RSS Feed
Jun 29

Budaya kearifan lokal

Posted on Minggu, Juni 29, 2014 in Karya

Budaya kearifan lokal sangat beragam di Indonesia. Keberadaannya menguatkan nilai-nilai moral kebudayaan kita. Dalam segi kehidupan sosial pun, kearifan lokal dapat menggalang persatuan dan kesatuan Indonesia. Berikut ini adalah beberapa macam kearifan lokal daerah khususnya masyarakat Bali.
Mejenukan merupakan salah satu kearifan lokal di Bali dimana dalam suatu tatanan kehidupan sosial masyarakat Bali yang saling bertoleransi terhadap kegiatan upacara Agama maupun Manusa yadnya dari setiap anggota komunitasnya dalam hal ini yaitu Krama Banjar, Desa, maupun keluarga. Mejenukan berasal dari kata “jenuk” yang artinya menengok atau silaturahmi. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat salah satu warga Bali mengadakan upacara. Warga yang lain saling menolong terselenggaranya upacara tersebut dengan memberi beras, kopi, gula, ataupun uang tunai. Ada juga yang membantu dengan menyumbangkan tenaganya. Ini adalah sebuah fenomena sosial yang positif dimana kegiatan Mejenukan ini dapat meningkatkan toleransi masyarakat kepada anggota masyarakat yang lain yang pada akhirnya akan memperkuat persatuan sebuah komunitas dalam suatu bangsa, kemudian akan memperkuat Bangsa dan Negara itu sendiri.
Seka merupakan suatu kelompok yang dibentuk dari kesamaan fungsi sosial sekumpulan masyarakat di Bali. Dalam bahasa Indonesia bisa disebut dengan komunitas. Berbagai macam bentuk “seka” tergantung dari kegiatan yang dilakukan komunitas tersebut. Kebanyakan “seka” berkaitan dengan hobi atau pelestarian kebudayaan seperti contoh; seka gambel, seka tari, seka truna truni, seka layangan, seka tajen, dll. Seka memiliki berbagai macam aturan tergantung dari kesepakatan yang dibuat oleh seka tersebut. Aturan tersebut dibuat untuk mengakomodasi anggotanya masing-masing. Seperti contoh diterapkannya iuran kas, jadwal latihan, dan jadwal pementasan. Seka berpengaruh positif bagi kehidupan bersosial khususnya bagi warga Bali yang memiliki hoby yang sama. Didalam seka terjadi interaksi sosial yang membuat tiap-tiap pribadi melebur dalam satu komunitas. Disana pun terjadi toleransi dan saling menghormati karena memiliki hoby yang sama dan kesukaan yang sama. Hal ini memperkuat persatuan suatu komunitas sekaligus menjaga kebudayaan masyarakat Bali.
Sangkep merupakan sebuah kegiatan sosial dalam tatanan kemasyarakatan Bali khususnya pada komunitas rukun warga(RT) yang dalam bahasa Bali disebut dengan “banjar”. Sangkep identik dengan rapat dalam bahasa Indonesia. Namun uniknya sangkep bukanlah rapat yang diadakan oleh sebuah perusahaan yang berorientasi pada profit oriented, tetapi sangkep merupakan tradisi warga Bali yang dilakukan secara sukarela dalam hal membicarakan masalah-masalah yang ada pada lingkungan banjar mereka. Masyarakat Bali konsen dengan kelangsungan kehidupan komunitas mereka sehingga sangkep dianggap penting untuk memutuskan suatu masalah. Dalam sangkep mereka menganut system musyawarah untuk mencapai mufakat. Jika tidak tercapai maka dilakukan foting yang akan diputuskan oleh kelian banjar(kepala banjar). Sangkep memiliki nilai-nilai kesatuan dalam komunitas banjar di Bali. Banjar merupakan suatu wadah untuk setiap warga melakukan kegiatan sosial. Dari sini tercipta kehidupan sosial yang harmonis dan selaras.

Jun 29

Sejarah kebudayaan Singaraja

Posted on Minggu, Juni 29, 2014 in Karya

Awal mula terbentuknya kerajaan buleleng adalah berawal dari seorang tokoh yang bernama Ki Gusti Panji Sakti, seorang yang dijuluki banyak nama: Ki Barak, Gde Pasekan, Gusti Panji, Ki Panji Sakti, Ki Gusti Anglurah Panji Sakti, yang berkonotasi tangguh – teguh, berjiwa pemimpin, merakyat, memiliki daya super natural – sakti, adalah pendiri kerajaan Buleleng di tahun 1660an. Sebelumnya wilayah Buleleng dikenal dengan nama Den Bukit. Masyarakat Bali Selatan jaman berkembangnya pengaruh Majapahit, Den Bukit dilihat sebagai “daerah nun disana dibalik bukit”. Daerah misterius, banyak pendatang silih berganti, bajak laut. Orang yang ingin tinggal menetap mereka menjauhi daerah pesisir, memilih tempat lebih ke tengah, ke wilayah sebelah Selatan. Maka itu wilayah di selatan bukit disebut Bali Tengah atau Bali Selatan.

Selama berkuasa di Den Bukit Panji Sakti sejak 1660an sampai 1697 sangat disegani kawan maupun lawan. Dengan pasukan Gowak yang diorganisir bersama rakyat, beliau menguasai kerajaan Blambangan, Pasuruan, Jembrana. Hingga tahun 1690an Panji Sakti menikmati kejayaannya. Buleleng adalah nama puri yang dibangun Panji Sakti di tengah tegalan jagung gembal yang juga disebut juga buleleng. Letaknya tidak jauh dari sungai yang disebut juga tukad Buleleng. Purinya disebut Puri Buleleng. Puri yang yang lebih tua, terletak di desa Sangket yang dinamai puri Sukasada. Ki Gusti Panji sakti diperkirakan wafat tahun 1699 dengan meninggalkan banyak keturunan.

Namun sayang putra-putra Ki Gusti Panji Sakti mempunyai pikiran yang berbeda satu sama lain sehingga kerajaan Buleleng menjadi lemah. Kerajaan Buleleng terpecah belah. Akhirnya dikuasai kerajaan Mengwi, termasuk Blambangan. Lepas dari genggaman Mengwi kemudian tahun 1783 jatuh ke tangan kerajaan Karangasem. Sejak itu terjadi beberapa kali pergantian raja asal Karangasem. Salah seorang raja asal Karangasem yaitu I Gusti Gde Karang bertakhta sebagai raja Buleleng tahun 1806-1818. Sebagai raja Buleleng beliau juga menguasai kerajaan Karangasem dan Jembrana. Beliau dikenal berwatak keras dan curiga kepada bangsa asing. Memang pada jaman itu bangsa asing seperti Belanda dan Inggris ingin menguasai Bali melalui Buleleng dan Jembrana.

Sir Stamford Raffles seorang Inggris jatuh cinta terhadap Bali, baik alam dan budayanya setelah sempat mengunjungi pulau mungil ini di tahun 1811. Setelah itu beliau datang lagi ke Buleleng ingin bekerjasama dengan I Gusti Gde Karang untuk membangun kota pelabuhan dengan nama Singapura. Raffles tergiur melihat ramainya pelabuhan Buleleng dengan lokasi yang dilihatnya sangat strategis di antara kepulauan Nusantara. Memang Buleleng jaman itu sedang jayanya dari hasil monopoli candu dan penjualan budak. Raja Buleleng I Gusti Gde Karang rupanya tertarik dengan rencana Raffles. Namun tidak bisa dilaksanakan, karena Raffles sendiri sangat menentang penjualan budak yang selama ini terus dilaksanakan oleh raja I Gusti Gde Karang. Diantara cinta dan dendam, tahun 1814 pihaknya membawa kapal perang Inggris ke Buleleng, namun tidak terjadi pertempuran.

Pada malam hari, Rebo tanggal 24 Nopember 1815 terjadi musibah bencana alam di Buleleng. Beberapa desa tertimbun lumpur dengan penghuninya, ada yang hanyut kearah laut bersama penduduknya. Setelah itu I Gusti Gde Karang membuka lahan dan membangun istana baru, terletak di sebelah Barat jalan yang dinamai puri Singaraja. Puri baru itu berseberangan jalan dengan Puri Buleleng yang dibangun Ki Gusti Pandji Sakti. Pembangunan Puri Singaraja dilanjutkan oleh I Gusti Agung Paang, asal Karangasem. yang memerintah sejak 1818 sampai 1829. Kekuasaan Karangasem berakhir setelah pasukan perang kolonial Belanda menghancurkan benteng pertahanan Buleleng di Jagaraga pada tahun 1849. Dengan berkuasanya pemerintah kolonial / asing di Buleleng, sebagai pemerintahan yang masih dalam proses konsolidasi, maka dapat dibayangkan, suatu proses yang rumit berlangsung.

