Nov
08
2012
0

Sejarah dan Perkembangan Gamelan Gong Kebyar di Banjar Tengah Kerambitan-Tabanan

Sejarah dan Perkembangan Gamelan Gong Kebyar di Banjar Tengah Kerambitan-Tabanan

 

Gamelan di Bali sangatlah populer, khususnya gamelan gong kebyar yang muncul pada permulaan abad ke-XX, pertama kali diperkirakan muncul di daerah Bali Utara tepatnya sekitar tahun 1915 di Desa Jagaraga. Gong Kebyar sangatlah pleksibel dan mudah di pelajari oleh semua orang. Gong Kebyar juga mudah di jumpai, baik di banjar – banjar hingga ke-Kota yang terdapat di Pulau Bali bahkan sampai keluar Negeri. Sampai saat ini, Gong Kebyar di Bali berkembang sangat pesat, dan penggemarnya yaitu dari anak-anak, dewasa, orang tua, hingga digemari oleh kaum wanita yaitu Ibu PKK. Gong Kebyar di masing-masing daerah juga mempunyai karakter / ciri khas tertentu. Cirinya dapat dibedakan yaitu pada pola gending dan pukulan kendangnya. Sehingga Gong Kebyar di Bali dapat dikatakan sangat unik dan indah.

 

Perkembangan Gong Kebyar di Banjar Tengah Kerambitan sangatlah penting dan menarik untuk diteliti bagi saya sendiri, karena saya sebagai penerus khususnya didalam berkesenian di Bali khususnya di Banjar Tengah Kerambitan, ingin mengetahui bagaimana sejarah dan perkembangan gong kebyar di  Banjar saya sendiri supaya kelak dikemudian hari kita bisa memaparkannya kepada anak cucu kita tentang seluk beluk pada Gamelan Gong Kebyar yang ada di Banjar Tengah Kerambitan. Dulu di Banjar Tengah hanya mempunyai satu Barungan Gong Kebyar saja. Terampa dalam gamelan tersebut sangatlah sederhana, yaitu belum adanya unsur ukiran. Dari tahun ke tahun, akhirnya terampa dalam barungan ini di ganti oleh terampa yang di ukir bergambar tokoh-tokoh pewayangan dan diberi cat prada.    Para Sesepuh atau Pengelingsir kita dulu pasti mempunyai alasan tertentu tentang seluk beluk pada Barungan Gong Kebyar di Banjar Tengah, karena yang saya lihat, dalam barungan ini memiliki ciri khas tersendiri seperti:

 

  • Pada instrumen reong terdapat 13 buah pencon, yaitu pada pencon yang paling kecil bernada dang. Sedangkan didearah-daerah lainnya, yang saya lihat pada instrumen reongnya adalah berjumlah 12 pencon saja. Alasan instrumen reong di banjar tengah menggunakan 13 pencon yaitu, karena di Banjar Tengah mempunyai sebuah ciri khas tertentu,yaitu tabuh-tabuh Petegak Petopengan Kuno. Disini para pemain instrumen reong memerlukan lima orang pemain, yaitu pada pemain yang mendapat posisi di paling ujung kiri yang disebutkan dalam istilah Balinya yaitu di bongkol, adalah bertugas sebagai pembawa lagu, yaitu teknik permainnya seperti pong-gang, dan pemain reong yang lagi empat bertugas untuk menghiasi sebuah lagu tersebut. Teknik mainnya yaitu, satu orang mendapat dua bagian pencon yaitu, nada dong rendah dan nada deng rendah, sedangkan pemain satunya lagi mendapat dua bagian pencon juga yaitu, nada dung rendah dan nada dang rendah. Begitu juga dengan nada pencon yang lebih tinggi, tekniknya sama dengan teknik pada pencon yang nadanya l ebih rendah. Di pencon yang paling besar, tepatnya pada nada deng, sengaja tidak di gunakan karena nada pong-gang seperti biasanya hanya memakai dua nada saja yaitu, nada dung dan nada dang. Pada pencon yang bernada ding, baik nada ding rendah maupun ding tinggi juga sengaja tidak digunakan, nada-nada yang digunakan pada instrumen reong di tabuh petegak petopengan ini menggunakan nada seperti nada dong,deng,dung, dan nada dang. Adapun photo dalam memainkan reong tersebut adalah sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Dilihat dari instrumen gangsa. Yang saya lihat pada don gangsa pengumbang terdapat 11 bilah, yaitu dengan tambahan nada ding rendah. Biasanya gangsa dalam barungan gong kebyar yang lainnya, pada instrumen gangsanya, don-nya hanya terdapat sepuluh bilah saja.

 

  • Pada instrumen penyahcah dalam brungan ini memiliki lima buah don saja yaitu, yang bernada (ding,dong,deng,dung,dang).

 

Gamelan ini di sakralkan oleh banjar hingga sampai sekarang. Kemudian pada tahun 2002 yang lalu, Banjar Tengah membeli satu barung gamelan Gong Kebyar lagi dengan terampa yang berukir dan yang diberi cat prada. Adapun perbedaan barungan Gong Kebyar yang lama dangan barungan Gong Kebyar yang baru adalah sebagai berikut:

 

  • Pada barungan Gong kebyar yang lama, pada instrumen gangsa pengumbang, mempunyai 11 bilah don gamelan, sedangkan pada barungan Gong kebyar yang baru, bilah don pada instrumen gangsa baik itu gangsa pengumbang atau pengisep, berjumlah sama yaitu sepuluh bilah.

 

  • Pada instrumen penyahcah yang mulanya berjumlah lima nada  pada barungan Gong kebyar yang lama, kini jumlahnya menjadi tujuh nada dengan tambahan nada yaitu, nada dang rendah dan nada dung rendah.

 

  • Pada instrumen reong, penconnya sama yaitu berjumlah 13 pencon, namun keduanya hanya memiliki perbedaan sedikit yaitu, pada motif ukirannya saja. Dan pada barungan Gong Kebyar yang lama memiliki dua buah gender rambat, tetapi pada barungan Gong Kebyar yang baru tidak membeli instumen gender rambat lagi.

 

“Taruna Patria”, itulah nama Organisasi Sekeha yang ada di Banjar Tengah. Begitu juga dengan “Putra Jaya” adalah nama dari sekeha gong anak-anak yang ada di Banjar Tengah. Tidak kalah menariknya, Banjar Tengah juga mempunyai sekeha Ibu PKK yang bernama “Swanita  Jayani”. Disini Sekeha Gong Taruna Patria juga memiki prestasi yaitu :

  • Sekeha Gong Taruna Patria juga pernah mengikuti sebuah event/pagelaran kesenian, yaitu ke Istana Negara Presiden Republik Indonesia  yang bertempat di Jakarta. Pagelaran ini dilakukan sebanyak tiga kali dalam tiga tahun berturut-turut. Pada saat itu, Presiden Republik Indonesia dipimpin oleh Presiden Soekarno. Adapun beberapa gending yang dibawakan oleh Sekeha Gong Taruna Patria adalah sebagai berikut :

 

 

  1. Tari truna Jaya
  2. Tari Oleg Tamulilingan
  3. Tari Wiranata
  4. Tari Kebyar duduk
  5. Tari Tani

 

  • Selain itu, pada sekitar tahun 1970, Sekeha Gong Taruna Patria juga mendapat panggilan dari Presiden Republik Indonesia untuk mengikuti pagelaran di Istana Tampak Siring sebanyak lima kali, dan pada sekitar tahun 80-an, Sekeha Gong Taruna Patria juga pernah mengikuti festival Topeng di Kota Singaraja, dan festival Gong Kebyar Dewasa pada tahun 1992 dan pada tahun 1993. Kemudian pada tahun 2009 yang lalu, Sekeha Gong Taruna Patria juga pernah ikut dalam Pesta Kesenian Bali yang ke-XXXI yaitu pada Parade Gong Kebyar Dewasa yang bertempat di Art Centre tepatnya berada di Ardha Candra Denpasar. Begitu juga dengan Putra Jaya. Sekeha ini juga ikut dalam Pesta Kesenian Bali yang ke- XXXIII yaitu pada Parade Gong Kebyar Anak-Anak yang juga bertempat di Art Centre tepatnya berada di Ardha Candra Denpasar.

 

Adapun photo-photo tentang Barungan Gong Kebyar yang ada di Banjar Tengah Kerambitan-Tabanan adalah sebagai berikut :

 

 

        

 

 

 

 

 

 

Narasumber : I Made Satra

Written by in: Tak Berkategori |
Okt
24
2012
0

Biografi seniman alam I Made Satra

I Made Satra

 I Made Satra lahir pada tanggal 17 Juli 1946 yang merupakan anak kedua dari pasangan I Made Dugdug dan Ni Ketut Kunyit. Profesi kedua orang tua beliau yaitu Bapak beliau ialah seorang petani dan Ibunya bekerja sebagai seorang ibu rumah tangga. I Made Satra sekeluarga mempunyai tempat tinggal yang sederhana yang berada di Dusun Tengah Kawan Kerambitan -Tabanan.  Bli Satra adalah nama panggilan beliau dalam kehidupan sehari-hari, yang mempunyai profesi sebagai seorang petani. Bli Satra mulai mengenal gamelan sejak kelas lima SD yaitu tepatnya di Sekolah Dasar No 2 Baturiti Kerambitan-Tabanan. Beliau berpendidikan sampai tamat sekolah dasar saja, sedangkan istri beliau yang bernama Ni Wayan Mundri hanya berpendidikan sampai kelas empat SD saja, dan beliau lebih memilih untuk menjadi seorang petani.  Pada saat Bli Satra menginjak kelas enam SD, beliau sudah pernah mendapat pengalaman untuk mengajar menabuh yaitu melatih Gong Kebyar di daerah Sanggulan-Tabanan. Sempat pula pada usia yang ke-30an, beliau juga pernah mengajar Gong Lelambatan di Banjar Samsam Kerambitan-Tabanan, dan juga mengajar Gong Kebyar di Banjar Pekandelan, Desa Kerambitan-Tabanan.

Pada tahun 1958, Bli Satra ikut dalam sekeha yang bernama Sekeha Gong Taruna Patria yang bertempat di Banjar Tengah Kerambitan. Bli satra adalah seorang seniman yang rajin dan memiliki sikap disiplin yang tinggi. Dari masa anak-anak pada tahun 1946, yang bisa dikatakan masa-masa yang memiliki sikap ingin tahu yang tinggi, Bli Satra tidak menyia-nyiakan waktunya dalam belajar menabuh yang benar maupun pelajaran lainnya. Sekitar tahun 1968-an, yaitu pada masa jayanya Sekeha Gong Taruna Patria, Bli satra pernah mengikuti sebuah event/pagelaran kesenian, yaitu ke Istana Negara Presiden Republik Indonesia  yang bertempat di Jakarta. Bliau mengikuti pagelaran ini sebanyak tiga kali dalam tiga tahun berturut-turut. Pada saat itu, Presiden Republik Indonesia dipimpin oleh Presiden Soekarno. Adapun beberapa gending yang dibawakan oleh Sekeha Gong Taruna Patria adalah sebagai berikut:

  1. Tari truna Jaya
  2. Tari Oleg Tamulilingan
  3. Tari Wiranata
  4. Tari Kebyar duduk
  5. Tari Tani

Selain itu, pada sekitar tahun 1970, Sekeha Gong Taruna Patria juga mendapat panggilan dari Presiden Republik Indonesia untuk mengikuti pagelaran di Istana Tampak Siring sebanyak lima kali, dan pada sekitar tahun 80-an, Bli Satra juga pernah mengikuti festival Topeng di Kota Singaraja,  festival Gong Kebyar Dewasa pada tahun 1992 dan pada tahun 1993 bersama Sekeha Gong Taruna Patria. Dari masa anak-anak, masa jayanya Sekeha Gong Taruna Patria, sampai masa tua beliau yang pada saat itu berusia 65 tahun, yaitu pada tahun 2011 yang lalu, akhirnya Bli Satra sudah tidak bisa melanjutkan lagi dalam kegiatan organisasi di Sekeha Gong Taruna Patria, karena sudah lanjut usia dan tidak mampu lagi untuk menangkap sebuah lagu –lagu yang baru seperti pada masa-masa sekarang. Bliau juga mendapat penghargaan yaitu seniman tua oleh PEMKAB Tabanan.

 

Written by in: Tak Berkategori |
Mei
29
2012
0

TARI KANYAKA SURA

Tari Kreasi Kanyaka Sura

 

YouTube Preview Image

 

 

 

Tari ini dibawakan oleh Duta Kabupaten Gianyar pada tahun 2009 dalam rangka Parade Gong Kebyar Dewasa se-Bali.

Adapun komentar dari video ini adalah:

 

Pada detik ke 00.06, pukulan instrument jegogan jatuhnya tidak bersamaan.

Pada detik ke 00.09, pukulan ceng ceng ricik jatuhnya agak lambat.

Penampilan pada Gerong baik sekali, Saran saya lebih baik lagi jika ditambahkan suara vokal dari Penabuh.

Tabuh iringan tari ini dibina oleh I Wayan Darya.S,sn.

Sedangkan Pembina Tari dalam garapan ini adalah Cok Padmini.

Demikian dari komentar saya, apabila kurang berkenan di hati, saya mohon maaf.

Sekian dari saya, TERIMA KASIH.

 

Written by in: Tak Berkategori |
Apr
02
2012
0

GENDER WAYANG


Gender Wayang merupakan alat musik Bali yang tergolong dalam gamelan tua. Gender wayang memiliki 10 bilah yang berlaras slendro. Tungguhan ini di beri nama gender wayang mungkin karena digunakannya tungguhan tersebut untuk mengiringi pertunjukan wayang, yaitu wayang wong dan wayang kulit parwa maupun ngrameyana. Bilah gender wayang di buat dari perunggu dan menggunakan bumbung sebagai resonatornya. Tiap tungguh gender wayang dipukul oleh satu orangdengan menggunakan dua buah panggul yang terbuat dari kayu. Panjang panggul gender adalah sekitar 26 cm dan pada bagian ujungnya atau bagian yang dipukulkan pada bilah genderwayang, berbentuk bundar. Ada dua jenis gender wayang yaitu gender Pemade atau pengede dan gender wayang barangan. Perbedaannya adalah dari ukurannya yaitu pada gender wayang pengede ukurannya relatif lebih besar dari pada gender wayang barangandengan perbedaa larasan sebesar satu gembyang atau oktaf. Pada dua tunnguh gender wayang pengede terdapat satu tungguh yang menggunakan nada pengumbang dan satu tunnguh lainnya menggunakan nada pengisep akan menimbulkan suara ombak atau gelombang. Makin jauh jarak nada pengumbang dan pengisepnya, makin cepat atau keras pula ombaknya, seperti misalnya pada Gong Kebyar, Semar Pegulingan, dan sebagainya.

Ada empat macam tabuhan gender wayang dilihat dari tabuhan tangan kanan dan tangan kirinya yaitu :

1. Tabuhan Gembyang : pukulan dua buah nada yang sama yang mengapit empat buah nada secara simultan.

2. Tabuhan Ngempyung : pukulan dua buah nada yang berbeda yang mengapit dua buah nada secara simultan.

3. Tabuhan Tangan kiri menggarap bantang gending dan tangan kanan menggarap bantang gending dengan berbagai pola jalinan (candetan).

4. Tabuhan Debyung : memukul dua buah nada yang berbeda yang mengapit satu buah nada secara simultan.

 

Dalam menggarap suatu gending, ada salah satu penabuh yang menggarap tabuhan polos dan satu penabuh menggarap satu tabuhan nyandet atau nyangsih. Kedua tabuhan ini tidak ditentukan oleh nada pengumbang maupun nada pengisep. Dalam penyajian gending, salah satu penabuh gender pengede bertugas memberikan aba-aba awalan dan akhiran suatu gending. Bentuk aba-abanya antara lain berupa gerakan kepala dan volume tabuhan.

Gender wayang pada dasarnya dapat diwujudkan adanya dua perangkat gamelan, yaitu perangkat gender wayang parwa dan ngrameyana (bebatelan).

Kata Parwa yang digunakan sebagai nama dari perangkat gamelan gender wayang ini adalah diambil deri nama lakon yang disajikan pada pertunjukan wayang dengan menyajikan lakon yang bersumber dari epos Mahabharata. Perangkat gamelan gender Wayang Parwa menggunakan satu jenis tungguhan, yaitu Gender Wayang sebanyak dua atau empat tungguh. Di daerah-daerah tertentu Gender Wayang Parwa menggunakan dua tungguhan gender wayang pengede dan di daerah lainnya menggunakan empat tungguh Gender wayang yang terdiri dari dua tungguh gender wayang pengede dan dua tungguh gender wayang barangan. Di Kabupaten Buleleng adanya pertunjukan wayang kulit yang hanya menggunakan dua tunguhan gender wayang pengede yang semata-mata karena alasan transportasi jenis angkutan yang digunakannya. Sarana transportasinya adalah dokaryang cukup untuk dua tungguhan Gender wayang beserta peralatan pekeliran dan seluruh personil pertunjukannya, yang seluruhnya berjumlah empat orang, yaitu satu orang dalang, satu orang pembantu dalang, dan dua orang penabuh. Penataan tungguhan pada gender Wayang disesuaikan dengan kebutuhan dan tempat yang di sediakan. Di bawah ini adalah tersaji dua alternatif penataan tungguhan Gender Wayang Parwa adalah:

 

4

3

Alternatif 1

 

1

2

 

 

 

Keterangan :

1 dan 2 adalah tungguhan Gender Wayang Pengede,

3 dan 4 adalah tngguhan Gender Wayang Barangan.

Barungan Gender Wayang

Gender Wayang merupakan alat musik Bali yang tergolong dalam gamelan tua. Gender wayang memiliki 10 bilah yang berlaras slendro. Tungguhan ini di beri nama gender wayang mungkin karena digunakannya tungguhan tersebut untuk mengiringi pertunjukan wayang, yaitu wayang wong dan wayang kulit parwa maupun ngrameyana. Bilah gender wayang di buat dari perunggu dan menggunakan bumbung sebagai resonatornya. Tiap tungguh gender wayang dipukul oleh satu orangdengan menggunakan dua buah panggul yang terbuat dari kayu. Panjang panggul gender adalah sekitar 26 cm dan pada bagian ujungnya atau bagian yang dipukulkan pada bilah genderwayang, berbentuk bundar. Ada dua jenis gender wayang yaitu gender Pemade atau pengede dan gender wayang barangan. Perbedaannya adalah dari ukurannya yaitu pada gender wayang pengede ukurannya relatif lebih besar dari pada gender wayang barangandengan perbedaa larasan sebesar satu gembyang atau oktaf. Pada dua tunnguh gender wayang pengede terdapat satu tungguh yang menggunakan nada pengumbang dan satu tunnguh lainnya menggunakan nada pengisep akan menimbulkan suara ombak atau gelombang. Makin jauh jarak nada pengumbang dan pengisepnya, makin cepat atau keras pula ombaknya, seperti misalnya pada Gong Kebyar, Semar Pegulingan, dan sebagainya.

Ada empat macam tabuhan gender wayang dilihat dari tabuhan tangan kanan dan tangan kirinya yaitu :

1. Tabuhan Gembyang : pukulan dua buah nada yang sama yang mengapit empat buah nada secara simultan.

2. Tabuhan Ngempyung : pukulan dua buah nada yang berbeda yang mengapit dua buah nada secara simultan.

3. Tabuhan Tangan kiri menggarap bantang gending dan tangan kanan menggarap bantang gending dengan berbagai pola jalinan (candetan).

4. Tabuhan Debyung : memukul dua buah nada yang berbeda yang mengapit satu buah nada secara simultan.

 

Dalam menggarap suatu gending, ada salah satu penabuh yang menggarap tabuhan polos dan satu penabuh menggarap satu tabuhan nyandet atau nyangsih. Kedua tabuhan ini tidak ditentukan oleh nada pengumbang maupun nada pengisep. Dalam penyajian gending, salah satu penabuh gender pengede bertugas memberikan aba-aba awalan dan akhiran suatu gending. Bentuk aba-abanya antara lain berupa gerakan kepala dan volume tabuhan.

Gender wayang pada dasarnya dapat diwujudkan adanya dua perangkat gamelan, yaitu perangkat gender wayang parwa dan ngrameyana (bebatelan).

Kata Parwa yang digunakan sebagai nama dari perangkat gamelan gender wayang ini adalah diambil deri nama lakon yang disajikan pada pertunjukan wayang dengan menyajikan lakon yang bersumber dari epos Mahabharata. Perangkat gamelan gender Wayang Parwa menggunakan satu jenis tungguhan, yaitu Gender Wayang sebanyak dua atau empat tungguh. Di daerah-daerah tertentu Gender Wayang Parwa menggunakan dua tungguhan gender wayang pengede dan di daerah lainnya menggunakan empat tungguh Gender wayang yang terdiri dari dua tungguh gender wayang pengede dan dua tungguh gender wayang barangan. Di Kabupaten Buleleng adanya pertunjukan wayang kulit yang hanya menggunakan dua tunguhan gender wayang pengede yang semata-mata karena alasan transportasi jenis angkutan yang digunakannya. Sarana transportasinya adalah dokaryang cukup untuk dua tungguhan Gender wayang beserta peralatan pekeliran dan seluruh personil pertunjukannya, yang seluruhnya berjumlah empat orang, yaitu satu orang dalang, satu orang pembantu dalang, dan dua orang penabuh. Penataan tungguhan pada gender Wayang disesuaikan dengan kebutuhan dan tempat yang di sediakan. Di bawah ini adalah tersaji dua alternatif penataan tungguhan Gender Wayang Parwa adalah:

 

4

3

Alternatif 1

 

1

2

 

 

 

Keterangan :

1 dan 2 adalah tungguhan Gender Wayang Pengede,

3 dan 4 adalah tngguhan Gender Wayang Barangan.

Written by in: Tak Berkategori |
Mar
30
2012
0

Powered by WordPress | Theme: Aeros 2.0 by TheBuckmaker.com