WAHYU SUKMA YOGA

ISI DENPASAR 2013

Pantun dan Parikan, Apa Sama?

Posted By on 2 Mei 2020

Anda mungkin saja sudah tidak asing dengan karya sastra puisi lama berjenis pantun. Namun pernahkah anda mendengar parikan? Pada dasarnya, parikan adalah terjemahan dari pantun dalam bahasa jawa. Secara garis besar, pantun dan parikan memiliki kesamaan yang banyak.

Agar anda dapat mengenal parikan, yaitu pantun dalam Bahasa Jawa, dalam ulasan kali ini kami akan menjelaskan secara rinci mengenai parikan. Dimulai dari pengertian, jenis, dan ciri – ciri yang dapat anda gunakan untuk membedakan parikan dengan karya sastra yang lainnya.

Pengertian Pantun

Pantun dapat diartikan sebagai jenis puisi lama yang berisi dari 4 larik atau baris dalam satu bait dimana terdapat empat hingga enam kata atau delapan hingga dua belas suku kata dalam satu larik. Larik pertama dan kedua yang terdapat di dalam pantun adalah sampiran atau dapat diartikan sebagai pengantar, sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi dari pantun tersebut. Salah satu jenis pantun adalah pantun jenaka

Pengertian Parikan

Parikan dapat diartikan sebagai rangkaian dari beberapa kalimat yang terbentuk atas dua bait, dimana kalimat pertama atau baris pertama adalah kalimat yang disampaikan untuk dapat menarik perhatian (semacam pengantar) dan kalimat kedua merupakain isi.

Seperti halnya pantun, parikan juga biasanya digunakan dalam kegiatan adat seperti upacara adat atau yang sampai saat ini masih dilakukan yaitu pementasan kesenian tradisional, seperti ludruk. Parikan menurut tujuannya dapat dibagi menjadi tiga , yaitu :

  1. Parikan yang berisi kisah atau cerita yang lucu
  2. Parikan yang berisi pesan
  3. Parkan yang berisi lelucon atau candaan

Ciri – Ciri Parikan

Untuk dapat membedakan parikan dengan jenis karya sastra yang lainnya, anda perlu mengetahui ciri – ciri yang dimiliki oleh parikan. Adapun ciri – ciri yang dimiliki oleh parikan ada 4, yaitu:

  1. Memiliki purwakanthi atau dalam bahasa Indonesia rima a – b – a – b
  2. Apabila dalam suatu parikan terdapat dua baris, maka baris yang pertama berlaku sebagai sampiran dan baris kedua sebagai isi, sebagaimana disampaikan dalam Bahasa Jawanya “yen kadadean ono rong baris, baris kapisan yaiku sampiran lan kapindo yaitu isi.
  3. Parikan terdiri dari dua gatra, empat gatra, dan seterusnya
  4. Kata yang digunakan dalam parikan harus memenuhi syarat mengenai guru lagu, guru gatra, dan juga guru wilangan. Syarat – syarat yang harus dipenuhi tersebut maksudnya adalah:
  5. Guru lagu yang merupakan suara terakhir yang ada di dalam satu baris atau satu larik, dalam Bahasa Indonesia biasa disebut rima
  6. Guru gatra yang merupakan jumlah dari baris yang terdapat di dalam satu bait
  7. Guru wilangan yang merupakan jumlah suku katayang terdapat di dalam satu baris

Jenis Parikan

Pada zaman dahulu, pada setiap pembukaan dari sebuah pentas keseniian tradisional selalu dimulai dengan parikan. Ada dua jenis parikan yang digunakan dalam pembukaan dari setiap pentas kesenian tradisional, jenis parikan tersebut adalah:

  1. Parikan paseman

Jenis parikan ini adalah parikan yang mengandur sindiran atau dapat juga berisi tentang lelucon yang ditujukan untuk menghibur

  • Parikan pitutur

Janis parikan pitutur adalah parikan yang memiliki amanat dan juga nasihat yang ingin disampaikan oleh penuturnya kepada penonton yang datang

Seperti hal nya pantun, pemilihan jenis parikan yang disampaikan tergantung kepada sang penutur, entah akan menyampaikan lelucon yang mengibur sebelum dimulainya pertunjukan atau nasihat. Parikan mungkin saja merupakan pantun dalam Bahasa Jawa, namun ada beberapa hal yang membedakan pantun dan parikan seperti yang sudah kami sampaikan sebelumnya seperti istilah dan jenis.


Comments

Leave a Reply