Melalui berapa pertimbangan akhiniya pada tahun 1929 didilaksanakan di Bali penobatan penguasa sebagai `volkhoofd’ atau penguasa pribumi dan masing-masing kerajaan lama sebagai `negara’. Langkah ini diambil mengingat akibat gempa bumi tahun 1917 yang berdampak luas, penyakit influenza mengambil korban 22000 orang dan suasana kacau yang memerlukan pemerintah lokal yang lebih effektif. Menurut Geoffrey Robinson, gerakan untuk mengangkat status penguasa yang berlanjut dari 1930 sampai dengan mengukuhan kembali gelar kebangsawanan berpuncak pada tahun 1938 dengan disahkan `zelfbestuurder’ atau pemerintahan sendiri bersumber dari maksud Belanda untuk menjaga Bali dari pengaruh modernisasi yang ditakuti dan juga pengaruh Islam dan nasionalisme. Hal ini dirasakan bahwa dengan kebijakan meneruskan `Bali dengan budayanya’ diharapkan dapat menegakkan kembali simbol lama dan sistim struktur kerajaan Bali Hindu. Sudah sejak lama pemerintah Belanda bermaksud membentuk aturan kebijakan untuk lebih mendukung `orang daerah asli ketimbang memilih bangsawan `dari kerajaan asing’ yang ada.
Dari mulainya kekuasaan Belanda di Buleleng dari tahun 1855 sampai puputan Kelungkung di tahun 1908, kerajaan di Bali secara sistematis telah dilucuti dan kekuasannya dilumpuhkan, keluarga raja di hukum buang keluar daerah dan wilayahnya disita. Disamping itu Belanda berupaya memilih mereka dari kelahiran bangsawan, walaupun mungkin sudah dicampakkan dari peran tradisi, namun kenyataannya banyak diantaranya yang mendapat kedudukan sebagai punggawa, yang dari posisi itu punya kesempatan untuk mengambil hati pihak penguasa kolonial. Ada juga yang tidak menyadari sehingga tidak punya hubungam apapun dengan Belanda.

Pada masa ini diperkirakan terjadi campur tangan Belanda terhadap kebudayaan Bali, khususnya dalam seni karawitan. Hal ini dapat dilihat dari awal mula Gong Kebyar yang berasal dari daerah singaraja pada tahun 1915. Gamelan gong kebyar memiliki keunikan tersendiri yaitu jenis dinamika musik yang menghentak sedikit menyerupai orkestra klasik yang dimiliki oleh Bangsa Belanda. Kemudian dari tatanan personil Gong Kebyar yang juga menyerupai tatanan personil orchestra klasik. Bisa diperkirakan Bangsa Belanda memiliki andil dalam memoles budaya Bali untuk kepentingan Kapitalis.

Jun 29

Musik sebagai media pluralisme

Posted on Minggu, Juni 29, 2014 in Karya

Saat ini negara kita sedang mengalami proses pembentukan dari negara berkembang menjadi negara maju. Proses ini meliputi berbagai aspek kebangsaan. Aspek ekonomi, sosial, politik dan budaya mengalami pergolakannya masing-masing menuju sesuatu yang dipercaya sebagai sesuatu yang akan selalu kekal yang disebut dengap perubahan. Entah itu perubahan dari sesuatu yang baik menjadi sesuatu yang buruk atau sebaliknya dari sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang baik, smua itu adalah proses dari perubahan yang dinamis. Perubahan juga membuktikan bahwa bangsa kita dalam proses pembelajaran dari bangsa terjajah kemudian menjadi bangsa yang merdeka dan berkembang kemudian dimasa kini akan menjalani proses menuju bangsa yang maju.

Banyak faktor yang dapat dijadikan tolak ukur untuk mengukur kemajuan suatu bangsa. Mulai dari faktor perekonomian, sosial, politik, budaya dan lain-lain. Memang masing-masing memiliki problemanya masing-masing. Masalah dari masing-masing faktor tersebut dapat di klasifikasi menjadi dua permasalahan, pertama adalah permasalah internal bangsa dan kedua adalah masalah external bangsa. Masing-masing memiliki kerumitan yang tidak mudah untuk diselesaikan, namun yang paling fundamental untuk segera di atasi adalah permasalahan internal bangsa indonesia. Permasalahan internal bangsa indonesia pun ada beragam namun yang harus menjadi konsentrasi bangsa kita untuk selalu dijaga dan dipertahankan adalah persatuan dan kesatuan bangsa indonesia yang plural dan majemuk. Permasalahan ini adalah permasalah sosial dari seluruh bangsa-bangsa yang ada didunia. Permasalahan tertua yang selalu menjadi momok bagi sebuah bangsa. Untuk itu sebelum menyelesaikan masalah external bangsa, amat sangat bijak bagi bangsa ini menyelesaikan permasalahan internalnya yaitu persatuan dan kesatuan indonesia.

Telah kita ketahui bahwa bangsa kita ini yang terdiri dari berbagai macam suku, ras, bahasa dan budaya serta terdiri dari berbagai macam daerah teritorial dan pulau-pulau merupakan bangsa yang majemuk. Dan tentu tidak mudah untuk mempersatukan berbagai macam ras, suku, dan agama yang berbeda. Dibutuhkan toleransi yang tinggi dan rasa saling hormat-menghormati. Kita dapat belajar dari sejarah terbentuknya bangsa ini, bagaimana para bapak bangsa mempersatukan nusantara ini. Seluruh kerajaan yang ada dinusantara pada saat itu bersepakat untuk mendelegasikan kekuasaan mereka pada satu kesatuan republik indonesia. Begitu pula pada jaman kerajaan majapahit, bagaimana raja hayam wuruk melalui patihnya gadjah mada mempersatukan kerajaan-kerajaan yang ada di nusantara. Satu hal yang dapat kita pelajari dari sejarah terbentuknya bangsa indonesia adalahimpian dari bapak bangsa kita yang rindu adanya persatuan di nusantara ini untuk membentuk sebuah negara kesatuan republik indonesia yang kuat dan kokoh yang dibangun berdasarkan pondasi kemajemukan nusantara. Jika kita mengerti dan memahami sejarah ini, dan bagaimana proses ini terjadi, maka sulit bagi ideologi lain untuk masuk kedalam masyarakat. Ideologi-ideologi asing yang penuh dengan unsur kepentingan untuk memecah belah bangsa yang besar ini. Ideologi-ideologi agama yang dahulu sudah dipersatukan untuk kepentingan persatuan dan kesatuan bangsa, kini seakan-akan meneguhkan kembali idealismenya tanpa sadar akan sejarah pembentukan bangsa ini yang lahir dari toleransi keragaman. Oknum-oknum yang tidak mengerti konteks sejarah inilah yang akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa indonesia. Mereka berusaha menegakkan ideologi asing yang berdasarkan agama, ras, atau kebudayaan mereka masing-masing. Mereka lupa bahwa pondasi ideologi bangsa ini adalah pancasila. Bukan hanya lupa, bahkan mereka menolak ideologi pancasila. Sangatlah disayangkan mengapa bangsa kita ini melahirkan generasi-generasi yang seperti ini. Disinilah peranan pemerintah amat sangat penting untuk menjaga nasionalisme didalam hati generasi muda kita.

Selain peran serta pemerintah dalam menjaga semangat nasionalisme, pemerintah juga dapat lebih memupuk rasa persatuan dan kesatuan pada masyarakat lewat pendidikan kebudayaan khususnya musik. Mengapa musik? apakah hubungan antara persatuan kesatuan dengan musik? dimanakah korelasinya?
Musik adalah bahasa universal yang dapat dimengerti smua manusia didunia ini. Musik menjadi media komunikasi antara manusia-manusia yang berbeda budaya dan ras. Musik mengajarkan manusia nilai-nilai moral keharmonisan. Tanpa harmoni tidak akan ada jalinan melodi yang indah dan takkan ada komposisi musik sebagai makanan jiwa manusia, yang ada hanya nada-nada independen yang tak memiliki keterkaitan satu sama lain. Dalam musik, musisi harus memiliki nilai-nilai toleransi untuk membentuk sebuah harmoni. Toleransi antara sesama musisi lain, tidak egois dan mau menang sendiri. Taat akan otoritas pun di ajarkan oleh musik. Tidak mungkin bermain musik tanpa ada leader dan anggota yang taat atas leadernya. Tak kita sadari musik membentuk sebuah kebudayaan kemanusiaan yang bernilai luhur.

Jun 29

Home music recording

Posted on Minggu, Juni 29, 2014 in Karya

Music takkan pernah lepas dari kehidupan manusia, musik merupakan suatu media perantara untuk berkomunikasinya manusia. Musik dapat menkomunikasikan perasaan terdalam yang dapat manusia rasakan, dan kemudian dapat dirasakan oleh orang yang mendengarnya. Bukan hanya itu musik pun adalah makanan bagi kejiwaan manusia, tanpa musik manusia akan mengalami kejenuhan pada sisi kejiwaannya. Alam semesta pun memproduksi musik alaminya lewat sound scape, ambience, dan aktifitas-aktifitas penghuninya yang menghasilkan gelombang suara.

Dari masa ke masa manusia selalu berusaha menghasilkan suara yang makin disempurnakan. Manusia mencoba inovasi baru untuk menhasilkan suara yang semakin baik. Namun bukan hanya menghasilkan suara yang lebih baik dengan menciptakan alat-alat musik ataupun menyempurnakannya, tetapi manusia pun ingin mengabadikan hasil karya musik mereka. Mulai dari mengabadikannya melalui tulisan not balok sampai kepada teknologi perekaman atau recording. Dengan merkembangnya teknologi manusia mampu mengabadikan suara yang mereka hasilkan kedalam media pita kaset. Cara ini merupakan sebuah revolusi bermusik yang sangat siknifikan pada jamannya. Musik mulai diabadikan dalam bentuk kaset maupun piringan hitam. Namun proses ini tidaklah mudah dan murah, dibutuhkan dana yang besar bagi para musisi untuk mengabadikan karyanya. Prosesnya pun terbilang rumit dan harus meminimalkan kesalahan dalam pembuatannya, karena jika tidak biaya akan menjadi lebih mahal karena setiap kesalahan akan menghabiskan pita rekam yang lumayan mahal pada jaman itu. Hal ini mengakibatkan musik menjadi sebuah karya yang mahal dijaman itu dan hanya segelintir orang yang beruntung untuk dapat mengabadikan karyanya dalam bentuk kaset atau piringan hitam.

Namun dengan seiring berkembangnya teknologi, terutama teknologi komputer, proses perekaman musik sudah tidak lagi serumit dan semahal dibanding teknologi pendahulunya. Kini dengan teknologi komputer kita dapat mengabadikan karya musik kita dengan tanpa biaya yang mahal dan dengan proses yang cukup mudah. Dan bahkan dapat dikerjakan secara amatir dirumah kita sendiri. Bnyak orang yang menyebutnya dengan kata home music recording.

Sesuai dengan namanya, home music recording dikerjakan dirumah atau dimana saja asal terdapat beberapa alat yang dibutuhkan seperti komputer,atau laptop, instrumen musik, microphone, headphone atau monitor. Home studio rexording ini dapat bersifat mobile yang dpat dikerjakan dimana saja asalkan alat yang tersebut diatas tersedia. Dalam prosesnya komputer memegang peranan penting saat perekaman. Spesifikasinya harus mendukung proses perekaman, seperti prosesornya yang harus minimal diatas pentium 4, memorinya minimal 4 giga, dan satu lagi yaitu soundcard yang paling mempengaruhi hasil rekaman musik kita. Selain perlengkapan diatas yang adalah hardwarenya, proses perekaman juga membutuhkan beberapa software dalam komputer tersebut. Yang pertama adalah DAW atau siangkatan dari Digital Audio Workstation yang artinya adalah sebuah software yang memiliki fungsi sebagai tempat dimana audio akan direkam. Software ini memiliki macam yang beragam dari berbagai macam fendor. Masing-masing fendor memiliki keunikan dan keunggulan masing-masing dalam mengolah audio. Namun secara global fungsi DAW sama saja yaitu merekam audio, editing audio, mising audio, dan mastering. Selain DAW kita juga butuh beberapa software lain untuk menunjang proses perekaman yaitu, instrument plugin dan efek plugin. Instrument plugin adalah software yang berfungsi sebagai instrument musik yang berbentuk software. Instrument plugin ini bemacam-macam bentuk hampir sama dengan instrumen musik aslinya hanya dalam bentuk software, ada yang berbentuk piano,gitar, bass, drum, perkusi, alat gesek, keyboard, bahkan alat musik tradisional. Suara yang dihasilkan dari instrument plugin tidaklah beda jauh dari yang asli mungkin bahkan lebih bagus karena memang dalam proses pembuatannya instrument plugin ini mensampling dari alat musik aslinya dan diolah oleh tangan tangam profesional dengan alat yang profesional serta teknologi yang janggih membuat instrumen plugin dapat menjadi solusi bagi para musisi yang tidak memiliki instrumen musik yang lengkap. Instrument plugin ini dapat dimainkan dalam bentuk data midi lewat midi controler yang hampir menyerupai keyboard namun tidak memiliki sound asli melainkan hanya sebagai kontrol untuk memainkan instrument plugin pada komputer.

Selain instrument plugin ada juga yang disebut dengan efek plugin. Efek pkugin berfungsi untuk mengolah audio yang sudah direkam agar menjadi lebih bagus. Efek plugin juga berfungsi pada saat musik tersebut di mixing atau dicampur sehingga menghasilkan harmoni yang indah. Macam-macam efek plugin antara lain, epualizer, compresor, limiter, enhancer, reverb, delay, distorsi, flager, dll. Masing masing memiliki fungsi yang berbeda. Saya akan membahas hanya beberapa efek plugin yang paling penting dalam recording. Pertama adalah Equalizer, equalizer adalah suatu alat yang mengatur frekwensi audio. Equalizer ini juga terdapat dalam bentuk hardware dengan fungsi yang sama. Equlizer mengatur frekwensi bertujuan sebagai filter. Pada sebuah audio ada beberapa frekwensi yang mengganggu frekwensi audio lain atau tidak harmonis dengan frekwensi lain. Hal ini harus difilter dengan equalizer agar audio mencapai harmoni dengan audio lainnya. Efek berikutnya adalah compresor. Compresor amat penting dalam rexording. Fungsinya membuat sinyal audio menjadi stabil tidak bergelombang rendah dan tinggi atau audio yang kadang keras dan kadang kecil suaranya. Kompresor menmbuat stabil audio dengan mengeraskan sinyal yang lemah dan mengecilkan sinyal yang kuat, tentu tanpa kehilangan karakter orisinal dari audio itu sendiri. Selain itu compresor berfungsi membulatkan

