RSS Feed
Des 18

BIOGRAFI SENIMAN

Posted on Rabu, Desember 18, 2013 in Tulisan

PROFIL TOKOH

I KETUT KEPING SENIMAN TUA DARI BONGKASA.

I Ketut Keping sebagai seniman tua yang masih ada. Dalam riwayat hidup beliau, dimana memiliki kehidupan yang bisa hendaknya kita apresiasikan. Ditengah kehidupan yang kurang mampu, beliau mencoba berkarir dalam dunia seni. Beliau melangsungkan hidupnya lewat berkesenian, yang bisa menanggung hidup beliau sampai sekarang. Dilahirkan dari pasangan I Wayan Lideg dan Ni Ketut Gelot di Bongkasa, pada 31 Desember 1949. Dalam laporan ini akan membicarakan tentang kehidupan beliau dari beliau masih anak-anak, remaja, hingga beliau berkeluarga. Di masa kecil beliau sempat mengenyam pendidikan, namun beliau tidak bisa melanjutkannya karena keadaan keluarga yang kurang mampu pada saat itu, dan beliau memutuskan untuk bekerja sebagai petani membantu orang tuanya. Beliau juga sering melakukan aktifitas seperti anak-anak lainnya yang senang bermain, namun pada saat itu beliau senang bermain gamelan, karena berawal dari keseringan beliau mendengarkan suara gamelan gender di dekat rumahnya. Sejak itu beliau sangat senang menggeluti dunia seni gamelan. Dan dari sanalah beliaau mempunyai tekat untuk belajar gamelan khususnya gender wayang. I Ketut Geruh (alm) selaku orang yang sudah bisa bermain gamelan gender pada saat itu sangat tertarik untuk mengajarinya karena beliau melihat ada bakat yang terpendam dalam diri I Ketut Keping. Dari sekian proses yang beliau ajarkan, hingga I Ketut Keping sudah pandai bermain gamelan khusunya gender wayang. Proses belajar yang beliau lakukan berlangsung hingga remaja. Saat remaja beliau sudah cukup ahli dalam bermain gender wayang. Dari sanalah beliau sering melakukan aktifitas ngayah ataupun kaupah ( di bayar ) ke tempat orang yang melaksanakan upacara yadnya. Selain itu beliau juga sering di ajak mengikuti para dalang wayang ke tempat pelaksanaan upacara. Beliau juga pernah di suruh untuk bergabung dengan sekehe Janger yang ada di Griya Bongkasa. Beliau semakin giat untuk berkarir khususnya pada bidang seni. Salah satu sumber yang di temui I Nyoman Metra selaku kerabat beliau dalam wawancara secara langsung menyatakan bahwa beliau merupakan sosok seniman alam yang di daerahnya sangat di kagumi karena berperan besar dalam mendirikan dan membangkitkan kesenian di Br. Karang Dalem II, Desa Bongkasa Pertiwi. Selain itu juga dalam wawancara dengan beberapa masyarakat sekitar yang bisa di temui menyatakan bahwa I Ketut Keping merupakan seseorang yang memiliki rasa pengabdian tinggi, dari beliau, kesenian di Br. Karang Dalem II, Desa Bongkasa Pertiwi sampai saat ini bisa berdiri. Dengan karir yang terus meningkat beliau mencoba meningkatkan kreatifitasnya dalam berkesenian dengan merambah jenis gamelan yang ada di daerah beliau. Sampai akhirnya beliau bertemu dengan pasangan hidup beliau yang bernama Ni Wayan Madra dan memutuskan untuk menikah di usia beliau yang saat itu berumur 30 Tahun.

KARYA I KETUT KEPING

Kreatifitas seni beliau tidaklah pudar seiring dengan pertumbuhan umur beliau. Justru menambah karir beliau dalam berkesenian. Beliau yang pertama kali memprakasai untuk membentuk sekehe gong di Br. Karang Dalem II, Desa Bongkasa Pertiwi. setelah terbentuknya sekehe Gong itu, selanjutnya beliau mencoba mencari pengajar untuk melatih sekehe yang ada di daerah beliau, dan  berlangsunglah proses latihan, maka dari sanalah pengalaman beliau semakin luas dan berkembang sehingga beliau bisa menguasai semua instrument pada gamelan itu. Dari sana beliu juga bisa untuk melatih para penabuh dari berbagai sekehe yang ada di daerah beliau. Selain itu beliau juga membentuk sekehe calonarang yang melibatkan masyarakat di daerahnya, yang bertunjuan untuk pementasan di saat ada upacara agama di Pura khususnya di Br. Karang Dalem II, Desa Bongkasa Pertiwi, Dari sekian banyak pementasan serta antusias penonton pada saat itu, banyak apresiasi yang di dapat sekehe tersebut, terutama dari luar daerah, sehingga banyak tawaran untuk ngayah/kauntap (di bayar) di berbagai daerah. Selain itu sekehe calonarang ini juga pernah mendapat suatu kehormatan untuk tampil di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-9 tahun 1982. Tidak berhenti sampai disana, setelah sukses membentuk sekehe calonarang, I Ketut Keping mencoba merambah untuk mendirikan sekehe angklung di daerah beliau. Suatu kebetulan sebuah usaha pariwisata yang ada di daerah beliau menginginkan sebuah pementasan kesenian untuk menghibur para wisatawan asing yang berkunjung ke sana. Pemilik usaha pariwisata tersebut menunjuk sekehe angklung yang di bentuk oleh I Ketut Keping untuk mengisi acara pementasan kesenian di tempat tersebut dengan kesepakatan sewa menyewa. Dari sana sekehe tersebut mendapat upah/honor guna kelancaran sekehe. Selain pentas di tempat wisata tersebut sekehe angklung ini juga melakukan kegiatan ngayah ke tempat orang yang melakukan upacara pitra yadnya. Dengan seiring berjalannya waktu usia I Ketut Keping semakin bertambah, di umur beliau yang kini sudah memasuki 64 tahun, beliau tidak bisa melakukan aktifitasnya dengan baik seperti dahulu. Keadaan fisik yang memaksa beliau untuk tidak dapat melanjutkan karir dan hoby yang beliau lakukan seperti saat beliau masih sehat, terutama pada bagian mata beliau yang sudah tidak bisa melihat lagi secara jelas. Beliau yang kini sudah memiliki 3 orang anak dan 5 orang cucu. Tunas muda yang di harapkan dapat meneruskan pengabdian beliau di jagat seni, sesuai dengan bidangnya. Ia adalah I Wayan Robby Adiguna selaku cucu beliau  yang kini menempuh study S1 di Institut Seni Indonesia Denpasar (ISI), yang sangat di harapkan untuk melanjutkan karir beliau dalam berkesenian.

Demikian rangkain laporan ini di buat sebenar-benarnya yang berdasarkan petunjuk, laporan keperibadian dan hasil wawancara yang secara langsung dilakukan. Adapun rangkain kata maupun penulisan yang salah pada laporan ini mohon permaklumannya, sekian dan terima kasih.

 

 

Des 16

Sejarah Gamelan Angklung di Banjar Karang Dalem II, Desa Bongkasa Pertiwi, Kec Abiansemal, Badung.

Posted on Senin, Desember 16, 2013 in Tulisan

Sejarah Gamelan Angklung di Banjar Karang Dalem II, Desa Bongkasa Pertiwi, Kec Abiansemal, Badung.

Gamelan angklung adalah gamelan tua di Bali, dan salah satu perangkat gamelan yang pada masa lalu mengalami popularitas dapat dilihat dari data perkembangannya yang tersebar di seluruh kabupaten di Bali. Dalam perkembangannya gamelan ini mengalami perubahan-perubahan dalam fungsi,tata cara penyajian, yang mengikuti konsep desa kala patra sebagai sebuah media  ritual yang fleksibel. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, secara fungsional angklung pun telah mengalami perubahan dimana secara ritual tetap berlangsung tetapi secara estetis gamelan ini menjadi sebuah iringan tari,iringan wayang, serta diolah dalam komposisi music modern.

Gamelan Angklung adalah gamelan berlaras slendro, tergolong barungan madya yang dibentuk oleh instrumen berbilah dan pencon dari krawang, kadang-kadang ditambah angklung bambu kocok (yang berukuran kecil). Dibentuk oleh alat-alat gamelan yang relatif kecil dan ringan (sehingga mudah dimainkan sambil berprosesi). Di Bali Selatan gamelan ini hanya mempergunakan 4 nada sedangkan di Bali Utara mempergunakan 5 nada.

Berdasarkan konteks penggunaaan gamelan ini, serta materi tabuh yang dibawakan angklung dapat dibedakan menjadi :

1.      Angklung klasik atau tarsdisional, dimainkan untuk mengiringi upacara (tanpa tari-tarian)

2.      Angklung kebyar,dimainkan untuk mengiringi pegelaran tari maupun Drama.

Satu barung gamelan angklung bisa berperan keduanya, karena seringkali mempergunakan alat-alat gamelan dan penabuh yang sama. Fungsi gamelan angklung  di beberapa tempat adalah  untuk mengiringi upacara Pitra Yadnya dan selain itu  juga dipakai untuk mengiringi upacara Dewa Yadnya, serta tari-tarian gong selendro yang sering juga menghidangkan gending-gending perangklungan 4 nada. Satu barung angklung bisa berperan keduanya, karena seringkali menggunakan  alat-alat gamelan dan penabuh yang sama. Di kalangan masyarakat Bali sebagian besar mengenal bahwa angklung dipergunakan dan berfungsi mengiringi upacara Pitra Yadnya (Ngaben). 

SEJARAH GAMELAN ANGKLUNG DI BANJAR KARANG DALEM  II

     Pada awalnya gamelan angklung yang berada di banjar karang dalem II di buat karena salah satu pura milik masyarakat di sana belum mempunyai sarana gamelan untuk mengiringi setiap berlangsungnya upacara yadnya. Oleh karena itu, di adakan sebuah rapat untuk mencari masukan-masukan dari masyarakat agar menemukan jalan keluar untuk kepentingan bersama. Seiring berjalannya rapat pada saat itu, ada salah satu orang dari masyarakat di sana yang mempunyai usul atau pendapat untuk membeli sebuah barungan gamelan angklung, usul itu mendapat tanggapan baik dari sebagian besar masyarakat lainnya, namun ada beberapa belah pihak masyarakat yang kurang setuju dengan alasan tipisnya dana yang ada dan besarnya dana yang di keluarkan jika membeli sebuah barungan gamelan angklung. Sebagai bahan pertimbangan, akhirnya di temukan suatu solusi atau jalan keluar dari permasalahan itu. Ada beberapa pihak dari masyarakat yang suka rela ingin mentalangi/meminjamkan dana terlebih dahulu, itu pun mendapat persetujuan dari masyarakat lainnya, dengan suatu perjanjian kelak dana itu akan di kembalikan. Karena itu sudah menjadi keputusan bersama, maka di pesanlah sebuah barungan gamelan angklung. Sambil menunggu gamelan itu jadi, di samping itu masyarakat juga terus menggali dana berupa : warung amal bazzar, agar dapat sedikit mengurangi beban pembayaran hutang, dan sisanya di bayar dengan cara di cicil (kredit). Seiring berjalannya waktu angklung pun jadi, maka dari itu di butuhkan anggota untuk membentuk sebuah organisasi atau sekaa yang akan memainkan gamelan angklung tersebut. Sekaa itu di ambil dari beberapa masyarakat yang mempunyai keinginan dan kegemaran dalam menabuh. Sehingga terbentuklah organisasi yang di beri nama sekaa angklung “Kerthi Budaya” pada Tanggal 7 Juli 2000. Dilihat dari perjalanannya sekaa ini sangat aktif dalam kegiatan ngayah yang berkaitan dengan Upacara Dewa Yadnya, dan Uparaca Pitra yadnya di lingkungan masyarakat setempat yang membutuhkan gamelan angklung. Karena seiring dengan perkembangan jaman dan terjadinya pergeseran nilai-nilai dalam kehidupan bermasyarakat, berkembang pula struktur sekaa angklung ini menjadi lebih professional dan mulai ada perjanjian ataupun sewa-menyewa untuk kegiaan pentas dan sebagainya yang tentunya di luar konteks ngayah. Kebetukan sebuah tempat usaha pariwisata yang berada di daerah itu menginginkan sebuah pementasan kesenian untuk menghibur para wisatawan asing yang berkunjung ke sana, dan salah satu dari anggota sekaa angklung yang bernama I Wayan Suarditha yang akrab di panggil Wayan, memiliki hubungan dekat dengan pemilik usaha. Mendengar keinginan dari  pemilik usaha, maka wayan mencoba menawarkan sekaa angklung kerthi budaya untuk mengisi sebuah acara pementasan kesenian di sana, pemilik usaha itu pun setuju. Sebelum melakukan kesepakatan, wayan melakukan rapat dengan anggota sekaa angklung, dan anggota sekaa pun menyetujuinya dengan alasan, karena kegiatan ngayah yang di lakukan di pura maupun di lingkungan masyarakat minimal 8 sampai 15 kali dalam setahun, maka sekaa tersebut menerima perjanjian sewa menyewa untuk mengisi sekian banyak waktu yang senggang. Hingga sampai sekarang, kegiatan itu masih berjalan tanpa mengurangi kewajiban sekaa untuk kegiatan ngayah dalam upacara yadnya di daerah setempat.

Tokoh yang berperan penting dalam membangun sekaa angklung di banjar Karang Dalem II yaitu :

I Ketut Keping.

I Ketut Keping adalah seorang senimanP1100014 tua dari Banjar Karang Dalem II Desa Bongkasa Pertiwi. Beliau merupakan tokoh yang berperan penting dalam mendirikan sekaa angklung kerthi budaya. Selain berperan sebagai pelatih dalam sekaa tersebut, beliau juga berperan dalam mengumpulkan anggota untuk ikut serta dalam sekaa angklung kerthi budaya, sehingga terbentuklah sekaa angklung tersebut yang beranggotakan 30 orang. Beliau mengharapkan nantinya ada generasi penerus untuk sekaa ini dan bermanfaat untuk kepentingan umum.

KESIMPULAN

     Sekehe angklung Kerthi Budaya adalah sebuah organisasi yang di bangun berdasarkan tujuan untuk ngayah/mengiringi upacara yadnya di pura maupun di lingkungan masyarakat yang membutuhkan. Sekaa ini beranggotakan sekitar 30 orang yang semua anggotanya berasal dari daerah itu sendiri. Sekehe  angklung Kerthi Budaya bertempat di Br. Karang Dalem II, Desa Bongkasa Pertiwi, Kec. Abiansemal, Kabupaten Badung. Rasa bakti dan saling memiliki sesama anggota dengan tujuan ngayah dan membantu masyarakat di sekitar yang membutuhkan bantuan bila memiliki kepentingan upacara yadnya untuk mengupah angklung. Seiring dengan perkembangan jaman dan terjadinya pergeseran nilai-nilai dalam kehidupan bermasyarakat, berkembang pula struktur sekaa angklung ini menjadi lebih professional dan mulai ada perjanjian ataupun sewa-menyewa dalam kegiaan pentas dan sebagainya yang tentunya di luar konteks ngayah.

Barungan gambelan angklung 5 nada di Banjar Karang Dalem II terdiri dari :

1. Dua pasang pemade/gangsa

2. Tiga pasang kantil

3. 2 buah jegogan

4. 8 pencon reyong

5. Satu buah kempur dan satu buah gong

6. Satu buah tawa-tawa

7 .Satu buah klenang

8. Sepangkon ricik

9. Satu buah suling atau lebih

10.Sepasang kendang lanang,wadon berukuran kecil dan besar.

 

Mei 21

“Gamelan Semar Pegulingan”

Posted on Selasa, Mei 21, 2013 in Tak Berkategori, Tulisan

“GAMELAN SEMAR PEGULINGAN”

Semar Pagulingan adalah sebuah gamelan yang dekat hubungannya dengan gamelan Gambuh, di mana ia juga merupakan perpaduan antara gamelan Gambuh dan Legong. Semar Pagulingan merupakan gamelan rekreasi untuk istana raja-raja zaman dahulu. Biasanya dimainkan pada waktu raja-raja akan kepraduan (tidur). Gamelan ini juga dipergunakan untuk mengiringi tari Leko dan Gandrung yang semula dilakukan oleh abdi raja-raja kraton. Semar Pagulingan memakai laras pelog 7 nada, terdiri dari 5 nada pokok dan 2 nada pamero. Repertoire dari gamelan ini hampir keseluruhannya diambil dari Pegambuhan (kecuali gending Leko) dan semua melodi-melodi yang mempergunakan 7 nada dapat segera ditransfer ke dalam gamelan Semar Pagulingan.

Bentuk dari gamelan Semar Pagulingan mencerminkan juga gamelan Gong, tetapi lebih kecil dan lebih manis disebabkan karena hilangnya reong maupun gangsa-gangsa yang besar. Demikian bejenis-jenis pasang cengceng tidak dipergunakan di dalam Semar Pagulingan. Instrumen yang memegang peranan penting dalam Semar Pagulingan ialah Trompong. Trompong lebih menitik beratkan penggantian melodi suling dalam Gambuh yang dituangkan ke dalam nada yang lebih fix. Gending-gending yang dimainkan dengan memakai trompong, biasanya tidak dipergunakan untuk mengiringi tari. Di samping trompong ada juga 4 buah gender yang kadang-kadang menggantikan trompong, khususnya untuk gending-gending tari. Dalam hal ini Semar Pagulingan sudah berubah namanya menjadi gamelan Pelegongan. Instrumen yang lain seperti gangsa, jublag dan calung masing-masing mempunyai fungsi sebagai cecandetan ataupun untuk memangku lagu. Semar Pagulingan juga memakai 2 buah kendang, 1 buah kempur, kajar, kelenang, suling. Kendang merupakan sebuah instrumen yang mat penting untuk menentukan dinamika dari pada lagu.

PERANAN SRUTI DALAM PEPATUTAN

GAMELAN SEMAR PEGULINGAN SAIH PITU

Istilah sruti berasal dari bahasa sansekerta yang artinya adalah kitab-kitab weda ( mardiwarsito, 1985 : 539 ). Selain itu dalam dunia musik misalnya dalam music india dan bali, sruti merupakan sebuah terminlogi yang berarti, jarak antara dua buah nada itu dikenal dengan nama interval. sruti atau interval mamagang peranan yang sangat pentingdalam pepatutan dalam pelarasan gamelan bali. Untuk dapat mengetahui betapa pentingnya peranan sruti itu dalam pepatutan gamelan bali, maka akan dibahas tentang gamelan semar pegulingan saih pitu disingkat (SPSP). Gamelan ini menggunakan laras pelog tujuh nada (sih pitu), dengan bahan bulah dan pencon terbuat dari perunggu.

Proses pelarasan gamelan semar pegulingan saih pitu (SPSP)

Secara tradisi pelarasan gamelan SPSPdilakukan hanya dengan mengandalkan kepekaan telinga dan musical aesthetic. Oleh sebab itu pelarasan gamelan haruslah dilakukan dengan seksama.

Langkah pertama yang dilakukan seorang pande (pembuat gamelan)atau tukang laras gamelan adalah menentukan petuding. Petuding berasal dari akar kata “tuding” yang artinya tunjuk. Dengan demikian petudng atau artinya adalah petunjuk. Dalam kaitannya dengan pelarasan gamelan petuding ituberarti petunjuk nada. Petuding terbuat dari bambu, terbentuk segi empat panjang menyerupai bialh gangsa. Bahan yang dipilih untuk petuding itu adalah jenis bambu yang di bai disebut “tiing santong” dan “tiing jelepung”. Bahan petuding itu haruslah bamboo yang sudah benar-benar kering sebab dengan bamboo yang kering ini suara petuding yang nantinya akan stabil. Bambu yang kering sering didapatkan dari iga-iga dan tenggala (bajak). Setelah bahan petuding didapatkan langkah-langkah selanjutnya adalah, menentukan suaradari petuding itu sendiri. Untuk gamelan SPSP sumber dari sura petuding itu biasanya didapatkan melalui suling gambuhatau sering juga meniru dari gamelan SPSPyang sudah ada. Apabila suara petuding itu di ambil dari gamelan diambil dari gamelan yang sudah ada, maka proses ini disebut dengan istilah “nurun”. Dalam hal nurun, seorang pande biasanya mengandalkan kepekaan telinganya sendiri, tanpa bantuan alat-alat pengukur nada seperti misalnya sroboconn.

Tahap dalam pelarasan

Proses dalam pelarasan gamelan SPSP dimulai dengan melaras instrument yang berbilah. Pelarasan ini dikerjakan oktaf (pengangkep) demi oktaf dengan berpatokanpada petuding. Instrument pertama yang dilaras adalah jublag instrument ini dianggap sebagai starting point dari gamelan itu sendiri. Setelah jublag dapat dilaras dengan baik, maka pelarasan itu bisa  dilanjutkan ke pengangkep yang lebih rendah, yaitu jegogan, atau bisa juga ke pengangkep yang lebih tinggi mulai dari mulai dari pemade terus ke kantil. Perlu dicatat bahwa dalam pelarasan gamelan inihendaknya jangan dimulai jangan di mulai dri pengangkep yang lebih tnggiyaitu kantilan sebab kantilan itu memiliki frekuensi (getaran per’detik) yang paling tinggi dalam gamelan SPSP. Apabila pelarasan itu dimulai dari kantilan, biasanya tukang laras itu akan mengalami kesukaran untuk melanjutkan ke pengangkep yang lebih rendah.

Selain semua instrument yang berbemtuk bilah laras, maka dilanjutkan dengan melaras instrumen yang berpencol (pencon) seperti terompong, kempur, kemong. Klenang, dan kempyung. Biasanya instrument pencon yang dilaras untuk pertama kali adalah terompong. Dalam gamelan SPSP terompong itu pada dasarnya terdiri dari dua pengangkep (oktaf) sesuai dengan pengangkep jublag dan pemade. Jumlah pencom dalam tiap tungguh terompong biasanya bervariasi (17 pencon (gamelan SPSP kamasan), ada yang menggunakan 15 pencon (gamelan STSI), ada juga yang menggunakan 14 pencon (gamelan SPSP abian kapas kaja dan Puri Agung Gianyar). Enggan adanya perbedaan jumlah pencon itu maka cara penyusunan nada-nada pun ada variasinya, misalnya di kamasan klungkung nada terendahadalah nada 1, sedangkan nada tertinggi adalah nada 2. Di pagan nada terendah adalah nada 1, sedangkan nada tertinggi adalah nada 2,  di STSI nada terendah dan tertinggi adalah nada 1, di Puri Agung Gianyar dan Abian Kapas Kaja yang terendah adalah 1 sedangkan nada yang tertinggi adalah 7. Instrument terompong itu tidak dibuat dengan sistem “ngumbang-ngisep” oleh karena itu pelarasan terompong bisa mengikuti pengisep atau pengumbang. Kalau terompong itu dilaras sesuai dengan pengisep maka suara terompong itu tidak akan menonjol apabila seluruh instrument dalam barungan gamelan itu dimainkan secara bersama-sama. Suara dari terompong itu disebut dengan istilah “meplekes” sebaliknya apabiala terompong itu dilaras sesuai dengan pengumbang maka suara terompong itu akan sangat menonjol yang disebut dengan istilah “ngulun”

Barungan Gamelan Semar Pegulingan Saih Pitu

v  Satu tungguh trompong memakai, 14 pencon

v  Empat tungguh gangsa pemade, 7 bilah

v  Empat tungguh gangsa kantil, 7 bilah

v  Sebuah curing

v  Dua tungguh penyahcah, 7 bilah

v  Dua tungguh jublag, 7 bilah

v  2 tungguh jegogan, 7 bilah

v  Sebuah rebab

v  Dua buah suling ukuran besar, dan kecil

v  Sepasang kendang kekrumpungan lanang dan wadon

v  Sebuah kajar

v  Sebuah klenong (klentong)

v  Sebuah genta, orag

v  Satu pangkon ceng-ceng kece

Gending-Gending Yang Ada Dalam Semar Pegulingan

v  Tabuh gari

v  Terong

v  Langsing tuban

v  Subandar

v  Semaradas

v  Lengker

v  Bremara

v  Lasem

v  Bapang selisir

v  Tangis

v  Sekar gadung

DIKUTIP DARI BUKU

  • PENGANTAR KARAWITAN BALI :  I WAYAN DIBIA, S.S.T
  • BUKU, PERANAN SRUTI DALAM PEPATUTAN GAMELAN SEMAR PEGULINGAN SAIH PITU : DR. I WAYAN RAI S.
  • PERKEMBAGAN KARAWITAN BALI : ARYASA, B.A.I W. M,
  • GAMBELAN GAMBUH DAN GAMELAN LAINNYA : I NYOMAN REMBANG
  • PRAKEMPA, SEBUAH LONTAR GAMELAN BALI : I MADE BANDEM , ASTI 1996
Apr 16

ENSAMBLE GONG KEBYAR

Posted on Selasa, April 16, 2013 in Tulisan

Gamelan Gong Kebyar

Gong Kebyar adalah sebuah barungan baru. Sesuai dengan nama yang diberikan kepada barungan ini (Kebyar yang bermakna cepat, tiba-tiba dan keras) gamelan ini menghasilkan musik-musik keras dan dinamis. Gamelan ini dipakai untuk mengiringi tari-tarian atau memainkan tabuh-tabuhan instrumental. Secara fisik Gong Kebyar adalah pengembangan kemudian dari Gong Gede dengan pengurangan peranan, atau pengurangan beberapa buah instrumennya. Misalnya saja peranan trompong dalam Gong Gebyar dikurangi, bahkan pada tabuh-tabuh tertentu tidak dipakai sama sekali, gangsa jongkoknya yang berbilah 5 dirubah menjadi gangsa gantung berbilah 9 atau 10 . cengceng kopyak yang terdiri dari 4 sampai 6 pasang dirubah menjadi 1 atau 2 set cengceng kecil. Kendang yang semula dimainkan dengan memakai panggul diganti dengan pukulan tangan.

Secara konsep Gong Kebyar adalah perpaduan antara Gender Wayang, Gong Gede dan Pelegongan. Rasa-rasa musikal maupun pola pukulan instrumen Gong Kebyar ada kalanya terasa Gender Wayang yang lincah, Gong Gedeyang kokoh atau Pelegonganyang melodis. Pola Gagineman Gender Wayang, pola Gegambangan dan pukulan Kaklenyongan Gong Gede muncul dalam berbagai tabuh Gong Kebyar. Gamelan Gong Kebyar adalah produk kebudayaan Bali modern. Barungan ini diperkirakan muncul di Singaraja pada tahun 1915 (McPhee, 1966 : 328). Desa yang sebut-sebut sebagai asal pemunculan Gong Kebyar adalah Jagaraga (Buleleng) yang juga memulai tradisi Tari Kebyar. Ada juga informasi lain yang menyebutkan bahwa Gong Kebyar muncul pertama kali di desa Bungkulan (Buleleng). Perkembangan Gong Kebyar mencapai salah satu puncaknya pada tahun 1925 dengan datangnya seorang penari Jauk yang bernama I Mario dari Tabanan yang menciptakan sebuah tari Kebyar Duduk atau Kebyar Trompong.

Gong Kebyar berlaras pelog lima nada dan kebanyakan instrumennya memiliki 10 sampai 12 nada, karena konstruksi instrumennya yang lebih ringan jika dibandingkandengan Gong Gede. Tabuh-tabuh Gong Kebyar lebih lincah dengan komposisi yang lebih bebas, hanya pada bagian-bagian tertentu saja hukum-hukum tabuh klasik masih dipergunakan, seperti Tabuh Pisan, Tabuh Dua, Tabuh Telu dan sebagainya.

Lagu-lagunya seringkali merupakan penggarapan kembali terhadap bentuk-bentuk (repertoire) tabuh klasik dengan merubah komposisinya, melodi, tempo dan ornamentasi melodi. Matra tidak lagi selamanya ajeg, pola ritme ganjil muncul di beberapa bagian komposisi tabuh.

Barungan Gong Kebyar bisa diklasifikasikan menjadi 3 :

  1. Utama = Yang besar dan lengkap
  2. Madya = Yang semi lengkap
  3. Nista = Yang sederhana

Di Bali ada dua macam bentuk perangkat dan gaya utama gambelan gong kebyar yaitu gambelan gong kebyar Bali Utara dan gambelan gong kebyar Bali Selatan. Kedua gambelan gong kebyar ini perbedaannya terletak pada :

  • Tungguhan gangsa, Bali Utara bentuk bilah penjain dan dipacek sedangkan Bali Selatan menggunakan bentuk bilah kalorusuk dan digantung.
  • Gambelan Bali Utara kedengarannya lebih besar dari suara gambelan Bali Selatan, meskipun dalam patutan yang sama.

Dalam perkembangannya gong kebyar munculah istilah gaya Bali Utara dan gaya Bali Selatan, meskipun batasan istilah ini juga masih belum jelas. Sebagai gambaran daerah atau kabupaten yang termasuk daerah Bali Utara hanyalah Kabupaten Buleleng.

Sedangkan Kabupaten Badung, Tabanan, dan lain mengambil gaya Bali Selatan. Disamping itu penggunaan tungguhan gong kebyar di masing-masing daerah sebelumnya memang selalu berbeda karena disesuaikan dengan kebutuhan maupun fungsinya.

Fungsi Gong Kebyar
Sebagaimana kita ketahui lewat literatur dan rekaman telah tampak bahwa Gong Kebyar itu telah berfungsi sebagai pembaharu dan pelanjut tradisi. Sebagai pembaharu maksudnya adalah lewat gong kebyar para seniman kita telah berhasil menciptakan gending-geding baru yang lepas dari tradisi yang sudah ada.

Sedangkan sebagai pelanjut tradisi maksudnya adalah gong kebyar telah mampu mempertahankan eksistensi reporter gambelan lainnya melalui transformasi dan adaptasi.

Seperti apa yang telah diuraikan di atas bahwa gong kebyar memiliki fungsi untuk mengiringi tari kekebyaran. Namun sesuai dengan perkembangannya bahwa gong kebyar memiliki fungsi yang sangat banyak.

Hal ini dikarenakan gong kebyar memiliki keunikan yang tersendiri, sehingga ia mampu berfungsi untuk mengiringi berbagai bentuk tarian maupun gending-gending lelambatan, palegongan maupun jenis gending yang lainnya.

Disamping itu Gong Kebyar juga bisa dipergunakan sebagai salah satu penunjang pelaksanaan upacara agama seperti misalnya mengiringi tari sakral, maupun jenis tarian wali dan balih-balihan.

Karena gong kebyar memiliki multi fungsi maka gong kebyar menjadi sumber inspirasi karya baru. Dengan demikian Gong Kebyar telah berfungsi sebagai pembaharu dan pelanjut tradisi.

Sebagai pembaharu maksudnya adalah lewat Gong Kebyar para seniman kita telah berhasil menciptakan gending-gending baru yang lepas dari tradisi yang sudah ada.Sedangkan sebagai pelanjut tradisi Gong Kebyar telah mampu mempertahankan eksistensi reporter gambelan lainnya melalui transformasi dan adaptasi. Misalnya dalam gending gong kebyar kita mengenai istilah gegambelan, gender wayang dan gong luang.Juga disebutkan dengan menggunakan iringan gamelan gong kebyar, dalam sejarah drama klasik di Bali, maka drama tersebut berganti nama menjadi drama gong.dan sejak itulah banyak muncul sekaa-sekaa drama gong baru lainnya.

Struktur Gong Kebyar

Gong Kebyar merupakan salah satu perangkat/barungan gambelan Bali yang terdiri dari lima nada ( panca nada ) dengan laras pelog, tetapi tiap-tiap instrument terdiri sepuluh bilah.
Gong Kebyar bagi masyarakat Bali sudah tidak asing lagi, karena hampir seluruh desa maupun banjar yang ada di Bali memiliki satu perangkat/ barungan Gong Kebyar.
Oleh karenanya gong kebyar menjadi satu barungan gambelan tergolong baru jika dibandingkan dengan jenis-jenis gambelan yang ada saat ini seperti misalnya, gambelan Gambang, Gong Gde, Slonding, Semara Pegulingan dan masih banyak yang lainnya.
Barungan Gong Kebyar terdiri dari :

  • Dua buah (tungguh) pengugal/giying
  • Empat buah (tungguh) pemade/gangsa
  • Empat buah (tungguh) kantilan
  • Dua buah (tungguh) jublag
  • Dua buah (tungguh) Penyacah
  • Dua buah (tungguh) jegoggan
  • Satu buah (tungguh) reong/riyong
  • Satu buah (tungguh) terompong
  • Satu pasang gong lanang wadon
  • Satu buah kempur
  • Satu buah kemong gantung
  • Satu buah bebende
  • Satu buah kempli
  • Satu buah (pangkon) ceng-ceng ricik
  • Satu pasang kendang lanang wadon
  • Satu buah kajar
  • Satu buah rebab
  • Beberapa suling dengan berbeda ukuran.

  Fungsi dan teknik masing-masing instrument

Gamelan Gong Kebyar memiliki instrumentasi yang cukup besar.Masing-masing instrument dalam barungan memiliki fungsinya tersendiri sesuai dengan ciri khas gamelan gong kebyar

yaitu “NGEBYAR”. Sesuai dengan namanya Gong Kebyar, penerapan teknik juga enerjik. Repertoar gamelan gong kebyar memakai teknik-teknik yang sangat komplek. Masing-masing instrument telah memiliki teknik tersendiri dalam sebuah lagu. Begitu juga fungsi alat dalam perangkat/barungan saat memainkan lagu disesuaikan dengan kebutuhan lagu yang dibawakan.

Untuk lebih jelasnya dapat dijabarkan sebagai berikut:

  • Satu tungguh trompong dalam barungan gong kebyar memiliki

sepuluh buah moncol/pencon yang merupakan nada ndang

rendah sampai nada ndung tinggi. Instrumen ini dimainkan oleh

seorang penabuh dengan dua tangan memakai panggul yang

disebut panggul trompong. Dalam sebuah barungan, instrument

ini berfungsi untuk pembawa lagu, juga membuka/pengawit

sebuah gending yang dalam barungan membawa melodi dengan

tekniknya tersendiri. Gagebug trompong sekar tanjung susun

namanya. Sistem ini adalah gambaran keindahan permainan

trompong yang dalam sub tekniknya seperti: Ngembat,

Ngempyung, Nyilih asih, nguluin, nerumpuk, ngantu, niltil, ngunda dan ngoret.

  • Satu tungguh instrument Reyong. Instrumen riyong adalah suatu

instrument yang berbentuk memanjang. Instrumen ini memiliki

jumlah moncol/pencon sebanyak 12 buah dengan susunan nada

dari nada : 5 7 1 3 4 5 7 1 3 4 5 7 dibaca ndeng, ndung, ndang,

nding, ndong, ndeng, ndung, ndang, nding, ndong, ndeng, dan

ndung. Reyong dimainkan oleh empat orang penabuh dengan

mempergunakan masing-masing dua buah panggul pada tangan

kanan dan kiri. Teknik permainan yang diterapkan adalah tehnik

ubit-ubitan yang dalam barungan gamelan sepadan dengan

cecandetan, kotekan, tetorekan yang mengacu pada teknik

permainan polos dan sangsih yang dalam lontar Prakempa disebut gagebug .(Bandem:1991:16). Lebih lanjut dalam lontar ini gagebug rereyongan disebut I gajah mina namanya. Pemain reyong pertama dan ketiga (dari kiri) memainkan pukulan polos, sedangkan pemain kedua dan keempat memainkan pukulan sangsih. Setiap pemain reyong memiliki wilayah nada untuk dapat memainkan teknik-teknik di atas.

  • Dua buah Instrumen Ugal. Instrumen ugal/giying adalah sebuah

instrument yang mempunyai jumlah bilah 10 (sepuluh) buah

dengan susunan nada-nadanya dari kiri ke kanan. 4 5 7 1 3 4 5 7 1

3 dibaca ndong, ndeng, ndung, ndang, nding, ndong, ndeng,

ndung, ndang, dan nding. Instrumen ini dimainkan oleh

seorang pemain dengan alat pemukul (panggul). Fungsi dalam

barungan adalah sebagai pembawa melodi dan memulai sebuah

gending yang dibawakan. Selain itu instrument ugal dapat

mengendalikan atau memimpin sebuah lagu untuk pemberian

keras lirih/nguncab-ngees sebuah gending. Beberapa tehnik

pukulannya adalah: Ngoret, Ngerot, netdet, ngecek, neliti, ngucek,

gegejer, oncang-oncangan dan ngantung.

  • Gansa pemade dan gangsa kantil. Barungan Gong Kebyar

memiliki empat instrument gangsa pemade dan empat instrument

gangsa kantil. Instrumen ini memiliki sepuluh nada dalam

tungguhnya, dan urutan nadanya sama dengan instrument ugal.

Hanya saja instrument kantil lebih tinggi oktafnya dari gangsa

pemade. Jadi secara estetika perbedaan oktaf tersebut untuk

seimbangan dan harmonisasi. Kedelapan

instrumen ini berfungsi membuat jalinan-jalinan/kotekan dalam

sebuah gending. Pemberian ilustrasi oleh instrument ini dapat

memperkuat lagu pokok. Beberapa teknik gagebug/pukulan yang

diterapkan dalam instrument gangsa seperti: teknik pukulan

nyogcag, bebaru, tetorekan, norot, ngoret, niltil, ngucek, oncangoncangan dan lain –lain sesuai dengan kebutuhan gendingnya.

  • Dua instrumen Penyacah: Instrumen ini mempunyai jumlah bilah

sebanyak tujuh buah dengan susunan nada: 1 3 4 5 7 1 3 dibaca

ndang, nding, ndong, ndeng, ndung, ndang. berfungsi sebagai

pemangku lagu/mempertegas jalannya melodi (pukulannya lebih

rapat dari jublag).Secara fisik ukurannya lebih kecil dari

instrument Jublag. Teknik permainannya sangat melodis pada

setiap matra lagu.

  • Dua instrument Jublag. Instrumen jublag adalah suatu

instrument yang memiliki jumlah bilah lima buah, dengan

susunan nada 3 4 5 7 1 dibaca nding, ndong, ndeng, ndung,

ndang. Besar kecilnya nada diambil dari instrument

ugal/giying. Funfsinya dalam sebuah barungan adalah sebagai

pemangku lagu, memperkuat/mempertegas melodi pada ruasruas

gending. Teknik pukulan yang diterapkan adalah: neliti,

magending, nyele/nyelah.

  • Dua instrument Jegogan. Instrumen Jegogan merupakan

instrument bilah yang paling besar ukurannya dalam barungan

Gong Kebyar. Instrument ini memiliki bilah sebanyak lima buah

dengan susunan nada 3 4 5 7 1 dibaca nding, ndong, ndeng,

ndung ndang. Instrumen ini berfungsi sebagai pemangku lagu

dan memberikan aksentuasi kuat pada ruas-ruas gending

(pukulannya lebih jarang dari jublag)

  • Satu Kempur: Merupakan instrument berpencon yang besarnya

memiliki diameter 50-60 cm. Dengan digantung pada sebuah

sangsangan, instrument ini berfungsi sebagai pemangku irama

(ritme) dan sebagai pematok ruas-ruas gending serta sebagai

pemberi aksen-aksen sebelum jatuhnya gong. Pola pukulannya dapat memberikan identitas ukuran tabuh yang dibawakannya. Sepert:

tabuh pisan satu kempur dalam satu gong, tabuh dua, ada dua

kempur dalam satu gongannya, dan seterusnya.

  • Satu instrument Kemong: Instrumen kemong adalah merupakan

instrument berpencon yang dalam settingya digantung pada

sangsangan kecil yang disebut trampa. Fungsinya dalam

barungan adalah untuk pengisi ruas-ruas lagu. Biasanya

penerapan pukulan kemong pertanda gending yang dibawakan

telah mencapai setengah dari gending secara utuh (kecuali

pengawak palegongan). Pola pukulannya adalah: Tunjang sari,

  • Dua buah Gong lanang dan wadon: Instrumen gong adalah

instrument berpencon yang ukurannya paling besar dalam Gong

Kebyar. Terbuat dari kerawang dan memiliki ukuran diameter 65 – 90 cm. Dilihat dari fungsinya, instrument ini berfungsi sebagai

finalis lagu (menghakhiri lagu). Sebagai finalis lagu instrument ini memiliki jenis pukulan yang disebut Purwa Tangi.

  • Kendang Lanang Wadon: di atas telah dipaparkan tentang

instrument kendang. Akan tetapi dalam sebuah barungan

kendang berfungsi sebagai pemurba irama. Disamping itu

kendang dapat mengatur tempo, keras liris gending dan lain-lain.

Beberapa pukulan kendang antara lain: Motif bebaton, gegulet,

jejagulan, bebaturan, gupekan, milpil, dan lain-lain.

  • Beberapa suling dengan berbeda ukuran: Suling merupakan

instrument melodis yang dalam komposisi lagu sebagai pemanis

lagu. Teknik permainan bisa simetris dengan lagu ataukah

memberikan ilustrasi gending baik mendahului maupun

membelakangi melodi gending.

  • Satu Cengceng Kecek: Secara fisik cengceng gecek memiliki dua

bagian yaitu: dua alat pemukul (penekep) disebut bungan

cengceng, dan cengceng tatakan. Dalam tatakan terdapat kurang

lebih lima buah cengceng yang diikat pada pangkonnya. Untuk

memunculkan suara, cengceng penekep dipegang oleh dua tangan

dan dimainkan dengan dibenturkan sesuai tekniknya. Adapun

beberapa jenis pukulannya adalah: pukulan malpal, ngecek,

ngelumbar dan lain-lain. Sedangkan fungsinya dalam barungan

adalah untuk memperkaya ritme/angsel-angsel tanpa memakai

tehnik jalinan.

  • Satu buah kajar: Instrumen ini merupakan salah satu

inmstrumen bermoncol/pencon yang berfungsi sebagai pembawa

irama. Adapun jenis pukulannya adalah pukulan Penatas lampah

yang artinya pola pukulan kajar yang mengikuti pola ritme yang

ajeg dari satu pukulan ke pukulan berikutnya dalam jangka

waktu serta jarak yang sama.

  • Satu buah rebab: Instrumen rebab merupakan instrument gesek

yang dalam barungan gamelan sebagai penyeimbang/ harmonisasi

lagu. Instrumen ini membutuhkan pengeras suara karena secara

kualitas suara sangat nyaring, namun tidak mampu menimbulkan

suara keras. Sehingga instrument rebab sangat tepat

diharmoniskan dengan suling, dan pada saat pementasan dibantu

oleh pengeras suara.

 Karakteristik Gong Kebyar

Gong Kebyar sebagai barungan gamelan yang tercetus di bali

utara sekitar tahun 1915 memiliki karakter yang multi karakter. Keras,

enerjik, bisa juga lembut, agung, hikmad, dan berbagai karakter bisa di

dapatkan dalam barungan ini. Sehingga barungan gong kebyar

dikatakan sangat pleksibel. Beberapa karakter dan fungsi gong kebyar

dapat di sampaikan sebagai berikut:

· Bersifat praktis

· Bisa untuk sajian gending pategak instrumental (lelambatan

maupun kakebyaran).

· Untuk iringan tari/dramatari: patopengan, bebarongan,

palegongan, pearjan dll.

· Kususnya untuk iringan tari kakebyaran

· Sanggup mentranspormir repertoar ensamble-ensamble lain

· Mengundang aksi penampilan secara tidak terbatas.

· Sebagai sarana diplomasi kebudayaan melalui misi kesenian, yang

hampir setiap lawatan ke manca Negara memakai gong kebyar,

bahkan telah banyak Negara lainnya di dunia memiliki perangkat

ini.

· Gong Kebyar memiliki sifat pleksibelity yang tinggi.

 Perkembangan

Gong Kebyar adalah ensamble musik tradisi (Bali) memiliki daya

tarik yang tinggi karena potensi elemen-elemen musik yang

dikandungnya dapat memenuhi persyaratan musikalitas musik tradisi

dunia. Ia memiliki pemegang rekor hegemoni lomba barungan gamelan

tradisi Bali yang paling tinggi kapasitas penampilannya (tahun 1915

sudah dilombakan hingga tahun ini stabilitasnya masih tetap

digenggamnya. Penyebaran Gong Kebyar di Bali, Indonesia dan Luar

Negeri sangat luas dibanding barungan lain sehingga dibutuhkan

tenaga-tenaga professional yang mampu menggambarkan kandungankandungan

elemen musik dalam gong kebyar untuk dipahami oleh para

peminatnya. Mencuatnya reputasi gong kebyar di antara barunganbarungan

gamelan lainnya di Bali tidak menjadi ekses negative bagi

perkembangan barungan lainnya, malahan harus diakui bahwa gong

kebyar memiliki karisma kemampuan berinteraktif yang tinggi di forum

masyarakat musik tradisi dunia secara cemerlang. Sifat-sifat dan

kepribadian Gong Kebyar menentukan dirinya berposisi sangat kuat,

seperti ia: mempesona, menarik, menyentuh, bersahabat dan bersemangat tinggi.

Komposisi atau letak masing-masing Instrument pada barungan (Ensamble) Gong Kebyar.

KETERANGAN GAMBAR :

  • T = Terompong                                                        JB = Jublag
  • KW = Kendang Wadon                                           JE = Jegog
  • KL = Kendang Lanang                                              P = Penyacah
  • C = Ceng-Ceng Ricik                                                R = Reyong
  • S = Suling                                                                  GL = Gong Lanang
  • R = Rebab                                                                 GW = Gong Wadon
  • KJ = Kajar                                                                  KR = Kempur
  • U1 = Ugal Depan                                                     BD = Bende
  • U2 = Ugal Belakang                                                 M = Kempli
  • GP S = Gangsa Pemade Sangsih
  • GP P = Gangsa Pemade Polos
  • GK S = Gangsa Kantil Sangsih
  • GK P = Gangsa Kantil Polos

 

Apr 9

Pengertian Bunyi

Posted on Selasa, April 9, 2013 in Tulisan

1.SUMBER BUNYI

Sumber  bunyi merupakan benda yang mengeluarkan bunyi yang gelombang mekanik yang dalam perambatannya arahnya sejajar dengan arah getarnya (gelombang longitudinal).  bunyi yang didengar manusia yaitu menghasilkan osilasi dalam  tekanan udara, yang dikonversi menjadi gelombang mekanik dalam telinga manusia dan dirasakan oleh otak. Penyebaran suara mirip cairan, di mana suara berbentuk fluktuasi tekanan. Contoh sumber bunyi yang dapat di hasilkan seperti seruling yang di tiup akan menghasilkan bunyi,gitar yang di petik akan menghasilkan bunyi dll.

2.TIMBRE

Definisi timbre. Timbre adalah kualitas atau warna bunyi. Timbre sangat dipengaruhi oleh cara bergetarnya suatu sumber bunyi. Timbre terjadi karena banyaknya nada tambahan dan kuat nada atas yang menyertai nada dasarnya. Misalnya seorang pria dan seorang wanita menyanyikan sebuah nada secara bersamaan, maka akan dapat kita bedakan, walaupun keduanya bernyanyi denga frekuensi sama. Hal ini karena alat-alat yang beresonasi dari leher / tenggorokan keduanya tidak sama. Perbedaan itulah yang menyebabkan timbre atau warna bunyi.
Pada alat-alat music pun terdapat warna bunyi. Nada C pada gitar akan terdengar berbeda dengan nada C pada biola, berbeda pula dengan nada C pada piano, walaupun frekuensinya sama.

3.DINAMIKA

Dinamika adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan keras dan lembutnya permainan sebuah karya musik. dinamik sangat diperlukan agar sebuah karya musik tidak menjadi monoton atau datar. Pemain musik atau penyanyi yang baik akan selalu mengikuti dinamika lagu yang diberikan. Terkadang, sang pemimpin orkes atau paduan suara harus menginterpretasikan sendiri lagu yang akan dibawakan, dan memberi tanda dinamik atas lagu itu agar makna dari lagu itu lebih bisa ditangkap oleh penikmatnya.

4.NOISE

noise adalah suatu sinyal gangguan yang bersifat akustik (suara), elektris, maupun elektronis yang hadir dalam suatu sistem (rangkaian listrik/ elektronika) dalam bentuk gangguan yang bukan merupakan sinyal yang diinginkan.

5.BISING

Bising didefinisikan sebagai bunyi yang kehadirannya tidak dikehendaki dan dianggap mengganggu pendengaran. Bising dapat berasal dari bunyi atau suara yang merupakan aktivitas alam seperti bicara, pidato, tertawa dan lain – lain. Bising juga dapat berasal dari bunyi atau suara buatan manusia seperti bunyi mesin kendaraan dan mesin – mesin yang ada di pabrik. Untuk menilai bunyi sebagai bising sangatlah relatif. Misalnya musik di tempat – tempat diskotik, bagi orang yang biasa mengunjungi tempat itu tidaklah merasa suatu kebisingan, tetapi bagi orang – orang yang tidak pernah berkunjung di tempat diskotik akan merasa suatu kebisingan yang mengganggu.

6.SUARA

Suara adalah gelombang mekanis yang merupakan osilasi tekanan ditularkan melalui, gas padat cair, atau, terdiri dari frekuensi dalam kisaran pendengaran dan dari tingkat cukup kuat untuk didengarkan, atau sensasi dirangsang pada organ pendengaran oleh getaran seperti
Propagasi suara.