Bali, pulau yang kaya dengan seni, ternyata memiliki seniman-seniman berbakat yang mendedikasikan dirinya untuk kesenian. Termasuk di antaranya adalah seorang pedalang muda, Made Sidia, yang sejak belajar sekolah seni di Denpasar telah bereksperimen dengan berbagai metode untuk memberikan presentasi visual yang lebih menarik dalam pertunjukkan wayang kulit.

Pertunjukan terbarunya adalah apa yang ia namakan dengan wayang listrik dan baru saja digelar pada saat pembukaan Art Summit Indonesia V di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 26 Oktober lalu. Ia berhasil menampilkan tontonan wayang klasik dengan sentuhan modern. Wayang listrik adalah hasil dari eksperimen dengan menggunakan elemen-elemen pertunjukkan modern untuk membuat pertunjukan wayang tidak hanya menarik secara visual tapi juga menyajikan cerita yang indah dengan tetap menjaga integritas dan kejernihan cerita dan pesan-pesan yang ingin disampaikannya.

Teater Wayang Listrik ini digarap Made Sidia dengan menggunakan tiga layar dalam ukuran berbeda. la juga menggunakan proyektor untuk menampilkan rekaman video dan gambar-gambar digital sebagai latar belakang dihampir sebagian besar adegan dalam pementasannya, juga permainan cahaya dan instrumen musik modern. Dengan brilian ia menggabungkan musik gamelan dan instrumen modern, seperti drum dan gitar, serta gerakan tari yang merekatkan pertunjukan ini menjadi satu keutuhan.

Untuk menaklukkan ruang yang lebar, Made Sidia mengerahkan beberapa orang dalang yang memainkan wayang secara bergantian. Dengan bantuan papan luncur (skateboard), setiap dalang dapat dengan mudah berganti-ganti posisi sesuai dengan peran yang tengah dimainkannya. Pemakaian papan luncur ini telah menjadikan mereka dijuluki Wayang Skateboard oleh komunitas orang asing di Bali. Dalam keseluruhan pertunjukan, Sidia tetap menjadi narator di samping ikut memainkan wayang bersama dalang lainnya.

Made Sidia bukan nama baru dalam dunia perwayangan. Bahkan, metodenya yang kontemporer telah membawa pertunjukan wayang Bali ini memasuki era baru dan karyanya telah dipertunjukkan di berbagai pentas di dalam dan luar negeri. Jika pertunjukan wayang tradisi memakai blencong, atau lampu kuno yang dinyalakan dengan minyak kelapa untuk memproyeksikan wayang ke layar, maka karya kontemporer menggunakan proyektor yang dioperasikan oleh komputer.

Pemakaian komputer memberikan gambar dan visual effect yang lebih jelas sebagai latar dalam pertunjukkan, menampilkan gambar-­gambar yang berbeda, dari hutan, gunung, candi dan laut – baik berwarna maupun hitam putih, membuat pertunjukan wayang kulit kontemporer lebih menyerupai pertunjukan film.

Kali ini, Sidia bercerita tentang Perjalanan Tualen. yang mengekspresikan kegelisahannya menghadapi situasi zaman yang melintas di depan matanya. la begitu masygul melihat betapa tabiat manusia di masa kini ternyata belum jauh beranjak dari primata!

Terinspirasi dari cerita epik Ramayana, cerita ini dimulai ketika Rama Dewa, putra mahkota kerajaan Ayodya, rela menanggalkan semua kemewahan hidup dan mengasingkan diri di dalam hutan untuk menghindari pertumpahan darah dan perpecahan keluarga. Bersama istrinya, Dewi Sita, adiknya Lesmana dan pembantu setianya, Rama memulai pengasingannya, yang awalnya berupa cobaan hidup tapi kemudian membawanya lebih jauh lagi.

Ketika Sita diculik oleh raja Alengka, Rahwana, pertunjukan memasuki babak dimana ia tidak hanya bercerita tentang kisah cinta klasik tapi memberi makna filosofi yang lebih dalam, saat Rama menyadari bahwa ia tidak hanya kehilangan istrinya tapi juga cinta dan kehormatannya.

Dalam situasi demikian, Tualen, seorang abdi yang telah menyerahkan diri dan hidupnya pada Rama tentulah turut merasakan apa yang dirasakan tuannya. Dalam perjalanan panjang menunaikan tugasnya itulah di dalam diri Tualen sendiri bergejolak gairah pencarian yang dahsyat. Pencarian Sita juga! Sita dalam bentuk cinta dan kehormatan yang hilang dirampas oleh ketamakan, kepongahan dan kedunguan!

 

Wayang dalam Balutan Teknologi Digital

PERKEMBANGAN teknologi tidak mengenal batas.  Teknologi sanggup menerobos dan memodifikasi hal-hal yang bersifat tradisional. Wayang misalnya, kini muncul dalam balutan teknologi digital. Kesenian  klasik  yang telah dinobatkan UNESCO sebagai  warisan mahakarya dunia seni bertutur ini hadir dalam format baru yang disebut wayang elektronik (e-wayang) yang belakangan mulai akrab di telinga publik.

Uniknya, teknologi e-wayang justru diciptakan dan dipopulerkan oleh tiga alumnus Institut Pertanian Bogor, yakni Mawan Sugiyanto, Rina Mardiana dan Dhiny. Pada 2010 mereka pernah mempresentasikan penemuannya di hadapan sejumlah pejabat untuk mendukung  sebuah penelitian tentang wayang yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan lembaga Riset dan Teknologi (Ristek). Ketiganya  terus mengembangkan dan mempromosikan e-wayang ke publik lewat Facebook dan website.

Pengertian e-wayang, menurut paparan mereka, adalah proses pembuatan wayang yang menggunakan sarana dan fasilitas digital (komputerisasi), termasuk bagaimana seseorang memainkan wayang menggunakan layar komputer.  Keseluruhan proses pembuatannya menggunakan perangkat digital.  Dalam situs e-wayang.org dipaparkan, e-wayang merupakan  rekayasa pembuatan wayang menggunakan perangkat digital dan memfokuskan untuk mentransformasikan metode, panduan dan pakem pembuatan wayang tradisional ke dalam format digital.

Namun demikian, proses pembuatannya tetap berpijak pada ketentuan baku pembuatan wayang.   Di dalamnya masih bisa ditemukan tatahan, gebingan, sunggingan dan istilah-istilah lainnya sebagaimana proses pembuatan wayang pada umumnya. Upaya transformasi e-wayang dilakukan  sejauh format file bisa mendukung penyimpanan data corekan, pahatan dan sunggingan. Termasuk berbagai macam perangkat input yang membantu terselenggaranya pertunjukan wayang.

Selain itu, e-wayang juga dapat berupa format animasi biasa, animasi interaktif, dalam format e-paper atau e-book, image, movie dan lain sebagainya. Perangkat e-wayang bisa dikonversi ke berbagai bentuk format digital sehingga meningkatkan kemampuan akses bagi pengguna dan penggemar wayang.

Menurut si perancang, pembuatan wayang digital tidak begitu rumit, sebab sebagian software pengolahan gambar telah mendukung fasilitas layer atau lapisan. Sebagian perangkat lunak, pengolahan gambar telah mendukung fasilitas layer/lapisan.  Lapisan itu sendiri adalah tumpukan gambar yang mendukung gambar transparan, sehingga memungkinkan untuk melakukan pengolahan dan memanipulasi objek gambar untuk dikombinasikan dengan gambar lainnya. ’’Dalam pembuatan wayang, ada tahapan-tahapannya, baik ketika memahat maupun mewarnai. Semua metode pembuatan wayang ini ternyata bisa ditransformasikan ke cara digital,’’ tutur Mawan sebagaimana dikutip detiknet.com.

Teknologi ini melahirkan tantangan baru, khususnya bagi seorang dalang. Sebagai brain ware yang menjalankan program e-wayang, seorang dalang dituntut memiliki keterampilan dalam mengoperasikan komputer dan perangkatnya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalang tidak tergantung pada waktu dan tempat pertunjukan sehingga ia bisa menyusun cerita dalam berbagai bentuk format digital.

Open Format

Open format belakangan ini memunculkan berbagai terobosan bagi pengembang perangkat lunak untuk menciptakan format yang standar dan dapat dipergunakan oleh berbagai perangkat lunak apa pun. Open format  merupakan sebuah format file, biasa disebut extension yang bersifat terbuka yang digunakan untuk menyimpan data digital. Open format ditetapkan oleh sebuah organisasi standardisasi yang membuat spesifikasi untuk format file tertentu. Dengan adanya standardisasi ini, maka format file ini dapat diimplementasikan dalam berbagai perangkat lunak.

Meskipun ada kemiripan format, namun e-wayang memiliki format baku, bukan dari hasil mengubah format. Dalam hal ini, e-wayang bukan proses mengubah format dari format wayang nondigital (misalnya wayang kulit, wayang kertas) menjadi format elektronik, misalnya dengan proses scan menjadi format image, juga bukan hasil merekam/ mengubah format pertunjukan digital, misalnya hasil shooting ke dalam format moving image (format movie atau rekaman animasi).

Sebagaimana dalam note, tentang gambar vector dan wayang kulit, maka e-wayang menerapkannya menggunakan format file Scalable Vector Graphic (SVG). Pada dasarnya SVG adalah format file berbasis pada format XML untuk mendeskripsikan gambar dua dimensi yang berupa gambar vector.

Format file ini mendukung untuk animasi dan atau bersifat interaktif. Format gambar ini sudah bisa dibuka langsung pada browser atau menggunakan perangkat lunak yang mendukung pengolahan format SVG. Selanjutnya, e-wayang bisa dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, antara lain komik strip, buku komik dan animasi. Tidak heran jika belakangan mulai bermunculan aneka produk dengan memanfaatkan ikon wayang sebagai daya tarik, misalnya permen yang dipadukan dengan gambar tokoh-tokoh pewayangan yang digemari anak-anak.  (24)

SOFTWARE WAYANG DIGITAL BERBASIS 3D SEBAGAI UPAYA MELESTARIKAN NILAI LUHUR KEARIFAN LOKAL BUDAYA JAWA

 

RINGKASAN

Wayang salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan.

Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata.

Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. UNESCO  mengakui wayang kulit sebagai World Master Piece of  Oral and Intangible Heritage of Humanity. Pengukuhan tersebut, tetap tak banyak pengaruhnya bagi Indonesia sebagai pemilik kebudayaan itu sendiri. Sampai saat ini, tidak banyak bahkan tidak ada pengaruhnya bagi anak-anak Indonesia agar bisa lebih mudah belajar tentang wayang.

Seiiring perkembangan teknologi, pelestarian budaya dikembangkan dengan sebuah peranti lunak (software) yang memungkinkan wayang kulit tidak lagi digerakkan secara manual oleh seorang dalang. Peranti lunak ini berupa sensor (antena) yang diletakkan pada tubuh manusia dan terkoneksi dengan wayang kulit. Sensor dipasang pada tangan,kaki,dan kepala. Ketika anggota tubuh yang dipasang sensor digerakkan, wayang kulit akan mengikuti gerakan yang sama. Hanya saja bayangan yang dilihat tetap wayang kulit bukan bayangan bentuk manusia.

Oleh karena itu tidak ada alasan sebagai bangsa Indonesia untuk tidak bisa memahami warisan kearifan lokal terutama budaya Jawa melalui wayang kulit. Pelestarian ini dilakuakan dengan pembuatan sebuah peranti lunak (software) yang memungkinkan wayang kulit tidak lagi digerakkan secara manual oleh seorang dalang.

Tinggalkan Balasan