Jun 29

KOMUNITAS SAYA

Posted on Minggu, Juni 29, 2014 in Karya

Saya seorang asli Bali beragama Kristen Protestan, asal dari Singaraja, lahir dan menetap di Denpasar. Semenjak umur 18 tahun saya sudah aktif dalam kegiatan ibadah dalam gereja. Gereja saya bertempat di Perum Lembah Pujian A1 Jl. Antasura-Nangka Utara Denpasar – Bali dengan nama Gereja ROCK Lembah Pujian. Karena saya memiliki talenta bermusik, maka kakak rohani saya mengarahkan saya untuk melayani pada bidang musik. Awalnya perlu sedikit penyesuaian dalam hal karakter permainan musik dan juga karakter kepribadian tim yang beraneka ragam, ini karena tim kami terdiri dari berbagai macam ras dan suku dari seluruh Indonesia, namun dengan sedikit bertoleransi dan seiring berjalannya waktu, akhirnya terciptalah komunikasi dan koneksi yang baik antara anggota tim. Dengan komunikasi dan koneksi inilah akan menghasilkan harmoni yang indah dalam musik kami dan kami mengalami kepuasan tersendiri. Ada begitu banyak pengalaman berharga yang saya dapat saat terlibat dalam pelayanan, mulai dari mengenal karakter dan kepribadian bermacam-macam orang dari bermacam-macam latar belakang, bagaimana memanage respon kita terhadap orang yang berbeda karakter dan budaya, dan juga pengalaman-pengalaman spiritual yang terjadi dalam gereja seperti mujizat kesembuhan, kesaksian-kesaksian anggota-anggota gereja dalam kehidupan rohaninya, mujizat kelepasan dari roh jahat dan lain-lain.
Dalam komunitas musik ada beberapa kegiatan rutin yaitu latihan setiap hari jum’at, pertemuan profetik tiga bulan sekali untuk evaluasi masalah-masalah pelayanan, dan fellowship yaitu moment silaturahmi antar sesama pelayan Tuhan. Sampai saat ini saya sudah 11 tahun melayani di greja saya. Banyak hal yang saya lakukan dalam pelayanan selain pelayanan rutin hari minggu, antara lain membentuk beberapa komunitas musik, diantaranya ; komunitas choir, komunitas biola, dan komunitas kepemudaan. Dari komunitas ini melahirkan beberapa karya pertunjukan dalam gereja maupun diluar gereja, seperti mengisi acara natal dan tahun baru dalam bentuk ensamble biola. Selain itu komunitas kami juga melakukan beberapa kegiatan sosial antara lain ; konser anti narkoba, aksi sosial di panti asuhan, donor darah, dll. Sayangnya karena kesibukan kerja dan kuliah, komunitas kami untuk sementara masih fakum, menunggu waktu-waktu luang yang akan datang.
Dalam komunitas kami begitu kuat ikatan persaudaraannya, walaupun kami memiliki latar belakang suku yang berbeda, ada yang dari Jawa, Flores, Papua, Bali, Cina, dan lain-lain. Ini dikarenakan Kasih Tuhan Yesus yang mengajarkan penerimaan tanpa syarat, tanpa status ekonomi, jabatan, dan lain-lain. Komunitas ini mengajarkan saya tentang kebhineka tunggal ikaan, prinsip-prinsip pluralism yang kuat dalam berkomunitas. Hal ini membuat semakin kayanya pengalaman akan budaya-budaya dan karakteristik manusia seluruh Indonesia yang unik-unik dan memiliki ciri khas masing-masing. Komunitas ini sudah menjadi seperti keluarga kedua bagi kami, sebagai tempat saling berbagi hidup, susah senang bersama, begitu hangat bagi kami disaat begitu kerasnya perlakuan dunia luar bahkan terkadang keluarga sendiri yang keras dan terkadang sampai bisa berbau kriminalitas yang bisa kita rasakan dan baca beritanya dikoran-koran dan media visual audio lainnya. Komunitas yang sehat yang berbasis kekeluargaan sangat dibutuhkan setiap orang.
Namun bukan hanya itu dalam komunitas kami juga terdapat kisah-kisah asmara didalamnya. Kisah asmara antara anggota gereja terutama bagi para remaja dan pemuda ini tidak dilarang oleh penatua gereja namun diberikan ruang dan semacam pembinaan bagaimana cara menjalin hubungan yang baik dengan lawan jenis. Pembinaan ini melibatkan kakak-kakak rohani, terutama yang sudah menikah. Pembinaan ini cukup efektiv sebagai salah satu solusi untuk permasalahan yang dialami anak-anak muda bangsa kita yaitu pergaulan bebas, free sex, aborsi, dan lain-lain. Didalam pembinaan ini terdapat pengajaran-pengajaran kitab suci yang bertujuan membentuk karakter para remaja dan pemuda agar tidak terjerat dalam dosa perzinahan dan membuat hidup lebih berwarna serta masa muda yang indah.
Banyak hal yang dapat kita pelajari dan ambil hikmahnya dalam sebuah komunitas. Kita dapat belajar menghargai satu sama lain, menerima kelebihan dan juga kekurangan orang lain, bekerja sama dalam kelompok, berpartisipasi dalam mencapai sebuah tujuan, melatih leadership skill, dan lain-lain. Karena kita adalah makhluk sosial sudah pasti berkomunitas adalah sarana yang baik dan efektif untuk menjadikan kita makhluk sosial yang dewasa dan kuat. Tentunya dengan memilah-milah apakah komunitas itu baik dan sehat, karena tidak sedikit komunitas yang memiliki pengaruh yang buruk bagi karakter komuninya.