BHAGAWAD GITA

This post was written by sedanaputra on Mei 22, 2012
Posted Under: Lainnya

Bhagawad Gita
(Pancama Veda)

Latar belakang peristiwa ‘Bhagawad Gita’ adalah kisah perang Mahabarata, yang melibatkan pihak Pandawa dan pihak Kurawa. Pandawa berarti suci dan bersih, dengan kata lain simbol ‘Kesucian’, diwakili oleh keluarga Pandu yang 5. Kurawa adalah symbol kekuatan nafsu, amarah, tamak, kemabukan, kecongkakan dan dengki diwakili oleh 100 keturunan dari Dritharashta. Secara simbolisme dan pertempuran itu sendiri memiliki dua nama, nama asal adalah Dharmakshetra (yakni tempat historis&suci), sedang nama yang kedua adalah Kurukshetra (yakni medan pertempuran). Arti simbolis kedua nama ini adalah : berawal dari kelahiran sebagai bayi yang suci, bahagia dan banyak tertawa karena tak mengenal dosa, harus beranjak dewasa dan berbuat banyak dosa sehingga harus berjuang di medan pertempuran agar kembali menjadi bayi yang murni.
Jalannya peristiwa :Arjuna, penengah Pandawa, maju dalam peperangan dan menaiki kereta yang dikusiri oleh Kresna. Menyaksikan bahwa lawan dan kawan yang pada hakikatnya adalah teman, kerabat dan saudara, maka Arjuna menjadi lemah hati dan bermaksud untuk mengundurkan diri dari peperangan.
Saat itulah Kresna bergeser fungsi menjadi Sang Guru yang member wejangan-wejangan dalam dialog yang disebut dengan ‘Bhagawad Gita’.
Inti wejangan Kresna :Manusia (wayang) memiliki dua keakuan yang mendasar, bentuk keakuan pertama adalah aku yang berwuju dragawi, badan kasar yang menjadi wujud lahiriah manusia, keakuan ini melahirkan banyak keterikatan seperti : negaraku, milikku, mobilku, perusahaanku, istriku dll. Sedang keakuan kedua adalah Aku besar yang berada dalam samudra kalbu manusia, ‘diri yang sejati’ inilah yang memberipertimbangan ‘baik’ dalam diri manusia. Arjuna maju kemedan perang dan menyaksikan keluargaku, kerabatku, temanku, saudaraku harus bertempur dan salah satu pihak akhirnya harus lenyap. Inilah yang memberatkan hati dan pikirannya. Keterikatan akan keakuan yang kecil inilah yang mengakibatkan terjadinya duka dan derita. Maka Kresna member wejangan pada Arjuna agar meninggalkan sifat lemah dan dengan gagah berani harus maju bertempur dan mengalahkan segala keangkaramurkaan.
Makna yang terdalam :Manusia, seperti halnya Arjuna, harus berani maju kemedan pertempuran, berpihak pada keAkuan yang besar dan dengan gagah berani harus mengalahkan segala keterikatan keakuan yang kecil (yang dipenuhi oleh keangkaramurkaan). Peperangan batin ini tidaklah pernah akan berakhir selama hidup manusia.

pancajanyam hrsikeso
devadattam dhananjuayah,
paundram dadhmau maha-sankham
bhima-karma vrkodarah.
Krsna meniup terompet Pancajanya dan Arjuna meniup terompet Devadatta. Bhima yang tingkahnya menakutkan, galak bagaikan srigala meniup terompetnya yang hebat, Paundra.

Nama ‘pancajanya’ (panca-lima) mungkin mengandung arti simbolis yang ada kaitannya dengan ajaran Samkhya (rasionalis) mengingat peranan dan fungsi. Krsna sebagai penasehat Pandava yang dinilai bersikap pandangan yang rasionalis. Terompet Arjuna yang disebut Devadatta (anugrah devata) mungkin ada hubungannya dengan ajaran Veda.
Disini, dari pihak Pandava jugta menyambut tantangan bertempur itu juga dengan meniup terompet kerangnya masing-masing, yang merupakan terompet-terompet surgawi, dengan suara yang mendirikan bulu roma.

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address

Previose Post: