RSS Feed
Jan 7

sejarah gambuh pedungan

Posted on Selasa, Januari 7, 2014 in Tulisan

PENDAHULUAN

1.  LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

Gambuh adalah sumber daripada pertunjukan kesenian klasik Bali. Gambelan Gambuh dianggap sebagai sumber dari beberapa gambelan Bali, dan banyak mengilhami gending-gending yang dipergunakan pada gambelan-gambelan lainnya seperti, Gambelan Semar Pegulingan, Pelegongan, Bebarongan, dan lain-lainnya.

Sebagai kesenian klasik tradisional, kehidupan Gabuh dewasa ini nampak adanya suatu gejala yang kurang menggembirakan. Oleh karena itu dalam upaya untuk melestarikan kesenian Gambuh ini, penulis merasa tertarik untuk menyelidiki tentang gambelan Gambuh ini, sebagai obyek karya tulis.

Ada beberapa hal yang mendasari penulis untuk menyelidiki gambelan Gambuh ini sebagai obyek karya tulis antara lain:

  1. Melihat kenyataan bahwa akhir-akhir ini kehidupan gambelan Gambuh nyaris diancam kepunahan.
  2. Menyadari bahwa pencatatan gending-gending klasik Bali umumnya dan gending Gambuh khususnya masih sangat sedikit adanya.
  3. Gambuh mempunyai suatu corak tersendiri, terutama dari bentuk gending-gendingnya.

Demikianlah beberapa hal yang mendasari penulis untuk menyelidiki gambelan Gambuh ini sebagai obyek penelitian. Di dalam penguraiannya nanti, tentunya sangat tergantung pada sedikit banyaknya data yang penulis dapatkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

SEJARAH GAMBUH PEDUNGAN

Asal Usul

Untuk menyebutkan scara pasti kapan berdirinya sekaa Gambuh di Desa Pedungan, sungguh sangat sulit. Hal ini disebabkan oleh sedkitnya sumber data yang dapat dijadikan bahan dalam menelusuri asal mula ksenian ini. Namun demikian, setelah penulis mendatangi atau menjumpai beberapa informan yang penulis sangat tahu tentang Gambuh ini, maka akhirnya asal mula Gambuh ini dapat penulis teliti dengan bantuan beberapa orang yang dapat dihubungi oleh penulis antara lain:

I Gede Geruh, seorang tokoh dan penari Gambuh yang saat ini telah berusia 76 tahun mengungkapkan bahwa, Gambuh yang beliau warisi hingga dewasa ini adalah juga warisan dari kakek-kakeknya yang hidup sekitar tahun 1836 atau boleh dikatakan jauh sebelum perang Puputan Badung. Kakeknya adalah termasuk salah satu tokoh seni di Desa Pedungan, yang kemudian menjadi penari Gambuh Duwe Puri Pemecutan. Selain menjadi penari milik puri, lalu di Desanya sendiri kakeknya telah berhasil merintis sekaa Gambuh bersama kawan-kawannya yang berasal dari beberapa Banjar di Desa Pedungan dan dari luar Desa Pedungan. Pada masa berurutan, di Desa Sesetan pernah pula dibentuk sebuah sekaa Gambuh yang berasal dari penari-penari Gambuh Duwe Puri Denpasar.

Dekatnya jarak antara Desa Pedungn dengan Desa Sesetan adalah menyebabkan baiknya komunikasi atau hubungan antara kadus sekaa Gambuh ini, sehingga sering terjadi pinjam meminjam alat-alat Gambelan atau perlengkapan lainnya. Setelah meletusnya perang habis-habisan melawan Belanda (Puputan Badung), para penari-penari Gambuh dari Pedungan menghimpun dan menyempurnakan kembali sekaa Gambuhnya, dan akhirnya terbentuklah sekaa Gambuh seperti yang di warisi hingga dewasa ini. Dalam perjalanan hidup sekaa Gambuh di Pedungan ini, banyak pasang surut yang telah dilaluinya. Pada tahun 1930 an Gambuh ini pernah mengalami masa yang sangat gemerlang, dan seringkali mengadakan pementasan ke luar Daerah Kabupaten Badung, antara lain ke Karangasem, Singaraja, beberapa orang yang pernah menjadi pelatih Gambuh di Desa Pedungan ini yakni:

  1. I Wayan Nyongolan (almarhum) dari Banjar Puseh Pedungan.
  2. Gusti Gede Candu (almarhum) dari Banjar Geladag Pedungan.
  3. I Wayan Dunia (almarhum) dari Banjar Gelogor Denpasar.

Pada dewasa ini yang bertindak sebagai pelatih Gambuh di Desa Pedungan adalah I Gede Geruh sendiri menangani dalam bidang tari, dan I Nyoman Lemping sebagai pelatih tabuhnya.

– Perkembangannya

Perkembangan suatu seni pertunjukan tidak bisa dilepaskan dengan masyarakatnya sendiri, sebab masyarakat merupakan pendukung utama dan tempat hidupnya seni pertunjukan itu.

Agar seni pertunjukan itu dapat berkembang baik, harus ada kerja sama yang baik dari semua pihak dalam hal ini; . Pengayon dari Pemerintah,. Penggarapan dari kaum seniman itu sendiri, Apresiasi dari masyarakat penghayatnya.

