gong luang

Gong-LuangArtikel II
Sejarah Gambelan Gong Luang di Kabupaten Klungkung

Gambelan Gong Luang yang terdapat di Desa Tangkas Kabupaten Klugkung merupakan seperangkat Gambelan yang sangat tua sekali keberadaanya dan merupakan salah satu jenis gambelan yang termasuk kedalam golongan Gambelan tua. Menurut keterangan dari salah seorang seniman yang berasal dari Desa Tangkas, menceritakan bahwa;
Gambelan Gong luang yang terdapat di Desa Tangkas adalah sudah ada pada masa kejayaan kerajaan Gel-gel ‘Dalem’ ( Swecapura ) yaitu pada tahun 1908. Sesungguhnya gambelan ini adalah milik dari kerajaan Gel-gel, yang dipimpin oleh seorang Raja yang dikenal oleh rakyatnya yaitu seorang raja yang sangatlah cinta terhadap kesenian, perhatiannya pun sangat istimewa kepada seniman pada waktu itu.
Gambelan Gong Luang ini konon pada waktu itu hanya dipergunakan saat da upacara di puri atau di kerajaan Suecapura saja. Dan karena kebanyakan seniman yang mengabdi atau seniman yang biasa menabuh gambelan Gong Luang kebanyakan dan semua berasal dari desa Tangkas akhirnya Gambelan Gong Luang ini diberikan hak pengelolaan atau di paicekan kepada para seniman tersebut. Dengan bertujuan memberikan kesempatan berinteraksi dan berekreasi kepada seniman dengan tidak lupa selalu mempersembahkan wujud kesenian ini bila mana di Puri ada upacara.
Pada akhirnya oleh karena adanya perubahan status pemerintahan raja ke sistem pemerintahan republik, Gambelan Gong Luang ini menjadi milik masyarakat dan secara otomatis sistem kepemilikan pembiayaan dan pembinaan menjadi tanggug jawab rakyat dan pemerintah Kabupaten Klungkung. Karena semua seniman pengabdinya berasal dari Desa Tangkas, maka sangatlah kuat kemungkinan gambelan ini berkembang di desa ini dan gambelan ini sampai sekarang masih eksis mempertahankan ciri khasnya tersendiri.
Instrumentasi dan Musikalitas Gambelan Gong Luang
Desa Tangkas
Aspek-aspek ayng teramat penting dan sangat menunjang penampilannya dalam sebuah iven ataupun pentas, suatu penampilan seni akan terlihat bagus dan menarik jika didkukung oleh kesempurnaan fisik dan refertuarnya, disamping pula sangat dipengaruhi oleh karisma yang dimiliki oleh fisik gambelan dan pendukungnya, Nah berkenaan dengan hal diatas bagaimanakah keberadaan fisik maupun musikalitas Gambelan Gong Luang Desa Tangkas Kabupaten Klungkung
Bentuk Gambelan Gong Luang
Gambelan Bali pada dasarnya adalah salah satu perwujudan ekspresi budaya melalui jalinan nada-nada dalam bentuk fisik yang selalu diikat oleh nilai-nilai budaya Hindhu-Bali, sebagai salah satu unsur yang terpenting dari kebudayaan Hindhu-Bali, Gamelan bali sangat dibutuhkan dalam berbagai aspek kehidupan sosial dan spiritual masyarakat. Karena peranan dan fungsinya yang begitu penting, Gambelan Bali hingga kini masih memiliki tempat yang cukup istimewa dikalangan masyarakat bali.
Gambelan Gong Luang yang terdapat di Desa Tangkas kabupaten Klungkung merupakan suatu gambelan yang sangat tua umurnya bahkan ganbelan ini di golongkan kedalam golongan gamelan Bali tua. Dan memiliki karakteristik yang sangat unik dan menarik dan merupakan salah satu warisan budaya yang didapat secara turun temurun. Hingga kini Gambelan Gong Luang masih dipelihara dengan baik oleh masyarakat pemiliknya karena erat kaitannya dan selalu dipertunjukkan dan dimainkan dalam upacara keagamaan.
Melihat bentuknya Gambelan Gong Luang merupakan gamelan yang terdiri dari beberapa aspek yang mewujudkan salah satu bentuk kesempurnaan refertuarnya yaitu adalah sebagai berikut, atau alat-alat yang menjadi pelengkap dalam barungan gambelan Gong Luang yang terdapat di Desa Tangkas Kabupaten Klungkung;
1. Satu gong yang berukuran 70cm.
2. Ceng-ceng kopyak.
3. Kendag bedug.
4. Sepasang gangsa jongkok yang memakai 7 buah nada.
5. Dua buah jublag.
6. Sepasang saron yang terbuat dari bambu.
7. Dua buah tungguh reyong yang masing-masing terdiri dari 8 buah nada.
Kendati barungan gambelan ini tidak selengkap seperti barungan gambelan Gong Luang yang terdapat didaerah lain di Bali ,namun keadaan ini tidaklah mengurangi makna dan nilai estetika gambelan ini.
Megenai laras yang dipergunakan pada Gambelan Gong Luang adalah laras pelog tujuh nada yang dimaksudkan laras selendro adalah urutan nada-nada yang tidak sama dalam satu oktafnya. Gambelan yang berlaraskan pelog tujuh nada ada bermacam-macam jenis, namun Gambelan Gong Luang memiliki karakteristik yang sangat unik dan menarik yang sangat berbeda dengan gambelan –gambelan yang berlaraskan pelog tujuh nada lainnya. Dalam memainkan gambelan ini ada beberapa patutan atau patet yang mesti diperhatikan oleh para pemainnya, adapun patet yang dipergunakan adalah;
1. Patet panji cenik.
2. Patet panji gede.
3. Patet mayura cenik.
4. Patet mayura gede.
5. Patet warga sari.
6. Patet panji miring.
7. Patet kartika.
Teknik Permainan Gong Luang
Teknik atau gegebug dalam gamelan bali merupakan suatu hal yang pokok, Gegebug atau teknik permainan bukan hanya sekedar keterampilan memukul dan menutup bila gambelan, tetapi mempunyai konotasi yang lebih dalam dari pada itu. Gegebug mempunyai kaitan erat dengan orkestrasi dan menurut prakempa bahwa hampir setiap instrumen memiliki teknik atau gegebug tersendiri dan mengandung aspek ‘’physical behavior’’ dari instrument tersebut. Sifat fisik dari instrument-instrumen yang terdapat dalam gambelan memberi keindahan masing-masing pada penikmatnya.
Tehnik memainkan gamelan Gong Luang sangat khas dan unik yang tidak didominasi oleh tehnik kotekan-kotekan. Tehnik permainan Gong Luang juga merupakan sumber dari tehnik permainan gambelan lainnya. Dalam mempermainkan Gong Luang banyak tekniknya menyerupai yeknik permainan Gong Kebyar, tehnik tersebut banyak ditransformasikan kedalam tehnik permainan gong kebyar hingga disebut dengan istilah ’’leluangan’’ Selain teknik yang disebutkan diatas masih ada beberapa istilah dalam permainan Gambelan Gong Luang yang sama dijumpai pada tehnik permainan yang lain adalah;
Ngempat/ngembyang yang dimaksudkan adalah, memukul secara bersamaan dua buah nada yang sama dalam satu oktafnya.
Ngempyung yang dimaksudkan adalah memukul secara bersamaan dua buah nada yang tidak sama yaitu memukul dua buah nada dengan megapit dua buah nada ditengah-tengah.
Jenis-jenis Gending Gong Luang
Jenis-jenis gending Gamelan Gong Luang ada bermacam-macam , menurut fungsi dan kegunaannya. Dibawah ini akan disebutkan beberapa gending Gong Luang yang ada di Gong Luang Tangkas yaitu antara lain;
1. Gending pengawit.
2. Gending kembang barit.
3. Gending puyung.
4. Gending blumbugan.
5. Gending auat.
6. Gending tayang.
7. Gending Pupuh Manuk Kaba
8. Gending Panji Marga
9. Gending Lilit ubi
10. Gending Pupuh Demung
11. Gending Pupuh Warga sari
12. Gending Caruk
Fungsi Gambelan Gong Luang
Segala aktifitas kebudayaan bermaksud dan bertujuan untuk memuaskan suatu rangkaian dari segala kebutuhan naluri manusia yang berhubungan dengan kehidupannya. Dalam kegiatan keagamaan Hindu di Bali Gambelan Gong Luang mamiliki fungsi yang sangat penting sejak jaman dahulu sampai pada jaman sekarang ini, yaitu antara lain;
1. Sebagai pengiring Upacara Dewa Yadnya.
2. Sebagai pegiring Upacara Pitra Yadnya.
Gambelan Gong Luang selalu terlibat langsung dalam upacara tersebut, yang memberikan kesan magis indah dan sakral yang berpengaruh terhadap aktifitas sosial budaya masyarakat penikmatnya. Keberadaannya saat pementasan dilaksanakan pada rangkaian upacara pada masyarakat atau kelompok pendukung dan penikmatnya. Tampaknya menjadi media ungkapan estetis fikiran dan perasaan seniman pelaku/penabuh maupun penikmatnya, yang mengandung nilai atau tujuan tertentu bagi masyarakat Desa tangkas.
Meskipun juga fungsinya dipergunakan dalam mengiringi upacara pitra yadnya, namun adapula batasan – batasan tentang dipergunakannya barungan ini dalam mengiringi upacara pitra yadnya, yaitu hanya dalam upacara pengeroras saja yaitu tahapan yang sudah dianggap suci dalam tingkatan upacara pitra yadnya, itu dikarenakan masyarakat Desa Tangkas sangat mensucikan keberadaan gambelan ini.
Dalam setiap pementasannya selalu disertakan persembahan sesajen sebelum gamelan ini dimainkan, ini merupakan tradisi dan hal sangat penting dilakukan karena merupakan sebuah penghormatan kepada roh-roh positif yang berstana pada gambelan ini dan sekaligus menjadi persembahan permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk diberikan tuntunan dalam berlangsungnya pementasan Gambelan Gong Luang

Nara sumber : I Wayan Madra (alm) pengempon pura Tangkas Kori Agung,Klungkung

instrumen gangsa

Artikel IV
Instrumen Gangsa Gong Kebyar

Di dalam barungan gong kebyar, ada berbagai macam instrument seperti kendang, gong, kempur, reong, trompong, klentong, penyacah, jegogan, kantilan, jublag, dan kali ini saya membahas tentang instrument gangsa. Gangsa merupakan instumen gong kebyar yang berbentuk bilah dan menggunakan resonator bambu maubun pipa.
Gangsa juga sering di sebut dengan pemade. fungsi gangsa pada barungan gong kebyar adalah sebagai penghias melody. Ada dua jenis gangsa pada gong kebyar yaitu gangsa ngumbang dan gangsa pengisep. Gangsa pengumbang merupakan gangsa yang berfungsi sebagai melody penghias pokok pada gong kebyar.dan suara gangsa pengumbang lebih nyaring, lebih lantang dan nadanya lebih rendah ¼ nada dari pada gangsa pengisep. Sedangkan gangsa pengisep berperan sebagai sebagai pelengkap nada atau sebagai fariasi (PEMAYAS) dari gangsa pengumbangn dan dari segi suaranya lebih pendek, lebih pendek getaranya dan nadanya lebih tinggi ¼ nada dari pada gangsa pengumbang.
Ditinjau dari bentuk selawah dan bagaimana daun gambelan diletakkan pada selawah gambelan tersebut, gangsa itu dapat dibedakan atas dua macam, yaitu:
1. Gangsa Jongkok, yaitu gangsa yang ukuran selawahnya rendah dan tanpa resonator, dan dipaku pada dua buah lubang di kedua ujungnya. Ada juga yang memakai resonator, misalnya gangsa jongkok gong gede, yaitu berupa lubang di bawah bilahannya yang langsung dibuat pada selawahnya.
2. Gangsa gantung, yaitu gangsa yang ukuran selanjutnya agak tinggi dan memakai resonator dari bambu setinggi selawah tersebut. Dipasang dengan menggantungkannya pada celah paku yang dipasang setelah diikt atau dihubungkan satu daun dengan daun lainnya memakai benang atau jangat.
Suatu kelainan pada gangsa gantung di daerah Buleleng terlihat pada bentuk instrumen gong kebyarnya, khususnya mengenai pengugal, pemede, dan kantilnya. Yaitu dipaku pada selawahnya seperti meletakkan daun gangsa jongkok pada selawahnya.
Berdasarkan laras dan sistem nadanya ada beberapa macam gangsa, seperti :
1. Yang berlaras pelog :
a. Pelog lima nada atau saih lima, misalnya pada gambelan gong gede, gong kebyar, dan gambelan palegongan.
b. Pelog tujuh nada atau saih pitu, misalnya pada gambelan selonding, gong luang, gambang, dan semara pagulingan.
2. Yang berlaras selendro :
a. Selendro empat nada, misalnya pada gambelan angklung.
b. Selendro tujuh nada, misalnya gambelan angklung Buleleng.
Di dalam barungan gong kebyar gangsa mempunyai jenis pukulan tersendiri seperti ubit-ubitan. Jenis ubit-ubitan pun berfariasi seperti ngoret, nyoret, dan lain-lain. Peranan gangsa pada gong kebyar bukan hanya sebagai penghias lagu semata, namun juga sebagai pemanis lagu. Gangsa umumnya berbentuk seperti pengugal namun berukuran lebih kecil dan jumlah nada pada gangsa sama seperti pengugal namun bentuknya lebih kecil dari pada pengugal, nada nya juga lebih tinggi dari pada instrument pengugal. Di mulai dari nada rendah, yaitu pada nada (ndong), (ndeng), (ndung), (ndang), (nding), (ndong’), (ndeng‘), (ndung’), (ndang’), (nding). Gangsa gong kebyar umumnya terbuat dari bahan kuningan atau krawang, namun dengan berkembangnya jaman kini gangsa sudah mulai menggunakan bahan dasar dari besi. Akan tetapi Gangsa yang menggunakan bahan dasar besi suaranya tidak senyaring dan semerdu gangsa yang menggunakan bahan dasar dari kuningan. Karena gansa yang terbuat dari bahan besi getarannya lebih pendek.termasuk nadanya juga lebih tidak teratur dari pada gangsa yang menggunakan bahan kuningan.
Proses Pembuatan Gangsa
Proses pembuatan gangsa dimulai dari melebur bahan kuningan yaitu dari besi, tembaga dan bahan lainnya untuk di lebur menjadi adonan kuningan yang akan di tuang dan dicetak di dalam cetakan yang berbentuk bilah yang terbuat dari bahan tanah liat, setelah itu, adonan kuningan tersebut akan dituangkan ke dalam cetakan tersebut.
Setelah didiamkan hingga beberapa jam, kemudian bilah gangsa diangkat dan di celupkan kedalam air agar panas bilah tersebut hilang. Setelah proses ini selesai barulah bilah tersebut digerinda dan dibor di daerah depan dan belakang gangsa untuk menyetel nadanya pada resonator bambu atau pipa. Setelah di setel, kemudian resonator disusun di plawah atau tatakan gangsa yang umumnya terbuat dari kayu jati atau tewel(nangka) gelondongan yang dibentuk sedemikian rupa. Setelah bungbung tersusun berbaris maka bilah-bilah gangsa dipasang menggunakan tali. Tali tersebut dimasukan ke lubang yang sudah dibor tersebut. Lalu disetel kembali untuk mencari nada pengumbang atau kah pengisep.
Selain itu ada juga proses pemangguran yaitu proses untuk menyetel suara kembali agar lebih nyaring dan merdu serta melembutkan suara, atau dalam istilah Bali sering disebut mangunan suara gambelan. Proses pemangguran ini berbeda dengan proses pembuatan karena hanya menyerut kembali bilah-bilah gamelan itu. Proses ini biasanya dilakukan bila suara gamelan mulai pudar atau gamelan tersebut sudah berusia lama, maka dilakukanlah proses pemangguran tersebut.
Alat Pemukul(PANGGUL)
Instrument gangsa juga memiliki alat pemukul yang dinamakan dengan panggul. Panggul gangsa sekilas dilihat seperti berbentuk taring atau tanduk. Panggul tersebut dibentuk dengan bentuk panjang dan bagian atas panggul tersebut agak bengok meruncing, dan mempunyai gagang yang terbuat dari bambu dan cara menggunakan panggul tersebut dengan cara menggenggam gagang panggul tersebut dengan posisi panggul yang tajamnya berada di bagian atas.
Cara Memainkan Instrument Gangsa
Tategak : Sikap memainkan gamelan Bali memiliki makna yang sangat penting. Tidak hanya menyangkut kajian estetik keindahan, akan tetapi bagaimana energi disalurkan ketika memainkan gamelan. Posisi duduk seorang pemain gamelan ideal yaitu mengambil posisi silasana yaitu : posisi duduk dimana kaki dilipat tertumpuk (kanan dan kiri) sedangkan posisi badan tegak, dan pandangan kedepan Dengan posisi yang benar dapat mendukung penampilan dan secara estetik tertata adanya. Aspek penampilan menjadi sangat besar pengaruhnya terhadap sebuah pementasan karena tanpa didukung oleh penampilan yang baik dan apik serta mempertimbangkan aspek keindakan akan tidak tercapai kaidah pertunjukan yang ada seperti: kompak, harmonis, selaras serasi dan seimbang. Sisi lain dari posisi duduk yang benar dapat memberikan energi yang penuh/total, sebab secara penyaluran energi yang seimbang keseluruh tubuh dapat menyebabkan kualitas pukulan terjaga intensitasnya.
Posisi tangan : Untuk dapat memainkan gamelan secara baik tentunya memegang panggul harus diperhatikan. Posisi tangan yang benar untuk memainkan instrument berbilah adalah tangkai panggul dipegang oleh tangan kanan dengan ibu jari berada sejajar dengan tangkai panggul bagian lebarnya, sedangkan keempat jari lainnya posisi terlipat. Sedangkan untuk memainkan instrument berpencon posisi tangan mengikuti arah panggul, sedangkan telunjuk tanpa dilipat. Begitu juga pada instrument lainnya. Menutup/tatekep : Barungan Gong Kebyar merupakan seperangkat gamelan yang memiliki instrumentasi yang sangat banyak. Hampir 30 -40 buah instrument yang sebagian besar merupakan instrument perkusif. (dipukul). Tehnik-teknik tersebut menyebabkan setiap kelompok instrument memiliki bunyi dan warna nada yang berlainan. Instrumen-instrumen Gong Kebyar yang dimainkan secara dipukul baik memakai tangan maupun memakai alat pemukul/panggul dalam gamelan Bali lazim disebut gagebug.
Teknik permainan pada instrumen Gangsa Jongkok Besar dan Kecil
Pukulan Neliti/ Nyelah adalah memukul kerangka gending atau lagu secara polos dalam arti tidak memakai variasi.
Pukulan Neliti/ Nyelah adalah memukul kerangka gending atau lagu secara polos dalam arti tidak memakai variasi.
Pukulan Niltil adalah pukulan satu nada dengan tangan kanan atau kiri yang temponya semakin lama semakin cepat. Pukulan ini biasanya digunakan pada saat mencari pengalihan gending atau lagu.
Teknik Nyangsihin atau ngantung. Pukulan ini bertujuan untuk membuat suara instrumen saron lebih terdengar.

Nara sumber : I Wayan Sukarta br. Tubuh, Blahbatuh
IMG_20140624_103046

gender wayang

Artikel III
Gender Wayang

Gender Wayang secara khusus adalah barungan alit yang merupakan gamelan Pewayangan (Wayang Kulit dan Wayang Wong) dengan instrumen pokoknya yang terdiri dari 4 tungguh gender berlaras slendro (lima nada). Keempat gender ini terdiri dari sepasang gender pemade (nada agak besar) dan sepasang kantilan (nada agak kecil). Keempat gender, masing-masing berbilah sepuluh (dua oktaf) yang dimainkan dengan mempergunakan 2 panggul.
Gender wayang merupakan kesenian klasik yang masih berperan penting di masyarakat terutama di dalam upacara,khususnya dalam upacara agama di bali.namun sejarah gender wayang ini masih belum di ketahui karena masih banyak informasi yangmengalami kesimpang siuran berita karena ada saling keterkaitan dengan beberapa alat dan juga saling mempengaruhi termasuk gong kebyar.
Gender wayang secara umum merupakan sebuah tungguhan berbilah dengan terampa yang terbuat dari kayu, sebagai alas dari resonator berbentuk silinder dari bahan bambu atau yang lebih dikenal dengan sebutan bumbung sebagai tempat menggantung bilah. Bentuk tungguhan dari segi bilah gamelan Gender Wayang dalam buku “Ensiklopedi Karawitan Bali” karya Pande Made Sukerta disebutkan berbentuk bulig yaitu bilah yang terbuat dari perunggu atau bilah kalor adalah bilah yang permukaannya menggunakan garis linggir (kalor) dan dalam buku ini juga disebutkan bilah ini biasa digunakan pada jenis-jenis tungguhan gangsa seperti halnya gamelan Gender Wayang. Bilah bulig adalah bentuk bilah yang digunakan di gamelan Gender Wayang secara umum di Bali.
Kemudian terampa ataupun pelawah dari gamelan Gender Wayang di Bali memiliki model dan bentuk yang sama, yaitu 2 (dua) buah adeg-adeg yang terbuat dari kayu berfungsi sebagai penyangga gantungan bilah dan tempat resonator atau bumbung. Meskipun secara umum model dan bentuknya sama, faktanya dari setiap daerah memiliki ciri khas dan keunikannya masing-masing sesuai dengan budaya seni dan kreativitas seniman di daerah setempat. Hal ini terletak pada ornamentasi yang berarti hiasan atau pepayasan. Di sini sesuai dengan pendapat dari Mantle Hood yang menyebutkan bahwa dalam kontes etnomusikologi musik itu dipelajari melalui peraturan-peraturan tertentu yang dihubungkan dengan bentuk kesenian lainnya; seperti tari, drama, arsitektur, dan ungkapan kebudayaan lain termasuk bahasa, agama, dan filsafat. Unsur arsitektur yang merupakan induk dari ornamentasi dan pepayasan juga hadir sebagai bagian dari alat musik, yang berkaitan dengan bidang tertentu. Khususnya dalam gamelan Gender Wayang terlatak pada bidang terampa atau tungguhan. Setiap daerah di Bali memiliki sebuah persepsi yang tidak sama, walaupun berakar dari satu konsep style atau gaya di Bali, hal ini juga berkaitan dengan kearifan lokal atau disebut local genius dari masyarakat Bali yang majemuk.
Daerah Bali Utara yaitu Buleleng dan sekitarnya Gender Wayang memiliki ciri khas terampa dengan penuh kesederhanaannya yaitu adeg-adeg di buat hanya sesuai bentuk wadag (kasar) saja dan dengan bambu resonator yang dibiarkan alami yang difinishing (diselesaikan) dengan sentuhan perpaduan warna merah dan biru dari cat. Perpaduan warna merah dan biru inilah yang menjadikan sebuah ciri khas tersendiri dari daerah Buleleng dengan julukannya Bumi Panji Sakti dengan warna merah sebagai warna kebesaran. Dari warna inilah orang langsung mengetahui bahwa Gender Wayang itu milik dan ciri khas daerah Buleleng.
Di daerah Badung dan Denpasar, dari segi bentuk dan model hampir persis dengan yang ada di daerah Bali Utara khususnya Buleleng, pelawah di daerah Badung dan Denpasar memiliki sebuah keunikan tersendiri yaitu tungguhan pelawahnya bisa dilipat apabila sudah selesai dimainkan, hal ini menurut seniman gender dari Banjar Kayu Mas, I Wayan Suweca, Sskar. pada kelas Filsafat Seni Karawitan dikatakan hal ini berkaitan dengan mitologi Ciwa Tattwa dan mengandung konsep Purusa dan Predana. Purusa dan Predana yaitu sebuah filsafat yang menguraikan dua hal yang berbeda apabila bersatu akan menghasilkan sebuah energi yang besar yang biasa disebut dengan lanang wadon atau laki perempuan (Wawancara dengan I Wayan Suweca, SS.Kar, di kampus ISI Denpasar, tanggal 9 Desember 2009). Walaupun bentuk dan model sama persis, pelawahnya di kedua daerah ini sudah dibubuhi dengan sedikti ornamentasi atau pepayasan pada adeg-adeg berupa beberapa jenis motif ukiran sebagai pemanis dan diberi aksen warna emas dari warna prada.
Fungsi gender wayang
Gamelan Gender Wayang mempunyai 2 fungsi , yaitu :
• Fungsi Gamelan Gender Wayang sebagai karawitan berdiri sendiri
• Fungsi Gamelan Gender Wayang dalam mengiringi pertunjukkan wayang
Fungsi Gamelan Gender Wayang sebagai karawitan berdiri sendiri
