Agu
28
2014

BUNGBANG

BUNGBANG

images

Secara organologi yaitu ilmu tentang alat-alat musik, gamelan bungbang di klasifikasikan ke dalam kelas idofoon yaitu alat musik pukul. Gamelan bungbang adalah sebuah barungan (satu set) gamelan bambu yang diklasifikasikan dalam seni karawitan Bali sebagai gamelan anyar. Hal ini dikarenakan gamelan bungbang diciptakan setelah abad ke dua puluh dan merupakan pengembangan dari gamelan – gamelan yang sudah ada sebelunya, terutama pada teknik permainan dan lagu-lagu yang dimainkan.

Gamelan bungbang diciptakan pada tahun 1985 dan dipentaskan untuk umum pertama kali pada tanggal 16 november 1988 pada saat pawai pembukaan lomba desa di Desa Sesetan Denpasar Bali. Pada awalnya gamelan bungbang bernama timbung kemudian setelah dua tahun, tepatnya pada tanggal 15 Juni 1987 nama timbung diubah menjadi bungbang yang dikutip dari kakawin Bharatayuda yang bunyinya: “Pering bungbang muni kanginan manguluwang yeaken tudungan nyangiring” yang terjemahan bebasnya adalah bambu berlubang tertiup angin suaranya merdu meraung-raung bagaikan suara suling.

Gamelan bungbang diciptakan oleh almarhum I Nyoman Rembang seorang maestro karawitan Bali yang dilahirkan pada tanggal 15 Desember 1930 di Banjar Tengah Sesetan Denpasar Bali.

Gamelan bungbang pada awalnya diciptakan untuk mengiringi tari ikan hias. Warna dan gerak-gerik ikan hias dalam aquarium di Hotel Tanjung Sari Sanur Bali, menarik perhatian I Nyoman Rembang untuk menciptakan tarian ikan hias, kemudian beliau mencoba memikirkan instrumen apa yang tepat untuk mengiringi tarian ikan hias tersebut. Gamelan bungbang tercipta setelah I Nyoman Rembang mendengarkan suara butir-butir air yang jatuh dari mulut keran di bak air dalam kamar mandi, yang bunyinya klak, klik, kluk…
Instrumen pokok dari gamelan bungbang adalah alat-alat musik pukul berbentuk setengah kulkul (kentongan) yang terbuat dari bamboo yang ukurannya bervariasi mulai dari 90 cm untuk yang paling panjang dan 10 cm untuk yang paling pendek. Berdasarkan ukurannya instrumen pokok gamelan bungbang dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu:

 

 

  1. Bungbang pangede atau jegogan, mempunyai ukuran paling besar dengan nada paling rendah.

Bungbang Jegogan

  1. Bungbang madya atau pemade, mempunyai ukuran sedang dengan nada satu oktaf di atas bungbang pangede atau jegogan.

Bungbang Pemade

3. Bungbang alit atau kantilan, mempunyai ukuran paling kecil dengan nada tinggi melengking.

Bungbang kantilan

Selain instrument pokok yang terbuat dari bambu, untuk melengkapi barungan gamelan bungbang biasanya dilengkapi dengan instrument pendukung seperti :
– Sepasangkendang
– Sepasang cenceng kecil
– Sebuah gong pulu yang berbentuk bilahan
– Sebuah gong (bermoncong) yang berukuran menengah
– Beberapa buah suling
Dalam memainkan gamelan bungbang, teknik yang digunakan hampir sama dengan teknik memainkan gamelan pada umumnya di Bali yaitu menonjolkan permainan melodi dan kekotekan (terjalin). Untuk dapat memainkan gamelan bungbang memerlukan sedikitnya 40 orang penabuh (pemain pemusik). Dalam memainkan gamelan bungbang semua pemain atau penabuh dituntut untuk menguasai atau menghafal lagu secara keseluruhan, dikarenakan setiap penabuh hanya membawa atau memainkan satu buah instrumen bungbang sehingga dalam memainkan gamelan ini antara penabuh yang satu dengan yang lain akan saling melengkapi atau saling ketergantungan.

Gamelan bungbang merupakan satu-satunya gamelan bambu yang mampu membawakan lagu-lagu atau komposisi musik yang berlaras pelog maupun slendro. Dalam gamelan yang terbuat dari kerawang (besi) hanya gamelan semare pegulingan yang dapat memainkankedua laras tersebut.
Seiring berjalannya waktu seka atau kelompok yang masih mempertahankan dan dapat memainkan gamelan bungbang hanya dapat ditemui di Br. Tengah Sesetan yaitu Seka Gong Wirama Duta. Seka ini adalah seka yang memainkan pertama kali gamelan bungbang.
Pada proses pembuatan gamelan bungbang tidak ada sesuatu yang khusus kecuali pada pemilihan bambu yang dipergunakan sebagai bahan pembuatan gamelan bungbang. Bambu yang digunakan adalah bambu petung untuk nada-nada rendah (jegogan) serta bambu jajang untuk nada-nada madya dan tinggi (pemade dan kantil).

Lagu – lagu Bungbang walaupun dikarang dan disusun dalam bentuk kreasi baru, namun pijakannya tetap pada lagu – lagu tradisional yang terpakai didalam gamelan – gamelan yang sudah ada sebelumnya. Andaikata lagu – lagu Bungbang ini dibangun dalam bentuk kontemporer dikhawatirkan akan lekas punah atau tidak mampu melawan perkembangan jaman. Adapun lagu – lagu yang dipakai untuk mengikuti pawai, dimulai dengan lagu kesiar, kemudian lagu pengecet, gandrangan dll. Tergantung situasi dan kondisi.

Contoh Struktur Gending Pementasan “Bungbang” :

  1. KATIBANGBUNG, Dimana gending ini termasuk gending petegak/ instrumental dengan laras pelog panca nada, yang merupakan kombinasi dari unsur – unsur klasik/ tradisional dengan unsur – unsur modern, sehingga suasananya menyerupai suasana upacara adat.
  2. SRINADI adalah juga termasuk gending petegak/instrumental dengan laras seledropanca nada disusum dari unsur – unsur klasik /tradisional, yang memperdengarkan suasana kehidupan di persawahan/pertanian, dimana dilukiskan berbagai jenis suara kodok, belalang, sunari, dll.
  3. MINA PRADPTA adalah sebuah tari yang menggabarkan keindahan ikan – ikan hias dengan gerak gerik ikan yang kadang – kadang cepat dan gesit, kemudian lemah gemulai dengan bentuk dan warna yang beraneka ragam. Tari ini diciptaka oleh Ni Ketut Arini Alit, SST, dan lagu iringannya oleh I Nyoman Rembang.
  4. GANDRUNG adalah sebuah tari yang menggambarkan seorang Pria, dalam hal ini “Arjuna” yang dalam cerita , Mahabharata, menyamar sebagai wanita yang pandai menari, dengan tujuan untuk mendapatkan seorang putri dari salah satu kerajaan. Pada mulanya tari ini hanya diperankan oleh satu orang penari saja, tetapi pada masa sekarang tari Gandrung sering ditarikan oleh lebih dari satu orang.
  5. JOGED adalah sebuah tari yang termasuk dalam tari pergaulan, dimana menggambarkan muda – mudi yang sedang bergimbara – ria pada hari raya setelah musim panen. Tari ini dapat diamainkan dalam bentuk tunggal maupun masal.

 

*Informan:

Nama : Bapak I Gede Putra

Alamat : Sesetan Br. Tengah, Kecamatan Denpasar Selatan.

 

 

 

Written by in: Tak Berkategori |

Tidak ada Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL


Leave a Reply

Powered by WordPress | Theme: Aeros 2.0 by TheBuckmaker.com