bentuk Garapan EMBANG

  Bentuk Garapan

Bentuk dari garapan ini adalah seni karawitan kreatif dengan tetap berangkat dari pakem–pakem tradisi. Garapan ini menggunakan dua laras gamelan Bali, yaitu laras pelog dan laras selendro. Dengan memadukan gamelan yang memiliki laras bebeda seperti ini akan timbul warna suara baru pada gamelan Bali, khususnya pada garapan kami ini. Sebagaimana yang disebutkan dalam lontar Prakempa, jika gamelan yang berlaras pelog dan selendro dipadukan akan timbul suara yang dapat menggungah hati pendengarnya.Adapun bentuk garapanya dapat kami uraikan sebagai berikut :

  • Bagian Pertama :

Bagian ini menceritakan suasana bulan mati yang identik dengan kegelapan,yang diwujudkan dengan gamelan Selonding.Dengan masih memakai pakem tradisi yang ada di Bali dan berpijak dengan melodi yang menggunakan pola monorhythm seperti gending-gending yang sudah ada sejak dulu.Sesuai dengan konsep yang diangkat, dalam garapan ini seluruh birama lagu menggunakan ketukan yang berjumlah 15 ketukan.

  • Bagian Kedua :

Dalam bagian ini menceritakan dimana perubahan bulan tilem ke bulan purnama yang dimana kegelapan mulai memudar dengan adanya sinar dari bulan purnama.Dimana dari pakem tradisi sudah kami kembangkan dengan memainkan instrument Terompong Semar Pegulingan dan reong Angklung.Juga kami juga mencoba memadukan reong yang berlaraskan pelog dan selendro tersebut untuk menambahkan kesan atau dinamika pada bagian lagu perkusif (angsel cekbyot) dan mencoba memadukan Terompong Semar Pagulingan dengan Selonding.

  • Bagian Ketiga :

Bagian ini menceritakan ketika semua manusia sudah memahami keadaan yang berubah tersebut, mereka mulai bisa menjalani kehidupan seperti dulu, namun masih ada emosi jiwa yang melekat pada diri manusia. Dan klimaksnya penggarap memadukan Melodi,Terompong Semara Pagulingan dengan Reong Angklung 5 nada gong dan Selonding.

Tema Garapan

Tema yang kami ambil adalah bulan mati (Tilem) mencari kebulan penuh (Purnama) yang mempunyai renggang waktu lima belas hari. Lima belas hari, saya mengimplementasikan kedalam suatu karya seni musik yang dibentuk secara sadar dan dibentuk dengan ketukan dengan berjumlah lima belas ketukan dan kelipatan dari angka lima belas tersebut. Saya tertarik dengan konsep Bulan Tilem ke Bulan Purnama karena datangnya tidak pernah berubah, pasti datang setiap lima belas hari. Dari kedatangan yang tidak pernah berubah garapan karya seni musik ini juga bersifat yang sama. Garapan ini menggambarkan keadaan Bulan Tilem mencari Bulan Purnama atau gelap mencari terang yang kami gambarkan dari tradisi menjadi modern.

 Sinopsis

Embang menggambarkan alam semesta yang penuh dengan misteri dari keagungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Hyang Maha Esa). Didalam embang sebenarnya terdapat kekuatan yang maha besar mengatur dinamika perkembangan jagat raya ini. Pergerakan sang waktu yang mengatur adanya bulan terang (purnama) dan bulan mati (tilem), merupakan embang (kekosongan) yang selalu terjadi lima belas hari sekali. Terinspirasi dari hal tersebut kami mengekplorasi ke dalam garapan karawitan inovatif dengan mengangkat unsur kekosongan lima belas hari menjadikan inti garapan ini yang diberi judul  “ EMBANG ”. Unsur lima belas yang dimaksud adalah jumlah ketukan dalam satu birama lima belas (limolas).

