikah lagi. Sedangkan Citra, dia meninggalkan rumah Sudhīra dan mulai bergabung dengan para pencuri dan perampok. Dia biasa menjadi utusan atau mata-mata mereka dan membantu melakukan perampokan dan pembunuhan. Ketika Citra mati, dia diseret kehadapan Yama dan dimaksukkan ke berbagai neraka sesuai dengan dosanya. Dan setelah semua hukuman itu berakahir maka dia terlahir menjadi Divyādevī. Karena dalam kehidupannya yang lalu dia telah menghabiskan masa hidupnya dlaam menghancurkan keluarga orang lain maka dia ditakdirkan tidak akan memiliki keluarga (keturunan) dalam hidupnya yang sekarang, itulah alasan mengapa dia kesulitan untuk menikah.

Masih ada satu hal yang belum saya pahami. Jika sebagai Citra, Divyādevī telah melakukan berbagai kejahatan itu, bagaimana dia bisa terlahir sebagai putri raja Divyādevī? Itu pasti ada pahala yang menyebabkannya”. “Ya, benar” jawab Kuňjala “Aku lupa menceritakan hal itu. Suatu hari seorang biksu datang ke rumah Sudhīra, meminta sedekah. Citra kemudian membasuh kkais ang biksu (pertapa) dan memerikan makanan. Punya (pahala) ini, memastikan bahwa Citra akan terlahir sebagai seorang putri. Apakah ada pertanyaan lagi, putraku?”

“Saya punya pertanyaan terakhir” kata Ujjvala. “Bagaimana Divyādevī bisa mengatasi penderitaan yang dialaminya itu? Bagaimana dia seharusnya melakukan upacara penebusan dosa?. “Itu tidak sulit “jawab Kuňjala. “Dia harus terus menerus berdoa kepada Viṣṇu dan mengidungkan nāma beliau. Tidak ada lagi jalan yang pasti untuk mencapai pembebasan selain cara itu. Dia harus melakukan upacara suci untuk Viṣṇu. Mengapa kau tidak pergi dan memberitahunya tentang hal ini? Karena memberitahukan juga akan memberikan punya (pahala)”. Keesokan harinya, Ujjvala pergi dan memberitahu Divyādevī tentang apa yang telah dikatakan oleh ayahnya. Kemudian Divyādevī melakukan doa kepada Viṣṇu selama empat tahun dan dibebaskan dari dosa-dosanya. 

24. Cerita Samujjvala

“Apa yang ingin kau ceritakan pada kami” tanya Kuňjala kepada Samujjvala. “Apa sja yang telah kau lihat dan dnegar anakku?”, “Saya biasanya pergi ke Himalaya, untuk mencari makanan” jawab Samujjvala. “Ada sebuah lemah khusus yang sering di kunjungi oleh para ṛṣi dan apsara (bidadari). Danau Manasa sarovara ada disana dan kesanalah saya berpergian,sedangkan mengenai  apa yang hamba liat, hamba tidak bisa menentukan pangkal ataupun menentukan pangkal ataupun ujungnya. Namun saya akan menceritakannya pada ayah.”

Ketika Samujjavala sedang menunggu di danau itu, beberapa angsa datang kesana. Beberpa berwarna hitam sedang yang lainnya berwarna putih. Angsa yang putih memiliki paruh yang hitam dan kaki juga hitam.Ada juga angsa yang putih murni dan yang lain berwarna biru. Setelah angsa-angsa itu tiba, empat orang wanita mengikuti mereka. Wanita-wanita itu berpenampilan ganas. Giginya menonjol keluar dan rambutnya berdiri seperti semak-semak. Angsa yang hitam kemudian turun ke danau untuk melakukan peramndian. Angsa-angsa yang lain tidak ikut mansi, melainkan hanya mengitari pengiran danau. Sedangkan para wanita itu berdiri mengelilingi mereka dengan tawa keras.

Ketika semua itu sedang berlangsung, seekor angsa raksasa muncul dari dalam danau Mānasa Sarovara. Angsa ini diikuti tiga ekor angsa yang lain. Keempat angsa ini kemudian mengepakkan sayap lalu terbang menjauh. Keempat wanita itu terus berkeliling dan tertawa lebar. Sedangkan angsa yang lain juga ikut menunggu.

Sementara itu, seorang pemburu lewat dan duduk di pinggir dnaau.s egera datang juga istri sang pemburu. Namun istri pemburu ini tidak mengenali suaminya. Suaminya itu telah benyak berubah dari sebelumya. Ia telah menjadi sangat tampan dan wajahnya beṛṣinar. Sebaliknya sang pemburu mengenali dan menyapa istrinya. “Apakah kau tidak mengenali aku” tanya. “Mengapa kau pergi begitu saja tanpa memberikan makanan padaku? Aku sangat lapar”.

“Kau tidak mungkin suamiki” jawab istri pemburu itu. “Suamiku berwajah seram dan bertubuh gelap. Sedangkan kau tampan sangat tampan. Bagaimana mungkin kau adalah suamiku?’. “Percalah padaku, aku adalah suamimu” kata suaminya “ceritanya begini, ketika aku sudah kelelahan meburu binatang, akau lalu pergi dan mandi di danau suci bernama Narmadā Sañgama dipertemukan antara sungai Narmadā dan Revā. Segera setelah aku selesai mandi, tiba-tiba secera gaib penampakanku berubah. Ikutlah bersamaku dna aku akan membawamu kesana”.

Pemburu itu kemudian membawa istrinya menuju ke pertemuan sungai suci Narmadā dan Revā. Angsa dan keempat wanita itu juga mengikuti mereka. Karena penuh keingintahuan Samujjvala mengikuti mereka. Di tempat suci itu istri dari pemburu itu melakukan permandian dan penampilannya berubah menjadi lebih cnatik dan ilahi. Kemudian angsa-angsa itu ikut mandi di sana. Dan bagi angsa yang berwarna hitam separuh bulu atau kakikanya menjadi putih beṛṣinar laksna slaju. Keempat angsa yang berbulu hitam itu ikut ke sana dan setelah amndi mereka berubah menjadi putih murni. Sednagkan keempat wanita yang berwajah seram itu, tenggelam ke dlaam air dan mati. “Saya tidka bisa memahami arti kejadian ini” kata Samujjvala. “Dapatkah ayah menjelaskannya?”.Tentu saja aku bisa “jawab Kuňjala

25. Penjelasan

Suatu kali, ṛṣi Nārada pergi untuk mengunjungi Indra di surga. Indra kemudian menyambut beliau dan berkata “Bagaiman khabar anda ṛṣi yang mulia? Ke mana saja anda berpergian?”. “Aku mengunjungi semua tempat suci” jawab Nārada.

“Karena and atelah mengunjungi smeua tempat ziarah, mohon beritahu hamba yang manakah yang terbaik?” tanya Indra. “Aku tidak tahu jawaban drai pertanyaan itu” jawab Nārad. “Semua tīrtha (tempat suci) adalah suci dan keramat.”

Indra kemudian mengundang semua tīrtha (tempat suci) ke tempat sidangnya dan mereka semua berkumpul di sana, masing-masing tampak mempunyai keistimewaan dari yang lain. Di antara semua tīrtha ada: Gañga, Narmadā, Punya, Candrabhāga, Sarasvatī, Devika, Bimbika, Kubja, Prasiddha, Kuňjala, Maňjula, Rambhā, Bhānumati, Sughargharā, Śona, Sindhū soubīra, Kaverī, Kapila, Kumuda, Veda, Maheśvari, Carmanvati, Lopa, Sukousiki, Suhamsī, Hamsapāda, Hamsabega, Manoratha, Surutha, Svaruna, Vena, Bhadra Vena, Supadmini, Nahali, Sumaricha, Pulindika, hema, Divya, Candrika, Vedasamkrama, Jvala, Hutashani, Svāha, Kala, Kapilika, Svadhā, Sukalā, Liṅga, Gambhira, Bhīmavahini, devidrihi, Viravaha, Laksahoma, Aghapaha, Parashari, Hemagarbha, Viravaha, Laksahoma, Aghapaha, Parashari, Hemagarbha, Subhadra, Vasuputrika. Dana semua tīrtha di atas adalah tempat suci yang berupa sungai.

Adapun juga beberapa tempat suci yang berupa kota yaitu diantaranya, Prayaga, Arghyadīrgha, Puskara, Vāranasī, Dvāravati, Prabhāsa, Avanti, Naimisa, Mahāratna, Candaka, Maheśvara, Baleśvara, Kaliňjar,Brāhma Ksetra, Māthura Manavahaka, Maya dan Kanti. Semua tīrtha itu memberikan penghormatan kepada Indra dan bertanya “Raja para dewa kami telah datang. Mengapa anda mengundang kami? Apakah yang bisa kami lakukan untuk anda?”