Akan halnya perkembangan Gambuh di Desa Pedungan merupakan dramatari klasik Bali, nampak mengalami perkembangan yang secara perlahan menurun sejak tahun 1950 hingga menjelang tahun 1960 an. Berdirinya Lembaga Pendidikan Seni Tari di Bali (ASTI) pada tahun1966 nampaknya merupakan upaya Pemerintah untuk melestarikan Gambuh ini, dengan menjadikan kesenian ini sebagai bahan pelajaran. Diangkatnya beberapa tokoh Gambuh di Pedungan yakni I Gede Geruh, I Nyoman Lemping Cs sebagai tenaga Dosen luar biasa dalam mata kuliah praktek tari dan karawaritan Gambuh, nampaknya sempat pula menjadikan suatu rangsangan untuk bangkitnya sekaa Gambuh di Desa Pedungan ini.

Lebih lebih dengan berhasilnya pementasan Gambuh oleh Mahasiswa ASTI Denpasar yang diperkuat oleh sekaa Gambuh dari Pedungan, di Jaba Puri Satriya pada tahun 1967 merupakan suatu tantangan bagi sekaa- sekaa Gambuh di Bali umumnya dan di Desa Pedungan khususnya. Dalam kurun waktu yang tidak panjang, maka Gambuh di Pedungan akhirny pernah bangkit dai tahun 1968 hingga tahun 1970.

Sejak tahun 1970 ini hingga sekarang, Gambuh di Desa Pedungan keadaannya sangat memprihatinkan. Sekaa Gambuh yang pada mulanya memiliki struktur pertunjukkan yang lengkap ternyata pada dewasa ini tidak banyak memiliki kader-kader penari, dan instrument pengiringnya telah semakin banyak rusak  atau upacara di Pura Puseh, Gambuh ini hanya dapat dipentaskan dengan penari seadanya dan gambelan yang tidak lengkap. Ada beberapa hal yang menjadi factor penyebab diancamnya Gmbuh Pedungan oleh kepunahan yaitu:

  1. Kurangnya minat masyarakat setempat terhadap Gambuh yang dianggap sudah tidak menarik lagi dan sulit untuk dimengerti oleh kaum muda khususnya. Dengan demikian, masyarakat dewasa ini lebih banyak mengarahkan perhatiannya terhadap hiburan lain yang lebih disukai.
  2. Kurangnya perhatian kalangan tokoh-tokoh tua tehadap pmbentukan kader-kader penabuh dan penari yang mungkin sekali bisa mempercepat punahnya Gambuh di Pedungan ini.
  3. Struktur organisasi sekaa Gambuh hingga kini tetap merupakan sekaa yang diayomi oleh dua banjar yakni banjar Puseh dan banjar Menesa, namun dari pihak banjar sendiri dapat memberikan suatu perhatian dan dana di dalam usaha untuk melestarikan Gambuh ini. Akibatnya bagi mereka yang memang betul-betul mencintai kesenian ini merasa dirugikan.

 

3. Organisasinya

Gambuh di Desa Pedungan terhimpun dalam sebuah wadah Organsasi social yang disebut “sekaa” yang mempunyai jumlah anggota yang tidak kurang dari 200 orang. Sekaa ini diayomi oleh dua banjar yakni banjar Puseh dan banjar Menesa Pedungan, terdiri dari golongan masyarakat berkasta Kesatriya dan golongan masyarakat biasa (jaba). Organisasi ini diurus oleh suatu badan pengurus yang disebut “Kelian” dengan dibantu oleh beberapa orang pembantu yang disebut “Prajuru” yang masing-masing bertanggung  jawab atas pekerjaan yang dibebankan kepadanya.

Anggota sekaa mempunyai kewajiban untuk bertanggung jawab secara moril maupun material terhadap kehidupan Gambuh ini.

Walaupun sekaa Gambuh ini di Desa Pedungan tidak memiliki suatu Anggaran Dasar tertulis, namun demikian ia juga mempunyai suatu peraturan yang dibuat dan diputuskan didalam rapat. Misalnya saja peraturan-peraturan itu yakni, anggota sekaa diharuskan hadir ngaturan ayah pentas setiap kali odalan di Pura Puseh Pedungan, maupun pentas untuk keperluan lainnya.

Hingga sekarang ini tercatat bahwa, I Made Suci asal dari banjar Puseh yang menjadi “Kelian” dan bertanggung jawab atas perkembangan sekaa Gambuh di Desa Pedungan.

INSTRUMEN DAN PENYAJIAN

 1.INSTRUMENTASI

Ada beberapa hal yang perlu untuk diuraikan sehubungan dengan instrumentasi daripada gambelan Gambuh di Desa Pedungan. Dalam kaitan ini ada hal-hal yang akan penulis uraikan:

1.1. Bentuk Barungannya

Gambelan Gambuh di Pedungan, merupakan barungan Gambelan kecil bila dibandingkan dengan gambelan Gong Kebyar. Dalam barungannya, terdiri dari beberapa buah instrument sebagai berikut :

  1. Sebuah Rebab
  2. Empat buah suling besar
  3. Dua buah kendang kerumpungan (lanang wadon)
  4. Sebuah Kajar
  5. Sbuah Keleneng (rusak)
  6. Ricik satu tungguh (rusak)
  7. Sebuah kenyir
  8. Satu pancer Genta Urag
  9. Gumanak tiga buah (saat ini sudah hilang)
  10. Kangai dua buah (hilang)

 

 

 

 

Sumber yang di dapat

Jan 7

biografi I Nyoman Rembang

Posted on Selasa, Januari 7, 2014 in Tulisan

I NYOMAN REMBANG

Berguru itulah kegiatan itulah yang memenuhi masa kecil dan masa muda I Nyoman rembang. Menjadi guru, itulah yang dilakukan maestro seni tabuh Bali asal Banjar Sesetan Tengah, Denpasar Selatan, ini ketika usianya mulai menginjak dewasa dan menuju usia tua. Hingga kini ia memang sangat suntuk membangkitkan dirinya meneruskan semua ilmu tabuh yang ia miliki kepada generasi penerusnya. Semua ilmu yang ia peroleh memang tak hendak ia miliki sendiri.
Tempat dan tanggal lahir
Lahir di Desa Sesetan Tengah, Kecamatan Denpasar Selatan, pada tanggal 15 Desember 1930, Rembang akhirnya menikah dengan gadis Rabinstiti pada tahun 1957. Dari perkawinannya dengan Ni Ketut Rabinstiti ini lahir lima anak, masing-masing: Ni Luh Putu Diah Purnamawati (1958), I Made Mercumahadi (1962), Ni Nyoman Ernadewi (1965), Ni Ketut Tilem Santilatri (1968), dan I Gede Putra Widyutmala (1971).

Masa kecil
Lahir dan besar di masa penjajahan mengakibatkan I Nyoman Rembang hanya sempat mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat lima tahun (1937-1942). Tapi baginya semua itu tidak pernah merupakan halangan untuk menjadikan dirinya seorang yang memiliki arti dalam masyarakat. Maka, ketika usianya mulai menginjak tujuh tahun ia sudah berguru kepada dua orang penabuh gender wayang kawakan yang ada di desanya, yakni I Wayan Jiwa dan I Wayan Naba. Kecintaannya pada seni, khususnya seni tabuh, rupanya melekat demikian dalam di hatinya. Rasa cinta itu terasa semakin menggebu-gebu ketika ia mendengar di sekitar desanya ada tokoh-tokoh karawitan yang sedang top dan populer di masyarakat. Maka bocah Nyoman Rembang yang waktu itu berumur delapan tahun pun mulai melangkahkan kakinya ke luar desanya untuk belajar menabuh Palegongan. Ia pun kemudian berguru kepada Bagus Putu di Desa Kepaon, I Nyoman Nyebleg dan I Wayan Kale dari Desa Geladag, I Wayan Regog di Banjar Belaluan, I Wayan Lotering di Kuta, I Nyoman Kaler di Desa Pagan, I Gusti Putu Made Geria di Desa Buagan, bahkan sampai ke Desa Tohpati. Di Tohpati ia berguru kepada I Ketut Gelebig,ketika usianya baru menginjak sepuluh tahun (tahun 1940), ia mulai menekuni tabuh Pegambuhan sebagai pengiring Tari Gambuh yang kini diyakini sebagai dasar tari Bali. Tabuh ini ia pelajari pada guru-guru yang ada di sekitar desanya, antara lain Wayan Sianta (Desa Sesetan), Made Ceteg (Desa Sesetan), I Ketut Mertu (Pedungan), dan I Made Lemping (Pedungan).
Pengalaman
Kemampuan I Nyoman Rembang menyerap banyak tabuh Pegambuhan ini, ternyata kemudian membawa banyak hikmah bagi generasi penerusnya. Sebab, ternyata pula, tari Gambuh sebagai dasar tari Bali merupakan bentuk kesenian yang nyaris punah di jagat dewata ini. Sehingga, ketika Majelis Pertimbangan Kebudayaan (Listibya) Bali mengadakan seminar dan workshop mengenai tari Gambuh, maka tak ayal lagi I Nyoman Rembang yang menginjak usia remaja (15 tahun) masih sempat pula belajar angklung kebyar kepada I Nyoman Kaler di Desa Pagan dan I Ketut Gelebig di Desa Tohpati. Bahkan ketika kelima anaknya sudah lahir ia masih pula menyempatkan diri untuk belajar tabuh Gambang (tahun 1972) pada I Made Adi di Desa Sempidi.
Tahun 1952 ia menjadi guru tetap dalam bidang seni tabuh Bali pada Konservatori Karawitan Indonesia (Kokar) di Surakarta. Maka mulailah ia menjadikan profesi guru secara formal bagi kehidupan dirinya. Ketika kehadiran Kokar di Bali, ia pun pindah tugas sebagai guru di Kokar (sekarang SMKI) di Denpasar Bali ( tahun 1963). Tahun 1967, ketika ASTI (Akademi Seni Tari) Bali yang ikut dibidani pendiriannya mulai mengembangkan diri, I Nyoman Rembang tidak absen menyumbangkan keahliannya sebagai dosen tamu di Akademi tersebut. Tahun 1974, I Nyoman Rembang mendapat kehormatan di undang selama lima bulan untuk memberikan pelajaran tabuh Bali pada Summer School di Berkeley, California Amerika Serikat. I Nyoman Rembang ikut mendirikan Panti Kesenian Bali di Denpasar (1948). Tahun itu pula ia ikut memperkuat misi kesenian Bali yang melakukan kunjungan muhibah ke Surabaya. Tahun 1950 ia memperkuat misi kesenian Bali yang melakukan pagelaran di Istana Negara di Jakarta. Tahun 1951 ia melangkah ke luar negeri mengikuti misi kesenian Indonesia ke Colombo (Srilangka) dan Singapura. Tahun 1965 ia turut dalam pembentukan Lembaga Kebudayaan Nasional di Denpasar.

