Biografi Seniman Dewa Ketut Alit

Oktober 8th, 2012

Dewa Alit lahir pada tanggal 17 Mei 1973 dari keluarga seniman di desa Pengosekan, Bali. Bagi saya, beliau adalah seorang komponis yang mempunyai pikiran yang sangat radikal. Beliau juga merupakan salah satu komponnis yang bisa membuka pikiran saya. Bahkan bukan juga untuk saya. Bagi saya beliau juga seorang pahlawan yang membuka pola pikir musik gamelan Bali di mata dunia. Ada banyak pelajaran yang bisa saya dapat dari beliau.

Dewa Ketut Alit direndam dalam gamelan Bali dari anak usia dini. Ayahnya Dewa Nyoman Sura dan saudara tertuanya Dewa Putu Berata adalah guru yang paling berpengaruh dalam hidupnya. Beliau merupakan spesialisasi pemain ugal (Concertmaster) yang pertama kali tampil pada usia 11 tahun dengan kelompok gamelannya yang bernama Sekha Gong Tunas Mekar Pengosekan. Pada tahun 1988-1995 beliau menjabat sebagai salah satu anggota pendiri Gamelan Semara Ratih yang diakui dunia internasional dari desa Ubud. Adapun tur yang dilakukan adalah tur Jepang pada tahun 1993 dan Denmark pada tahun 1994.

Pada tahun 1997, setahun sebelum lulus dari Academy of Performing Arts di Indonesia Denpasar (STSI Denpasar), Dewa Alit dan saudara-saudaranya mendirikan Sanggar Seni Çudamani. Dari keahlian dan inovasi artistik kelompok menyebabkan mereka menjulang tinggi secara Internasional dan melakukan beberapa tur, yaitu diantaranya (AS 2002, Yunani 2003 dan Jepang 2005). Komposisi-komposisi pada saat itu yang ditampilkan adalah karya-karya komposisi Dewa Alit. Beliau juga merupakan sutradara dari kelompok gamelan anak-anak Çudamani. Beliau memimpin mereka ke tempat pertama dalam Festival Gong Kebyar Anak-Anak di Bali pada bulan Mei tahun 2000, serta mengantarkan ke tempat pertama dalam Festival Musik Tradisional Nasional untuk Anak-Anak di Jakarta pada bulan September tahun yang sama.

Dewa Alit umumnya diakui sebagai komposer terkemuka di Bali. Karyanya “Geregel” (2000) adalah karya yang sangat berpengaruh untuk musik gamelan, baik di Bali dan luar negeri, serta karya tersebut merupakan subyek dari analisis 50 halaman dalam “Perspektif tentang New Music”.Disamping itu juga beliau membuat karya yang berjudul “Semara Wisaya” yang dilakukan di New York Carnegie pada tahun 2004 dan komposisi yang lain pula berjudul “Pelog Slendro” muncul di Bang pada Marathon pada bulan Juni 2006.

Beliau sering diundang untuk mengajar dan menulis tentang gamelan di luar Bali, yang meliputi Gamelan Gita Asmara di University of British Colombia, Kanada, Gamelan Galak Tika di Massachusetts Institute of Technology, Helena College di Perth, Australia dan Gamelan SingaMurti di Singapura.

Sebagai kolaborator, Dewa Alit telah bekerja dengan musisi dan penari dari seluruh dunia, yaitu sebagai komposer, musik direktur dan pemain. Karya ini menggunakan instrument Bali dan instrumnent barat, dikolaborasikan juga dengan tarian opera dengan perusahaan tarian Tiongkok di Bali Arts Festival pada tahun 2001, produksi teater kontemporer “Buddha 12” disutradarai oleh Alicia Arata Kitamura (Teater Annees Folles) di Tokyo pada tahun 2007 dan kolaborasi dengan seorang penari Butoh Jepang Ko Murobushi di Asia Tri Festival Jogya, Jogyakarta, pada tahun 2008. Dewa Alit telah menjabat sebagai gamelan master untuk Evan Ziporyn opera baru “A House in Bali,” yang melakukan premier di Bali dan di pertunjukan di Cal, USA, pada tahun 2009, serta Boston dan New York pada bulan Oktober 2010. Kekasih avid jazz, ia juga berpartisipasi dalam sesi selai dengan musisi di Denpasar, Tokyo, Boston, dan Vancouver.

Kemauan untuk mencari jalan yang lebih luas untuk mengekspresikan pendekatan untuk musik baru di gamalen, Dewa Alit mendirikan kelompok sendiri gamelan pada tahun 2007, yaitu di beri nama Gamelan Salukat. Gamelan ini merupakan satu set barungan baru yang di tuning dan di desain oleh Dewa Alit sendiri.

Demikianlah biografi tentang Dewa Ketut Alit yang merupakan seorang komponis muda terkemuka di dunia untuk musik gamelan. Apabila ada kesalahan atau hal yang tidak berkenan, saya meminta maaf sebesar – besarnya. Sekian dan terima kasih.

Leave a Reply