SEJARAH LEGONG PELIATAN

Maret 13th, 2018

ASAL USUL TARI LEGONG

Tari legong kemungkinan di kembangkan dari sang hyang dedari atau sanghyang legong topeng yang kini masih di jumpai di desa ketewel,sukawati.hal ini terungkap dalambabad dalem sukawati,koleksi iketut rinda (alm) yang menyebutkan bahwa dalam tapa semadi I Dewa Agung  Made karna  bermimpi melihat bidadari cantik di sorga.ketika sadar dengan mimpinya lalu memerintahkan bendesa di ketewel untuk membuat beberapatopeng dan mengubah suatu tarian yang mirip dengan impian beliau.bendesa berhasil membuat Sembilan buah topeng yang mencerminkan Sembilan bidadri yang masih di keramatkan sampai sekarang.beberapaNgurah Djelantik dari blahbatuh mengubah tari Nandir yang gerakannya hampir sama tetapi ditarikan oleh anak laki-laki tanpa mengenakan topeng.pertunjukan tari Nandir sangat menggugah hati raja Gianyar yakni I Dewa agung manggis dan kemudian memerintah I Dewa Rai perit untuk menata tarian legong yang dibawakan oleh anak-anak perempuan. Atas gagasannya itu terciptalah tari legong yang diwarisi hingga kini dan peristiwa itu terjadi kira-kira  tahun 1811.

 LEGONG GAYA PELIATAN

Tari legong  tidak dapatan  dipisahkan antara unsur gerak tari  dan iringan  tetabuhan  yang biasanya diiringi oleh gongkebyar dan samara  pegulingan  begitu pula dengan perlengkapan  tari dan tata busana yang telah mempunyai bentuk yang baku dan sangat indah karena meniru busana para dewa dewi.

Pada tahun 1926,di desa peliatan sudah mengenal gong kebyar sebagai iringan tari legong  yang di bentuk oleh A.A.Gde mandera (ALM)  setelah mengadakan perjalanan ngelawang ke Desa munduk singaraja yang dilatih tabuh oleh si pasung grigis dari batubulan dan I ketut madu dari singaraja.tepatnya pada tanggal 31 agustus 1931 setelah melalui proses yang panjang  maka dengan 48 orang anggota terdiri dari penari dan penabuh.

Kesuksesan misi kesenian ini dapat dilihat karena waktu itu rombongan diberi kesempatan menggunakan tempat pementasan di salah satu teater yang paling terkenal di dunia  yaitu  TEATER MARINI salah satu tarian yang ditampilkan  saat itu adalah tari legong yang di bawakan oleh Ni jabrig,Ni srining, Cok Oka Sukawati.

Kesuksesan rombongan kesenian pada tahun 1931 kemudian dilanjutkan dengan misi kesenian yang ke-2 pada tahun 1952 ke eropa atas tawaran presiden soekarno yang pada waktu itu juga membawaka tarian salah satunya adalah tari Legong gaya peliatan yang sangat sukses dipentaskan sehingga membuat beberapa kepala Negara di eropa terkagum.ini juga dapat dilihat dalam tulisan buku yang dikarang oleh jhon coast dengan judul Dancing Out Of Bali.

STRUKTUR DAN RAGAM GERAK TARI LEGONG PELIATAN

  Pada perkembangan tari legong peliatan dapat tetap dilihat baik untuk kepentingan upacara adat ataupun pertunjukan komersial.sedangkan tari legong yang lebih sering dimainkan adalah legong dengan cerita lasem dan rangka sari  (keraton).sedang untuk gerak  tari ,busana,iringan tari dapat dilihat perkembangannya dengan gaya legong lainnya seperti gaya Saba,Denpasar, dll. Walaupun struktur  tari masih tetap sama (baku) yaitu terdiri dari:

  • Pepeson
  • Pengawak
  • Pengecet
  • Pengipuk
  • Pesiat
  • Pekaad

  Adapun ragam gerak tari legong gaya peliatan adalah :

  • Agem badan

Posisi lebih melengkung (dada dicondongkan kedepan), dagu lebih diangkat,tulang belakang dirapatkan,posisi tangan yang tinggi sebatas telinga dan posisi tangan yang rendah sebatas dada.

  • Ukuran tangan

Memakai pakem dengan  batasan satinggi susu dan kuping dengan catatan tidak  terlalu lebar dan juga tidak terlalu sempit.

  • Ada gerak ngelayak (kayang)

Untuk menunjukan bahwa penari  legong harus mempunyai kelenturan tubuh yang baik dan denganpower (Kekuatan) dapat dilihat dalam gerak ngejer pala,ngocok gelungan (menggetarkan bancangan gelungan), nyeregsegseg,dan kepala,yang semua ini memerlukan kualitas dan teknik yang baik.