Tak berhenti sampai di sana. Tahun 1959 ia mengikuti rombongan kesenian Indonesia (Bhineka Tunggal Ika) ke Singapura. Tahun 1960 ia ikut dalam kepanitiaan pendirian Sekolah Kokar Bali di Denpasar. Dan ketika Listibya Bali memulai kehadiran dan aktivitasnya di masyarakat, I Nyoman Rembang juga banyak terlibat antara lain dalam pembinaan seni tari dan tabuh, juri berbagai kegiatan festival tari dan tabuh, serta seminar-seminar.
Tahun 1971 bersama guru-guru Kokar Bali ia mengadakan survey gamelan selonding di Desa Tenganan, Karangasem. Tahun 1972, ia mengikuti survey gambelan tradisional daerah Lombok bersama Dr.T.Sebas dari Swis dan Mr.Scharman dari Belanda. Pada tahun 1973 ia ikut menulis naskah-naskah mengenai karawitan Bali. Beberapa di antaranya sudah diterbitkan, seperti Panithitalaning Pegambuhan, Legong Keraton, Wayang Wong, Topeng, dan lain-lain.
Di samping itu, mulai tahun 1974 ia berpraktek melaras gambelan dari kerawang dan membuat gambelan-gambelan dari bambu terutama gambelan joged bumbung. Yang paling monumental tentu saja ia tercatat sebagai penemu musik bumbang yang terbuat dari bilah-bilah bamboo. Ia menciptakan alat dan komposisi musik bumbang ini setelah terinspirasi oleh ikan-ikan yang berenang di sebuah akuarium berair bening.
Dan, sehari-hari I Nyoman Rembang memang tak ubahnya anak-anak ikan yang tiada lelah bernapas dan berenag di dalam air: dengan berenang dan bernapas itulah ia hidup. Dengan belajar dan terus belajar mengasah ketajaman intuisi kreatifnya itulah I Nyoman Rembang yang di hari-hari senjanya sibuk melakukan penyelamatan musik Gambang ini bias menjadikan dirinya sebagai salah seorang mpu tabuh Bali. Dengan begitu pula dia bias tetap mempertahankan hidupnya yang sederhana meskipun berpredikat sebagai seniman besar.

Jun 10

GENGGONG

Posted on Senin, Juni 10, 2013 in Tak Berkategori

pengertian genggong

Nama dari salah satu alat yang dibuat dari bahan pupug atau (pelepah pohon aren). Setiap satu alat genggong dimainkan oleh satu orang dengan menempelkan tungguhan genggong tersebut pada mulut, kemudian meniup dan menarik-narik benang yang di hubungkan pada tungguh genggong. Kuat lemahnya tiupan akan menghasilkan tinggi atau rendahnya nada.

tungguhan

—Jumlah tungguhan dalam satu perangkat gambelan genggong, pada masing-masing sekehe didapatkan adanya jumlah maupun jenis tungguhan yang berbeda-beda. Perbedaan penggunaan tungguhan dalam satu perangkat merupakan hal yang umum di kalangan karawitan Bali. Penggunaan tungguhan dalam satu perangkat genggong, salah satunya sebagai berikut:
—

—Tungguhan genggong
—Tungguhan kendang(lanang dan wadon)
—Tungguhan kajar
—Tungguhan ceng-ceng ricik
—Tungguhan kelenang
—Tungguhan suling
—Tungguhan kenong
—Tunnguhan gong pulu

perkembangan

Pada perkembangannya sekarang, perangkat Genggong di gunakan untuk mengiringi tari seperti perangkat pada gambelan gong kebyar seperti misalnya, tari Panyembrahma, tari Baris, dan tarian baru yang merupakan susunan seniman-seniman dewasa ini

 

fungsi

Fungsi gambelan ini sekarang hanya terbatas untuk keprluan hiburan belaka, yaitu untuk menyajikan tari-tarian dan juga gending-gending petegak. Menurut Nyoman Rembang, salah satu pakar dalam karawitan Bali di katakana bahwa konon ceritanya pada masa lalu, tungguhan genggong digunakan untuk mengiringi pengantin.

 

  

Apr 29

SEJARAH GAMELAN GAMBUH DI DESA PEDUNGAN

Posted on Senin, April 29, 2013 in Tulisan

9

Posted on Selasa, Oktober 9, 2012 in Tak Berkategori

Gamelan Gambuh adalah sebuah Gamelan Bali yang dipergunakan untuk mengiringi dramatari Gambuh. Oleh karena tradisi Gamelan Gambuh pernah mengalami kejayaanya pada zaman raja-raja Bali Hindu , maka Gambuh di golongkan sebagai gamelan madya. Sebagai iringan tari (gending-gending Gambuh lebih bersifat gending-gending yang dtarikan daripada bersifat unstrumental), Gambelan Gambuh bisa mengungkapkan bermacam-macam jenis gending sesuai dengan karakter atau perwatakan tari yang diiringi. Sebagaian besar penyesuaian ini tercapai lewat sistem tetekep ( disebut juga patutan, saih , atau peatet), di mana lima jenis deretan nada , yakni selisir , sunaren , tembung ,Baro dan leben dapat dibentuk melalui perubahan tutup lubang suling ( bahasa Bali : tekep). Sistem Tetekep memegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan karawitan dan pelarasan gamelan Bali.

Gambelan Gambuh menduduki posisi yang unik  hal instrument. Yang paling menonjol adalah pengunaan suling yang berukuran besar , dengan panjang 75 – 100 cm. untuk memainkan suling ini diperlukan kemampuan ngunjal angkian (tiupan yang tidak putus) yang sebaik-baiknya dan tehnik khusus untuk memegangnya. karena suling jenis ini tidak ditemukan pada gamelan lain,maka di namakan suling Gambuh ,dan merupakan instrument yang paling khas dalam gamelan Gambuh. Di samping suling Gambuh , instrument lain seperti gumanak,kangsi,rincik,gentorag,klenang,dan kenyir juga menentukan ke khasan dari gamelan Gambuh. Tiga diantaranya (kenyir,gumanak,dan,kangsi) tidak ditemukan pada gamelan lain di Bali Zaman kini satu lagi (gentorag) sangat jarang. Instrument terpenting adalah Rebab. Walaupun gamelan lain mempergunakan suling dan rebab , namun pada gamelan lain tidak merupakan suatu hal yang mutlak harus ada.

 

 

Seperangkat Gamelan Gambuh yang ada di Pura Puseh Pedungan

 

– dua s.d enam suling                                                     – satu tungguh rincik

– dua buah rebab                                                            – satu tungguh kenyir

sebuah kajar                                                                – satu pancer gentorag

– sebuah klenang                                                            – dua buah gumanak

– sebuah kempur                                                           – dua buah kangsi

 

 

Suling

Suling Gambuh adalah yang ukuranya paling panjang dan besar disbandingkan dengan jenis suling lainya. Suling di Gambuh di Pedungan 75-80 cm garis tengahnya 4-5 cm. ujung bagian atasnya tertutup sedangkan ujung bawahnya terbuka. Suling dilengkapi dengan dua jenis lubang , yaitu lubang pengatur nada dan lubang pengatur udara. Lubang pengatur nada sebanyak enam buah terletak pada bagian depan , dan lubang tiup biasa disebut lubang pemanis terletak pada ujung atas bagian belakang. Lubang nada dalam suling mempunyai dua jenis jarak , yaitu jarak yang sama dan tidak sama. Jarak yang tidak sama adalah diantara lubang ketiga dengan keempat. Suling Gambuh ditiup pada ujungnya , pada bagian suling , menggunakan siver yang dibuat dari irisan bamboo atau daun lountar.

Rebab

Rebab terbuat dari kayu yang terdiri dari beberapa bagian , yaitu menur,kupingan, irung-irung ,bantang, batok,batis dan pengaradan.

 

 

Kendang

Kendang Gambuh di Pedungan menggunakan kendang krumpungan. Karena ,suara krumpung (yaitu suara nyaring yang dihasilkan dari pinggir muka kecil) merupakan cirri khas kendang ini, dan mengambil peran yang penting dalam mengatur dinamika sebuah gending”. jenis kndang krumpungan ada dua buah , yaitu satu kendang lanang dan kendang wadon. Kedua jenis suara kendang tersebut dibedakan dalam hal tinggi redahnya suara kendang , yakni suara kendang lanang relative lebih kecil daripada kendang wadon.

Kajar 

Kajar pada pegambuhan moncolnya pesek yang terbuat dari perunggu yang dipukul dengan panggul kayu.

Rincik (ricik)

Ricik dalam Gamelan Gambuh berfungsi juga untuk memperkaya ritme. Dalam hal ini tidak jauh beda dengan salah satu fungsi kajar , yaitu mengikuti pukulan kajar , yaitu mengikuti pukulan kendang.

Klenang

Klenang adalah instrument yang bermoncol (bagian yang menonjol) bahanya dari l perunggu, klenang pegambuhan di Pedungan ditempatkan pada tatakan kayu , dan dipukul dengan sebuah panggul kayu.

Kenyir

Kenyir adalah instrument yang punya hubungan erat dengan klenang karena pukulannya terus bergantian. Tetapi dari segi fisiknya sangat berbeda klenang tergolong sebagai instrument bermoncol ,sedangkan kenyir termasuk instrument bentuk bilah seperti pemade , kantilan ,dll.

Gumanak

Gumanak adalah instrument yang hanya terdapat pada gamelan Gambuh saja. Bentuknya adalah selinder kecil yang terbelah dan bahannya perunggu. Di pedungan hanya dua buah Gumanak dipakai.

Kangsi

Kangsi adalah sepasang ceng-ceng kecil yang bahannya dari perunggu dan diisi tangkai bambu. Tangkai itu bercabang dua sehingga kedua piringan ceng-ceng saling berhadapan.

Gentorag

Gentorag adalah sebuah instrument yang terdiri dari kumpulan genta-genta kecil bahannya terbuat dari perunggu. Gentora di Pura Puseh Pedungan berjumlah 25 buah , digantung dirangkai pada tiga lingkaran , yang lebih besar dibagian bawah dan yang lebih kecil di bagian atas , sehingga bentuk keseluruhannya seperti kerucut.

 

Kempur

Kempur pada Gambelan Gambuh adalh instrumen yang fungsinya menandai peredaran struktur dan khususnya menunjukan akhir siklus (finalis) .

 

Gamelan yang lengkap memerlukan tenaga kurang lebih 17 orang.

Instrumentasi Gamelan Gambuh menduduki posisi yang unik di dunia karawitan Bali. Selain kelompok pembawa melodi, gamelan Gambuh terdiri dari berbagai instrumen perkusi , yaitu alat-alat yang dipukul dengan tangan atau panggul. Jika di analisa satu per satu jelas bahwa masing-masing alat perkusi ini mempunyai fungsi musikal yang berbeda.

Kota Denpasar memiliki Gambuh di Desa Pedungan Denpasar Selatan. Tepatnya di Banjar Puseh, Kelurahan Pedungan,terdapat kesenian langka dan sekaligus Sakral yakni gambuh Duwe. Disebut duwe. Karena lahirnya kesenian ini dipeercaya sebagai titah ( keinginan ) Ida Batara yang berstana di Pura Puseh Pedungan. Karena itu semua atribut kesenian itu disimpan atau distanakan di pura bersangkutan. Demikian juga gambuh ada pelinggihnya disana.

 

 

Sejarah  singkat Gamelan Gambuh Desa Pedungan            tgl 4 oktober 2012

Menurut Pelingsir di pura puseh pedungan  I Wayan Sukana , Gambelan Gambuh yang ada di Pura Puseh Pedungan tersebut sudah ada sejak lampau , Gambelan dan tarian ini terlahir secara alami yang merupakan kehendak Ida Betara. Gambelan   ini  di sakralkan itu diperkirakan sudah ada lebih dari seabad lampau , gamelan tersebut sangat diperlukan untuk mengiringi tarian Gambuh yang di Sakralkan di Pura Puseh pedungan.  Gamelan Gambuh yang ada di Pura Puseh Pedungan sudah ada sejak tahun 1860. Seperangkat gambelan  yang ada disana terdiri dari,  suling ,sepasang kendang yang di saputin kain poleng , kempul, klenang , kenyir, kajar krentengan, Ceng-ceng ricik , ceceng kangsi, Gumanak, dan gentora, di antara Gambelan tersebut terbuat dari logam sudah merupakan campuran dari kerawang kecuali gamelan kenyirnya terbuat dari besi dan dengan pelawah gamelan yang terbuat dari kayu yang sudah di poles dengan parade. Serta suling yang terbuat dari bambu , pemanis suling itu terbuat dari tempurung kelapa atau kau. Seperangkat Gamelan Gambuh yang ada di Pedungan hanya beberapa saja yang di ganti yaitu, Suling, rebab ,gong ,kangsi selain gamelan yang digantikan tersebut gamelan yang lain masih diwarisi himgga utuh sampai sekarang. Sejak tahun 70an kangsi sudah dimodifikasi menjadi ceng-ceng ricik yang berisi pelawah berdiri. Suling yang ada di pura puseh masih menjadi warisan. Notabennya begitu akan suling diganti tetap akan mengikuti ukuran yang sama dan nada yang asli . di antara Gamelan tersebut suling dan rebab adalah instrument penting dalam pegambuhan di pedungan instrumen pemimpin dan pemandu melodi , maka dari itu sangat susah memainkannya.  Tokoh Seniman Gambuh yang ada di pedungan yaitu, I Wayan Jantung (alm) , I Made Bongkol (alm) , I Nengah Peteng (alm),    I Made Lemping (alm),  I Wayan Lotok (alm) dan I Nyoman Sudiana S.skar yang sekarang menjadi generasi penerus sampai sekarang beliau adalah dosen pegambuhan di IsI Denpasar. Para tokoh-tokoh tersebut sangat berperan penting dalam mempertahankan kesenian tarian gambuh sakral di pedungan.

 

Kata Pak sudiana Tabuh-tabuh yang dimainkan  disana memakai 5 patetan/ tetekep, yaitu:

Selisir , Baro, Tembung , sunaren, dan Lebeng.

Sampai sekarang belum ada perubahan lagi

 

Gending- gending Pegambuhnan di Pedungan

Gending Subandar

Gending perong Condong

Gending Sumambang Jawa

Gending Tunjur

Gending brahmara

Gending Semeradas

Gending Gadung Melati

Gending Lasem

Gending langsing tuban

Gending Tabuh Gari

 

 

Gamelan Gambuh yang ada di pedungan ini yang sering rutin dipentaskan pada tiga hari  Setelah hari Tumpek Wayang di Jaba Pura Puseh , Desa Pakraman Pedungan.  Sejak Kapan awal hadirnya Gambelan dan Tari Gambuh yang berada  di BR. Menesa Pedungan . Menurut Cerita konon Gambuh Pedungan ada keterkaitannya dengan kerajaan putri satria yang membawa kesenian gambuh ke pedungan. Ada juga cerita yang menyatakan Tari dan Gambelan Gambuh pedungan Sumbernya dari Desa Pejeng Aji Tegalalang, Gianyar.  Secara Historis , Gambuh Pedungan merupakan seni istana yang erat kaitannya dengan puri satria dan puri pemecutan. Sebagai keadaan dan perkembangan Gambuh pedungan mendapat perlindungan dan pengayoman dari raja. Pada waktu itu,penguasa atau raja masih tertarik melestarikan semua bentuk tradisi teater dan seni daerah. Pada zaman pemerintahan raja-raja di Bali , Gambuh pedungan sering mengadakan pertunjukan di puri pemecutan dan puri satria. Besarnya perhatian raja dan keterkaitan gambuh dengan istana (puri) , khususnya puri Satria dan puri Pemecutan , telah menyebabkan gambuh pedungan tumbuh dan berkembang dan mencapai puncak keemasannya. Kondisi tersebut telah melahirkan penabuh dan penari-penari gambuh handal. Satu diantara yang paling terkenal adalah I Made Lemping (almarhum) sebagai penabuh dan I Gede Geruh (almarhum) , yang sangat besar  kontribusinya terhadap pelestarian , perkembangan dan keberlanjutan Gambuh Pedungan. Kesenian Gambuh ini masih tetap exis sampai sekarang walaupun dalam perjalanan banyak mengalami pasang surut. Secara epistemologis, pasang surut Gambuh Pedungan , tidak dapat dilepaskan dari berbagai perubahan ( perubahan kebudayaan ) yang sekarang ini telah melanda berbagai Negara di Dunia termasuk Indonesia ,bahkan Bali. Kebudayaan akan selalu berubah , atau dengan perkataan lain kebudayaan mengalami transformasi dari masa ke masa. secara umum , perubahan kebudayaan tersebut setidaknya disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor lingkungan dan kontak dengan kebudayaan asing. Faktor lain yang disinyalir sebagai penyebab kemunduran kesenian Gambuh adalah karena sulit dan tiadanya regenerasi sehingga pergantian penari maupun penabuh tidak bisa dilaksanakan.

Fungsi dan Keberadaan Tari dan Gambelan Gambuh Pedungan

Fungsi Tari dan Gamelan Gambuh Pedungan yang merupakan kesenian sakral adalah sebagai pelengkap dalam upacara keagamaan dewa yadnya di Pura Puseh Desa Pekraman Pedungan. Gambelan dan Tari Gambuh Pedungan mempunyai keterkaitan secara niskala yang sangat erat dengan Pura dalem kauh yang berada di Desa Pejeng Aji kecamatan Tegalalang , Gianyar. Sehari setelah hari tumpek wayang , Gambelan dan Tari Gambuh ini juga dipentaskan di Wantilan Pura tersebut, sejalan dengan perkembangan sebagai Tari wali, Gambuh Pedungan juga sering diundang (Ngayah) pada saat upacara Dewa yadnya di pura-pura besar lainnya setingkat Sad khayangan dan Dhang Khayangan. Dengan demikian sampai saat ini Gambelan dan Tari Gambuh pedungan masih sangat disakralkan.

Di samping fungsi utamanya sebagai pelengkap upacara piodalan , dalam perkembangannya Tari dan Gamelan Gambuh Pedungan juga di pentaskan ( art by presentation) atas permintaan masyarakat dengan membayar kaul, Gambuh Pedungan juga sering di minta ikut berpartisipasi  (jika di undang) dalam event kesenian yang sering diadakan seperti Pesta Kesenian Bali (PKB).

Sejarah Gamelan Gambuh

Pertimbangan Ethno-historis

Sejak lahirnya Gambuh pada zaman kerajaan Bali, pengaruhnya Nampak terutama pada dua bidang karawitan Bali , yaitu Wayang dan Gamelan kerrawang Semar pagulingan. Untuk wayang Gambuh , yang menarik perhatian adalah pergunaan laras pelog tujuh nada ( dengan bermacam-macam patutan atau suasana). Mengenai gamelan semar pagulingan , pengaruh dari Gambuh.

Data yang lebih nyata baru muncul pada abad ke-19. Seperti disinggung pada bab-bab lain di atas, fakta-fakta dari berbagai sumber tertulis           ( termasuk penyaksian beberapa orang asing) menyebut keberadaan Gambuh di sekitar dua puluh tempat di Bali. Selain itu juga ada ikonografi mengenai pemakaian instrumen Gambuh (Vickers 1985). Foto yang pertama adalah sebuah grup Gambuh adalah pada bukunya Jacops (1883) , seorang Dokter yang ditugaskan ke Bali oleh pemerintah Belanda. Foto ini memperlihatkan grup yang terdiri dari dua suling panjang , sebuah kajar , sepasang kendang , dan sebuah kempur , yaitu instrumentasi yang kurang lngkap menurut kebiasaan zaman sekarang    ( Vickers 1985: 152) setelah itu ada foto sebuah Gamelan di Klungkung , yang dibuat pada tahun 1922 oleh Jaap Kunst. Tetapi instrument grup ini pun kurang , khususnya Suling dan Rebab ( yang sekarang ada di Moseum Nasional Jakarta) tidak keliatan pada foto itu. Hal ini mungkin disebabkan puputan Klungkung yang terjadi pada tahun 1908, di mana grup yang sebelumnya dilindungi puri Klungkung mengalami kemerosotan yang cepat.