Perbedaan Gong Kebyar Bali Utara dengan Bali Selatan

Sejarah Gong Kebyar

Adanya hubungan yang erat anara Bali dengan dunia Barat pada Masa Penjajahan Belanda (1846-1945) pada tahun 1914 di Bali Utara lahir sebuah gamelan gaya baru disebut Gong Kebyar. Ansambel itu menggunakan Gong Kuno sebagai instrumentasinya dan lagu-lagu klasik diganti dengan lagu-lagu ciptaan baru sebagai ekspresi eksplosif pada saat itu (Bandem,2013:71). Gong Kebyar adalah sebuah barungan baru. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini (Kebyar yang bermakna cepat, tiba-tiba keras) gamelan ini menghasilkan musik-musik keras dan dinamis. Gamelan ini sering untuk mengiringi tari-tarian atau memainkan tabuh-tabuh instrumental. Secara fisik Gong Kebyar adalah pengembangan dari Gong Gede dengan pengurangan peranan, atau pengurangan beberapa buah instrumennya. Misalnya peranan terompong dalam Gong Kebyar  dikurangi, bahkan pada tabuh-tabuh gong tertentu tidak dipakai sama sekali, gangsa jongkoknya yang berbilah 5 dirubah menjadi menjadi gangsa gantung yang berbilah 10, ceng-ceng kopyak yang terdiri dari 4 sampai 6 pasang dirubah menjadi 1 atau 2 set ceng-ceng kecil. Kendang semula dimainkan dimainkan memakai panggul diganti dengan pukulan tangan. Gong Kebyar berlaraskan pelog 5 nada dan kebanyakan instrumennya memiliki 10 sampai 12 nada,karena konstruksi instrumennya lebih ringan jika di bandingkan dengan Gong Gede. Tabuh-tabuh Gong Kebyar lebih lincah dengan komposisi yang lebih lincah, hanya pada bagian tertentu saja hukum-hukum tabuh klasik di pergunakan, seperti Tabuh Pisan, Tabuh Dua, Tabuh Telu, dan sebagainya.

            Dipandang dari karakteristik lagu, awalnya banyak lagu-lagu Gong Kebyar dikembangkan dari lagu-lagu Legong Kraton. Lagu-lagu ostinato pendek seperti bapang, pengecet, gegaboran, penggiber-iber, pengipuk, dan batel, dibalut dengan teknik baru kekebyaran termasuk pukulan bersama ‘kebyang’ atau ‘kebyar’ yang keras, diikuti dengan pukulan norot, oncang-oncangan, ucek-ucekan, dan ubit-ubitan yang rumit. Kelompok-kelompok instrumen seperti gangsa, reyong, kendang dan ceng-ceng ditampilkan secara bergilir untuk menunjuan keterampilan para pemain masing-masing kelompok. Berbeda dengan Gamelan Tua dan Golongan Madya yang mengutamakan struktur dan kemerduan lagu atau keindahan dan keindahan melodi, gamelan Golongan Baru menonjolkan permainan ritme yang komppleks yang disajikan melalui gerak-ferik penabuh yang meluap-luap (Bandem,2013:72). Secara konsep Gong Kebyar adalah perpaduan antara Gender Wayang Gong Gede dan Pelegongan. Rasa-rasa musikal maupun pola pukulan instrumen Gong Kebyar ada kalanya terasa Gender Wayang yang lincah, Gong Gede yang kokoh atau pelegongan yang melodis. Pola Gagineman Gender Wayang, pola Gegambangan dan pukulan Kaklenyongan Gong Gede muncul dalam berbagai tabuh Gong Kebyar.

Fungsi Gong Kebyar pada awalnya sebagai pengiring suatu upacara agama namun perkembangannya sudah dijadikan sebagai suatu seni pertunjukan, terlihat dari ciptaannya dari gending-gending kekebyaran baik itu baik itu tabuh atau pengiring tari.

Perkembangan Gong Kebyar Di Bali Selatan

Gamelan Gong Kebyar sebagai sebuah ciptaan baru abad XX tidak saja dimainkan oleh para penabuh pria, namun sejak tahun 1980 Seka Gong Kebyar Wanita lahir di Desa Kayumas Kaja, Koa Denpasar dibawah pimpinan Ni Ketut Suyatini dan kakaknya I wayan Suweca. Seka Gong Kebyar Wanita yang diberi nama Puspasari membri stimula lahirnya Gong Kebyar wanita di Bali. Kelahiran Gong Kebyar Wanita itu tak dapat juga dilepaskan dari berdirinya Konservatori Karawitan (KOKAR) Bali pada Tahun1960 yang memberikan pendidikan siswa pria dan wanita. Mereka telah mementaskan Gong Kebyar Campuran pria dan wanitapada tanggal 29 september 1961 di Aula Fakultas Sastra Udayana, Denpasar 30 september di Aula Dwijendra Denpasar.

Slain populernya Gong Kebyar Wanita sejak era 1980an, lahir pula sebuah perkumpuan Gong Kebyar Anak-anak. Kebiasaan anak-anak menonton dan bermain gamelan disebuah balai desa, mencontoh pria penabuh yang lebih dewasa, memberikan ketrampilan untuk membentuk diri mereka sebagai sebuah grup. Seperti yang telah diuraikan diatas, I Komang Sudirga sebagai pemain Gamelan Gong Kebyar Anak-anak juga telah melakukan pementasan pada tahun 1980 untuk mengiringi dolanan anak-anak yang temanya diambil dari cerita Ni Diah Tantri. (Bandem 2017:72)

 Perbedan Gaya Bali Utara dengan Bali Selatan

Seni Karawitan sebagaimana halnya kesenian Bali lainnya, juga meliputi dua gaya daerah yaitu Bali utara dan Bali Selatan. Perbedaan antara kedua gaya ini tampak jelas dalam tempo, dinamika dan ornamentasi dari pada tabuh- tabuh dari masing-masing gaya.

Secara umum dapat dikatakan bahwa untuk tempo tabuh-tabuh Bali Utara cenderung lebih cepat dari yang di Bali Selatan. Hal ini juga menyangkut masalah dinamika dimana tanjakan dan penurunan tempo musik Bali Utara lebih tajam daripada Bali Selatan. Namun demikian, ornamentasi tabuh-tabuh Bali Utara cenderung lebih rumit daripada Bali Selatan. Akhir-akhir ini tabuh-tabuh gaya Bali Utara terasa semakin jarang kedengarannya, sebaliknya tabuh-tabuh Bali Selatan semakin keras gemanya. Semua yang sudah diuraikan di atas mengisyaratkan kemajuan karawitan Bali baik secara kuantitas maupun kwalitas. Ada kecendrungan bahwa di masa yang akan datang seni karawitan Bali, khususnya instrumental yang didominir oleh gamelan Gong Kebyar dan ekspresi “ngebyar” akan masuk ke jenis-jenis gamelan non-Kebyar. Sementara karawitan gaya Bali Utara dan Selatan akan berbaur menjadi satu (mengingat pemusik kedua daerah budaya ini sudah semakin luluh), gamelan klasik seperti Semar Pagulingan nampaknya akan bangkit kembali.

Di masa yang akan datang, bentuk-bentuk seni karawitan dan barungan gamelan Bali baru akan terus bermunculan. Adanya “kebiasaan” dikalangan seniman Bali untuk terus mencoba, mencari dan menggali ide-ide baru, baik dari dalam seni budaya tradisi mereka maupun dari unsur luar yang senafas, sangat memungkinkan akan terwujudnya perkembangan seni karawitan Bali yang lebih baik di masa yang akan datang.

 

Latar Belakang Tabuh Kreasi ‘Ning Ibu’

‘IBU’

Mahkluk hidup diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menjaga dan merawat bumi ini, salah satunya adalah manusia. Manusia yang lahir ke dunia dilahirkan oleh seorang ibu. Ibu memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter seorang manusia (dalam hal ini manusia yang dimaksud adalah anak). Proses pembentukan karakter ini ditentukan oleh bagaimana cara seorang ibu mendidik anaknya. Ada ibu yang mendidik anaknya dengan cara yang sangat halus, lemah lembut, dan ada juga yang mendidik dengan cara yang tegas, keras, namun tetap dilandasi kasih sayang.

Dalam hal mendidik dan menjaga anaknya, ibu merupakan sosok yang sangat kuat. Bukan hanya manusia saja, bahkan hal tersebut berlaku pada hewan betina yang sudah beranak. Hal tersebut membuktikan bahwa apapun wujudnya, mahkluk yang berjenis kelamin betina atau pada manusia disebut dengan perempuan, memiliki karakter yang penuh kasih sayang dan lemah lembut, namun disisi lain mereka memiliki karakter keras, berani, dan tegas.

