Sejarah gamelan gender wayang dan semara pagulingan sanggar swasti swara / banjar Kepisah Pedungan

Posted on Rabu, Oktober 16th, 2013 at 10:23 am

BAB. I

Sejarah perkembangan Sanggar Swasti swara

 

Sebelumnya, puji syukur dan terima kasih banyak saya ucapkan kepada Tuhan Kuasa bahwa pada kesempatan ini saya dianugerahi /diberikan kesehatan yang baik , sehingga saya bisa menyelesaikan tugas yang telah diberikan kepada saya sebagai mahasiswa semester 3 jursan seni karawitan di ISI Denpasar.

 

Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan sedikit yang sudah saya dapatkan di tempat saya sering berkumpul yaitu Sanggar Swasti Swara yang beralamat di jalan Pulau Singkep Gang III no 1 Banjar Kepisah Pedungan Kecamatan Denpasar Selatan Bali – Indonesia

 

Dapat saya sampaikan bahwa, diawal sebelum bernama Sanggar  Swasti Swara, sekaa ini menggunakan nama TRIDATU dan nama tersebut dimunculkan pada saat mendukung Ujian dari Ketut Agus Suastika S.Sn yang pada saat Ujian akhirnya tersebut menggunakan alat / gambelan Gender Wayang ( 4 buah pemade/ gender besar, dan 2(dua) buah gender kantilan/barangan ) yang dipadukan dengan 6 buah Suling menengah dengan laras yang sudah disesuaikan dan juga 4 pasang alat gesek rebab (foto terlampir)

Kembali dapat saya sampaikan, dalam perkembangan sampai saat ini, alat / gambelan yang ada sekarang di Sanggar swasti swara dapat saya sebutkan :

  1. 1(satu) barungan lengkap gamelan Gong Semara pagulingan
  2. 1(satu) pasang gender besar/pemade
  3. 1(satu) barungan lengkap gamelan batel wayang yang terdiri dari 1(satu) pasang pemade/gender besar, 1(satu) pasang kantilan/barangan, sepasang kendang batel, kempur batel, kajar  kekrentengan, klenang batel, kempur batel, kecek batel, suling kecil,
  4. Setengah barungan gamelan gong kebyar (gong kebyar mini), yang hanya terdiri dari 2 pemade, 2 kantil, 1 pasang calung, 1 pasang jegogan, 1 ugal, reong 8, 1 buah kajar, gong kempur masing masing 1 buah, dan juga 4 buah cengceng kopyak, dan beberapa buah kendang besar dll

BAB. II

Dimulai dari Gamelan Gender Wayang

 

Juga dapat saya jelaskan dan sampaikan bahwa pada awalnya gambelan yang ada di Sanggar Swasti Swara hanyalah 4 buah gender wayang dengan masing – masing 2 pasang pemade dan 2 pasang kantilan/barangan. Gamelan gender wayang ini dibeli sekitar tahun 1986/1987 di Kayumas Kaja Denpasar ( rumah seniman karawitan Bapak Wayan Konolan / Bapak I Nyoman Sudarna BA )

 

Dapat diceritakan, pada awalnya orang tua dari Bp ketut agus suastika S.Sn, yaitu Bapak I Nyoman Riyung , menyediakan setengah barung gamelan angklung keklentangan dan sepasang rindik, dan sebuah gangsa gong kebyar, untuk di pakai sebagai latihan oleh anak – anaknya tetapi dalam perjalanannya alat tersebut akhirnya ditukar dengan gamelan gender wayang. Sebegitu besarnya keinginan dari Bapak I nyoman Riyung, untuk dapat melihat anak – anaknya bisa memainkan gender wayang dengan baik, didatangkan seorang guru gender dari Banjar Menesa Pedungan yaitu (alm). I Wayan Merdata kemudian Bapak Wayan Tegeg (Kak munggah) juga belajar langsung ke kayumas yaitu di rumah bapak I Nyoman Sudarna BA. Pada saat tersebut yang belajar memainkan gender wayang ada banyak sekali tetapi menurut saudara Komang Jaya juliawan, yang serius mendalami gender wayang , dapat saya sampaikan yaitu Pak Ketut Agus Suastika, Wayan Gede Budiharta,  Komang Jaya Juliawan, dan AA  Made Oka Mandya.

