KEISTIMEWAAN BARUNGAN GAMELAN SEMARA DHANA DENGAN BARUNGAN YANG LAIN

Maret 27th, 2012

A. Asal – Usul Lahirnya Gamelan Smara Dhana dalam karawitan Bali

            Gamelan Smara Dhana adalah merupakan seperangkat barungan baru yang mana bentuknya hampir sama dengan gamelan gong kebyar, tetapi warna suara dan jumlah bilahnya berbeda. Gong Kebyar mempergunakan laras pelog 5 nada, sedangkan Smara Dhana, satu oktaf mempergunakan laras pelog 5 nada, dan satu oktaf lagi mempergunakan laras pelog 7 nada yang sama dengan gamelan Semara Pagulingan. Gamelan Smara Dhana ini muncul pertama kali di desa Ubud Gianyar yaitu bertempat di Puri Saren Ubud pada tahun 1988. Gamelan ini diciptakan oleh Bapak Wayan Beratha seorang seniman asal Denpasar. Menurutnya gamelan ini dibuat berdasarkan ide yang bersumber dari pengalaman di dalam penggarapan sendratari yang mulai dari Pesta Kesenian Bali yang pertama tahun 1979. Pada waktu itu sipentaskan sendratari SMKI dengan mempergunakan cerita Mahabrata yang mengambil judul “Sayembara Dewi Ambara”, iringannya memakai 2 jenis barungan gamelan yaitu gamelan gong gede dan semar pegulingan. Bentuk garapan seperti ini dipentaskan setiap tahun sekali, dengan demikian dari tahun ke-tahun, cerita-cerita yang dipergunakan  sebagai garapan sendratari semakin berkembang dan bertambah unik dengan berbagai bentuk adegan, otomatis iringannyapun bertambah dari 2 barungan gamelan menjadi 3 barungan. Melihat dari pengalaman tersebut di atasa, untuk menghemat tenaga maka timbul ide dari Bapak Wayan Beratha untuk membuat satu jenis barungan gamelan lagi yang diberi nama Gong Smara Dhana. Pemberian nama ini tidak bersumber pada salah satu buku, lontar atau prasasti, melainkan timbul dari hati nuraninya sendiri.

B. Arti Kata Smara Dhana dalam Karawitan Bali

Smara Dhana merupakan istilah yang banyak dipinjam dalam dunia karawitan, khususnya karawitan Bali. Secara umum karawitan dibedakan atas karawitan vokal dan karawitan instrumental. Karawitan vokal yang dimaksud adalah salah satu bentuk keseniaan yang mempergunakan suara manusia sebagi media ungkap, di Bali dikenal dengan sebutan “Tembang”. Lebih lanjut dijelaskan, tembang adalah seni suara yang diwujudkan melalui seni suara manusia, dan perwujudan ini merupakan suatu pernyataan keindahan melalui suara. Tembang pada hakekatnya adalah jalinan antara melodi, cengkok, wilet dan gregel dalam bentuk seni duara yang mempergunakan laras selendro maupun pelog. (Bandem, 1983:57). Smara Dhana dalam kaitannya dengan karawitan vokal merupakan salah satu jenis dari bentuk tembang macapat yang lazim digunakan untuk adegan suasana sedih khususnya dalam pertunjukan tari arja. Demikian juga dalam karawitan instrumental, sebelum barungan gamelan Smara Dhana dibuat, di dalam lagu-lagu lelambatan klasik pegongan yang menggunakan instrument barungan Gong Kebyar maupun Gong Gede, terdapat juga jenis lagu yang sudah ada yang diberi nama Smara Dhana yaitu digolongan ke dalam lelambatan Tabuh Pat yang komposernya bersifat anonym. Selain itu juga kata Smara Dhana juga merupakan salah satu bentuk dan jenis tari legong yang diambil dari kakawin “Smaradahana”, mengisahkan kemurkaan (kemarahan) Siwa, karena Batara Kamajaya dan Batari Ratih berthasil menggoda dan menggoyahkan tapaNya dengan panah “Panca Wiyasa”, tatkala sorga kedatangan musuh raksasa yang bernama Nilaruraka. Saking marahnya Batara Siwa, lalu Batara Kamajaya dan Batari Ratih dibunuh dan dikutuk agar Batara Kamajaya menjelma pada setiap orang laki, dan Batari Ratih pada setiap orang perempuan. (Poerbatjaraka, 1957:20-21). Menurut Bapak I Wayan Baratha, kata Smara Dhana dipilah menjadi “Semara dan Dhana”. Semara berarti suara, sedangkan Dhana berarti kaya. Jadi kata Smara Dhana dapat diartikan “kaya akan suara.