Apakah seorang ibu hanya untuk dipuji-puji seperti pemaparan diatas? Tentu tidak. Adanya peringatan “Hari Ibu” merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap seorang ibu. Untuk formalitas mungkin “hari ibu” dapat mewakili penghargaan untuk jasa seorang ibu. Namun sebagai seorang anak, apa yang pernah kita berikan kepada ibu? Sedikit tidaknya kita berusaha untuk selalu menjaga senyuman sang ibu.

 

Tabuh Kreasi Arak Madu

ARAK MADU

Terinspirasi dari seteguk minuman yang diberikan nama Arak Madu. Arak yang berarti minuman dengan kadar alcohol dimana cara pembuatannya dengan memfermentasikan beras ketan, hingga menghasilkan cairan dengan kadar alcohol. Sedangkan Madu adalah cairan yang menyerupai sirup namun Madu lebih kental dan berasa manis yang dihasilkan oleh lebah dan serangga lainnya dari nectar bunga. Ketika kedua bahan ini dicampurkan maka akan timbul rasa baru saat menikmati minuman ini. Dari sinilah kami mendapatkan inspirasi ketika melihat jiwa muda yang menggebu-gebu dan ingin selalu hal baru. Duduk melingkar gelas berputar begitulah slogan bagi mereka saat menikmati Arak Madu. Minum segelas terasa nikmat ketika rasa manis dari madu dan paduan alcohol dari arak bersatu yang membuat si penikmat menjadi sedikit tidak sadarkan diri. Pikiran buyar dan ingin terus menikmati minuman ini sampai akhirnya si peminum hilang kesadaran, mual, pusing, dan akhirnya tertidur ditempat karena kadar alcohol yang berlebihan. Dari melihat hal tersebut kami terinspirasi dan mencoba menuangkannya kedalam sebuah garapan Tabuh Kreasi Baru yang diberi judul Arak Madu. Dalam garapan Tabuh Kreasi ini masih menggunakan pakem-pakem tradisi, pakem yang dimaksud adalah Tri Angga yaitu Kawitan, Pengawak, dan Pengecet. Dalam tabuh Kreasi Arak Madu terdapat kawitan, gegenderan, bapang, dan gegambangan, dimana pada bagian-bagian tersebut berisikan cerita saat suasana menikmati Arak Madu. Dimana tabuh kreasi ini dituangkan melalui media gamelan gong kebyar, gamelan gong kebyar merupakan tipe atau jenis music gamelan paling umum yang ada dan sering dipentaskan di Bali secara fisik gong kebyar adalah penyederhanaan dari gong gede dengan pengurangan peranan atau pengurangan beberapa buah instrumennya. Kata kebyar secara arifiah bermakna cepat, tiba-tiba, dan keras merefleksikan jenis music gamelan gong kebyar yang sangat dinamis, keras, dan memiliki tempo yang cepat. Tabuh kreasi ini menceritakan anak muda yang sedang menikmati Arak Madu, dimana pada saat menikmati Arak Madu ada tahap-tahapan saat menikmati Arak Madu, dari sini kami ingin mentransfernya kedalam bentuk tabuh kreasi.

Pada bagian Kawitan

Kawitan berasal dari Bahasa sansekerta yaitu wit berarti asal mula. Pada bagian ini kami ingin mentransfer bagaimana awal dari menikmati Arak Madu. Hal yang pertama kita rasakan saat minum yaitu minuman ini terasa biasa saja, suasana masih terasa hangat dan percakapan masih teratur. Berangkat dari sini kami mentransfernya dengan pola penonjolan masing-masing instrument yang saling bersautan. Kami ingin mengangkat suasana yang masih tenang dengan dibaluti keenergikan sifat seorang pemuda.

Pada bagian Gegenderan

Gegenderan pada umumnya sering menonjolkan tehnik-tehnik gangsa yang sangat dinamis. Pada bagian ini diceritakan keadaan si penikmat yang sudah dalam pengaruh alcohol dimana si peminum mulai merasa sedikit pusing dan banyak mengeluarkan kata-kata yang masih teratur. Melihat hal tersebut kami ingin mengungkapkan dalam tehnik-tehnik gegenderan yang dinamis melalui permainan kotekan gangsa dengan alunan melodi yang sangat harmonis.

