Tradisi Melasti di Bali

Posted in Tak Berkategori on Juli 13th, 2018 by wibawaputra

Tahun baru Saka bagi umat Hindu Bali merupakan kesempatan untuk memulai kembali kehidupan dengan hati yang suci. Melalui ritual catur brata pada Hari Raya Nyepi, setiap umat Hindu pada hakikatnya mendapat kesempatan untuk mengevaluasi capaian hidupnya selama satu tahun yang lalu dan menyusun ulang rencana hidup satu tahun mendatang. Mendahului tahapan tersebut, pada 2 sampai 4 hari menjelang Nyepi, masyarakat Hindu Bali melakukan ritual pensucian diri dan lingkungannya. Ritual tersebut dinamakan upacara melasti.

Upacara melasti atau melelasti dapat didefinisikan sebagai nganyudang malaning gumi ngamet tirta amerta, yang berarti menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan. Dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau dan laut dianggap sebagai asal tirta amerta atau air kehidupan. Sumber-sumber air tersebut memberikan kehidupan bagi seluruh makhluk hidup, termasuk umat manusia. Karena itulah, upacara melasti selalu diadakan di tempat-tempat khusus seperti tepi pantai atau tepi danau.

Dalam upacara ini, masyarakat akan datang secara berkelompok ke sumber-sumber air seperti danau dan laut. Setiap kelompok atau rombongan berasal dari satu kesatuan wilayah yang sama, semisal dari banjar atau desa yang sama. Setiap rombongan tersebut akan datang dengan membawa perangkat-perangkat keramat peribadahan, yaitu arca, pratima, dan pralingga dari pura yang ada di wilayah masing-masing untuk disucikan. Setiap anggota masyarakat juga menyiapkan sesajian sesuai kemampuan masing-masing. Sajian ini merupakan bagian dari pelengkap upacara melasti. Sebelum pelaksanaan ritual, biasanya panitia dari tiap rombongan (banjar atau desa) akan menyediakan sebuah meja atau panggung yang diposisikan membelakangi laut atau danau. Meja ini merupakan tempat untuk meletakkan berbagai perangkat suci peribadahan dari pura beserta beraneka jenis sesajian. Seluruh anggota rombongan kemudian duduk bersila menghadap ke arah jajaran perangkat ibadah dan sesajian tersebut, sekaligus menghadap ke sumber air suci. Pemuka agama (pemangku) setempat kemudian akan memimpin berjalannya prosesi upacara. Para pemangku berkeliling dan memercikkan air suci kepada seluruh anggota masyarakat yang hadir serta perangkat-perangkat peribadatan dan menebarkan asap dupa sebagai wujud pensucian. Selanjutnya, dilakukan ritual persembahyangan (panca sembah) oleh seluruh anggota rombongan. Para pemangku lalu akan membagikan air suci dan bija (beras yang telah dibasahi air suci). Air suci tersebut untuk diminum sementara bija akan dibubuhkan ke dahi setiap umat yang datang. Selepas prosesi tersebut, perangkat-perangkat peribadahan diarak kembali ke pura untuk menjalani beberapa tahapan ritual yang lain.

Untuk menjaga ketertiban pelaksanaan upacara melasti, barisan pecalang (polisi adat) mengatur waktu pelaksanaan yang berbeda bagi setiap daerah (banjar). Hal ini dilakukan agar masing-masing daerah dapat melaksanakan ritual dengan khidmat dan optimal. Karena itu, sepanjang hari keempat hingga hari kedua sebelum Nyepi, di seluruh Bali akan terlihat rombongan masyarakat dengan pakaian sembahyang yang datang silih berganti ke tepi pantai atau danau. Di sisi lain, terjaganya ketertiban pelaksanaan ritual tahunan ini akan menjadi momen yang tak terlupakan bagi para wisatawan yang berkesempatan untuk menyaksikannya.

Gong Kebyar

Posted in Tak Berkategori on Juli 13th, 2018 by wibawaputra

Gong kebyar adalah sebuah barungan baru. Gong adalah sebuah instrument pukul yang bentuknya bundar yang mempunyai moncol atau pencon di tengah–tengahnya. Kebyar adalah suatu bunyi yang timbul dari akibat pukulan alat–alat gambelan secara keseluruhan dan secara bersama–sama. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini Kebyar disini bermakna cepat, tiba-tiba, dan keras. Gamelan ini menghasilkan musik-musik keras yang dinamis. Gamelan ini digunakan untuk mengiringi tari-tarian atau memainkan tabuh-tabuhan yang instrumental. Secara fisik Gong Kebyar adalah pengembangan dari Gong Gede dengan pengurangan peranan, atau pengurangan beberapa
buah instrumennya. Misalnya saja peranan trompong dalam Gong Kebyar dikurangi, bahkan pada tabuh-tabuh tertentu tidak dipakai sama sekali, gangsa jongkokan yang berbilah lima dirubah menjadi gangsa gantung yang berbilah sembilan atau sepuluh. Cengceng kopyak yang terdiri dari empat sampai enam pasang dirubah menjadi satu atau dua set cengceng kecil. Kendang yang semula dimainkan dengan memakai panggul diganti dengan pukulan tangan .

Secara konsep Gong Kebyar adalah perpaduan antara Gender Wayang Gong Gede dan Pelegongan. Rasa-rasa musikal maupun pola pukulan instrumen Gong Kebyar ada kalanya terasa Gender Wayang yang lincah, Gong Gede yang kokoh atau pelegongan yang melodis. Pola Gagineman Gender Wayang, pola Gegambangan dan pukulan Kaklenyongan Gong Gede muncul dalam berbagai tabuh Gong Kebyar. Gamelan Gong Kebyar adalah produk kebudayaan Bali modern. Gamelan gong kebyar yakni sebagai seni musik tradisional di Bali yang diperkirakan muncul di Kabupaten Singaraja yakni pada tahun 1915.

Desa yang di sebut-sebut sebagai asal pemunculan Gong Kebyar adalah Jagaraga (Buleleng) yang juga memulai tradisi Tari Kebyar. Ada juga informasi lain yang menyebutkan bahwa Gong Kebyar muncul pertama kali di desa Bungkulan (Buleleng). Perkembangan Gong Kebyar mencapai salah satu puncaknya pada tahun 1925 dengan datangnya seorang penari Jauk yang bernama I Ketut Mario dari Tabanan yang menciptakan sebuah tari Kebyar Duduk atau Kebyar Trompong.

Yang pertama memiliki embat yang sesuai dengan embat gamelan gong gede yaitu agak rendah seperti yang banyak terdapat di Bali Utara. kelompok kedua menggunakan embat sama dengan embat gamelan palegongan (sumbernya) yaitu agak tinggi seperti yang sebagian besar terdapat di Bali bagian selatan, Gamelan-gamelan kebyar yang murni buatan baru sebagian besar ber-embat sedang seperti yang terdapat di berbagai daerah di Bali dan diluar Bali. Kenyataan ini menunjukan bahwa belum ada standarisasi embat untuk Gamelan kebyar di Bali (Mustika, 1996 : 24)

Kebudayaan dan Kesenian

Posted in Tak Berkategori on Juli 13th, 2018 by wibawaputra

Kebudayan.

Kebudyaan berasal dari kata sanskerta yaitu “Buddyah” yang merupakan bentuk jamak dari kata budhi yang berarti budi atau akal diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal dan budi. Pengertian secara umum arti kebudaayan itu adalah hasil cipta rasa dan karsa manusia memenuhi kehidupannya yang kompleks yang mencakup pengetahuan, keyakinan, seni, susila, hukum adat dan setiap kecapakan. Kebiasaan manusia dari kelakuan dan hasil yang harus dapatkan dengan belajar dan semua itu tersusun dalam kehidupan bermasyarakat. Kebudayaan dalam bahasa inggris yaitu di sebut culture merupakan suatu istilah yang relative baru karena istilah culture sendiri dalam bahasa inggris baru muncul pada pertengahan ke-19. Tahun 1843 para ahli antropologi member arti kebudayaan sebagai mengolah tanah, bercocok tanam sebagian bercermin dalam istlahnya agriculture dan holticulture.

Kesenian.

Memiliki satu arti yaitu Berkesenian berasal dari kata dasar seni, Berkeseian memiliki arti dalam verba atau kata kerja sehingga berkesenian dapat menyatakan suatu tindakan kebenaran, pengalaman, dan dinamis, kesenian mempuyai iwan berada dalam satu panggung bersama gesang adalah sebuah proyek besar dalam proses berkesenian. Dan adapuan bagian-bagian dari kesenian yaitu: Seni Pertunjukan dan Seni Rupa.

  1. Seni Pertunjakan.

Seni pertunjukan di kenal dengan istilah performance art. Karya seni yang melibatkan aksi individu atau kelompok di tempat dan waktu tertentu. Performace biasanya melibatkan empat unsur yaitu: waktu, ruang, tubuh seniman dan hubungan seniman dengan penonton. Tetapi biasanya kegiatan-kegiatan seni tersebut pada umumnya lebih di kenal dengan istilah “Seni Pertunjukan” atau performing arts . Seni Performance adalah istilah yang biasanya mengacu pada seni koseptual atau avan garde yang tumbuh dari seni rupa dan kini mulai beralih kearah seni Kontemporer.

 

 A. Seni Karawitan.

Seni suara baik vocal maupun instrumental yang mempuyai klarifikasi perkembangan daerah itu sendiri.

B. Seni Tari.

Seni yang menggunakan gerak tubuh secara berirama yang di lakukan di tempat dan waktu tertentu.

C. Seni Musik.

Secara umum yang menggunakan melodi, irama, tempo, harmoni, juga vocal yang berperan sebagai sarana dalam menuangkan rasa penciptanya.

D. Seni Pedalangan.

Reka Bahasa dalang dalam pakeliran atau pagelaran wayang.

2. Seni Rupa.

Cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bias di tangkap mata dan diresahkan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan megolah kosep titik, garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan aetetika. Dilihat dari segi fungsinya dibedakan menjadi dua yaitu: Seni Rupa Murni dan Seni Rupa Terapan. Sedangkan seni rupa terapan proses pembuatannya memiliki tujuan dan fungsi tertentu misalnya seni Kriya. Seni rupa terbagi menjadi dua yaitu: Seni Rupa 2 Dimensi yang hanya memiliki panjang dan lebar saja dan Seni Rupa 3 Dimensi yang memiliki panjang lebar serta ruang.

Komunitas Seni Gita Prabha Swara, Desa Pemecutan Kelod, Denpasar Barat

Posted in Tak Berkategori on Juli 11th, 2018 by wibawaputra

 

 

Komunitas Seni Gita Prabaswara (GPS), digagas sejak tanggal 8 juli 2017 oleh sekumpulan pemuda-pemudi peduli seni (gamelan, tari, karya sastra) khususnya mereka yang tumbuh besar di Banjar Tegal Kawan, Desa Pemecutan Kelod, Kecamatan Denpasar Barat. Terbentunya komunitas seni ini didasarkan atas niatan untuk melestarikan, mengembangkan, mengkemas serta merevitalisasi seni-seni tradisi baik yang berada di wilayah kota Denpasar maupun pada desa-desa terpencil di Bali. Anggota yang tergabung dalam GPS saat ini mayoritas berumur 20 tahun. Berbagai proses pelatihan (pratikal), diskusi dan riset mencoba dibangun agar formula, isu seni, peta pertunjukan dapat terbaca dengan baik. Harapannya tentu dapat tegak memposisikan diri di tengah meningkatnya persaingan kreativitas seni global. Dengan langkah ini pula kegiatan GPS tidak hanya berdiam di Banjar Tegal Kawan saja, akan tetapi terus bergerak mengikuti arah untuk menemukan “Gita Prabaswara” lainnya. Di tahun 2017 ini, GPS sedang fokus untuk mengembangkan dan mengkemas sebuah seni pertunjukan berlandaskan nilai-nilai Dharma Gita lewat gerak dan bunyi-bunyian gamelan Selonding.

Selonding

Selonding merupakan gamelan golongan tua yang berasal dari Karangasem (Bali timur). “Selonding” terbentuk dari dua kata, yakni salu dan eningSalu berarti tempat atau ruang, sedangkan ening berarti keheningan atau ketenangan. Salu ening berarti ruang keheningan. Keheningan yang dimaksud bersumber dari lantunan tabuhangending selonding yang mampu memasuki relung-relung pikiran menuju ruang jernih kehidupan.

Tari Baris Ketekok Jago

Posted in Tak Berkategori on Juli 11th, 2018 by wibawaputra

Latar Belakang.

Bicara tentang seni ada banyak seni yang ada di Bali dan saya ingin mengulas salah satu tarian sakral yaitu Tari Baris Ketekok Jago, Tari ini sangat di jumpai di daerah Bali bagian selatan yaitu di Desa Pedungan, Denpasar. Tari ini biasanya di pakai sebagai upacara tertentu yaitu Manusa Yadnya dan Pitra Yadnya. Biasanya tarian ini di tarikan secara berkelompok dan iringi gambelan khas baris ketekok jago atau baris poleng.

 

Sejarah.

Sejarah tertua yang mengungkap tari baris yaitu lontar Usana Bali yang menyatakan :Setelah Mayadenawa dapat di kalahkan maka di putuskan mendirikan empat buah kahyangan yaitu di daerah, Kedisan, Tihingan, Manukraya dan Kaduhuran. Begitu kahyangan berdiri megah dan Agung, upacara dan keramainpun diadakan dimana para widyadari menarikan tarian Rejang, Widyadara menarikan tari Baris dan Gandarwa menjadi penabuh. Leganda Mayadenawa tersebut terjadi pada saat Bali diperintah raja Sri Candrabhaya Singha Warmadewa sebagai raja keempat dari dinasti Warmadewa yang memerintah pada tahun 962 hingga 975. Dengan demikian dapat di simak bahwa pada abad X sudah ada tarian Baris ini, namun bentuknya apakah sama dengan baris upacara yang ada pada masa sekarang, memerlukan perenungan lebih mendalam.

Fungsi.

Untuk kepentingan upacara di Bali misalnya seperti upacara Pitra Yadnya dan bahkan ada juga upacara Dewa Yadnya. Sebagian besar masyarakat menanggapi tarian ini menjadi pengiring jenazah ke alam Nirwana. Sementara tarian sakral ini menonjolkan makna yang tersirat ketika para penari melakoninya. Para penari pun tak sembarangan menari tarian sakral ini dan harus teliti menggerakan tangan dan kakinya, Perkembangan dari tari Baris Ketekok jago masih terjaga sampai saat. Dan bahkan di anggap sebagai tarian sakral di daerah bagian selatan tidak hanya sebagai tari Bebali, dan taria ini sudah di angkat sebagai tari Wali yang sifatnya sakral dan upacara yang di laksanakan tidak di anggap belum selesai tanpa diadakanya pertunjukan tarian Baris Ketekok Jago.

Struktur Pertunjukan.

Struktur dari tarian ini pelaku/penari berjumlah 20 orang, semuanya laki-laki. Seperti halnya, di tempat lain maka dari sejumlah penari tersebut di bagi menjadi dua kelompok yakni sebagain menjadi angsa dan sebagian besar menjadi burung gagak.   Nama dari “Tekok Jago” berasal dari peran yang dibawakan oleh penari yang merupakan jenis burung dan unggas. Tata busana atau kostum yang di pergunakan pada waktu menari yang terdiri dari , Gelungan, Celana panjang warna putih tetapi pada bagian bawah ada strip-strip hitam putih ( Poleng ).Baju lengan panjang pada badan warna hitam putih kotak-kotak, lengan berwana lurik ( putih, kuning, hijau, dan hitam. Kain putih saput warna hitam putih, Badong hiasan leher Iringan Tari Baris Keteok Jago menggunakan Instrumen Gong Kebyar kecuali tidak memakian Instrument Terompong.