Estetika Wayang Kulit Bali Lakon Bima Swarga

Filed under: Tulisan — wicaksana at 2:38 pm on Rabu, Mei 8, 2013

Estetika Wayang Kulit Bali Lakon Bima Swarga

Karya Dalang I Made Sidja

Oleh:

I Dewa Ketut Wicaksana

ABSTRAK

 

Tulisan ini mengkaji nilai estetika wayang kulit lakon Bima Swarga karya pakeliran Dalang I Made Sidja (Bona, Gianyar) yang sempat direkam ke dalam pita kaset audio. Jenis lakon ini dipentaskan Sidja dengan tradisi pewayangan gaya Sukawati (Gianyar) dengan cukup lugas, padat serta apik penyajiannya. Lakon Bima Swarga mengisahkan tentang Bima pergi ke kawah membebaskan ayahnya (Pandu) serta ibu tirinya (Madri) dari siksaan Yamadipati, dan akan dinaiknya kedua orang tua Pandawa ke sorga. Secara struktur, lakon Bima Swarga yang dipentaskan oleh dalang I Made Sidja kurang lengkap karena Bima baru sampai di neraka membebaskan Pandu dan Madri, maka lakon tersebut lebih tepat berjudul Bimaneraka. Namun demikian pemenggalan lakon tersebut dilakukan atas dasar pertimbangan waktu, ruang, dan kontekstual. sebagai seni pertunjukan, jenis lakon ini mempunyai struktur yang terikat oleh kaidah-kaidah struktur dramatikal dan teatrikal pewayangan tradisi Bali seperti pamungkah, petangkilan, pangkat, pasiat, dan bugari sebagai penutupnya. Bahkan struktur lakon ini mendekati sebuah penulisan ilmiah dengan mengakhiri kesimpulan dan sekaligus konsklusinya.

Secara semiotik, jenis lakon Bima Swarga membentuk struktur global yang mempunyai fungsi dan makna bagi penghayatan dan pengkajian budaya Bali (Indonesia) sebagai sumber inspirasi garapan tema dan amanat. Tema lakon ini adalah `rna/utang` dengan amanatnya hutang seorang anak kepada orang tuannya karena ia dilahirkan dan dibesarkan, maka ia harus berkewajiban membayar dengan cara melakukan bhakti baik secara fisik (mengupacarai) maupun spiritual dengan mencakup-kan tangan `nyumbah`. Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam lakon Bima Swarga meliputi, nilai ajaran dharma (kewajiban dan kebajikan); nilai yajnya (korban suci dan ketulusan); dan nilai kesetiaan (satya wacana dan suputra).

Secara filsafati, nilai estetis Wayang Kulit Bali lakon Bima Swarga tercermin lewat keabsahan fungsinya sebagai seni ritual (pitrayadnya), karena mengandung penyerahan diri kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), sehingga muncul rasa tenang, tentram, damai, dan nyaman, terutama bagi masyarakat pendukungnya. Dengan konsep taksu dan jengah merupakan dua paradigma yang berfungsi untuk meningkatkan kreativitas lewat kerja keras dan penuh pengabdian pada kesenian, yang pada hakekatnya merupakan pengabdian kepada Tuhan melalui nilai-nilai estetis yang bersifat religius. Secara estetika ilmiah dengan pendekatan teori evaluasi kesenian yang diajukan oleh Beardsley, bahwa Wayang Kulit terbentuk melalui pengorganisasian secara teratur dari berbagai unsurnya. Adanya keutuhan dalam keanekaragaman, keutuhan dalam tujuan, dan keutuhan dalam perpaduan dapat menambah nilai kompleksitas. Dengan adanya penonjolan-penonjolan dimaksudkan untuk mengarahkan perhatian penonton pada suatu hal yang dipandang lebih kuat, akan menambah intensitas dari pertunjukan wayang.

 

 

A. Pendahuluan

Estetika atau ilmu keindahan bukanlah pengetahuan tulen (science) saja, tetapi dalam tubuhnya mengandung unsur-unsur falsafah. Unsur sciencenya adalah bagian-bagian yang dapat dikaji dengan perhitungan logis, yang seolah-olah dapat diukur dengan jelas.[1] Sedangkan unsur falsafah tentang keindahan yang selama sejarah telah menelorkan banyak ragam teori dan pandangan, akan bermakna memberi wawasan terhadap kesenian. Apakah dipandang dari sudut benda indah dari benda seni itu sendiri, apakah persepsi dari keindahan dan benda kesenian itu harus dipermasalah-kan sebagai fungsi atau kemampuan yang ada dalam hati sanubari dan jiwa manusia.

Analogi dengan hal tersebut di atas, ada beberapa hipotese yang diharapkan dapat memandu penulis dalam mengamati nilai-nilai estetika Wayang Kulit Bali `Lakon Bima Swarga` karya Dalang I Made Sidja dalam upacara pitrayadnya di Bali. Pertama, tradisi seni pewayangan dan jagad pedalangan begitu dikenal sebagai salah satu bentuk kesenian tradisional, yang bersumber dan berakar dari nilai-nilai moral budaya para leluhur, dan sampai sekarang wayang berfungsi sebagai sajian untuk mengiringi upacara (wali) dan sekaligus hiburan (balih-balihan). Dengan fungsi seperti itu tentu ada beberapa nilai yang berperan terutama bagi masyarakat pendukungnya. Hal ini akan didekati melalui estetika falsafah dengan melakukan perbandingan, pengkaitan, persamaan. Pemilihan Dalang I Made Sidja dalam penulisan ini berdasarkan pandangan bahwa, beliau termasuk salah seorang dalang `suhu` (panutan) di wilayah Bona, Blahbatuh khususnya dan Gianyar pada umumnya, bahkan di Bali. Sidja sering dijadikan narasumber (informan) dari berbagai disiplin ilmu maupun adat termasuk kader-kader dalang yang ingin mengikuti jejaknya mengetahui dan memahami berbagai sumber ceritera. Karenanya Sidja sering disebut seniman serba bisa, ia paham dan kenal betul berbagai macam pengetahuan termasuk mampu melakukannya. Sejatinya beliau sering dijadikan contoh atau tauladan sehingga secara kualitas maupun kuantitas diakui oleh para dalang dan masyarakat pencinta seni di Bali.

Kedua, sebagai sebuah karya seni, pertunjukan Wayang Kulit Parwa lakon Bima Swarga mengandung tiga unsur pokok yaitu; struktur, bobot, dan penampilan, yang masing-masing menyimpan nilai estetika dalam mendukung kesatuannya. Ketiga unsur tersebut akan diamati melalui estetika ilmiah dengan pendekatan teori evaluasi kesenian yang diajukan oleh Beardsley. Tulisannya yang berjudul The General Criterion Theory (sifat estetik umum), ia menyebutkan ada tiga sifat estetik pokok yang menentukan mutu kesenian yaitu, unity (keutuhan), complexity (kerumitan), dan intensity (kekuat-an).[2] Ketiga sifat pokok (primer) ini akan dijabarkan melalui teorinya Bearsley yang kedua yaitu the instrumentalist theory of aesthetic value (teori intrumental tentang keindahan dalam seni), yaitu sifat-sifat skunder yang memberi bahan penunjang bagi kehadiran sifat-sifat primer.

Sesuai dengan judul di atas, tulisan ini akan membahas beberapa persoalan yang menyangkut muatan nilai estetika Wayang Kulit lakon Bima Swarga karya Dalang I Made Sidja. Tiga hal pokok yang dibahas dalam tulisan kecil ini yakni pengertian wayang kulit dan beberapa prinsip yang mendasarinya, implementasi nilai-nilai estetika yang terkandung didalamnya. Makna lakon Bima Swarga dalam implementasi pada upacara Hindu di Bali, serta pribadi Dalang I Made Sidja yang selama hidupnya diabdikan untuk ngayah berkesenian.

 

B. Wayang Kulit Bali

Fungsi dan makna wayang, tidak sekedar sebagai hiburan tetapi juga sebagai hasil seni budaya, pendidikan, penerangan, piwulang filosofis, karenanya wayang sebagai kesenian adiluhung hendaknya disikapi dan ditempatkan pada satu keseluruhan dan keutuhan. Untuk menyikapi dan penempatkan pada proporsinya yang wajar, kita tidak cukup hanya mengenalnya, tetapi juga menghayati, memahami, menginterpretasi, dan mengevaluasi sehingga timbul kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan. Dalang dan dunia pewayangan penting sekali diikutsertakan dalam rangka mensukseskan pembangunan bangsa Indonesia. Kedudukan, fungsi dan maknanya sangat penting terutama dalam rangka usaha untuk membina mental spritual atas jiwa dan budi pekerti kehidupan masyarakat Indonesia yaitu lewat simbolisme pementasan lakon-lakon wayang.

Hingga kini penulisan tentang wayang masih terus dilakukan, sehingga memberi kesan seolah-olah hasil kebudayaan tradisi bangsa Indonesia yang berwujud wayang merupakan sumber kajian budaya yang dapat ditimba tanpa ada keringnya. Untuk menghayati dan memahami sedalam-dalamnya masalah pewayangan, agaknya diperlukan telaah atau pendekatan secara interdisilpiner, karena telaah secara monodisipliner saja akan memperoleh gambaran semu atau sepihak. Hasil telaah dan analisa tentang wayang selama ini, pada umumnya lebih menekankan pada sisi dan makna filosofis yang diperoleh lewat dalang secara verbal, baik analitik maupun dramatiknya. Orang lebih suka mendengar atau melihat penyajian wayang dari sang dalang daripada membaca sendiri repertoirenya. Bahkan, tidak sedikit dalang yang memainkan wayang itu berdasarkan repertoire yang tidak dibaca sendiri, melainkan dari hasil mendengar dan melihat atau menonton penyajian dalang lain. Berbagai jenis karya sastra kuna yang berkembang di Bali, maka lahirlah jenis-jenis wayang kulit Bali antara lain: (1) karya sastra Mahabharata/Bharatayuda, melahirkan jenis Wayang Parwa; (2) epos Ramayana, melahirkan jenis Wayang Ramayana (sering disebut Wayang Batel); (3) karya sastra Calonarang, melahirkan Wayang Calonarang; (4) karya sastra Malat (salah satu versi ceritera Panji), melahirkan Wayang Gambuh, Wayang Arja, dan Wayang Dangkluk; (5) Cupak-Gerantang (ceritera rakyat Bali), melahirkan Wayang Cupak; (6) sastra Serat Menak (ceritera Amir Hamzah), melahirkan Wayang Sasak; (7) sastra Tantri Kamandaka, melahirkan Wayang Tantri.

Kesenian, apa pun bentuknya, pada dasarnya merupakan hasil kreativitas seniman. Sebagai sebuah hasil olah rasa, cipta, dan karsa seniman, kesenian tidak akan bisa dilepaskan dari ikatan nilai-nilai luhur budaya, termasuk estetika, yang hidup dan berkembang di lingkungan masyarakat tempat asal seniman yang bersangkutan. Kesenian Bali yang merupakan hasil kreativitas seniman yang berbudaya Bali sangat sarat dengan muatan estetis yang dijiwai oleh nilai-nilai budaya yang diikat oleh agama Hindu.[3]Upacara-upacara keagamaan di Bali, sangat memerlukan sekali jenis-jenis kesenian untuk menopang pelaksanaan berbagai macam bentuk upacara, seperti: seni rupa (ukiran dan lukisan di pura), seni tari, seni musik (karawitan) dan termasuk seni pewayangan. Dalam fungsinya mendukung ritual keagamaan, maka wayang kulit dapat digolongkan menjadi 2 macam yakni: (1) pertunjukan bebali, yakni untuk menyertai pelaksanaan upacara keagamaan, seperti upacara dewa yadnya, pitra yadnya, manusa yadnya, dan butha yadnya; dan (2) pertunjukan balih-balihan, yaitu pertunjukan hiburan yang menekankan nilai artistik dan didaktis.[4] Sesuai dengan kesepakatan pada seminar seni sakral dan profan[5] di Denpasar, menempatkan pertunjukan wayang atau seni pewayangan pada seni tari bebali (ceremonial dance), yaitu seni yang dipertunjukkan dalam fungsinya sebagai pengiring upacara dan upakara di pura atau di luar pura. Namun kalau diteliti lebih cermat dalam kenyataan di lapangan tidaklah semua pertunjukan wayang berfungsi sebagai pengiring upacara.

   Wayang Sapuh Leger dalam prakteknya ternyata tidak sebagai pengiring upacara, akan tetapi merupakan bagian dari upacara itu sendiri. Sebagai bagian (keharusan) dari keseluruhan upacara, Wayang Sapuh Leger termasuk seni wali (sacred relegious) yaitu berfungsi sebagai pelaksana dalam hubungannya dengan upacara agama. Atas dasar kenyataan tersebut (pertunjukan) wayang dapat digolongkan menjadi 3 macam yakni: (1) wayang wali, yaitu wayang yang berfungsi sebagai bagian dari keseluruhan upacara yang dilaksanakan; (2) wayang bebali, pertunjukan wayang sebagai pengiring upacara di pura atau dalam rangkaian upacara panca yadnya, seperti Wayang Lemah dan Wayang Sudamala; (3) wayang balih-balihan, pertunjukan wayang untuk tontonan umum yang fungsinya diluar wali dan bebali dengan menitikberatkan fungsi seni dan hiburannya.

 

C. Lakon Bima Swarga

Hariani Santiko mengatakan bahwa, diantara tokoh-tokoh pewayangan (khususnya Mahabharata), lima bersaudara yang dikenal dengan Panca Pandawa, anak dari raja Pandu dengan dua istri Kunti dan Madri dari kerajaan Astina. Dari kelima bersaudara tersebut, tokoh Bima yang sangat dikenal dan mempunyai kedudukan istimewa pada jaman Majapahit. Hal itu terbukti dengan ditemukannya relief atau arca Bima terpahat di candi Sukuh berceritera tentang Bima Swarga dan relief Nawaruci (Bimasuci) dipahat pada dinding pertapaan Kendalisada di lereng gunung Penanggungan.[6]  H.I.R. Hinzler menginformasikan bahwa di Bali ditemukan sumber sastra naskah Bima Swarga berbentuk prosa dan puisi antara lain, yang berbentuk prosa ditemukan sebuah lontar memuat ringkasan kisah Bima Swarga berupa Satua Kawi Pedalangan (satua wayang) yang didapatkan di Tampekan (?), menurut versi dalang tersebut berasal dari tahun 1930-an, sedangkan yang berbentuk puisi berupa tembang (pupuh) dalam bahasa Bali dan Jawa Kuno koleksi Gedong Kirtya (Singaraja) dan Fakultas Sastra UNUD Denpasar.[7]Sri Reshi Ananda Kusuma juga menyampaikan hal senada, bahwa naskah Bhima Swarga yang diterbitkan oleh CV. Kayumas Denpasar dan Pusat Satya Hindu Dharma Indonesia, merupakan salinan lontar milik Fakultas Sastra UNUD Denpasar dengan nomor Lor. 318. Kantor Dokumentasi Budaya Bali (Pusdok) Denpasar juga mengalihaksarakan lontar Bima Swarga yang didapatkan di Gedong Kirtya dengan nomor Lor. IIIb.375/17, disalin pada tanggal 12 Juli 1971, dan 5 Oktober 1978.

Mengamati kedua teks/naskah Bima Swarga tersebut di atas (Lor.318 dan IIIb.375/17) terdapat persamaaan dan perbedaannya. Secara puitis, kedua naskah tersebut sama-sama memakai tembang (pupuh) dengan alur ceritera pokok Bima pergi ke kawah membebaskan ayahnya (Pandu) serta ibu tirinya (Madri) dari siksaan Yamadipati, dan naiknya kedua orang tua Pandawa ke sorga. Perbedaannya, pada naskah 318 memakai tembang (pupuh) dua jenis yakni Puh Adri dan Puh Pucung yang terdiri dari 328 bait, sedangkan naskah IIIb. 375/17 hanya memakai satu jenis tembang yakni Puh Adri dengan jumlahnya157 bait. Perbedaan yang lain diamati dari segi alur dramatiknya, naskah 318 memulai ceriteranya Pandu dan Madri mohon (ngame-ame) kepada Kunti dan anak-anaknya untuk membebaskan dirinya di neraka dari siksaan Yamadipati, dan selanjutnya Bima yang ditugaskan mengambil dan mencari tirta kamandalu (tirta amerta) sampai ke sorga dan berakhir Pandu dan Madri mendapat kedudukan di sorga. Sedangkan naskah IIIb. 375/17 terdiri dari tiga bagian yakni, (1) Bima dihalangi oleh para dewata untuk mencari tirta kamandalu dan sempat dibunuh dua kali oleh Bhatara Bayu yang dihidupkan kembali oleh Sanghyang Jagatnata (Bhagawan Cintya), akhirnya air kehidupan itu diberikan kepada Bima untuk membebaskan Pandu dan Mandri (1 s/d 87 bait); (2) siksaan atma-atma dalam kehidupannya di dunia berbuat tercela dilakukan oleh pasukan Yamadipati dengan berbagai cobaan dan rintangan (sejumlah 30 bait). Bagian kedua dari naskah ini yang diberi judul `Iki Kidung Atmaaruwara` mendekati sama dengan naskah no. 318 (bait 43 s/d 79). Sedangkan (3) bertajuk `Iki Kuntiyadnya`, berceritera tentang Pandawa melakukan upacara Pitrayadnya dengan persembahan kidang putih (ari sweta) ber-jumlah 40 bait.[8]

Mengamati pertunjukan wayang dengan lakon Bima Swarga yang dipentaskan oleh Dalang I Made Sidja (83 tahun) nampaknya mengikuti naskah Bima Swarga nomor 318, namun ketika penulis menonton karya pakelirannya tidak sampai tuntas. Bapa Sidja, demikian beliau sering disebut memulai dari Kunti menyuruh anak-anaknya, terutama Bima membebaskan arwah ayah dan ibu tirinya dan berakhir ketika Kunti menasehati Bima untuk wajib menyembah ayahndanya. Hinzler juga menyebutkan, bahwa rata-rata dalang di Bali melakonkan Bima Swarga tidak sampai tuntas (sama dengan penyajian Sidja), atau lakon ini di bagi dua (2) bagian yakni, diutusnya Bima membebaskan Pandu dan Madri, dan atau Bima di utus mencari tirta kamandalu di sorga. Pada bagian kedua dari lakon Bima Swarga sempat penulis tonton ketika dalang I Made Kembar (58 tahun) dari Padang Sambian (Badung) menggelar wayang dengan lakon Bima Swarga di Banjar Abian Kapas Kaja, Kodya Denpasar, Rebo, 10 Juli 2002.

Adapun jalan ceriteranya adalah Bima diutus oleh ibunya Dewi Kunti untuk mencari arwah kedua orang tuanya, raja Pandu dan Dewi Madri yang disiksa oleh pasukan cingkarabala Yamadipati di nerakaloka. Rupanya Bima tidak begitu mudah mengambil-nya, karena harus berperang melawan pasukan cingkarabala termasuk penguasa neraka loka yakni Sanghyang Yamadipati. Berkat kekuatan dan keteguhan hatinya, Bima berhasil mengangkat tulang-belulang kedua orang tuanya untuk dibebaskan naik menuju sorga. Demikian ceritera ringkas yang dibawakan oleh Dalang I Made Sidja dengan cukup lugas, padat, dan meyakinkan. Secara konvensional lakon Bima Swarga mengikuti struktur tradisi pewayangan Bali, namun yang menarik adalah adegan sikap Bima yang menolak menyembah arwah orang tuanya, justru diterangkan (dijabarkan) pada menjelang akhir pertunjukan ini yang sekaligus sebagai konsklusi. Penonton atau pendengar sempat penasaran untuk mengetahui apa yang melatarbelakangi sifat `aku`nya Bima dibalik sikap keluguannya itu. Diduga bahwa, Sidja menyajikan pakeliran ini sebagai strategi dan upaya untuk mengemas dalam bentuk sanggit (pah-pahan satua) untuk menyiasati supaya penonton atau pendengar menjadi betah dan tidak bosan menonton atau mendengarkan disamping upaya-upaya lainnya.

Khusus dalam pewayangan, pengolahan lakon ini adalah hasil interpretasi masing-masing individu dari setiap dalang, oleh karenanya semua hasil pengolahan itu dikenal sebagai lakon `kawi dalang`. Sifat-sifat dan cara pengolahan itu sangat bervariasi yang menyebabkan jauh dekatnya hasil olahan dari babonnya menjadi berbeda-beda. Dari pembiakan lakon-lakon itu, kini dikenal banyak jenis-jenis lakon dalam pewayangan seperti, lakon baku (pokok); lakon sempalan (terpotong-potong); lakon carangan (cabang); lakon karangan (interpretasi); lakon babad (legenda); lakon komik (gambar); lakon anggit-anggitan/kawi dalang; dan lain sebagainya. Untuk lakon Bima Swarga termasuk lakon kawi dalang, hal itu bisa ditelusuri dari alur dramatiknya mendekati struktur alur pewayangan. Dugaan tersebut dikuatkan dengan ditemukannya kisah Bima Swarga berupa Satua Kawi Pedalangan (satua wayang) oleh Hinzler seperti disebutkan di atas. Ciri khas lakon kawi dalang adalah, seorang dalang ngakit/nganggit satua (membuat pola ceritera) dengan cara mengambil ceritera pokok (babon) dari Astadasaparwa (Mahabharata) sebagian/ episode, kemudian mengarang (ngawi) dengan adaftasi dari naskah-naskah lain yang sesuai dengan kondisi dan situasi (kontekstual) seperti, Yamapurana Tatwa, Atma Prasangsa. Lakon Bima Swarga dalam pertunjukan wayang kulit sangat jelas mengiringi upacara pitra yadnya (ritual kematian). Lakon Bima Swarga dipentaskan pada waktu malam hari menjelang puncak upacara ngaben/pitra yadnya (H.–1), sehingga lakon ini berfungsi sebagai media komunikasi, persembahan simbolis, keserasian norma-norma masyarakat, pengukuhan sosial dan upacara keagamaan, dan menggugah rasa indah dan kesenangan, atau lebih singkatnya memberikan tontonan dan tuntunan.

 

D. Dalang I Made Sidja

Di Kabupaten Gianyar telah dikenal sebagai gudangnya seniman di Bali. Salah seorang diantaranya adalah I Made Sidja, seorang dalang cukup terkenal tidak saja di Bali, namun di Indonesia bahkan ia juga dikenal di luar negeri. Bapa Sidja, demikian ia sering disebut lahir di Banjar Bona Kelod, Desa Belega, Kecamata Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, tahun 1933 dari perkawinan antara I Wayan Gentur dengan Ni Nyoman Gedor. Berbekal pendidikan formal Sekolah Rakyat (SR), Sidja memper-sunting gadis sekampungnya bernama Ni Nyoman Saprug, telah lahir 10 orang anak tetapi yang masih cuma 6 orang  diantaranya; 1) Ir. I Nyoman Sanglah; 2) Ni Ketut Sulandari; 3) Ni Wayan Sasi; 4) I Made Sidia, SSP., M.Sn.; 5) Ni Nyoman Sari, SSn.; dan 6) I Wayan Sira, SSn. Semenjak ditinggalkan istri tercinta, Sidja mengasuh keenam anaknya dan menduda sampai sekarang dan itu ia lakoni dengan ketabahan dan kesabaran yang tinggi, sehingga anak-anaknya berhasil menempuh jenjang pendidikan tinggi dan bisa hidup bahagia bersama keluarga dan kerabatnya.

Pada tahun 1945, ia mulai tertarik menekuni bidang kesenian dan kali pertama dipelajari adalah gamelan gender wayang berguru kepada I Gusti Lanang Oka (Bona) dan Dewa Ketut Tibah (Gianyar). Untuk mendukung kegiatan berkesenian, Sidja belajar hampir seluruh jenis kesenian seperti, topeng; arja; calonarang; wayang, gender; gamelan batel; palegongan; geguntangan; menatah wayang; memahat topeng; mem-buat berbagai jenis perangkat upakara (sate tegeh/gayah; palagembal; bade; lembu dll.). Baginya belajar kesenian karena senang dan sepertinya roh kesenian menjadi panggilan hidupnya sehingga Sidja terus menjelajahi rimba seni dan budaya Bali dengan cara belajar dan belajar terus kepada guru yang dianggap mumpuni dibidangnya seperti, menari topeng dan sastra babad kepada I Ketut Rinda (Blahbatuh) dan ngwayang kepada I Nyoman Granyam (Sukawati, Gianyar). Selanjutnya berturut-turut belajar aksara Bali dari I Gusti Made Seler, geguritan, macepat dan sekar madya diajari oleh I Wayan Kereg (Blahbatuh), belajar mengukir paras, kayu, kulit dari I Gusti Nyoman Tantra dari Selat Blahbatuh, belajar membuat wayang, tapel, dan barong dari Bapak Sabung dari Blahbatuh, belajar memulas dari Bapak Laba dari Bedulu, tangkil ke puri Singapadu nunas ajah nyeket tapel barong ring Cokorda Oka, belajar ngewayang dari Bapak I Nyoman Granyam dari Banjar Babakan (Sukawati), belajar gender wayang dari Dewa Putu Pica dari Gianyar, belajar tentang filsafat mengatasi masalah penderitaan dan pepatah-pepatah kepada I Gusti Lanang Oka dari Puri Bona dan I Gusti Agung Gelgel Keramas, belajar makekawin dari I Gusti Lanang Krebek dari Selat Klungkung, belajar menari klasik dan tabuh dari I Dewa Ketut Tibah dari Gianyar, I Gusti Lanang Oka, Bapak Buja dari Blahbatuh dan I Wayan Ruju dari Batuan. Belajar membuat sesajen/banten upakara seperti, sarad, isin tukon, nama-nama jajan dari I Gusti Ketut Kontoran dari Bona Kangin, belajar membuat sate tegeh berdasarkan dharma caruban dan jagal mangsa dari I Made Sengger dari Blahbatuh dan I Wayan Rubag dari Patolan, belajar membuat Bade, Madia, Patulangan (sarana kremasi) dari I Made Redeng dari Bona Kelod, menerima seperangkat gender dan wayang dari I Gusti Lanang Oka. Saking banyak belajar dan mempraktekkannya, ia lupa tanggal dan tahun belajar karena kesibukan yang padat belum lagi banyaknya orang mendatangi rumahnya yang sederhana baik masyarakat lokal maupun tamu asing bahkan artis nasional (Muni Cader; Clif Sangra; Dewi Yul sekluarga). Dengan pakaian sederhana (kain/kamben dililit handuk), Sidja meladeni tamu-tamunya tanpa beban dan risih, dan menariknya semua senang dan betah.

Filosofi yang dianutnya adalah hidup sebuah pengabdian, dan filosofi seni yang dianutnya berkesenian adalah yajnya, betul-betul dilakoninya bersama semua anak-anak dan kerabat dekatnya. Karena itu Sidja berpesan kepada para seniman/pragina muda untuk banyaklah belajar kepada seniman tua dan carilah tutur-tutur sebagai pengetahuan (wawancara dirumahnya, Bona, Blahbatuh, Minggu, 16 Oktober 2011).

 

E. Nilai-nilai Estetik Wayang Kulit Parwa Lakon Bima Swarga

Maksud pengungkapan nilai-nilai estetik Wayang Kulit dalam tulisan ini, bukanlah untuk mengajak para pembaca agar ikut menganggap jenis tarian ini bermutu tinggi. Penulis masih menghargai subjektivitas dan pengalaman estetik yang pernah dialami dan dirasakan. Namun demikian, sungguhpun apa yang dirasakan indah oleh orang Bali dan orang asing yang pernah menggelutinya, mungkin juga tersimpul dalam benak para pembaca, terutama bagi mereka yang menggeluti bidang kesenian. Hal tersebut adalah sesuatu yang wajar, sebab unsur-unsur indah tidak selalu bersemayam dalam pribadi masing-masing, tetapi ia juga terkondisikan oleh sifat-sifat yang universal. Oleh karena itulah kedua aspek keindahan yaitu aspek estetika falsafah dan aspek estetika ilmiah tak dapat dipisahkan apabila membicarakan keindahan sebuah karya seni.

 

  1. 1.    Aspek Falsafah

Pembahasan nilai-nilai estetis kesenian Bali, khususnya Wayang Kulit melalui pendekatan falsafah, tak dapat dipisahkan dari konsep dan pandangan hidup orang Bali. Hal ini disebabkan seni pertunjukan di Bali bukan hanya dipandang sebagai barang hiburan dan kemewahan semata, melainkan juga dipakai sebagai alat pengikat solidaritas suatu komunitas. Lebih dari pada itu, seni pertunjukan juga dipergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu, misalnya mencari perlindungan, atau secara magis diharapkan dapat mempengaruhi suatu keadaan. Nilai-nilai estetis yang terkandung dari pagelaran wayang fungsinya seperti ini apabila dihubungkan dengan sifat keindahan itu sendiri yaitu dapat memberikan rasa tentram, tenang, dan nyaman, bahkan rasa penyerahan diri. Padanya tidak hanya terkandung unsur indah yang dinikmati secara visual dan auditif dengan mendekati persoalan-persoalan dari luar, tetapi dengan peninjauan ke dalam, merupakan kegiatan intelek, budi, spiritual, dan rokhani. Wayang Kulit yang memiliki akar dan perjalanan budaya yang panjang, menjadi sebuah seni tradisi yang dirasakan sebagai milik bersama berdasarkan atas cita rasa masyarakat pendukungnya.

Agama Hindu memiliki tiga kerangka dasar dalam penghayatan agamanya yakni, tatwa (filsafat), susila (etika), dan acara (upacara/ritual, adat-istiadat). Masyarakat Bali dalam melaksanakan praktek keagamaan, lebih menekankan pada susila dan acara, sehingga padanya ada anggapan-anggapan terhadap nilai-nilai kebaikan dan nilai-nilai moral. Kebaikan pada dasarnya mengandung semacam aura estetik yang kuat dalam dirinya, yang mempesona, mangharukan, mengagumkan dan sebagainya. Pelaksanaan upacara keagamaan mewariskan potensi keterampilan dalam seni budaya dan disiplin rokhani, tekun bekerja dan taat pada norma-norma kehidupan manusia. Mengadakan pertunjukan kesenian baik wayang, tari maupun gamelan di pura, merupakan ungkapan pengabdian yang tinggi nilainya untuk menghormati bhatara-bhatari sebagai manifestasi Ida SangHyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Dengan ngayah (mengabdi) menunjukkan keterampilan membuat barang kerajian yang terkait dengan upacara keagamaan. Sedangkan mesolah (menari), megamel (menabuh), ngwayang serta makidung (menyanyi) adalah ungkapan karma marga (ajaran susila) dan bhakti marga (ajaran acara) untuk mensukseskan upacara agama di Bali, sehingga ngayah menjadi motivasi utama bagi tumbuhnya kesenian Bali. Ida Pedanda Made Sidemen, seorang sastra kawi menganggap mengarang karya sastra adalah suatu kegiatan kebhaktian, dan karya sastra sebagai persembahan, jalan untuk menuju terciptanya karya yang indah yaitu kakawin. Yoga yang diungkapkan dalam bait-bait manggala (pembukaan) menjadikan sang kawi mampu `mengeluarkan tunas-tunas keindahan` (alung lango), karena ia dipersatukan dengan dewa yang merupakan keindahan itu sendiri.[9]

Pandangan tentang keindahan seperti ini banyak ditemukan pada masa Yunani klasik seperti misalnya Plato. Ia menganjurkan untuk mengabstraksikan keindahan itu dari benda atau peristiwa dunia, hingga keindahan itu dianggap sebagai kekuatan, sebagai dewa yang tidak dapat dilihat wujudnya, tetapi dewa keindahan itu dicerminkan oleh benda yang indah atau perbuatan yang baik di dunia.[10] Hal senada juga dikatakan oleh Kapila Malik Vatsyayam, yang menyebutkan bahwa di India di antara 200-100 SM, filsuf Bharata yang pertama menulis teori tentang keindahan dan kesenian (natyasastra) berdasarkan agama Hindu yakni, segala penciptaan karya seni dianggap sebagai pengabdian terhadap Tuhan sebagai suatu yoga atau pengorbanan.[11]

Pandangan-pandangan tersebut di atas juga dipraktekkan dalam berkesenian di Bali. Setiap pertunjukan seni di Bali, terlebih Wayang Kulit pada prosesnya sudah dimulai dengan memohonkan berkah di Pura Taksu yang disebut padewasan ngwayang. Mereka menyadari bahwa kekuatan niskala (supranatural) sering membantu `mendalang` sehingga penonton akan jadi terpesona dan mengaguminya. Hal inilah menyebabkan pertunjukan wayang tak habis-habisnya mempunyai kekuatan menarik karena sumbernya berpangkal pada niskala disamping kemampuan pribadi. Orang Bali, secara mitologis menganggap pertunjukan wayang berasal dari dewa-dewa di sorga. Mitos asal-usulnya disebutkan dalam 2 (dua) naskah lontar yaitu lontar Siwagama, dan lontar Tantu Pagelaran. Lontar Siwa gama menyebutkan sebagai  berikut:

“…sinasâ ring lemah, ryyarepaning saluagung, ginawéken panggung Hyang Trisamayâ, kumenaken kelirning awayang Bhatara Iswara hudipan, rinaksâ dé Sanghyang Brahma Wisnu, ginameling redep kacapi, rinorwan pamanjang mwang gulâ ganti, sinamening langon-langon, winahyaken lampah Bhatara kalih, Sanghyang Kala Ludra lawan Bhatari Panca Durga, sira purwakaning hana ringgit ring Yawa Mandala, tinonton ing wwang akwéh.[12]

Terjemahannya…di bumi, tepatnya di depan rumah Balé Gedé, dibuatkan sebuah panggung atau arena Hyang Trisamaya, digelar pertunjukan wayang memakai kelir, Bhatara Iswara bertindak sebagai dalang/pembicara, didampingi oleh Sanghyang Brahma dan Sanghyang Wisnu, diiringi gamelan Gender dan kecapi, menyanyikan lagu gula ganti, diikuti dengan gerak tari yang menawan, menceriterakan perjalanan kedua dewata, yaitu Sanghyang Kala Ludra/Bhatara Siwa dengan Bhatari Panca Durga/Dewi Uma, demikianlah awal mula adanya wayang di bumi Jawa, orang yang menonton cukup banyak…”

Naskah lontar Tantu Pagelaran, juga menyebutkan tentang asal mula pertunjukan wayang yang berasal dari dewa-dewa di sorga. Adapun isinya adalah sebagai berikut:

“…Rep saksana Bhatara Iswara Brahma Wisnu umawara panadah Bhatara Kalarudra; tumurun maring madyapada hawayang sira, umucapaken tatwa bhatara mwang bhatari ring bhuwana. Mapanggung maklir sira, walulang inukir maka wayangnira, kinudangan panjang langon-langon. Bhatara Iswara sira hudipan, rinaksa sira de Hyang Brahma Wisnu. Mider sira ring bhuwana masang gina hawayang,tineher habandagina hawayang, mangkana mula kacarita nguni”[13]

Terjemahannya “…Para dewata menjadi takut, Siwa yang berwujud Kalarudra berkeinginan akan membinasakan segala isi dunia. Bhatara Iswara, Brahma dan Wisnu mengetahui hal itu, kemudian turun ke bumi dan mengadakan pertunjukan wayang. Mereka menceriterakan siapa sesungguhnya Kalarudra dan Durga itu. Pertunjukan itu diadakan di atas panggung dengan kelir, sedangkan wayang-wayangnya dibuat dari kulit binatang yang diukir dan dipahat disertai nyanyian yang menawan. Iswara bertindak sebagai dalang, didampingi oleh Brahma dan Wisnu. Mereka berkelana di bumi ini dengan bermain musik dan memainkan wayang. Dengan ini terciptalah suatu pertunjukan wayang kulit.

Pandangan masyarakat Bali untuk melegitimasi nilai-nilai estetik dalam wayang, seperti disebutkan dalam dua buah lontar tersebut diatas bahwa mahkluk-mahkluk di sorga menjadi dalang, katengkong, dan penabuh. Hal tersebut dapat diambil manfaatnya dari ungkapan di atas, bukan kebenaran fakta, melainkan makna yang mendalam bahwa wayang adalah sebuah produk seni yang dihormati, dan menjadi idola dalam masyarakat. Penciptaan yang dilakukan oleh semua mahkluk sorga, bermakna bahwa karya seni ini adalah ciptaan seniman-seniman besar yang berkedudukan tinggi. Secara filosofis memberikan pengalaman estetis seperti kesenangan, kepuasan, dan ketentram-an. Salah satu paradigma dalam kesenian Bali yang berkaitan dengan aspek filsafat adalah taksu dan jengah. Taksu adalah kekuatan dalam (inner power) yang memberi kecerdasan, keindahan dan mujizat. Seorang seniman dapat dikatakan memiliki taksu, apabila ia mampu mentransformasikan dirinya secara utuh sesuai dengan peran yang ditampilkan. Seniman muncul dengan stage presence yang memukau, sehingga dengan penampilan itu ia dapat menyatu dengan masyarakat pendukungnya. Taksu kalau disalin mendekati genuine creativity, yang berfungsi meningkatkan kreativitas meliputi segala aspek kehidupan yang membawa kemajuan-kemajuan dan mempertinggi budaya bangsa. Taksu sebagai anugrah Tuhan adalah hasil kerja keras, dedikasi, penyerahan diri pada bidang masing-masing dalam keadaan murni. Jengah dalam konteks budaya (seni) Bali memiliki konotasi sebagai competitive pride yaitu semangat untuk bersaing, guna menumbuhkan karya seni yang bermutu. Sementara taksu memiliki arti sebagai kreativitas budaya, maka jengah adalah sifat-sifat dinamis yang dimiliki oleh budaya itu.[14] Nilai adiluhung pedalangan/pewayangan termasuk jenis pertunjukan yang `utameng-lungguh` dalam kehidupan kebudayaan masyarakat Bali. I Gusti Ketut Kaler sebagaimana dikutip oleh Ketut Rota, sempat berucap “…punika awinan pangringgitane sinanggeh pagelaran utameng lungguh, punapi malih sane marupa wali  sekadi wayang lemah, sudhamala, miwah sapuh/empu leger…”.[15]Pernyataan tersebut di atas mengisyarat-kan kesadaran seorang dalang bahwa, kekuatan niskala (supranatural) sering membantu pertunjukan wayang sehingga penonton akan jadi terpesona melihatnya. Disamping kemampuan spiritual, dalang diharapkan mampu menguasai unsur-unsur seni yang membangun keseluruhan pentas pewayangan.

  1. 2.    Aspek Ilmiah

Sebagai sebuah karya seni, Wayang Kulit terbentuk melalui pengorganisasian secara teratur dari berbagai unsurnya.  Sedikitnya ada 6 (enam) unsur estetik yang saling terkait dan seirama dan terjalin dalam satu sajian wayang antara lain; seni drama, seni rupa (lukisan, tatahan, wanda), seni sastra, seni suara (vokal dan antawacana), seni karawitan, seni tari (gerak/tetikesan/gaya), dan seni yang lainnya. Wujud visual dari pertunjukan wayang merupakan perpaduan  harmonis dari beberapa unsur seni yang masing-masing saling mendukung keutuhannya dalam satu lakon (lampahan/satua). Wujud lakon melibatkan dua dimensi yakni, dimensi ruang dan waktu. Hal tersebut dapat diukur, karena libatan dimensi ruang dan waktu akan terbawalah dalam pewayangan yang memiliki unsur-unsur estetika. Ternyata diketemukan tiga unsur mendasar yang berperan dalam sebuah struktur pertunjukan wayang yang menimbulkan rasa indah pada sang pengamat yaitu, keutuhan, penonjolan, dan keseimbangan. Keutuhan yang dimaksud adalah bahwa karya yang indah menunjukkan dalam keseluruhannya yang utuh, bermakna antara semua unsurnya, yang satu memerlukan kehadiran yang lainnya, dan saling mengisi.[16] Perpaduan tiga dasar sebuah pertunjukan yakni; wiraga, wirasa, dan wirama seperti motif-motif gerakan/ tetikesan wayang dihubungkan dengan vokal dalang (alas harum, bebaturan) berpadu dengan dialog (antawacana) serta iringannya, kesemuannya itu berfungsi ke arah satu tujuan yaitu keutuhan, kebersatuan, kekompakan (unity). Adanya keutuhan dalam keanekaragaman yang dapat memperkuat keindahan yang diketengahkan oleh Prancis Hutcheson (1694-1746) menyebutkan bahwa, karakter-karakter khusus yang nyata pada obyek yang dipersepsi, dapat mencetuskan pengalaman keindahan adalah keseragaman dalam keaneka-ragaman (uniformity in variety).[17] Apabila dihubungkan dengan teori Beardsley, adanya keanekaragaman yang berpadu inilah disebut dengan compleksity atau kerumitan yang menentukan mutu estetik karya seni.

Selain keutuhan dan kompleksitas, juga terdapat unsur-unsur yang berfungsi memperkuat intensitas pertunjukan wayang dengan mengamati adanya penonjolan-penonjolan. Hal ini sangat penting dalam sebuah pertunjukan, karena mengarahkan perhatian penonton yang menikmati karya seni kesuatu hal yang tertentu. Penonton menyaksikan pertunjukan wayang lewat bayangannya, memberi kesan/aura magis yang lebih kuat dan menonjol sebagai cermin karakter-karakter manusia. Dalam lakon Bima Swarga, tokoh yang ditonjolkan adalah Bima alias Wrekodara, karena ia berperan penting sebagai penyelamat arwah kedua orang tuannya (raja Pandu dan Dewi Madri). Selanjutnya keseimbangan tetap merupakan syarat estetik yang mendasar dalam semua karya seni, karenanya unsur-unsur keseimbangan sebagai sebuah prinsip bentuk estetik adalah persamaan dari elemen-elemen yang bertentangan atau berlawanan.[18] Di dalam pertunjukan wayang kulit, pertarungan antara kebaikan dan kejahatan digambarkan melalui pertikaian antara kelompok protagonis melawan kelompok antagonis.[19] Lakon Bima Swarga, menempatkan Bima dan Pandawa sebagai tokoh protagonis (pihak kanan) dan Yamadipati beserta kelompok nerakaloka berada di pihak antagonis (pihak kiri) yang masing-masing melambangkan kelompok yang baik dan yang buruk. Unsur-unsur keseimbangan juga terdapat dalam musik iringanya seperti gender wayang yang selalu berpasangan antara teknik pukulan polos dan sangsih.

Nilai kebenaran (kejujuran, ketulusan, kesungguhan) disajikan melalui lakon-lakon seni drama Bali yang dibangun sedemikian rupa dengan mempertarungkan dua pihak, yang baik dengan yang buruk, yang jahat dengan yang jujur, yang berbudi tulus dengan yang tidak tulus. Lakon-lakon yang dipertunjukkan dalam wayang kulit, dramatari Calonarang, arja, drama gong, dan sebagainya pada umumnya mengetengah-kan pertarungan antara nilai-nilai kebaikan dengan keburukan yang berakhir dengan kemenangan di pihak yang benar atau setidaknya dengan akhir yang imbang (tidak ada kalah menang).[20] Di dalam seni rupa, keseimbangan yang demikian disebut dengan `a-symmetric balance` yaitu keseimbangan yang tidak simetri. Akan berbeda dengan `symmetric balance` yaitu keseimbangan yang terjadi oleh dua buah bagian yang sama seperti tubuh manusia, pinang dibelah dua, kupu-kupu dan lain-lainnya, sehingga pengalaman keseimbangan akan memberikan ketenangan. Keseimbangan yang simetri, disamping memberi rasa tenang juga memberi rasa stabil, sedangkan keseimbangan yang tidak simetris karena unsur balancenya sudah memberi rasa tenang, tetapi tenang dibarengi oleh rasa dinamis, seolah-olah akan berubah, berkesan akan bergerak. Karena faktor inilah, a-symmetrice balance mempunyai daya tarik bagi orang yang menyaksikannya.

Keutuhan dalam tujuan amat diperlukan untuk karya seni, agar perhatian penonton betul-betul dipusatkan kepada maksud yang utama dari karya seni itu. Berbicara tentang keutuhan akan mengarah pada kawasan bobot, isi, dan makna dari karya seni yang bersangkutan. Bobot atau isi yang dikandung dapat diamati melalui suasana yang ditampilkan. Intensitas pertunjukan wayang kulit Parwa lakon Bima Swarga oleh Dalang I Made Sidja, tercermin lewat keabsahan fungsinya sebagai seni ritual (pitra yadnya), karena mengandung penyerahan diri kehadapan Tuhan, sehingga muncul rasa tenang, tentram, damai, dan nyaman, terutama bagi masyarakat Bali yang sangat memerlukan akan kehadiran pertunjukan wayang.

Sebagai sebuah tontonan, penampilan merupakan hal yang menentukan pencapaian nilai-nilai estetik sebuah karya seni. Penampilan dimaksudkan adalah cara penyajian, cara bagaimana seni disuguhkan kepada yang menyaksikan atau khalayak ramai. Dalam penampilam terdapat tiga unsur yang berperan yakni, bakat, keterampilan, dan sarana.[21] Dalang I Made Sidja sangat piawai penyajikan pertunjukan wayang dengan cukup lugas, padat, dan meyakinkan. Secara konvensional lakon Bima Swarga mengikuti struktur tradisi pewayangan Bali, namun yang menarik adalah adegan sikap Bima yang menolak menyembah arwah orang tuanya, justru diterangkan (dijabarkan) pada menjelang akhir pertunjukan ini yang sekaligus sebagai konsklusi. Penonton sempat penasaran untuk mengetahui apa yang melatarbelakangi sifat `aku`nya Bima dibalik sikap keluguannya itu. Diduga bahwa, Sidja menyajikan pakeliran ini sebagai strategi dan upaya untuk mengemas dalam bentuk sanggit (pah-pahan satua) untuk menyiasati supaya penonton atau pendengar menjadi betah dan tidak bosan menonton. Dalam sebuah sajian seni pertunjukan seperti wayang kulit, semua unsur berpadu, baik vokal dan iringannya, keterampilan sabet/tetikesan wayang, sarana pendukungnya (kelir, wayang, lampu blencong), dan gayor (tata panggung) dan yang lainnya, lebur menjadi satu sajian. Apabila terjadi ketimpangan atau penganaktirian salah satu unsur saja didalamnya, akan dapat menurunkan nilai-nilai estetis sebuah sajian karya seni. Maka penampilan merupakan hal yang sangat menentukan dalam pencapaian nilai-nilai estetik sebuah karya seni.

 

 

 

F. Kesimpulan

Wayang Kulit sebagai salah satu bentuk kesenian Bali, ternyata banyak menyimpan nilai-nilai estetis yang cukup tinggi. Didalamnya terkandung nilai estetis tidak hanya teramati lewat pendekatan filsafati, dengan konsep-konsep obyektif dari masyarakat pendukungnya, akan tetapi teramati pula melalui pendekatan ilmiawi yang bersifat umum. Dari pembahasan tersebut di atas,  dapat disimpulkan sebagai berikut:

-     Secara filsafati, nilai estetis Wayang Kulit Bali lakon Bima Swarga tercermin lewat keabsahan fungsinya sebagai seni ritual (pitrayadnya), karena mengandung penyerahan diri kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), sehingga muncul rasa tenang, tentram, damai, dan nyaman, terutama bagi masyarakat pendukungnya. Dengan konsep taksu dan jengah merupakan dua paradigma yang berfungsi untuk meningkatkan kreativitas lewat kerja keras dan penuh pengabdian pada kesenian, yang pada hakekatnya merupakan pengabdian kepada Tuhan melalui nilai-nilai estetis yang bersifat religius.

-     Filosofi yang dianut oleh Dalang I Made Sidja sebagai seniman adalah yajnya yakni hidup sebuah pengabdian, sehingga sebagian besar hidupnya diabdikan untuk berkesenian dalam rangka ngayah.

-     Telaah studi kesastraan, teks Bima Swarga termasuk karya sastra yang melukiskan keadaan (peniruan) alam (mimetik); menggambarkan perilaku kehidupan masyarakat yang menganut keyakinan atau kepercayaan yang digunakan sebagai pegangan iman (moral) yang menambat-kan seseorang pada satu pegangan yang kokoh (panca srada); konsep neraka dan sorga sebagai ide kebaikan dan keburukan; alat atau media untuk mencapai tujuan tertentu yakni dalam konteks sosio-budaya (pragmatik).

-     Teks Bima Swarga, menempatkan Bima sebagai tokoh sentral (sentral pigur) karena ia sangat berperan penting dalam keseluruhan lakon itu. Bima dianggap mewakili karakter seorang yang jujur, lugas, tidak pandang bulu, ulet, tidak pernah putus asa, spontan, dan tidak pernah menghindari tantangan, sehingga banyak nama disandang-nya sebagai sebuah penghargaan tinggi bagi ksatria/pahlawan yang ihklas mengorban-kan dirinya. Secara semiotik, Bima dianggap sebagai mediator yang `menjembatani` antara manusia dengan Sang Maha Pencipta (Paramasiwa).

-  Secara estetika ilmiah dengan pendekatan teori evaluasi kesenian yang diajukan oleh Beardsley, bahwa Wayang Kulit terbentuk melalui pengorganisasian secara teratur dari berbagai unsurnya. Adanya keutuhan dalam keanekaragaman, keutuhan dalam tujuan, dan keutuhan dalam perpaduan dapat menambah nilai kompleksitas. Dengan adanya penonjolan-penonjolan dimaksudkan untuk mengarahkan perhatian penonton pada suatu hal yang dipandang lebih kuat, akan menambah intensitas dari pertunjukan wayang.

-  Pertunjukan Wayang Kulit memiliki struktur yang rapi dan komplek. Keteraturan itu akan menampakkan keutuhan dalam tujuan, sehingga terkandung bobot, isi, dan maknanya melalui suasana yang ditampilkan seperti, gerakan wayang (tetikesan), dialog (antawacana), gamelan (iringan), rupa/tatahan wayang. Hal tersebut mengandung kesan atau suasana tegang, meriah, dan gembira dengan bermacam gagasan atau ide yang dimunculkan seperti; kepahlawanan, kepemimpinan, percintaan. Sebagai sebuah tontonan, penampilan merupakan hal yang sangat menentukan dalam pencapaian nilai-nilai estetik sebuah pertunjukan wayang. Dengan bakat, keterampilan dan sarana yang mendukung dalam penampilan seorang dalang, akan menunjukkan ketotalan artistiknya di arena (panggung).

