wayanbratasena


Wayang Lemah

Di Bali aktifitas berkesenian terus berjalan tiada henti, lebih-lebih dalam kehidupan keagamaan, seni adalah sebuah persembahan, Bahkan tak ada ritual agama Hindu di pulau ini yang dianggap sempurna tanpa greget dan penampilan nilai-nilai seni. Prof. Dr. I Made Bandem, seorang pakar seni pertunjukan Bali, sampai menyimpulkan bahwasanya tak ada upacara agama yang selesai dan dianggap sempurna tanpa kehadiran tari-tarian, bunyi gamelan, pengkisahan dalam teater wayang, dan kumandang kidung atau kekawin. Begitu menyatunya agama dan seni sering membuat orang luar Bali kagum sekaligus “bingung” menyaksikan gemuruh pementasan seni di tengah reliusitas upacara agama. Kesenian Bali pada dasarnya adalah seni keagamaan. Berdasarkan sebuah seminar Listibya pada tahun 1972, kesenian Bali di golongkan menjadi seni wali, bebali, dan balih-balihan.

Salah satu kesenian yang sering tampil dalam upacara agama hindu adalah wayang lemah. Wayang Lemah pada umumnya dipentaskan siang hari, wayang ini dipentaskan tanpa kelir atau layar dan lampu belencong Dalam memainkan wayangnya, dalang menyandarkan wayang-wayangya benang tukelan (seutas benang tukelan) sepanjang sekitar satu setengah meteryang diikat pada kayu dadap di tancapkan pada batang pisang di kedua sisi dalang. Gamelan pengiringya adalah gender wayang yang berlaras selendro(lima nada).

Wayan Kawen, seorang pengamat wayang lemah menyebutkan : Wayang Lemah adalah salah satu wayang dari tiga macam wayang yang disakralkan di Bali. Tiga wayang dimaksud adalah Wayang Sapu Leger, Wayang Sudamala dan Wayang Lemah. Ketiga wayang itu mempunyai persamaan fungsi yaitu : ngruat. Diantaranya wayang Sapuh Leger lah yang paling angker dan paling berat, baik bagi Ki Dalang maupun bagi yang berkepentingan, sedangkan fungsinya khusus untuk ngruat orang yang dilahirkan pada wuku wayang. Sedangkan  Wayang Sudamala dan Wayang Lemah itu mempunyai fungsi lebih umum yaitu untuk manusa yadnya, pitra yadnya, dewa yadnya, buta yadnya, dan resi yadnya.

Maka peranan wayang lemah sangat di butuhkan dalam Upacara Panca Yadnya, salah satu dari kelima yadnya yang memerlukan pementasan wayang lemah dalam prosesi upacaranya adalah Dewa Yadnya. Upacara Dewa Yadnya adalah pemujaan serta persembahan ke hadapan ida Sang Hyang Widhi  melalui sinar suci-Nya yang disebut dewa-dewi.Pemujaan kehadapan para dewa menyebabkan adanya upacara dewa yadnya. Pada dasarnya upacara-upacara tersebut dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : a. Upacara peringatan hari-hari suci keagamaan di Bali disebut rerahinan, misalnya Purnama, Tilem, kliwon, hari Raya Saraswati, Galungan dan lain-lain. b. Upacara penyucian serta penyelesaian terhadap bangunan tempat pemujaan (pelinggih), misalnya Melaspas, ngenteg, ngremek, beserta rangkaianya. c. Upacara peringatan disucikanya bangunan tempat pemujaan disebut odalan. Dalam upacara Dewa Yadnya selalu di sertakan dengan pementasan wayang lemah.

Dalam ritual agama khusunya Dewa Yadnya, para seniman dan masyarakatnya denganmelakukan sesuatu dengan tulus iklas berdasarkan dengan keinginan ngayah menyumbangkan keterampilanya yang dia bisa. Ini yang disebut budaya ngayah. Budaya ini selalu di aktualisasikan dan diimplentasikan dalam gerak laku masyarakatnya. Dalam konteks ritual keagamaan tradisi ngayah begitu eksplisit terlihat. Mereka yang tak bisa menari, menabuh, mendalang, atau mekidung, mungkin ngayah menata atau mengerjakan dekorasi panggung. Membantu para penari mengenakan kostum tarinya pun sudah termasuk berperan. Mengangkat gamelan dan mengurus konsumsi penari dan penabuh juga termasuk “berkesenian”.

Kesenian  Bali berkaitan erat dengan agama Hindu yang dipeluk mayoritas penduduknya. Maka tak salah bila dikatakan bahwa eksistensi kesenian Bali banyak terkondisi oleh tradisi ngayah. Seniman seni rupa dengan merasa bahagia bila sempat menyumbangkan kebolehanya dalam membuat benda-benda keagamaan. Seorang penari Topeng Pajegan akan merasa puas bhatinya bila sempat unjuk kemampuan saat prosesi upacara sedang berlangsung. Para seniman kerawitan akan merasa berperan bila ikut memberi suasana hikmat lewat permainan gamelannya

Namun dewsa ini ada salah satu seniman menggarap wayang lemah dengan inopatip yang disebut dengan wayang betel.

Wayang Betel adalah sebuah garapan pewayangan yang  ter inspirasi dari Wayang Lemah/Wayang Gedog, garapan ini tecipta karena penggarap melihat kehidupan wayang lemah pada masyarakat Bali hanya dikaitkan dengan upacara keagamaan. Penanggap pertunjukkan ini kurang memperhatikan baik tempat pentas maupun sarana-sarana pendukung lainnya. Hal ini membuat para dalang malas untuk menggarap bagian artistiknya, hiburan dan konteksnya. Wayang Lemah yang berfungsi ritual menjadi kemasan baru berbentuk hiburan seni yang segar, sehat dan bermutu.

Dalam masalah ini akan dicoba menyiasati agar seniman Dalang dan musisinya tidak hanya duduk sebagaimana pagelaran wayang lemah biasa, melainkan juga berinteraksi aktif membangun suasana dramatik. Jelasnya, dalang yang biasanya hanya duduk memainkan wayang kini ditampilkan dengan berakting di atas panggung didukung oleh penataan lampu dan musik pengiring inovatif berintikan Gender Rambat.

Beberapa wayang kiranya perlu dibuat dengan ukuran yang lebih besar sehingga suasana wayang lemah yang semula hanya ritus akan dikembangkan menjadi suatu bentuk hiburan/entertainmen yang mengintegrasikan kritik dan komentar sosial sesuai dengan perkebangan Zaman Kaliyuga dewasa ini.  Sesuai dengan namanya, Betel berarti tembus pandang. Garapan wayang Betel ini berbentuk Wayang Lemah sehingga dapat dilihat tembus betel oleh penonton tanpa terhalang kelir/screen putih. Musik iringan yang berintikan instrumen Gender Rambat juga akan diintegrasikan sedemikian rupa sehingga garapan wayang ini juga menyajikan komponen musikal teater atau teater musik. Dalam garapan “Wayang Betel” ini penggarap akan menggunakan konsep menimalis dengan tidak mengerungangi keunggulan – keunggulan yang telah ada. Karena berkesenian itu tidak harus selalu mewah, seni pun bisa muncul dari sesuatu yang sederhana.Garapan ini merupakan bagian dari epos Mahabharata yakni kehidupan Pandawa di hutan setelah lepas dari bencana kebakaran  Gua gala-gala sampai gugurnya Detya Adimba.

 


is | Topic: Tak Berkategori | Tags: None

No Comments, Comment or Ping

Reply to “Wayang Lemah”