wayanbratasena


Wayang Lemah

⊆ Januari 2nd by | ˜ No Comments »

Di Bali aktifitas berkesenian terus berjalan tiada henti, lebih-lebih dalam kehidupan keagamaan, seni adalah sebuah persembahan, Bahkan tak ada ritual agama Hindu di pulau ini yang dianggap sempurna tanpa greget dan penampilan nilai-nilai seni. Prof. Dr. I Made Bandem, seorang pakar seni pertunjukan Bali, sampai menyimpulkan bahwasanya tak ada upacara agama yang selesai dan dianggap sempurna tanpa kehadiran tari-tarian, bunyi gamelan, pengkisahan dalam teater wayang, dan kumandang kidung atau kekawin. Begitu menyatunya agama dan seni sering membuat orang luar Bali kagum sekaligus “bingung” menyaksikan gemuruh pementasan seni di tengah reliusitas upacara agama. Kesenian Bali pada dasarnya adalah seni keagamaan. Berdasarkan sebuah seminar Listibya pada tahun 1972, kesenian Bali di golongkan menjadi seni wali, bebali, dan balih-balihan.

Salah satu kesenian yang sering tampil dalam upacara agama hindu adalah wayang lemah. Wayang Lemah pada umumnya dipentaskan siang hari, wayang ini dipentaskan tanpa kelir atau layar dan lampu belencong Dalam memainkan wayangnya, dalang menyandarkan wayang-wayangya benang tukelan (seutas benang tukelan) sepanjang sekitar satu setengah meteryang diikat pada kayu dadap di tancapkan pada batang pisang di kedua sisi dalang. Gamelan pengiringya adalah gender wayang yang berlaras selendro(lima nada).

Wayan Kawen, seorang pengamat wayang lemah menyebutkan : Wayang Lemah adalah salah satu wayang dari tiga macam wayang yang disakralkan di Bali. Tiga wayang dimaksud adalah Wayang Sapu Leger, Wayang Sudamala dan Wayang Lemah. Ketiga wayang itu mempunyai persamaan fungsi yaitu : ngruat. Diantaranya wayang Sapuh Leger lah yang paling angker dan paling berat, baik bagi Ki Dalang maupun bagi yang berkepentingan, sedangkan fungsinya khusus untuk ngruat orang yang dilahirkan pada wuku wayang. Sedangkan  Wayang Sudamala dan Wayang Lemah itu mempunyai fungsi lebih umum yaitu untuk manusa yadnya, pitra yadnya, dewa yadnya, buta yadnya, dan resi yadnya.

Maka peranan wayang lemah sangat di butuhkan dalam Upacara Panca Yadnya, salah satu dari kelima yadnya yang memerlukan pementasan wayang lemah dalam prosesi upacaranya adalah Dewa Yadnya. Upacara Dewa Yadnya adalah pemujaan serta persembahan ke hadapan ida Sang Hyang Widhi  melalui sinar suci-Nya yang disebut dewa-dewi.Pemujaan kehadapan para dewa menyebabkan adanya upacara dewa yadnya. Pada dasarnya upacara-upacara tersebut dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : a. Upacara peringatan hari-hari suci keagamaan di Bali disebut rerahinan, misalnya Purnama, Tilem, kliwon, hari Raya Saraswati, Galungan dan lain-lain. b. Upacara penyucian serta penyelesaian terhadap bangunan tempat pemujaan (pelinggih), misalnya Melaspas, ngenteg, ngremek, beserta rangkaianya. c. Upacara peringatan disucikanya bangunan tempat pemujaan disebut odalan. Dalam upacara Dewa Yadnya selalu di sertakan dengan pementasan wayang lemah.

Dalam ritual agama khusunya Dewa Yadnya, para seniman dan masyarakatnya denganmelakukan sesuatu dengan tulus iklas berdasarkan dengan keinginan ngayah menyumbangkan keterampilanya yang dia bisa. Ini yang disebut budaya ngayah. Budaya ini selalu di aktualisasikan dan diimplentasikan dalam gerak laku masyarakatnya. Dalam konteks ritual keagamaan tradisi ngayah begitu eksplisit terlihat. Mereka yang tak bisa menari, menabuh, mendalang, atau mekidung, mungkin ngayah menata atau mengerjakan dekorasi panggung. Membantu para penari mengenakan kostum tarinya pun sudah termasuk berperan. Mengangkat gamelan dan mengurus konsumsi penari dan penabuh juga termasuk “berkesenian”.

Kesenian  Bali berkaitan erat dengan agama Hindu yang dipeluk mayoritas penduduknya. Maka tak salah bila dikatakan bahwa eksistensi kesenian Bali banyak terkondisi oleh tradisi ngayah. Seniman seni rupa dengan merasa bahagia bila sempat menyumbangkan kebolehanya dalam membuat benda-benda keagamaan. Seorang penari Topeng Pajegan akan merasa puas bhatinya bila sempat unjuk kemampuan saat prosesi upacara sedang berlangsung. Para seniman kerawitan akan merasa berperan bila ikut memberi suasana hikmat lewat permainan gamelannya

Namun dewsa ini ada salah satu seniman menggarap wayang lemah dengan inopatip yang disebut dengan wayang betel.

Wayang Betel adalah sebuah garapan pewayangan yang  ter inspirasi dari Wayang Lemah/Wayang Gedog, garapan ini tecipta karena penggarap melihat kehidupan wayang lemah pada masyarakat Bali hanya dikaitkan dengan upacara keagamaan. Penanggap pertunjukkan ini kurang memperhatikan baik tempat pentas maupun sarana-sarana pendukung lainnya. Hal ini membuat para dalang malas untuk menggarap bagian artistiknya, hiburan dan konteksnya. Wayang Lemah yang berfungsi ritual menjadi kemasan baru berbentuk hiburan seni yang segar, sehat dan bermutu.

Dalam masalah ini akan dicoba menyiasati agar seniman Dalang dan musisinya tidak hanya duduk sebagaimana pagelaran wayang lemah biasa, melainkan juga berinteraksi aktif membangun suasana dramatik. Jelasnya, dalang yang biasanya hanya duduk memainkan wayang kini ditampilkan dengan berakting di atas panggung didukung oleh penataan lampu dan musik pengiring inovatif berintikan Gender Rambat.

Beberapa wayang kiranya perlu dibuat dengan ukuran yang lebih besar sehingga suasana wayang lemah yang semula hanya ritus akan dikembangkan menjadi suatu bentuk hiburan/entertainmen yang mengintegrasikan kritik dan komentar sosial sesuai dengan perkebangan Zaman Kaliyuga dewasa ini.  Sesuai dengan namanya, Betel berarti tembus pandang. Garapan wayang Betel ini berbentuk Wayang Lemah sehingga dapat dilihat tembus betel oleh penonton tanpa terhalang kelir/screen putih. Musik iringan yang berintikan instrumen Gender Rambat juga akan diintegrasikan sedemikian rupa sehingga garapan wayang ini juga menyajikan komponen musikal teater atau teater musik. Dalam garapan “Wayang Betel” ini penggarap akan menggunakan konsep menimalis dengan tidak mengerungangi keunggulan – keunggulan yang telah ada. Karena berkesenian itu tidak harus selalu mewah, seni pun bisa muncul dari sesuatu yang sederhana.Garapan ini merupakan bagian dari epos Mahabharata yakni kehidupan Pandawa di hutan setelah lepas dari bencana kebakaran  Gua gala-gala sampai gugurnya Detya Adimba.

 


Topic: Tak Berkategori | Tags: None

Bentuk dan Fungsi Wayang pada Jaman Islam

⊆ Januari 2nd by | ˜ No Comments »

Bentuk wayang pada jaman islam.

Ketika kerajaan majapahit runtuh pada tahun 1478 m(sirna hilang kertaning bumi),para bupati di pesisir jawa timur, sudah banyak yang memeluk agama islam dan memisahkan diri dengan kerajaan majapahit. Salah satu kerajaan yang paling kuat diantara kerajaan kerajaan islam di pesisir itu adalah kerajaan Demak. Dibawah pemerintahan raden patah,putra dari kertabumi atau brawijaya V yang memeluk agama islam. Setelah kerajaan majapahit jatuh ,semua perlengkapan upacara kerajaan termasuk alat alat kesenian ,di pindahkan ke demak pada tahun 1478-1520.  Putra raden patah dan para wali ,ketika itu sangat gemar akan kesenian ,sehingga secara aktif mereka mengadakan perubahan  bentuk wayang , termasuk perubahan dalam perlengkapan dan sarana pertunjukan wayang.

v  Bentuk wayang di buat pipih,dua dimensional,digambar agak miring,serta di sungging lebih indah,sehingga dapat menghilangkan kesan meniru wayang yang ada pada  candi.

v  Wayang dibuat dari kulit kerbau dan ditatah halus, diberi warna dasar putih dari tulang.

v  Gambar muka wayang di buat miring ,dan tangannya masih menjadi satu dengan badan.

v  Bentuk wayang meniru bentuk wayang beber majapahit.

v  Pada tahun 1521, jumlah wayang diperbanyak agar dapat memainkan cerita mahabarata dan Ramayana dalam pertunjukan wayang secara lebih sempurna. Tambahan wayang itu terdiri dari wayang ricikan yaitu : kera ,binatang ,rampokan, dan gunungan.

v  Raja demak juga membuat seperankat gamelan beralas pelog, yang disebut dengan gamelan  sekati, sampai sekarang maasih di tradisikan di Yogyakarta pada perayaan maulud nabi yang disebut dengan sekaten.

v  Sejak meninggalnya Raden Trenggono yang sempat memimpin kerajaan demak , kerajaan demak menjadi kacau balau, sehingga joko tingkir ,sebagai adipati pajang dapat menguasai keadaan, sehingga pemerintahan di pindahkan ke pajang, (1546-1586) . pada masa pemerintahannya muncul berbagai kreativitas dalam bidang kesenian,sejak itu muncul berbagai jenis seni pertunjukan wayang kulit yaitu : wayang kulit kidang kencana, pertunjukan ini menggunakan boneka wayang yang lebih kecil dari ukuran pada umumnya. Muncul pula pertunjukan wayang gedog ,yaitu pertunjukan wayang yang menggunakan cerita panji dan mempergunakan gamelan pelog. Disamping wayang gedog juga dipertunjukkan wayang golek purwa, dengan boneka, wayangnya di buat dari kayu ber bentuk pipih ,persis seperti wayang kulit namun ukurannya lebih kecil, sehingga sering disebut dengan sebutan wayang krucil.

Pungsi wayang pada jaman islam   

Yaitu merupakan alat untuk ber kreatipitas di bidang seni  kususnya di bidang seni pewayangan , disamping itu pungsi utamanya adalah :Berpungsi sebagai alat komunikasi untuk menyebarkan ajaran ajaran agama  islam melalui epos Ramayana dan maha barata.

 


Topic: Tak Berkategori | Tags: None

Bentuk dan Fungsi Wayang pada jaman Hindu

⊆ Januari 2nd by | ˜ No Comments »

 

Bentuk pertunjukan wayang pada jaman hidu di indonesia

Bentuk wayang pada jaman hindu yaitu bentuk wayang nya masih seperti perwujudan manusia, seperti yang terukir pada relief relief candi candi , seperti candi loro jongrang , yangmana candi ini yang pertama kali memuat cerita Ramayana dan maha barata dengan lengkap. Yaitu pada masa kerajaan mataram 1.yang didirikan oleh raja sanjaya. Dan kemudian dipinpin oeh dua orang raja yaitu raja sanjaya dan saylendra.

Sebelum bentuk wayang menggunakan kulit binatang sebagai bahannya ,pertama kali wayang itu di lukis di sebuah kain dengan berbagai bentuk tokoh wayang yang di sebut dengan wayang beber. Lalu adegan adegan wayang dalam kain itu lalu di main mainkan dan dengan dilatarbelakangi dengan cerita maha barata dan Ramayana. Apabila telah selesai ngewayang ,kain itu lalu digulung dan dibawa berpindah pindah sesuai dengan dimana mereka mempertunjukkan sebuah pertunjukan wayang.

 

Lama kali lama bentuk wayang yang mulanya ada dalam sebuah kain yang di kenal dengan wayang beber  lalu dibawa ,atau menggunakan kulit binatang sebagai medianya hingga sekarang.

Pungsi pertunjukan wayang pada jaman hindu di Indonesia yaitu        :

Untuk mengkomonikasikan nilai nilai ajaran agama hindu yang terkandung dalam cerita mahabarata dan cerita Ramayana ,dengan menggunakan bahasa jawa kuna. Akan dapat di bayangkan bahwa pertunjukan wayang yang semula sebagai pemujaan terhadap hyang ,kemudian berkembang menjadi media komonikasi ajaran agama. Sejak ini cerita pewayangan juga tidak lagi menggunakan mitologi nenek moyang ,tetapi mulai menggunakan cerita Ramayana dan maha barata.(sri mulyono,1982 :60). Sesuai dengan perannya untuk mengkomonikasikan ajaran agama hindu ,maka seorang dalang pada masa itu dianggap sebagai seorang guru ,seorang pemimpin, dan seorang ahli agama ,sehingga seorang dalang sangat disegani dan sangat berwibawa (sri mulyono ,1982 :61).

 


Topic: Tak Berkategori | Tags: None

Produksi rangkaian bunga desain modern & tradisional

⊆ Oktober 12th by | ˜ No Comments »
Bunga adalah salah satu perlengkapan kebutuhan manusia , bunga bukan hanya merupakan tanda kasih sayang tetapi juga merupakan pencerminan kepribadian dari warna bunga itu sendiri.disamping itu bunga juga merupakan lambang perdamaean yang mana akan mampu memberikan ketenangan diantara sesama, bunga juga akan mampu merubah suasana dari suasana yang gersang menjadi sejuk dan berseri.

Dalam kalangan Pariwisata, bunga batangan atau Rangkaian bunga merupakan barang dagang yang sangat di gemari dan memeiliki jangkauan pasar yang sangat luas. Ada beberapa paktor yang dapat  menjadikan suatu produk bunga diminati antara lain , kualitas bunga yang bagus keunikan bentuknya ,keindahan warnanya ,kesegarannya, dan yang paling penting adalah penyajiannya dalam bentuk rangkaian bunga yang mampu memuaskan perasaan dan membuat suasana menjadi tampil beda yang sesuai dengan kebutuhan.

        Melihat hal tersebut dan peluang peluang tersebut maka saya mempunyai inisiatif untuk membuat usaha yaitu produksi rangkaian bunga yang mengandalkan perpaduan gaya modern dan tradisional.  Bunga yang akan di produksi mengandalkan keunikan budaya sebagai ilustrasinya.     Gaya ilustrasi akan di desain sedemikkian rupa ,jadi     akan    ada perpaduan budaya modern dan ilustrasi tradisional.

  1. B.    PerumusanMasalah

         Saya akan memproduksi rangkaian bunga untuk di lobi lobi restoran dan juga pila pila. Masalah yang dihadapi adalah bagaimana menciptakan produk rangkaian bunga yang kreatif dan inopatif, dengan penggabungan dua unsur , yaitu unsur tradisional dan unsur modern.selain itu bagaimana memasarkan produk rangkaian bunga ini.


Topic: Tak Berkategori | Tags: None


Halo dunia!

⊆ Oktober 12th by | ˜ No Comments »

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!


Topic: Tak Berkategori | Tags: None