Sebagai karawitan berdiri sendiri Gender Wayang lebih banyak berfungsi sebagai penunjang pelaksanaan upacara. Dalam fungsinya sebagai penunjang upacara , Gender Wayang dipergunakan untuk upacara Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya. Pada saat pelaksanaan upacara Pitra Yadnya Gender Wayang itu biasanya berfungsi untuk mengiringi mayat ke tempat pembakaran/kuburan . Hal ini terjadi apabila upacara itu dilakukan secara besar-besaran dan mempergunakan “Bade” sebagai tempat mayat , sementara dibawahnya diapit oleh dua orang bermain gender yang duduk di atas sandangan bambu (penyangga dari bade tersebut) ,maka Gender Wayang dapat disimpulkan sebagai gamelan sakral bagi umat Hindu. Selain itu Gender wayang ini juga berfungsi untuk mengiringi upacara Manusa Yadnya (potong gigi)
Fungsi Gamelan Gender Wayang dalam mengiringi pertunjukkan wayang
Seperti yang dijelaskan tadi bahwa gender dan pertunjukan wayang yang diiringi mempunyai hubungan erat satu sama lainnya . Dalam pertunjukkan keduannya merupakan satu kesatuan yang tidak dipisahkan . Suatu pementasan wayang dapat berfungsi sebagai Wali (sacral) sebagai bebali (ritual) dan sebagai Balih-balihan (skuler) , menurut jenis dari upacara yang dilakukan .
Tentang gender wayang
Gender wayang merupakan gamelan yang ber bentuk bilah dan bilah itu ber bentuk kotak tipis memanjang seperti kubus atau semacamnya. Jumlah bilah pada gender wayang berjumlah 10 bilah.setiap bilah ter sebut menggunakan resonator yang terbuat dari bambu yang berfungsi sebagai pemantul suara dari setiap bilah. Nada yang di gunakan adalah nada(patet) selendro .dan nada nya berawal dari nada berbilah besar bernada rendah ndang atau ndong dan berakhir di bilah nada yang kecil dan bernada tinggi yaitu nada nding atau ndung, tergantung pemain yang memainkan.
Secara umum gamelan Gender Wayang adalah instrument yang berlaras slendro, namun secara spesifik di Bali laras slendro dalam gamelan Gender Wayang di bagi atas 3 bagian berdasarkan atas tuning atau di Bali disebut dengan saih. Adapun ketiga saih tersebut adalah saih Pudak Setegal (saih gede) , Asep menyan (saih menengah) , Sekar Kemoning (saih kecil) . Diantara ketiga saih tersebut tentu memiliki daerah populasi masing-masing , hal ini disebabkan oleh faktor rasa dan kegemaran masyarakat pendukungnya sendiri.
Alat pemukul
Gender wayang juga memiliki alat pemukul yaitu panggul yang umumnya berbentuk bulat tipis seperti roda, namun lebih kecil dan mempunyai gagang atau pemegang yang lurus dan panjang sekitar 15 cm,dan memiliki cicin yang umum nya terbuat dari tanduk sapi atau kerbau.cara memegang panggul tersebut adalah dengan cara menjepit gagang panggul di antara jari telunjuk berada di atas dan jari tengahberada di bawah gagang,dan ibu jari berada di blakang jari telunjuk untuk mengunci. cara memainkan gender wayang adalah menggunakan dua tangan dengan cara memukulnya dengan panggul dan di tutup dengan samping tangan,sehingga menimbulkan suarayang merdu.
Tehnik memainkan dan jenis –jenis pukulan
Setiap motif lagu wayang memiliki beberapa irama yang berbeda di setiap motif pukulannya. Pukulan atau gedig gender wayang ber beda dengan gender rambat,karena gender wayang menggunakan teknik yang lbih sulit karena tangan kanan dan tengan kiri ber peran atau berfungsi berbeda. Tangan kanan yang membeberi otekan,melody,atau penghias nada pokok,dan tangan kiri yang berfungsi sebagai irama namun terkadang juga sebagai pokok nada atau pokok melody,dan juga sebagai penghias melody yang sederhana. Barungan gender wayang juga memiliki beberapa style seperti: style sukawati, kayumas, badung dan ada beberapa lagi.setiap daerah atau style mempunyai gending dan jenis pukulan yang berbeda.dan gending yang berbeda pula.namun ada beberapa lagu atau gending yang sama namun tetap juga beberapa pukulannya yang berbeda.
Tabuh dalam pertunjukan Wayang
Pertunjukan wayang kulit yang lengkap biasanya memakai sejumlah tabuh yang berdasarkan fungsinya. Tabuh-tabuh yang dimaksud antara lain
Pategak (pembukaan) yang merupakan tabuh instrumentalia
Tabuh Pamungkah gending-gending untuk mengiringi dalang melakukan puja mantra persembahan, membuka kotak wayang (kropak)
Tabuh Patangkilan gending untuk mengiringi adegan pertemuan/persidangan
Tabuh angkat-angkatan gending untuk mengiringi adegan sibuk seperti keberangkatan laskar perang dan perjalanan
Tabuh rebong gending untuk mengiringi adegan roman
Tabuh tangis gending untuk mengiringi suasana sedih
Tabuh batel gending untuk mengiringi adegan perang
Tabuh panyudamalan gending khusus untuk mengiringi upacara pangruwatan (dalam Wayang Sapuh Leger)
Proses pembuatan
Gender wayang terbuat dari krawang atu kuningan dan namun dengan berubahnya jaman kini ada juga gender wayang yang terbuat dari besi.adapun cara pembuatan nya dengan carakuningan di lebur dan di cetak dengan sedemikian rupa,dan di haluskan dengan grinda dan barulah membentuk nada atau menyetel nada pada bung-bung atau bambu untuk resonansi getaran nada. Setelah nada sudah tersusun dengan benar barulah bung-bung di susun di plawah dan bilah bilah tersaebut di pasang dan di kaitkan satu sama lain.

Daftar pustaka
1. “Ensiklopedia Karawitan Bali “ karya Pande Made Sukerta

IMG_20140624_103532

artikel Ansambel Barungan Gambelan Pelegongan

Artikel I

Ansambel Barungan Gambelan Pelegongan

Gambelan pelegong yaitu salah barungan gamelan Bali yang biasanya dipakai untuk mengiringi tarian legong keraton. Kesatuan barungan ini terdiri dari pada jumlah alat-alat yang mempunyai nama-nama tersendiri dan fungsi terhadap kesatuan barungannya. Jenis alat yang pernah dipakai atau samapai kini masih dipergunakan untuk menjadikan barungan gamelan pelegongan itu antara lain:

Gender rambat berbilah 13/14/15 dua tungguh.

Gender barangan berbilah sama dengan yang diatas.

Jegogan bebilah 5 dua tungguh.

Penyacah berbilah 5 dua tungguh.

Jublag berbilah 5 dua tungguh.

Gangsa jongkok berbilah 5 empat tungguh.

Ceng-ceng satu pangkon.

Kajar satu buah.

Klenong satu buah.

Kemong satu buah.

Kendang krumpungan dua buah.

Suling besar dua buah.

Rebab satu buah.

Genta Orag.

Gong satu buah

Gamelan pelegongan itu kalau dilihat bangun instrumennya kemudian bentuk-bentuk lagunya yang menunjukan ciri-ciri keasliannya, maka dapatlah diyakinkan bahwa gamelan pelegongan itu tidak termasuk pada kelompok gamelan-gamelan jaman kuno (gamelan tua) di Bali. Gamelan pelegongan itu baru ada setelah adanya gamelan semar pegulingan yang berlaras pelog tujuh nada.

Barungan gamelan pelegongan seperti diatas masih terdapat hanya dibeberapa desa di Bali, dan sekarang gamelan seperti diatas itu disebut gamelan legong kraton.

Perubahan sebutan itu disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

Dengan majunya perkembangan yang diiringi dengan gamelan gong kebyar menyebabkan gamelan pelegongan itu terdesak sehingga banyak yang dilebur dijadikan gamelan gong kebyar. Tari-tarian yang diiringi dengan lagu-lagu gong kebyar sebagian besar dasar-dasar tariannya diambil dari legong yang suah ada sebelumnya. Lama agaknya tari-tarian jenis putri yang diiringi lagu gong kebyar iuu tidak mempunyai nama. Pada mulanya tari-tarian gong kebyar itu ikut memakai nama lagu iringannya,misalnya: tari kebyar dang,tari kebyar dung,tari kebyar deng,tari kebyar dong,dan tari kebyar ding.

Kemudian oleh bapak Nyoman Kaler almarhum dan bapak I Wayan Lotering,kedua-duanya tokoh seniman yang dikenalpaling banyak pengabdiannya dalam pembinaan seni pelegongan dan gong kebyar (sesudah Ida Bagus Bhuda dll).

Beliau itu mulai menciptakan nama-nama tari beserta lagunya masing-masing. Dengan demikian muncullah nama-nama Panjisemerang,Tari Candra Metu,Tari Margepati, Tari Demang Miring,Tari Puspa Warna,Tari Bayan Nginte,Tari Wiranata Dll.

Selanjutnya jejak beliau-beliau itu diikuti oleh pencipta-pencipta Tari Tani,Tari Tenun,Tari Nelayan,Tari Truna Jaya,Dan Tari Oleg Tamulilingan. Secara keseluruhan, tari-tarian jenis putri yang diiringi lagu-lagu gong kebyar disebut legong kebyar. Sedangkan tari legong yang sudah ada sebelumnya yang diiringi lagunya mempergunakan gamelan pelegongan sekarang disebut legong kraton. Demikian pula gamelannya dinamakan gamelan legong kraton.

Didalam lontar Ajigurnita,gamelan pelegongan itu dikatakan sekeluarga atau sejenis dengan gamelan bebaronga,gamelan joged pingitan,dan gamelan semar pegulingan.

Colin Mc Phee dalam bukunya’’ Musik In Bali’’ menyebutkan bahwa sesuai dengan maksud dan keadaannya,gamelan jenis itu khusus dapat dipergunakan untuk jenis Legong,Barong,Dan Calonarang.

Bentuk lagu-lagu pelegongan

Sesuai dengan bentuknya yang mengkhusus masing-masing barungan gamelan di Bali,maka lagu-lagu dari pada setiap jenis gamelan itu mempunyai pula susunan komposi sindiri- sindiri yang merupakan bentuk khas dari pada setiap jenis gamelan itu. Katakanlah gamelan-gamelan yang termasuk jenis tua di Bali misalnya: gambang,selonding,gongluang,gender wayang,dan sebagainya, semua mempunyai bentuk lagu yang berdiri sendiri termasuk pula tekhnik permainannya yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya masing-masing mempunyai ciri-ciri keaslian.

Demikian pula halnya lagu-lagu pelegongan mempunyai bentuk sendiri-sendiri dengan ciri-ciri keasliannya yang berbeda dengan lagu-lagu gamelan lainnya. Ciri khas dari lagu-lagu pelegongan itu yang pertama adalah penonjolan permainan melodi gender ian rambat,kemudian melodi kendang untuk bagian lagu pengawak dan susunan komposisi yang memberi peluang-peluang untuk tandak(seni suara vokal)yang baik sekali. Lagu-lagu pelegongan bilamana tidak disertai dengan tandak akan dirasakan kurang lengkap,atau kurang mantap.

Oleh karena itu,tandak kita masukkan sebagai ciri keaslian lagu pelegongan meskipun lagu gamelan lain masialnya lagu pegambuhan menganggappulla tandak itu sebagai ciri kelengkapannya. Adapun yang dimaksud lagu-lagu pelegongan disini ialah lagu-lagu iringan tari legong kraton.Lagu-lagu yang diciptakan sebagai lagu petegakan atau lagu tanpa tari tidak dipersoalkan disini. Sebab lagu-lagu petegakan yang terpakai pad gamelan pelegongan misalnya lagu liar samas,solo,kesiar dll. Keliatan gubahan belakangan yaitu sesudah adanya

lagu-lagu iringan tari seperti lagu-lagu lasem,pelayon kuntir,jobog,candrakanta,dll. Penyusunan lagu-lagu iringan legong keraton atau lagu pelegongan itu biasanya diintikan oleh tiga pokok lagu yaitu pengawak pengecet dan pekaad. Setelah adanya tiga inti tersebut kemudian dilengkapi denganbeberapa jenis melodi sebagai pembendaharaan susunan ttari yang diiringinya. Yang kita masukan melodi pelengkap disini adalah : pengalihan atau disebut juga gineman,pengawit,gabor bapang,lelonggoran,pengipuk,batel maya,pengetog,pemalpal,dan tangis. Melodi pelengkap tersebut belum tentu selalu terpakai pada setiap komposisi lagu iringan tari pelegongan. Sebagai contoh,dibawah ini kami sebutkan nama-nama melodi menurut susunan komposisi yang disebut lagu pelayon:

Pengalihan /gineman.

Pengawit.

Pengawak /inti.

Pengecet/inti.

Lelonggoran/juga disebut bapang longgor.

Pemelpal.

Pekaad,habis.

Lagu-lagu yang masih bisa diingat/dicatat hingga sekarang kira-kira ada lima belas lagu antara lain:

Lasem

Pelayon

Candra kanta

Kuntir

kuntul

Jobog

Guak macok

Legodbhawa/sumarabhawa

Tangis

Kupu tarum

Semarandana

bramara

gadung melati

raja cina

karang olong

Diantara sekian banyak lagu-lagu pelegongan tersebut diatas,lagu lasemlah yang paling banyak mempergunakan melodi-melodi pelengkap didalam susunan komposisinya, dan kebetulan pula lagu lasem itu paling populer hingga sekarang.

Semua lagu yang disebutkan namanya diatas disebut dengan tabuh telu,sebab didalam pengawak lagu-lagu itu terdapat tiga kali angsel/pukulan kemong setiap satu kempul/gong.

 

Sumber : I Wayan Pager br.babakan,blahbatuhIMG_20140624_102910

Daftar Riwayat Hidup

312765_216242618442036_1068948003_n

Nama saya adalah I Wayan Sumiarsa. Saya lahir di dusun kecil yang bernama banjar Sema yang terletak di Kabupaten Gianyar,tepatnya di desa Pering Blahbatuh. Saya lahir pada tahun 1995 september 18. Saya lahir dari pasangan I Nyoman Sukarnata (ayah) dan Ni Wayan Bejiani (ibu). Pekerjaan ayah sebagai ibu dan pekerjaan ibu sebagai ibu rumah tangga. Ayah dan ibu selalu menyemangati saya dan selalu mendukung apa yang saya senangi kalau itu untuk kebaikan saya, walaupun kadang-kadang saya merasa kesal karena di marahi,tetapi semuanya pasti demi kebaikan saya. Saya merasa berhutang budi kepada orang tua saya. Kelak suatu hari nanti saya ingin membalas kebaikan mereka dan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan berguna. Saya adalah 2 bersaudara. Saya adalah anak pertama dan adik saya yang bernama I Made Edo Wana Arta. Adik saya sangat nakal, hampir setiap hari saya bertengkar, mungkin karena dia masih anak-anak, belum mengerti apa-apa, namun saya sering mengalah dan mengikuti kemauannya. Namun dia sangat rajin, dia sering membersihkan rumah dan membersihkan tempat tidur saya. Saya  beragama Hindu,kebangsaan INDONESIA,Email : sumiarsa201302011,nomor  hp 085792319446. Saya lahir dari keluarga kecil yang kurang berada dan saya dari kecil mulai mengenal pendidikan dari:

Riwayat Pendidikan:

1.         SD N 1 PERING

2.         SMP N 2 BLAHBATUH

3.         SMK N 3 SUKAWATI

4.         ISI DENPASAR

Pada masa Sekolah Dasar saya mengenyam pendidikan selama 6 tahun. Saya dari kecil sudah mengenal dunia seni. Mulai dari seni musik tradisional sampai ke seni pahat. Pada saya kelas 1 SD saya sangat nakal dan sering menjahili teman-teman. Sepulang dari sekolah saya belajar membuat seni ukiran, dan sehabis itu saya berolah raga. Saya sering bermain sepak bola dan bola voli. Pada kelas 2 SD saya pernah meraih prestasi juara 1 di kelas 1 dan ayah memberikan saya hadiah sepeda, saya sangat senang dengan hadiah yg di berikan. Pada kelas 3 SD prestasi saya menurun, itu karena saya tidak pernah belajar, tetapi ayah dan ibu selalu mendukung dan menyemangati saya, saya merasa sedih karena tidak bisa mempertahankan prestasi saya. Dan saya pernah mengikuti porsenijar pada bidanng olahraga volli antar desa,kecamatan,dan kabupaten. Pada kelas 4 SD saya kembali memperoleh peringkat, tetapi saya memperoleh peringkat 4,namun saya sangat bangga dan ayah sekali lagi memberikan hadiah sepatu. Pada kelas 5 SD saya pernah mewakili sekolah untuk lomba menggambar, namun hasilnya kurang memuaskan, namun guru-guru selalu menyemangati dan terus membimbing saya ke jalan yang benar. Pada kelas 6 SD saya merasa sedih, karena akan meninggalkan sekolah, meninggalkan adik-adik kelas dan meninggalkan para guru yang membimbing saya dari kecil. Namun  itu sudah sepatutnya. Saya lulus Sd pada tahun 2007.dan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Blahbatuh.

Pada masa Sekolah Menengah Pertama saya sudah bisa sedikit-sedikit mengerjaka seni Pahat ukiran Bali. Saya bekerja agar bisa punya bekal sekolah dan untuk membayar uang sekolah. Saya melakukan hal itu karena saya ingin belajar mandiri dan juga karena ketidak adaan/keterblakangan ekonomi di keluarga saya.pada masa Sekolah Menengah Pertama saya juga belajar menari dan menabuh. Saya  mengenyam pendidikan selama 3 tahun. Saya pernah meraih sejumlah bidang prestasi juga seperti mewakili sekolah saya dalam ajang kejuaraan bola volli antar sekolah di dalam ivent PORSENIJAR pada 2008. Dan mendapat peringkat 3 di kabupaten. Saya lulus Sekolah Menengah Pertama pada tahun 2010 dan melanjutkan pendidikan saya di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Sukawati tepatnya di desa Batubulan,Sukawati,Gianyar yang sering di kenal masyarakat dengan sebutan( SMKI/KOKAR  BALI)

Di masa Sekolah Menengah Kejuruan saya mempelajari tentang karawitan secara lebih terperinci dan spesifik. Saya mulai mengenal dunia seni mulai dari serni karawitan,tari,dan pedalangan. Namun saya lebih menjurus pada seni karawitan. Pada masa ini saya mendapatkan sangat banyak ilmu-ilmu khususnya di bidang karawitan. Pada masa ini saya merasakan sesuatu yg sangat mengesankan, seperti orang bilang, masa SMA adalah masa yang sangat mengesankan dan masa-masa belajar menjadi diri sendiri. Di masa Sekolah Menengah Kejuruan saya pernah mewakili sekolah dalam bidang lomba keterampilan siswa( LKS) dan meraih juara umum 1 kelompokseni se-Bali. Dan mewakili PROVINSI bali dalam ajang FLS2N (Festival Lomba Seni SiswaNasional) yang di selenggarakan di daerah istimewa Yogyakarata. Dan saya pernah mewakili ajang lomba angklung kebyar se-kabupaten badung dan mendapat peringkat harapan 3. Pada kelas VII saya dan teman-teman mengerjakan tugas akhir. Membuat garapan dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Pada saat perpisahan sangat sedi rasanya meninggalkan sekolah dan guru-guru yang pernah mendidik saya. Saya ingin berterima kasih kepada guru-guru karena sudah mengajar dan mendidik saya, namun saya juga meminta maaf kepada guru-guru apabila saya membuat kesalahan di sengaja maupun tidak sengaja, itu karena saya ingin merasakan keakraban di antara kita. Saya lulus pada tahun 2013 dan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi Institut Seni Indonesia Denpasar ( ISI Denpasar ).

Saya melanjutkan jenjang perguruan tinggi di ISI Denpasar karena saya ingin mengetahui lebih dalam tentang karawitan khususnya dalam bidang karawitan bali. Di ISI Denpasar saya di ajarkan ilmu-ilmu karawitan oleh dosen-dosen pengajar. Di ISI Denpasar saya banyak mendapat pengalaman tentang berkomposisi dalam karawitan dan juga music nusantara. Saya belajar di ISI Denpasar dengan bantuan beasiswa bidikmisi.

Riwayat Kesehatan:

– Pada waktu kecil saya pernah mengalami sakit tifus dan pernah opname di RS Sanjiwani Gianyar,Bali.

– Pada waktu duduk di kelas 2 sekolah dasar saya pernah jatuh dari tembok dgn ketinggian 2 meter dan menyebabkan tangan saya patah di sebelah kiri.

– Pada waktu duduk di kelas 2 sekolah menengah kejuruan saya pernah mengalami tabrakan di daerah celuk dan menyebabkan saya luka-luka dan kaki saya keseleo

Ini sedikit cerita dan pengalaman saya dari kecil. Akhir kata saya ucapkan terima kasih.

Hormat Saya

( I Wayan Sumiarsa )