Welcome To Our Site...

Fusce sed justo. Vestibulum eget pede. Pellentesque venenatis nisl et nulla. Nulla malesuada tincidunt nunc. Praesent erat diam, sollicitudin nec, egestas a, tempor et, felis. Aliquam ante lectus, vehicula ac, commodo sed, luctus a, turpis. Aliquam vehicula quam porttitor felis. Quisque metus ante, molestie sit amet, adipiscing sed, vulputate scelerisque, arcu. Nunc suscipit sem e.

Agustus 2018
M S S R K J S
« Jul    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

“PERTUNJUKAN FESTIVAL PANJI / INAO INTERNASIONAL BERKOLABORASI DENGAN PENARI BALI”

Posted By on 16 Juli 2018

LATAR BELAKANG

 

            Cerita Panji, yang di kalangan masyarakat Bali lebih dikenal dengan dengan Malat, adalah salah satu sumber lakon terpenting dalam seni pertunjukan Bali. Cerita ini merupakan sumber lakon terbesar ketiga dalam seni pertunjukan Bali, setelah epos Mahabharata dan Calonarang. Lebih dari itu, para seniman di Bali telah sejak lama menggunakan cerita Panji sebagai sumber inspirasi untuk melahirkan karya-karya seni ciptaan baru.

Cerita Panji, yang di kalangan masyarakat Bali lebih dikenal dengan dengan Malat, adalah salah satu sumber lakon terpenting dalam seni pertunjukan Bali. Cerita ini merupakan sumber lakon terbesar ketiga dalam seni pertunjukan Bali, setelah epos Mahabharata dan Calonarang. Lebih dari itu, para seniman di Bali telah sejak lama menggunakan cerita Panji sebagai sumber inspirasi untuk melahirkan karya-karya seni ciptaan baru.

Dengan tokoh sentralnya Raden Panji Inukertapati, yang memiliki sederetan nama samaran, cerita Panji berkisah tentang dinamika dan romantika perjalanan putra-putri raja dari empat kerajaan bersaudara di Jawa, yaitu Kahuripan, Daha, Gagelang, dan Singasari. Pertemuan dan perpisahan, penyamaran, penculikan, serta pertempuran di antara mereka menjadi daya tarik dari kisah ini. Jika disimak lebih dalam, sesungguhnya cerita Panji banyak berkisah tentang hal-hal yang cukup relevan dengan kehidupan masyarakat di zaman modern ini seperti nilai-nilai kejujuran, kesetiaan, kesucian, keberanian, dan lain sebagainya. Intinya, di balik nuansa feodalnya, cerita Panji banyak menyajikan nilai-nilai spiritual, sosial, dan kultural yang masih sangat relevan dalam kehidupan masyarakat zaman sekarang.

Bali ini termasuk ke dalam destinasi wisata budaya yang dimana didalamnya menyajikan suatu pertunjukan  budaya dengan tujuan menarik wisatawan dan juga menunjukan ke masyarakat lokal bahwa kebudayaan di Bali sangat beragam dan rupa-rupa keindahanya, di mana di dalam pesta kesenian Bali ini, menyajikan berbagai macam tarian, seni karawitan, wisata kuliner, wisata furniture khas Bali dan masih banyak lagi. Dan selanjutnya saya akan membahas tentang hubungan pariwiisata dengan pesta kesenian Bali di laporan saya kali ini.

 

“PERTUNJUKAN FESTIVAL PANJI / INAO INTERNASIONAL KOLABORASI DENGAN PENARI BALI”

 

Selain di Bali, festival (Panji) juga dilaksanakan di sejumlah provinsi lainnya. Provinsi Jawa Timur, Yogyakarta, dan DKI Jakarta melaksanakan dari 27 Juni sampai 13 Juli 2018, kata Dewa Beratha di Gedung Wisma Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Ini merupakan event gabungan yang unik. Karena kegiatannya mengemas perhelatan literasi dan kebudayaan yang dinamis dengan tetap menampilkan nilai seni budaya tradisional, kontemporer, dan modern. Akan banyak acara di pagelaran.

Delegasi kesenian dari Thailand akan mengawali pementasan seni dan budaya di acara Festival International Panji (Inao) Indonesia 2018, yang digelar di Gedung Ksirarnawa Art Center, Denpasar Bali,, Kamis (28/06/2018).Sebuah grup  kesenian pimpinan Mr. Surapol Yongjor, yang cukup eksis di Thailand ini, akan menampilkan tarian klasik berjudul  ‘Inao-Inao Exiting The Cave’ (Inao-Inao Keluar Dari Gua). Melibatkan lebih dari 20 personil baik penari maupun pemusik. Menurut, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro inisiator festival ini, tarian klasik Thailand ini, kerap disebut Lakhon Nai. Sebuah drama tari Istana yang dilakukan oleh sekelompok wanita dengan gerakan elegan dan anggun.

Kehadiran Festival Panji/INAO Internasional semakin menyempurnakan pesona PKB tahun ini. Event ini akan semakin menarik dengan Menggunakan kekuatan sastra sebagai basic, festival ini dilengkapi dengan instrumen lain. Inspirasi ditiupkan melalui seni pertunjukan, seperti musik, tari, dan teater. Ada juga wayang beber, komik, seni media dan film, hingga seni kreatif seperti topeng. Festival ini juga merilis hasil penelitian, kajian, diskusi, hingga pemanfaatan seni-teknologi.

PKB sekarang semakin kompleks, dan, ini tentu menjadi daya tarik terbaik bagi para wisatawan. Kami optimitis, kolaborasi besar antar elemen di Pesta Kesenian Bali akan menaikan jumlah kunjungan wisatawan khususnya mancanegara. Sebab, PKB ini levelnya dunia, “katanya”, Bagi saya sendiri pertunjukan Festival Panji/inao Internasional berkolaborasi dengan penari Bali, itu sesuatu pertunjukan yang sangat bagus karena membuat suatu perbedaan dalam PKB sekarang ini, walaupun sudah pernah ada yang membuat seperti itu sebelumnya, tapi saya baru melihat secara lansung kolaborasi ini, menurut saya sangat bagus, sehingga membuat ketertarikan penonton untuk menonton pertunjukan ini, pada bagian akhir pertunjukan Festival Panji dengan kolaborasu dengan penari Bali ini, mengajak penonton untuk menari bersama, membuat lingkaran dan berputar bersama, dengan tarian yang elegan dan anggun.

 

LAMPIRAN FOTO DAN VIDEO YANG MENARIK WISATAWAN UNTUK DATANG MELIHAT EVENT DI PESTA KESENIAN BALI

Ini beberapa poto yang saya ambil dari kursi penonton, waktu pertunjuka berlansung.

 

 

 

 

Definisi Iringan Gamelan Baleganjur Untuk Ogoh_ogoh

Posted By on 16 Juli 2018

Agama Hindu adalah agama yang paling banyak memiliki hari suci. Serangkaian upacara yang dilakukan tidak lepas dari konsep keseimbangan hidup dalam banyak dimensi. Masyarakat Hindu, dimanapun mereka berada akan selalu dihadapkan dengan sebuah problema yang menyangkut keseimbangan hidup tersebut. Salah satu hari suci yang akan kita jalankan adalah hari raya Nyepi. Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun baru saka. Hari ini jatuh pada tilem kesanga (IX) yang dipercayai hari penyucian dewa-dewa membawa intisari amerta air melakukan pemujaan suci terhadap mereka. Tujuan utama dari hari raya nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit dan Bhuana Agung. Sebelum hari raya Nyepi dilaksanakan, ada beberapa rangkaian uapacara yang harus dijalani oleh umat Hindu Dharma yaitu :

Melasti, Tawur (Pecaruan) dan Pengerupukkan, tiga atau dua hari sebelum hari raya nyepi, umat Hindu melakukan penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga mekiyis/melis. Pada hari itu segala benda-benda suci yang ada dipura disucikan di danau, atau di sumber air yang dinilai sebagai tembat yang suci. Bicara tentang hari raya Nyepi, dewasa ini tidak dapat dipisahkan dengan kata Ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh merupakan perwujudan Bhuta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Bhuta Kala dari lingkungan sekitar.

Hari Raya Nyepi, ini adalah puncaknya. Sebab suasana yang biasanya ramai dihentikan untuk satu hari. Secara filoshofis, hal ini bermakna untuk menyucikan Bhuana Agung secara realistis, dan menyucikan Bhuana Alit melalui Tapa Brata Penyepian. Adapun Catur Brata Penyepian adalah Amati Geni yaitu tidak menyalakan api, Amati Lelanguan yaitu tidak berpesta pora, Amati Karya yaitu tidak bekerja, dan Amati Lelungaan yaitu tidak berpergian.

Bicara tentang hari raya Nyepi, itu tidak dapat dipisahkan dengan ogoh-ogoh. Pertunjukkan ogoh-ogoh pada hari raya nyapi seolah menjadi PKB ke-2 yang menyulap perhatian para peminatnya. Di Kota Denpasar, penulis mengamati tiap-tiap banjar membuat ogoh-ogoh untuk persiapan hari raya Nyepi, yang nantinya ogoh-ogoh tersebut diarak keliling daerah mereka. Namun belakangan ini pertunjukan ogoh-ogoh mengalami sekulerisasi. Tidak saja digunakan pada saat upacara pengerupukan, namun pertunjukan ogoh-ogoh telah dijadikan sebagai ajang berkreatifitas bagi pengerajinya dalam bentuk Lomba dan Pawai Ogoh-ogoh. Pertunjukan ogoh-ogoh dewasa ini selalu diiringi dengan iringan Baleganjur, ataupun ada suatu daerah yang ogoh-ogohnya menggunakan tektekan sebagai pengiringnya.

Dalam makalah ini, penulis akan mengemukan relasi antara ogoh-ogoh dengan musik pengiringnya dalam konteks seni pertunjukan di Bali. Bagaimana terjadinya sekulerisasi fungsi daripada ogoh-ogoh itu sendiri

Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (kala) yang tidak terukur dan tidak terbantahkan. Bhuta Kala yang dilukiskan didalam bentuk ogoh-ogoh pada umumnya berwajah seram dan menakutkan dan mengambil wujud dalam bentuk raksasa. Selain wujud rakshasa, ogoh-ogoh sering pula digambarkan dalam wujud makhluk-makhluk yang hidup di Mayapada, Surga, dan        Neraka, seperti : Naga, Gajah, Garuda, Widyadari, bahkan Dewa.

Seiring perkembangannya, ogoh-ogoh sampai ada yang menyerupai artis, dan tokoh-tokoh dunia yang dinilai memberikan pengaruh besar terhadap dunia ini. Mengenai fungsi utamanya, Ogoh-ogoh sebagai perwujudan Bhuta Kala dibuat menjelang hari raya Nyepi dan diarak keliling desa pada senja hari Pengerupukan. Menurut para tokoh dan praktisi Hindu Dharma, hal ini melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dashyat. Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Namun, secara filoshofis, lambing ogoh-ogoh melambangkan sifat keraksasaan yang harus dihilangkan oleh umat manusia. Untuk itulah ogoh-ogoh sehabis diarak langsung dibakar.

Fungsi yang kedua adalah seiring perkembangan zaman ogoh-ogoh telah mengalami sekulerisasi, sehingga ogoh-ogoh itu merupakan sebuah hiburan dengan seringnya diadakan lomba, ataupun pawai ogoh-ogoh.

 

 

  1. A.    Musik Iringan Ogoh-ogoh.

Dalam penampilannya, ogoh-ogoh selalu identik dengan Baleganjur dan Tektekan, dalam bagian ini akan dibahas mengenai historis mengenai Baleganjur itu dan Tektekan dalam ranahnya sebagai seni pertinjukan. Secara universal barungan gamelan di Bali dapat diklasifikasikan menjadi gamelan Barungan Alit, Barungan Madya (menengah), dan Barungan Agung (besar). Pengklasifikasiannya didasarkan atas banyaknya personil yang terlibat dan dilibatkan dalam gamelan tersebut. Jika gamelan barungan Alit itu mempergunakan 4-10 orang penabuh, gamelan barungan madya antara 11-25 orang, sedangkan gamelan barungan golongan madya itu diatas 25 penabuh (Gede Mawan dalam Mudra, 2009:19).

Gamelan Baleganjur adalah satu dari sedikitnya sepuluh golongan kuno yang hingga sekarang masih tetap eksis di Bali (Dibia, 1999:112). Hingga kini ada dua pengertian berbeda melekat dengan gamelan prosesi ini. Yang pertama adalah musik pengusir Bhuta Kala sehingga disebut Kalaganjur. Yang kedua adalah sebagai musik pembangkit semangat sehingga disebut Balaganjur. Namun, secara historis Baleganjur itu berasal dari Bebonangan, yaitu sebuah perangkat gamelan kuno yang lahir pada masa pemerintahan raja-raja di Bali (I Made Bandem, 2013:266).

Tektekan, instrument ini sejenis “slit drum” atau kentongan yang dibuat dari batangan bambu dengan berbagai ukuran pula. Tektekan dimainkan dengan alat pemukul bambu atau kayu yang dapat menimbulkan bunyi semarak terutama dimainkan sehari menjelang Hari Raya Nyepi dan fungsinya untuk menghalau Bhuta Kala agar tidak mengganggu kenyamanan tahun baru Bali (I Made Bandem, 2013:127). Munculnya tektekan sebagai barungan gamelan adalah gabungan dari beberapa instrument. Yang mana instrument utamanya adalah kentongan (I Gede Mawan dalam Mudra, 2009:20).

Seni pertunjukan di Bali memang sangat fleksibelitas, hal ini terbukti dimasukanya tektekan untuk mengiringi ogoh-ogoh. Kendatipun tidak semua daerah di Bali menggunakannya sebagai pengiring ogoh-ogoh.

 

 

  1. B.     Hubungan Ogoh-ogoh dengan Musik Pengiringnya.

Ogoh-ogoh memiliki berbagai macam varian dan bentuk. Bentuk muka dan jenis ogoh-ogoh itu akan mempengaruhi rasa musikal pementasanya. Hal ini tidak jauh berbada dengan pemilihan warna pada topeng. Sepereti Tari Jauk Manis yang melukiskan tentang kebijaksanaan seorang raja dalam memerintah kerajaanya. Untuk itu topengnya menggunakan warna putih yang amat berwibawa. Tidak hanya itu hal ini berdampak pada rasa musikal tabuhnya yang manis dan merdu sehingga enak didengar. Begitu pula dengan ogoh-ogoh, bentuk ogoh-ogoh yang mengambil wujud Bhuta Kala pasti dominan menggunakan warna gelap seperti Hitam ataupun warna Merah dengan tampilan muka yang menakutkan. Hal ini sangat berpengaruh terhadap rasa musikal pementasanya. Biasnya ogoh-ogoh dengan wujud Bhuta Kala cenderung rasa musikalitas iringannya itu adalah dengan tempo yang cepat, penuh ornamentasi, aksentuasi, dinamisme, sebagaimana sifat raksasa itu sendiri.

Pementasan Ogoh-ogoh tidak perlu menggunakan lighting (pencahayaan), sebab karakter ogoh-ogoh itu akan muncul pada gending, dan tampilan muka ogoh-ogoh itu sendiri. Apalagi pementasan ogoh-ogoh itu adalah menjelang malam hari, hal ini ajan menambah kesan angker dan agung dalam ogoh-ogoh itu sendiri. Jadi relasi yang paling terlihat adalah jalinan musikalitas dengan bentuk ogoh-ogoh itu sendiri. Hal ini adalah patut dijadikan acuan untuk menggarap sebuah tabuh Baleganjur. Sebab jika menginginkan kesempurnaan dalam menggarap untuk iringan ogoh-ogoh, itu harus ada suatu keseimbangan antara bentuk dan penciptaan musikalitas itu sendiri. Karena dengan sebuah keseimbanganlah akan terjadi suatu keharmonisan hubungan antara pemain Baleganjur, dan tukang tegen ogoh-ogoh. Terlebih lagi sekarang ini ogoh-ogoh sering dijadikan sebagai ajang perlombaan, mau tak mau para senimannya harus mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan, apakah itu tentang tema pementasan ataupun yang lainya. Perlu diketahui tema pementasan dalam lomba adalah faktor utama penentu rasa pembuatan ogoh-ogoh dan rasa musikalitasnya.

 

 

  1. C.    Penyebab Terjadinya Sekulerisasi dalam Pementasan Ogoh-Ogoh

Pada umumnya pementasan ogoh-ogoh itu adalah diperunukan hanya pada saat Hari Raya Nyepi, namun seiring perkembangan zaman, keberadaan ogoh-ogoh di Bali kian menjamur bak dentuman bom yang begitu besar. Sama seperti perkembangan Gong Kebyar, perkembengan Ogoh-ogoh di Bali hampir dirasakan perkembangannya di seluruh pelosok pulau dewata ini. Terjadinya sekulerisasi ini menurut Bapak I Wayan Dibia disebabkan karena faktor tarik menarik arus Glokalisasi dan Balinisasi (I Wayan Dibia, 2012 : 101).

Sekularisasi pementasan ogoh-ogoh ini dapat diamati dari dua aspek, yaitu dari aspek fisik dan aspek non-fisik. Aspek fisiknya meliputi bentuk dan bahan-bahan yang membuat ogoh-ogoh itu sendiri. Sedangkan aspek non-fisiknya adalah aspek musikal musik pengiringnya. Pertama, kita lihat dari aspek fisiknya. Secara universal pembuatan kerangka ogoh-ogoh itu adalah anyaman (ulatan) bambu dan menggunakan Koran atau bahan yang terbuat dari unsur kertas sebagai pembungkusnya. Namun belakangan ini seiring dengan perkembangan zaman, pembuatan kerangka ogoh-ogoh tidak lagi menggunakan kerangka dari bambu ataupun bahan yang terbuat dari kayu, melainkan kerangkanya sudah terbuat dari besi yang dilas dan menggunakan bahan sejenis gabus sebagai anggota tubuhnya. Perkembangan ini tentu membawa dampak yang baik dari segi ekonomi bagi para pengerajinnya, namun secara filosofis tidaklah kemewahan bentuk dari ogoh-ogoh menentukan sebuah rasa bangga bagi para pelakunya. Melainkan bagaimana kita memaknai  Hari Raya Nyepi sebagai hari untuk menyucikan alam semesta ini beserta isinya dari pengaruh keraksaan yang disimboliskan dalam bentuk ogoh-ogoh.

Dilihat dari aspek musikal instrumenya, bahwa menurut Bapak I Made Bandem ada berjenis-jenis gamelan yang berbeda-beda dan berfungsi untuk mengiringi prosesi upacara keagamaan yang salah satunya adalah Kalaganjur (I Made Bandem, 2013 : 114). Perubahan yang cukup mendasar dari gamelan Baleganjur adalah menyangkut fungsi dan statusnya, dari yang selama ini sebagai gamelan pengiring prosesi menjadi gamelan yang dipertunjukan secara mandiri. Perubahan fungsi dan status Baleganjur ini bermula dari sebuah kontes gamelan Baleganjur pada tahun 1986. Hingga pertengahan tahun 1980-an, baleganjur pada umumnya dimainkan untuk mengiringi prosesi keagamaan seperti prosesi upacara ke pura, ke laut (melasti), ataupun untuk pengabenan (I Wayan Dibia, 2012:108).

Kini masyarakat Bali sudah terbiasa menonton lomba Baleganjur di mana berbagai jenis tabuh baleganjur dipertintonkan sebagai sajian karya misik yang mandiri. Dengan dimulainya sebuah tradisi yang baru ini, lomba-lomba baleganjur yang diselenggarakan dalam berbagai even di Bali telah berhasil membuat gamelan prosesi ini semakin popular di masyarakat terutama dikalangan generasi muda. Salah satu kegiatan budaya yang menjadi wadah bagi pementasan baleganjur ini adalah pementasan ogoh-ogoh menjelang hari raya nyepi.

 

IDE KONSEP TABUH TELU LELAMBATAN

Posted By on 6 Juni 2018

Ide konsep ini saya ambil dari cerita sejarah yang ada di desa saya, Ide konsep saya adalah perjalanan tentang air dari Desa Batur, tepatnya dari Ulun Danu Batur yang menuju ke banjar saya yaitu banjar Batur Rening, Batur Rening Berasal dari dua kata yaitu Batur yang mengambil dari nama Desa dari Batur, Sedangkan Rening yang berarti air yang jernih, jadi nama Batur Rening itu adalah air jernih yang berasal dari Ulun Danu Batur, dari hasil wawancara saya kepada I Wayan Rena yaitu Kelian Desa dari banjar saya banjar Batur Rening, Dia Mengatakan bahwa air itu awalnya dikarunia oleh seekor Naga yang muncul di dalam air yang jernih tersebut tiba-tiba air itu dibawa ke sebuah gua yang ada di dalam air tersebut dan gua itu mengarah tepat menuju ke bajar saya, pada saat itu semua masyarakat desa Batur Rening kaget dgn kemunculan Naga tersebut yang bersamaan dengan air jernih menuju ke sebuah Tempat suci atau Pura yang ada di Batur Rening, pada saar itu masyarakat menganggap itu adalah sebuah karunia, dan sampai sekarang Naga tersebut dibuatkan patung dan disucikan, dan di puja oleh semua masyarakat Desa. Saat ini jika ada kekurangan dalam uapakara pada saat memuja naga tersebut, mata dari naga tersebut akan keluar air yang sangat jernih, seperti sedang menangis. Disini saya menjelas bagian-bagiannya saja yaitu seperti berikut :
Di bagian 1 saya menggambarkan tentang kemunculan sebuah naga tersebut, menuangkan dari kawitan, dengan permainan tempo yang naik turun atau cepat lambat sehingga menggambarkan pergerakan naga yang seperti gelombang yang naik turun, dengan diringi air yang jernih, saya menuangkan dengan permainan nada yang kecil, sehing dapet menggambarkan air yang jernih, dan pada
bagian 2 saya mengambar situasi tegang masyarakat yang menemukan kemunculan naga yang secara tiba-tiba tersebut, dan pembuatan ritual-ritual untuk naga tersebut yang penuh kebingungan dari masyarakat, keyakinan terhadap naga tersebut semakin kuat dirasakan oleh masyarakar sehingga memutuskan untuk memuja naga tersebut dan di upacarakan.
Di bagian 3 mengambar keluar nya air jernih dari mata naga tersebut, pada saat adanya kekurangan pada saat upacara pemujaan atau ritual-ritual yang di lakukan oleh masyarakat desa, disini di bagian endingnya atau pekaad saya juga menyusun di nada yang kecil dengan permainan tempo sedang mengambarkan situasi, saat air jernih itu keluar dari mata sang naga
video proses pembuatan tabuh telu lelambatan Batru Rening.

Definisi Tari Kakebyaran dan perkembangan Tari Terunajaya

Posted By on 6 Juni 2018

Foto Diambil dari www.google.com

Kakebyaran berasal dari kata kebyar yang mengandung banyak pengertian dan merupakan rangkaina kata dari bahasa Bali yaitu ka-kebyar-an, yang berasal dari kata “kebyar”, mendapat awalan “ka” dan akhiran “an” yang berarti “berhubungan dengan”. Dengan demikian, kekebyaran dimaksud berhubungan dengan kebyar.
Tari kekebyaran meliputi berbagai jenis tarian tunggal, duet, trio, kelompok, dan sendratari. Tari – tarian ini dikelompokkan sebagai kekebyaran bukan hanya karena diiringi dengan gamelan Gong Kebyar, namun karena gerakannya yang dinamis dan bernafas kebyar. Secara umum tari kekebyaran dikelompokkan menjadi tari – tarian lepas dan sendratari. Yang pertama meliputi tari – tarian yang berdurasi pentas relatif pendek, tidak berkaitan antara yang satu dengan lainnya, baik yang bercerita maupun tanpa cerita. Yang kedua meliputi sejumlah seni drama tari, tarian berlakon, yang berdurasi pentas relatif lebih panjang, dan dimainkan oleh banyak orang. (Dibia, 1999 : 46)
Tentang kebyar, Moerdowo menyatakan bahwa perkembangan baru dalam seni sudah dimulai sejak tahun 1920, dengan diciptakannya Gong Kebyar. Irama Gong Kebyar lebih dinamis dan sudah mulai bercorak modern. Kemudian I Maria dari Tabanan menciptakan suatu koreografi yang disebut tarian Kebyar. Tarian ini sangat digemari masyarakat, terutama golongan muda dan menyebar keseluruh Bali dengan cepat (Moerdowo,1985:201). Munculnya Gong Kebyar di Kabupaten Buleleng sangat digemari dan mendapat perhatian khusus dari pemerintah Kolonial Belanda. Gong Kebyar yang sangat digemari masyarakat luas telah mendorong munculnya berbagai bentuk tari – tarian baru yang mempergunakan gamelan ini sebagai musik iringan tari. Contohnya seperti munculnya tari Trunajaya yang diciptakan oleh Pan Wandres, kemudian disempurnakan kembali oleh I Gede Manik dari Kabupaten Buleleng (Dibia, 1999: 51). Sebagian masyarakat ada yang menyebutkan “Tari Terunajaya atau Tari Trunajaya”. Namun dikalangan masyarakat umumnya menyebut “Tari Trunajaya”. Tari yang menggambarkan emosional seorang pemuda ini ditata sangat dinamis dan ekspresif, sesuai dengan karakteristik Gamelan Gong Kebyar tersebut. Kesuksesan Tari Trunajaya yang mampu memikat hati penonton diikuti oleh munculnya beberapa tari baru yang juga diiringi Gamelan Gong Kebyar, seperti Tari Margapati dan Tari Panji Semirang yang diciptakan oleh I Nyoman Kaler pada tahun 1942. Kedua tarian ini merupakan tari bebancihan, yakni tari putra halus yang ditarikan oleh penari perempuan. (Bandem, 1996: 56). Munculnya tari Trunajaya ini mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat maupun wisatawan. Hal itu dibuktikan bahwa sejak awal perkembangannya hingga kini tari ini tetap digemari oleh masyarakat maupun wisatawan manca negara.

Bentuk Pertunjukan Drama Gong

Posted By on 6 Juni 2018

Gde Darma – tokoh teater dari Singaraja – seperti halnya Dibia, beranggapan bahwa drama gong merupakan pertunjukan
yang berunsurkan arja, tabuh, dan drama. Secara prinsipil pendapat tersebut tidak bertentangan jauh dengan apa yang dilakukan Payadnya. Pertunjukan sendratari menjadi orientasi pertama saat ia mengadakan latihan di Banjar Abianbase. Ini bersesuaian dengan keinginan Krama Banjar yang menugaskan Payadnya membuat sebuah pertunjukan sendratari. Payadnya menyanggupinya karena saat itu bertepatan dengan liburan hari Raya Galungan.
la untuk sementara libur dari tugas belajarnya di Fakultas Seni Rupa Universitas Udayana. Banyak kendala yang dihadapi Payadnya saat latihan sendratari dimulai. Tidak semua pemain mampu menari secara baik. Waktu yang disediakan untuk latihan juga sangat terbatas.
Oleh karena itu Payadnya berupaya untuk merubah sendratari menjadi pertunjukan drama. Ia kemudian dengan cepat membuat naskah drama dari cerita Jayaprana. Penulisan lakon ini diilhami oleh pertunjukan sandiwara yang pernah ditontonnya di Gianyar sekitartahun 1955.
Cerita yang dibawakan dalam sandiwara tersebut ialah
I Swatsa Setahun di Bedahulu karya I Nyoman Panji Tisna. Unsur-unsur yang menarik dari pertunjukan arja,
prembon, dan seni pertunjukan lain di Bali juga menjadi referensi
Payadnya. Ia mencoba meramu daya tarik dan keindahan dari
beberapa pertunjukan yang pernah ia kenal untuk membentuk
drama yang dinginkannya. Meskipun unsur tariannya hampir
tidak terlihat, akan tetapi pertunjukan yang akan dibuatnya tetap
menggunakan cerita Jayaprana seperti dalam sendratari yang
sedang populer pada masa itu.
Pada saat beberapa peserta latihan menanyakan minimnya unsur tarian, Payadnya memberikan penjelasan bahwa dialog- dialog yang akan mereka bawakan bisa menggantikan kekuatan tari. Argumentasi ini menjadikan para pemain semakin yakin untuk segera mementaskan sebuah pertunjukan yang memikat.
Drama gong dengan lakon Jayaprana dipentaskan pertama kali di jaba-sisi Pura Abianbase 24 Februari 1966. Pementasanpada waktu itu masih sangat sederhana benruknya. Bertempat di sebuah pelataran dengan areal permainan segi empat berukuran kira-kira 12 X 6 meter. Ukuran panggung sebenarnya tidak memiliki aturan yang pasa. Jika dananya mencukupi, panggung biasanya dibuat lebih besar ukurannya dan dekorasinyapun lebih lengkap. Para penabuh gamelan (gong) menempati posisi bagian kiri atau kadangkala juga di bagian kanan panggung pertunjukan.
Tata-pentas pada awalnya hanya menggunakan krobong atau rangki yang biasa dipergunakan dalam pertunjukan raja. Diperlihatkan juga dekorasi yang menggambarkan candi bentar sebagai latar belakang panggung Akan tetapi pada perkembangannya kemudian pertunjukan-pertunjukan drama gong mulai menggunakan dekor lipat (layar bergambar) seperti yang ada dalam kethoprak di Jawa atau pertunjukan-pertunjukan sandiwara stambul. Beberapa jenis pepohonan dan hiasan janur ditata di bagian pinggir dan terkadang di tengh panggung bagian belakang Pada pertunjukan yang dilaksanakan di panggung terbuka Ardha Candra, layar tidak pernah dipergunakan. Latar belakang candi Bentar yang dibuat secara natural dan permanen sudah sangat menarik. Penambahan dekorasi hanya berupa pepohonan dan hiasan janur yang diletakkan di sisi 2 kiri dan kanan panggung.
Pada mulanya sumber pencahayaan menggunakan lampu petromax. Kemudian berkembang mempergunakan tata-lampu
elektronis. Lampu tidak hanya sekedar menerangi panggurn namun sudah disajikan dengan teknik-teknik pencahayaan untuk mendukung suasana. Hal ini juga didukung oleh iringan seperangkat gong kebyar (gamelan) dengan jenis-jenis tabuh yang telah disepakati, sesuai selera kelompok atau sekha tempat drama gong itu berasal. Dalam beberapa hal gending-gending tradisional masih terus dipakai terutama untuk melukiskan adegan penangkilam (sidang), kesedihan, ketegangan, perkelahian, perang dan sebagainya. Karena iringan gong juga diupayakan untuk mampu mengiringi adegan dan gerak-gerak yang realistak, maka muncul kemudian gending gending seperti dagang tuak, penunggang kuda, pembawa kursi, dan lain-lain. Pakaian yang dipergunakan para pemainnya lebih terkesan keseharian karena menggunakan pakaian adat atau pakaian upacara sehari-hari. Dari awal hingga akhir pertunjukan setiap pemain hanya menggunakan satu jenis kostum, tidak pernah berganti-ganti. Tata-rias yang menghiasi wajah lebih sederhana dibanding tata-rias untuk pertunjukan-pertunjukan seperti gambuhdan arja untuk tokoh raja dan patih umumnya memakai kumis. Pementasan yang dilangsungkan di banjar atau jaba-sisi Purabiasanya dilangsungkan pada malam hari sekitar pukul 21.30 dan berakhir menjelang dini hari. Akan tetapi pada pertunjukan- pertunjukan yang berlangsung di gedung Ardha Candra biasanyadimulai pukul 20.00 WITA dan berakhir sekitar jam 01.00 WITA.Sebelum pertunjukan dilaksanakan selalu didahului denganatau penyediaan sesaji. Adapun bahan bebantenan tersebut antara lain: peras santun/ daksina 2 buah, nasi wong- wongan puth mabe bawang jahe, nasi kepel (5 buah) mabe talap siap maguling 2 tanding, segehan 5 tanding, pesucian, rarapan, tipat kelanan akelan, 10 takir berisi jamuan yang diberikan kepada sekha (biasanya 5 takir berisi kopi/teh dan 5 takir diisi jajanan, dupa, toya anyar dan petabuh atak berem Selain bebantenan ada prasarana lain yang dinamakan pakuluh, yaitu berupa banyucokor, air suci yang diambil dari Pura. Menurut kepercayaan sekha Drama Gong. Setelah sesajian disediakan di pentas, semua pema.n, penabuh dan pembantu pembantunya diperciki air suci oleh Pemangłu yang menyertai sekha drama gong tersebut. Kemudian perunjukan drama gong siap untuk dimulai dengan ditabuhnya musik gamelan (gong) sebagai pembuka.