SEJARAH GAMBELAN SEMAR PAGULINGAN

Gambelan Semar Pagulingan adalah gambelan yang dekat hubungannya dengan Gambuh, gambelan ini adalah pergabungan antara gambelan legong dan gambuh. Semar Pagulingan merupakan gambelan rekreasi untuk istana raja-raja pada zaman dahulu. Biasanya dimainkan pada saat raja akan tidur. Gambelan ini juga dipergunakan sebagai iringan leko dan gandrung yang semula dilakukan oleh abdi raja kraton.

Gambelan semar pagulingan menggunakan  laras pelog 7 nada, terdiri dari 5 nada pokok dan 2 nada pamero. Bentuk dari gambelan semar pagulingan mencerminkan juga gambelan gong, tapi lebih kecil dan lebih manis dikarenakan hilangnya riong-riong dan gangsa-gangsa yang besar. Instrument yang memegang peranan penting dalam gambelan semar pagulingan ini adalah trompong. Gending-gending yang dimainkan dengan tromping biasanya tidak digunakan untuk iringan tari. Ada juga 4 buah gender yang dimainkan untuk menggantikan trompong, kususnya dalam gending-gending tari. Namun ketika memakai gender gambelan semar pagulingan berubah menjadi palegongan. Adapun instrument yang terdapat dibarungan semar pagulingan :

 

  • 1 buah gong
  • 1 tungguh Trompong
  • 4 tunggu Pemade (gangsa)
  • 4 tungguh Kantil
  • 2 tungguh Calung (jublag)
  • 2 tungguh Jegog
  • 1 buah Gentorag
  • 1 pasang Kendang (kendang lanang dan Wadon)
  • 1 buah kecek
  • 1 buah Kajar Trenteng
  • 1 buah Klenang

 

 

Adapun gambelan yang masih aktif :

  1. Pagan ( Denpasar )
  2. Kamasan ( Klungkung )
  3. Teges ( Gianyar )
  4. Kokar dan ASTI ( Denpasar )
  5. Titih ( Denpasar )

Perkembangan Gong Kebyar dalam Ajang PKB

Pesta Kesenian Bali (PKB) merupakan kegiatan yang rutin diadakan di Bali, yang bertujuan sebagai media dan sarana untuk menggali dan melestarikan seni budaya serta meningkatkan kesejahteraan. Pesta Kesenian Bali dimulai pada tahun 1979, pencetusnya adalah gubernur Bali ke 6, almarhum Ida Bagus Mantra. Di awal adanya PKB, diadakan selama 2 bulan, dari tanggal 20 Juni 1979 sampai dengan 23 Agustus 1979.  Melalui Pesta Kesenian Bali, memotivasi masyarakat untuk menggali, menemukan dan menampilkan kepada masyarakat pada pesta rakyat ini. Penyelenggaraan PKB dari tahun ketahun telah memberikan nuansa tersendiri bagi keajegan seni budaya Bali dengan menampilkan tema yang selalu berbeda-beda. Kiranya cara berkesenian masyarakat Bali yang dipersembahkan kedalam wadah Pesta Kesenian Bali, setiap tahunnya juga berbeda-beda.

Salah satu yang menjadi primadona dalam Pesta Kesenian Bali Ini adalah gong kebyar. Daya pikat gong kebyar sudah tampak sejak awal adanya Pesta Kesenian Bali pada tahun 1979. Sebelum dikenal luas dipenjuru Bali, gong kebyar sudah semarak di tanah kelahirannya di Bali Utara. Ini terbukti pada tahun 1920-an, mebarung pentas dalam satu panggung saling unjuk kebolehan sudah mentradisi di pelosok desa di Buleleng, yang digelar dalam berbagai kesempatan. Setelah gong kebya rmulai menjadi media berkesenian secara umum di tengah masyarakat Bali  pada tahun 1930-an, gong kebyar mebarung antar kerajaan pun kian membuat gamelan yang dikembangkan dari gamelan kuno gong gede ini makin tak terbendung. Tidak sedikit gamelan gaya Bali Selatan seperti gamelan Semarpagulingan diubah menjadi gong kebyar. Gong kebyar semakin menunjukkan pesonanya memasuki tahun 1960-an. Tepatny \a pada tahun 1968 muncullah Utsawa Merdangga yang didalamnya terdapat festival gong kebyar se-Bali yang berhasil mengguncang masyarakat Bali. Event ini memunculkan grup-grup gong kebyar yang tangguh. Ska-ska gong kebyar terampil itu tumbuh dan berkembang di desa-desa yang para anggotanya berasal dari satu desa bahkan satu banjar. Dulunya ada 6 materi yang ditampilkan dalam Utsawa Merdangga yaitu :

  1. Tabuh lelambatan
  2. Tabu hkreasi
  3. Tari Trunajaya
  4. Tari Legong Kraton
  5. Tari Dalem Arsa Wijaya
  6. Kekawin/palawakya

Dalam ajang PKB, banyak menghasilkan karya-karya baru khususnya dalam seni kekebyaran. Kekebyaran berarti sebuah konsep msuikal dan bentuk barungan gambelan sebagai media penyajiannya, kekebyaran tidak terbatas hanya pada gambelan gong kebyar saja, namun juga gambelan lain. Pesta Kesenian Bali sangat berperan aktif dalam seni kekebyaran, PKB menjadi media atau tempat para seniman mengekspresikan emosinya dalam   bentuk suatu karya seni berupa tabuh kekebyaran.

Seiring berjalannya waktu begitu banyak tabuh-tabuh gong kebyar yang tercipta dalam ajang PKB, bahkan setiap tahunnya masing-masing kabupaten/kota menampilkan tabuh yang selalu berbeda. Ini merupakan kreativitas tanpa batas dari para seniman karawitan Bali. Pesta Kesenian Bali merupakan satu wadah yang sangat berpengaruh dalam Gong Kebyar di Bali.

HUBUNGAN CENG-CENG DENGAN MASYARAKAT HINDU DI BALI

Di pembahasan ini saya membaginya menjadi 3 bagian yaitu :

  • Bentuk
  • Bagian
  • Pola dan cara kerjanya

Dalam pembahasan ini saya menghubungkan 3 bagian tersebut dengan masyarkat hindu dibali.

  1. BENTUK

Dalam pembahasan bentuk ini dimulai dari bentuk ceng – ceng. Ceng memiliki bentuk bulat yang saya maksud adalah bagian sisi dari ceng – ceng. Didalam bentuk bulat ceng – ceng saya hubungkan dengan tempat manusia hidup yaitu BUMI. Bumi adalah suatu tempat yang diciptkan oleh tuhan untuk manusia yang berfungsi sebagai tempat manusia hidup dan beraktifitas. Kaitannya atau hubungan dengan masyarakat hindu dibali adalah BUMI adalah tempat dari manusia  kususnya masyarakat bali untuk hidup dan melakukan aktifitas.

  1. BAGIAN

Pembahasan dalam bagian bentuk ini dimulai dari bentuk ceng – ceng. Ceng – ceng memiliki 3 bagian yaitu :

 

  • Lempengan
  • Cembung
  • Lubang pada bagian tengah ceng – ceng

Lempeng ceng-ceng adalah bagian paling sisi dari ceng – ceng yang berbentuk lempengan.

Cembung adalah bagian ceng –ceng yang berbentuk seperti cembung.

Lubang ceng-ceng adalah bagian yang paling penting dari instrument ceng-ceng, apa bila dalam instrument ceng-ceng ini tidak berisi lubang pada bagian tengahnya ceng-ceng akan tidak bisa difungsikan. Selan sebagai bagian terpenting, lubang pada ceng-ceng ini berfungsi sebagi tempat memasang tali ceng – ceng. Tali ceng-ceng berfungsi sebagai tempat untuk memegang ceng – ceng.

Dalam hubungannya dengan masyarakat dibali kususnya Agama Hindu memliki juga 3 bagian yang sama seperti bagian ceng-ceng namun sebelum ke Agama saya akan mengkaitkannya dengan bumi dalam pandangan ilmu pengtahuan alam, dalam hal ini juga memiliki bagian yang sama yaitu :

  • Kerak Bumi.

Kerak bumi adalah Bagian bumi yang lapisannya paling sisi dari bumi, kerak ini saya umpamakan sebagi atau seperti bagian ceng – ceng yang bernama lempeng atau lempengan.

  • Mantel Bumi

Mantel Bumi adalah lapisan daribumi yang berada diantara kerak bumi dan inti bumi. Bagian ini saya hubungkan dengan bagian ceng – ceng no 2 yaitu cembung,

  • Inti Bumi

Inti bumi adalah sebuah jantung dari bumi yang sangat berfungsi yang apa bila inti bumi ini padam tidak panas maka kehidupan dibumi ini akan hancur dan tidak ada kehidupan lagi. Pada bagian ini saya samakan dengan bagian yang paling penting dari ceng – ceng yaitu bagian lubang ceng – ceng.

