Biografi Tokoh Seniman Di Br. Petang

This post was written by sedanaputra on Desember 28, 2011
Posted Under: Lainnya

Biografi Tokoh Seniman di Br. Petang
“I MADE OKA SEDANA”

1. Latar belakang

Di Bali tidaklah asing lagi bagi telinga masyarakat mendengar kata seni, karena telah menjadi pekerjaan sehari-hari bagi masyarakat. Dijaman seperti ini kesenian di bali sangatlah berkembang dengan cepat seperti adanya Festival kesenian, lomba-lomba, PKB dan disamping kaitannya dengan adat dan agama.

Kabupaten Badung salah satu Kabupaten yang ada di Bali memiliki 6 (enam) kecamatan, salah satunya adalah kecamatan petang, di petang mempunyai seniman-seniman akademik maupun seniman alam, dari semua seniman-seniman yang ada di Petang saya tertarik untuk mewawancarai salah satu seniman alam karawitan yang saya anggap berasil mengembangkan ilmu-ilmu yang dimilikinya, seniman tersebut yang bernama I MADE OKA SEDANA yang lahir pada tanggal 20 januari 1969 kini berumur 42 Thn, tinggal di Br Sekarmukti, ds Pangsan, Kec petang, kab Badung. Beliau anak ke 2 dari empat bersaudra, memiliki seorang istri dan 2 orang anak. Pak De sapaan dari I MADE OKA SEDANA dulunya bersekolah di SD 3 petang, yang sekarang sudah berganti menjadi SD 1 Pangsan, dan ditingkat SMP bersekolah di SMP N 1 Petang, sampai sekokolah menengah atas SMAnya di SMA Nasional pada Tahun 1988. Beliau disegani menjadi seniman di Desa Pangsan maupun di Kec Petang, karena jiwa sosialnya tinggi yang sangat peduli dengan kesenian-kesenian yang ada di Bali khususnya seni karawitan. Setelah menjadi seorang seniman banyak mendapat penghargaan, salah satunya Penghargaan dari Listibia, dan pemda Badung dalam pentas seni arja.

2. Pengalaman sebagai seniman

I MADE OKA SEDANA sebagai seorang seniman alam sudah barang tentu mempunyai pengalaman-pengalaman manis dan pahitnya dalam berkesenian. Beliau sudah menekuni kesenian karawitan sejak SD kelas V berumur 11 Thn, dan pada waktu SMP baru mencari extra kurikuler tabuh. Pada saat itu memulai belajar ngeriong sampe kekendang. Lulus dari SMP berlanjut ke SMA, waktu itupun tidak jauh beda dan masih bergelut dalam bidang seni karawitan, pada masa itu beliau diajar oleh bapak Drs I Gst Ngr Yadnya dan I Nym Sudarna S.S,kar sebagai guru tabuhnya. Dari kelas II SMA sudah ikut terlibat sekaa gong di banjar. Di lingkungan muda-mudi atau STT dipercaya menjadi seksi kesenian sampe akhirnya bisa mendirikan segong muda-mudi dibawah tanggung jawab beliau.

Tamat dan lulus dari SMA karena keterbatasan biaya untuk melanjutkan keperguruan tinggi Pak De disarankan oleh salah satu anggota keluarga untuk bekerja, Pak De disarankan untuk bekerja di Hotel mnjadi tukang masak, tidak berjalan lama karena agak menyimpang dengan jiwanya sudah tidak bisa dijauhkan dari seni akhirnya memundurkan diri dari tukang masak di Hotel.

Di tahun 1991 Pak De merintis sekaa gong di Kator Desa meskipun tidak ada gambelan Desa, Pak De pun berupaya meminjamkan seperangkat gambelan agar bisa menyatukan seniman di Desa Petang. Dengan kegigihan dan perjuangan bersama para seniman-seniman lainnya, akhirnya terwujud dengan berbagai predikat juara dari tahun 1993 – 1996 selalu aktif mengikuti lomba. Pada awal mulanya mengikuti lomba yaitu lomba Bala Ganjur se-Bali dalam rangka Puputan Badung pada tahun 1993 dan mendapat juara harapan 2, terus meningkat pada tahun 1994 dalam acara yang sama meraih juara harapan 1. Ditahun 1995 akhirnya mendapat juara 2 dan mewakili Kabupaten Badung dalam Korem 163 Wirasatya yang pada waktu itu diadakan setiap tahun mendapat juara 3, itu Pak De bekerja bersama I Made Murna S.S,kar. Pada tahun 1996 mencoba ikut serta dalam lomba Gong Kebyar dan mendapat juara harapan 1.

Pak De mencoba membuat tabuh Dolanan anak-anak pada tahun 1997 mendapat juara 2 dan sejak itu sudah menjadi pembina lalu diangkat menjadi tim pembina kecamatan dengan dikeluarkanya SK. Setelah menjadi pembina kecamatan, ditahun 1998 berlanjut membina Gong Kebyar dewasa. Dengan menjadi pembina Pak De merasa kurang dengan pengetahuan karena sebagai seniman non akademik beliau pun dapat belajar secara non formal ke Jembrana tepatnya di Negara, karena rasa ingin taunya untuk bisa mengenal patet jegog, di Negara belajar dengan bapak I Nym Jayus selama 3 bulan, setelah mengenal sedikit ditahun yang sama kembali belajar patet-patet semar pegulingan di Blahkiuh, kec Abiansemal, Badung, dengan bapak I Wyn Swardaniasa dan langsung membeli seperangkat gambelan semar pegulingan tersebut untuk mendirikan sanggar Kembang Sari di Banjar Sekar Mukti, ds Pangsan, kec Petang, Badung.