Pada tahun 1930an , beberapa budayawan masih sempat menyaksikan pertunjukan Gambuh dengan rombongan besar ( seperti tindakan pada sebuah upacara untuk Raja Karangasem). Tetapi secara umum pertunjukan Gambuh semakin jarang karena Kerajaan Bali sebagai pengayomnya yang hamper punah , seperti dibahas secara mendetail di bab “ Tinjauan Seni Gambuh”

Memasuki Zaman Kemerdekaan ,Seni pertunjukan Gambuh memang beralih fungsi dari kesenian istana menjadi seni pentas ritual keagamaan.  Seperti yang Nampak di Pura Puseh pedungan di rainan Tumpek wayang . Penampilan Gambuh selain di maknai sebagai presentasi estetik namun juga menjadi kelengkapan upacara keagamaan penting tersebut. Dalam suasana yang komunal dan atmosfer yang religius generasi tua dan muda para partisipan upacara keagamaan itu menyaksikan pertujukan tradisi yang amat jarang dipentaskan karena bwgitu sakralnya.

 

menariknya  di tengah krisis semakin langkanya pemain Gambelan Gambuh , sanggar kertha jaya pedungan mampu mengembangkan kesenian gambuh di desa pedungan , menampilkan para pemain yang muda .  bapak I nyoman kertha mampu menghipun anak muda untuk gemar memainkan gamelan Gambuh  ,  belajar lewat empu-empu atau para tokoh seniman gambuh di pedungan , mereka mampu membina kalangan muda untuk belajar  gambelan gambuh , menampilkan penampilan yang sangat mantap.

Suara germicik dalam embusan sepoi aluna suling yang mengiringi teater itu adalah sajian seni yang jarang terdengar. Beberapa suling panjang adalah instrumen utama dari musik pementasan Gambuh. Alat musik bamboo ini bertugas untuk membawakan seluruh melodi gending , baik tabuh instrumental maupun iringan tari. Untuk memainkan suling panjang ini cukup sulit , diperlukan teknik permainan nafas dan ketrampilan bermain suling selain juga kepekaan musikalitas yang tinggi.

 

Apr 22

Sedikit Tentang Saya

Posted on Senin, April 22, 2013 in Tak Berkategori

Nama saya I Gede Surya Anjasmara ,bertempat tinggal di Br. Pande Pedungan, Denpasar, Bali. Tempat tanggal lahir Denpasar, 07 September 1994. Riwayat pendidikan saya adalah (TK) taman kanak-kanan Dharma Kumara, (SD) Sekolah Dasar Negeri 2 Pedungan  , (SMP) Sekolah Menengah Pertama Dharma Wiweka, (SMK) Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Sukawati  jurusan Karawitan , dan sampai saat ini saya sebagai mahasiswa di (ISI) Institut Seni Indonesia  Denpasar  jurusan karawitan. Saat ini saya berusia 18th. Hobi saya sejak SD saya sudah gemar memainkan gamelan tetapi saya tidak bisa menabuh. Dari saat itulah saya bertekat belajar menabuh dan berusaha untuk mendengarkan gamelan apa yang di mainkan oleh kakak-kakak kelas saya. Dan pada akhirnya pada saat kls 5 SD saya diajarkan/ mulai mengenal namanya tabuh. Pada saat itu saya diajarkan memainkan gamelan yang sering disebut dengan Gangsa dan pada akhirnya saya bisa menabuh. Dengan modal itu saya mulai memberanikan diri mengambil instrument lainnya dan akhirnya saya bisa menabuh hingga sekarang. Dan pada kls 6 SD saya diajak oleh kakak ikut parade gong kebyar antar desa se-Kota Denpasar di kesempatan ini saya dapat memainkan instrumen lainnya dan mulai belajar dari pengalaman saya. Setamat saya SD saya melanjutkan ke SMP DHARMA WIWEKA d smp saya mengikuti ekstra kulikuler menabuh dan sepak bola. Dan setelah saya rajin mengikuti extra kulikuler, saya banyak megetahui gending-gending tari. Dan sejak saat itu saya sering d ajak pentas kemana-mana. Setelah banyak mempunyai pengalaman pentas, saya mempunyai tekat untuk bersekolah di sekolah seni di gianyar yaitu SMK 3 Sukawati atau yang sering di sebut dengan KOKAR. Di SMK 3 sukwati ini saya banyak mempunyai teman-teman yang berkesenian karawitan. Disinalah saya mulai berbagi ilmu dengan  teman-teman yang berasal dari pelosok-pelosok Bali. Dan pada saat itu saya terpilih menjadi penabuh inti. Disinilah saya bisa membanggakan diri untuk bisa memainkan gamelan dan usaha saya mempelajari gamelan sejak kelas 5 SD.  Inilah saat saya memperdalam ilmu karawitan dan saya pun bertekat melanjutkan pendidikan saya ke ISI Denpasar ( Institut Seni Indonesia ).

 

Pengalaman saya di banjar, pada saat SMP saya ikut dalam parade Baleganjur dan Gong kebyar se-Kota Denpasar dan puji syukur Ida Shang Hyng Widhi Wasa Saya dapat meraih 10 Besar yang terbaik. Dan pada saat SMK Saya mengikuti PKB ( Pesta Kesenian Bali ) Mewakili Kota Denpasar. Dan saat Pada saat itu saya banyak dapat pengalaman-pengalaman yang sangat berharga bagi saya.