Dalam ajaran Agama Hindu memiliki juga 3 Bagian dunia yaitu TRI LOKA :

  • Bhur Loka
  • Bhuwah Loka
  • Swah Loka

Dalam hal ini saya menghubungkannya dengan ajaran agama hindu yang dimana pada ajaran Agama Hindu memiliki 3 bagian yang sama dalam bagian Ceng – Ceng. Dari pembahasan tentang bagian saya lihat ceng – ceng memiliki hubungan dengan masyarakat hindu di bali.

3.POLA DAN CARA KERJA

Dalam pembahasan tentang pola disini saya mengambil Pola Ceng-Ceng Cak Besik  atau di desa ungasan yang disebut Gebug Lesung. Ada pun sejarah Gebug Lesung :

 

 

Gebug lesung ( cak besik)

Adalah sebuah gebug  atau pukulan yang dimainkan oleh 3 pemain ceng-ceng yang pukulannya silih berganti satu dan lainnya. Dalam gebug leasung ini tidak ada bedanya dengan gebug besik di daerah lain. Namun di Desa Ungasan gebug besik tidak terkenal, gebug yang terkenal adalah Gebug Lesung. sejarah Gebug Lesung ini berawal dari zaman dulu di desa ungasan. Pada zaman dulu didesa ungasan sering diadakan acara membuat jaje uli yang tempat pembuatannya di halaman rumah penduduk. Dalam pembuatannya, masyarakat didesa ungasan menggunakan lesung yang terbuat dari batu, sebagai tempatan bahan dari jaje uli yang akan dihaluskan atau orang didesa ungasan menyebutnya dedek dengan menggunakan Lu. Lu adalah sebuat alat yang tebuat dari kayu yang fungsinya untuk menghaluskan bahan-bahan jaje uli. Dalam prosesnya menggunakan 3 lu yang di hantamkan silih berganti dengan tempo tertentu hingga adonan yang ada didalam lensung tersbut halus dan tercampur rata. Kenapa hanya cukup 3 lu? Hal ini dikarenakan volume lesung yang hanya cukup dengan 3 buah lu, maka dari itu di desa ungasan umumnya saat membuat jaje uli menggunakan 3 lu. Maka dari itu didesa ungasan kususnya seniman-seniman alam sering menyebut gebug besik adalah Gebug Lesung. Hal ini dikarenakan seniman alam diungasan melihat dalam proses pembuatan jaje uli ini sama dengan proses memainkan gebug besik. Dalam permainan pola ceng-ceng (gebug lesung) menggunakan 3 ceng-ceng, yang dimana 3 ceng-ceng memiliki hubungan yang erat karena gebug ini tidak akan bisa dimainkan apa bila salah satu ceng-ceng menggunakan tempo yang berbeda.

 

 

Ada pun cara permainannya :

 

||  .  .  .  *  .  .  .   *  .  .  .  *  .  .  .  ()  .  .  .  +  .  .  .  *  .  .  .  +  .  .  .  ()

|| 2 3 1  2  312  3 1 2 3  1 2  3 1  2 3 1 2  3 1 2 3  1 2  3 1 2 3 1 2 3

.  .  .  *  .  .  .   *  .  .  .  *  .  .  .  () .  .  .  +  .  .  .  *  .  .  .  +  .  .  .  ()

1 2 3  1 2  3 1  2 3 1 2  3 1 2 3  1  2 3 1  2 3 1 2  3 1 2 3 1  2 3 1 2

.  .  .  *  .  .  .   *  .  .  .  *  .  .  .  ()  .  .  .  +  .  .  .  *  .  .  .  +  .  .  .  () ||

3 1 2  3 1 2 3  1  2 3 1  2 3 1 2  3  1 2 3  1 2 3 1  2 3 1 2  3 1 2 3 1 ||

Keterangan :

  • * =  ketukan
  • . = setengah dari ketukan
  • () = gong
  • + = kempur
  • 1 = pukulan ceng-ceng dari pemain no 1
  • 2 = pukulan ceng-ceng dari pemain no 2
  • 3 = pukulan ceng-ceng dari pemain no 3

 

Dalam pola ceng-ceng ini dibutuhkan kepekaan telinga yang kuat agar pukulan tetap jatuh pada ketukan yang sudah disesuaikan oleh tempo. Dalam pola ini dibutuhkan 3 ileh gong untuk 1 putaran pola ceng-ceng ini. Jumlah kilitan ceng-ceng dalam 1 putaran polanya adalah 32 kilitan. Tehnik ini sering dipakai pada saat tempo cepat. Adapun kelebihan dan kekurangannya.