-  Nilai-nilai estetis yang terkandung dalam kesenian wayang yang dinikmati secara visual dan auditif apabila dihubungkan dengan sifat keindahan fungsinya dapat memberikan rasa tentram, tenang, dan nyaman, bahkan rasa penyerahan diri. Padanya tidak hanya terkandung unsur indah dengan mendekati persoalan-persoalan dari luar, tetapi dengan peninjauan ke dalam, yaitu kegiatan intelek, budi, spiritual, dan rokhani.

 

 

Sumber Acuan:

Bandem, Dr. I Made, Peranan Seniman dalam Masyarakat, Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar, 1991.

 

Hariani Santiko. “Bhima pada Masa Majapahit: Tokoh Mediator dalam Agama Hindu-Saiwa”, dalam Cempala, Edesi Bima, Majalah Jagad Pedalangan dan Pewayang-an, Penerbit Senawangi-Jakarta, 1996.

 

Hinzler, H.I.R. Bima Swarga in Balinese Wayang,The Hague – Martinus Nijhoff, 1981.

 

Dickie, George, Aesthetics: An Introduction, Pegasus, A Division of Bobbs-Merrill Educational Publishing, Indiana-polis, 1979.

 

Djelantik, Dr. A. A. M, Pengantar Dasar Ilmu Estetika, I, Estetika Instrumental, Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar, 1990.

 

___________________, Pengantar Ilmu Estetika, II, Falsafah Keindahan dan Kesenian, Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar, 1992.

 

Mantra, Prof. Dr. I. B, “Masalah Sosial Budaya Khususnya Pembangunan di Bali, Dalam Rangka Menyongsong Era Tinggal Landas”, Disampaikan dalam rangka Dies  Natalis XXII dan Wisuda Seniman Setingkat Sarjana ke-I, STSI Denpasar, 21 Febroari 1989.

 

Rota, Ketut. “Retorika sebagai Ragam Bahasa Panggung dalam Seni Pertunjukan Wayang Kulit Bali”, Laporan Penelitian, STSI Denpasar, 1990

 

Yudha Triguna, I.B.G. (Penyunting), Estetika Hindu dan Pembangunan Bali, Diterbit-kan oleh Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, UNHI Denpasar bekerjasama dengan Penerbit Widya Dharma Denpasar, 2003.

 


[1]A. A. M. Djelantik, “Peranan Estetika dalam Perkembangan Kesenian Masa Kini”, Mudra, Jurnal Seni Budaya, No. 2, Th. II, STSI Denpasar, 1994, p. 15. Lihat Juga, Fx. Mudji Sutrisno dan Christ Vewrhaak, Estetika Filsafat Keindahan, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1993,  p. 81

[2]George Dickie, Aesthetics: An Introduction, Pegasus, A Division of Bobbs-Merrill Educational Publishing, Indiana-polis, 1979, pp. 149-158

[3]I Wayan Dibia, “Nilai-nilai Estetika Hindu dalam Kesenian Bali”, dalam Estetika Hindu dan Pembangunan Bali, Diterbitkan oleh Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, UNHI Denpasar bekerjasama dengan Penerbit Widya Dharma Denpasar, 2003, p. 93

[4]I Gusti Bagus Sugriwa, “Ilmu Pedalangan/Pewayangan”, Konservatori Karawitan Indonesia, Djurusan Bali, Denpasar, 1963, p. 7. Karya tulisnya juga diterbitkan oleh Yayasan Pewayangan Daerah Bali dengan judul “Piagem Pedalangan/Dharma Pewayangan”, dalam Aneka Pewayangan Bali, Yayasan Pewayangan Daerah Bali, 1978, p. 15.

[5]Keputusan Seminar Seni Sakral dan Profan Bidang Tari, Proyek Pemeliharaan dan Pengembang-an Kebudayaan Daerah Bali, Denpasar, Tanggal 24-25 Maret 1971, p. 2

[6]Hariani Santiko. “Bhima pada Masa Majapahit: Tokoh Mediator dalam Agama Hindu-Saiwa”, dalam Cempala, Edesi Bima, Majalah Jagad Pedalangan dan Pewayangan, Penerbit Senawangi-Jakarta, 1996.pp. 6-8

[7]H.I.R. Hinzler. Bima Swarga In Balinese Wayang,The Hague – Martinus Nijhoff, 1981.p.194.

[8]cf. Kantor Dokumentasi Budaya Bali, “Alih Aksara Lontar Bima Swarga”, Pemerintah Daerah Tingkat I Bali, Denpasar, 1995.

[9]Dr. A. A. M Djelantik , Pengantar Dasar Ilmu Estetika, II, Falsafah Keindahan dan Kesenian, Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar, 1992, p. 22

[10]http://en.wikipedia.org/wiki/Aesthetics

[11]http://www.google.co.id/wikipedia.org/wiki/Natya_Shastra

[12]cf. Pemerintah Propinsi daerah Tk. I Bali, “Alih Aksara Lontar Siwagama”, bait 66a, turunan lontar milik Ida Pedanda Sidemen dari Geria Sanur (Denpasar), Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali, Denpasar, 1988, pp. 60-61.

 [13]cf. Pemerintah Propinsi Daerah Tk. I Bali, Alih Aksara Lontar Tantu Pagelaran”, bait 44b-45a, diterbitkan oleh Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali, Denpasar, 1987, p. 43. Lihat juga Th.G.Th. Pigeaud, De Tantu Panggelaran, Een Oud-Javaansch Prozageschrift, uitge-geven, vertaald en toegelicht,`s-Gravenhage, Nederl. Boek en Steendrukkerij, voorheen H.L. Smits, 1924, pp. 103-104.

[14]Prof. Dr. I. B. Mantra, “Masalah Sosial Budaya Khususnya Pembangunan di Bali, Dalam Rangka Menyongsong Era Tinggal Landas”, Disampaikan dalam rangka Dies  Natalis XXII dan Wisuda Seniman Setingkat Sarjana ke-I, STSI Denpasar, 21 Febroari 1989. pp. 9-10. Lihat juga,  I Made Bandem, Peranan Seniman dalam Masyarakat, Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar, 1991. p. 18

[15]Ketut Rota. “Retorika sebagai Ragam Bahasa Panggung dalam Seni Pertunjukan Wayang Kulit Bali”, Laporan Penelitian, STSI Denpasar, 1990, p. 5.

[16]Dr. A. A. M. Djelantik, Pengantar Dasar Ilmu Estetika, I, Estetika Instrumental, Penerbit Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar, 1990,  p. 32

[17]George Dickie, Aesthetics: An Introduction, Pegasus, A Division of Bobbs-Merrill Educational Publishing, Indiana-polis, 1979, p.16

[18]Ibid.  p. 42

[19]I Wayan Dibia, “Nilai-nilai Estetika Hindu dalam Kesenian Bali”, dalam Estetika Hindu dan Pembangunan Bali, Diterbitkan oleh Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan, UNHI Denpasar bekerjasama dengan Penerbit Widya Dharma Denpasar, 2003, pp. 101-102

[20]Dibia, op. cit., p. 101

[21]Djelantik, op. cit., p. 60



Tidak ada Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan komentar

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>