Menurut ayu bulantrisna,ada kekhasan yang dinamakan  Anatomi Gaya legong peliatan yang tak bisa lepas dari jasa penguruk gusti biang sengog dan anak agung mandera, pimpinan sekaa gunungsari peliatan. Menurut pengalaman berlatihan  selama sepuluh tahun ( 1957-1965), kekhasan yang mencolok dibandingkan gaya legong daerah lainnya adalah:

  1. Agem yang lebih nyengked atau melengkung, baik dilihat dari depan maupun samping bagian dada penari berada lebih depan dari lututnya.
  2. Punggung bagian atas terkunci, dimana kedua bahu diangkat,dan keduanya sisi tulang belikat ditarik ke belakang
  3. Dagu yang diangkat,merupakan akibat langsung dari agem yang lebih melengkung kedepan dan belikat yang terkunci . dengan terangkatnya dagu,tentu,muka penari agak menengadah dan mata menjadi lebih ekspresif.
  4. Angsel yang tersendat,sering diulangi sebelum selesai atau disisipi gerakan kecil,sehingga terkesan seakan tersangkut.selain itu,ang juga sangat khas,bagian pinggul penari seakan tertinggal sehingga terjadi stretching (Peregangan) tubuh saat angsel.
  5. Gerakan yang bergetar, baik getaran kaki,lutut,jari,bahu,dan kepala. Akibat dari getaran kepala itu ,untaian bunga (bancangan) sebagai bagian hiasan kepala lebih tampak bergoyang sebagian estetika legong.

 

TATA BUSANA

Yang dimaksud dengan tata busana adalah : segala perlengkapan pakian yang dipakaki dalam tarian Bali, busana merupakan faktor pendukung yang sangat penting dalam tari Bali, karena melalui busana itu, penonton akan dapat membedakan tiap-tiap tokoh atau peran yang akan tampil. Banyak perbendaharaan gerak tari yang timbul karena danya busana tersebut. Jenis -jenis busana yang terdapat dalam tari Bali dibuat dari bahan-bahan seperti kain, kaca-kaca dan sebagainya. Adapun busana yang digunakan dalam Tari Legong peliatan antara lain :

 

  1. Kain prada yaitu : kain yang digunakan pada bagian bawah penari wanita dan penuh dengan ornamen-ornamen yang dibuat dari bahan prada (cat emas) dan warna yang biasa digunakan untuk tari Legong Bapang Saba ini umumnya hijau.
  2. Baju prada yaitu : baju yang bentuknya seperti jaket setengah badan dan berlengan panjang yang dipulas dengan prada. Warna yang dipakai adalah sama dengan warna kainnya yaitu warna hijau.
  3. Sabuk Prada : sejenis ikat pinggang yang dibuat dari kain dan dipoles dengan cat emas. Fungsinya dalah sebagai ikat pinggang.
  4. Ampok-ampok Kulit , satu jenis pakian tari yang menghiasi bagian pinggang, dan dibuat dari bahan kulit sapi yang ditatah (diukir) kemudian dipulas dengan prada.
  5. Lamak Kulit : satu bagian jenis pakian tari yang dipasang didepan dada sehingga menutupi pada bagian depan(dada) penari. Bentuknya memanjang kebawah sampai diatas lutut dan bahannya dari kulit sapi yang ditatah (ukir) serta dipulas dengan cat emas.
  6. Tutup Dada : hiasan dada yang biasanya dibuat dari kain beludru dengan dihiasi mote-mote (klip) dan dipasang melingkar diatas payudara. Tutup dada ini berfungsi untuk merapikan ujung dari sabuk prada, disamping juga menambah keharmonisan antara pemasangan sabuk prada, lamak, dan simping.
  7. Sesimping : yaitu hiasan bahu yang dibuat dari kulit sapi, yang diukir dan dicat prada. Adapun tujuan penggunaan sesimping ini adalah untuk membuat sesuatu keharmonisan pada hiasan bahu yang disesuaikan dengan hiasan-hiasan pada gambar-gambar wayang.
  8. Badong Lanying: perhiasan leher atau penutup bahu yang bentuknya lancip (segitiga) dan terbuat dari kulit sapi yang diukir serta dicat dengan prada emas.
  9. Gelang kana : hiasan tangan yang dibuat dari kulit sapi yang diukir dan dipoles dengan cat prade serta dipakai pada lengan bagian atas, dan pada pergelangan tangan.
  10. Gelungan : hiasan kepala yang dibuat dari kulit, ditatah dan dicat dengan prada. Gelungan ini juga merupakan gabungan dari bagian-bagian yang lebih kecil yaitu petitis, ron-ronan, udeng (jeplakan), perkapat, (yang terdiri dari gegempolan dan lelenteran), kararoko, mungkur.
  11. Kepet : sama artinya dengan kipas. Adapun kepet ini dibuat dari kain dengan dua warna (bolak-balik), yang diberi cat emas dan tangkainya dibuat dari bambu. Kepet atau kipas ini, biasanya dipegang pada tangan kanan, kecuali jika didalam keperluan tertentu kepet itu dipegang dengan tangan kiri. Kepet pada fungsinya yang utama adalah untuk mengibaskan angin, namun jika dipergunakan dalam tari akan melahirkan kesan-kesan tertentu, disamping memperindah gerak tari dan juga memperbanyak atau memperkaya perbendaharaan gerak tari itu sendiri.
  12. Onggar atau Bancangan : hiasan pada gelungan yang dibuat dari kawat tersusun sedemikian rupa yang pada tangkainya dibuat dari bambu.

 

 

 

 

dikutip dari : buku  Legong peliatan.A.A.Ayu kusuma arnini,SST,MSi,2011.

buku Tari legong dari kajian lontar kepanggung masa kini editor ayu Bulantrisna Djelantik

Leave a Reply