suardianaputra on Juni 6th, 2018

Megebagan adalah tradisi yang sudah berlangsung sangat lama dalam upacara pitra yadnya di banjar saya, megebagan yang artinya bermalam di tempat orang yang mempunyai upacara adat pitra yadnya (meninggal). Menurut informasi yang saya dapat dahulunya budaya megebagan ini di isi dengan acara membuat alat dan sarana upacara yadnya tetapi seiring perkembangan zaman seperti sekarang ini, sudah jarang orang megebagan itu membuat alat dan sarana upacara di tempat upacara itu sendiri karena di gantikan dengan hanya begadang biasa saja.

Di acara seperti ini biasanya di manfaatkan oleh para tokoh-tokoh di banjar saya untuk mengadakan perjudian, kata para orang-orang disana yang saya pernah tanya mengadakan perjudian ini supaya orang-orang disini tidak cepat ngantuk dan di dalam perjudian inipun ada yang namanya “ngecuk” yang artinya sumbangan kepada orang yang mempunyai acara pitra yadnya ini sendiri, jadi acara ini cukup menguntugkan bagi si pemilik acara itu sendiri, karena cukup mengurangi biaya yang di keluarkan untuk upacara ini.

Megebagan ini biasanya berlangasung dari awal adanya orang meninggal sampe upacara itu ”ngetelunan” atau bisa di sebut juga dengan metelung dinan yang artinya tiga hari setelah pengabenan, acara megebagan ini tdak hanya di isi dengan perjudian tetapi banyak hal di isi dalam megebagan ini. Hari pertama dalam kegiatan megebagan ini di isi dengan acara pembuatan katik sate, pembuatan banten, pembuatan wadah atau bade yang digunakan untuk membawa mayat ke tempat pembakaran, dan pembuatan sarana upacara lainya. Esoknya biasannya di isi dengan acara mealian-alian yang artinya mencari sara upacara yang susah di temui di pasar atau yang tidak di jual seperti tirta pengentas, daun intaran, dan masih banyak lagi. Di hari ketiga di isi dengan kegiatan pembuatan tempat pemandian mayat yang akan di lakukan keseokan harinya. Setelah sarana upacara sudah selesai semua baru acara tersebut digantikan oleh acara perjudian yang di selenggarkan oleh panitia penggalian dana. Kurang lebih seeperti itu yang saya dapat dari informasi masyarakat.

suardianaputra on Juni 6th, 2018

Tepat pada tanggal 27 april 2018 saya bertemu dengan salah satu komposer yang ada di desa saya kebetulan juga beliau yang sedang menggarap iringan tari yang mau digunakan untuk maskot desa Mekar Bhuana. Komposer yang bernama I Wayan Gede Arnawa atau akrab di panggil “nanang” ini tinggal di desa adat Bindu yang kurang lebih jarakya Cuma satu kilometer dari desa adat saya, beliau kerja di dinas kebudayaan kabupaten badung atau tepatnya di puspem badun, di umur beliau yang hampir menginjak kepala lima ini, beliau masih sangat semangat dalam mempertahankan seni di desa ini, beliau juga kerap mengajar gender wayang di rumahnya kata beliau untuk membentuk karakter dasar dari penabuh, “pang ngelah dasar” dasar beliau. Nah berhubung saya bertemu beliau di hari itu saya sempat menanyakan beberapa pertanyaan kepada beliau yang berhubungan dengan mata kuliah literature ini berikut akan saya jelaskan dibawah.

 

  • Apa yang dulu anda pikirkan sebelum menuangkan lagu/gendinng kepada penabuh ?

Nah pada saat saya bertanya seperti ini beliau menjawab, hal yang pertama ada di otak beliau adalah ide garapan, kenapa begitu menurut beliau kita sebagai composer harus mempunyai apa yang dinamakan ide, ide dalam suatu karya dapat membawa kita ke suatu arah kemana yang ingin kita pergi dan memudahkan kita membuat karya. Tidak hanya itu, dengan kita memikirkan dengan matang ide garapan kita itu, tujuan kita menjadi jelas bahwa kita akan membuat garapan, misalnya bunga, jika kita membuat garapat iringan tabuh yang berhubngan dengan bunga pertama kita harus dapat mencarri keuikan bunga ituu, misalnya warnanya, kelopaknya atau apa yang menurut kita menarik. Setelah memikirkan ide garapan selanjutnya kita memikirkan tentang konsep garapan, misalnya iringan tari apa yang akan kita buat ? bebarisan, tari putri, rerejangan, atau apa, ini jua harus jelas dalam pembuatan suatu garapan supaya istilahnya iringan tarinya menyatu dengan tarinya dan supaya tidak “meimpas”kata beliau, nah jika semua itu sudah jelas baru beliau menuangkan lagu ke penabuh.

 

  • Bagaimana metode anda menuangkan lagu/gending kepada penabuh ?

Karena waktu itu penabuhnya anak-anak jadi beliau mengajarnya dengan penuh kesabaran, seperti halnya anak-anak biasa yang cukup susah untuk dikasi tau, jadi beliau mengajar ke semua instrument gamelan misalnya instrument gangsa yang mendapat bagian beliau langsung mengajar dengan memberitahu lewat gangsa, biasanya orang lain yang saya lihat membritahu dengan omongan tetapi beliau llebih sering dengan tindakan daripada omongan. Dan kalau instrument reong yang mendapat bagian beliau lgsg menurunkan lagu ke instrument reong begitupun seterusnya. Beliau menuangkan lagu tanpa membawa catetan bisa dibilang langsung membuat di otaknya dan diturunkan pada hari itu juga.

  • Apakah anda memerlukan referensi ?

Kata beliau referensi itu pasti, dengan pengalaman beliau yang sudah cukup banyak beliau mencari referensi di garapan beliau yang terdahulu, dan mencari-cari suber atau kotekan yang enurut beliau pas di taruh di iringan tari tersebut.

Kurang lebih seperti ituperbincangan saya dengan beliau yang menghabiskan waktu sekiranya 3 jaman sambil beristirhat sewaktu pembuatan tari maskot di desa saya, beliau sudah cukup terkenal di daerah badung kalau masalah pembuatan iringan tari, angsel-angsel yang pas dan ngumbang ngisep yang beliau taruh di posisi yang tepat membuat beliau sudah tidak diragukan llagi disini, skian dari saya.

 

suardianaputra on Juni 6th, 2018


TOYAN JAKA

Kenapa saya menggambil ide garapan Toyan Jaka karena kehidupan masyarakat di rumah saya yang masuk ke dalam nuansa pedesaan dengan kebiasaan yang bisa dibilang ada sisi positif dan negatifnya yaitu meminum-minuman berarkolohol yang biasa atau sering disebut dengan tuak. Masyarakat yang sering minum-minuman ini ada yang bilang minuman ini dapat membuat tenaga yang tadinya capek atau lelah dapat pulih kembali dengan meminum tuak tersebut, ada juga yang mengatakan kalau kelebihan meminum tuak tersebut dapat membuat kesadaran kita melemah dan kehilangan kendali. Oleh karena itu saya tertarik memasukan ide garapan ini karena saya juga pernah ikut merasakan bagaimana sensasi dari minuman khas bali ini.

                Disini saya mencoba menuangkanya ke dalam suatuh garapan tabuh telu pegongan kreasi dimana didalamnya saya mencoba mentransfer sensasi-sensasi minuman ini ke dalam tabuh tersebut yang banyak sekali mengandunng manfaat kegunaan dan juga efek samping yang ada dalam minuman ini, dari saat mulai meminumnya, perlahan membuat tenaga yang lelah menjadi kembali pulih, lalu ego peminum menjadi keluar dan membuatnya untuk menambah dan menambah lagi minuman ini sampai akhrinya ia tidak dapat mengontrol emosinya sendiri, yang damat kita bisa mengeluarkan semua keluh kesah kita dan juga dapat mengungkapkan emosi terdalam kita.

Menariknya lagi minuman ini sangat di gemari oleh kaum muda jaman sekarang dimana mereka berkumpul menikmati minuman ini dengan tanpa ada suasana sedih , hanya senyuman dan kebahagiaan yang ada disini. Dan semoga garapan yang saya akan buat dalam bentuk tabuh telu pegongan kreasi ini dapat bersatu dengan ide garapan ini.

suardianaputra on Juni 6th, 2018

Tari legong raja cina ini di buat tahun 30-an, dari penuturan I Gusti Ngurah Agung Gede Putra S,sn, Agung Sikak Sempat mengatakan, dulu ada Tari Legong Mramara dan Tari Legong Raja Cina, Tari Legong Mramara menceritakan tentang hewan seperti kumbang, sedangkan Tari Legong Raja Cina menceritakan tentang Raja Bali dengan Putri Cina (Jaya Pangus dengan Kang Cing We) 2011 di rekontruksikan oleh I Gusti Ngurah Serama Semadi yaitu Legong Mramara, yang membuat komposisi geraknya yaitu Ni Gusti Agung Ayu Spitri S,sn M,si. sedangkan 2012 di rekontruksikan Tari Legong Raja Cina, yang menata gerak tari itu adalah I Gusti Ngurah Agung Gede Putra S,sn. Pada saat itu tidak ada bayangan gending dari Tari Legong Raja Cina itu, ahirnya ditanyakan pada Pak Brata (Alm) disana ditanyakan tentang tabuh Tari Legong Raja Cina itu setelah di cari, di kasi notasi gendingnya, hanya ada bagian pengawak saja, selain itu tidak ada gending dari Tari Legong Raja Cina itu. ahirnya di buatkan kembali gending yang belum lengkap itu oleh I Gusti Ngurah Serama Semadi S,sp M,si. Berdasarkan itu dibuat kembali Tari Legong Raja Cina itu, di bagian pengawak mengunakan ciri khas gayang Saba dan begitu juga tarinya menata geraknya mengunakan ciri khas gaya Saba. Identitas dari Tari Legong Raja Cina ini adalah Barong Landung, dulu sempat jga dapat di debatkan tarian ini tidak mengunakan propeerti Barong Landing tetapi tarian ini dibuatkan gerakan-gerakan seperti gerakan tarian Barong Landing. 2012 sempat dipentaskan di Puri Saba, dan 2014 di pentaskan di PKB (Pesta Kesenian Bali) oleh Duta Kabupaten Tabanan, sedangkan 2015 dipentaskan kembali di PKB (Pesta Kesenian Bali) oleh Duta Kabupaten Gianyar yang diwakili oleh Desa Bedulu. Sampai sekarang Tari Legong Raja Cina ini masih di gunakan untuk ngayah-ngayah. Penari asli dari Tari Legong Raja Cina ini adalah :

  1. Dayu Dwita
  2. Andra
  3. Putu Lesu Priantini (Peran Dewi Danu)

I Gusti Ngurah Agung Gede Putra S,sn menuturkan dulu tabuh tari legong raja cina ini dulu hanya di bagian pengawaknya saja, Pada saat itu tidak ada bayangan gending dari Tari Legong Raja Cina itu, ahirnya ditanyakan pada Pak Brata (Alm) disana ditanyakan tentang tabuh Tari Legong Raja Cina itu setelah di cari, di kasi notasi gendingnya, hanya ada bagian pengawak saja, selain itu tidak ada gending dari Tari Legong Raja Cina itu. ahirnya di buatkan kembali gending yang belum lengkap itu oleh I Gusti Ngurah Serama Semadi S,sp M,si. Berdasarkan itu dibuat kembali Tari Legong Raja Cina itu, di bagian pengawak mengunakan ciri khas gayan Saba dan begitu juga tarinya menata geraknya mengunakan ciri khas gaya Saba. Identitas dari Tari Legong Raja Cina ini adalah Barong Landung, di bagian pengawak Tari Legong Raja Cina ini memiliki ciri khas gaya Saba, dan di bagian pengawak juja di bagian geraknya mencirikan gerak-gerak Barong Landing.