“Aku ingin tahu yang mana di antara kalian yang mengunguli yang lainnya” jawab Indra. “Ada beberapa dosa yang benar-benar serius. Contohnya membunuh wanita, melawan suami, meminum anggur, mencuri emas, mencela seorang guru, menjadi pengkhianat, menghancurkan patung dewa dan lari drai medan perang. Siapa di anatara kalian yang cukup sakti untuk membeṛṣihakan dosa-dosa seperti itu?”

“Kami tidak  memiliki khasiat yang sama atau tingkat kesucian yang sama” jawab mereka. “Namun tidak diragukan lagi bahwa yang tersuci adalah Prayaga, Puskara, Arghya tīrtha dan Vāranāsī”.

Terdapatlah seorang ksatriya (kasta yang kedua) bernama Vidura tinggal di negeri Paňcala. Dalam keadaan emosional Vidura telah membunuh seorang brāhmana. Ini adalah dosa yang sangat besar. Vidura kemudain melakukan tīrthayātranya (ziarah) ke berbagai tempat namun dosanya belum termapuni. Perjalanan Vidura membawa ke wilayah Malava di mana tinggal seorang brāhmana bernama Candraśarmā. Temnya ini telah melakukan dosa membunuh seorang guur. Ia juga telah mengunjungi beberapa tempat suci, namun dosa-dosanya belum termpuni.

Vidura dan Candraśarmā kemudian melakukan perjalanan bersama-sama. dalam perjalanan mereka, mereka bertemu seorang brāhmana bernama Vedaśarmā. Orang ini telah melakukan dosa menikahi seseorang yang tidak boleh dikawininya. Dosanya belum juga terampuni meskipun telah mengunjungi berbagai tempat suci. Vidura, Candraśarmā dan Vedaśarmā kemudian melakukan perjalanan bersama.

Ketiga orang ini kemudian bertemu seorang Vaiśya yang bernama Vaňjula. Dosanya adalah, ia seorang peminum dan dosanya belum termapuni. Vaňjula pun bergabung dengan Vidura, Candraśarmā dan Vedaśarmā. Keempat pendosa itu akhirnya bertemu seorang ṛṣi dan mereka bertanya bagaimana dosanya bisa terampuni. “Mengapa kalian tidak pergi mengunjungi Prayaga, Puskara, Arghyatīrtha dan Vāranāsī?” demikian saran sAñga ṛṣi.”Aku yakin dosa-dosa kalian akan dibeṛṣihkan disana.

Maka keempat pendosa itu kemudian melakukan seperti yang dinasehatkan oleh sang ṛṣi. Namun dosa-dosa mereka belum juga termaafkan. Sebenarnya, begitu besar dosa-dosa mereka sehingga keempat tempat suci itu tidak sanggup menampungnya dan terkontraminasi oleh dosa-dosa mereka. Keempat tīrtha itu kemudian mengambil wujud empat angsa hitam dan mulai mengikuti empat orang pendosa itu. Pendosa itu kemudain pergi ke tīrtha yang lain dan setiap tīrtha yang dikunjunginya, sellau terkontaminasi dan menjadi angsa hitam. Tīrtha yang belum tertlar (terkontaminasi) dosa mereka juga mengikuti mereka. Mereka yang belum tertular berwujud angsa putih. Maka segera saja terlihat 64 tīrtha dalam wujud rombongan angsa yang berbaris.

Kemudian rombongan itu pergi ke sebuah tīrtha yang bernama Manasa Sarovara. Nmaun segera setelah mereka mandi di sana, danau Manasa Sarovara menjadi tertular hingga berwujud angsa yang sangat besar. Akhirnya rombongan itu kemudian menuju ke pertemuan antara sunagi Narmada  dan Reva.

Ketika keempat pendosa itu amndi dis ana, maka dosa-dosa mereka terampuni. Demikian juga dengan semua tempat suci, yang berwujud angsa yang hitam, setelah mandi di sana  merekapun bersih dan kontaminasi dosa. Merekapun menjadi angsa putih murni. Sednagkan mengenai keempat wanita yang berwajah seram itu adalah personifiaksi dari keempat dosa. Segera setelah dosa mereka diampuni maka, keempat wanita itupun meninggal. Meskipun Prayaga, Puskara, Arghyatīrtha dan Varānasī adalah tempat suci yang paling keramat, namun tīrtha yang paling suci adalah pertemuan sungai Narmada dan Reva. Ini dikenal sebagai Kubjatīrtha. Kuňjala telah menceritakan semua peristiwa itu dan berkata: Nak, apa yang kau saksikan pasti telah jelas bagimu. Itu semua hanya kiasan atau personifikasi kejadian yang sebenarnya.

26. Cerita Vijjvala

“Bagaimana dengan kamu, Vijjvala?” tanya Kuňjala.“Apakah kau mempunyai cerita yang menarik untuk kami?” “Ya, ada, ayah!” jawab Vijjvala

Vijjvala biasanya pergi untuk mencari makanan ke gunung Semeru dan sekitarnya. Di wilayah itu terdapat sebuah hutan yang menakjubkan bernama ānandakarana. Hutan itu dipenuhi buah dan bangua dari pepohonan Illahi. Para apsara dan gandharva datang ke sana untuk bermain-main. Kendaraan angkasa para deva turun disana berganti-gantian. Di dalam hutan itu juga terdapat sebuah danau yang indah. Bunga teratai dan burung angsa memenuhi danau itu.

Ketika Vijjvala sedang menunggu di sana ia melihat sebuah Vimāna itu tampak sebuah Illahi. Mereka tampan dnacantik serta berbusana indah. PasAñgan itu kemudian turun dari vimāna dna melangkah menuju ujung air danau itu. Mereka kemudian melakukan permandian di danau dan mengambil sepasang pedang. Selanjutnya Vijjaval melihat dua mayat yang tergeletak di pinggir danau. Aneh bin ajaib, mayat yang laki, persis seperti orang tuurn dari vimāna tadi. demikian juga dengan mayat wanita itu juga persis seperti wanita yang turun dari vimāna bersama laki-laki tadi.

Kemudian wanita yang baru saja mansi bersama pasAñgannya, mengambil sepotong daging dari mayat wanita yang tergelatak di pingir dananu dan mulai memakannya. Yang laki-laki juga mengambil daging drai mayat laki-laki yang tergelatak di pinggir danau yang peṛṣis seperti dirinya lalu memakannya. Ketika mereka sedang makan, dua orang wanita cantik datang dan mulai mentertawai para pemakan daging manusia itu. Kemudia dua wanita berwajah seram dan buurk rupa datang dan berkata “berikan kami sedikit” dmeikian teriak meraka terus menerus.

Setelah pasangan tadi selesai menghabiskan makannya, maka mereka kemudian meminum air danau, lalu naik ke vimāna (kendaraan angkasa) lalu pergi. Ke empat wanita yang tadi juga pergi. Dan segera setelah mereka pergi, dan mayat yang dagingnya dipotong sedikit,d an dimakan tadi tiba-tiba menjadi utuhh kebali. Yaitu bagian mana saja dari gading mayat itu yang di makan menjadi utuh kembali.

Vijjvala menyaksiakan kejadian ini berulang-ulang, setiap hari.

Apakah artinya itu, ayah?” tanyanya. ‘Siapakah pasangan Illahi yang turun drai vimāna itu?’ Siapakah dua orang wanita yang mentertawai mereka? Dan seiapakh dua wanita berwajah seram dna buruk rupa itu yang terus meminta bagian makan itu?”

27. Suvāhu

Ini dalah penjelasan yang diberikan oleh Kuňjala kepada keluarganya. Di kerajaan Cola, terdapatlah seorang raja yang bernama Suvāhu. Beliau berwajah tampan, jujur dan memiliki berbagai sifat baik. Beliau juga seorang pemuda Viṣṇu. Tak seorangpun di dunia ini yang snaggup menandingi pengabdian Suvāhu kepada Viṣṇu. Istri Suvāhu bernama Tarksyi.

Suvāhu melakukan berbagai jenis Yajnā. Namun pendeta kerajaan Suvāhu ṛṣi Jaimin, tidak puas dengan apa yang telah dilakukan oleh Suvāhu. “Tuan Raja” kata Jaimini. “Berikanlah aku beberapa sedekah. Maka ini akan mmeberikan anda pahala yang tidak akan pernah habis. “Apa gunanya punya (pahala) bagiku?” tanya Suvāhu jawab Jaimini. “Surga itu sangat menyenangkan.” “Mungkin itu benar” kata snaga raja. “Tapi akankah aku bisa berada di surga selamanya’

“Tentu saja tidak” jawab Jaimini “Anda hanya akan bisa tinggal di surga selama pahala anda belum habis. Saat di mana pahala anda sudah habis maka anda akan terlahir kembali ke bumi”. “Dalam hal ini, aku tidak berminat memberikan sedekah” kata Suvāhu. “Mengapa aku harus menginginkan kebahagiaan yang sementara seperti itu? Aku akan berdoa kepada Viṣṇu. Dan atas berkatNya aku akan diijinkan tingal di alam Viṣṇuloka. Dan itu jauh lebih berkualitas dari pada surga”.

Maka beliau (Suvāhu)bersama istrinya mulai melakukans eperti apa yang dikatakannya, beliau mulai melakukan tapa berat dan berdoa kepada Viṣṇu. Maka hasilnya ketika mereka wafat, maka rohnya langsung di bawa ke Viṣṇuloka. Viṣṇuloka adalah sebuah tempat yang mengagumkan. Namun meskipun berusaha sekuat tenaga, sang raja dan permaisurinya tidka berhasil melihat Viṣṇu. Lagi pula, mereka mulai merasakan lapar dan haus karena di sana tidak ada makanan atau minuman untuk disantap. Ketika mereka sedang mencari makanan dan minuman, mereka tiba di pertapaan ṛṣi Vamādeva.

ṛṣi Agung” kata Suvāhu. “Apa yang terjadi pada diri kami? Mengapa kami menderita seperti ini?. “Kau dan istrimu memang sangat setia mengabdi kepada Viṣṇu, namun kalian tidak pernah memberikan sedekah. Bentuk utama drais edekah adalah makanan dna minuman. Karena kalian tidak pernah menyumbangkan makanan dan minuman maka kalian harus menghadpi lapas dan haus di Viṣṇuloka”.

“Apakah tidak ada cara untuk menebus dosa-dosa itu” tanya Suvāhu. “Tentu saja ada” jawab snag ṛṣi. “pergilah ke tempat di mana mayat kalian sedang tergeletak di bumi. Tubuh-tubuh kalian belum membusuk. Makanlah daging myatmu. Lakukanlah jhal ini terus menerus hingga ada seseorang yang akan mengulang-ngulang mantra Viṣṇu untukmu. Hari, saat di mana kalian mendengar mantar suci itu diulang-ulang maka saat itulah hari pembebasmu.”

Demikianlah penjelasan drai apa yang disaksikan oleh Vijjvala. Sebenarnya pasnagan itu adalah Suvāhu dan Tarksyi, yang memakan daging mayat mereka sendiri. Sedangkan mengenai dua wanita cantik itu adalah simbol dari Prajňa (pengetahuan) dan Śraddhā (keyakinan). Prajňa dan Śraddhā tertawa pada sang raja dan permaisurinya, karena tidak mau menyumbang sedekah, mereka harus kehilangan arah tentang pengethauan dan keyakinan yang sejati. Kedua wanita buruk rupa itu adalah personifiaksi dari rasa lapar dan haus maka mereka teru berteriak meminta dgaing itu.

“Bagaimana dengan pembebasan mereka” tanya Vijjvala. “Mohon ajarkan saya mantra suci Viṣṇu itu. Saya ingin menghidungkannya pada Suvāhu dan Tarksyi agar mereka bisa mencapai pembebasan.” Kuňjala kemudian mengajarkan mantra itu. Dan Vijjvala kemudian pergi dan mengidungkan mantra itu di depan pasangan istimewa itu hingga mereka pun terbebas dari dosa-dosanya.

 

28. Cerita Kapiňjala

Sekarang adalah waktunya putra keempat yaitu Kapiňjala untuk menceritakan pengalaman apa saja yang telah dilihatnya. Kapiňjala biasanya pergi ke puncak Kailāsa untuk mencari makanan. Gunung Kailāsa adalah tempat yang indah dan sungai suci Gañga mengalir di gunung ituy. Ribuan sungai lain juga mnegalir di wilayah gunung Kailāsa. Dan lembahnya dipenuhi dengan telaga-telaga indah.

Adasebuah danau khusunya yang cukup besar, bunga teratai mengambang di atas permukaan airnya. Di sebelah danau itu terdapat batu karang yang sangat besar. Kapiňjala melihat di atas batu karang itu duduklahs eorang wanita cantik. Wanita itu duduk di atas batu dan terus menangis. Tetesan air matanya jatuh ke air danau dan begitu menetes disana, maka tetesan air mata itu berubah menjadi bunga teratai yang berbahu harum.

Di pinggir danau juga terdapat sebuah kuil. Kapiňjala melihat seorang ṛṣi yang memuja Śiva di kuil itu. Sang ṛṣi hidup dengan memakan dedaunan kering hingga tubuh beliau tampak seperti rangkanya saja. Bunga teratai yang timbul dari tetesan air mata itu dikumpulkannya lalu dipakai persembahan kepada Śiva. Setelah melakukan persembahan sang ṛṣi kemudian menari dan menyanyikan puja pada Śiva. Kemudian beliau duduk dan menangis.

“Ayah apakah arti dari pemandangan aneh ini” tanya Kapiňjala “Siapakah wanita cantik itu dan mengapa dia menangis? Dan siapkah ṛṣi itu. Mengapa beliau memuja Śiva? Apakah ayah tahu jawaban dari pertanyaan ini?”. “Ya aku tahu” jawab ayahnya, Kapiňjala.

 

29. Śiva dan Pārvatī

Śiva dan Pārvatī tinggal di puncak gunung Kailāsa. Di sana ada sebuah hutan kecil yang bernama Nandanakaran. Dan suatu hari Pārvatī ingin mengunjungi hutan itu. Śiva dengan senang hati mengajak Pārvatī ke hutan kecil itu. Hutan itu penuh dengan pepohonan yang indah dan Pārvatī mengagumi semuanya. Namun ada sebuah pohon khusus yang tampaknya mengungguli pepohonan yang lainnya. “Pohon apakah ini? Tanya Pārvatī

“Pohon ini disebut pohon Kappavrka” jawab Śiva. “Nama itu berarti bahwa pohon ini akan memberikan apapun yang kita minta”. “Apakah itu benar? Kata Pārvatī “Ijinkanlah aku mencobanya”. Pārvatī menginginkan pohon itu membuat seorang wanita cantik. Maka segera setelah Pārvatī mengungkapkan keinginnanya muncullah seorang wanita dari dalam pohon. Dia begitu cantik hingga tidak ada kata yang sanggup mengungkapkan kecantikannya. Wanita itu kemudian memberikan penghormatan kepada Pārvatī dan bertanya. “Mengapa anda menciptakan saya? Apa perintah anda?”

“Sebenarnya aku menciptakanmu untuk memenuhi keingintahuanku” kata Pārvatī. “Tapi kini karena kau telah diciptakan, biar aku menemaimu Aśoksaundarī, seorang raja bernama Nahuṣa akan menjadi suamimu kelak. Ia adalah raja dari keturunan Candra (bulan). Sejak saat itu Aśoksaundarī mulai tinggal di Nandanakanana.

 

30. Hunda

Ada seorang dānava Viprachitti dan memiliki seorang putra bernama Hunda. Hunda kebetulan pergi ke Nandanakanana dan bertemu dengan Aśoksaundarī. Melihat kecantikan-nya, Hunda spontan jatuh cinta dna ingin menikahinya. Namun Aśoksaundarī menolak cintan Hunda secara halus. Karena dia telah diberitahu bahwa seorang raja bernama Nahuṣa akan menjadi suaminya dan dia tidak akan menikah dengan orang lain, siapapun.

Akan tetapi Hunda bukanlah tipe yang cepat menyerah dan ia menemukan sebuah tipu daya. Para dānava, terkenal dengan keahliannya dalam ilmu māyā (ilusi). Melalui ilmu ini para dānava bisa merubah wujudnya menjadi apa saja yang diinginkannay. Hunda kemudian berwujud seorang wnaita cantik dan muncul di depan Aśoksaundarī. “Siapa kamu? “tanya Aśoksaundarī. “Aku adalah seorang janda yang malang. Suamiku telah dibunuh oleh raksasa Hunda, “jawab wanita itu. “Sekarang aku sedang melakukan tapasya agar Hunda bisa dibunuh. Mengapa kau tidak bergabung denganku di pertapaanku di pinggir sungai Gañga?”

Aśoksaundarī kemudian menemani wanita yang katanya mempunyai pertapaan di pinggir sungai Gañga itu. Namun segera setelah mereka berada di sana, Hunda memperlihat-kan wujud aslinya dan berusaha menculik Aśoksaundarī. Aśoksaundarī melakukan perlawanan. “Raksasa jahat” katanya. “Berani-beraninya kau menculik aku. Aku akan melakukan tapasya agar suamiku kelak membunuhmu.”

Ketika semua ini sedang terjadi, Nahuṣa belum lahir. Ia ditakdirkan lahir sebagai putra raja Ayu dan Permaisuri Induamti. Tapi saat Hunda sedang menculik Aśoksaundarī, Ayu masih belum punya anak. untuk mendapatkan seorang anak, sang raja berdoa kepada mahāṛṣi Dattātreya selama seribu tahun. Hingga beliau mencapat anugrah bahwa beliau akan mendapatkan seorang putra yang sakti dan baik hati.

Hunda belum bisa melupakan bahwa putra raja Ayu yang akan membunuhnya. Maka segera setelah anak itu lahir. Hunda menculiknya dan membawa bayi itu ke rumahnya. Ia memberikan bayi itu kepada tukang masaknya. Dan memerintahkan agar bayi itu dimasak dan dihidangkan untuk dimakannya. Akan tetapi juru masak itu adalah orang baik dan merasa kasihan pada bayi itu. Ia kemudian membunuh seekor kijang sebagai penggantinya dan menghidangkan daging itu kepada Hunda, dengan berpura-pura bahwa daging itu adalah daging sang bayi. Juru masak itu kemudian pergi dan meninggalkan bayi itu di pertapaan ṛṣi Vasiṣṭha.

Vasiṣṭha menemukan anak itu dan mulai membesarkannya. Kata Husa “berarti ketakutan. Karena anak itu tidak akan pernah takut maka Vasiṣṭha menamainya Nahuṣa  yang tanpa ketakutan. Sang ṛṣi mengajarkan semua jenis pelajaran, termasuk penggunaan berbagai jenis senjata. Ketika Nahuṣa tumbuh dewasa. Vasiṣṭha memberitahukan latar belakang kehidupannya. Beliau juga memberitahukan tentang Hunda dan Aśoksaundarī dan kenyataan bahwa ia ditakdirkan untuk membunuh Hunda dan menikahi Aśoksaundarī.

Nahuṣa kemudian mempersiapkan perang melawan Hunda. Demikian senangnya para dewa bahwa raksasa jahat itu akan dibunuh, maka mereka menawarkan berbagai senjata hebat pada Nahuṣa, dan Indra meminjamkan keretanya untuk dipakai oleh Nahuṣa. Markas Nahuṣa adalah Nandanakanana. Maka Nahuṣa pergi ke sana dan membunuh raksasa itu setelah malakukan perang yang dahsyat. Ia kemudian bertemu Aśoksaundarī dan menikahinya. Ia juga bersatu kembali dengan kedua orangtuanya. Dalam perjalanan sang waktu, Nahuṣa dan Aśoksaundarī memiliki soerang putra bernama Yayāti. “Tapi ayah belum memberitahu tentang identitas wanita cantik yang menagis itu, dan juga tentang seorang ṛṣi yang menyebah Śiva.” kata Kapīňjala. “Aku akan sampai ke sana” jawab Kuňjala.

 

31. Vihuṇḍa

Raksasa Hunda memiliki seorang putra yang bernama Vihuṇḍa. Ketika Hundai meninggal. Vihuṇḍa sangat sedih. Ia mengetahui bahwa ayahnya telah dibunuh oleh Nahuṣa dengan bantuan para dewa maka ia memutuskan untuk melakukan tapbrata agar bisa mengahancurkan mereka smeua. Demikian dahsyat tapanya para dewa ketakutan dan berlarian kepada Viṣṇu. “Mohon lindungi kami dari raksasa itu” kata para dewa. “Jangan khawatir “jawab Viṣṇu “Aku akan merencanakan sesuatu untuk menumbangkan Vihuṇḍa.

Viṣṇu kemudian mengambil wujud seorang wanita cnatik dan mulai tingal di Nandanakanan. Ketika Vihuṇḍa melihat wanita itu, amka spontan ia jatuh cinta”.

“Menikahlah denganku” katanya. “Tentu saja” jawab Viṣṇu. “Tapi ada satu persyaratan. Pertama-tama kau harus melakukan puja kepada Śiva dengan 7 crore bunga kamoda. Setelah melakukan ini, maka kau harus mebuat sebuah karangan bunga kamoda untukku maka barulah aku akan menikahimu.”

Vihuṇḍa menyetujui persyaratan itu. Tapi meskipun berusaha keras, ia tidak berhasil mendapatkan pohon yang bernama pohon Kāmondā. Tampaknya tidak seorang pun mengetahui pohon itu. Akhirnya Vuhunda meminta nasehat seorang ṛṣi  yang sakti dan memiliki smeua pengetahuan, Sukrācārya.

“Bunga  Kāmondā adalah sebuah bunga yang tidak bisa didapatkan dari satu pohon” jawab Sukrācārya. “Ada seorang wanita yang bernama Kāmondā ketika dia tertawa maka akan keluar bunga yang berwarna kuning dari ketawanya itu. Jika seseorang melakuka puja kepada Śiva dengan bunga ini, maka semua keinginannya akan terpenuhi. Tapi jika Kāmondā mengais maka akan keluar bungan tanpa bau dan berwarna merah. Dan bunga-bunga itu tidak boleh disentuh.”

“Lalu siapahak wanita yang bernama Kāmondā itu?” tanta Vihuṇḍa. “Di mana aku di pinggir ungai GAñga. Sedangkan mengenai asal usulnya, dia adalahs alah satu produk yang terlahir pada waktu terjadi pemutaran lautan susu.” (kisah pemutaran lautana susu ini (Samudra Mantana) tidak diceritakan dlaam padma purāna. Cerita ini bisa ditemukan dalam Rāmāyana, Mahābhārata dan purāna-purāna yang lain.)

Paradewa yang mengetahui rencana Vihuṇḍa ini, tidak mau membiarkannya berhasil mendapatkan bunga itu, ketika Kāmondā tertawa. Rencana mereka adalah untuk membuat Vihuṇḍa menggunakan bunga yang keluar ketika Kāmondā menangis dengan demikian Vihuṇḍa akan berhasil ditundukkan. Oleh karena itu, mereka mengutus ṛṣi Nārada pada Vihuṇḍa. Nārada berusaha membujuk Vihuṇḍa bahwa tidak ada gunanya pergi ke tempat  Kāmondā untuk mendpaatkan bunga itu akan. Karena  jikan Kāmondā tertawa atau menangis maka bunga iytu akan mengapung di atas air sungai Gañga dan yang harus dilakukan oleh raksasa itu adalah mengumpulkannya jika bangu itu lewat di aliran sungai.

Nārada kemudian berusaha membuat Kāmondā menangis. Ia pergi kepadanya dan memberitahu bahwa Viṣṇu akan segera turun ke bumi dlaam wujud AwatarāNya. Memikirkan Viṣṇu yang akan meningalkan surga membuatnya tertekan hingga Kāmondā mulai menangis. Maka kelurlah bunga-bunga dari tangisan dan bunga itu mengapung di permukaan air. Tanpa menyadari bahwa bunga itu keluar dari tangisannya. Vihuṇḍa terus mengumpulkannya dan menggunakannya untuk memuja Deva Śiva. Perbuatan ini membuat Devi Pārvati, permaisuri Śiva, menjadi murka hingga beliau mengambil pedang dan menebas leher Vihuṇḍa.

(Pada bagian yang terakhir ini penjelasananya kurang detail. Kedua jenis bunga itu memang berbeda warna dan baunya. Namun Vihuṇḍa tidak begitu jelas bisa membedakan-nya). “Sekarang kau sudah mendapat penjelasan tentang ilustrasi dari apa yang kau lihat itu” kata Kuňjala sang ayah.

 

32. Kuňjala

Anda mungkin belum lupa pada ṛṣi Cyavana yang merupakan awal dari cerita keluarga burung di atas pohon beringin dan beliau sendiri duduk di bawahnya. Sekarang beliau telah mendengar semua cerita Kuňjala  dan menyapa “Maaf, saya memotong cerita kalian” kata Cyavana. “tapi bagaimana bisa anda bisa anda begitu pinta terpelajar?”. “Aku akan menyampaikan ceritaku” jawab Kuňjala.

Terdapatlah seorang brāhmana terpelajar yang bernama Vidhyādhara. Ia mmepunyai tiga orang putra bernama Vasuśarmā, Namaśarmā dan Dharmaśarmā. Vasuśarmā dan Namaśarmā mengikuti jejak ayahnya. Mereka selalu melakukan perbuatan dharma dan mempelajari kitab suci. Namun Dharmaśarmā tidak menunjukkan kecenderungan ke arah itu. Ia menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang.

Maka akibatnya orang-orang mulai menjauhi Dharmaśarmā. Ketika sikap orang-orang mulai serius, maka Dharmaśarmā  merasa malu dan memutuskan untuk mencrai seorang guru spiritual yang mampu mengajarnya segala sesuatu yang patut diketahui. Maka kebetulan ia berhasil menemukan seorang guru dan segera saja ia menjadi benar-benar terpelajar.

Suatu kali seorang pemburu membawa anak seekor burung nuri kepadanya dan sang brāhmana Dharmaśarmā ini mulai tertarik dan terikat pada burung itu. Ketika buurng itu dicuri olehs eekor kucing. Dharmaśarmā menjadi teramat sedih. Ia menangisi buurng kesayangannya itu hingga ia meninggal. Karena menjelang kematiannya ia memikirkan buurng itu maka Dharmaśarmā terlahir dalam wujud seekor burung nuri dlaam kehidupan-nya. “Burung itu tiada lain adalah aku” jawab Kuňjalan.

