Belajar mupuh kendang makai motif 1,2,3,4,5

Motif 1,2,3,4,5 ini saya dapatkan di waktu saya SMK

UKK SMK N 1 SUKASADA, TILEM KESANGA

TARI KUPU-KUPU TARUM Tari kupu-kupu atau tari kupu-kupu tarum adalah salah satu dari sekian banyak tarian yang berasal dari Bali. Keberadaan Bali dalam sisi seni budaya, keindahan alam dan religiusitasnya telah diakui dan dikenali oleh masyarakat Internasional. Maka tak heran jika banyak budayawan dan seniman Bali yang terkenal dalam pentas dunia seni internasional. Menurut catatan sejarah tarian Bali, tari kupu-kupu diciptakan oleh diciptakan oleh I Wayan Beratha pada tahun 1960-an. I Wayan Beratha adalah seniman Tari Bali yang lahir pada tahun 1926, di Banjar Belaluan Denpasar. Kini ia menetap di Banjar Abian Kapas Kaja. I Wayan Beratha hidup dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga seniman Bali. Kakeknya, I Ketut Keneng (1841-1926) juga adalah seniman Bali yang besar pada zamannya. Kakeknya adalah seorang ahli karawitan dan pagambuhan. Karena kebesaran nama dan karyanya, hampir sebagian besar kehidupan Pekak (Kakek) Kenengnya diabdikan untuk keluarga Puri Denpasar, sebagai seniman kesayangan Raja I Gusti Agung Ngurah Denpasar hingga Perang Puputan Badung meletus tahun 1906. Maka pantaslah darah seniman besar mengalir dalam I Wayan Beratha dan menciptakan karya-karya besar bagi masyarakat Bali dan Indonesia. Tarian kupu-kupu adalah jenis tarian grup putri yang dimainkan oleh lima orang perempuan atau lebih. Tarian ini menggambarkan kupu-kupu berwarna biru tua atau tarum yang sedang terbang dan hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya. Secara filosofis, tarian kupu-kupu adalah penggambaran keindahan, kedamaian dan eksotoknya pulau Bali. Gerakan yang gemulai dengan komposisi gerak yang dinamis dan menawan, menjadikan tarian kupu- sedikit berbeda dengan nuansa yang diciptakan oleh tarian Bali pada umumnya sehingga lebih terkesan nuansa damai saat menontonya. Serta perpaduan warna kostum antara kain berwarna gelap dan terang seperti biru, kuning emas, dan hijau tua serta mahkota yang berkilauan dengan pernak-pernik keemasan, menggambarkan keindahan dalam kontrasnya perbedaan. Seperti keindahan alam, kondisi sosial, ragam karya seni, budaya serta keyakinan masyarakat Bali yang bersatu dalam keharmonisan gerak. Iringan musiknya pun, meski dengan alat yang sama yakni gamelan Bali, ada harmoni nada dengan birama yang lembut. Tidak menghentak-hentak seperti tari kecak. Pemaknaan terhadap tarian kupu-kupu di atas, adalah cerminan dari cara berpikir Beratha yang mempunyai pandangan sangat terbuka, ia berusaha membuang fanatisme kedaerahan meski tidak sepenuhnya meninggalkan kekhasan budaya Bali. Dari segi seni karawitan, pada tahun 1957 – 1959, ia mulai menyadap pembauran warna gambelan yang meretas jauh pola-pola kedaerahan. Pola-pola ini menurutnya disebabkan oleh adanya kompetisi di zaman raja-raja yang berlangsung hingga zaman penjajahan. Maka ia memberanikan diri mempelajari karawitan Bali Utara dan mengajarkan karawitan Bali Selatan di seluruh Bali. Kemudian bersama I Cede Manik, I Wayan Beratha menjadi jembatan antara gaya seni karawitan \”Bali Selatan dan Utara yang tentunya tercermin dan setiap tarian yang diciptakannya. Apa yang dilakukan oleh Wayan Beratha terhadap kebudayaan Bali, bukan sebuah upaya perusakan tradisi atau melunturkan keadiluhungan seni tradisional, melainkan sebuah kebaruan agar kesenian tradisional di Bali menemukan dunianya yang beriringan dengan perkembangan jaman. Seperti yang telah kita saksikan dalam tarian kupu-kupu ciptaannya. TARI CIWA NATARAJA Siwa Nataraja adalah manifestasi Siwa sebagai penari tertinggi, sebagai dewanya penari. Siwa terus menari sehingga menimbulkan ritme dan keteraturan di dalam alam semesta. Gerakan Siwa merupakan pancaran tenaga prima yang kemudian menyatu sehingga terciptalah alam semesta ini. Tari Siwa Nataraja yang telah dijadikan tari kebesaran STSI Denpasar ini ditarikan oleh sembilan orang penari putri : satu orang berperan sebagai Siwa, sedangkan delapan orang lainnya menggambarkan pancaran tenaga-tenaga prima dari Siwa. Tarian ini merupakan perpaduan antara tari Bali dengan beberapa elemen tari Bharata Natyam (India) yang telah dimodifikasi sehingga terwujudlah suatu bentuk tari yang utuh. Tarian ini diciptakan pada tahun 1990 oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem yang juga sebagai penata kostumnya dengan penata iringan adalah I Nyoman Widha. TARI GARUDA WISNU KENCANA Disamping menggunakan gamelan gong gede sebagai pengiring musiknya, Tari Garuda Wisnu Kencana ini juga menggunakan rebab. Ditambahkan dalam Babad Bali Tari Garuda Wisnu adalah sebuah tari garapan baru yang menggambarkan perjalanan Dewa Wisnu, dewa kesuburan, untuk mencari tirta amerta. Dalam usaha mendapat tirta ini Dewa Wisnu dibantu oleh burung Garuda. Dalam tarian ini juga dilukiskan pertemuan Dewa Wisnu dengan saktinya, Dewi Laksmi, dan kegagahan Hyang Wisnu dalam memainkan senjata cakranya.Dibawakan oleh 3 penari putra (sebagai burung Garuda) dan penari putri (sebagai Dewi Laksmi dan Dewi Wisnu). Ditampilkan pertama-kali dalam Peksiminas 1997 di Bandung dan PKB XX 1998 di Bali. Tari ini ditata oleh I Nyoman Cerita (koreografer) dan I Gde Arya Sugiartha (komposer). TARI SATYA BRASTA Tari Satya Brasta diciptakan pada tahun 1989 oleh I Nyoman Cerita.Tari Satya Brasta adalah tari kreasi yang dibawakan oleh sekelompok penari pria yang menceritakan tentang kepahlawan Gatot Kaca dengan peperangan antara Gatot Kaca dengan Karna yang diakhiri dengan gugurnya Gatot Kaca oleh senjata Konta Wijayakusuma. Salah satu perkembangan tari satya brasta ini adalah telah dipentaskan dalam acara acara tari di berbagai tempat.Properti yang digunakan dalam tari satya brasta seperti pajeng atau payung ,kipas putih sedang,dan panah keci yang bergambarkan naga dililit yang disebut konta. Jumlah penari dari tari satya brasta berjumlah 6 orang dan tari satya brasta diiringi gamelan gong kebyar. TARI MANUK RAWA Tarian manuk rawa pertama kali diciptakan pada tahun 1981 oleh I Wayan Dibia (koreografer) dan I Wayan Beratha (komposer). Sebelum menjadi sebuah tari lepas, Tari Manukrawa merupakan bagian dari Sendratari Mahabharata Bale Gala-Gala karya tim sendratari Ramayana/Mahabharata Propinsi Bali yang ditampilkan dalam Pesta Kesenian Bali tahun 1980. Tari Manuk Rawa ini menggambarkan prilaku sekelompok burung air sebagaimana yang dikisahkan dalam cerita Wana Parwa dari Epos Mahabrata. Tarian yang dibawakan oleh sekelompok (antara 5 sampai 7 orang ) penari wanita ini merupakan tarian kreasi baru yang menggambarkan perilaku sekelompok burung (manuk) air (rawa). Gerakan –gerakan tarian diadopsi dari tari klasik perpaduan gerak tari Sunda dan Jawa, disempurnakan serta dimodifikasi sehingga menghasilkan keindahan, seperti sekarang ini. Gambaran keceriaan terlihat dalam ekspresi tarian, dimana mengisahkan sekelompok burung rawa, bercanda ria sambil mencari makan. Ditarikan oleh anak –anak perempuan atau remaja putri. Secara umum tari manuk rawa hanya berfungsi sebagai hiburan atau pertunjukan untuk dinikmati bagi semua orang.

TEKNIK PERMAINAN INSTRUMEN DALAM BARUNGAN GONG KEBYAR Berbagai jenis instrumen yang melengkapi barungan Gong Kebyar memberikan ruang dan forsi kepada masing-masing instrumen untuk melahirkan motif dan teknik permainan tertentu sebagai pemberi identitas Gong Kebyar, salah satu barungan dalam klasifikasi gamelan Golongan Baru. 1. Trompong Instrumen trompong yang melengkapi beberapa barungan gamelan Bali, seperti gamelan Smara Pagulingan, Gong Gede dan Smarandhana memiliki teknik dan sistem permainan yang lebih banyak bersifat improvisasi, masing-masing nada dimainkan oleh kedua tangan memakai panggul secara bergantian sesuai kebutuhan melodi gending yang diinginkan. Teknik-teknik yang dimainkan instrumen trompong dengan istilah yang diberikan, secara umum dapat diuraikan sebagai berikut. a) Ngembat ; Istilah ngembat, ngempat atau ngangkep adalah teknik permainan trompong dengan memukul dua buah nada yang sama dalam oktaf yang berbeda dengan mengapit empat buah nada didalamnya dan dimainkan oleh kedua tangan secara bersamaan. Pukulan ngembat menjadi identitas utama dalam teknik permainan trompong. 1 3 4 5 7 1 3 4 5 7 Memperhatikan nada-nada instrumen trompong, dalam teknik permainan ngembat terdapat lima jenis angkep-angkepan, yaitu angkepan nada 1, 3, 4, 5 dan 7. b) Ngempyung atau ngero ; Ngempyung atau ngero adalah teknik permainan trompong dengan memainkan dua buah nada yang berbeda (dalam oktaf tinggi) secara bersamaan, mengapit dua buah nada didalamnya, nada-nada yang dimainkan adalah nada ndang (1)dengan nada ndeng (5)dan kedengarannya adalah nada ndang (1). 1 3 4 5 7 1 3 4 5 7 1(ndang) c) Nyintud ; Nyintud adalah teknik permainan trompong dengan memainkan dua buah nada yang berbeda (dalam oktaf tinggi) secara bersamaan, mengapit dua buah nada didalamnya, nada-nada yang dimainkan adalah nada nding (3)dengan nada ndung (7)dan kedengarannya adalah nada nding (3). 1 3 4 5 7 1 3 4 5 7 3 (nding) d) Ngoret ; Ngoret adalah teknik permainan trompong dengan memukul tiga buah nada yang ditarik mulai dari nada rendah ke nada yang lebih tinggi. 4 5 7 . 1 . 3 . 1 . 7 e) Ngerot ; Ngerot adalah teknik permainan trompong dengan memukul tiga buah nada yang ditarik mulai dari nada tinggi ke nada yang lebih rendah. 5 4 3 . 4 5 7 1 7 f) Nyilih-asih ; Nyilih-asih adalah permainan silih berganti antara pukulan tangan kanan dan tangan kiri mengikuti jalannya melodi gending. g) Nyekati ; Nyekati adalah teknik permainan trompong yang lebih banyak melepas pukulan pokok melodi, akan tetapi dalam satu putaran bertemu pada nada final bagian akhir melodi. h) Ngumad dan nguluin ; Ngumad adalah teknik permainan trompong dengan membelakangi pukulan pokok melodi, sedangkan nguluin adalah teknik pukulan dengan mendahului pukulan pokok melodi. i) Nerumpuk ; Nerumpuk adalah teknik permainan trompong dengan memukul satu nada secara beruntun, memanfaatkan satu atau kedua tangan sesuai kebutuhan. j) Ninggarpada ; Ninggarpada adalah posisi dan sikap duduk sebagai pemain trompong, sedangkan sikap memegang panggul disebut amanggang jatah. 2. Reyong Memainkan instrumen reyong sangat berbeda dengan memainkan instrumen trompong kendatipun sama-sama instrumen berpencon. Reyong memiliki kelebihan, disamping dengan memainkan penconnya, reyong juga dimainkan pada bagian mukanya (panjing) sesuai nuansa musikal yang diharapkan. a) Ngubit ; Teknik permainan ngubit adalah teknik permainan instrumen reyong dengan pola permainan yang membuat jalinan (interlocking figuration). Motif melodi dengan pola jalinan adalah untuk membuat ritme menjadi sangat kaya dan ornamentatif. Dengan memainkan kedua tangan dapat menghasilkan ornamentasi yang variatif untuk mendukung suasana yang diharapkan. b) Gegulet ; Gegulet adalah pola permainan instrumen reyong dengan memadukan berbagai jalinan yang ritmis dalam bentuk melodi yang berlapis-lapis atau permainan motif yang dilipatgandakan. Kendatipun bermain dalam jalinan yang berlapis, motif-motif yang dimainkan secara bersama-sama tetap diikat oleh sebuah melodi. Masing-masing motif mengatur jalinannya sendiri dan digabungkan secara berlapis-lapis dalam mewujudkan suatu jalinan yang harmonis. c) Norot ; Norot adalah pola permainan instrumen reyong dengan sistem permainan oleh kedua tangan untuk membantu menjalankan melodi gending, kadang-kadang menyatu dalam motif jalinan atau terlepas dengan mengikuti jalannya melodi. d) Mamanjing ; Mamanjing adalah teknik memainkan reyong dengan memukul muka riyong dengan variasi pukulan pada waktu membuat angsel-angsel bersama instrumen kendang dan cengceng. 3. Giying Giying adalah salah satu instrumen berbilah dengan teknik permainan lebih banyak improvisasi terkait dengan tugasnya sebagai pembawa melodi. Dalam hal tertentu teknik permainan giying juga mengambil beberapa istilah permainan yang ada pada instrumen tompong. Teknik permainan giying yang menjadi identitas permainannya adalah : ngoret, ngerot, netdet, ngecek dan neliti. a) Ngoret ; Ngoret adalah teknik permainan trompong dengan memukul tiga buah nada yang ditarik mulai dari nada rendah ke nada yang lebih tinggi. (Lihat contoh ngoret pada instrumen trompong). b) Ngerot ; Ngerot adalah teknik permainan trompong dengan memukul tiga buah nada yang ditarik mulai dari nada tinggi ke nada yang lebih rendah. (Lihat contoh ngerot pada instrumen trompong). c) Nendet ; Netdet adalah teknik permainan giying yang hanya bertumpu pada satu nada, dengan sistem permainan memukul dan menutup secara beruntun dan bersamaan sesuai keperluan, sebelum dilanjutkan menurut kehendak melodi. Dalam notasi ditulis sebagai berikut : 1 1 1 1 (dibaca : ndat, ndat, ndat, ndat) 3 3 3 3 (dibaca : ndit, ndit, ndit, ndit) 7 7 7 7 (dibaca : ndut, ndut, ndut, ndut) d) Ngecek ; Ngecek adalah teknik permainan giying dengan memukul dan menutup satu nada hanya sekali saja secara bersamaan. Setelah memukul dan menutup ada jeda dalam hitungan tertentu disesuaikan dengan kebutuhan dan rasa indah pemain sebelum dilanjutkan dengan teknik permainan yang lain. 1 . . . (dibaca : ndat, . . . ) 3 . . . (dibaca : ndit, . . . ) 7 . . . (dibaca : ndut, . . . ) e) Neliti ; Neliti adalah teknik permainan giying dengan lebih menonjolkan pokok-pokok melodi saja tanpa tambahan improvisasi untuk mempertegas tugas instrumen giying bertanggung jawab menjalankan melodi gending. f) Wiraga ; Wiraga adalah posisi dan sikap duduk sebagai pemain giying. 4. Pemade dan Kantil Pemade dan kantil adalah instrumen berbilah dengan teknik permainan yang hampir sama dalam tugasnya sebagai pembawa melodi. Dalam hal tertentu, teknik permainan kedua instrumen ini hampir sama dengan teknik permainan giying, seperti : ngoret, ngerot, netdet, ngecek dan neliti. Sedangkan teknik lain yang menjadi identitas permainannya adalah : norot, nyekati, gegulet, beburu dan oncang-oncangan. a) Norot ; Norot adalah pola permainan instrumen pemade dan kantil oleh kedua tangan (memukul dan menutup nada-nada) dengan sistem melipatgandakan pukulan mengikuti jalannya melodi gending. Melodi : . 5 . 1 . 5 . 4 . 5 . 1 . 5 . (7) Norot : 7 7 7 1 1 1 1 4 4 4 4 1 1 1 1 7 Nada-nada yang norot adalah nada terakhir dalam setiap frasa selama empat hitungan. b) Nyekati ; Nyekati adalah teknik permainan pemade dan kantil yang terlepas dari pokok melodi, akan tetapi dalam satu putaran permainan selalu bertemu pada nada final menjelang akhir melodi, karena dituntun dan dibingkai oleh melodi. c) Gegulet ; Gegulet adalah pola permainan instrumen pemade dan kantil yang memadukan berbagai jalinan ritmis oleh tiga atau empat buah nada dengan permainan motif yang dilipatgandakan. Motif-motif yang dimainkan secara bersama-sama tetap diikat oleh sebuah melodi (tanpa memikirkan melodi yang panjang dan pendek), masing-masing motif mengatur jalinannya sendiri dan digabungkan secara berlapis-lapis dalam mewujudkan suatu jalinan yang harmonis. d) Beburu ; Beburu adalah teknik permainan instrumen pemade dan kantil dengan motif permainan terjalin kejar-kejaran, umumnya hanya memanfaatkan tiga buah nada. Motif jalinan yang dilakukan selalu mengikuti jalannya melodi dan sangat ditentukan pula oleh jenis dan panjang-pendeknya melodi gending. e) Oncang-oncangan ; Oncang-oncangan adalah teknik permainan instrumen pemade dan kantil dengan memainkan dua buah nada disela satu nada, atau menurut urutan nada-nada yang ada, membuat jalinan dengan sistem kejar-kejaran dan motif-motif yang dimainkan ditentukan oleh panjang dan pendeknya melodi. Melodi : . 5 . 7 . 1 . 7 . 1 . 5 . 7 . (4 ) Ngoncang : 3 5 4 7 5 1 4 7 5 1 7 5 4 3 1 (4) f) Wiraga ; Sama dengan pemain giying, wiraga adalah posisi dan sikap duduk sebagai pemain pemade dan kantil, sedangkan sikap memegang panggul disebut nawa natya. 5. Kenyur, Calung dan Jegogan Identitas pukulan instrumen kenyur dan calung adalah neliti, merupakan pukulan pokok sesuai dengan tugasnya masing-masing, sehingga sebagai instrumen pemangku lagu harus dibedakan peniti kenyur dengan peniti calung. Peniti kenyur : 1 7 5 4 5 1 7 5 7 5 7 1 7 3 1 (7) Peniti calung : . 7 . 4 . 1 . 5 . 5 . 1 . 3 . (7) Disamping neliti yang menjadi tugas dari instrumen kenyur dan calung, instrumen calung masih memiliki beberapa identitas pukulan, seperti : nyelah, ngempur dan nyele, sedangkan jenis pukulan yang dimiliki instrumen jegogan disebut temu guru. a) Nyelah dan ngempur ; Nyelah adalah jenis pukulan yang dilakukan instrumen calung dimana jatuh pukulannya bersamaan dengan jatuhnya pukulan kempli, sedangkan ngempur adalah pukulan yang bersamaan dengan jatuhnya pukulan kempur. Hal ini disesuaikan dengan uger-uger (hukum-hukum) gending yang disajikan. b) Nyele ; Nyele adalah pukulan calung yang jatuh pada setiap hitungan yang tidak bertemu dengan pukulan kempur, kempli dan gong. Jika diperhatikan panjang dan pendeknya melodi gending yang dimainkan, pukulan nyele mulai dari hitungan ke-dua dilanjutkan dengan penambahan empat setiap hitungan berikutnya. . 7 . 4 . 1 . 5 . 5 . 1 . 3 . (7) Dengan contoh melodi ini, pukulan nyele jatuh pada hitungan ke- 2, 6, 10, dan 14. c) Temu guru ; Temu guru adalah pukulan jegogan setiap hitungan kelipatan delapan atau sebagai nada final setiap satu putaran melodi yang jatuhnya bersamaan dengan pukulan gong. 6. Kendang Berbagai jenis kendang yang melengkapi barungan Gong Kebyar, seperti : kendang cedugan, kendang gupekan dan kendang krumpungan memiliki warna suara tersendiri. Masing-masing warna suara yang dihasilkan bersumber dari kulit yang dipergunakan, oleh karena itu sangat besar kemungkinannya untuk melahirkan variasi warna suara yang secara umum dapat ditafsirkan dengan suara-suara sebagai berikut : No. Nama Instrumen Penafsiran Suara 1. Kendang cedugan lanang (muka kanan) dug 2. Kendang cedugan lanang (muka kiri) pak 3. Kendang cedugan wadon (muka kanan) dag 4. Kendang cedugan wadon (muka kiri) ka 5. Kendang gupekan lanang (muka kanan) tut, pung 6. Kendang gupekan lanang (muka kiri) pak 7. Kendang gupekan wadon (muka kanan) dê, kum 8. Kendang gupekan wadon (muka kiri) ka 9. Kendang krumpungan wadon (muka kanan) dê 10. Kendang krumpungan wadon (muka kiri) ka, kêm 11. Kendang krumpungan lanang (muka kanan) tut 12. Kendang krumpungan lanang (muka kiri) pak, pêng Tabel 5. Penafsiran Suara Kendang a. Kendang Tunggal Banyak komponen yang harus dipertimbangkan dalam menguraikan masalah teknik permainan kendang tunggal. Cakupan teknik tidak saja mengacu pada skill dan kemampuan pemain kendang, melainkan juga merambah pada bagian-bagian yang tidak dapat dipisahkan seperti kemampuan mengolah sumber bunyi, keseimbangan, maupun kekayaan motif yang dimiliki oleh Si-pengendang. Secara umum teknik dan pola permainan kendang yang dilakukan oleh seorang pemain atau secara induvidu adalah dengan sistem permainan kendang nunggal, memiliki jenis pukulan yang disebut gupekan bapang dan gupekan ngecet. Gupekan ngecet atau lebih dikenal dengan ngipuk, dalam mengikuti melodi gending yang dimainkan dibedakan atas ngipuk monyer dan ngipuk kalem. 1) Gupekan bapang ; atau disebut kendang bapang adalah pola (pupuh) kendang tunggal yang memiliki pola yang jelas dengan teknik pukulan tertentu. Sesuai dengan namanya, teknik dan motif pukulannya adalah motif bapang dengan menggunakan melodi bapang. Namun yang harus diperhatikan dalam teknik pukulan gupekan bapang adalah kemurnian pukulan yang dihasilkan dan kemampuan menguasai motif-motif pukulan secara pasti. Untuk mencapai kemurnian pukulan pengendang harus memiliki kemampuan dengan mempertimbangkan rasa estetik yang dimiliki oleh pemain kendang. Banyak ditemukan pengendang yang hanya memiliki kemampuan memukul tanpa mempertimbangkan estetik dan pola tertentu yang diharapkan. 2) Ngipuk kalem ; adalah pola (pupuh) kendang tunggal yang memiliki pola kendang ngipuk dengan motif dan teknik pukulan tertentu. Pengembangan motif-motif pukulan kendang sangat terbatas, karena mengikuti pola-pola yang telah ada. Teknik kendang ngipuk kalem lebih menekankan pada kemantapan pukulan yang juga diimbangi dengan kekayaan motif yang dimiliki pemain kendang. Kemurnian dan kemantapan pukulan tanpa banyak improvisasi menjadi syarat utama untuk menyajikan pola kekendangan yang disebut ngipuk kalem. 3) Ngipuk monyer ; adalah pola (pupuh) kendang tunggal yang memiliki pola kendang ngipuk dengan motif dan teknik pukulan tertentu. Pengembangan dan improvisasi dari motif-motif pukulan kendang sangat mungkin dilakukan karena pola kekendangan ngipuk tidak semata-mata mengikuti pola-pola yang telah ada. Sebagai bentuk kekendangan tunggal, teknik ngipuk monyer lebih menekankan pada kekayaan motif yang dimiliki pemain kendang untuk menghasilkan suara kendang dan pukulan yang bervariasi. Tanpa dibekali dengan kekayaan motif, pemain kendang tidak dapat berkiprah lebih leluasa dalam mengembangkan kemampuannya sehingga berdampak terhadap penampilan yang kurang menarik dan kurang greget. b. Kendang Berpasangan Hal-hal yang harus diperhatikan sebagai pemain kendang berpasangan adalah kemampuan mengatur dan sebagai pengendali, ibaratnya sopir sebuah mobil. Sebagai pengendali, ke-dua pemain kendang harus mampu mengatur sesuai kepentingan repertoar, ketegasan dan konsistensi pengendang dipertaruhkan ketika memimpin penyajian dalam sebuah pertunjukan, pengaturan dinamika dan tempo menjadi tugas dan tanggung jawab masing-masing. Secara berpasangan jenis kendang dalam barungan Gong Kebyar dibedakan atas kendang gupekan, kendang cedugan dan kendang krumpungan yang masing-masing diperankan oleh pemain kendang lanang dan pemain kendang wadon. Kendang gupekan dan kendang krumpungan memiliki teknik permainan tanpa menggunakan alat pemukul (panggul), sedangkan kendang cedugan dimainkan dengan mempergunakan panggul atau dapat juga disebut kendang pepanggulan. Sebagai pemain kendang gupekan dan kendang krumpungan maupun kendang cedugan, memiliki tanggung jawab atas pasangan masing-masing dengan istilah sistem permainan sebagai berikut : 1) Pemain Kendang Lanang a) Tuntun marga ; pukulan pemain kendang lanang pada muka kendang lanang bagian kiri, dilakukan secara teratur mengimbangi setiap pukulan pemain kendang wadon pada muka kendang wadon bagian kiri. b) Tiba cara ; pukulan pemain kendang lanang pada muka kendang lanang bagian kanan, dilakukan secara teratur mengimbangi setiap pukulan pemain kendang wadon pada muka kendang wadon bagian kanan. 2) Pemain Kendang Wadon a) Pengaring ; pukulan yang dilakukan pemain kendang wadon pada muka kendang sebelah kiri, mengimbangi (nyandet) setiap pukulan pemain kendang lanang pada muka kendang lanang sebelah kiri. b) Cadang runtuh ; pukulan yang dilakukan pemain kendang wadon pada muka kendang sebelah kanan, mengimbangi (nyandet) setiap pukulan pemain kendang lanang pada muka kendang lanang sebelah kanan. 3) Jenis Pukulan Kendang Gupekan a) Gupekan pada ; pola jalinan yang seimbang antara pukulan pada muka kanan kendang lanang dengan pukulan pada muka kanan kendang wadon atau jalinan antara pukulan pada muka kiri kendang lanang dengan pukulan pada muka kiri kendang wadon. Artinya setiap pukulan pada ke-dua sisi kendang lanang selalu diberi respon dengan pukulan pada ke-dua sisi kendang wadon. Jenis pukulan masing-masing terangkum dalam suatu pola jalinan untuk menghasilkan keterpaduan yang harmonis. b) Milpil ; jalinan antara pukulan pada muka kiri kendang lanang dengan pukulan pada muka kiri kendang wadon atau pola jalinan yang terbatas antara keterpaduan pukulan pada muka kiri kendang lanang dengan pukulan pada muka kiri kendang wadon. Keterpaduan dan keharmonisan pola jalinan lebih mengutamakan permainan pada sisi kiri masing-masing kendang. c) Bebaturan ; pola jalinan antara pukulan pada muka kanan kendang lanang dengan pukulan pada muka kanan kendang wadon atau sebaliknya yang sepenuhnya tidak berjalan seimbang, kadang-kadang pukulan pada muka kiri kendang lanang tidak mendapat respon dari pukulan muka kiri kendang wadon untuk membuat pola jalinan, dalam hal ini berlaku sistem ngutang-nuduk atau nuduk-ngutang. Motif-motif pukulan mengarah kepada pola-pola tertentu yang dimainkan dalam tempo lambat dan sedang. d) Ngulun ; motif pukulan yang hanya dilakukan oleh pemain kendang lanang, yaitu pukulan beruntun pada muka kanan kendang lanang (sedikit ada improvisasi) tanpa perlu diimbangi dengan pukulan oleh pemain kendang wadon, hal ini disesuaikan dengan kebutuhan. 4) Jenis Pukulan Kendang Cedugan a) Batu-batu ; pukulan pada muka kanan kendang lanang atau wadon menggunakan panggul dengan pola tertentu bahkan ada improvisasi (sesuai kemampuan pemain kendang), mengimbangi atau nyandet setiap pukulan tangan kiri pemain kendang lanang atau pemian kendang wadon, atau sebaliknya. Jenis pukulan batu-batu dapat dilakukan oleh pemain kendang lanang atau pemain kendang wadon. b) Gegulet ; hampir sama dengan milpil (dalam kendang gupekan), hanya saja pola jalinan pukulan gegulet terjadi antara pukulan pada muka kanan kendang lanang dengan pukulan pada muka kanan kendang wadon atau pola jalinan yang terbatas antara keterpaduan pukulan pada muka kanan kendang lanang dengan pukulan pada muka kanan kendang wadon dengan lebih mengutamakan teknik penggunaan panggul. c) Jejagulan ; adalah teknik pukulan kendang yang sudah menjadi komitmen dari pemain kendang, dimana pola pukulan sudah dibakukan oleh pemain masing-masing sesuai kebutuhan penyajian. Pola jalinan terjadi antara pukulan pada muka kanan kendang lanang dengan pukulan pada muka kanan dan kiri kendang wadon, atau sebaliknya jalinan pukulan pada muka kiri kendang lanang dengan pukulan pada muka kanan dan kiri kendang wadon, bahkan sering terjadi pola jalinan zigzag. Setiap pasangan pemain kendang cedugan khususnya, kadang-kadang memiliki pola jejagulan tersendiri. Dengan teknik dan pola yang disajikan orang dapat mengukur tingkat kemampuan sebagai pemain kendang. 5) Jagrawiraga ; Jagrawiraga adalah posisi dan sikap duduk (tandang) sebagai pemain kendang, sebagai juru kendang bertanggung jawab terhadap teknik pengembangan, membuat variasi-variasi dan kemampuaan berimprovisasi sesuai repertoire tertentu yang menjadikan instrumen kendang sebagai pelengkap barungannya. 7. Kajar, Kemong atau Kempli, Kempul dan Gong. Kajar, kemong atau kempli, kempul dan gong adalah kelompok instrumen yang berfungsi sebagai pemangku irama, masing-masing instrumen tidak ada yang memiliki identitas pukulan yang khas, simtem permainannya selalu ajeg dan terkesan menoton mengikuti irama dan tempo gending. Kendatipun demikian, pada hal-hal tertentu kelompok instrumen ini berfungsi sebagai uger-uger (hukum tabuh) untuk menentukan ukuran nama tabuh. Ketika masing-masing instrumen ini dimainkan, satu dengan yang lainnya tidak ada pukulannya yang bertabrakan atau jatuhnya bersamaan. Secara musikal, kelompok instrumen pemangku irama ini tidak memiliki nada-nada yang pasti, nadanya dibuat dengan sistem nada antara dari urutan nada-nada instrumen yang dipilih dalam barungannya. Oleh karena itu, masing-masing instrumen telah memiliki warna nada tersendiri yang dapat ditafsirkan dengan suara-suara sebagai berikut : No. Nama Instrumen Penafsiran Suara 1. Kajar tuk 2. Kemong tong 3. Kempli pli 4. Kempur pur 5. Gong Lanang gir 6. Gong Wadon gur Tabel 6. Penafsiran Suara Instrumen Pemangku Irama a) Kajar ; Kajar adalah instrumen sebagai pemegang tempo gending, menentukan cepat-lambat tempo permainan ; perubahan tempo secara tiba-tiba dari cepat menjadi pelan, atau sebaliknya permainan tempo dari lambat secara perlahan-lahan menuju cepat. Kendatipun dengan pola permainan yang ajeg, semua pemain terfokus kepada permainan kajar karena kajar berfungsi sebagai pengendali tempo gending yang secara umum terdiri dari tempo cepat, sedang dan tempo yang lambat dengan teknik pukulan kajar yang khas disebut ngeremuncang rerames. b) Kempli atau Kemong ; Fungsi instrumen kempli dan kemong dalam barungan Gong Kebyar pada prinsipnya sama, yaitu mematok ruas-ruas kalimat gending untuk lebih memantapkan keseluruhan ritme yang dimainkan, hanya saja pemanfaatan ke-dua jenis instrumen ini ditentukan oleh kendang. Apabila dalam penyajiannya mempergunakan kendang gupekan maka kemong akan dipergunakan menggantikan posisi kempli, apabila kendang cedugan dipergunakan maka instrumen kempli akan menggantikan tugas-tugas instrumen kemong. Artinya ; kendang gupekan pasangannya kemong dan kendang cedugan pasangannya kempli. Kedua jenis alat ini memiliki istilah dalam teknik pemainan masing-masing, kemong memiliki istilah pukulan yang disebut tunjang sari (pembantu yang berguna), sedangkan kempli memiliki istilah pukulan yang disebut pepada lingga. c) Kempur ; Sebagai instrumen keluarga gong, kempur dan gong adalah dua jenis instrumen yang selalu berpasangan, baik dalam menempatkan posisinya ketika dimainkan bahkan karena kondisi penabuh, sering pemain kempur merangkap sebagai pemain gong. Hal ini sangat memungkinkan karena kedua jenis instrumen ini memiliki pola permainan yang saling berkaitan dan saling mengisi, kehadiran pukulan kempur selalu diikuti dan mengikuti pukulan gong, dan begitu pula sebaliknya. Sesuai tugas dan tangung jawabnya, instrumen kempur memiliki sistem permainan dan teknik pukulan yang disebut selah tunggul. d) Gong ; Sebagai sebuah barungan yang lengkap, Gong Kebyar umumnya mempergunakan dua buah gong, yaitu gong lanang dan wadon. Gong lanang ; ukurannya lebih kecil, suaranya lebih tinggi dan getaran suaranya dibuat lebih cepat, sedangkan gong wadon ; ukurannya lebih besar, suaranya lebih rendah dan getaran suaranya dibuat agak lambat. Sebagai instrumen yang berpasangan, gong lanang dan gong wadon dimainkan secara bergantian, bermain imbal dengan kempur dan kempli, serta dalam tugasnya baik gong lanang maupun gong wadon dapat berfungsi sebagai finalis. Sesuai dengan tugas dan fungsinya instrumen gong memiliki sistem permainan dan teknik pukulan yang disebut purwa tangi. Dalam penyajian komposisi tertentu (sebagai contoh dalam penyajian gending-gending pagongan), pukulan kempli, kempur dan gong dipergunakan sebagai pedoman untuk menentukan hukum (uger-uger tabuh), seperti menentukan pola gilak dan ukuran nama tabuh seperti tabuh telu, tabuh dua, tabuh pat dan seterusnya. – – + – + – Contoh pola gilak : [ . . . (.) . . . (.) ] 8. Bende, Cengceng Gecek dan Cengceng Kopyak Sebagai kelompok instrumen pengisi irama, bende, cengceng gecek dan cengceng kopyak sama dengan kelompok instrumen pemangku irama tidak memiliki nada-nada yang pasti, oleh karena itu masing-masing instrumen telah memiliki warna nada tersendiri yang dapat ditafsirkan dengan suara-suara sebagai berikut : No. Nama Instrumen Penafsiran Suara 1. Bende teng 2. Cengceng Gecek kê-cêk 3. Cengceng Kopyak cêk Tabel 7. Penafsiran Suara Instrumen Pengisi Irama a) Bende ; Sebagai instrumen yang termasuk keluarga gong, instrumen bende memiliki teknik permainan secara ajeg dengan pola tersendiri, dimainkan secara imbal dengan pukulan kempli, kempur dang gong yang berfungsi memperkaya dan memperjelas tempo gending. Pada umumnya bende dimainkan apabila penyajian gending mempergunakan kendang cedugan (kendang yang dimainkan dengan panggul) dengan teknik permainan yang menjadi identitas pukulannya disebut kentongan. Pola umum permainan bende yang dikenal adalah : [ t t . t t . t t . t . t (.) ] b) Cengceng Gecek ; Sebagai instrumen yang dibunyikan dengan cara memukulkan lempengan berbentuk lingkaran pada lempengan yang lainnya, cengceng gecek mengenal istilah pukulan yang disebut nyeceh, ngajet dan ngelumbar. Sedangkan sikap atau tandang sebagai pemain cengceng terkait dengan fungsi yang dimainkan disebut edan ngulangun (seperti orang gila yang termenung). (1) Nyeceh ; adalah teknik permainan dengan perantaraan dua buah lempengan yang berfungsi sebagai alat pukul, dimainkan oleh ke-dua tangan secara bergantian antara tangan kanan dan kiri, memukul dan menutup langsung mengikuti tempo permainan. (2) Ngajet ; hampir sama dengan nyeceh, hanya saja penekanannya lebih tefokus pada fungsi, dimana cengceng mengikuti dan bersama-sama kendang bertugas membuat angsel-angsel dan variasi tertentu sesuai kebutuhan, dalam hal ini sangat diperlukan kecermatan sebagai pemain cengceng. (3) Ngelumbar ; masih berpijak pada tehnik pukulan nyeceh, hanya saja sistem tutupan tidak dilakukan secara penuh, teknik permainan dilakukan dengan jalan menggetarkan kedua tangan sehingga ada peluang bagi pemain cengceng untuk berimprovisasi. c) Cengceng Kopyak ; Cengceng kopyak memainkan motif ritme dengan pola jalinan untuk membuat pola ritme menjadi lebih variatif. Teknik permainannya mengadopsi teknik permainan cengceng kopyak dalam Balaganjur yang kaya akan ornamentasi ritme untuk mendukung suasana-suasana yang penuh bersemangat. Pola jalinan cengceng kopyak dalam Gong Kebyar pada umumnya adalah dengan pola ritme yang bervariasi dari pukulan besik atau negteg, pukulan telu (tiga) dan enam (enam), dimana masing-masing terdiri dari pukulan polos (sejalan dengan mat) dan sangsih (di sela-sela mat). Contoh pola pukulan : 1) pukulan besik : [ . c . c . c (.)c ] 2) pukulan telu : [ c c . c c c (.)c ] 3) pukulan lima : [. c c c . c (.)c ] 4) pukulan enem : [. c c c c (c)c ] 5) pukulan pitu : [ c c c c c c (c) ] 9. Suling dan Rebab a) Suling ; Suling Gong Kebyar atau disebut suling pagongan dapat dikategorikan sebagai suling yang sudah umum dikenal oleh lapisan masyarakat, karena asumsi orang kalau sudah menyebut pagongan secara tidak langsung mengarah kepada barungan Gong Kebyar sebagai barungan yang mudah dipelajari dan telah dimiliki oleh hampir sebagian besar banjar dan desa adat di Bali. Selain Gong Kebyar ada juga barungan lain yang mempergunakan suling pagongan sebagai pelengkap barungannya, seperti ; Palegongan, Bebarongan, Semara Pagulingan termasuk Semara Pagulingan Sasih Pitu. Jenis suling yang dipakai untuk melengkapi jenis barungan tersebut memiliki standar nada yang tidak sama, sehingga perbedaan atau perubahan tetekep selalu menyesuaikan nada-nada dari suatu barungan dan kebutuhan gending yang disajikan. Photo 11. Tunjang arip ; sikap pemain suling (kecil dan menengah) Suling Pagongan mengenal tiga jenis ukuran, yaitu : ukuran kecil, ukuran menengah dan ukuran besar. Ke-tiga jenis ukuran itu memakai standar dari nada gamelan yang ada. 1) Ukuran kecil dengan sistem tutupan (tetekep ndong) memakai standar nada kantil. 2) Ukuran menengah dengan sistem tutupan (tetekep ndang) memakai standar nada pemade. 3) Ukuran besar dengan sistem tutupan (tetekep ndong) memakai standar nada giying atau ugal. Sedangkan, sikap dalam memainkan suling disebut tunjang arip (orang mengantuk memakai tumpu). b) Rebab ; Sesungguhnya rebab bukan sebagai pelengkap dari barungan Gong Kebyar, akan tetapi perkembangan kreativitas dalam karawitan Bali yang lebih mengutamakan “kualitas secara musikalitas merupakan suatu keharusan menghadirkan rebab. Rebab mampu memberi warna yang baru dalam melengkapi penyajian dari barungan tertentu, dan berfungsi memperindah bagian-bagian lagu yang lirih, memperseru suasana serta pada saat tertentu berfungsi menambah kesan sesuai suasana gending yang diinginkan. Pada umumnya ada tiga jenis tutupan yang dimainkan rebab ketika melengkapi penyajian gending-gending Gong Kebyar, yaitu : tutupan selisir, tembung dan sundaren. Sikap sebagai pemain dalam memainkan dan memfungsikan rebab disebut dengan istilah buta ngawa sari. Photo 12. Buta ngawa sari ; sikap pemain rebab