suardianaputra on Juni 6th, 2018

Dari tahun-ketahun pasti ada saja perkembangan gong kebyar di PKB perkembanganya dari berbagai macam bentuk, mulai dari bentuk garapan, komposisinya, teknik-teknik, dan lain sebagainya dan sekarang saya akan membahas perkembangan dari segi tekniknya dari tahun 2010 sampai dengan 2015 dan tentuya informasi yang saya dapat belum cukup sempurna dikarenakan kurangnya informasi dan kurangnya pengetahuan yang saya terima.yang pertama saya akan membahas tabuh kreasi “delod brawah” duta kabupaten badung yang ditampilkan di PKB, tabuh ini masih sangat terikat dengan pakem-pakemm yang ada, tabuh ini sangat melodis karena melodinya yang di atur dan ditata dengan sedemikiann rupa sehingga membuat genting ini kaya dengan melodi, pada awal tabuh ini dimulai dengan kebyar, dan kebyarnyapun sangat simpel dengan memukul nada “dang” dengan serentak dan disambung dengan otek-otekan dan pada akhir tabuhh ini diakhiri lagi dengan kebyar yang cukup pendek dengan di sambunng dengan otek-otekan, tabuh ini berakhir pada nada “ding”. Demikian penjelasan saya tentang tabuh kkreasi tahun 2010 dan sekarang saya akan membahas tabuh kreasi “dharmanggala” tahun 2011 yang di bawakan oleh padepokan seni dwi mekar dan diciptakan oleh I Made Subandi,S.sn. di tahun 2011 ini sudah kelihatan bedanya dari tahun 2010 tadi karena di tahun 2010 tadi waktu pengambilan panggulnya di kodekan dengan hanya “plak” kendang saja tapi di tahun 2011 ini di kodekan dengan gerakan tangan dann suara “hi”. Tabuh ini di awali dengan keyar yang hanya di lakukan oleh instrument gangsa dan kantilan saja lalu di ikuti dengan instrument reong, kalo di lihat dari videonya sangat kelihatan bedanya, tabuhh ini mempunyai banyak variasi-variasi pukulan dan variasi-variasi teknik. Dan pada bagian bebaturanya tabuh kkreasi ini menggunnakan instrument tambahan yaitu ceng-ceng kopyak, dan penambahan instrument ini menurut saya untuk membuat suasana instrument menjadi ramai, di bagian pengecet tabuh ini berisi kebyar lagi dan temponya berubah cepat dan instrument gangsa tidak berpatokan pada tempo sudah jauh sekali perkembanganya kalau dibandinggkan denga tahun 2010 tadi. dan sekarang saya akan membahas tabuh kreasi “Badeng” tahun 2012 yan di ciptakan oleh I Made Subandi,S.sn. dan dibawakan oleh sanggar alit sundari, di tahunn 2012 inni perubahan dan perkambanganya sudah sangat jauh, awal tabuh kreasi “badeng” ini di awali dengan kebyar dan setelah kebyar dilanjuti dengan kebyar lagi, tabuh ini kaya dengan kebyar dan variasi sulingnya tidambah lagi ada karawitan vokalnya, menurut saya karya I Made Subandi ini tiap tahunya terus berubah karena mungkin inspirasi yang di dapat bermacam-macam, tetapi yang tidak pernah berubah dari karyanya iaah permainan melodinya yang sangan indah menurut saya, dan di tabuh ini permainan instrument “kajarnya” sangat diatur dan tidak terfokuskan berpukulan seperti manabiasa instrument kajar ini sendiri. Tabuh kreasi ini juga tidak hanya menggunakan satu instrument suling saja tetapi menggunakan 2 instrumen suling yaitu suling besar dan suling kecil. Tabuh ini kaya dengan teknik-eknik yang dimainkan, dan tingkat kerumitanya jauh lebih rumit daripada tabuh di tahun-tahun sebelumnya, dan pada bagian pengecetnya ada tambahan vocal yang berisikan kata “ye badeng” yang artinya kamu hitam, kata tersebut menurut saya sindiran kepada duta di sebelah guna untuk menurunkan mentalnya karena persaingan waktu itu sangat ketat di antara kabupaten.