RSS Feed
Des 27

Fungsi pertunjukan wayang pada zaman Hindu dan Islam

Posted on Selasa, Desember 27, 2011 in Tak Berkategori

Pada zaman Hindu, bentuk pertunjukan wayang berkembang begitu pesat. Setelah Agama Hindu mulai masuk, berkembang, dan berakulturasi dengan kebudayaan bangsa Indonesia, memberikan warna pada pertunjukan wayang di Indonesia. Pada tahun 903M, kitab Ramayana berhasil di sadur kedalam Bahasa Jawa Kuno yang tujuannya di gunakan untuk mengkomunikasikan nilai-nilai Hindu yang terkandung dalam cerita Ramayana tersebut. Pertunjukan Wayang yang  semula digunakan sebagai media pertunjukan wayang yang semula digunakan sebagai media pemujaan Hyang, kemudian berkembang menjadi media komunikasi ajaran agama.  Sejak saat Ini kisah Pewayangan juga tidak lagi menggunakan cerita nenek moyang, tetapi mulai menggunakan cerita Mahabarata dan Ramayana (Sri Mulyono, 1982:60). Pertunjukan wayang di tempatkan sebagai suatu pertunjukan yang adiluhung yang tidak hanya berperan dalam kehidupan spiritual dan rohani masyarakat, tetapi juga sebagai media hiburan, media pendidikan, dan penanaman nilai-nilai agama Hindu walaupun pada masa itu format pertunjukan wayang masih sangat sederhana. Pada masa itu dalang sangat begitu disegani. Dalang dalam pertunjukan pada masa itu juga mempunyai kemampuan mengadopsi cerita pahlawan-pahlawan dan dewa-dewa pada kesusatraan India seperti Mahabarata dan Ramayana, kemudian dicampurkan dengan mitos-mitos kuno mengenai nenek moyang. Sehingga tanpa disadari masyarakat Indonesia menganggap bahwa pahlawan-pahlawan Ramayana dan Mahabarata itu sebagai nenek moyangnya. Pertunjukan wayang untuk pemujaan terhadap Hyang masih dilakukan dengan menggunakan cerita Mahabarata dan Ramayana pada waktu itu. Sebagai bukti bahwa , padsa pemerintahan Dyah Balitung berikut : “A Stone inscription (907M) issued by King “Diyah Balitung” mentions : “Mawayang buat Hyang”

(SriMulyono,1982:65).
Wayang merupakan media hiburan dan sarana ritual keagamaan yang penting pada masa itu. Hingga sampai saat ini kesenian Wayang digunakan sebagai sarana pelengkap untuk mensukseskan suatu upacara/Yadnya yang di lakukan agar Sidakarya dan Sidapurna. Upacara-upacara yang menggunakan media Wayang seperti Ruatan dilaksanakan dengan pengucapan mantra-mantra Weda oleh seorang Sulinggih/pendeta dan di lengkapi dengan Tirta yang di mohonkan oleh seorang Dalang untuk melebur segala kekotoran batin yang melekat.   Pada zaman Islam ketika Majapahit mulai memudar pengaruhnya  pada tahun 1478 M (Sirna Hilang Kertaning Bumi), para Bupati di pesisir Jawa Timur sudah banyak yang memeluk Agama Islam dan memisahkan diri dari Kerajaan Majapahit. Salah satu kerajaan yang sangat kuat pengaruhnya diantara kerajaan-kerajaan Islam pesisir itu adalah kerajaan Demak, dibawah pemerintahan Raden Patah, putra dari Kerta Bhumi atau Brawijaya V yang lahir dari seorang putrid Champa yang beragama Islam. Setelah kerajaan Majapahit Runtuh, pusat pemerintahan berpindah di Demak pada tahun 1478-1520. Para wali pada masa itu terus berinofasi mencari jalan dakwah untuk melakukan Syiar Agama Islam. Pada masa itu terdapat dua kubu dikalangan Wali Songo yang pro untuk menggunakan kesenian sebagai media dakwah dan yang tidak. Kalangan yang pro terhadap kesenian sebagai media dakwah terutama wayang diantaranya adalah Sunan Kali Jaga dan Sunan Bonang. Sebagian wali tidak setuju menggunakan wayang dan media-media seni lainnya sebagai media dakwah karena masih memiliki nilai-nilai ajaran agama nenek moyang (Hindu) yang sangat bertentangan sekali dengan ajaran agama Islam. Maka para wali mengadakan musyawarah sehingga memperbolehkan menggunakan wayang sebagai media syiar tetapi dengan melakukan perubahan bentuk dan fungsi kesenian termasuk perubahan dalam perlengkapan dan sarana pertunjukan wayang. Perubahan ini di motori oleh Sunan Kali Jaga yang dianggap sebagai seotrang dalang dengan gelar Ki Dalang Koncara Purwa, yakni:

  1. Wayang dibuat pipih, dua dimensional, digambar agak miring, wajahnya dibuat abstrak dengan hidung agak mancung, leher panjang, tangan lebih dipanjangkan, sehingga menghilangkan kesan meniru wayang yang ada pada relief candi.
  2. Wayang dibuat dari kulit kerbau dan di beri dasar warna putih dari tulang.
  3. Bentuk wayang sebisa mungkin menghindari penggambaran asli bentuk-bentuk wujud makhluk hidup.

Sunan Gunung Jati yang diangkat menjadi Sultan di Cirebon pada tahun 1479-1568 mengutus Sunan Kali Jaga untuk menggunakan Wayang sebagai media peng-Islam-an penduduk yang konon dilakukan oleh ki Dalang pada saat pertunjukan dilakukan dengan dengan cara setiap pengunjung membaca dua kalimat “Syahadat” di gerbang pintu masuk sebelum masuk ke arena pertunjukan di gelar sebagai “tanggapannya” (Pembayarannya) dengan di saksikan oleh seorang Ustad dan Ulama agar kalimat Syahadat yang diucapkan oleh para pengunjung dianggap Sah dan mereka Resmi memeluk Islam. Hal ini terjadi di penghujung abad ke 15M.

 

Des 27

ARJUNA

Posted on Selasa, Desember 27, 2011 in Tulisan

      ARJUNA

Arjuna adalah nama seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia dikenal sebagai sang Pandawa yang menawan parasnya dan lemah lembut budinya. Ia adalah putra Prabu Pandudewanata, raja di Hastinapura dengan Dewi Kunti atau Dewi Prita, yaitu putri Prabu Surasena, Raja Wangsa Yadawa di Mandura. Arjuna merupakan teman dekat Kresna, yaitu awatara (penjelmaan) Bhatara Wisnu yang turun ke dunia demi menyelamatkan dunia dari kejahatan. Arjuna juga merupakan salah orang yang sempat menyaksikan “wujud semesta” Kresna menjelang Bharatayuddha berlangsung. Ia juga menerima Bhagawadgita atau “Nyanyian Orang Suci”, yaitu wejangan suci yang disampaikan oleh Kresna kepadanya sesaat sebelum Bharatayuddha berlangsung karena Arjuna masih segan untuk menunaikan kewajibannya.

Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Raja Hastinapura yang bernama Pandu tidak bisa melanjutkan keturunan karena dikutuk oleh seorang resi. Kunti (istri pertamanya) menerima anugerah dari Resi Durwasa agar mampu memanggil Dewa-Dewa sesuai dengan keinginannya, dan juga dapat memperoleh anak dari Dewa tersebut. Pandu dan Kunti memanfaatkan anugerah tersebut kemudian memanggil Dewa Yama (Dharmaraja; Yamadipati), Dewa Bayu (Marut), dan Dewa Indra (Sakra) yang kemudian memberi mereka tiga putra. Arjuna merupakan putra ketiga, lahir dari Indra, pemimpin para Dewa.

Arjuna memiliki karakter yang mulia, berjiwa kesatria, imannya kuat, tahan terhadap godaan duniawi, gagah berani, dan selalu berhasil merebut kejayaan sehingga diberi julukan “Dananjaya”. Musuh seperti apapun pasti akan ditaklukkannya, sehingga ia juga diberi julukan “Parantapa”, yang berarti penakluk musuh. Di antara semua keturunan Kuru di dalam silsilah Dinasti Kuru, ia dijuluki “Kurunandana”, yang artinya putra kesayangan Kuru. Ia juga memiliki nama lain “Kuruprāwira”, yang berarti “kesatria Dinasti Kuru yang terbaik”, sedangkan arti harfiahnya adalah “Perwira Kuru”.

Arjuna memiliki senjata sakti yang merupakan anugerah para dewata, hasil pertapaannya. Ia memiliki panah Pasupati yang digunakannya untuk mengalahkan Karna dalam Bharatayuddha. Busurnya bernama Gandiwa, pemberian Dewa Baruna ketika ia hendak membakar hutan Kandawa. Ia juga memiliki sebuah terompet kerang (sangkala) bernama Dewadatta, yang berarti “anugerah Dewa”

Arjuna seorang kesatria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi brahmana di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Ia dijadikan kesatria unggulan para dewa untuk membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Dewa Indra, bergelar Prabu Karitin. dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain: Gendewa (dari Bhatara Indra), Panah Ardadadali (dari Bhatara Kuwera), Panah Cundamanik (dari Bhatara Narada).

Arjuna memiliki sifat cerdik dan pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah. Ia memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bharatayuddha, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia moksa (mati sempurna) bersama keempat saudaranya yang lain di gunung Himalaya.

Adapun tokoh Arjuna dalam Kakawin Arjuna Wiwaha :

XII. RAJANI (Manda Malon)

XII. 1/102 :     Stutinira tan tulus sinahuran paramārtha śiwa

Anaku huwus katon abhimatān katĕmunta kabeh

Hana panganugrahangku caduśakti winimba śara

Paśupati śastrakāstu pangaranya nihan wulati

ARTI      :      Durung tumus pamujan ida sang Arjuna, gelisan kacawis antuk ida Bhatara Siwa sane dados tatujon uttama. Pangandikan ida : Cenning pyanak bapa, suba sinah salwir kabwatan idewane keniang idewa makasami. Nah ne ada paican bapa kawicasan patpat, polayang bapa marupa panah. Sanjata pacupati wastanyane kalumrah, ne cingakin cening.

KETERANGAN      :

Stutinira= Pemujaan sang Arjuna, tan=Tidak, Tulus= Tulus,  Paramartha Siwa= Bhatara siwa, anaku= anaku, Huwus= selesai, katon=Lihat/melihat, Abhimata= hubungan perbuatan, kabeh= semua, hana= ada, panganugrahanku= anugrahku, cadu sakti= Catur sakti, Sara= panah, castra= senjata, kastu= kalumbrah/dikatakan.

XII. 2/103 :     Wuwusira sang hyang īśwara mijil tang apuy ri tangan

 Wawang aśarīra kātara mangiṇḍitakĕn warayang

Tinarima sang Dhanañjaya tikāng śara sūkma tikā

 Nganala śarīra sātmaka lawan warayang wĕkasan

ARTI      :      Sapunika pangandikan sanghyang Siwa, raris mawetu geni saking tangan. Gelis geni punika marupa raksasa ngereresin, raris rakssasa punika nadtadang sang Arjuna panah, tur katampen olih ida sang Arjuna panah punika. Sasampune panah punika katanggapin, raksasane sane maktayang panah raris ical, nyusup matunggilan ring panahe pamuputipun.

KETERANGAN      :

Wuwusira= sesudah sabda dari, mijil= keluar, Apuy= api, ri tangan= dari tangan, Tinarima= diterima, sara= panah,  Katara= ngareresin/ raksasa, manginditaken= nadtad/ memberikan, suksma= Ilang, satmaka= sa+atmaka= tunggil +awak, wekasan = pamuput, akhir..!!

XII. 3/104  :    Krta wara sang Dhanañjaya manembah ati praata

            Pinisalinan laras makua tan hana kālah-alah

Winara-warah sirêng aji dhanurdharaśāstra kabeh

            Kta samayang prayoga dadi sūkma bhaāra śiwa

ARTI        :  Puput antuk kauttaman ida sang Partha antukan cadhucakti punika raris ida         nyumbah dahating pranamya. Raris kagentosin gandewa miwah tutup gelung ida sane rudak daweg mayudha, nemangkin becik tan pacacad. Kauruk ida sajroning kawruh mapapanahan, miwah sarwa sanjata. Sapuput adungan janji janjian ida, mawasana ical ida sanghyang Ciwa.

KETERANGAN       :

Krta= selesai, wara= pilihan utama, manembah=manyumbah, pranata= ngandap kasor, Pinisalin= digantikan, kalah-alah= tercela, cacad,  Warah= pidartha, winarah-warah= diajarkan, aji= Ilmu, Dhanur dara= memanah, castra= senjata, Krta= seusai/ sesudah, prayoga = janji.

Dalam wirama Rajani menceritakan tentang bagaimana Arjuna mendapat anugrah senjata panah Pasupati dari Dewa siwa. Dimana dari tangan Dewa Siwa keluar api dan berubah menjadi raksasa, kemudian raksasa tersebut memberikan Arjuna senjata panah Pasupati, kemudian raksasa itu hilang dan menyatu dengan senjata tersebut. Dan seteleha member beberapa sabda kepada Arjuna, Dewa Siwa menghilang

 

IV. WASANTA TILAKA

IV. 1/41      :     Akweh tekapnya rumuwat brata Pandu putra.

                        Luhang dinakara, ginantyanikang cacangka.

                        Tamtam maninghali wilasanikang surastri.

                        Oyut mahanului, les sumilib kameghan.

ARTI         :    Akeh padabdab widyadhari punika ngalebur tapa bratan ida sang Arjuna, nemangkin kala surup sang hyang surya kagentosin antuk bulan punika. Bulane sekadi sakadi ledang manyingak parisolah widyadharine mangoda. Rasa sungsut kayun ida manyundarin,matinggal ida manyingid, indike kaguleman.

 

 

KETERANGAN       :

Akweh = akeh / banyak Tekapnya = dia / bidadari Rumuwat = ngalepasang/melepaskan, Brata = tapa/ semadi, Tamtam = lega/ senang, Wilasa = tarian, Surastri = nama widyadari, Oyut= sebet/ sedih, Les = meninggalkan, Kameghan = kegelapan!!

IV. 2/42      :    Lwirnyan kedo mulati gatra sangarya Partha.

                        Mingmang mamancana, kabancana denikungnya.

                        Maryanaha ngidungidung, humirib laranya.

                        Tunggal makangsi makecap, mametik metik jong.

ARTI         :    Pariindikan widyadharine punika, teleb pakayunan ida ngalinglingwarnin ida sang Partha. Kanginan tungkalik indik idane mangoda, raris kagoda antuk buduh kasmaran idane. Nemangkin mamaryan ida, mamarik magegendingan, mandingang kesedihan idane, sane asiki ngumik magagambelan saha ngatik-ngatikang cokor.

KETERANGAN       :

Lwirnyan= bagaikan, Mulati= melihat, Gatra= keadaan, Mingmang = berbalik Mamancana= menggoda, Kabancana= dicelakakan,Maryanaha = Beristirahat, ngidungidung=bernyanyi, Laranya= kesedihanya, Tunggal = satu, Makangsi= megambel.

 

IV. 3/43      :    Wwanten manyumbana pudak, ginuritnya Partha.

                        Nda suswa-suwani kinolnya, hanan liningling.

                        Rakryan wedinta tan akun, lewu panghawista.

                        Heman kita bapa niragraha, masku lingnya

ARTI         :    Wenten sane manimanin pudak katulisin aksara maswara Arjuna, tur kapanyonyoin antuk ida, kagelut saha kaawasang pisan kawentenan pudake matulis punika. Cening bagus, ulihan takut idewane tan kaangkenin pyanak, ngawinang banget pangandapkasor idewane. Sayang pisan cening ngelah aji mamari smara, duh cening mas biyange idewa, sapunika pasedsed ida.

KETERANGAN       :

Wwanten= wenten/ada, manyumbana= menciumi, Ginuritnya= Bertuliskan, Suswa-suswani = kapanyonyoin, hanan= keadaan, liningling= dilihat,

IV. 4/44      :    Lila nana mati-mati, wruh amet wilaca.

                        Manglalana, ngangipi rakwa tangan sangarya.

                        Edan mahantukupaken ya, rike susunya.

                        Kadyangrengo wuluh aghasa, hatinya murcca.

ARTI         :    Wenten elah mapikayun-kayun, tur uning manyaratang kasukan kayun. Ngawe panglipur nyalepit tangan sang Parthareko, buduh ulangun ida nekepang tangan sang Arjuna ring nyonyon idane, kenginan sakadi mirrengang buluh makosod, ngeres pakayunan ida,jantos linglung paling.

KETERANGAN       :

Lila=  elah/ gampang, mati-mati= mapikayunan/ berkeinginan, wilasa= Kesenangan, Manglalana= membuat, apit= jepit, Edan = buduh/gila, mahantukupaken = sengaja menutup, Kadyamgrengo = seperti mendengar, Wuluh = bamboo, aghasa = bergesekan.

Dalam wirama Wasanta Tilaka menceritakan bagaimana banyaknya bidadari yang coba menggangu tapa Arjuna, disana Arjuna digoda, dipeluk, dadanya diraba-raba, namun Arjuna tidak tergoda, dankenyataannya berbalik. Para bidadari ternyata malah tergoda oleh paras Arjuna yang tampan.

 

 

VII. SRAGADA

VII. 1/71    :    Byatitan sang haneng acrama, sedeng angiwo dhyana lawan Samadhi.

                        Manggeh tambek bhtarendra, musuhira tikin matta sampurna wirya.

Sangkep samanta mantri saha bala bala-wan, wallabhan kapwa bela.

Mangkin lobha nidi kahyangan, angusak-asik, sok sesok raksakanya.

ARTI         :    Tan kacarita ida sang Arjuna ring patapan mengpeng mangulengang pakayunan nunggil miwah Samadhi. Pageh pakayunan ida sanghyang Cakra taler tan kacarita, nemangkin caritayang catrun ida munggwing sang raksasa agung, dahat wirosa pupating kawicesan. Cumawis sakatah para mantrinnyane saha panjak lewihing cakti tur kaeman, sami sutindih. Sane mangkin lobha mamanah ngawacayang kadewatan,ngrarandahin akeh pangabihnyane.

 

KETERANGAN      :

Byatitan= tidak diceritakan, sedeng=sedang, angiwo= memperdalam/memperhatikan, dhyana= Samadhi, Manggeh= pageh/ kuat, Matta= galak, sampurna= sempurna, wirya= Sakti,  Balawan= sakti, wallaban= yang disayangi, nidi= ngawacayang, angusak-asik= mengusik.

VII. 3/73    :    Wwanten weltiknikang wrtta, winarahakening cara cara pracara.

                        An sang Partha tapeng indra giri, pininanging yan pralabda.

                        Hetunyan ngkonikang daitya krta yaca dangu, mrtyu matwang tumon ya

                        Mukeka sang tapa, mokana, lumekas ikang daitya Momo simuka

ARTI         :    Nemangkin wenten lantas orta karawuhang antuk telik tanem sane matingkah maling, duweg manyilib. Kaaturang indik sang Arjuna matapa ring gunung Indrakila, yening sampun polih waranugraha pacing kaundang kaanggen kanti olih wateg dewa punika. Indike punika ngawinang sang raksasa agung yatna ring wiweka, raris ngutus daitya sane sampun kapuji saking rihin, ajrih matine riing ipun, punika kandikayang, mangda ngamuk tur mamunggel sang Arjuna. Kacarita nemangkin mejalan daitya Momo simuka punika.

KETERANGAN      :

Wwanten= Ada, weltiknikang= omongan/berita, wrrta= berita, winarahakening= diperintahkan untuk, cara/cora= maling, dusta, Pracara= sifat/laksana, Pininaning= mengundang, pralabda=beruntung, Hetunyan= penyebabnya, mukeka= ngamuk, Mokana= supaya, lumekas= berbuat,

Dalam Wirama Sragdara menceritakan bagaimana tapa arjuna yang diusik oleh Momosimuka (babi hutan) patih raja raksasa Niwatakawaca. Momosimuka diperintahkan untuk mengusik Arjuna dari tapanya.

 

V. CIKARINI

V. 1/51       :    Huwus manggeh tambek surapati, lawan dewata kabeh.

                        Ndengo wrtta cri Pandu tenaya, mamanggih kasutapan.

                        Yaya tendasning daitya pati juga, kawwat hidepira.

                        Tuhun tunggal sandeha, taleteh ikangharsa kawekas.

ARTI         :    Nemangkin sampun pageh tur kumandel pakayunan ida sanghyang cakra, miwah watek Dewane sami, santukan mireng gatran sang Arjuna molih mamitet, indriya utawi tapa uttama. Kapikayunin antuk ida, sinah tendas iraksasa raja kagambel antuk ida. Sakewanten wantah asiki  sumelang idane, sane kantuk nyantulin kaledangan ida punika, sakadi ring sor puniki.

KETERANGAN      :

Huwus = sesudah, manggeh=pageh= kuat bertapa, ndengo= Mendengar, wrtta = gatra= kabar, Kasutapan= Tapa yang utama, Yaya= jantos, mangdane, bilih bilih marupa pasti, awwat= ngaturin, ngewehin/ mempersusah.

 

V. 2/52       :    Kawairagyan sang Partha, kawacanikang dyana wimala.

                        Daging singhit ring moksa phala, malupeng wahya wibhawa.

                        Luput pwekang sadya, ya ta karanikang mahyun umara.

                        Lumampah lwir wrddharsi, lilu tumakul sampun amuda.

ARTI         :    Sane kaselangin antuk Bhatara Indra asiki, wantah kapanditan sang Arjuna, utawi kasiddhannya punika samadhine cuci, yening punika, ngawirang teleb ring pikolih sane marupa moksa, mawasana lali ring suka sakala. Yening jantos sapunika, sinah mimpas tatujon sanghyang Cakra , punika ngawinang ida makayun mangrawuhin. Mamargi marupa pandita lingsir, ruyud tur cengkudsampun sekadi nagna (telanjang)

KETERANGAN      :

Wairagya= tidak menyukai hidup/ sakit,  kawaca= siddha, kawacan= kasiddhan, dyana = semadhi, wimala= suci nirmala, singhit= adung, senang,  Wahya= sekala/Terang, wibhawa= wibawa, Luput= Lempas, karanikang= menyebabkan, mahyun= berkeinginan umara= datang, Lummpah= berjalan, lwir= Bagaikan, wrddharsi= Pendeta tua, Lilu=  tua renta. Tumakul= bongkok.

Dalam Wirama Cikarini menceritakan bagaimana Dewa Indra berusaha menggoda arjuna dari tapa semadinya. Apakah benar Arjuna melakukan tapa dengan teguh. Disana Dewa Indra menjelma menjadi pendeta yang tua renta. Saat tiba di depan gua, jelmaan Dewa Indra pura pura tidak tahu bahwa Arjuna sedang melakukan tapa. Karena lama tidak dihiraukan, pendeta tresebut pura pura batuk agar tapa Arjuna berhenti. Kemudian dilihat pendeta tersebut oleh Arjuna, dan langsung diberi hormat bagaimana layaknya menyabut seorang tamu. Dan menanyakan dari mana asal-usul si pendeta.

 

 

KESIMPULAN         :

Dalam wirama Rajani menceritakan tentang bagaimana Arjuna mendapat anugrah senjata panah Pasupati dari Dewa siwa. Dimana dari tangan Dewa Siwa keluar api dan berubah menjadi raksasa, kemudian raksasa tersebut memberikan Arjuna senjata panah Pasupati, kemudian raksasa itu hilang dan menyatu dengan senjata tersebut. Dan seteleha member beberapa sabda kepada Arjuna, Dewa Siwa menghilang.

Dalam wirama Wasanta Tilaka menceritakan bagaimana banyaknya bidadari yang coba menggangu tapa Arjuna, disana Arjuna digoda, dipeluk, dadanya diraba-raba, namun Arjuna tidak tergoda, dankenyataannya berbalik. Para bidadari ternyata malah tergoda oleh paras Arjuna yang tampan.

Dalam Wirama Sragdara menceritakan bagaimana tapa arjuna yang diusik oleh Momosimuka (babi hutan) patih raja raksasa Niwatakawaca. Momosimuka diperintahkan untuk mengusik Arjuna dari tapanya.

Dalam Wirama Cikarini menceritakan bagaimana Dewa Indra berusaha menggoda arjuna dari tapa semadinya. Apakah benar Arjuna melakukan tapa dengan teguh. Disana Dewa Indra menjelma menjadi pendeta yang tua renta. Saat tiba di depan gua, jelmaan Dewa Indra pura pura tidak tahu bahwa Arjuna sedang melakukan tapa. Karena lama tidak dihiraukan, pendeta tresebut pura pura batuk agar tapa Arjuna berhenti. Kemudian dilihat pendeta tersebut oleh Arjuna, dan langsung diberi hormat bagaimana layaknya menyabut seorang tamu. Dan menanyakan dari mana asal-usul si pendeta.

 

Sumber refrensi:

Kakawin Arjuna Wiwaha, oleh; Yayasan A. A. Panji Tisna. Singaraja-BALI

WWW.WIKIPEDIA.COM

Des 27

BIODATA

Posted on Selasa, Desember 27, 2011 in Lainnya

BIODATA

 

NAMA                  : I NYOMAN TRISNA JAYA

PANGGILAN       : NYHOUM ANT, TRISNA

ALAMAT              : BR. BASANGAMBU, MANUKAYA, TAMPAKSIRING, GIANYAR

TTL                         : TAMPAKSIRING, 10 JANUARI 1992

EMAIL                   : [email protected]

HOBBY                  : NGEWAYANG, SEPAKBOLA, OLAHRAGA

Okt 19

Pura Pegulingan Sebagai Wisata Purbakala Dan Cagar Budaya Nasional

Posted on Rabu, Oktober 19, 2011 in Karya, Tulisan

 

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

 

JUDUL PROGRAM:

PURA PAGULINGAN SEBAGAI WISATA PURBAKALA DAN CAGAR BUDAYA NASIONAL

 

BIDANG KEGIATAN:

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PENELITIAN

(PKMP)

 

DIUSULKAN OLEH:

KETUA PELAKSANA:

I NYOMAN TRISNA JAYA              NIM.201003002       Angkatan Tahun 2010

ANGGOTA PELAKSANA:

KOMANG PANDE ARI WIBAWA   NIM.201002002      Angkatan Tahun 2010       

MADE PANJI  WILIMANTARA        NIM.201001003    Angkatan Tahun 2010

 

 

INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR

DENPASAR

2010

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang Masalah

            Pura Pegulingan lebih kurang 16 kilometer dari kota Gianyar, tepatnya terletak di Banjar Basangambu, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring Kabupaten tingkat II Gianyar. Pura tersebut berada tidak jauh di sebelah timur lingkungan Pura Tirta Empul Tampaksiring. Dari Balai Banjar Basangambu kita belok ke kiri dengan berjalan kaki melewati jalan setapak kira-kira ± 250 meter akan sampai di Pura Pegulingan. Panorama alam di lingkungan ini sangat indah. Dan dari Pura Pegulingan Istana Presiden Republik Indonesia di Tampaksiring pun kelihatan indah jika kita menghadap ke arah barat. Posisi Pura ini juga sangat strategis karena terletak di areal persawahan, sehingga secara tidak langsung kita disuguhi panorama alam yang sangat indah[1].

            Pada awal Januari 1983 pada saat Krama Desa Adat Basangambu bekerja menurunkan batu padas pada bangunan tepas guna dapat didirikan sebuah Padmasana Agung. Pada saat tersebut ditemukan beberapa benda kekunaan seperti arca-arca Budha dan fragmen lainnya. Semakin kedalam ternyata di temukan sebuah pondasi (stupa) bersegi delapan yang berukuran kira-kira sebesar puncak Candi Brobodur.  Bendesa Adat pada waktu itu (Alm.Jro Mangku Wayan Periksa) memerintahkan untuk menghentikan penggalian. Kemudian langsung dilaporkan ke kantor suaka peninggalan sejarah dan Purbakala Bali di Bedulu Gianyar. Petugas purbakala langsung melakukan peninjauan ke Pura Pegulingan. Selain benda-benda diatas, juga temukan benda-benda yang lainnya seperti Arca Budha dan kotak batu padas berisi materai tanah liat yang bertuliskan Formula Ye-Te dengan huruf pranagari berbahasa Sanskerta yang menguraikan mantra Agama Budha Mahayana mengenai 3 ajaran Dharma.

            Prof. Dr. Soekomo (arkeologi) mengemukakan dalam harian Bali Post tanggal 15 September 1983 sebagai berikut:

“Penemuan kepurbakalaan di Pura Pegulingan Tampaksiring berupa  pondasi bersegi delapan dan beberapa area Budhi Satwa memberi petunjuk bahwa peninggalan itu bersifat “Budhistik-Siwaistik” dan tidak mustahil penemuan monumental pertama di Indonesia. Selain peninggalan berupa arca Budha dan Fragmen lainnya juga ditemukan panca datu serta arca yoni yang bersifat Siwaistik. Dengan demikian pada saat berdirinya Candi (stupa) Pegulingan sudah terjadi sinkritisme (pencampuran) paham Siwa Budha, itu berarti pada zaman tersebut pemujaan terhadap Siwa (Hindu) dan Budha sudah berjalan baik dan damai”.

Melihat hal diatas dapat diketahui bahwa pada waktu itu telah terjadi hubungan yang baik antara paham Siwa dan Budha di Bali. Pura Pegulingan ternyata merupakan warisan budaya yang bernilai tinggi, walaupun dipura tersebut ditemukan peninggalan-peninggalan warisan budaya, namun terlihat banyak orang yang belum tahu bagaimana sejarah pura tersebut sehingga menjadi wisata purbakala dan cagar budaya nasional, serta menjadi salah satu tujuan wisata.

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan berbagai permasalahan seperti berikut ini :

1.      Bagaimana sejarah Pura Pegulingan sebagai wisata purbakala dan cagar budaya nasional ?

2.      Bagaimana dampak temuan benda purbakala Pura Pegulingan terhadap pengembangan pariwisata ?

1.3  Tujuan Program

Sesuai dengan rumusan masalah diatas, adapun tujuan yang hendak dicapai dari program ini adalah :

1.      Untuk mengetahui bagaimana sejarah Pura Pegulingan sebagai wisata purbakala dan cagar budaya nasional.

2.      Untuk mengetahui bagaimana dampak temuan benda purbakala Pura Pegulingan terhadap pengembangan pariwisata ?

1.4  Luaran yang diharapkan

Luaran yang diharapkan dari hasil PKM-P ini diharapkan sebagai berikut :

Peninggalan sejarah di Pura pegulingan merupakan warisan budaya leluhur kita yang adi luhung, maka kita sebagai generasi penerus yang sebagian besar lahir di era globalisasi seperti sekarang, agar berupaya menjaga ataupun melestarikan warisan dari leluhur kita, agar peninggalan-peninggalan sejarah ini dapat kiranya menjadi daya tarik wisatawan mancanegara untuk sering berkunjung ke Pura Pegulingan ini umumnya ke Bali. Mengingat peninggalan sejarah yang ditemukan di Pura Pegulingan adalah warisan leluhur kita yang bernilai tinggi.

1.5  Kegunaan Program

Kegunaan PKM yang bergerak pada bidang penelitian ini adalah sebagai berikut :

a.      Bagi Pura Pagulingan.

Untuk memberi informasi kepada masyarakat tentang sejarah dan keberadaan Pura Pegulingan sebagai wisata purbakala dan cagar budaya nasional tidak lagi feodal tapi sebaliknya dengan adanya pergulatan atau sentuhan dari pariwisata justru sekarang lebih dinamis dan bersifat modern.

b.      Bagi masyarakat sekitar

Dengan dijadikan sebagai Cagar Budaya Nasional, krama desa pakraman Basangambu serta umat sedarma di harapkan tetap melaksanakan aktivitas dalam upaya melestarikan dan menjaga warisan budaya yang ada di Pura Pegulingan.

c.       Bagi Organisasi Budaya

Organisasi budaya yang ada di lingkungan Pura Pagulingan, agar tetap melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya pelestarian warisan budaya tersebut yang pada akhirnya ada petugas khusus dari organisasi budaya untuk merawat dan menjaga peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di Pura Pagulingan mengingat ini adalah warisan leluhur kita dahulu yang harus dilestarikan.

.

d.      Bagi Budayawan

Budayawan tetap meningkatkan kualitas berbudaya hal ini dilakukan dengan cara mengasah diri agar kelak dapat menjaga dan meneruskan warisan budaya leluhur kita.

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1  Sumber Literatur

            Dalam buku pariwisata untuk Bali menguraikan konsep pariwisata budaya, diharapkan memperoleh keuntungan ganda, yaitu di satu sisi pariwisata berkembang maju pesat dan membawa kemakmuran bagi masyarakat Bali, dan pada saat yang sama juga kebudayaan Bali diharapkan tetap dilestarikan[2]. Demikian pula para pendukung kebudayaan Bali agar tidak tercabut dari akar budayanya.

            Selain itu dalam buku ini juga memaparkan tentang definisi pariwisata adalah sebagai suatu aktivitas manusia yang bepergian dari rumah menuju ke suatu tempat yang cukup jauh untuk mendapatkan liburan dan kesenangan.

2.2 Sumber Wawancara

            Wawancara dengan Drs. Jero Mangku Made Sudana pada tanggal 13 Maret 2011. Dari hasil wawancara ini didapat suatu informasi bahwa Pura Pegulingan dibangun pada masa pemerintahan Raja Masula Masuli di Bali pada tahun Caka 1100 ( 1178 M ). Menurut beliau pada saat itu Raja Masula Masuli telah selesai membangun perhyangan Bhatara sami, seperti Pura Pegulingan,Tirta Empul,Mengening, Pura Penataran Wulan, Puser Tasik, Manik Ngereng, semua direncanakan oleh Baginda Raja Masula Masuli bersama Mpu Raja Kertha dan konon ada Sabda dari Bhatara dahulu, siapa yang menghentikan Aci maka ia akan kena marabahaya karena Sabda Sang Hyang Dharma Tri Purusa sebagai awalnya Bhatara Brahma, Wisnu, Iswara yang berprabawa atau berwujud Sang Hyang Tri Sakti[3].

            Dan beliau juga menyebutkan bahwa Pura Pegulingan ditemukan oleh masyarakat di Banjar Basangambu pada awal Januari 1983, saat Krama Desa Adat Basangambu bekerja menurunkan batu padas pada bangunan tepas guna dapat didirikan sebuah Padmasana Agung. Disana ditemukan beberapa benda kekunaan seperti arca-arca Budha. Semakin kedalam ternyata di temukan sebuah pondasi bersegi delapan, maka oleh Bendesa Adat pada waktu itu (Alm.Jro Mangku Wayan Periksa) pekerjaan di hentikan, pondasi bersegi delapan yang ditemukan berukuran kira-kira sebesar puncak Candi Brobodur. Dan kemudian langsung dilaporkan ke Kantor Suaka Peninggalan Sejarah Dan Purbakala Bali di Bedulu, kemudian penelitian dan penggalian dilakukan oleh Kantor Suaka dari Juli sampai Desember 1983. Dan dari penggalian itu ditemukan benda-benda kekunaan antara lain pondasi bangunan bersegi delapan, Arca Budha, lempengan emas bertulis, dan materi tanah liat dengan huruf Pranagari.

 

BAB III

METODE PENDEKATAN

 

Metode yang digunakan dalam PKM ini adalah :

1.      Metode observasi yaitu dilakukan dengan cara mengamati dan meneliti langsung peninggalan sejarah di pura Pegulingan.

2.      Metode Dokumentasi yaitu pengumpulan data dengan cara mengambil gambar.

3.      Metode wawancara yaitu penulis memperoleh keterangan dengan melakukan teknik wawancara dengan informan yang mengerti dengan masalah penelitian.

4.      Metode kepustakaan yaitu cara pengumpulan data dengan mempelajari buku-buku, majalah, brosur-brosur yang ada kaitannya dengan topik pembahasan.

 

 BAB IV

PELAKSANAAN PROGRAM

 

4.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan

            Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di Pura Pegulingan Banjar Basangambu, Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring Gianyar. Dan waktu pelaksanaan penelitian ini dari pukul 16.00 Wita-selesai.

 

 

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

5.1 Sejarah Pura Pegulingan

            Pura Pegulingan sebagai Pura Dang Kahyangan merupakan Pura Kahyangan Jagat sebagai tempat pemujaan bagi umat Hindu dan juga umat Budha. Hal itu didukung dengan adanya sejarah dan peninggalan kepurbakalaan yang ada di Pura Pegulingan seperti Candi yang sering disebutkan sebagai “Pejenengan” atau “Padmasana Asta Dala” oleh masyarakat di Banjar Basangambu dan peninggalan beberapa benda-benda kekunaan lainnya[4].

Adapun sejarah mengenai Pura Pegulingan dapat dilihat berdasarkan Lontar Usana Bali dan Mitologi:

  1. Berdasarkan Arkeologis

Pada awal Januari 1983 pada saat Krama Desa Adat Basangambu bekerja menurunkan batu padas pada bangunan tepas guna dapat didirikan sebuah Padmasana Agung. Pada saat tersebut ditemukan beberapa benda kekunaan seperti arca-arca Budha dan fragmen lainnya. Semakin kedalam ternyata di temukan sebuah pondasi (stupa) bersegi delapan yang berukuran kira-kira sebesar puncak Candi Brobodur.  Bendesa Adat pada waktu itu (Alm.Jro Mangku Wayan Periksa) memerintahkan untuk menghentikan penggalian. Mengingat pentingnya temuan-temuan tersebut, maka untuk melestarikan peninggalan itu, kemudian disusun rencana penggalian penyelamatan dan pemugarannya. Kemudian langsung dilaporkan ke kantor suaka peninggalan sejarah dan Purbakala Bali di Bedulu Gianyar.

 Petugas purbakala langsung melakukan peninjauan ke Pura Pegulingan. Sebelum dilaksanakan penggalian penyelamatan, pihak Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bali mengadakan pertemuan dengan pemuka masyarakat Basangambu untuk menyampaikan dan memohon persetujuan mengenai kerja yang akan dilakukan di Pura Pegulingan. Dengan persetujuan masyarakat, penggalian penyelamatan dilakukan mulai tanggal 14 Juli sampai dengan tanggal 31 Desember 1983. Selama kegiatan pengupasan telah ditemukan sejumlah temuan yang amat mengejutkan, sehingga menimbulkan masalah-masalah arkeologi yang menarik untuk dikaji dengan lebih teliti dan akurat.

Diantara temuan itu adalah 15 buah relief Gana, 5 buah kepala arca Buddha dan 5 buah bagian badan arca serta sejumlah sisa bangunan. Selain benda-benda diatas, juga temukan benda-benda yang lainnya seperti kotak batu padas berisi materai tanah liat yang bertuliskan Formula Ye-Te dengan huruf pranagari dalam 6 baris, berbahasa Sanskerta yang menguraikan mantra Agama Budha Mahayana mengenai 3 ajaran Dharma, berbunyi:

      “Ye dharmah hetu pra

      Bhawah hetun tesan tatha

      Gato hyawadat tesan ca yo ni

      Rodha ewam wada mahacramanah

      Om ye te swaha om krata

      Rah pramblinih…..”

Terjemahannya:

      “Sang Buddha (tathagata) telah berkata demikian Dharma ialah sebab atau pangkal dari segala kejadian (segala yang ada). Dan juga (Dharma itu) sebab atau pangkal dari kehancuran penderitaan. Demikianlah ajaran sang maha pertapa( Sang Budha)…”

            Demikianlah peninggalan arkeologi ditemukan secara bertahap sebelum dan pada saat pelaksanaan pemugaran Candi Pegulingan sampai akhirnya terwujud seperti sekarang. Selain pemugaran arkeoogis tersebut, juga dilakukan pemugaran non arkeologis yang dikerjakan dengan dana dari Menteri Sosial RI antara lain 22 buah bangunan, tembok keliling 120 meter, instalasi listrik, bejana air, sumur bor dan instalasi air. Disamping itu dilakukan pula pemugaran dengan dana swadaya masyarakat, Pemerintah Daerah Tingkat I Bali dan Pemerintah Daerah Tingkat II Gianyar berjumlah 7 buah bangunan. Dalam penataan lingkungan disekitar Pura, telah pula dibuat jalan setapak berupa beton cor mulai dari Balai Banjar Basangambu sampai di depan Pura Pegulingan. Disebelah kiri dan kanan jalan ditanami beberapa jenis pohon bunga untuk menambah keindahan lingkungan Pura Pegulingan[5].

  1. Berdasarkan Lontar Usana Bali

            Pura Pegulingan di bangun pada masa pemerintahan Raja Masula Masuli di Bali pada tahu Caka 1100 (1178 M). Dimana didalam  Lontar Usana Bali di uraikan sebagai berikut:

“Sampun Puput Prasama stana Batara Kabeh, Lirnya Pura Tirta Empul, Mangening, Ukir Gumang Jempana Manik Ngaran Gulingan. Alas Arum Ngaran Blahan, Tirta Kamandalu, Pura Penataran Wulan, puser Tasik, Manik Ngereng, sami karancana oleh Dalem Masula Masuli pareng sira Mpu Raja Kertha, Miwah Hana Pasaoan Batara Nguni, Siapa nagencak aci kene sipat jah tasmat, apan pewarah sang Hyang Bhatra Purusa  maha Witnya Batara Brahma Wisnu, Iswarah, Matemahan dori Danghyang Tri Cakti……….”dan seterusnya.

 

Artinya lebih kurang sebagai berikut:

            Sudah selesai acara tuntas perhyangan Batara sami, seperti tirta Empul, Mangening, Ukir Gumang, Jempana Manik atau Gulingan. Alas Arum atau Batara Tirta Kamandalu, Pura Penataran Wulan, Puser Tasik, Manik Ngereng, Semua di rencanakan oleh baginda Raja Masula Masuli bersama dengan Mpu Raja Kertha dan ada sabda dari Batara dahulu, siapa yang mengehentikan Aci, kena marabahaya karena ada Sabda Sang Hyang Darma Tri Purusa sebagai awalnya Batara Brahma, Wisnu Iswara yang berprabawa atau berwujud Sang Hyang Tri Sakti………..dan seterusnya

Selanjutnya dalam lontar usana Bali juga di sebutkan:

            “ Mangke ucapan Ida Dalem Masula Masuli di pawesmannya ring pejeng, Duk Ika Ida Dalem Manewulin peputih  pramanca para mantri, miwah sira Mpu Gnijaya Mpu Semeru, Mpu Gana, Mpu Kuturan, Muwang i Perbekel Bali Pareng tatanin Bendesa Wayah. Matumahan Abeking Uwah petanu Duk Ika Hana wacanan Cri Bhupakala mangda ngaryanin perhyangan mangening stana Batara hyang suci Nirmala wenang Maha Prasada Agung kasukat oleh Mpu Rajakertha, apapalihan mahadya metning asta kasali. Duk Ika suka prasaring wang Bali angawa pura. Pura penembahan jagat kabeh krejangangin untuk Cri Masula Masuli, mwah panjake sami ilang, sami kewulanan pada mase medal paras, mwang reramon salwira batuh, pejeng, Tampaksiring………..”

Artinya kurang lebih sebagai berikut:

“ sekarang diceritakan Baginda Raja Masula Masulidi Istananya di Pejeng. Tatkala itu beliau memerintahkan pepatih prapanca, para Mantri, serta para Mpu seperti Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Gana, Mpu Kuturan dan I Prebekel Bali. Ada permintaan Baginda Raja kepada Mpu semua serta I Prebekel Bali, beserta Bendesa wayah sehingga ramai di pejeng, di sebelah barat sungai pekerisan dan di sebelah timur sungai petanu. Saat itu ada sabda Baginda Baginda Raja supaya membangun perhyangan (Pura) Tirta Empul sebagai perhyangan Batara Hyang Indra wenang tepesana, dan perhyangan Mangen ing stana Batara Hyang suci Nirmala wengan maka prasada Agung,di ukur oleh Mpu Rajakarta, dengan pepalihan berdasar Asta Kosali. Tatkala itu senang hatinya orang Bali semua, membangun pura-pura sebgai junjungan jagat seluruhnya di pimpin oleh Baginda Raja Masula Masuli, serta rakyat merasa senang, semua rakyat sama –sama mengeluarkan (ngemedalan) paras  ( batu Paras) serta bahan-bahan lainnya seperti Blahbatuh, Pejeng dan Tampaksiring…………..”

Ada lagi sebagai berikut:

            Duk Ida Gupuk Panjaka mangasyanin purana ring Tirta Empul mwang ke mangening sampun karancana oleh I Bendesa wayah, ya ta ngawa pakraman hyang indra, hana pancaran sami pada matunggul surat aksara sumedang pakaryan Mpu Angganjali, wenang ketama oleh wang bali kabeh, tan kacarita puput kakaryaning sami tatani ratu, mangkana wetnia nguni, wus mangkana hana swena 3 warsa sampun puput prasama stana Batara kabeh lirnya Pura Tirta Empul, Pura Mangening, Ukir Gumang, Jempana Manik Ngaran Gulingan, Alas Arum, Ngaran Belahan Tirta Kamandalu, Pura Penataran wulan, Puser Tasik, Manik Ngereng, sami karancana oleh Dalem Masula Masuli sareng sira Mpu Rajakertha………….

Yang artinya:

            Waktu itu sibuk rakyatnya mengerjakan pembangunan pura Tirta Empul sampai ke Mangening sesuai dengan yang di rencanakan oleh I Bendesa wayah yaitu membuat perhyangan Batara Indra, terdapat pancoran semua di beri tanda huruf sumedang dengan tujuannya yang mempergunakan huruf yang dapat di baca tanda huruf tersebut yang oleh orang bali semua. Tidak di kisahkan selesai di kerjakan sesuai dengan ketentuan baginda Raja. Demikian asal mulanya dahulu dan setelah itu ada lamanya tiga tahun Gumang, jempana Manik atau Gulingan, Alas Arum Ngaran Belahan Tirta Kamandalu, Pura Penataran Wulan, Puser tasik, Manik Ngerang, semua di rencanakan oleh Baginda Raja Masula Masuli bersama dengan Mpu Rajakertha.

  1.  Berdasarkan Mitologi

 Berdasarkan penuturan dari orang-orang tua desa yang menguraikan tentang cerita Mayadenawa. Dikisahkan bahwa Mayadenawa sebagai Raja di Bali yang sangat sakti, tetapi memiliki sifat angkara murka sehingga dia menganggap dirinya sebagai dewa yang harus di sembah dan di haturkan persembahan. Dia tidak mengijinkan masyarakat atau orang-orang Bali untuk memohon Tirta Serining setiap tahunnya di Besakih karena dapat membuat tanaman-tanaman menjadi subur dan orang-orang  mendapat umur panjang. Dengan demikian tak satu orang pun berani meneruskan perjalanan ke Besakih. Raja Mayadenawa sangat durhaka terhadap para Batara, sehingga keadaan di Bali menjadi kacau karena Mayadenawa menghentikan Aci.

      Pada suatu ketika Batara Hyang Mahadewa mengadakan pertemuan dengan dewa-dewa di balai pertemuan di Besakih. Yang di bicarakan tiada lain ialah tentang halnya sang Mayadenawa yang sangat angkara murka, melarang orang-orang yang hendak mengadakan melakukan persembahyangan.

      Setelah mendapatkan kesepakatan, maka sekalian dewa-dewa pergi ke Gunung Semeru menghadap Hyang Pasupati yang di sertai pula oleh Mpu Semeru. Setelah tiba di Gunung Semeru, semuanya diam dan menenangkan pikiran mencipta Hyang Pasupati, tiba-tiba datanglah Hyang Pasupati lalu Bersabda “Anak Ku Mahadewa, Gnijaya, apakah kehendakmu sehingga dengan mendadak engkau mengahadapku sebagai mengandung dukacita ceritakanlah kepadaku”

            Seraya menyembah Hyang Mahadewa”Ya”, Batara, hamba ijin Batara, untuk membunuh Mayadenawa karena sangat angkuh,momo,dan murka, serta memutuskan aci kepada setiap orang yang ingin melakukan persembahyangan. Negara Bali kini menjadi sepi demikian juga di khayangan – khayangan”.  Batara Hyang Pasupati bersabda “ Jika benar demikian, aku akan memberi ijin, semoga tujuanmu dapat tercapai, tiba-tiba Batara Hyang Pasupati menghilang dari pandangan.

            Di ceritakan setelah Para Dewa dan Para Rsi Gana telah berekumpul di Besakih dan dipimpin oleh Hyang Indra. Turut juga Pendeta lima yang menjadi pengajar perang senjata dan semuanya sangat sakti. Yang keluar dari Sira Mpu Genijaya besenjata Ki Baru Tinggi, Mpu Semeru bersenjata Ki Baru Angin, Mpu Gana bersenjata Ki Mpu Galuh. Mpu Kuturan bersenjata Ki Lebur Jagat, Mpu Bradah bersenjata Ki Hutan Ritis, Gemurus Suara Sungu.

            Hal itu semuanya di dengar oleh Sri Mayadenawa, karena ia telah mengirim utusan untuk memata-matai apa yang direncanakan oleh Para Dewa, oleh sebab itu Ia segera menyuruh pasukannya untuk memukul kentungan besar. Maka berdatanglah para menterinya dan semua siap dengan senjata masing-masing diikuti oleh laskar yang juga sudah siap dengan senjatanya. Gemuruh suara bunyi-bunyian di padu dengan sorak-sorak yang tidak berkeputusan di tambah pula oleh ringkikan kuda di angkasa yang menjadi suatu tanda bahwa perang akan di mulai. Yang menjadi panglima perang Mayadenawa adalah Ki Patih Kala Wong, di tengah perjalanan mereka bertemu dengan laskar dewa yang dipimpin oleh Hyang Indra. Maka terjadilah peperangan yang sangat dahsyat antara kedua kubu, setelah beberapa hari lama pertempuran itu dan dengan sama-sama gagah perkasa. Maka, bertumpuklah mayat orang-orang mati dalam peperangan itu seakan-akan gunung yang dibanjiri lautan darah. Pada saat Mayadenawa terpojok, dengan kesaktian yang dimiliki, dia dapat berubah wujud dan Mayadenawa lari ke arah barat laut disana dia berubah menjadi labu dan tempat itu sekarang menjadi desa Siluk Tabu. Namun Hyang Indra dengan mudah mengetahui bahwa labu itu adalah Mayadenawa. Karena penyamarannya diketahui Mayadenawa lari ke arah barat daya, disana dia menjadi seorang Bidadari Kendran yang cantik sehingga tempat itu sekarang menjadi Desa Kendran. Akan tetapi bidadari itu lenyap, kemudian Mayadenawa lari ke arah timur laut, disana Mayadenawa berubah menjadi seekor Manuk Raya (Ayam Besar). Namun diketahui juga oleh Hyang Indra, dan tempat itu sekarang menjadi Desa Manukaya.

            Kemudian Kala Wong menciptakan Tirta Tirta Cetik (Tirta Mala) dengan pastu (kutukan) “Wasru aing, radius mala ika mwah asing anginmu pada mati”. Artinya siapa yang mandi dan minum air cetik itu akan mati. Karena kelelahan, kehausan maka para laskar Dewa Indra ada yang mandi dan juga minum air cetik itu, akibatnya banyak di antaranya yang mati.

            Sementara itu Yang Indra Guling (istirahat) di atas Jempana Manik (pondasi bersegi delapan) di Hutan sebelah timur tirta mala itu, datanglah utusan dari laskar yang masih hidup, menyampaikan kepada Yang Indra, bahwa banyak laskar/prajurit Dewa Indra mati akibat minum tirta mala. Kemudian Batara Indra memanggil para Bhagawantanya untuk dapat menciptakan tirta untuk menghidupkan para laskar yang mati. Lalu para bagawanta beryoga untuk menciptakan tirta dari kekuatan batinnya, namun sayang tidak berhasil. Lalu Bhatrara Indra mengutus laskarnya untuk memohon tirta Kamandalu di Sorgaloka.

            Di ceritakan utusan itu telah kembali dari mohon tirta Kamandalu, sampai pada suatu tempat di sebelah timur laut dari Dewa Indra Guling, di tengah hutan Tirta Kamandalu itu pecah payuk parennya (tempat tirta) dan tirtanya tumpah, hutannya menjadi harum semerbak, sekarang di hutan itu berdiri pura Belahan Alas Arum (Pura Dangkhayangan). Utusan tadi menceritakan kejadian tumpahnya tirta kamandalu kepada batara Indra serta memperlihatkan bukti ambu, tali dari payuk pere. Batara Indra mengambil ambu itu dan langsung melempar ke arah tenggara dengan ucapan “wastu kewekas manadi desa yang ambu” (sekarang desa Basangambu)”. Kemudian Batara Indra mengambil tedung dan umbl-umbul lalu turun ke arah barat seta di pancangkan, lalu muncrat air / tirta yang di percikan serta di minum oleh para prajurit (Sekarang Pura Tirta Empul), maka semua prajurit Batara Indra hidup kembali serta siap untuk melanjutkan peperangan mengejar Mayadenawa. Tibalah saatnya Mayadenawa dan patihnya Kala Wong di bisnahkan dalam pertempuran. Karena sudah sangat terdesak, Mayadenawa dan patih Kala Wong bejalan dengan Tapak Miring (telapak kakinya dimirngkan) dengan mengendap-ngendap agar keberadaannya tidak diketahui oleh laskar Hyang Indra. Sehingga tempat itu sekarang menjadi Tampaksiring. Namun Hyang Indra mengetahuinya, kemudian Mayadenawa dan patihnya Kala Wong lari ke pangkung patas, mereka berdua berubah menjadi tawulan batu padas atau batu paras. Karena Hyang Indra sudah mengetahui bahwa batu padas itu adalah penyamaran dari Mayadenawa dan patih Kala Wong. Akhirnya tawulan batu padas itu di panah oleh Dewa Indra, dari seluruh sendi tulangnya mengalir darah tidak henti-hentinya sehingga menjadi sebuah anak sungai. Maka darah itu di kutuk oleh Batara Indra dan di  dinamai tukad petanu.

Tukad Petanu: Tukad = Sungai, Petanu = suaranya masih , dari air sungai itu suara Mayadenawa masih kedengaran.

Dari kata Guling maka pura itu di sebut Pura Pegulingan

 

 

5.2 Dampak pariwisata terhadap Pura Pegulingan

           

            Berdasarkan hasil survey Ketua Audit Kebudayaan dan Pariwisata UNUD (Universitas Udayana) Dr. Agung Suryawan Wiranatha. Daya tarik wisatawan ke Bali tetap pada budaya dan keindahan alam. Budaya dan keindahan menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Bali. Dari hasil daya tarik menjadi primadona yaitu:

            Keindahan alam                      73.2%

            Unsur Budaya (Kesenian)       26.1%

            Budaya                                    21.7%

            Tradisi                                     21.3%

            Kerajinan                                 18 %

            Arsitektur                                12.4%

            Makanan khas                         7.6%

            Religius/Spiritual                     5%

(Sumber : Bali Post, Hari Kamis 1 Oktober 2009)

            Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa Pura Pegulingan.dapat menjadi salah satu objek wisata yang menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Letak yang strategis dan berdekatan dengan Istana Presiden dan Pura Tirta Empul seharusnya membantu untuk memberikan dampak pariwisata bagi Pura Pegulingan. Namun Kenyataannya pariwisata belum begitu memberikan dampak yang signifikan. Ini terjadi karena kurangnya perhatian semua pihak untuk mengembangkannya menjadi tujuan wisata. Namun dengan adanya peninggalan-peninggalan sejarah kepurbakalaan yang ada di Pura Pegulingan seharusnya dapat menjadi salah satu daya tarik wisatan untuk berkunjung ke pura tersebut.

Potensi wisata yang ada pada Pura Pegulingan antara lain:

  1. Sebagai Wisata Spiritual

Mengingat Pura Pegulingan merupakan tempat pemujaan Agama Budha melalui relik Stupa Asta Dala yang ada didalamnya dapat menjadi wisata Ziarah/ Tirta Yatra bagi seluruh Umat Budha di Indonesia dan seluruh dunia. Sekaligus dapat melaksanakan kegiatan pesembahyangan baik Umat Hindu dan Umat Budha, sehingga tercipta suasana kebersamaan dan toleransi yang harmonis antar umat beragama.

  1. Sebagai Wisata Sejarah

Pura Pegulingan merupakan benda cagar budaya yang di lindungi oleh undang-undang dan dapat menjadi sarana pembelajaran mengenai sejarah masa lalu bagi para wisatawan. Terutama pelajar dan mahasiswa yang menyukai, mempelajari, dan ingin mengetahui lebih dalam sejarah peradaban masa lalu.

  1. Sebagai Wisata Budaya

Pura Pegulingan memiliki arsitektur yang indah. Melalui keindahan arsitekturnya, para pengunjung dapat menikmati wisata budaya yangh asri dan mengagumkan di tengah areal persawahan. Arsitektur yang Kuno dan antic memberikan kesan tersendiri pada para wisatawan.

Perkembangan pariwisata ini nantinya di harapkan memberikan keharmonisan sosial antar sesama, untuk menjaga itu semua diperlukan rencana tata ruang yang tepat, komunikasi antar pemerintah, investor dan masyarakat yang intinya melibatkan semua lapisan masyarakat.

 

 

 

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

 

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:

            Pura Pegulingan merupakan Pura Kahyangan Jagat yang merupakan tempat pemujaan bagi umat Hindu dan juga umat Budha. Pura Pegulingan  juga dapat menjadi tujuan  wisata, disamping  karena tempat Pura Pegulingan berada di areal persawahan dan sangat stragegis, Pura Pegulingan juga ± 100 meter dari objek wisata Tirta Empul jika kita melewati jalan setapak dan Istana Presiden RI di Tampaksiring pun kelihatan sangat jelas jika kita menghadap kearah barat dari depan Pura Pegulingan. Hal inilah dapat menarik perhatian para wisatawan untuk mengunjungi Pura Pegulingan ini, didukung dengan adanya sejarah dan peninggalan kepurbakalaan yang ada di pura tersebut, seperti halnya Candi, arca Budha, kotak batu padas dan peninggalan beberapa benda-benda kekunaan lainnya.

6.2 Saran saran

   1. Agar masyarakat ikut berapresiasi untuk melestarikan cagar budaya dan peninggalan budaya yang ada di Pura Pegulingan. Dan di harapkan tetap melaksanakan aktivitas dalam upaya melestarikan warisan budaya bangsa ini.

   2. Organisasi budaya yang ada di lingkungan Pura Pagulingan, agar tetap melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya pelestarian warisan budaya tersebut yang pada akhirnya ada petugas khusus dari organisasi budaya untuk merawat dan menjaga peninggalan-peninggalan sejarah yang ada di Pura Pagulingan mengingat ini adalah warisan leluhur kita dahulu yang harus dilestarikan

DAFTAR PUSTAKA

 

1.      Ketut Soebandi, 1983, Sejarah Pembangunan Pura-pura Di Bali. Denpasar: CV. Kayumas

2.      Tim Penyusun, 1998, Pariwisata untuk Bali Konsep dan Implementasi Berwawasan Budaya. Denpasar : Biro Humas & Protokol Tingkat I Bali

3.      Suantra I Made, 2006, Peninggalan Purbakala di daerah aliran sungai Pakerisan dan Petanu. Denpasar: BPPP Bali

4.      Proposal tentang Pura Pegulingan Desa Pekraman Basangambu

5.      Lontar Usana Bali

6.      Bali Post, Hari Kamis 1 Oktober 2009

7.      http://www.google.co.id diakses pada tanggal 20 Oktober 2010


[1]Proposal tentang Pura Pegulingan Desa Pekraman Basangambu

[2] . Tim Penyusun, Pariwisata untuk Bali Konsep dan Implementasi Berwawasan Budaya, : Biro Humas & Protokol Tingkat I Bali, Denpasar, 1998, hal 7.

[3] . Lontar Usana Bali.

[4]. Ketut Soebandi, Sejarah Pembangunan Pura-pura Di Bali . CV. Kayumas.:Denpasar,  1983,  hal 25.

 

[5]. Suantra I Made, Peninggalan Purbakala di daerah aliran sungai Pakerisan dan Petanu. :BPPP Bali. Denpasar, 2006, hal 17.

 

Terimakasih….

Okt 12

Halo dunia!

Posted on Rabu, Oktober 12, 2011 in Tak Berkategori

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!