 

Setelah bisa memainkan Gending – gending Gender style Kayumas dan style Pedungan, dalam perjalanannya setiap kegiatan / upacara adat khususnya di banjar Kepisah Pedungan Sering mengiringi acara seperti mepandes/ metatah/ potong gigi, pawiwahan, resepsi-resepsi, juga ditempat lain, sering juga diminta untuk sebagai pengiring dalam pentas Wayang Kulit, baik itu Wayang Lemah (siang hari) ataupun Wayang Peteng(malam hari), sering diminta untuk mengiringi acara resepsi di jayasabha, termasuk juga di hotel – hotel, kegiatan megambel diupacara upacara adat tersebut berlangsung sampai sekarang.

Banyak sekali hal – hal yang mungkin tidak dapat saya ceritakan disini secara detail, tetapi pada intinya, gamelan gender wayang di sanggar swasti swara, sampai saat ini memiliki kurang lebih 50 anak didik yang khusus dibina oleh Bapak Ketut Agus Suastika S.Sn untuk bisa memainkan gender wayang dengan baik, untuk nantinya dapat digunakan dalam kehidupan bermasyarakat dan juga sebagai dasar mempertahankan budaya Bali yang adiluhung.

 

Dulunya, katanya kalau memainkan gamelan gender wayang hanya beberapa orang yang bisa memainkan dan maaf, kebanyakan sudah sepuh(tua), tetapi dalam perkembangannya sekarang, banyaknya diadakan lomba-lomba gender berpasangan baik tingkat anak – anak dan remaja, cukup banyak memberikan peran dalam hal musik karawitan Bali. Begitu juga di sanggar swasti swara, anak – anak yang dibina sudah sering diikutkan dalam lomba – lomba , anak – anak yang dibina di sanggar swasti swara juga sudah pernah menampilkan demonstrasi pentas massal Gender Wayang pada penutupan PORSENI Kelurahan Pedungan, dengan total penabuh sebanyak 20 orang dan memainkan 3 buah gending yaitu, Gineman, Merak mengelo, Sekar Taman.

 

 

BAB. III

Gamelan Gong Semara Pagulingan dan Gong Kebyar mini , berdirinya Sanggar Swasti Swara Denpasar

 

Perwujudan sebuah cita – cita dari keluarga Bapak I Nyoman Riyung untuk mempunyai sebuah barungan Gamelan saih pitu Semara Pagulingan akhirnya terwujud di tahun 2009, tepatnya tanggal,14 juni 2009 gamelan ini datang setelah melalui proses pemesanan dan pembuatan yang cukup lama. Gamelan ini dipesan bilahnya di pande gamelan yaitu Bapak  I Wayan Sukarta (Desa Blahbatuh, Gianyar) dan proses ukir di Desa Singapadu Gianyar. Gamelan saih pitu semara pagulingan di swasti swara ini terdiri dari 1 buah trompong lengkap dengan 14 moncol, 4 pemade, 4 kantilan, 2 calung, 2 jegogan, 1 kajar kekrentengan, 1 kecek, 1 gentorag, 1 klenang, 1 gong , suling kecil dan suling besar.

