RSS Feed
Jan 11

SEJARAH GONG KEBYAR DESA PEKRAMAN ANGGABAYA

Posted on Sabtu, Januari 11, 2014 in Tak Berkategori

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

Gong Kebyar adalah sebuah barungan baru. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini (Kebyar yang bermakna cepat, tiba-tiba dan keras) gamelan ini menghasilkan musik-musik keras dan dinamis. Gamelan ini dipakai untuk mengiringi tari-tarian atau memainkan tabuh-tabuhan instrumental.Secara fisik Gong Kebyar adalah pengembangan kemudian dari Gong Gede dengan pengurangan peranan, atau pengurangan beberapa buah instrumennya. Misalnya saja peranan trompong dalam Gong Gebyar dikurangi, bahkan pada tabuh-tabuh tertentu tidak dipakai sama sekali, gangsa jongkoknya yang berbilah 5 dirubah menjadi gangsa gantung berbilah 9 atau 10 . cengceng kopyak yang terdiri dari 4 sampai 6 pasang dirubah menjadi 1 atau 2 set cengceng kecil. Kendang yang semula dimainkan dengan memakai panggul diganti dengan pukulan tangan.

Secara konsep Gong Kebyar adalah perpaduan antara Gender Wayang, Gong Gede dan Pelegongan.Rasa-rasa musikal maupun pola pukulan instrumen Gong Kebyar ada kalanya terasa Gender Wayangyang lincah, Gong Gedeyang kokoh atau Pelegonganyang melodis. Pola Gagineman Gender Wayang, pola Gegambangan dan pukulan KaklenyonganGong Gede muncul dalam berbagai tabuh Gong Kebyar. Gamelan Gong Kebyar adalah produk kebudayaan Bali modern.Barungan ini diperkirakan muncul di Singaraja pada tahun 1915.Desa yang sebut-sebut sebagai asal pemunculan Gong Kebyar adalah Jagaraga (Buleleng) yang juga memulai tradisi Tari Kebyar.

Gong Kebyar berlaras pelog lima nada dan kebanyakan instrumennya memiliki 10 sampai 12 nada, karena konstruksi instrumennya yang lebih ringan jika dibandingkandengan Gong Gede. Tabuh-tabuh Gong Kebyar lebih lincah dengan komposisi yang lebih bebas, hanya pada bagian-bagian tertentu saja hukum-hukum tabuh klasik masih dipergunakan, seperti Tabuh Pisan, Tabuh Dua, Tabuh Telu dan sebagainya.

Gambelan gong kebyar ini pun juga sering dipakai untuk mengiring upacara yadnya dipura-pura yang sama fungsinya dengan gong gede maupun gender wayang. Seiring berjalannya waktu ternyata peminat gong kebyar ini sangat berkembang pesat dan sangat cepat tersebar ke banjar-banjar atau desa pekraman yang khususnya ada di Bali. Kenpa gong kebyar sangat berkembang pesat di bandingkan gambelan lain? Karena gong kebyar ini memiliki multi fungsi, selain untuk upacara yadnya gong kebyar ini pun biasa sebagai hiburan atau untuk mengiringi tari-tarian yang tidak dipunyai oleh gambelan lain. Seiring berjalannya waktu sampailah gong kebyar ini di desa pekraman Anggabaya yang mula-mulanya hanya dipakai untuk upacara yadnya semata hingga dipakai untuk mengiringi tari-tarian.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Sejarah gong kebyar di Desa Pekraman Anggabaya

Sesuai dengan judul penelitian ini bahwa gong kebyar di Desa Pekraman Anggabaya ini diperkirakan sudah ada pada tahun 1920. Menurut wawancara dengan salah satu sesepuh di Desa Pekraman Anggabaya yaitu I Made Grebeg yang menyebutkan bahwa gong kebyar Desa Pekraman Anggabaya memiliki ciri khas yaitu yang suaranya agak kecil dari gambelan gong kebyar pada umumnya (saih pelegongan). Goyng kebyar Desa Pekraman Anggabaya ini kalau dilihat dari bahannya gambelan ini terbuat dari kerrawang dengan emas, timah, dengan tembaga. Kelahiran gong kebyar Desa Pekraman Anggabaya ini memiliki ciri khusus dan unik, dimana dahulu gambelan ini hanya dipergunakan untuk upacara yadnya di Pura Kahyangan tiga di Desa Pekraman Anggabaya saja yaitu dalam pentas penyalonarangan karena di Pura Kahyangan tiga ini ada pelawatan (sesuhunan) barong dan rangda yaitu harus dipentaskan setiap odalan di Pura Kahyangan tiga ini. Dengan demikian kedudukan gong kebyar Desa Pekraman Anggabaya pada tahun 1920 itu hanyalah sebatas di peruntukkan untuk upacara yadnya semata. Menurut wawancara dengan I Made Gublig dimana gong kebyar ini memiliki laras pelog lima nada yang lebih kecil suara atau larasnya daripada gong kebyar pada umumnya.

   Keberadaan gong kebyar Desa Pekraman Anggabaya ini sangat erat hubungannya dengan puri Sibang Gede, karena pada zaman itu pelatih gong kebyar di Desa Pekraman Anggabaya dilatih dari Sibang Gede yaitu Nang Dengeng, dan Nang Gebyuh. Dengan demikian maka keberadaan gong kebyar Desa Pekraman Anggabaya mulai diminati oleh masyarakat Desa Pekraman Anggabaya dan dijadikan gambelan yang sakral (duwe) dan unik yang tidak ada di tempat lain baik dari segi bentuk daun dan suaranya yang lebih kecil.

Dimana pada tahun 1947 datanglah seorang pelatih tabuh yang sangat terkenal yaitu Bapak I Wayan Berata. Beliau adalah seorang maestro (empu seni) dalam bidang seni  karawitan bali. Beliau mengajarkan tabuh lelambatan sampai seke tabuh ini bisa menabuh lelambatan tersebut yang selalu dipakai mengiringi upacara piodalan di Pura Kahyangan Tiga dan beliau juga membina tabuh-tabuh calonarang karena di Desa Pekraman Anggabaya ini memiliki pelawatan barong dan rangda dan tabuh-tabuh lelambatan dan calonarang masih dilestarikan dan dipakai sampai sekarang.

Gambelan ini kemudian diukir dan di prada oleh banjar Cengkelung yang merupakan banjar tetangga di sebelah barat dari Desa Pekraman Anggabaya dan selesai diukir dan di prada pada tahun.

Sekitar tahun 1950 Gong Kebayar Desa Pekraman Anggabaya juga pernah festival di alun-alun kota (lapangan puputan Badung) yang pada waktu itu mebarung dengan banjar Bias Sanur dan sekehe Gong Banjar Anggabaya, pada waktu itu bisa meraih juara satu dan kemudian festival berikutnya yang juga diadakan di Puputan Badung yang pada waktu itu mebarung dengan banjar Tohpati yang dimenangi oleh Banjar Anggabaya juga.

Sesungguhnya Gong Kebyar Desa Pekraman Anggabaya ini merupakan ritual keagamaan sehingga kedudukan gambelan gong kebyar ini sebagai sarana yadnya, karena menurut ajaran agama Hindu dikenal dengan istilah Panca Gita yang salah satunya adalah suara gambelan.Maka dari itu suara gambelan pun merupakan bagian dari yadnya itu sendiri.

Selain I Wayan Berata ada juga seorang pelatih gambelan yang dari Banjar Lambing Abiansemal yang bernama I Gusti Ngurah Lumbung.Beliau juga melatih tabuh-tabuh klasik yang salah satunya adalah Sekar Gendot.Semua sekehe gong ini sangat senang didalam menabuh sehingga memiliki wawasan yang luas pada tabuh klasik maupun tabuh kreasi.Kepiawaian I Gusti Ngurah Lumbung memainkan kendang sehingga beliau sering dijadikan juri di Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung.Maka I Gusti Ngurah Lumbung merupakan sosok seniman tabuh dari Banjar Lambing Abiansemal Badung.Pada tahun 1992 datang seorang seniman tabuh dan tari yang tamatan ASTI yang bernama Agus Wira Negara yang kelahiran Kaliungu Denpasar. Beliau juga mengajarkan tabuh-tabuh bebarongan  yang menjadi ciri khas gong kebyar bebarongan Banjar Anggabaya. Maka dari itu generasi muda baik truna truni Banjar Anggabaya sangat senang dan eksis dengan keberadaan Sekehe Bebarongan ini yang selalu memikiki taksu.Maka dari itu sangat cocoklah ditetapkan sebagai gambelan yang berlaras kuna yang selalu dilestarikan sampai sekarang dan gambelan gong kebyar inipun sangat disakralkan oleh masyarakat Banjar Anggabaya.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1  Simpulan

Sesuai dengan judul penelitian ini bahwa gong kebyar di Desa Pekraman Anggabaya ini diperkirakan sudah ada pada tahun 1920. Menurut wawancara dengan salah satu sesepuh di Desa Pekraman Anggabaya yaitu I Made Grebeg yang menyebutkan bahwa gong kebyar Desa Pekraman Anggabaya memiliki ciri khas yaitu yang suaranya agak kecil dari gambelan gong kebyar pada umumnya (saih pelegongan). Goyng kebyar Desa Pekraman Anggabaya ini kalau dilihat dari bahannya gambelan ini terbuat dari kerrawang dengan emas, timah, dengan tembaga.Kelahiran gong kebyar Desa Pekraman Anggabaya ini memiliki ciri khusus dan unik.

Dimana pada tahun 1947 datanglah seorang pelatih tabuh yang sangat terkenal yaitu Bapak I Wayan Berata. Beliau adalah seorang maestro (empu seni) dalam bidang seni  karawitan bali. Beliau mengajarkan tabuh lelambatan sampai seke tabuh ini bisa menabuh lelambatan tersebut yang selalu dipakai mengiringi upacara piodalan di Pura Kahyangan Tiga dan beliau juga membina tabuh-tabuh calonarang karena di Desa Pekraman Anggabaya ini memiliki pelawatan barong dan rangda dan tabuh-tabuh lelambatan dan calonarang masih dilestarikan dan dipakai sampai sekarang.

Sekitar tahun 1950 Gong Kebayar Desa Pekraman Anggabaya juga pernah festival di alun-alun kota (lapangan puputan Badung) yang pada waktu itu mebarung dengan banjar Bias Sanur dan sekehe Gong Banjar Anggabaya, pada waktu itu bisa meraih juara satu dan kemudian festival berikutnya yang juga diadakan di Puputan Badung yang pada waktu itu mebarung dengan banjar Tohpati yang dimenangi oleh Banjar Anggabaya juga.

Maka dari itu generasi muda baik truna truni Banjar Anggabaya sangat senang dan eksis dengan keberadaan Sekehe Bebarongan ini yang selalu memikiki taksu.Maka dari itu sangat cocoklah ditetapkan sebagai gambelan yang berlaras kuna yang selalu dilestarikan sampai sekarang dan gambelan gong kebyar inipun sangat disakralkan oleh masyarakat Banjar Anggabaya.

 

 

DAFTAR INFORMAN

 

 

  1. Nama: I Made Gublig (diwawancarai tgl 07/10/2013)

TTL     : Denpasar, 01 agustus 1920

Status: Murid Imade Grebag

  1. Nama: I Made Grebeg (diwawancarai tgl 09/10/2013)

TTL     : Denpasar, 27 februari 1926

Status: Murid I Made Grebag

  1. Nama: I Nyoman Gede Bawa(diwawancarai tgl 12/10/2013)

TTL    : Denpasar, 31 Desember 1953

Status: Anak I Made Grebag

 

Nov 26

I MADE GREBAG SEORANG SENIMAN TARI TOPENG DAN JAUK

Posted on Selasa, November 26, 2013 in Tak Berkategori

PENDAHULUAN

            Seni adalah hasil rasa, cipta, karsa manusia yang mengandung unsur keindahan. Apapun yang di ciptakan mengandung keindahan itulah seni, baik seni suara, seni rupa, seni kriya maupun seni pertunjukkan. Maka khususnya di Bali apapun yang dilakukan baik itu cipta, rasa dan karsa pasti mengandung estetika dan etika. Maka konsep-konsep agama yang disebut tri wisesa yaitu satyam, siwam, sundaram, yang artinya kejujuran, kesucian dan keindahan. Seni tanpa agama akan menjadi hampa, dan agama tanpa seni akan menjadi kaku. Maka unsur-unsur agama yang ada didalam seni itu sendiri maka lahirlah yang disebut dengan taksu. Kalau ditinjau dari segi kata, kata taksu berasal dari kata “tak” dan “su”, tak yang artinya suara dan su yang artinya baik. Maka taksu artinya suara yang baik nyang keluar dari hati nurani dengan dipengaruhi dengan unsur-unsur agama. Maka seorang seniman harus memiliki taksu supaya apa yang ditampilkan dan yang dibuat memiliki karisma yang baik. Dengan demikian seniman topeng harus memiliki jiwa ngayah sebagai persembahan dan rasa bakti kehadapan Tuhan. Maka dari itu seorang seniman topeng dituntut harus memiliki pengetahuan tentang babad maupun sejarah serta sastra-sastra agama yang akan dipentaskan (disajikan dalam upacara yadnya). Maka keunikan atau kesakralan yang dimiliki seniman topeng sehingga kesucian lahir batin dalam upacara pewintennan, baik itu pewintenan agama, pewintenan sari dan pewintenan pregina yang artinya ngelinggihin Sang Hyang Taksu.

 

PEMBAHASAN

            Kisah seorang seniman topeng dan jauk dari kelahiran Banjar Anggabaya  yang namanya sudah tidak asing lagi didunia seni di Bali. I Mad e Grebag merupakan seniman topeng dan jauk yang lahir di Banjar Anggabaya, Desa Penatih, Kota Denpasar pada tahun 1904. Beliau merupakan sesosok seniman yang namanya sudah populer dikancah dunia seni tari terutama tari topeng dan jauk. Kapiaweannya menari topeng dan jauk sedah terkenal di pulau Dewata ini sekitar pada tahun 1950-an. Banyak orang yang belajar menari topeng dan jauk dirumah beliau. Didalam dalam melatih topeng dan jauk beliau memiliki ciri yang  khas dan unik dalam gerakkannya sangat bagus sekali. Didalam menarikan topemg seperti topeng keras, topeng tua, dan topeng arsawijaya. Apa lagi tari jauk manisnya bertaksu.

Foto0048

Seniman Tari topeng dan jauk I Made Grebag

Lahir tahun 1904 di Banjar Anggabaya

Pada tahun 1951 I Made Grebag pernah menari jauk manis didesa blaluan yang di kendangi oleh Bapak I Wayan Berata. I Wayan Berata merupakan seorang empu seni (maestro seni) dalam seni karawitan (tabuh). Dimana dipuri Blaluan I Made Grebag banyak memiliki murid seperti Ida Boda, Ida Purya, dan banyak lagi yang lainnya. Dengan demikian sosok I Made Grebag merupakan pelatih tari topeng dan jauk di Puri Blaluan Denpasar. (wawancara dengan I Made Gublig pada tanggal 07/10/2013)

Pada tahu 1952 I Made Grebag juga mengajarkan tari topeng dan jauk di banjar Anyar kabupaten Tabanan. Di Banjar Anyar Tabanan beliau juga banyak memiliki murid. Dengan demikian nama I Made Grebag di Banjar Anyar Tabanan sudah tak asing lagi sebagai seniman penari topeng dan jauk. (wawancara dengan I Made Grebeg pada tanggal 09/10/2013)

Pada tahun 1953 I Nade Grebag juga melatih arja di Banjar pondok desa Perahupan, peguyangan. Beliau mengajarkan tarian arja dengan jumlah penari 12(dua belas) orang, maka arja ini disebut dengan arja roras(duabelas) karena jumlah penarinya ada dua belas orang. Dengan giat berlatih dengan waktu enam bulan saja maka arja roras di Banjar Pondok ini sudah bisa tampil di pura Desa Perahupan dengan penampilannya yang cukup baik dan bisa menarik banyak perhatian penonton pada waktu itu. Maka I Made Grebag sukses mendidik penari arja roras di desa perahupan. Kemudian yang terahir di Banjar Anggabaya yang merupakan Banjarnya sendiri beliau juga melatih calonarng serta mengajarkan baris sebanyak 50 orang. Kenapa melatih calonarang? Karena di Banjar Anggabaya memiliki Pura Khayangan Tiga serta menyungsung tapakan Barong dan Rangda. Maka tari penyalonarangan itu sangat cocok dipentaskan(ngayah) pada pura Khayangan tersebut.(wawancara dengan I Nyoman Gede Bawa pada tanggal 12/10/2013)

Adapun piagam yang pernah diraih oleh beliau cukup banyak baik dari pemerintah dinas kebudayaan maupun bapak gubernur. Maka I Made Grebag sangat dikenal dikalangan para seniman tari yang mendapat tanda penghargaan sebagai maesto penari topeng dan jauk di Bali.

KESIMPULAN

            Dari beberapa pengertian tentang seniman topeng maka dapat dirumuskan sebagai berikut: seorang seniman harus memiliki kesucian batin dalam rangka ngayah disuatu upacara agama sebagai pemuput karya dengan menampilkan topeng Sidakarya.

Seniman topeng harus melakukan upacara pewintenan baik pewintenan agama, pewintenan sari, dan pewintenan pregina yang bertujuan untuk ngelinggihin Sang Hyang Taksu. Keberadaan seniman topeng I Mde Grebag beliau sudah terkenal dikalangan para seniman-seniman yang ada di Bali dengan kepiaweannya menari topeng dan tari jauk. Beliau melatih topeng di Puri Blaluan Denpasar dan memiliki banyak murid yang salah satunya adalah Ida Boda dan Ida purya. Beliau juga melatih di Banjar Anyar Tabanan dan juga memiliki banyak murid kemudian beliau melatih di Peguyangan tepatnya di Banjar Pondok Perahupan yang pada waktu beliau melatih arja yang disebut dengan arja roras yang berjumlah 12 orang penari. Serta kembali ke Banjar Anggabaya yang merupakan Banjar Beliau sendiri dengan melatih calonarang dan 50 baris tunggal. Kenapa melatih calonarang? Karena di Desa Pekraman Anggabaya memiliki pelawatan Barong dan Rangda yang di setiap odalan harus dipentaskan (mesolah).

Jadi sosok seniman topeng dan jauk sudah sangat cocok diberi penghargaan sebagai deniman tua(maesto topeng) oleh pemerintah provinsi Bali dan Bapak Gubernur yang merupakan salah satu seniman topeng yang terbaik pada zaman itu sanpai sekarang. Nama beliau tetap dihormati dan dihargai oleh para seniman yang ada si Bali. Dengan demikian sosok I Made Grebag pantas dijadikan penari yang ulung di kalangan seniman-seniman topeng dan jauk yang ada di Bali.

DAFTAR INFORMAN

  1. Nama: I Made Gublig (diwawancarai tgl 07/10/2013)

TTL     : Denpasar, 01 agustus 1920

Status: Murid Imade Grebag

  1. Nama: I Made Grebeg (diwawancarai tgl 09/10/2013)

TTL     : Denpasar, 27 februari 1926

Status: Murid I Made Grebag

  1. Nama: I Nyoman Gede Bawa (diwawancarai tgl 12/10/2013)

TTL    : Denpasar, 31 Desember 1953

Status: Anak I Made Grebag

Sep 28

REONG PADA GONG KEBYAR

Posted on Sabtu, September 28, 2013 in Tak Berkategori

Gong Kebyar adalah sebuah barungan baru yang diperkirakan muncul pada tahun 1915 dan daerah tempat dicetuskannya pertama kali disebut-sebut di desa jagaraga yaitu di sebuah desa yang terletak di kecamatan sawan kabupaten Buleleng yang terletak di bagian timur . Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini (Kebyar yang bermakna cepat, tiba-tiba dan keras) gamelan ini menghasilkan musik-musik keras dan dinamis. Gamelan ini dipakai untuk mengiringi tari-tarian atau memainkan tabuh-tabuhan instrumental. Secara fisik Gong Kebyar adalah pengembangan kemudian dari Gong Gededengan pengurangan peranan, atau pengurangan beberapa buah instrumennya. Misalnya saja peranan trompong dalam Gong Gebyar dikurangi, bahkan pada tabuh-tabuh tertentu tidak dipakai sama sekali, gangsa jongkoknya yang berbilah 5 dirubah menjadi gangsa gantung berbilah 9 atau 10 . cengceng kopyak yang terdiri dari 4 sampai 6 pasang dirubah menjadi 1 atau 2 set cengceng kecil. Kendang yang semula dimainkan dengan memakai panggul diganti dengan pukulan tangan.

Gong kebyar apabila dilihat berdasarkan skema pada semua jenis gambelan yang ada di bali di mana dalam skema itu terdapat jenis-jenis gambelan golongan tua, golongan madia, dan golongn baru/muda. Nampak secara jelas bahwa gambelan gong kebyar adalah  tergolong gambelan bali yang sangat muda usianya, termasuk kelompok gambelan bali baru. Di sini sedikit lebih tua dari gambelan jejangeran, jejogedan, dan lain sebagainya yang sama-sama tergolong kelompok gambelan bali baru.

Gambelan gong kebyar ini sekalipun merupakan suatu bentuk gambelan bali yang termasuk kelompok gambelan bali baru namun di dalamnya masih nampak jelas betapa kuatnya pengaruh terhadap gambelan bali lainnya yang masuk dan ikut membentuk gong kebyar ini. Adapun gambelan-gambelan bali yang mempengaruhi serta nantinya ikut membentuk gong kebyar ini sudah barang tentu adalah jenis-jenis gambelan bali yang telah ada sebelum munculnya gambelan gong kebyar ini.

Secara konsep Gong Kebyar adalah perpaduan antara Gender Wayang, Gong Gede dan Pelegongan. Rasa-rasa musikal maupun pola pukulan instrumen Gong Kebyar ada kalanya terasa Gender Wayang yang lincah, Gong Gede yang kokoh atau Pelegongan yang melodis. Pola Gagineman Gender Wayang, pola Gegambangan dan pukulan Kaklenyongan Gong Gede muncul dalam berbagai tabuh Gong Kebyar. Gamelan Gong Kebyar adalah produk kebudayaan Bali modern. Gong Kebyar berlaras pelog lima nada dan kebanyakan instrumennya memiliki 10 sampai 12 nada, karena konstruksi instrumennya yang lebih ringan jika dibandingkandengan Gong Gede. Tabuh-tabuh Gong Kebyar lebih lincah dengan komposisi yang lebih bebas, hanya pada bagian-bagian tertentu saja hukum-hukum tabuh klasik masih dipergunakan, seperti Tabuh Pisan, Tabuh Dua, Tabuh Telu dan sebagainya.

Lagu-lagunya seringkali merupakan penggarapan kembali terhadap bentuk-bentuk (repertoire) tabuh klasik dengan merubah komposisinya, melodi, tempo dan ornamentasi melodi. Matra tidak lagi selamanya ajeg, pola ritme ganjil muncul di beberapa bagian komposisi tabuh.

Barungan gamelan gong kebyar adalah sebuah barungan yang terdiri dari 30-40 buah instrument, dimana instrument-instrument ini kebanyakan instrument berupa alat-alat perkusif (dipukul). Teknik-teknik tersebut menyebabkan setiap kelompok instrument memiliki bunyi dan warna nada yang berlainan. Instrument-instrument dalam gong kebyar yang termasuk kelompok instrument yang pertama dipukul seperti gong, kempur, reong, trompong, dan gangsa dimainkan dengan cara memukul, baik dengan tangan langsung ataupun memukul melalui alat-alat tabuh (panggul). Teknik permainan memukul dalam gamelan bali biasanya disebut “gegebug”.

Pada umumnya gong kebyar yang lengkap terdiri dari 1 buah terompong, 4 buah gangsa, 2 buah ugal/giying, 4 buah kantil, 2 buah jublag, 2 buah jegogan, 2 buah penyacah, 1 buah reong, 1 buah kajar, 1 buah kempli, 1 pasang gong, 1 buah kempur, 1 buah bende, 1 pasang kendang dan 3-10 buah suling. Di masing-masing instrument ini mempunyai peranan,  teknik pukulnya sendiri. Salah satunya adalah reong.

Reong

Reong adalah instrument yang bentuknya memanjang dan berpencon . Instrument ini pada umumnya memiliki pencon sebanyak 12(dua belas) buah yang diawali dengan nada ndeng dan diakhiri dengan nada ndung. Instrument ini dapat dimainkan atau dipukul oleh empat orang dengan masing-masing ornag memakai dua buah panggul yang dipegang oleh tangan kanan dan tangan kiri. Keempat orang pemain ini masing-masing dinamakan ; penyorang, pengenter, penyelah dan pemetit. Suara yang bisa ditimbulkan oleh instrument ini adalah suara mati yang diberi tanda O dan suara hidup atau ngelumbar diberikan tanda O. Pukulan ini terletak pada masing-masing moncol. Sedangkan pukulan lambe ditangan kanan diberi  tanda C sedangkan tangan kiri diberikan tanda K. Adapun jenis-jenis pukulan pada reong adalah sebagai berikut ;

 

  1. Pukulan ngeremteb

Adalah nama dari salah satu pukulan reong yang menggunakan pola pukulan yang lebih mementingkan pada pola ritme daripada pola nada. Untuk mewujudkan pukulan ini moncol reyong di pukul dengan cara bersama. Nadanya bisa berbeda antara nada yang satu dengan nada yang lain. Suara yang muncul dalam pukulan ini adalah suara mati ( ditutup ) dan suara  hidup/ ngelumbar ( suara tidak ditutup ).

  1. Pukulan nerumpuk

Adalah nama dari salah satu pukulan reong yang memukul satu moncol atau satu nada yang dipukul oleh tangan kanan dan tangan kiri secara beruntun. Pukulan ini bisa dilakukan atau disajikan oleh keempat pemainnya.

  1. Pukulan norot, ngesot dan ngodot

Adalah nama dari salah satu pukulan instrument reong. Pukulan norot, ngosot dan nngodot ada dua macam yaitu ; Pukulan norot cepat ( gencang ) dan pukulan norot pelan ( adeng ).