 

 

Kelebihannya :

  • Setiap pukulan dari masing-masing pemain ceng-ceng terdengar jelas
  • Menghemat tenaga pemain ceng-ceng
  • Mengangkat nilai keindahan lagu karena teknik ini biasanya dimainkan oleh orang-orang yang memiliki skill tinggi dalam bermain baleganjur kususnya ceng-ceng.

Kelemahannya

  • Tekniknya gampang hancur apa bila tidak didukung oleh skill pemain yang tinggi.
  • Apa bila teknik ini dibawakan dengan tempo yang lambat akan membuat pukulan teknik ini banyak rongganya.
  • Susah di mainkan apa bila si pemain belum tau tentang tempo.

Demikian Penjelasan tentang Cak Besik ( Gebug Lesung ) kesimpulan dalam penjelas diatas adalah cak besik atau Gebug Lesung merupakan pola permainan yang menggunakan 3 instrumen ceng – ceng dalam permainannya dan dalam cara kerjanya berputar.

Dalam menghubungkan dengan Masyarakat Hindu Bali saya menghubungkannya dengan ajaran Agama Hindu yaitu :

 

 

TRI RNAM  yang berisi 3 bagian :

  • Hutang jiwa kepada sanghyang widhi wasa yang telah menciptakan manusia dengan segala kebutuhannya.
  • Hutang hidup kepada leluhur trutama kepada bapak/ibu yang telah melahirkan dan merawat kita tanpa pambrih.

 

  • Hutang jasa kepada Maha Rsi : Rsi, Guru dan lainnya yang sudah berjasa mengajarkan kita tentang ilmu pengtahuan, seni budaya, tuntunan hidup suci dan lainnya.

 

Dalam hubungannya dengan pola ceng – ceng saya mengumpamakan manusia sebagai Gebug lesung atau cak besik, yang dalam cara kerjanya  menggunakan  3 instrumen ceng – ceng. Saya samakan dengan manusia yang memiliki 3 hutang disaat dia lahir keBumi.

Dalam hubungan dengan cara kerjanya saya menghubungkannya dengan ajaran Punarbawa yang dimana punarbawa ini memiliki cara kerja yang sama seperti pola ceng-ceng cak besik atau gebug Lesung yang cara kerjanya berputar.

Punarbawa adalah ajaran agama hindu yang mengajrkan tentang siklus hidup yang berputar yaitu divisualisasikan dari anak yang baru lahit, beranjak dewasa, memiliki keluarga , menjadi lansia dan kembali kesisi tuhan. Pola ini akan terus berulang dan akan berhenti dimana dalam Bumi sudah tidak ada kehidupan.

Asal Usul dan Makna Gambelan Selonding di Pura Dalem Salunding

Menurut lontar Arya Dalancang milik Ketut Sudarsana selengkapnya di tulis pada purana Pura Dalem Salunding.dalam tulisan lontar ini menguraikan tentang Gambelan Salunding,sebagai berikut:

  • Pada tahun caka 1255 (tahun 1333 masehi) Patih Majapahit yang bernama Gajah Mada menyerang kerajaan Bali.Gajah Mada yang dibantu Oleh Arya Dhamar. Raja Bali saat itu bernama Asta Sura Ratna Bhumi Banten.

Setelah gugurnya Raja Asta Sura Bhumi Banten, Bali dikuasai oleh Gajah Mada dan Arya Dhamar pada tahun caka 1265 (tahun 1343 masehi). Bali kemudian dipimpin oleh Arya Dhamar. Arya Dhamar memiliki tiga orang putra yaitu Arya Kenceng, Arya Dalancang, dan Arya Tan Wikan( Arya Belog).

Tidak beberapa lama Arya Dhamar memimpin Bali, beliau kemudian menugaskan putranya yang bernama Arya Dalancang memimpin Jagat Kapal. Setelah beberapa lama memimpin Jagat Kapal, beliau ingin membuat gambelan salunding. Keinginannya ini didukung oleh para kerabat dan keluarga kerajaan. Namun, beliau juga memohon petunjuk dari Ida Bhatara.

