Categories
Tulisan

TITIK AWAL GAMELAN GONG KEBYAR DI DESA TIHINGAN

Dahulu jenis gamelan yang berkembang di daerah Bali selatan berupa gamelan pelegongan, sehingga tidak menutup kemungkinan di daerah Klungkung termasuk di Desa Tihingan dulu berkembang pula jenis gamelan tersebut. Kemudian pada tahun 1912 terjadi gebrakan atau perubahan bentuk fisik instrumen dari Bali utara tepatnya  di desa Bantiran, Kabupaten Buleleng. Gamelan gong kebyar Buleleng berkembang di Klungkung tepatnya di Desa Tihingan, yaitu adanya perubahan gaya dan musikalitas gamelan, yang bisa dilihat dari fisik instrumen, seperti adanya perubahan jumlah tungguhan gamelan, bertambahnya bilah gangsa yang dulunya hanya terdiri dari enam buah bilah kemuadian menjadi sepuluh bilah.

Pada tahun 1912-an barungan gamelan di Desa Tihingan berupa gamelan palegongan, menurut keterangan I Wayan Rasna(umur 80 th) sebagai salah seorang penabuh yang kini masih hidup mengatakan “ bahwa gamelan yang pertama ada di desa Tihingan adalah gamelan palegongan. Data tersebut di perkuat olh keterangan  I Ketut Dupa (umur 75 th) membenarkan adanya  gamelan palegongan di Desa Tihingan. Musikalias atau bentuk fisik dari gamelan palegongan ini yaitu jumlah bilah gamelan dalam satu tungguh terdiri dari enam bilah,instrument palegongan ini terdiri dari jublag, jegog, gangsa pemade, gangsa kantilan, terompong dan satu buah nstrumn gong.  Setelah kena pengaruh dari bali utara terjadilah perombakan gamelan palegongan  di desa tihingan. Pande-pande gamelan atau seniman pembuat gamelan di desa tihingan ikut terpengaruh oleh gamelan gong kebyar dari Bali utara, kemudian oleh para pengerajin gamelan (pande gamelan)  di Desa Tihingan merubah gamelan  pelegongan ini menjadi barungan  gamelan gong kebyar.

Keberadaan gamelan pelegongan ini  di kuatkan dengan keberadaan salah satu pelawah gamelan yang masih utuh yaitu terdpat artepak- artepak seperti bagian  pelawah jublag dan jegogan yaitu  ikuh dare dan beberapa instrument pencon yaitu reong.instrumen reong ini sampai sakarang masih bisa di gunakan untuk melengkapi gong kebyar yang ada saat ini.

Alasan mengapa gamelan palegongan ini di rubah menjadi gong kebyar karena menurut tetua dahulu yang di tuturkan oleh para nara sumber  yang memberikan data ini “ gamelan gong kebyar memiliki fungsi yang luwes atau multi fungsi, bisa berfungsi sebagai kesenian sacral dan Propan (hiburan), gamelan gong kebyar bisa menampung aspirasi dan daya kreatifitas seniman untuk berkarya, sehingga kuat alasan para pande gamelan di Desa Tihingan merubah gamelan pelegongan menjadi gamelan gong kebyar yang berkembang sampai sekarang ini”, menurut nara sumber  saih atau laras gamelan gong kebyar di Desa Tihingan gong kebyar saih menengah atau di sebut juga gong kebyar saih sundaren.

Gamelan gong kebyar yang ada saat ini  bentuk musikalitasnya terdiri dari empat tungguh gangsa pemade yang dalam satu tungguh terdiri dari sepuluh bilah, empat tungguh gangsa kantilan yang dalam setiap yungguh terdiri dari sepuluh bilah, satu tungguh reong terdiri dari 12 pencon reong, satu tungguh terompong yang terdidi dari 10 pencon, dua buah jublag  yang memiliki tujuh bilah, dua buah kenyr atau penyacah teriri dari tujuh bilah, dua buag giying atau ugal yang terdiri dari sepuluh bilah, dua buah jegogan yang didalam setiap tungguh jegogan tediri dari lima bilah, dua buah gong(lanang, wadon), satu buah kempur, satu buah bende, satu tungguh ceng-ceng ricik atau kecek, dan delapan buah ceng-ceng kopyak.

Demikianlah seklumit  asal-usul  atau titik awal terciptanya gamelan gong kebyar  yang ada di desa tihingan yang berkembaang  dan masih terjaga kelestariannya sampai saat sekarang ini.