Selanjutnya padma purāna, pada bahian ini menceritakan tentang beberapa keterangan geografis dari permukaan bumi dan berbagai tīrtha. Penjelasan ini kami langkahi, akrena penjelasan itu bisa ditemukan dalam purāna-purāna lainnya.

 

33. Putri-Putri para Gandharva

Gandharva adalah penghuni surga yang tugasnya menyangi. Ada lima orang Gandharva yang masing-maisng memiliki seorang putri. Putri dari gandharva Śukasangīt adalah Pramohini, Suśila mempunyai putra bernama Suśila, putri Svaravedi adalah Susvarā, Putri Cabdrakanta adalah Sutārā dan putri sari Suprabha adalah Candrikā. Keempat putri ini sangat cnatik menawan. Mereka berlima adalah teman baik.

Dalam bulan Vaiśaka, lima sekawan ini mmeutuskan untuk melakukan puja pada Pārvati. Oleh karena itu mereka kemudian oergi ke hutan untuk emncari bunga. Di tengah hutan terdaptlah sebuah danau.Lima sekawan itu kemudain mandi disana smabil mengumpulkan kuntum teratai. Mereka kemduian membuat sebuah patung dwi dan mulai memujanya.

Tersebutlah seorang ṛṣi bernama Vedanidhi memiliki seorang putra bernama Tirthapravara dan Tirthapravara ini juga adalah seorang ṛṣi. Ketika. Lima sekawan itu sedang melakukan doa, Tirthapravara kebetulan lewat di depan mereka. Karena saking tampanya, hingga lima sekawan putri para Gandharva itu jatuh cinta kepada Tirthapravara. Mereka mengira bahwa dewi Pārvati berkenan padanya dan mengutus Tirthapravara untuk menjadi suami mereka. “Nikahilah kami” kata mereka.

“Aku tidak bisa menikahi kailan” jawab Tirthapravara. Aku selalu terikat untuk melakukan tapa brata yang berat. Ketika smeua itu sedang dilakukan, aku dilarang untuk menikah”jawab Tirthapravara. Tapi Pramohinī dan temannya terus mendesak sang ṛṣi. Akan tetapi Tirthapravara adalah ṛṣi yang sakti dan menguasai tenik Māyā. Ia menggunakan kekuatan itu untuk menghilang. Ketika sang ṛṣi tidak muncul lagi, merekapun sedih dan segera kembali ke rumah mereka.

Keesokan harinya mereka kembali lagi ke hutan. Dan ketika mereka melihat Tirthapravara maka merekapun terus mendesak dan menekan sang ṛṣi agar mau menikahinya. “Kali ini Tirthapravara kehilAñgan kesabaran. Ia kemudian mengutuk Pramohini dan kawannya agar mereka berlima berubah menjadi Pisaci (hantu raksasa wanita).  “Kami kita menyakitimu” kata mereka “Tapi kami hanya menyatakan cinta kami dan keinginan untuk menikah denganmu. Tapi kau membalasnya dengan kutukan. Oleh karena itu kami juga mengutukmu menjadi seorang raksasa (pisaca)”

Karena saling kutuk mengutuk itu, maka terdapatlah enam raksasa yang berkeliaran di sekitar danau itu. Mereka tinggal di sanadan mencari makan di sana. Setelah beberapa tahun berlalu seorang ṛṣi bernama Lomasa kebetulan berkunjung ke sana. Maka raksasa dan raksasi yang lapar itu merasa senang melihat makanan yang ada dihadapan mereka dan menyerang sang ṛṣi. Namun ṛṣi Lomasa sangat sakti hingga para raksasa itu tidak bisa mendekatinya. Mereka kemudian tunduk dan bersujud pada sang ṛṣi.

“Bagaimana kami bisa terbebas dari wujud ini, tuan ṛṣi ?” tanya mereka. “Pergi dan mandilah di sungai Reva yang suci” jawab beliau.  Maka para raksasa itupun pergi dan melakukan seperti yang diminta oleh sang ṛṣi dan mendapatkan kembali wujud aslinya. Demikianlah kehebatan sungai suci Reva itu.

 

34. Vikuṇḍala

Bertahun-tahun yang lalu, dalam jaman Satyayuga, tinggallah seorang Vaisya yang bernama Hemakuṇḍala. Ia selalu melakukan kebaikan dan memuja dewa dan melayani para brāhmana. Pekerjaannya adalah berdagang dan beternak, ia memiliki harta berlimpah. Keseluruh kekayaannya mencapai delapan croce keping emas.

Perlahan-lahan Hemakuṇḍala menjadi tua dan merasa kehilangan indera pendengarannya. Menyadari bahwa hari-harinya untuk meninggalkan bumi sudah semakin mendekat, maka ia memutuskan untuk melakukan pengabdian di jalan yang berpahala. Ia menyediakan 1/6 kekayaannya untuk melakukan hal itu. Dengan uang itu ia membangun kuil, menggali sumur dan menanam pepohonan. Ia juga menyumbangkan banyak uang untuk sedekah.

Hemakuṇḍala memiliki dua orang putra bernama Srikuṇḍala dan Vikuṇḍala. Hemakuṇḍala masih punya banyak simpanan harta meskipun telah banyak yang disumbangkannya untuk sedekah. Ia kemudian membagi uang itu kepada kedua putranya. Sedangkan ia sendiri pergi ke hutan untuk bermeditasi.

Srikuṇḍala dan Vikuṇḍala menjadi dua pemuda yang kaya raya. Oleh karena itu segera saja mereka menjadi besar kepala. Bukannya menjalani hidup yang baik mereka malah menempuh hidup yang tidak benar dan bersenang-senang. Dalam menjalani hidup yang penuh hura-hura itu, merekapun mulai kehilangan semua kekayaannya. Sedangkan teman-teman jahatnya mulai meninggalkannya dan sekarang mereka terpaksa hidup prihatin.

Karena tidak sanggup menahan rasa lapar maka kedua bersaudara ini kemudian pergi ke hutan dan menjadi pemburu. Mereka berjuang untuk mencari makan. Namun sayang dalam perburuan itu, Srikuṇḍala harus tewas dimakan harimau dan Vikuṇḍala tewas digigit ular.

Karena mereka meninggal pada saat yang bersamaan, maka keduanya dibawa di hadapan Yama. “Bawa Srikuṇḍala ke neraka yang paling kejam” perintah Yama pada utusannya. “Dan bawa Vikuṇḍala ke surga.”

Kata-kata Yama itu membuat Vikuṇḍala amat terkesima, terheran. Pada utusan yang membawanya ke surga, ia bertanya. “Bagaimana hal ini bisa terjadi ? Kami dua bersaudara, terlahir dalam keluarga yang sama. Kami mati bersama. Lalu bagaimana halnya saudaraku bisa pergi ke neraka dan aku bisa masuk surga? Aku tidak melihat alasan yang masuk akal hingga aku bisa masuk surga.”

“Yang kau katakan itu memang benar” jawab sang utusan. “Tapi ada satu hal yang mungkin kau lupakan. Aku akan menyegarkan kembali ingatanmu tentang hal ini. Kau memiliki teman seorang brāhmana bernama Svamitra. Ia memiliki pertapaan di pinggir sungai Yamuna. Dulu kau pernah pergi ke sana dan mengunjungi sebuah tempat suci (tirtha) yang dikenal dengan nama Papapranasana. Karena pahala itulah kau bisa naik ke surga. Sedangkan saudaramu yang tidak pernah melakukan tirthayatra, maka ia harus masuk neraka”. “Tidak bisa begitu” kata Vikuṇḍala” Pasti ada jalan untuk menyelamatkan kakakku.”

“Ya, ada jawab sang utusan. “Dalam limakali kehidupanmu yang lampau, kau telah mengumpulkan banyak pahala. Jika kau mentransfer punya itu pada saudaramu, maka ia bisa terbebas dari neraka”. “Pahala apakah itu?” tanya Vikuṇḍala “Aku tidak ingat lagi”.  “Bertahun-tahun yang lalu ada seorang ṛṣi yang bernama Sakuni” kata sang utusan. “Beliau memiliki sembilan putra. Empat diantaranya yaitu, Nirmoha, Dhyanakastha, Jitakama dan Gunadhika, menjadi pertapa. Suatu kali mereka kebetulan mengunjungi sebuah perkotaan untuk meminta sedekah. Delapan kali kehidupan yang lalu kau tinggal di kota itu sebagai seorang Brāhmana. Dan kau tidak saja memberi sedekah pada mereka tapi juga menjamu mereka ke dalam rumahmu. Itulah pahala yang telah kau dapatkan. Dan jika kau mau memberikan pada saudaramu, maka ia pun bisa naik ke surga.”

Vikuṇḍala kemudian dengan senang hati memberikan pahala yang telah dikumpulkannya pada Srikuṇḍala. Dan Srikuṇḍala, seketika itu juga terbebas dari dosa-dosanya dan keduanya langsung ke surga. Demikianlah kisah Vikuṇḍala yang menakjubkan itu. Selanjutnya padma purāṇa mengisahkan tentang struktur purāṇa lain diasosiasikan dengan tubuh Viṣṇu.

 

35. Purāṇa

Delapan belas purāṇa sebenarnya diasosiasikan dengan bagian-bagian tubuh Viṣṇu. Setiap purāṇa diasosiasikan dengan bagian tubuh dihubungkan dengan salah satu bagian tubuh beliau.

  1. Brahma purāṇa                 adalah kepala
  2. Padma purāṇa                   adalah  jantung
  3. Viṣṇu purāṇa                     adalah tangan kanan
  4. Śiva purāṇa                        adalah tangan kiri
  5. Bhāgavata purāṇa             adalah paha
  6. Nārada purāṇa                  adalah pusar
  7. Mārkandeya purāṇa          adalah kaki kanan
  8. Agni purāṇa                       adalah kaki kiri
  9. Bhaviṣya purāṇa                adalah lutut kanan
  10. Brahmavaivarta purāṇa    adalah lutut kiri
  11. Liṅga purāṇa                     adalah betis kanan
  12. Skanda purāṇa                   adalah bulu tubuh
  13. Vāmana purāṇa                 adalah kulit
  14. Varāha purāṇa                  adalah betis kiri
  15. Kūrma purāṇa                   adalah punggung
  16. Matsya purāṇa                   adalah lemak tubuh
  17. Gāruḍa purāṇa                  adalah sumsum
  18. Brahmāṇḍa purāṇa           adalah tulang

 

Semua naskah ini adalah naskah suci yang dengan membacanya akan memberikan pahala.

 

36. Dandaka

Dalam jaman Dvapara yang terakhir ini, ada seorang pencuri yang bernama Dandaka. Ia suka mencuri barang milik para brāhmana, ia juga menghianati teman-temannya, selalu berbohong dan beṛṣikap kejam. Ia bahkan memakan daging sapi dan meminum anggur.

Suatu kali, Dandaka pergi ke kuil Viṣṇu untuk mencuri benda-benda berharga yang ada di kuil itu. Kakinya kotor berlumpur dan ia membersihkan kakinya pada teras di depan pintu kuil sebelum masuk ke kuil itu. Dan perbuatan itu membawa akibat yang tentunya tidak diperkirakan olehnya. Pada saat itu, teras depan kuil sedang kotor dan ketika Dandaka membersihkan kakinya, secara tidak sengaja kotoran yang ada  di sana juga ikut dibersihkan-nya.

Kamar utama kuil itu memiliki pintu kayu yang keras dan Dandaka menghancurkannya dengan satu cambuk besi. Di dalamnya terdapat patung Viṣṇu. Pencuri ini tidak menghiraukan patung itu karena ia berpikir bahwa tidak ada yang bisa didapatkan dari sebuah patung. Ia lebih memperhatikan benda-benda berharga yang ada di kuil itu. Ia kemudian mengumpulkan semua benda itu dalam satu ikatan. Namun dalam proses itu, ia secra tidak sengaja telah menjatuhkan beberapa benda berharga menimbulkan keributan.

Suara benda jatuh itu membangunkan penjaga kuil dan membuat mereka berlarian ke arah munculnya suara itu. Dandaka yang mengetahui hal itu cepat-cepat melarikan diri. Dan dalam ketergesaannya, ia secara tidak sengaja menginjak seekor ular berbisa yang mengigitnya hingga tewas, dan dibawa ke sidang dewa Yama. Dalam persidangan itu ada seorang pesuruh Yama yang bernama Citragupa. Ia bertugas menghutung semua perbuatan baik dan buruk yang dilakukan oleh manuisa di bumi. Ketika Dandaka diajukan kehadapan Yama, beliau menanyai Citragupta tentang hasil penimbangan dosa dan pahala yang dilakukan oleh Dabdaka.

“Umat ini” kata Citragupa” adalah seorang pencuri. Pendek kata tidak ada kejahatan besar yang tidak pernah dilakukannya. Akan tetapi, ia telah melakukan satu perbuatan baik. Dan begitu besar pahala yang dilakukannya, hingga semua dosa yang pernah dilakukan oleh Dandaka terhapuskan. Ia telah membersihkan debu kotor di teras depan kuil Viṣṇu”.

Segera setelah Citragupta mengatakan hal itu, Yama segera turun dari singgasana-Nya dan menunduk hormat pada Dandaka. Beliau menyadari bahwa tidak ada alasan untuk mengirimkannya ke neraka. Satu-satunya tempat yang pantas baginya adalah Viṣṇuloka. Lalu dikirimlah Dandaka untuk tinggal di sana. Demikian hebatnya pahala dari membersihkan kuil Viṣṇu.

 

37. Sang Tikus

Pada jaman Tretā Yuga, hiduplah seorang brāhmana yang bernama Vaikuṇṭha. Vaikuṇṭha sangat setia memuja Viṣṇu. Suatu kali ia menyalakan lampu di salah satu kuil Viṣṇu. Setelah, menyalakan lampu, iapun kembali pulang. Yang dipakai untuk menyalakan lampu itu adalah minyak ghee. Dan bau dari minyak itu mengundang tikus-tikus berdatangan untuk memakan mentega yang merupakan bahan dasar minyak itu. Dalam situasi itu, minyaknya tumpah dan nyalanya membesar. Nyala itu menerangi patung Viṣṇu dan menghalau kegelapan yang menerpa patung itu.

Di saat terakhirnya, tikus itu mati digigit ular. Yama kemudian mengutus pesuruhnya untuk membawa tikus itu dan mereka mengikatnya dengan tali dan pancing. Namun ketika mereka handak membawanya, datanglah utusan dewa Viṣṇu.

“Sungguh berani kalian mengikat tikus itu!” kata utusan Viṣṇu. “Apakah kalian tidak tahu kalau kalian tidak boleh menyentuh mahluk yang mengabdikan pada Viṣṇu? Tikus ini telah menghalau kegelapan yang menerpa petung Viṣṇu. Oleh karena itulah ia termasuk salah satu pemuja Viṣṇu. Lepaskan dia. Karena dia akan pergi ke Viṣṇuloka bersama kami. Semua dosanya telah terampuni”.

 

38. Śrīdhara

Śrīdhara adalah seorang raja yang sangat pintar memimpin negaranya sehingga dapat hidup makmur dan berbahagia, serta memiliki seorang permaisuri yang bernama Hemaprabhāvatī. Namun mereka tidak memiliki keturunan. Oleh seorang ṛṣi, Sridhara disarankan melakukan korban suci berupa sumbangan atau bersedekah pada para brāhmana baik berupa pakaian dan makanan agar mereka dapat memilki keturunan. Mereka tidak memiliki keturunan akibat dalam kehidupannya terdahulu tidak menolong seorang anak yang tenggelam di dalam telaga akibat pergi tergesa-gesa.

 

39. Līlāvatī

Menceritakan tentang seorang wanita yang sangat jahat dan tidak pernah menghiraukan perbuatan baik yang bernama Līlāvatī, namun ketika perayaan hari suci Rādhāstami yaitu hari sucinya Rādhā (pendamping Kṛṣṇa) ia melakukan pemujaan tirakat hingga segala dosa-dosanya dapat terampuni.

(Śuklapaksa adalah dua minggu dari awal bulan saat di mana bulan bersinar penuh. Astami tithi adalah bulan ke delapan). “Aku juga akan melakukan brata (terakat) itu” jawab Līlāvatī. Akhirnya, ketika Līlāvatī meninggal karena gigitan ular dan utusan Yama datang kepadanya dan berusaha menyeretnya ke alam Yama. Namun ketika semua itu sedang dilakukan, pengawal Viṣṇu datang dan memberitahukan pasukan Yama bahwa mereka tidak boleh membawa Līlāvatī ke alam Yama. Karena dia telah melakukan tirakat Rādhāstami dan semua dosanya terampuni. Līlāvatī kemudian pergi ke Viṣṇuloka. Demikianlah kehebatan pahala dari melakukan brata Rādhāstami.

 

40. Lakṣmīvrata

Dalam jaman Dvāpara Yuga. Ada seorang raja yang bernama Bhadraśravā. Ia memerintah wilayah Saurāṣṭra. Raja ini sangat terpelajar dalam ilmu Veda. Istrinya bernama Suraticandrika. Pasangan ini memiliki tujuh putra. Kemudian  lahirlah seorang putri bernama Syamabala pada mereka. Satu kali Syamabala pergi bermain bersama temannya ke pesisir lautan.

Ketika Syamabala pergi, dewi Lakṣmi datang ke istana orang tua Syamabala. (Lakṣmi adalah dewi kemakmuran, Saktinya Viṣṇu). Dewi Lakṣmi menyamar menjadi seorang brāhmana perempuan dan berkata penjaga gerbang “Aku mau bertemu dengan Suraticandrika”. “Mengapa kau ingin bertemu sang permaisuri?” tanya penjaga. “Siapa kau ini? Siapa namamu? Dan di mana kau tinggal?”. “Namaku adalah kamala” jawab Laksmi. “Suamiku bernama Bhuvanasva, Ia tinggal di Dvaravati. Aku mau mengingatkannya tentang kehidupan masa lalu permaisuri klian.” Karena Lakṣmi sedang dalam samaran, maka beliau menggunakan kata kiasan tentang dirinya. Kamala merupakan salah satu gelarnya. Kamala berarti sebuah bunga teratai dan dewi Lakṣmi diberi nama Kamala karena beliau duduk di atas kembang teratai. Bhuvanasva berarti penguasa dunia. (Yang dimaksudnya adalah Viṣṇu, suaminya). Dan Dvaravati adalah kota yang dibangun oleh Kṛṣṇa yang titisan suaminya). Kisah yang diceritakan oleh Lakṣmi pada para penjaga adalah sebagai berikut.

Dalam kehidupannya yang lalu, Suraticandrika lahir sebagai seorang wanita Vasya. Tapi ia tidak bahagia. Dia selalu bertengkar dengan suaminya dan akhirnya meninggalkan rumah tangganya. Dewi Lakṣmi kemudian menemui wanita yang malang ini dan memberitahunya untuk melakukan brata Lakṣmi (Ritual tirakat untuk Lakṣmi). Vrata ini memberikan pahala yang besar. Dan sebagai pahala dari vrata itu, wanita vaisya itu bisa tinggal bertahun-tahun di Viṣṇuloka setelah kematiannya. “Setiap kali wanita itu melakukan ritual Lakṣmivrata, dia bisa tinggal 1000 tahun di Viṣṇuloka. Dan ketika pahala itu telah habis, maka dia terlahir kembali sebagai Suraticandrika.

“Aku datang kemari untuk mengingatkan hal ini pada permaisuri” kata Lakṣmi. “ Sekarang dia kaya dan telah berubah menjadi sombong. Dia tidak lagi melakukan Lakṣmivrata. Dan ini sangat disayangkan”. “Vrata apa itu?” tanya penjaga. “Kapan vrata harus dilakukan?”. “Ritual Vrata ini harus dilakukan dalam bulan Margasirsa” jawabnya. “Nasi yang dimasak dengan susu, dicampur Champhor dipersembahkan pada Viṣṇu dan Lakṣmi. Selama empat hari dia harus melakukan doa pada Lakṣmi dengan mempersembahkan tepung, mentega, buah dan bunga.”

Penjaga itu kemudian meminta Lakṣmi untuk menunggu dan mereka pergi untuk memberitahu sang pemaisuri. Namun Suraticandrika tidak mengenali bahwa Brāhmana wanita itu sebenarnya dewi Lakṣmi. Dan ketika diberitahu tentang nasehat itu, Suraticandrika malah memukul dan mengusirnya. Ketika Brāhmana wanita itu pergi dia bertemu Syamabala yang sedang dalam perjalanan kembali ke istananya. Melihat brāhmana yang sedang menangis itu, Syamabala menanyainya tentang apa yang telah terjadi. Setelah mendengar cerita brāhmana itu, Syamabala memutuskan untuk melakukan ritual vrata itu.

Beberapa tahun selanjutnya, Syamabala kemudian menikah dengan Maladhara, putra raja Sidhasvara. Segera setelah Syamabala meninggalkan rumah orang tuanya. Semua  kekayaan dan kemakmuran di kerajaan orang tuanya perlahan habis. (Ini karena Lakṣmi menjauhinya. Sebelumnya Lakṣmi masih berkenan memberkati kerajaan itu, karena Syamabala yang selalu melakukan Lakṣmivrata masih tinggal di sana.) Kejadian ini memaksa raja dan permaisurinya hampir menderita kelaparan.

Bhadrasrava kemudian pergi untuk mengunjungi putrinya dan Syamabala tersentak melihat keadaan ayahnya. Setelah  memberi makan ayahnya, dia memberikan berbagai benda berharga dan uang untuk dibawanya pulang. Bhadrasrava membawa harta itu pulang, namun segera setelah ia memasuki rumahnya, harta dan benda berharga itu berubah menjadi setumpuk arang.

Kali ini Suraticandrika yang datang ke sana untuk mengunjungi putrinya. Dan saat itu bertepatan dengan perayaan Lakṣmivrata dan Syamabala memaksa ibunya untuk ikut melakukan vrata itu. Aneh bin ajaib! Ketika Suraticandrika kembali pulang. Dia mendapatkan semua harta dan kekayaannya dan kesejahteraannya kembali pulih seperti biasa. Demikian efek yang mengagumkan dari Lakṣmivrata.

 

41. Dīnanātha dan Viśvāmitra

Dalam jaman Dvāpara yuga, ada seorang raja sakti yang bernama Dīnanātha. Namun sayang sekali beliau tidak memiliki seorang putrapun. Beliau kemudian minta nasehat ṛṣi Galava bagaimana agar ia bisa memiliki seorang putra. “Lakukan sebuah Yajña” kata sang ṛṣi. “Dan persembahan kurban seorang manusia. Jika manusia yang dipersembahkan itu, sempurna dalam setiap hal maka ia pasti akan memiliki seorang anak.”

Raja  kemudian mengutus teliksandi (utusan) untuk mencari seorang pemuda yang tampan dan hebat. Para telik sandi  itu menjelajahi ke mana-mana. Akhirnya mereka tiba di sebuah desa yang bernama Dasapura di mana penduduknya merata berwajah sangat tampan di mana di sana terdapat seorang brāhmana yang bernama Kṛṣṇadeva. Istrinya bernama Susila. Kṛṣṇadeva dan Susila memiliki tiga orang putra.

Para utusan itu meminta sang brāhmana dan istrinya untuk memberikan salah satu putranya dengan harga satu laksa keping emas. Ketika pasangan brāhmana itu menolak, para utusan mulai menculik salah satu anak mereka dengan paksa. Dan merasa tidak berdaya, Kṛṣṇa deva dan Susila pun menyerah dan memohon agar putra tertua dan bungsu mereka jangan diambil. Maka putra yang kedua diambil oleh para utusan dan mereka meninggalkan emasnya serta pergi.

Kṛṣṇadeva dan Susila sangat bersedih kehilangan putranya hingga merek menjadi buta. Ketika para utusan raja kembali mereka melewati pertapaan Visvamitra. “Kalian mau ke mana?” tanyanya. “Dan siapa pemuda brāhmana itu?. Utusan itu kemudian memberitahu ṛṣi Visvamitra tentang kisah itu. “Beberapa anak itu” kata ṛṣi Visvamitra “Umurnya masih muda dan dia berhak menikmati hidup. Bawalah aku. Aku akan menjadi kurbannya.”

Para utusan itu menolak. Mereka berpikir bahwa Visvamitra terlalu tua untuk menjadi kurban yang baik. Oleh karena itu, Visvamitra kemudian ikut bersama mereka untuk menghadap sang raja. Ia membujuk raja untuk melakukan upcara itu tanpa kurban manusia. Visvamitra sendiri yang menjamin bahwa raja akan memiliki seorang putra. Maka seiring berjalannya waktu, seorang putra terlahir pada sang raja. Sedangkan anak brāhmana yang malang itupun dikembalikan pada orang tuanya. Begitu bahagianya mereka atas kembalinya putra mereka yang kedua hingga penglihatannya yang semula buta, kini bisa melihat kembali. Visvamitra memang seorang ṛṣi sejati.

 

42. Citrasena

Kṛṣṇa paksa adalah pertengahan bulan di mana bulan tidak bersinar penuh (bulan mati) Astami tithi adalah hari kedelapan dalam satu bulan. Kṛṣṇa lahir pada bulan Bhadra, pada Kṛṣṇa paksa dan astami tithi. Sebuah vrata yang dilakukan pada hari ini disebut Kṛṣṇastami vrata dan memberikan pahala yang amat besar.

Ada seorang raja yang bernama Citrasena yang melakukan banyak perbuatan jahat. Ia begitu jahat hingga menghindari semua orang terpelajar dan bergaul hanya dengan orang-orang buangan. Suatu kali ia pergi ke hutan untuk berburu. Ketika sedang mengejar seekor Harimau, ia tiba dipinggir sungai Yamuna. Hari itu kebetulan adalah hari ulang tahun Kṛṣṇa dan banyak apsara (bidadari) melakukan Kṛṣṇastami vrata di pinggir sungai Yamuna. Melihat pemandangan itu, raja merasa ingin melakukan upcara itu sendiri. Dan sebagai pahalanya, setelah kematiannya, Citrasena langsung menuju alam Viṣṇuloka dan semua dosanya terampuni. (Kṛṣṇastami vrata juga disebut Janmastami vrata).

 

45. Bhīma

Bertahun-tahun yang lalu, dalam jaman Dvapara yuga, ada seorang Sudra yang bernama Bhīma. Ia melakukan banyak dosa hingga seolah tak mungkin jumlahnya. Orang ini suatu kali pergi pada seorang brāhmana. Ia memutuskan untuk mencuri kekayaan brāhmana itu. Untuk bisa memasuki rumah itu, ia berpura-pura menjadi seorang pengemis. “Saya lapar, mohon berikan makanan untukku” katanya.

“Tidak ada orang lain di rumah ini” jawab brāhmana itu. “Aku tidak memiliki orang tua, istri ataupun anak. Tidak ada orang yang bisa memasak makanan untukmu. Mengapa kau tidak mencari beras sendiri dan memasak untuk dirimu sendiri?”. “Aku juga tidak memiliki siapa-siapa” kata Bhīma. “Aku akan tinggal di sini melayani anda.”

Sebenarnya semua itu hanyalah suatu trik. Bhīma mencari kesempatan agar bisa memasuki rumah agar bisa mencuri harta brāhmana itu. Namun sekali ia merasakan tinggal di sana, ia merasa tidak perlu tergesa-gesa. Hidup dengan brāhmana itu sangat menyenangkan. Jadi menurutnya tidak perlu tergesa-gesa untuk mencuri milik brāhmana itu. Karena kapan pun Bhīma menginginkannya, saat itu juga ia bisa melakukannya. Namun tinggal dengan seorang brāhmana membuat Bhīma mulai melakukan pekerjaan berpahala. Ia memasak mekanan dan membasuh kaki brāhmana itu. Semua pekerjaan itu memberikan pahala yang besar padanya.

Suatu malam seorang pencuri memasuki rumah. Bhīma berusahan mendegahnya. Namun ketika terjadi pertarungan, pencuri itu berhasil menebas leher Bhīma dengan sebilah pedang. Segera setelah Bhīma meninggal, utusan Viṣṇu datang menjemputnya dan membawanya ke Viṣṇuloka setelah semua dosanya diampuni. Demikianlah pahalanya melayani seorang brāhmana.

 

46. Hemaprabhā

Ekadasi  adalah hari kesebelas dalam satu bulan. Jika orang berpuasa pada ekadasi tithi dan melakukan upcara ritual maka disebut ekadasi vrata. Ritual ini sangat suci. Bertahun-tahun yang lalu seorang bernama Vallabha tinggal di sebuah kota yang bernama Kancana. Istri Vallabha bernama Hemaprabhā. Vallabha sangat kaya dan makmur. Namun ia tidak bahagia. Alasannya karena istrinya tidak mematuhinya dan setiap saat selalu berselisih paham dengannya. Pada suatu hari, Vallabha tidak sanggup lagi menahannya. Ia mengultimatum istrinya dengan pernyataan yang pedas.

Hal ini membuat Hemaprabhā sangat marah dan ia mengurung diri di kamarnya tanpa menyentuh makanan ataupun minuman. Dia berpuas sehari penuh. Seolah sudah ditakdirkan, diapun meninggal malam itu juga. Dan kebetulan hari itu adalah Ekadasi, oleh karena itu, Hemaprabhā telah melakukan puasa ekadasi secara sempurna. Dan ini memberi pahala yang besar padanya. Ketika Hemaprabhā meninggal, utusan Yama datang dan berusaha membawa wanita itu ke kahyangan Yama. Namun saat itu juga pengawal Viṣṇu datang dan menghalangi mereka. Demikianlah pahala yang didapatkan oleh Hemaprabhā hingga ia ditakdirkan untuk tinggal di Viṣṇuloka. Demikianlah efek yang mengagumkan dari ekadasi vrata.

Ada beberapa kisah lagi dalam Padma purāṇa yang kurang lebih adalah pengulAñgan dari alur kisah yang sama seperti yang telah dicantumkan dalam purāṇa ini maupun purāṇa lain. Jadi tampaknya ceria itu tidak usah dibahas lagi. Garis besarnya adalah sebagai berikut.

Pada jaman Treta yuga, ada seorang brāhmana yang bernama Sudarsana. Ia selalu mencela Veda, tidak pernah melakukan tapa brata dan ia hanya memikirkan diri sendiri. Ketika meninggal, ia dimasukkan ke neraka kemudian lahir sebagai seekor babi. Kehidupan selanjutnya, babi itu lahir menjadi burung gagak. Kebetulan sebuah patung Viṣṇu sedang dibeṛṣihkan dengan air dan burung gagak itu secara kebetulan meminum sebagian air itu. Maka hasilnya semua dosa Sudarsana termaafkan dan ia pun naik ke surga.

Juga di jaman yang sama, hiduplah seorang yang bernama Sankara yang merupakan penduduk kerajaan Saurastra. Istri Sankara bernama Kalipriya. Kalipriya sama sekali tidak mencintai suaminya dan selalu berselisih paham dengannya. Dia tidak pernah memasak untuk suaminya. Dan selalu mengharapkan tibanya hari di mana suaminya akan meninggal. Karena merasa keinginannya tak kunjung terwujud, maka dia sendiri yang membunuh Sankara agar dia bisa lebih bebas. Setelah kematian suaminya, dia mulai mengembara ke berbagai  kota. Karena takdir yang singkat, diapun mulai bergabung dengan para penyembah Viṣṇu. Dia melakukan beberapa Vrata dan mendapatkan banyak pahala. Kekuatan pahala itu sangat hebat sehingga setelah kematiannya, dia dibawa ke Viṣṇuloka setelah semua dosanya terampuni.

Dalam jaman Dvapara yuga, ada seorang brāhmana bernama Aditya. Pohon Tulasi adalah pohon yang disucikan oleh Viṣṇu. Aditya menyiram pohon itu lalu pergi. Di tempat itu juga ada seorang manusia buangan (candala). Orang ini sangat kehausan, karena tidak menemukan air mata ia mulai mencabut akar pohon itu dan meminum air dari akar itu. Sebenarnya ini adalah perbuatan yang sangat berpahala. Akhirnya candala itu mati dibunuh oleh seorang pemburu bernama Asimardana. Karena melakukan perbuatan berpahala dengan meminum air dari akar pohon tulasi, maka candala itu diampuni dosa-dosanya. Di antara sekian banyak dosanya, ada sebuah dosa menculik seorang wanita dalam kehidupannya yang lampau. Karena dosa itulah ia terlahir menjadi seorang candala. Dosa ini juga terampuni dan candala itu dibawa ke Viṣṇuloka oleh para pengawal Viṣṇu.

Pada jaman Treta yuga, hiduplah seorang sudra yang bernama Dandakara. Ia mencela Veda, memakan daging sapi, minuman anggur, berbohong besar dan melakukan banyak dosa lain. Ia begitu jahat hingga semua teman dan keluarganya menjauhinya. Dandakara kemudian memilih tinggal di hutan dan menjadi perampok. Ia merampok dan membunuh banyak orang. Dalam menjalani jalan sesat itu, suatu hari ia bertemu dengan sekumpulan brāhmana yang semuanya adalah pemuja Viṣṇu dan semua bhakta Viṣṇu ini berhasil membujuk Dandakara untuk melakukan sebuah vrata. Maka semua dosanya termaafkan setelah melakukan ritual vrata itu.

 

Penutup

Padma purāṇa adalah naskah yang suci. Orang yan mendengarkan cerita satu sloka dari naskah purāṇa ini akan diampuni dosa yang dilakukannya dalam satu hari. Dengan menyumbangkan seribu sapi pada para brāhmana, maka akan didapatkan pahala yang amat besar. Tetapi pahala dalam jumlah yang sama akan diperoleh jika mendengarkan hanya satu bagian (bab) dari padma purāṇa. Melakukan upacara asvamedha memberikan pahala yang tidak terkirakan. Namun dalam kaliyuga ini, jumlah pahala yang sama akan didapatkan dengan membaca seluruh isi padma purāṇa. Dengan menceritakan kisah ini  pahalanya jauh lebih besar dari melakukan tapasnya atau menyumbang sedekah. Pendek kata, berbagai pahala akan didapatkan dengan membaca dan memceritakannya.

Padma purāṇa ini diceritakan oleh ṛṣi Lomaharsana kepada para ṛṣi yang berkumpul di sana. Para ṛṣi itu merasa sangat puas atas apa yang telah mereka dengar. Dan setelah berterimakasih pada Lomaharsana, merekapun pergi ke tempat masing-masing.



Tidak ada Komentar »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>