Pada hari yang baik Arya Dalancang bersama para kerabat dan rakyat bawahan beliau memohon waranugraha Ida Bhatara Dhalem Gelgel dan Hyang Upasadana ( Ida Bhatara ring Pura Desa ). Setelah itu juga beliau memohon  panugrahan Ida Bhatara ring Pura Purusadha. Saat itu beliau mendengar sabda agar beliau mewujudkan keinginnannya untuk membuat Gambelan Selonding dengan memohon panugrahan ida Hyang Upasadana dan Ida Hyang Dhalem Gelgel. Setelah beberapa bulan, akhirnya Gambelan Selonding selesai dibuat Arya Dalancang bersama rakyat kapal hidup bahagia. Akan tetapi, setelah beberapa tahun kemudian Gambelan Selonding tidak diperhatikan, maka munculah bencana rakyat Kapal saat itu kena marabahaya. Semua rakyat kena sakit menular.

Dalam mengatasi masalah ini, Arya Dalancang bersama rakyat Kapal kembali memohon petunjuk kepada  Ida Bhatara Hyang Upasadana dan Ida Hyang Dalem Gelgel. Saat itu di dengar Sabda Hyang Dalem Gelgel “ Wahai, Manusia semuanya ! Jika kamu ingin seperti dulu, kamu harus membangun palinggih Aku yang bernama Salunding yang letaknya di barat daya palinggih ini. Jika engkau menghaturkan upakara, upakara dan yang dipersembahkan  di tempat ini boleh digunakan palinggih disana sebab Aku berstana di sana. Demikianlah petunjuk-ku kepadamu semuanya. Jangan lupa ! oleh karena daerah pelinggih itu rawa-rawa, namakanlah daerah itu Tambak’’.

Berdasarkan sabda itulah 66 orang krama, membangun pura.Pura tersebut diupakarai pada tahun Caka 1393 ( tahun 1471  masehi ) dan dinamai palinggih Salunding ( sekarang menjadi Pura Dalem Salunding ). Dalam pengertiannya Salu artinya tempat dalam Bahasa Balinya genah dan Nding yang berarti seni jadi Salunding adalah tempat Seni atau genah Seni yang ada di Jagat Kapal. Daerah ini kemudian bernama banjar Tambak . Tahun 1963 kata “Tambak” ditambahkan dengan kata “Sari”, sehingga banjar ini menjadi ‘’Tambak Sari’’ sampai sekarang. Gambelan Selonding ini kembali dibangun tahun 2009 karena tokoh- tokoh masyarakat resah dengan masyarakat yang terus terkena penyakit. Akan Tetapi gambelan Selonding yang dulu tidak ditemukan  karena tidak ada yang tahu entah tertanam dimana.

Sampai saat ini tidaklah banyak masyarakat tahu tentang keberadaan penguasa Majapahit di Desa Kapal pada masa dahulu,sehingga sejarah dan peninggalan – peninggalannya sepertinya tidak terhiraukan dan tidak terdata yang masih terpendam dan tercecer di sepanjang wilayah Desa Adat Kapal.

Menurut  Pemangku Pura, Kelian Pura, serta Pengurus Pura makna dari kata Salunding adalah Salu yang artinya tempat atau dalam bahasa Bali disebut genah atau tongos dan Nding yang artinya seni. Jadi Salunding adalah tempat seni atau gudang seni yang ada di Desa Adat Kapal.  Gambelan Selonding adalah gambelan Kuno yang paling sakral dalam melengkapi upacara keagamaan (Hindu) di Bali yang berlaras pelog Sapta Nada, contohnya seperti Selonding yang ada di Pura Dalem Salunding Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung. Menurut Lontar Prekempa bahwa semua tetabuhan atau gambelan lahir dari suaraning Genta Pinara Pitu, Suaraning Genta Pitara Pitu adalah suara sejati yang berasal dari suaranya alam semesta atau bhuana, suara suara yang utama yang berasal dari suaranya semesta itu ada tujuh suara banyaknya yang disebut dengan sapta suara. Suara ini berasal dari Akasa disebut Byomantara Gosa. Ada pula suara yang disebut Arnawa Srutti yaitu suara yang keluar dari unsur Apah. Yang lain ada disebut dengan Agosa, Anugosa, Anumasika dan Bhuh Loko Srutti. Yang terakhir disebutkan suara yang keluar dari unsure pertiwi.            Sapta suara yang merupakan inti dijadikan sebagai sumber yang dihimpun oleh Bhagawan Wismakarma menjadi Dasa Suara, yaitu lima suara Patut Pelog sebagai Sangyang Panca Tirta dan lima Suara Patut Selendro sebagai Pralingga Sangyang Hyang Panca Geni. Unsur Dewata yang merupakan Prabawa dari Zat Tunggal Ilahi yang melingga pada dasa suara yang dihimpun menjadi gegambelan.

APRESIASI DRAMA TARI MUSIKAL

Drama Tari Musikal adalah sebuah garapan yang diciptakan oleh Isi Denpasar yang di pentaskan baru-baruini di art centre dalam rangka pembukaan PestaKesenian Bali (PKB) yang ke-39. Dalam isian dari Drama Tari Musikal ini menceritakan tentang epos Mahabarata yang berjudul Kresna Dwipayana. Dalam prosesnya, Drama ini menggunakan banyak pendukung yang menyebabkan agak sulit dalam pembuatannya. Pada bagian pendukung iringannya ISI Denpasar membuat hal yang baru atau membuat sebuah kejutan yang dimana sesuai dengan judulnya “Drama Tari Musikal” ISI Denpasar akan menggabungkan gambelan Bali dengan instrument music luar seperti Drum, Biola, Piano, dan Sexsophone. Dalam garapan ini melibatkan mahasiswa semester 6 karawitan dan musik.

Mulanya dalam pembentukaan bagian perbagian menurut saya pribadi sama dengan halnya dengan pembuatan garapan-garapan sebelumnya, namun pada saat akan menggabungkan antara music dengan gambelan, disana letak kesulitannya menurut saya, karena kerap kali tempo antara pemain music dan pemain gambelan sering tidak pas dan saling mendahului. Hal ini memberikan saya pengalaman baru dalam memaikan gambelan dimana dalam memainkan gambelan bukan hanya soal pendengaran dan rasa saja namun pengelihatan saya dipaksa berkerja extra untuk melihat pemain musik yang memainkan sebuah lagu yang dimana jarak antara pemain gambelan dan music lumayan jauh dan ditambah ruangan yang sangat gema menyebabkan bunyi dari setiap instrument bercampur aduk. Adapun hal hal kecil yang menggangu proses latian dalam garapan ini yaitu yang paling utama adalah kelengkapan pemain. Sering kali daman sesi latian banyak pemain yang tidak hadir dikarenakan sibuk dengan urusan di desanya. Ketertiban dalam proses latian menurut saya sangat kurang, kerap kali pemain drama ketika bagiannya sudah selesai, sipemain langsung pulang atau keluar meninggalkan tempat latian sebelum latian selesai. Hal kecil ini menurut saya menimbulkan kecemburuan bagi pemain dibidang iringan, karena apabila pemain gambelan dan music ikut seperti itu apakah garapan itu akan bisa berjalan? Menurut saya marilah saling menghormati sesame pendukung.

Beranjak dari permasalahan dalam proses pembuatan garapan ini saya sangat tertarik dengan bagian 2 yang dimana menurut saya bagian ini membuat saya terhibur. Disini saya bisa merasakan bagaimana musik yang dibuat oleh bapak nyoman windha, menggambarkan sebuah suasana alam yang dimana ditambah dengan iringan delapan buah jegoggan bambu( maaf apabila nama dari instrumennya salah atau tidak cocok karena saya hanya menggunakan tafsiran saya) yang membuat suasananya menjadi lebih lembut menurut saya pribadi. Namun dalam pikiran saya music ini digunakan untuk mengiringi tarian burung atau hewan. Setelah diisi dengan tariannya ternyata saya salah, iringan tersebut dibuat untuk mengiringi tarian air dari sungai Yamuna. Adapun pada bagian opening yang dimana adanya pergabungan antara 8 ketukandan 9 ketukan  yang di iringi dengan vokal “Om Bhur Bwah Swah” pada bagian itu sangat menggambarakan kegagahan dan keagungan.

Dalam keseluruhan garapan ini menurut saya sangat baik dimana banyak sekali motif-motif permainan tempo dan melodi, adapun kolaborasi antara pemain music dan gambelan yang dimana pada permainanya membutuhkan konsentrasi yang tinggi agar tidak terjadi perbedaan tempo diantara pemain music dan gameblan. Saran saya mungkin pada waktu latihan agar lebih panjang karena menurut saya pribadi sangat susah bermain bersama music karena butuh latian yang cukup lama agar tidak ada miskomunikasi antara pemain music dan gambelan (apabila konsep pembukaan tahun depan sama dengan tahun ini).