  • Norot cepat ( gencang )

Pukulan tangan kanan dan tangan kiri yang salah satu pemain ( penyorag )yang memukul sambil menutup atau nekes, yang pelaksanaannya bergantian dan tangan kanan lebih sering.

  • Norot pelan ( adeng )

Pukulan tangan kanan dan tangan kiri salah satu pemain ( penyorag ) yang memukul sambil menutup/ nekes dimana pelaksanaannya bergantian.

  1. Pukulan memanjing

Adalah pukulan reong yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri secara bergantian dimana letak pukulan di bagian muka ( mue ) yang sering juga disebut lambe pada waktu akan membuat angsel-angsel

 

  1. Pukulan ubit-ubitan ( ngubit )

Adalah sebuah teknik permainan yang dihasilkan dari perpaduan sistem on-beat (polos) dan off-beat (sangsih). Pukulan polos dan sangsih jika dipadukan akan menimbulkan perpaduan bunyi yang dinamakan jalinan atau ubit-ubitan. Pukulan ini biasa juga disebut dengan istilah inter loking. Dalam literatul ubit-ubitan sebuah teknik sebuah teknik permainan gambelan bali yang disusun oleh bapak Dr. I  Made Bandem, ada menyebutkan jenis-jenis  pukulan ubit-ubitan. Contohnya :

  • Ubit-ubitan nyalimput

Perpaduan antara pemain penyorong yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri dengan pemain pengenter juga dilakukan oleh tangan kanan dan kiri. Sehingga membentuk suatu jalinan (kotekan). Jumlah nada yang dipukul adalah empat nada. Nada dan moncol pertama dipukul oleh tangan kiri bagian penyorong sedangkan nada dan moncol keempat dipukul oleh tangan kanan pengenter, sedangkan tangan kanan bagian penyorong dan tangan kiri bagian pengenter memukul nada / moncol kedua dan ketiga sedhingga dapat membuat suatu jalinan atau kotekan.

  • Pukulan ubit-ubitan gegelut

Perpaduan antara pemain penyorong yang dilakukan oleh tangan kanan dan kiri sedangkan pemain pengenter juga melakukan dengan tangan kanan dan tangan kiri sehingga membentuk suatu jalinan atau kotekan. Jumlah nada serta moncol yang dipukul berjumlah tiga nada atau tiga moncol yang berbeda. Nada atau moncol pertama dipukul oleh tangan kiri bagian penyorong  dan nada atau moncol kedua dipukul oleh tangan kanan penyorong dan tangan kiri pengenter, sedangkan tangan kanan pengenter memukul nada atau moncol ketiga sehingga membentuk suatu jalinan atau kotekan “neluin”.

  1. Pukulan beburu

Adalah pola salah satu pukulan reong yang membuat suatu pukulan yang saling berkejar-kejaran dengan nada yang beruntun kenada yang lebih tinggi. Pukulan berburu pada instrument reong adalah memukul empat buah nada yang berbeda dipukul oleh dua orang pemain dengan memakai tangan kanan dan tangan kiri. Pukulan tangan kiri penyorong dengan tangan kanan pengenter bertemu sekali dalam waktu yang bersamaan, sedangkan tangan kanan penyorong dan tangan kiri pengenter bertemu sekali tetapi tidak bersamaan.

reong dalam gong kebyar juga mempuyai fungsi sebagai  membuat angsel-angsel yang jenis pukulannya sama dengan cengceng yang  dimana sering menonjol pada tabuh tari-tarian, pada tabuh kreasi terutama pada bagian bapang

Jun 12

INSTRUMENT KENDANG

Posted on Rabu, Juni 12, 2013 in Tak Berkategori

Pengertian instrument kendang

Instrument kendang adalah suatu alat sumber suara yang suaranya dari kulit. Instrument ini dapat dibagi menjadi 2 (dua) yaitu instrument kendang lanang dan wadon  yang masing-masing dapat dimainkan oleh dua tangan yaitu kanan dan kiri.Instrument kendang ini dapat dipukul dengan cara memangku instrument dengan menekukan kedua kaki kanan dan kiri dengan posisi tertentu (bersila).Instrument kendang ini diletakkan diatas lekukan kaki tersebut.

SISTEM PENOTASIAN PUKULAN KENDANG

          Sistem penotasian kendang sangat berbeda dengan sistem penotasian ugal atau jublag yang memakai nada aksara melainkan hanya memakai simbol-simbol saja.Misalnya:

  1. Pada kendang lanang ; Di tangan kiri kendang lanang biasanya memakai tanda notasi (P) yang suaranya “Pak” , sedangkan di bagian kanan memukul ditengah-tengah dengan tangan kanan ujung jari terbuka memakai notasi dengan tanda (Pg) yang suaranya berbunyi “Pung”, kalau memukul disisi lingkaran bagian kanan dengan tangan kanan akan bersuara “Tut/Dug” dengan tanda (^).
  2.  Pada kendang wadon ; Di bagian kiri dipukul dengan tangan kiri biasanya memakai tanda notasi (K) yang suaranya “Ka”, sedangkan bagian kanan dipukul ditengah-tengah dengan tangan kanan yang ujung jari terbuka diberi tanda (Km) yang suaranya “Kum”, sedangkan memukul di bagian kanan dipinggir lingkaran dengan tangan tertutup atau terbuka dipakai tanda notasi (o) yang suaranya “Dig”.

FUNGSI KENDANG

     Seperti instrument gambelan yang lain instrument kendang ini juga mempunyai fungsi-fungsi, yaitu :

  1. Sebagai pemurba irama
  2. Pemimpin/mengatur jalannya sebuah lagu
  3. Penghubung bagian-bagian lagu
  4. Membuat angsel-angsel
  5. Mengendalikan irama gending atau lagu

JENIS-JENIS PUKULAN KENDANG

          Selain fungsi kendang juga mempunyai jenis-jenis pola pukulan kendang yang tidak sama dengan instrument gambelan yang lainnya. Adapun jenis-jenis pukulan yang terdapat pada kendang adalah:

  1. Pukulan kendang batu-batu

Nama salah satu dari pola pukulan kendang gupekan (dipukul dengan tangan) dan kendang cedugan (dipukul dengan panggul) yang dapat dilakukan oleh kendang lanang dan kendang wadon yang masing-masing bisa membawa irama dan masing-masing bias menjalin irama itu sendiri. Yang menjalin di sini adalah instrument kendang yang memukul dibagian tengah dan sisi lingkaran bagian kanan (saling bergantian antara kendang wadon dan lanang).

  1. Pukulan kendang ngulun

Ngulun adalah pukulan kendang lanang pada tangan kanan dengan memukul disisi-sisi lingkaran bagian kanan, sedangkan tangan kiri menutup ditengah lingkaran akan dapat menimbulkan suara “Tut”. Suara kendang ini  akan muncul secara beruntun.

  1. Pukulan kendang ngetur

Ngetur adalah pukulan kendang yang dipukul oleh alat pemukul/ panggul yang suaranya dimatikan yang dilakukan oleh salah satu instrument kendang tersebut. Ngetur biasanya terdapat pada pukulan kendang dalam bebarongan yang pukulannya secara beruntun.

  1. Pukulan kendang gegulet.

Gegulet adalah pukulan kendang lanang dan wadon pada bagian kanan yang membuat suatu jalinan. Pukulan gegulet ini bisa disajikan dengan memakai alat pemukul/panggul dan bisa juga disajikan dengan memakai tangan dengan memukul dibagian sisi lingkaran.

  1. Pukulan kendang macimplungan

Macimplunga adalah pukulan kendang lanang dan kendang wadon yang msing-masing bisa bermain sendiri (nunggal) yang membuat suatu motif kekembangan pukulan tersendiri yang biasanya dilakukan pada bagian gending : pengipuk, ecet-ecetan dan bapang.

  1. Pukulan kendang pengring/nyaluk

Pukulan kendang yang terdapat pada kendang wadon bagian kiri yang pukulannya “nyandet” atau mendahului pukulan kendang lanang bagin kiri.

  1. Pukulan kendang bebaturan

Pukulan kendang ini biasanya dipakai dalam lagu-lagu lelambatan di bagian pengecet, antara perpauan kendang wadon dan kendang lanang pada bagian kanan yang letaknya dibagian pertama dalam pengecet pada tabuh dua, tabuk pat, tabuh nem dan tabuh kutus pada gending-gending lelambatan.

  1. Pukulan kendang tuntun marge(nuntun)

Pukulan instrument kendang yang terdapat pada kendang lanang bagian kiri, yang pukulannya pada umumnya kena jatuh pada ketukan yang bersuara “Pak” dengan tanda P.

  1. Pukulan kendang milpil

Pukulan kendng gupekan dan pepanggulan di bagian kanan kendang lanang dan wadon yang masing-masing mempergunakan pola pukulan yang berbeda sehingga terbentuk semacam jalinan. Dalam pukulan ini setiap pengendang dibutuhkan suatu kebebasan untuk membentuk jalinan. Pukulan kendang ini biasanya terdapat pada gending-gending pelegongan bagian pengawak akan mencari jatuhnya pukulan gong. Sedangkan didalam tabuh lelambatan pukulan ini akan jatuh pada gending-gending akan mencari gong dalm gending-gending pengawak dan pengisep pada gendimg lelambatan tabuh dua, tabuh pat, tabuh nem dan tabuh kutus.

  1.  Pukuln kedang apak-apak

Pukulan kendang lanang lanang dan wadon gupekan (memukul memakai tangan) yang dipadukan/ digabungkan dengan semua bagian yang terdapat pada kedua instrument kendang tersebut. Motif pukulan ini dapat dilakukan pada bagian lagu yang iramanya pelan pada bagian pengawak gending iringan dari pelegongan.

  1.  Pukulan kendang cadang runtuh

Pukulan kendang ini dapat dilakukan oleh kendang wadon pada bagian muka sebelah kanan yang artinya mengimbangi pukulan dari kendang lanang.

Mei 30

TROMPONG

Posted on Kamis, Mei 30, 2013 in Tak Berkategori

Trompongadalah suatu instrument yang bentuknya memanjang. Instrumen ini pada umumnya mempunyai jumlah moncol/pencon sebanyak 10 (sepuluh) buah yang di awali dengan nada ndang dan di akhiri dengan nada ndung. Di samping itu ada juga instrument trompong yang bermoncol 11 (sebelas) buah. Instrumen trompong pada umumnya dimainkan dengan satu orang dengan memahami 2 buah panggul yang dipegang oleh tangan kiri satu buah dan tangan kanan satu buah.

FUNGSI TROMPONG

# Memulai suatu gending

# Menjalankan melodi pokok

# Membuat fariasi

JENIS-JENIS PUKULAN PADA TROMPONG

1.Pukulan Nyilihasih

Pukulan Nyilihasih adalah salah satu pukulan trompong yang memukul beberapa nada satu persatu baik dilakukan oleh satu tangan maupun dua tangan secara berurutan atau berjauhan.

2.Pukulan Ngembat/ngangkep

Pukulan Ngembat/ngangkep adalah nama dari salah satu pukulan trompong yang dilakukan dengan cara memukul bersamaan dua buah nada yang sama dengan berjarak empat nada.

3.Pukulan Ngempyung/ngero

Pukulan Ngempyung/ngero adalah nama dari salah satu pukulan trompong yang dilakukan dengan cara memukul bersama dua buah nada yang berbeda dengan jarak dua nada yang nantinya akan kedengaran jadi satu nada (ndang dengan ndeng).

4.Pukulan Ngeluluk

Pukulan Ngeluluk adalah nama dari salah satu pukulan trompong yang merupakan pengembangan dari pukulan nyilihasih.Pukulan ini dapat dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri yang memukul satu nada atau satu moncol sebanyak 2 kali.

5.Pukulan Netdet

Pukulan Netdet adalah nama dari salah satu pukulan trompong yang merupakan pengembangan dari pukulan Nyilihasih yang artinya pukulan dua buah nada yang jejer yang saling berganti.Nada yang lebih kecil dipukul dan ditutup oleh tangan kanan dan tangan kiri memukul nada yang lebih besar atau rendah.Pukulan ini biasanya digunakan pada lagu/gending pengrangrang.

6.Pukulan Ngandet

Pukulan ngandet  adalah pukulan yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri bergantian memukul dua moncol yang nadanya berurutan.Pukulan pencon tangan kanan ditutup dan pukulan tangan kiri dibuka (tidak ditutup).

7.Pukulan Niltil

Pukulan niltil adalah pukulan satu nada dengan tangan kanan atau tangan kiri yang temponya makin lama makin cepat.Pukulan ini biasanya digunakan diantaranya pada salah satu bagian gending “pengalihan” atau pengrangrang

8.Pukulan Mekaad

Pukulan mekaad adalah pukulan instrument trompong yang memukul tiga buah nada yang arahnya kekiri atau ke nada yang lebih besar yang dilakukan oleh tanga kanan 2 (dua) nada dan tangan kiri 1 (satu) nada.

9.Pukulan Nyintud

Pukulan nyintud adalah pukulan yang dilakukan oleh tangan kiri atau tangan kanan dengan memukul dua buah nada yang berbeda. Satu diantara nada tersebut dipukul dua kali secara berturut-turut kemudian diikuti oleh satu kali pukulan instrument jegogan. Pukulan nyintud sebelumnya disertai dengan pukulan niltil untuk menuju tekanan lagu. Pukulan ini biasanya terdapat pada bagian gending pengrangrang untuk memberi tanda saat akan jatuhnya pukulan jegogan.

10.Pukulan Ngoret

Pukulan ngoret dapat dibagi 3 (tiga) macam yaitu:

a.Ngoret nyilihasih

Pukulan ngoret nyilihasih adalah pukulan yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri dengan memukul tiga buah nada yang berbeda dan berurutan yang arah nadanya kearah yang lebih tinggi atau kecil.

b.Ngoret ngembat/ngangkep

Pukulan ngoret ngembat/ngangkep adalah pukulan yang dilakukan oleh      tangan kanan dan tangan kiri dengan memukul tiga buah nada atau moncol yang berbeda dan berurutan. Dipihak tangan kanan memukul dua buah nada dan tangan kiri memukul dua buah nada juga. Satu diantara tiga buah nada yang dipukul oleh tangan kiri sama dengan tangan kanan.

c.Ngoret ngempyung

Pukulan ngoret ngempyung adalah pukulan yang dilakukan oleh tangan            kanan dan tangan kiri dengan memukul tiga buah nada atau moncol yang berbeda. Tangan kanan memukul dua buah nada dan tangan kiri memukul satu buah nada. Satu diantara tiga buah nada yang dipukul oleh tangan kiri berbeda dengan yang dipukul oleh tangan kanan.

11.Pukulan Nguluin (mendahului)

Pukulan nguluin (mendahului) adalah pukulan instrument trompong yang dilakukan oleh tangan kiri atau tangan kiri yang memukul dengan mendahului pukulan pokok gendingnya yang biasanya dilakukan pada pukulan ngembat/ngangkep dan nyilihasih yang jatuhnya ditengah-tengah dan bagian akhir lagu.

12.Pukulan Ngumbad/ngalad (membelakangi)

Pukulan ini adalah pukulan instrument trompong yang dilakukan oleh tangan kanan atau tangan kiri yang memukul dengan membelakangi pukulan pokok gendingnya yang biasanya dilakukan pada pukulan ngembad/ngangkep dan nyilihasih yang jatuhnya dibagian tengah-tengah dan bagian akhir lagu.

13.Pukulan Nerumpuk

Pukulan ini adalah pukulan instrument trompong yang dilakukan oleh tanagn kanan dan tangan kiri memukul satu nada atau satu moncol yang beruntun silih berganti dalam tempo yang agak cepat