Akhir tahun 1998 Pak De berangkat ke Palu (Sulawesi Tengah) karena dipanggil oleh PHDI Palu untuk membina sekaa gong yang ada didaerah transmigrasi, disana membina lebih dari 10 sekaa Gong dan 4 sekaa Angklung selama 2 tahun sampe tahun 2000, pada waktu itu upah atu bayaran yang diberi berupa beras karena daerah disana terpencil, sakeng senengnya orang-orang disana Pad De pun ditawari untuk tetap mengajar orang-orang Bali disana yang semuanya cukup berada dan berpendidikan dan Pak De akan dijamin dengan rumah dan mobil, Pak De menolak dan membatalkan karena minder dan belum berani merasa diri kurang, lisensi belum cukup untuk itu karena Pak De orang otodidak.

Tahun 1999 ada upacara Agama (karya) di Pura Jagad Nata Palu (sulawesi tengah) dan orang-orang Hindu disana sangat rindu dengan pertunjukan Topeng Tugek, meminta agar bisa Pak De mendatangkan ke Palu. Akhirnya Topeng Tugek bisa untuk datang ngayah di Pura tersebut. Sekaa gambelan yang mengiringi Topeng Tugek adalah sekaa Satya Jagad Nata Palu dimana sekaa tersebut binaan dari Pak De. Topeng Tugek sudah sampai 2 (dua) generasi diiringi oleh Pak De dari tahun 1993 hingga sampai sekarang.

Karena terbentur sakit yang cukup parah dan masa tugas sudah selesai, Pak De kembali ke Bali 2001 awal. Sesampainya dirumah, Pak De kembali membangun sanggar Kembang Sari yang dulu pernah ditinggalkannya, sampai bisa mendirika Barong dance yang dipentaskan di PKB mendapat juara 1 pada tahun 2002. Tujuan dari membangun sanggar yang bisa dibilang cukup sederhana yang pertama agar bisa melestarikan dan mengembangkan kesenian-kesenian yang sudah diwarisi oleh leluhur Bali, yang kedua agar selalu bisa ngayah disetiap ada upacara besar maupun kecil, yang ketiga baru komersil. Dari dulunya Pak De sering berjuang karena sakeng senengnya dengan kesenian khususnya seni karawitan walaupun sarana hanya meminjam untuk menyatukan seniman-seniman yang ada di Petang dan agar bisa berkarya untuk petang mendapat pujian dari pembina-pembina sekabupaten Badung karena bisa berkarya tanpa emel-emel titel.

Pada tahun 2005 mendirikan sanggar Giri Anglangkara kecamatan Petang, untuk bisa merekrut seniman-seniman muda se-kec Petang dibawah bimbingan I Gusti Ngurah Windya, lalu mendirikan kesenian Parwa dengan iringannya memakai gambelan Semar Pegulingan dan Pak De sendiri menggarap tabuh iringannya, tabuh iringan parwa itu pun sering dipakai mengiringi pementasan wayang kulit dengan sekaa penabuh yang sama.

3. Pengamatan tentang karawitan sekarang

Pengamatan beliau tentang kesenian ialah seperti dijaman sekarang ini generasi-generasi seniman muda sudah ikut aktif dalam mengikuti lomba-lomba kesenian khususnya karawitan, dan dengan seringnya ada perlombaan peluang untuk seniman muda berkarya lebih luas, dan karya-karyanya lebih inovatif. Dengan jiwa tradisi Pak De yang begitu kental, sulit untuk lepas dari tradisi. Tetapi sebagai seniman Pak De selalu menghargai karya-karya yang memakai tehnik-tehnik musik barat, sadar akan perkembangan jaman sekarang ini, dengan kolaborasi musik barat dan karawitan Bali Pak De ingin belajar memahami tehnik-tehnik musik barat yang begitu marak dipakai dalam karya cipta karawitan Bali.

4. Pendapat tentang kesenian

Senang akan kemauan dan kemajuan anak muda akan mendalami kesenian tradisi Bali salah satunya karawitan dan antusias memperhatikan bahkan mengikuti perlombaan-perlombaan festival gong kebyar yang diadakan setahun sekali seperti pesta budaya yang sering diadakan di Kabupaten Badung dan sejenisnya di kabupaten lain. Di Bali kegiatan ini sekarang sangat popular dan sebagai ajang bergengsi di kehidupan masyarakat Bali dan membuat persaingan bagi komposer-komposer karawitan dan dituntut agar selalau menampilkan hal-hal yang beda dikemas dalam bentuk kreasi baru.

5. Perasaan menjadi seniman

I MADE OKA SEDANA menjadi seorang seniman merasa senang dan bangga akan kemampuan untuk berkerawitan walau ilmu-ilmunya merasa masih jauh dari sempurna, tetapi merasa bangga akan sekil yang dimilikinya dan dengan diberikannya kepercayaan kepadanya, Pak De dapat menyama braya dimana saja dengan kemampuannya berkarawitan bisa menjadi jembatan untuk mencari teman dan pengalaman-pengalaman yang tidak semua orang bisa dapatkan.

Add a Comment

required, use real name
required, will not be published
optional, your blog address

Previose Post: