ISTILAH KARAWITAN

Posted by rudyprattama on Apr 5, 2010 in Tulisan |

Di Jawa, salah satu jenis seni bebunyian yang dianggap tua dan masih bertahan hidup dan berkembang sampai sekarang adalah karawitan atau (di luar Indonesia lebih dikenal sebagai) musik gamelan atau sering disebut sebagai musik “gong” saja. Istilah karawitan sekarang ini juga digunakan untuk menyebut berbagai jenis musik lainnya yang memiliki sifat, karakter, konsep, cara kerja, dan atau aturan yang mirip dengan musik karawitan (tradisi) Jawa, walau musik-musik tersebut bukan musik di Jawa dan atau bukan juga musik yang berasal atau hidup di Jawa.

Pada tahun 50-an, tepatnya pada tanggal 27 Agustus 1950, ketika pemerintah Republik Indonesia membuka untuk pertama kalinya sebuah sekolah formal kesenian (tradisi) setingkat SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) di Surakarta dengan nama Konservatori Karawitan Indonesia disingkat KOKAR, dalam program pembelajarannya pada waktu itu telah memasukkan juga seni pedalangan dan seni tari.

A. Karawitan dan Gamelan

Penggunaan istilah gamelan dan karawitan sudah mulai sama dengan yang diberlakukan di Indonesia, terutama oleh para praktisi maupun para akademisi yang telah berhubungan lebih jauh atau akrab dengan dunia musik gamelan, dunia karawitan.

Kata nggamel (dalam bahasa Jawa) dapat berarti memukul. Itulah kemungkinannya mengapa gamelan dianggap sebagai satu perangkat musik pukul atau perkusi (ansambel atau orkes, yang nama dan jenisnya tergantung dari jenis, jumlah atau komposisi ricikan-ricikan yang digunakan serta fungsinya di masyarakat), walau pada kenyataannya perangkat gamelan juga melibatkan alat-alat musik non perkusi.

1. Ricikan

Di daerah Jawa Tengah nampaknya perangkat musik perkusi, secara kuantitatif, sebagian besar ricikannya terdiri dari ricikan perkusi dalam berbagai bahan dan bentuk. Dilihat dari komposisi alat musik yang digunakan, musik di daerah Jawa Tengah secara garis besar dapat digolongkan dalam tiga kelompok yaitu ; kelompok mayoritas bambu, kelompok mayoritas selaput kulit, kelompok mayoritas ricikan gamelan.

2. Ricikan Gamelan

Ricikan gamelan yang sebagian besar terdiri dari alat musik perkusi logam ini secara fisik dibedakan menjadi dua kelompok yaitu ; kelompok wilahan atau bilah, dan kelompok ricikan pencon.

B. Perangkat Gamelan

Berkaitan dengan perkembangan jaman, perkembangan fungsi kesenian, selera jaman, berikut ini adalah beberapa nama perangkat gamelan yang pernah ada dan sampai sekarang masih ditabuh dan berfungsi :

1. Gamelan Kodhok Ngorèk, berfungsi sebagai pengiring acara hajatan atau peristiwa pernikahan. Karena gamelan Kodhok Ngorèk berlaras slendro maka wajar, enak, dan tidak ada kejanggalan sama sekali bila pada perangkat gamelan tersebut melibatkan gender dan gambang gangsa slendro. Alasan lain yang digunakan untuk menguatkan pendapatnya, Pak Martapangrawit menyebutkan bahwa kehadiran slenthem pada perangkat gamelan ageng bermain dengan menggunakan nada 4 (pelog) dan 3 (dhadha), jarak tersebut pada dasarnya adalah sama dengan interval slendro, seperti layaknya interval nada lima ke dhadha slendro.

2. Gamelan Monggang, fungsi dan kegunaannya untuk kelengkapan berbagai acara dan upacara dilingkungan keraton/kadipaten dan kabupaten pada masa itu, seperti memberi tengara pada upacara penobatan dan jumenengan raja, mengiringi latihan perang prajurit bertombak atau acara sodoran, menengarai kelahiran bayi laki-laki dari keluarga raja, dan sebagainya.

3. Gamelan Cårå Balèn, berfungsi untuk menghormati kedatangan tamu, baik dalam upacara keluarga, kerajaan, ataupun kemasyarakatan. Misalnya, pasar malam sekatènan, fair, mantènan, khitanan, syukuran, dan sebagainya.

4. Gamelan Sekatèn, berfungsi/digunakan setiap setahun sekali selama seminggu, dari tanggal 5 s/d 12 setiap bulan Mulud (menurut kalender Jawa), pada setiap bulan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W.

5. Gamelan Ageng, berfungsi hampir setiap hari untuk keperluan kemasyarakatan seperti, hiburan seni, pagelaran wayang kulit, dan sebagainya.

Dalam suatu diskusi oral, Jose Maceda mengkaitkan dan menduga bahwa gamelan yang ada di Indonesia memiliki kemiripan-kemiripan dengan gamelan di negara lain. Diperkirakan bahwa penyebaran agama dan budaya Hindu-Budhism dan Islam pada masa-masa yang lebih belakangan juga atas jasa pedagang dari India Belakang. Dugaan yang lebih masuk akal melihat “route” yang dilewati oleh budaya perunggu tersebut juga memiliki budaya musik yang mirip, yaitu gong chimes (rangkaian pencon yang dilaras), yang terdapat di beberapa Negara Thailand, Khmer, dan Burma. Kemiripan juga didapati pada unsur musikalnya, struktur komposisi, organisasi musikal maupun cara bermain beberapa instrument.

C. Pengaturan Penempatan Ricikan Gamelan

Sebenarnya penempatan ricikan-ricikan gamelan bukanlah sebuah harga mati, pengaturannya dapat fleksibel menurut berbagai pertimbangan. Pada dasarnya penempatan ricikan-ricikan gamelan hanya dibagi menjadi dua fungsi yaitu mandiri atau digunakan untuk membantu keperluan lain, tari, wayang, teater atau upacara.

Dilihat dari segi pagelaran atau konser, pengaturan penempatan gamelannya memang dirancang khusus untuk didengar dan ditonton oleh audiens, agar penataannya enak dipandang mata dan didengar telinga.

Sehubungan dengan makin berkembangnya fungsi dan guna karawitan di masyarakat, dan semakin majunya dunia teknologi media dan industri, maka media rekam adalah salah satu hal yang penting bagi pecinta karawitan. Salah satu pendokumentasian ini sangat berguna sekali untuk waktu yang cukup panjang, untuk diteruskan oleh generasi muda.

Ringkasan dari ;

Buku : Bothekan Karawitan I

Penulis : Rahayu Supanggah

Penerbit, Tempat dan Tahun Terbit : Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, Jakarta, 2002.

2 Comments

kadetastra
Apr 6, 2010 at 9:32 am

achhh massa sich!!!!!!!!!!


 
rudyprattama
Apr 8, 2010 at 12:59 pm

ya begitulah seperti yang saya baca wa,,…


 

Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright © 2014 rudyprattama All rights reserved. Theme by Laptop Geek.