Dalam proses perkembangannya gamelan ini sudah sangat sering diundang untuk bisa mengisi kegiatan-kegiatan upacara, baik itu manusa yadnya (potong gigi / metatah / mepandes, pawiwahan / pernikahan), maupun upacara Dewa Yadnya (piodalan –piodalan, pemlaspasan bangunan suci seperti Pura, Sanggah), gamelan semara pagulingan ini pertama kali diundang keluar untuk megambel yaitu pada saat upacara piodalan di Pura Pasar yang ada di wilayah Ubung, selanjutnya setelah megambel tersebut, satu demi satu acara dan request untuk mengisi kegiatan acara datang silih berganti ke sanggar swasti swara,  kegiatan megambel di swasti swara sudah tentu dimainkan sebuah group / sekaa, yang pada akhirnya menjadi nama Sanggar Swasti Swara,

 

Dapat dijelaskan disini, Sanggar ini dibangun dengan konsep yang sangat mulia yaitu Konsep NGAYAH (konsep melakukan sesuatu dengan tulus ikhlas, tidak mengharapkan imbalan), dengan dukungan anggota/teman – teman penabuh, Sanggar / Sekaa ini sudah melakukan berbagai kegiatan ngayah, disebutkan sebagai contoh, Ngayah megambel di Pura Dalem Pakerisan, Pura Desa Pedungan, Pura Titi Gantung Cau Blayu, dan lain lain, tetapi dalam kegiatan yang lain , sebagai timbal baliknya jika melakukan kegiatan megambel di luar acara Ngayah, gambelan dan para penabuh di sanggar ini kaupah, sesuai dengan kesepakatan yang disepakati.

 

Nama Sanggar Swasti Swara, nama ini pertama kali dipakai pada saat Pentas di Lapangan Puputan Badung dalam acara Mahabandhana Prasada, tahun 2010 dan digunakan sampai sekarang. Sanggar ini mempunyai keanggotaan sebanyak 35 orang dengan Ketuanya I Kadek Andita S.Sn

 

Beberapa kali pentas resmi sudah pernah dijalani oleh Sanggar Swasti Swara, salah satunya mengikuti Parade Gamelan Klasik di Lapangan Puputan Badung, dan pada PKB XXXV tahun 2013 menjadi Duta Kota Denpasar dalam pentas rekontruksi. Di pentas rekontruksi tersebut, Sanggar Swasti Swara memainkan 5 buah gending, dengan 2 tarian dan 3 tabuh petegak, dapat disebutkan disini yaitu membawakan :

  1. Tabuh Dua ‘Sumambang Bali’ dengan penata Sang Nyoman Putra Arsa Wijaya S.Sn
  2. Tari ‘Pegambuhan Perong Condong’ dengan penata Bapak Nyoman Sudiana S.Skar, Msi
  3. Tabuh ‘Dharma Kusuma’ ciptaan Bapak I Wayan Rundu
  4. Tari ‘Panji Sumeradas’ dengan penata Bapak Nyoman Sudiana S.Skar ,Msi
  5. Tabuh ‘Semara Winangun’ dengan pencipta Bapak Komang Astita MA

 

7

Kemudian juga seiring dengan hal tersebut, karena banyaknya kegiatan yang dilaksanankan, maka dari itu ada keinginan dari Sanggar Swasti Swara untuk memiliki gamelan gong kebyar, dan karena keterbatasan dana yang ada, gamelan gong kebyar hanya dipesan setengah barung dengan model lelengisan/tidak diukir(sudah dijelaskan diatas). Gamelan ini juga sudah beberapa kali dipakai untuk mengisi kegiatan di masyarakat.

 

Diharapkan kedepannya Sang

gar Swasti Swara dapat berguna di kehidupan masyarakat Bali dan dapat terus menjadi salah satu bagian pendukung program pemerintah dalam hal pelestarian budaya khususnya musik tradisi  karawitan Bali.

 

Demikian sedikit yang dapat saya sampaikan dan jelaskan pada kesempatan ini, mohon maaf apabila ada suatu hal yang mungkin dirasakan tidak sesuai, akhir kata saya ucapkan Terima Kasih.

 

 

 

Denpasar, 16 October 2013

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply