Komparasi lakon adalah membandingkan sebuah lakon yang dibawakan oleh dua dalang yang berbeda, yang dimainkan di tempat yang berbeda pula, yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan dan persamaan, kelebihan maupun kekurangan  dari masing-masing dalang yang membawakan lakon tersebut. Dalam meng-komparasikan sebuah lakon lebih menitik beratkan dari struktur lakonnya, yang meliputi ; sinopsis, tema dan amanat, alur, struktur alur dramatik lakon, penokohan, dan yang terakhir adalah setting (latar belakang), disini saya akan mengkomparasikan lakon Bhatara Kala yang dibawakan oleh 2 dalang yang berbeda, yaitu : I Made Setiaria, S.SP dan I Kadek Widnyana, S.SP, M.Si, langsung aja bisa cekidot ke bawah.

Lakon Bhatara Kala versi dalang I Made Setiaria, S.SP

Sinopsis

Sang Hyang Adikala

Pada suatu ketika suhu dunia yang mula-mula sangat sejuk berubah menjadi panas yang tak terhingga, yang menyebabkan tiga alam menjadi panas yaitu alam bawah (Yamaloka), alam tengah (alam manusia) dan alam atas (alam dewa) yang membuat resah semua umat manusia maupun para dewa, Dewa Indra yang berada di Indraloka menjadi bingung akan panas yang begitu dahsyatnya, sehingga dia mengutus Bhagawan Narada dan pengikutnya Tualen untuk menyelidiki apa yang terjadi. Setelah diselidiki, Bhagawan Narada melapor kepada Dewa Indra bahwa ada api kecil yang berada ditengah laut yang menyebabkan panas itu terjadi. Tanpa pikir panjang lagi, Dewa Indrapun memerintahkan Bhagawan Narada dan Tualen untuk mengerahkan semua para dewa untuk memadamkan api tersebut, namun tiap kali para dewa berusaha untuk memadamkannya, api tersebut bertambah besar dan berubah menjadi raksasa yang mengerikan. Raksasa itu menjadi sangat marah karena tidurnya diganggu, para dewapun kewalahan menghadapi raksasa tersebut dan membuat para dewa menanggung kekalahan. Seketika itu juga Dewa Siwa datang dan melerai pertempuran itu, Dewa Siwa memberikan wejangan pada raksasa tersebut dan memberitahu bahwa dirinya merupakan anak dari Dewa Siwa dan Dewi Parwati, yang pada saat bersenang-senang diatas lautan dan tidak disengaja menjatuhkan sperma di tengah laut sehingga api yang panas itu muncul. Pada saat itu juga raksasa itu diberi nama Sang Hyang Adikala karena kesaktianya melebihi para dewa, Dewa Siwa juga memberikan aturan-aturan yang membenarkan dia untuk bertempat tinggal dan apa yang menjadi makanannya.

Tema dan Amanat

Tema yang saya ambil dari lakon Sang Hyang Adikala ini adalah keisyafan Sang Hyang Adikala, dan amanatnya adalah kita sebagai manusia harus mengikuti aturan yang ada dalam melakukan segala hal. Seperti halnya Sang Hyang Siwa memberikan wejangan kepada Sang Hyang Adikala

Alur

Alur yang digunakan adalah Alur maju :  dilihat dari bentuk cerita yang beurutan dari awal sampai akhir cerita.

Struktur  Alur  Dramatik

  • Eksposisi : tahap ini ada pada saat dunia menjadi sangat panas sehingga menembus surga yaitu tempat dari para dewa. Dewa Indra menjadi resah dan rasa kebingungan menyelimuti dirinya, sehingga dia mengutus Bhagawan Narada dan Tualen untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
  • Konflik : konflik terjadi pada saat Dewa Indra mengetahui bahwa ada api kecil yang berada ditengah laut yang menyebabkan dunia begitu panas sehingga menyebabkan para dewa menjadi resah. Dewa indra pun memerintahkan Bhagawan Narada dan Tualen untuk mengerahkan seluruh para dewa agar memadamkan api tersebut
  • Komplikasi : peristiwa mulai menggawat terjadi pada saat para dewa berusaha untuk memadamkan api dan api tersebut tidak kunjung padam yang membuat para dewa menjadi kebingungan akan hal tersebut.
  • Krisis : klimaks terjadi pada saat api tersebut berubah menjadi raksasa yang sangat sakti dan mengerikan sehingga membuat para dewa menjadi kewalahan menghadapi raksasa yang sedang marah tersebut dan menanggung kekalahan atas pertempuran itu.
  • Resolusi : tahap peleraian ini terdapat pada adegan pada saat Dewa Siwa melerai pertempuran antara Sang Hyang Adikala dan para dewa, dan juga pada saat Dewa Siwa memberikan wejangan pada Sang Hyang Adikala bahwa dia adalah putra dari Dewa Siwa dan Dewi Parwati sehingga mampu meredam amarah dari Sang Hyang Adikala

 

Penokohan

Tokoh protagonis : Sang Hyang Adikala, karena merupakan tokoh utama dalam lakon Bhatara Kala versi dalang I Made Setiaria

Tokoh antagonis : Dewa Indra, karena merupakn lawan atau musuh dari tokoh utama yaitu Sang Hyang Adikala

Tokoh tritagonis : Dewa Siwa melerai pertempuran antara Sang Hyang Adikala dengan para dewa dan juga memberikan solusi agar Sang Hyang Adikala tidak merasa marah lagi.

Tokoh pembantu : Bhagawan Narada dan Tualen karena mereka diperintahkan untuk menyelidiki penyebab terjadinya suhu yang teramat panas dan juga  pada saat diutus untuk mengerahkan seluruh para dewa dan juga para Dewa itu Sendiri karena telah membantu Dewa Indra menyerang Sang Hyang Adikala

Setting

  • Di dunia manusia pada saat suhu dunia berubah menjadi panas
  • Di Indraloka pada saat Dewa Indra menjadi resah dan mengutus Bhagwan Narada dan Tualen mengerahkan seluruh para dewa
  • Di atas samudra pada saat para dewa berusaha untuk memadamkan api dan bertempur melawan Sang Hyang Adikala dan di lerai oleh Dewa Siwa.

 

 

 

 

 

Lakon Bhatara Kala versi dalang I Kadek Widnyana, S.SP, M.Si

Sinopsis

Kama Salah

               Suatu ketika, Sang Hyang Siwa dan Dewi Parwati berjalan-jalan melintasi samudra yang indah. Namun secara tiba-tiba angin yang besar datang menghempaskan pakain Dewi Uma dan terlihat lekuk tubuhnya oleh Sang Hyang Siwa, Sang Hyang Siwa pun terbawa nafsu dan meneteskan kama (sperma) beliau ditengah laut. Setelah lama berlalu kama yang jatuh di tengah lautan tersebut berubah menjadi raksasa besar yang mengerikan yang bernama Sang Hyang kala dan memakan semua yang ia temukan termasuk manusia. Melihat kejadian ini Bhagawan Narada beserta pengikutnya yaitu tualen, melapor ke hadapan Dewa Indra, Dewa Indra menjadi resah mendengarkan laporan tersebut, dan akhirnya Dewa Indra mengutus para dewa untuk mengalahkan Sang Hyang Kala. Namun apa daya, seluruh pasukan dewa berhasil dikalahkan oleh raksasa sakti tersebut bahkan Dewa Indrapun merasa kewalahan melawannya. Secara tidak disengaja Sang Hyang Siwa lewat tepat di arena pertempuran itu dan secara tiba-tiba dia menyerang Sang Hyang Siwa, Sang Hyang Siwapun merasa terkejut dan menjadi kelabakan. Sang Hyang Siwa berusaha menenangkan Sang Hyang Kala dari kemarahannya dan mengajaknya berbicara serta memberikan teka teki kepada Sang Hyang Kala, sang Hyang Kala pun tidak bisa menebak teka teki yang diberikan Sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Siwa mengungkap kebenaran bahwa Sang Hyang Kala merupakan anak dari Sang Hyang Siwa.

Tema dan Amanat

Tema yang saya ambil adalah kegagalan dalam mendidik anak, dan amanat yang bisa diambil adalah jika salah mendidik anak akan fatal akibatnya, itu sebabnya hubungan antara orang tua dan anak harus saling mengisi satu sama lain, jika tidak anak akan menjadi berandalan seperti halnya pada cerita kama salah.

 

Alur

Alur yang digunakan adalah alur maju berdasarkan cerita yang berurutan dari awal  sampai akhir cerita.

v  Struktur alur dramatik

  • Eksposisi : pada saat Sang Hyang Siwa dan Dewi Parwati berjalan-jalan mengelilingi samudra yang indah.
  • Konflik : yaitu pada saat kama Sang Hyang Siwa jatuh ditengah laut dan berubah menjadi raksasa sakti yang mengerikan yaitu Sang Hyang Kala
  • Komplikasi : pada Saat Sang Hyang Kala merajalela dan memakan segala sesuatu termasuk manusia.
  • Krisis : pada saat Dewa Indra mengutus para dewa untuk berperang melawan Sang Hyang Kala dan para dewa mengalami kekalahan.
  • Resolusi : pada saat Sang Hyang Siwa memberikan teka teki kepada Sang Hyang Kala dan memberikan aturan-aturan yang harus ditaati.

 

 

 

Penokohan

Tokoh protagonis : Sang Hyang Kala, karena merupakn pemeran tokoh utama dari lakon bhatara Kala versi dalang I Kadek Widnyana

Tokoh tritagonis : Sang Hyang Siwa karena berhasil melerai peperangan antara Sang Hyang Kala dan para dewa sekaligus memberikan wejangan dan petuah-petuah kepada Sang Hyang Kala.

Tokoh antagonis : Dewa Indra, karena merupakan lawan dari Sang Hyang Kala

Tokoh pembantu : Bhagawan Narada dan Tualen karena membantu melaporka kejadian yang ada di bumi kepada Dewa Indra, dan juga para Dewa yang menjadi pasukan Dewa Indra.

 

Setting

  • Di atas samudra : pada saat Sang Hyang Siwa Berjalan-jalan dengan istrinya Dewi Parwati
  • Di bumi : pada saat kekacauan yang dibuat oleh Sang Hyang Kala dan pada saat peperangan berlangsung dan juga pada saat Sang Hyang Siwa memberikan wejangan kepada Sang Hyang Kala.
  • Di Indraloka : pada saat Bhagawan Narada dan Tualen melapor pada Dewa Indra.

 

 

 

 

 

Komparasi lakon Bhatara Kala versi dalang I Made Setiaria, S .SP dengan dalang I Kadek Widnyana, S.SP, M. Si.

Perbedaan :

  • Dari segi judulnya yang berbeda, jika dalang I Made Setiaria menggunakan judul Sang Hyang Adikala sedangkan versi dalang I Kadek Widnyana menggunakan judul Kama Salah.
  • Dari Segi Sinopsisnya, dalang I Made Setiaria memulainya dari perubahan drastis suhu yang ada di bumi, sedangkan versi Dalang I Kadek Widnyana dimulai dari Sang Hyang Siwa bejalan-jalan dengan istrinya yaitu Dewi Parwati.
  • Dari segi alurnya, dalang I Made Setiaria menggunakan 2 alur yaitu alur maju dan alur mundur, sedangkan dalang I Kadek Widnyana hanya menggunakan 1 alur saja yaitu alur mundur.

Persamaan :

  • Dari segi cerita, sama-sama menggunakan tokoh Bhatara Kala menjadi peran utama.
  • Dari segi latar, sama-sama menggunakan tiga latar yaitu di bumi atau alam manusia, diatas samudra dan di Indraloka.
  • Di akhir cerita sama-sama diakhiri dengan dewa siwa sebagai pelerai pertempuran antara Sang Hyang Kala dengan para dewa.
  • Dari segi penokohan lakon ini sama.

v Kesimpulan

Dalam sebuah lakon yang sama, jika diceritakan atau dipentaskan oleh dalang yang berbeda, maka dalam pementasan lakon tersebut  pasti akan timbul perbedaan dan persamaan. Walaupun ada kesan berbeda, itu hanyalah tergantung dari sanggit dalangnya. Seorang dalang bebas untuk berkreasi membuat pementasannya menarik, namun tidak boleh keluar atau menyimpang dari pakem aslinya.

 

mungkin itu salah satu contoh komparasi lakon, tapi jangan lupa di like ya,,,,

 

Tinggalkan Balasan