Pada bagian Bapang

Pada bagian ini kami ingin mentransfer bagaimana si peminum sudah terpengaruh oleh alcohol dengan suasana yang sudah panas (oleng), kata-kata yang mulai acuh dan mulai tak sadarkan diri. Dalam bagian ini menonjolkan permainan ritme-ritme yang dinamis dari permainan permainan kendang serta melodi yang berkarakter dengan mengarah ke pola gegulak karena pola kekendangannya memainkan motif tersebut. Dalam bagian ini ditonjolkan kedinamisan karena menginginkan suasana panas (oleng).

Pada bagian Pengecet

Bagian ini meceritakan si peminum sudah melebihi batas sadar (ngelantur), mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas ( mengacuh) , kehilangan kesadaran dan tidak memiliki keseimbangan tubuh yang baik. Pada bagian ini gending pengecet ini di transformasikan dengan memunculkan ritme dan pola-pola offbeat ( ngantung ) yang dikemas sedemikian rupa hingga menghasilkan sebuah music atau gending yang bersuasana kebahagiaan. Pada bagian ending, merupakan benang merah dari konsep garapan ini karena pada bagian ini suasana yang dimunculkan adalah kerancuan atau si peminum sudah melampaui batas kesadarannya atau mabuk.

Ide Garapan Tabuh Telu Lelambatan Kreasi Sila Pertipa

Ide Garapan Tabuh Telu Lelambatan Kreasi Sila Pertipa

Dalam sejarah gamelan yang ada di banjar Palak, Sukawati, Gianyar. Pada awal berdirinya gamelan di banjar Palak terlibat 2 tempekan (kelompok), yaitu tempekan Munjing dan Manyi yang berkeinginan membeli Gamelan Balaganjur. Pada saat itu muncul rasa iri hati dari tempekan Wangbung dengan tempekan Munjing sehinga terjadi perang yang besar antara tempekan munjing dengan tempekan wangbung. Setelah kejadian itu tempekan munjing yang beranggotaka sekeha Many imengalami penambahan anggota. Dari sekian lama kegiatan ngayah yang mendapatkan hasil seiklas dari pemberian yang mempunyai upacara, mereka berkeinginan untuk membeli instrument melodi yaitu instrument Jublag dan Jegogan. Untuk menjaga solidaritas antar tempekan sekeha ini berinisiatif untuk menyerahkan perangkat barungan tersebut ke Banjar Palak Sukawati.

Berdasarkan hal tersebut saya mendapatkan ide untuk mebuat Tabuh Telu Lelambatan. Dari hal tersebut saya ingin mempersembahkan sebuah karya untuk leluhur yang sudah mewariskan sebuah gamelan. Gamelan Babonangan sering kali disamakan dengan gamelan balaganjur. Sungguh pun sama-sama gamelan untuk mengiringi prosesi dan sama-sama berlaraskan pelog, tetapi pada barungan babonangan instrumentasinya relative lebih sederhana dari pada gamelan balaganjur. Tabuh-tabuh yang dimainkan pada umunya berupa gilak atau gegilakan. Pembawa melodi utama dalam barungan ini adalah reyong yang dimainkan secara kekilitan dan instrument jublag dan jegogan menggunakan motif neliti yang mencari nada-nada pokok .Dimana dalam Tabuh Telu Lelambatan ini akan berisikan cara kerja seperti Barungan Babongan, seperti di bagian Gilak yang akan menggunakan penambahan instrument ceng-ceng yang dimainkan oleh pemain gangsa. Barungan Babonangan yang ada di Banjar Palak berjumlah 4 nada yaitu ndong, ndeng, ndung, dan ndang, dari empat nada tersebut saya akan membuat pola dengan menggunakan ndong, ndeng, ndung, ndang sebagai guru lagu, tanpa mengurangi rasa pilih kasih didalam garapan ini nada nding saya gunakan sebagi pembatas ditiap-tiap bagian dalam istilah Bali penyalit atau transisi. Garapan ini saya beri judul Sila Pertipa karena saya ingin mempersembahkan sebuah karya untuk seka yang berdiri sejak pertama di Banjar Palak dan sampai saat ini masih digunaan di Banjar Palak.