C. Keistimewaan Barungan Smara Dhana dengan Barungan yang lain

Keragaman suara yang dimiliki merupakan keistimewaan dan kelebihan gamelan Smara Dhana dibandingkan dengan barungan yang lainnya. Di samping itu juga dengan adanya gamelan Smara Dhana ini dapat pula membuktikan bahwa gamelan kita mampu bersifat “polyphonic” yang menurut ahli Barat lazim di golongkan ke dalam musik “polyritmic” dengan kekayaan ekspresi, dinamika serta temponya.  Smara Dhana yang berarti kaya akan suara, dimaksudkan bahwa gamelan Smara Dhana memiliki 12 rangkian nada-nada meliputi:

1. Pelog tujuh (7) nada sebagai oktaf ; dong,deng,deung,dung,dang,daing,ding

2. Pelog lima nada ; dong,deng,dung,dang,ding

Dari rangkaian pelog tujuh (7) nada yang dimiliki kemudian timbulah sebuah patet atau patutan. Adapun jenis-jenis patutan yang berhubungan dengan tujuh (7) nada skala, salah satunya dalam gamelan Smara Dhana adalah sebagai berikut:

1. Selisir                        123-56-

2. Selendro Gde          -234-67

3. Baro                          1-345-7

4.Tembung                  12-456-

5. Sunaren                   -23-567

6. Pengenter alit          1-34-67

7. Pengenter                12-45-7

8. Lebeng                    1234567

Di Jawa patet selisir disamakan dengan patet nem, patet tembung disamakan dengan patet limo dan patet sundaren disamakan dengan patet barang. Dengan patet-patet yang ada akan dapat memberi fungsi baru terhadap keberadaan barungan gamelan ini. Dari segi teknik lebih bebas untuk digarap sesuai dengan tujuan penggarapan. Gamelan Smara Dhana dapat pula melahirkan suasana laras yang berbeda, dari laras pelog ke laras selendro atau sebaliknya. Melalui permainan modulasi dari suatu patet ke patet yang lain, atau ungkapan yang berbeda –beda. Dengan demikian gamelan Smara Dhana cukup menarik, sangat lembut, manis dan romantis, cukup potensial untuk digarap sebagai karawitan tari maupun kerawitan instrumental.Smara Dhana yang berarti kaya akan suara dalam melahirkan ciptaan gending dirasakan lebih dinamis dan beraneka jenis warna suara yang dihasilkan, sehingga sangat relevan dengan pemberian nama tersebut. Lain daripada itu kaya akan suara yang dimaksudkan, bahwa Smara Dhana dapat memainkan repertoar gending-gending Pagambuhan, Palegongan, Semar Pagulingan, Gong Gede, Angklung, Gong Kebyar dan lain-lain. Dengan demikian dapatlah dikatakan, bahwa Smara Dhana merupakan ensambel baru yang bersifat “multi-fungsi”, karena barungan ini dapat mewakili berbagai jenis barungan yang ada.Pembaharuan Nampak sebagai sesuatu acuan dengan perhitungan yang masak. Terbilang memperkaya sesuatu kebiasaan berkarya yang sudah tergaris dalam masa yang cukup panjang yang nanti akan dapat memperkaya rasa musical. Lebih jauh lagi, Smara Dhana yang berarti kaya akan suara, bahwa gamelan ini meskipun barungan baru, dapat difungsikan dalam berbagai bentuk kegiatan, baik menyangkut masalah ada, keagamaan, demontrasi, maupun hanya sebagai pelengkap acara ramah tamah kenegaraan. Dalam acara uang bersifat keagamaan gamelan inipun difungsikan , baik sebagai karawitan instrumental (tabuh petegak) maupun karawitan iringan tari yang di suguhkan pada puncak acara (karya). Dalam perkembangannya, gamelan Smara Dhana tentu dapat menunjukkan identitasnya baik dalam lingkungan masyarakat Bali maupun luar Bali. Dalam era ini, nampaknya gamelan Smara Dhana berkembang semakin pesat.

D. Jenis – Jenis Instrument yang  Terdapat pada Gamelan Smara Dhana

Instrument dari gamelan Smara Dhana ini tidak jauh berbeda dengan gamelan Gong Kebyar. Ditinjau dari kelengkapan barungannya gamelan Smara Dhana memiliki 19 jenis bentuk instrument. Diantaranya:

  • 2 tungguh jegogan, yang jumlah bilah daunnya satu tungguh tujuh
  • 2 tungguh juglag, yang jumlah bilah daunnya satu tungguh tujuh
  • 2 tungguh penyacah, yang jumlah bilah daunnya satu tungguh juga tujuh
  • 2 tungguh ugal, yang jumlah bilah daunnya satu tungguh dua belas
  • 4 tungguh pemade, yang jumlah bilah daunnya satu tungguh dua belas
  • 4 tungguh kantilan, yang jumlah bilah daunnya satu tungguh dua belas
  • 1 tungguh reong, yang jumlah pencolnya tujuh belas atau lima belas
  • 1 tungguh trompong, yang jumlah pencolnya empat belas atau sepuluh
  • 1 pasang gong lanang wadon
  • 1 pasang kendang lanang wadon
  • 1 kempur
  • 1 bende
  • 1 kemong
  • 1kempli
  • 1 kajar
  • 1 tungguh cengceng ricik
  • Suling kurang lebih berjumlah 6
  • 1 buah rebab atau lebih
  • Beberapa cengceng kopyak (jika diperlukan)

E. Contoh Lagu yang Memang Murni Lahir dari Gamelan Smara Dhana

  • Gregel karya Dewa Ketut Alit
  • Pengastungkara sebuah musik iringan tari karya Dewa Ketut Alit
  • Puser Belah karya Michael Tenzer
  • Navadasa karya I Wayan Sudirana
  • Water 7 karya I wayan Gede Yudana
  • Check This Out karya Paddy Sandino
  • Breace Your Self Wayan karya Pete Stele
  • Canang Sari karya Colin Mc Donald
  • Lemayung karya Dewa Putu Beratha

Sumber :

Dibia, SST. I Wayan, 1978. Pengantar Karawitan Bali. Proyek Peningkatan/Pengembangan ASTI Denpasar 1977/1978

Bandem, Dr. I Made, 1983. Mengenal Gamelan Bali. Dibiayai dan dicetak oleh : Proyek Penggalian, Pembinaan, Pengembangan Seni Klasik/Tradisional dan Kesenian Baru Pemerintah Daerah Tingkat I Bali, 1983.

Tenzer, Michael, 2007. Gamelan Gong Kebyar: Seni Musik Bali Abad Ke-duapuluh. Chicago: University of Chigago Press.

Bandem, Prof. Dr. I Made, 1992. Eksistensi Gamelan Smara Dhana Dalam Karawitan Bali. STSI Denpasar ; 1992.

Aryasa, B.A. I Wayan Madra, 1877. Perkembangan Seni Karawitan. Denpasar ; Proyek Sasana Budaya Bali, 1976/1977.

Leave a Reply