Site search

Komentar Terbaru

Arsip

Kategori

Meta

Site search

September 2017
M S S R K J S
« Mei    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Categories

Tags

Senarai Blog

REBAB BALI

rebab bali mungkin sudah sering di temukan dalam pementasan pementasan d bali..
rebab bali sering di gunakan dalam pementasan gong kebyar pada saat pesta kesenian bali.
tidak hanya gong kebyar rebab sering juga  di gunakan dalam instrumen semarapegulingan,semarandana,pelkegongan dll.

adapun bagian-bagian dari rebab yaitu:

1.menur
2.batis
3.jejebug
4.penyanteng
5.bantang
6.batok
7.babad
8.kuping.
9.senar
10.pengaradan.
dll

.PERBEDAAN REBAB SOLO DAN REBAB BALI.

perbedaanya terletak pada kuping kuping rebab ,rebab solo memiliki kuping-kuping yang lebih panjang jika rebab bali memiliki kuping yang lebih pendek. Ukuran bantang dan batok rebab solo lebih kecil di banding rebab bali. Tetapi tehnik permainan atau cara meminkanya sama antara rebab solo dengan rebab bali.

.FUNGSI FUNGSI REBAB

Rebab berfungsi sebagai pemanis gending atau lagu dan juga sering mengikuti melodi lagu yang ada.
fungsi rebab hampir sama dengan suling. Sama,sama untuk pemanis gending.
selain untuk pemanis gending,rebab juga bisa di mainkan secara instrumental  walaupun tanpa intsrumen lain rebab bisa di mainkan secara instrumental.

.PERKEMBANGAN ALAT MUSIK REBAB.

Untuk saat ini peminat rebab berkurang karena kebanyakan orang menganggap rebab itu merupakan instrument yang jarang terlihat di masyarakat.
banyak masyarakat memilih untuk belajar mekendang,ngugal, atau instrument-instrumen lain yang lebih menonjol di banding rebab.
tetapi hingga kini rebab tetap di gunakan dalam pementasan –pementasan di bali.

ogoh ogoh

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Hari raya pengerupukan  merupakan  kebudayan yang sudah turun temurun.  Setiap  satu tahun sekali seluruh umat hindu di Indonesia melaksanakan hari pengerupukan,  sampai  kapan  dan  dimanapun  ia  berada.  Pengerupukan  sangat  penting  artinya,  sebab hari raya pengerupukan merupakan hari menyambut hari tilem kesanga atau sering disebut dengan tahun baru caka.  Dengan  demikian  pengerupukan  harus  betul – betul  dilestarikan  untuk  menjaga seni dan budaya yang ada di bali khususnya dan  menjadikan hari pengerupukan sebagai budaya unggulan.

 

Tujuan  yang  kita  harapkan  adalah  menjaga tradisi,seni dan budaya Ogoh-ogoh yang  bisa kita ajarkan kepada generasi kita yang akan datang  memiliki  pengetahuan  dan  keterampilan,  serta  rasa  tanggung  jawab  kemasyarakatan.  Ogoh-ogoh  harus  mampu  di laksanakan  oleh seluruh umat hindu  agar  dapat  berperan  aktif  dalam  seluruh  kegiatan hari raya pengerupukan yang menjaga unsur keagaaman ,seni budaya ,kreatif ,  cerdas,  aktif,  terampil, dan  bermoral  tinggi,  demokratis,  dan  toleran  dengan  mengutamakan  persatuan  kebudayaan  dan  bukannya  perpecahan.

Mempertimbangkan  pengetahuan  anak – anak  tentang ogoh-ogoh sama  dengan  mempersiapkan  generasi  yang  akan  datang.  Hati  seorang anak tentang ogoh-ogoh  bagaikan  sebuah  plat  fotografik  yang  tidak  bergambar  apa – apa,  siap  merefleksikan  semua  yang  ditampakkan  padanya.

Pada makalah ini, akan dikaji hal-hal yang berhubungan dengan ogoh-ogoh  yang diselenggarakan di Bali pada jaman sekarang.

Pada dasarnya setiap kegiatan yang dilakukan akan menimbulkan dua macam dampak yang saling bertentangan. Kedua dampak itu adalah dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif adalah segala sesuatu yang merupakan harapan  dari pelaksanaan kegiatan tersebut, dengan kata lain dapat disebut sebagai ’Tujuan’. Sedangkan dampak negatif adalah segala sesuatu yang bukan merupakan harapan dalam pelaksanaan kegitan tersebut, sehingga dapat disebut sebagai hambatan atau masalah yang ditimbulkan. Jika peristiwa di atas dihubungkan dengan perkembangan jaman sekarang, maka pelaksanaan ogoh-ogoh akan menimbulkan dampak positif dan negatif yang disebut sebagai tujuan dan hambatan yang akan dihadapi.Terutama ogoh-ogoh jaman sekarang. Hal ini akan lebih tepat bila disebut sebagai “Perkembangan ogoh-ogoh jaman sekarang. Ogoh-ogoh   yang   diterapkan   harus   sesuai   dengan   cerita-cerita dan hal-hal yang terjadi di   masyarakat   atau   kebutuhan   dari   daerah   tempat   dilangsungkan   ogoh-ogoh tersebut.   Unsur   ogoh-ogoh   yang   dikembangkan   harus   sesuai   dengan   kebutuhan   daerah  setempat.

Dengan  demikian,  ogoh-ogoh jaman  sekarang  dan  masa  depan  harus  diarahkan  pada  peningkatan  kualitas  kemampuan  intelektual  dan  professional  serta  sikap,  kepribadian  dan  moral  manusia   pada  umumnya.  Dengan  kemampuan  dan  sikap  manusia    yang  demikian  diharapkan  dapat  mendudukkan  ogoh-ogoh yang  bermanfaat  di  masyarakat  dunia  di  era  globalisasi  ini.

 

 1.2  Rumusan Masalah

Permasalahan  dalam  pembuatan ogoh-ogoh  jaman  sekarang  adalah  suatu  masalah  yang  sangat  komplek.  Apabila  ditelaah  lebih  jauh,  maka  kita  akan  menemukan  sekumpulan  hal – hal  rumit  yang  sangat  susah  untuk  disiasati.  Masalah  yang  dihadapi  tersebut  akan  lebih  susah  jika  saling  berkaitan  satu  sama  lain.  Dengan  adanya  cerita-cerita dari orang yang berpengalaman  mampu  memberikan  gambaran – gambaran  pada  perkembangan  ogoh-ogoh  zaman  dahulu  dengan  ogoh-ogoh  zaman  sekarang.

Dan  mutu  ogoh-ogoh   pun  dapat  ditingkatkan  dengan  melakukan  serangkaian  pembenahan  terhadap  segala  persoalan  yang  dihadapi.  Pembenahan  itu  dapat  berupa  pembenahan  terhadap  bahan-bahan dan tehnik pembuatan  yang  dapat  memberikan  kemampuan  dan  keterampilan  dasar  minimal,  menerapkan  konsep  belajar mnghasilkan karya baru  dan  membangkitkan  sikap  kreatif,   dan  mandiri.  Perlu  diidentifikasi  unsure – unsure  yang  ada  di  daerah  yang  dapat  dimanfaatkan  untuk  memfasilitasi  proses  peningkatan  mutu  pembuatan ogoh-ogoh,  selain  pemerintah  daerah,  misalnya  kelompok  pakar,  paguyuban  mahasiswa,  lembaga  swadaya  masyarakat  daerah,  perguruan  tinggi,  organisasi  massa,  ,   TV  daerah,  media  masa / cetak  daerah,  situs  internet.

Mengenai  kecenderungan meningkatnya  pencapaian  hasil  pembuatan ogoh-ogoh  selama  ini, langkah  antisipatif  yang  perlu  ditempuh  adalah  mengupayakan  peningkatan  partisipasi  masyarakat  terhadap  pembuatan ogoh-ogoh,  peningkatan  kualitas  dan  relevansi  ogoh-ogoh,  dari  unsur – unsur  yang  terkait  pada  mutu ogoh-ogoh,  yaitu:

  1. Bagaimana  cara pembuatanya?

(Bahan-bahan,alat-alat yang digunakan,tehnik-tehnik.)

  1. Bagaimana antusias masyarakat sekitar?

3. Bagaimana bahan-bahan yang digunakan?

(proporsi bahan yang digunakan)

4.  Apa saja yang dibutuhkan dalam pembuatan ogoh-ogoh?

5.  Bagaimana kondisi tempat pembuatannya?

6. Adakah sarana pendukung yang lainnya?

(transportasi,dana dari pemerintah,tempat yang cukup)

7.  Bagaimana kondisi iklim pada saat pembuatan ogoh-ogoh yang ada saat ini?.

 

1.3  Tujuan Penulisan

Adapun tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Mengetahui perbedaan pembuatan ogoh-ogoh zaman dahulu & pembuatan ogoh-ogoh zaman sekarang.
  1. Mampu  meningkatkan kualitas ogoh-ogoh dengan cara mencari kelemahan – kelemahan  agar dapat dibenahi dan diselesaikan dengan penyelesaian yang tepat dan sesuai.
  2. Membantu dalam membahas dan menanggulangi masalah yang dihadapi di dalam proses pembuatan ogoh-ogoh.

 

1.4 Manfaat Penulisan Makalah

Berikut ini kan dijabarkan mengenai manfaat-manfaat yang dapat diambil dari penulisan makalah ini.

  1. Membangun kualitas ogoh-ogoh zaman sekarang ke arah yang lebih baik dari sebelumny.
  2. Memilah & menelaah masalah-masalah ogoh-ogoh yang dihadapi.
  3. Memberikan inovasi baru dan penanggulangan yang efektif dalam menghadapi masalah di dalam pembuatan ogoh-ogoh.
  4. Sebagai batu loncatan kepada generasi muda agar mampu memberikan hasil karya  yang lebih baik.
  5. Meningkatkan cara membuat atau merakit ogoh-ogoh yang lebih efektif dan efisien.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN MATERI

 

2.1 Perbedaan Ogoh-ogoh Jaman Dahulu dengan Jaman Sekarang

            Permasalahan ogoh-ogoh merupakan suatu kendala yang menghalangi tercapainya tujuan pembuatan ogoh-ogoh. Pada bab ini akan dibahas beberapa hal yang merupakan permasalahan tentang pembuatan ogoh-ogoh di Bali pada jaman sekarang. Adapun permaslahan – permasalan tersebut menimbulkan perbedaan – perbedaan yang sangat spesifikasi dari masa ke masa. Dalam makalah ini akan akan di jabrkan tentang perbedaan – perbedaan tersebut, berikut penjelasannya :

 

2.1.1 Dalam proses pembuatan ogoh-ogoh

ÿ Ogoh-ogoh Jaman Dulu

Pada  awalnya  ogoh-ogoh  dimaksudkan  untuk  mengusir bhuta kala pada saat sasih tilem kesanga atau disebut hari raya pengerupukan.  Yang terbuat dari alang-alang,anyaman bambu,kayu dan bahan-bahan yang ada pada saat jaman itu saja.yang menggambarkan raksasa,leak,celuluk dll.lebih cenderung bersifat bhuta kala.dengan ukuran yang besar-besar.

ÿ Ogoh-ogoh Jaman Sekarang

Ogoh-ogoh  sekarang  lebih  berorientasi  kepada  bagaimana  meningkat  kreatifitas anak muda masa kini  dan  bagaimana  menghadapi  globalisasi.  Ogoh-ogoh   sekarang  kehilangan  misi  utamanya  untuk  investasi  karakter  raksasa/bhuta kala.   Ogoh-ogoh yang mengandung  moral  dan  karakter  bukan  lagi  merupakan  factor  utama  seseorang  membuat ogoh-ogoh.Hal  ini  dianggap  menjadi  tugas  para  tokoh  agama,  tugas  orang  tua    di  masyarakat di daerah masing-masing.  Seluruh pemuda,pemudi yang kreatifitas  berlomba  menonjolkan  kreatifitas mereka masing-masing  yang  dipercaya  bisa  menciptakan  generasi  muda  yang mampu berkarya di  usia  sedini  mungkin.  Para  orang  tua  juga  tergiur  dan  ingin  anaknya  menjadi  kreator muda.

            2.1.2 Dalam Materi Pendidikan

ÿ Materi Ogoh-ogoh Jaman Dulu

Kreatifitas  atau  materi  ogoh-ogoh  jaman  dulu  lebih  menekankan  pada  kebutuhan yang diperlukan saat upacara pengerupukan,  penumbuhan  dan  penguatan  karakter  yang  kelak  membuatnya  mampu  membedakan  mana  yang  baik  dan  benar,  untuk  kemudian  mengutamakan  kebudayaan dan kesenian  yang  terlepas  dari  perbedaan  agama,  dan  budaya.

ÿ Materi Ogoh-ogoh Jaman Sekarang

Jaman  sekarang  ogoh-ogoh di buat dengan berbagai karakter yg kebanyakan mengisahkan tokoh pewayangan,  Ada  ogoh-ogoh yang mengandung unsur pornografi dll.  Bahan-bahan  yang  digunakan  pada jaman sekarang juga  berbeda    dengan  dulu.  Ada  ogoh-ogoh  yang  menggunakan  gabus atau sterofome ,  ada  yang  menggunakan  anyaman dari bambu,  dan  lain – lain.  Penonjolan  keunggulan  juga  terlihat  dari  bahan yang digunakan,  misalnya  ada  yang menggunakan gabus agar hasilnya lebih maksimal Ironisnya  pada jaman sekarang yg menggunakan anyaman bambu pada jaman sekarang kurang di minati.

 

 

 

 

 

BENTUK FISIK OGOH-OGOH JAMAN SEKARANG

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 3.1 Simpulan

Setiap jaman mempunyai masalah dan situasi yang berbeda. Sangat naif bila kita sekarang memaksakan pembuatan ogoh-ogoh yang ada pada jaman dulu diterapkan pada jaman sekarang.tidak mungkin kita menuntut remaja sekarang juga membuat model ogoh-ogoh yang sama sperti dulu. Mereka akan terlihat aneh di mata remaja lain yang mengikuti perkembangan ogoh-ogoh jaman sekarang. Ogoh-ogoh seperti apa yang ingin kita kembangkan kepada anak-anak di bali khususnya.

Pelaksanaan hari raya pengerupukan dan pembuatan ogoh-ogoh harus selalu di diterapkan. Hal ini dilakukan karena pengerupukan sudah menjadi turun temurun dari tahun ke tahun dan ogoh-ogoh salah satu kegiatan kreatifitas ksenian yang masih di gemari para remaja hingga saat ini. Dan  peningkatan mutu kualitan kreatifitan ogoh-ogoh akan bisa lebih baik jika terus di lestarikan.

3.2 Saran

Menurut saya bila ogoh-ogoh mampu terus berkembang di bidang kesenian dan tetap menjadi fungsi keagamaan Saya pribadi juga berharap mampu terus mengembangkan kreatifitas ogoh-ogoh sebagai warisan leluhur yang wajib di lestarikan oleh seluruh masyarakat HINDU di bali khususnya, mengembalikan unsur fungsi keagamaan tujuan pengerupukan atau pembuatan ogoh-ogoh yang utama.  Semoga pengerupukan atau ogoh-ogoh di tahun-tahun yang baru berisi elemen-elemen pendidikan yang berguna bagi kita smua dan anak cucu kita nanti..

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. OPINI (filosofi tak terpecahkan).Masih ada waktu. www.gr.co.id  edisi Jum’at, 15 Juli 2012
  2. www.ensiklopedia.com  ( Ironi Pendidikan Jaman Sekarang)
  3. Redaksi Kompas.opini masyarakat (Pendidikan yang bermutu). www.kompas.com edisi Rabu, 30 Maret 2005
  4. Hasan Shadily, dkk.1973. Ensiklopedi Umum . Jakarta: Yayasan Dana Buku Franklin Jakarta.

ASAL MULA, ORGANISASI DAN PERANAN GENGGONG DI DESA BATUAN

ASAL MULA, ORGANISASI DAN PERANAN GENGGONG
DI DESA BATUAN

1.1 Asal Mula
Kalau ditelusuri mengenai asal mula Genggong di Desa Bantuna ini, maka tak seorang informanpun dapat memberikan keterengan yang pasti mengenai asal-usul instrumen in idi Desa Bantuan yang menjadi obyek penelitian. Begitu pula data-data secara tertulis juga tidak dapat penulis temui. Namun untunglah beberapa orang pendukung tertua dari seniman pewaris Genggong di Desa Bantuan dapat memberikan beberapa keterangan yang penulis dapatkan dari hasil wawan cara pada Tanggal 7 oktober 2012, dengan nara Sumber I Wayan Sore.
Dari keterangan informan yang dapat dikumpulkan dikatakan. Bahwa Genggong yang ada di Desa Bantuan sudah ada sejak dahulu (sekitar awal abad 19-an). Instrumen yang dalam organisasi dikenal dengan sebutan jaw’s harp ini memang tersebar hampir di seluruh Nusantara. Pada jaman dulu, para petani di Desa Bantuan sehabis bekerja di sawah beristirahat sambil minum tuak. Pada umumnya para petani yang suka minum tuak itu, biasanya mempunyai tempat-tempat berkumpul tertentu, misalnya di warung, di rumah pedagang tuak atau di bawah pohon besar yang rindang. Sambil minum tuak mereka ngobrol kesana kemari tanpa tujuan, di samping sering mereka melakukan kegiatan yang dapat menghibur dirinya sendiri seperti bernyanyi, “Mececimpedan” dan sebaiknya. Para petani di Desa Bantuan itu banyak melakukan permainan Genggong sebagai selingan. Permainan Genggong yang dimaksud adalah dengan meniup sebilah pupug kecil dan tipis yang telah di bentuk sedemikian rupa, hingga menimbulkan duara yang merdu dan dapat memberikan kepuasan pada rohani mereka.
*Uraian dari Bahasa
Genggong kalau diuraikan menurut suku katanya adalah terdiri dari geng dan gong menurut wargan aksara/wiad¬nyanan aksara maka genggong berasal dari geng dan gong yang berarti ge = gae, gong (goh pala = pengangon), ng = ngaran sehingga penulis simpulkan bahwa genggong bahwa genggong berarti ge=gaen dari pengangon (suatu hasil karya dari pengembala) yang kira-kira sama dengan dengan terciptanya Rare Angon yang bernama I Tapak (Tapak Mada Bali).

*Uraian dari segi nama :
Timbulnya Genggong mungkin dari alat instrumen terse¬but waktu dihembus menimbulkan bunyi ngeng dan ngorig sehingga alat instrumen itu dinamai Genggong”

PENGERTIAN.

Kalau kita tarik kesimpulan dari pengertian tersebut di atas jelaslah bahwa Genggong adalah alat musik yang tergolong tua dan telah tersebar di seluruh dunia dengan bermacam bentuk dan versi. Khususnya di Desa Batuan, musik primitif ini muncul dan dikembangkan melalui pertemuan tidak resmi atau waktu-waktu tarluang oleh para petani Desa Batuan zaman dulu melalui acara minum tuak.
Menurut informan, pada dasarnya permainan Genggong pada za¬man dulu memang hanya bertujuan untuk sekedar mengisi waktu-waktu terluang pada saat istirahat. Tetapi karena seringnya berkumpul dan melakukan kegiatan seperti itu, semakin hari semakin banyak pula orang belajar main Genggong melalui pertemuan itu.
Kekhasan suara Genggong itu membawa pengaruh bagi yang mendengarkannya kalau dimainkan oleh orang yang betul-betul dapat memerankan atau memainkannya. Karena sering kita mendengar atau meli¬hat orang bermain Genggong, Maka mereka ingin meniru dan belajar bermain Genggong. Kemudian munculah kelompok-kelompok peniup Genggong yang saling menunjukan kemahirannya dalam bermain Genggong. Menurut informan, Genggong pada dasarnya berbentuk seni, tabuh. Tetapi sejak kapan Genggong dipergunakan untuk mengiringi ta¬ri, tidak seorang informan pun dapat memberikan keterangan yang pasti. Menurut informan I Wayan Sore (60 th) diungkapkan Genggong: sebagai pengiring tari terjadi secara tidak sengaja. Ini terjadi sekitar tahun 1935.

1.1 Peranannya dalam Masyarkat
Keberadaan suatu bentuk kesenian tentu karena dibutuhkan oleh suatu komunitas. minimal ia memiliki suatu peranan di masya¬rakatnya. Begitu pula kesenian Genggong di Desa Batuan memang ke¬hadiarannya mempunyai peranan dalam masyarak. Misalnya melesta¬rikan salah satu kesenian Bali yang termasuk langka, karena Geng¬gong merupakan seni karawitan Bali yang hanya hidup dibeberapa tempat saja seperti di Desa Batuan ini.
Disamping memiliki peranan melestarikan salah satu seni karawitan Bali eksistansi Genggong di Desa Batuan juga mempunyai peranan mempererat hidup kekeluargaan. Seni Genggong melalui sekaa¬nya merupakan media yang dapat memperkokoh rasa persatuan, solidaritas dan mempererat persaudaraan. Sekaa Genggong Batur Sari umumnya anggotanya masih mempunyai hubungan keluarga, hubungan darah atau hubungan dadia.Siklus kehidupan masyarakat Bali banyak disertai dengan upacara-upacara adat dan agama. Dan hampir dalam peristiwa-peristiwa ritual seperti itu kesenian; seni karawitan dan seni tari selalu ikut serta. Genggong di Desa Batuan sering dipentaskan sebagai rangkaian dari upacara-upacara itu sebagai seni peratunjukkan. Dan sebagai seni yang tergolong seni balih-balihan, Genggong juga da¬pat dipentaskan lepas dari upacara adat dan agama seperti untuk wisatawan misalnya.
INSTRUMENTASI DAN BENTUK PENYAJIAN

2.1 Instrumentasi
Penggolongan musik Indonesia, Bali pada khususnya dibagi menjadi 4 (empat) golongan yakni yang bersifat Idiofoon, Aerofoon, Membranofoon dan Kordofoon. Gamelan Bali sampai saat ini belum ada yang bersifat Elektrofoon.
Genggong yang tergolong Instrumen aerofoon ini, bentuknya ada 3 (tiga) yaitu Genggong besar, Genggong menengah dan Genggong kecil. Genggong kecil sama dengan anak Genggong; dalam istilah di Desa Batuan sering disebut dengan “enggung” karena suaranya me¬nyerupai suara enggung (kodok).

2.2 Proses Pembuatan Genggong
Bahan yang diperlukan untuk membuat Genggong adalah sebuah “papan pupug” kering dan benang. “Papan pupug” ialah kulit pele¬pah daun enau yang sudah tua (kering) yang dalam bahasa $alinya disebut “papah jaka”.
Di dalam memilih atau menentukan bahan Genggong yang baik bagi seniman Genggong di Desa Batuan telah mempunyai suatu keper¬cayaan tertentu yang sering dijadikan ukuran untuk menentukan kwalitas bahan Genggong yang akan dikerjakan. Dikatakan bahwa bahan Genggong yang baik, apabila pelepah enau itu sudah cukup tua (ka¬lau dapat biar daunnya supaya kering di pohon). Jika ada pelepah yang sudah menunjukkan tanda-tanda suara nyaring ketika bergesekan satu pelepah dengan pelepah yang lainnya, itulah bahan Geng¬gong yang baik.
Memang secara logika hal itu banyak menunjukan kebenaran. Sebab kalau pelepah enau itu belum cukup umur, jelas ia masih ba¬nyiak mengandung kadar air. Sudah tentu suara yang dihasilkan tidak akan nyaring dan kalau dikeringkan kadang-kadang ia akan “kisut” (mengkerut).
Untuk mengerjakan bahan-bahan tersebut hingga menjadi Geng¬gong, diperlukan alat-alat sebagai berikut :
1. Gergaji, belakas dan Timpas.
2. Pahat pemukul dengan segala ukuran.
3. Pengutik, pusut dan pangot dengan segala ukuran.
Proses pembuatan Genggong tersebut cukup rumit serta sulit menjelaskannya. Secara singkat dapat ditxraikan yaitu pelepah daun enau itu diiris-iris memanjang hingga men,jadi papan pupug yang tipis, kemudian dipotong-potong dengan panjang kira-kira 20 cm dan lebar 212 cm, lalu diproses dengan beberapa tahapan yang rumit de ngan teknik tertentu hingga berbentuk. sebuah Genggong.
Di dalam membuat Genggong, dibutuhkan harus mempunyai pengalaman yang baik dibidang itu ketekunan serta kesabaran yang tinggi,karena resikonya kalau sipembuat Genggong kurang sabar dan kurang hati-hati menghadapi benda kecil lagi tipis yakni akan sering berakibat patah. Untuk menghindari kegagalan tersebut seorang seniman pembuat Genggong memerlukan suasana tenang dalam menger¬jakannya. Karena sulit dan rumitnya membuat Genggong, di Desa Ba¬tuan kini hanya ada beberapa tukang Genggong.

2.3 Teknik Bermain Genggong
Yang dimaksud teknik bermain Genggong di sini yaitu bagai mana cara “menabuh” alat itu sehingga menimhul.kan bunyi sesuai dengan kondisi alat dan kehendak serta kemampuan pemainnya, mengingat instrumen ini mempunyai cara permainan yang unik.
Ketika hal ini penulis coba selidiki, tidak seorang pemain Genggong pun dapat memberikan metode atau definisi yang pasti ba¬gaimana cara bermain Genggong. Menurut mereka, di dalam belajar bermain Genggong mereka tidak dibekali dengan metode tertentu. Ka¬rena sering mendengar dan melihat orang bermain Genggong, mereka coba-coba meniru, karena tekun dan berbakat, akhirnya bisa.
Namun menurut I Dewa Aji Man Ubud Dan Dewa Sandi, teknik bermain Genggong menurutnya adalah sebagai berikut :
1. Buka mulut sesuai dengan lebar Genggong yang dimainkan.
2. Tempelkan Genggong pada mulut yang terbuka tadi secara horisontal. Tangan kanan memainkan talinya sementara ta¬ngan kiri memegang alatnya.
3. Keluarkan nafas secara “ngangkihin”, mainkan bentuk mu¬lut maka lidah Genggong itu akan bergetar menimbulkan bunyi yang khas.

2.4 Barungan Genggong
Pada dasarnya Genggong sebenarnya merupakan suatu alat mu¬sik yang berdiri sendiri, yaitu hanya terdiri dari beberapa Geng¬gong saja, tetapi dalam perkembangannya lebih lanjut, Genggong di¬lengkapi dengan alat-alat lain hingga berbentuk suatu kesatuan set gambelan dan Genggong yang dapat mengiringi suatu tarian. Jum¬lah instrumen yang dijadikan barungan gambelan Genggong secara umum di Bali belum ada keseragaman..
Pada mulanya, barungan gambelan Genggong di Desa Batuan sebelumnya cukup sederhana dibandingkan dengan sekarang, yaitu ter¬diri dari :
1. Genggong 4-8 buah,
2. Sepasang kendang angklung.
3. Sebuah keleritit (guntang kecil).
4. Sebuah kempur (guntang besar).
5. Sebuah suling kecil.
6. Sebuah kecek (dari botol bir).
Setelah mengalami beberapa fase perkembangan, gambelan Geng¬gong di Desa Batuan pada umumnya, khususnya pada sekaa Genggong Batur Sari di bawah pimpinan I Nyoman Artika, sekarang instrumen¬nya terdiri dari :

1. Genggong 4-8 buah
2. Beberapa seruling kecil dan menengah.
3. Kelentit (guntang kecil).
4. Gong Pulu.
5. Sebuah kelenang.
6. Sebmah kelenong Atau Tawa-Tawa.
7. Sepasang cengceng.
8. 1 Buah kendang “nyalah” (ukuran menengah).

2.5 Tugas Masing-Masing Instrumen
Barungan gembelan Genggong yang pada awalnya sangat seder¬hana kini sudah mengalami beberapa perubahan, diantaranya dengan alat yang bahannya dari kerawang seperti cengceng,kelenong, kele¬nang. Suatu perkembangan kecil yang perlu dicatat, umumnya baru¬ngan gambelan Genggong di Desa Batuan dilengkapi dengan sepasang kendang “lanang wadon”, tetapi pada sekaa Genggong Batur Sari da¬lam pementasan-pementasannya sering hanya mempergunakan sebuah kendang saja. Kendang yang bertugas sebagai pemurba lagu dimainkan secara “nunggal” (sendiri). Tugas masing-masing instrumen lainnya adalah sebagai berikut :
1. Genggong sebagai instrumen pokok dalam barungan ini,ber¬tugas membawa lagu dan membuat jalinan-jalinan.
2. Suling bertugas mengawali gending, memperseru suasana dan memperindah ruas-ruas gending yang lirih.
3. Kelentit bertugas memagang matra.
4. Gong Pulu bertugas sebagai pemangku lagu dan mengakhiri gending.
5. Kelenang dan kelenong atau Tawa -tawa juga bertugas sebagai pemangku lagu.
6. Genggong bertugas untuk membuat. Ansel sesuai dengan variasi kendang disamping untuk memperkaya ritme.
7. Kendang bertugas sebagai mengatur cepat lambatnya namika yang telah ditentukan.

2.6 Hal Laras
Laras Genggong di Desa Batuan adalah laras seledro dengan nada pokok ada 4 (empat), antara lain: ndeng, ndung, ndang dan nding, sama dengan laras angklung, maka : “Kesenian Genggong banyak me¬ngambil bentuk lagu angklung.

2.7 Komposisi Gending
Komposisi gending-gending sekaa Genggong di Desa Batuan khususnya pada sekaa Genggong Hatur sari umumnya lagu-lagunya diawali dengan bunyi suling seperti pada tabuh Angklung Dentiyis (ter¬lampir). Komposisi gending itu adalah sebagai berikut
1. Pengawit : diawali dengan suling kemudian diikuti Geng¬gong dan seluruh, instrumen langsung menuju pengawak.
2. Untuk mengulang pengawak diulang lagi dari pengamit.
3. Pengecetnya juga diawali dengan suling,dan bisa diulang¬ulang kembali.

2.8 Nama-nama Gending
Gending-gending yang sering dimainkan oleh sekaa Genggong Batur Sari, antara lain :
1. Gegindeman
2. Tabuh Telu
3. Tabuh Angklung Dentiyis
4. Tangis
5. Tabuh Angkiung Kuta
6. Dongkang Menek Hiyu
7. Sekar Saridat
8. Sekar Sungsang .
9. Sekar Gendot
10. Elag Elog
11. Janger.
12. Konokan Ngoyong
13. Konokan Mejalan
14. Giagah Puun
Gending-gending yang dikemukakan di atas adalah gending-gen¬ding yang masih aktif dimainkan oleh sekaa Genggong Batur Sari. Sebenarnya masih banyak gending-gending Genggong yang terdapat di Desa Batuan, tapi sudah banyak dilupakan.
2.9 Komposisi Gambelan
Komposisi barungan Genggong dalam mengiringi tarian, secara konvensional dan tradisional berada di sebelah kiri.Tetapi kadang-¬kadang karena situasi dan kondisi tepat pementasan, komposisi itu pun mengadakan penyesuaian. Namun walaupun demikian, yang jelas instrumen yang dianggap penting berada pada deretan paling depan. Untuk lebih jelasnya lihat komposisi barungan Genggong saat me¬ngiringi tarian.

 

 

 

2.9 Stting genggong

Gambar

Keterangan :
1. Kelenang
2. Gong Pulu
3. Tawa – Tawa
4. Ceng –Ceng Ricik
5. Kelentit
6. Kendang
7. Suling
8. Genggong

Tentang Saya

Nama saya KADEK MAHENDRA RIADNYA  PUTRA biasa dipanggil HENDRA.saya anak ke dua dari tiga bersodara Hobi saya bermain alat music modern atau tradisonal. saya lahir di DENPASAR  24 februari 1994 kini umur saya berusia 19 tahun saya masih duduk di bangku kuliah di INSTITUT SENI INDONESIA  DENPASAR jurusan seni karawitan  saya bertempat tinggaL di DENPASAR BARAT tepatnya di jln gunung selamet 11 no.3 perumnas monang maning Denpasar bali.

Saya pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar NEGERI 27 pemecutan Denpasar saya tamat pada tahun 2006.setelah tamat dari sekolah dasar saya melanjutkan sekolah menengah pertama di smp pgri 1 denpasar selama 3 tahun dan setelah 3tahun di sekolah menengah pertama(SMP)pada tahun2009   saya di terima di sekolah menengah kejuruan(SMK)SMK NEGERI 5 DENPASAR dengan mengambil jurusan seni karawitan selama 3 tahun dan taman tamat pada tahun 2012.dan melanjukan pendidikan di bangku kuliah  di INSTITUT SENI DENPASAR selama 4 tahun hingga sarjana.

Saya anak ke 2 dari 3 bersaudara,saya memiliki kakak laki-laki dan adik perempuan.kakak saya berkerja d luar negeri di salah satu hotel sebagai weater dan adik perempuan saya msh duduk di bangku sekolah dasar. Saya tinggal bersama kedua orang tua saya, ayah saya berkerja sebagai polisi dan ibu saya hanya sebagai ibu rumah tangga. Kegiatan yang sering saya lakukan sehari-hari yaitu bermain alat music tradisional bali atau sering disebut gambelan.dari bermain gambelan ini saya mampu mendapaykan hasil untuk mencukupi kebutuhan saya. Sejak dari duduk d bangku SMP saya sudah sering memainkan gambelan.yang pada awalnya pertama kali saya mementaskan tarian gambuh di gianyar. Hingga akhirnya saya mengikutin parade baleganjur sebanyak 2 kali pertama di puputan badung Denpasar bersama sekha gong kesatria dwi tunggal dan yang ke2 bersama sekolah saya SMK 5 DENPASAR mendapatkan juara 3 tingkat SMA sebali.dari sanalah saya sering di ajak untuk memainkan gambelan entah itu untuk di pura,di hotel,ataupun di masyarakat,dan saya juga pernah membantu ujian sarjana di institute seni Indonesia Denpasar pada thn 2010,2011,2012 hingga sekarang. Saya juga pernah mengikuti parade gong kebyar anak-anak sebanyak 3 kali yaitu yang bertempat di puputan sebanyak 2kali dan di puspem badung sebabnyak 1 kali. Selain megambel saya juga menggemari music modern seperti menyayi dan bermain gitar. Ayah saya yang sering mengajarkan saya memainkan alat music saxophone karna ayah saya juga mahir dalam memainkan alat music tersebut.. ayah saya sangat mendukung saya menggeluti dunia seni ini karna baginya seni itu sesuatu yang mampu menghasilkan rejeki dan sebagai hiburan yang tak ada habisnya.begitu juga dengan ibu saya yang mendukung saya untuk bersekolah di sekolah seni hingga menjadi sarjana.

Selain bermain gambelan dan music,saya juga penah mengajar menabuh untuk anak TK dan SD di sanggar sekar rahayu peguyangan Denpasar,dan saya lebih sering mengajar di banjar saya sendiri yaitu di banjar sapta bumi perumnas monang mananing Denpasar,membagi pengetahuan yang saya ketahui,yaitu mngajar tabuh-tabuh dasar baleganjur dari sini saya mendapatkan pengalaman bagaimana rasanya membagi ilmu kepada orang lain dan merasakan menjadi guru. Banyak suka duka yang saya rasakan pada saat mengajar, rasa suka saya rasakan dikala lagu yang saya ajarkan berhasil di bawakan dengan baik oleh teman-teman dan anak-anak didik saya. Dukanya yaitu di saat latihan terkadang waktu kita sedikit karena adanya kegiatan di tempat kita latihan bahkan sampai batal melakukan latihan dan menghambat proses latihan mereka.sampai saat ini proses latihan masih di lakukan hingga mereka mampu memainkan lagu lebih baik lagi.

Saya senang menjadi seorang seniman walaupun kemampuan saya masih rendah saya tak akan pernah berhenti untuk mempelajari kesenian yang belum saya ketahui karna kalau bukan generasi muda seperti sekarang yang mewarisi budaya leluhur siapa lagi?? Saya tidak ingin kesenian dan budaya khususnya di bali di akui oleh orang lain karna seni dan budaya bali sangat terkenal di dunia. Saya akan terus mempelajari kesenian yang ada dan melestarikannya lalu mengajarkan pada genrasi muda selanjutnya agar kebudayaan dan kesenian di bali tak punah di telan oleh jaman globalisasi yang serba modern ini. Saat ini  yang saya lihat banyak perubahan dari kesenian dan budaya di bali khususnya gambelan yaitu munculnya gending-gending atau lagu-lagu gambelan bali yang mengandung unsur musikalitas yang tinggi atau sering  disebut  kolaborasi antara gambelan bali dengan music modern(band).dan saya berharap para semua seniman bali agar tetap menjaga dasar-dasar  kesenian dan budaya gambelan yang ada supaya tidak menghilangkan yang aslinya.

Dan saya ingin seni mendapat tempat di pemerintah karna kurangnya perhatian dari pemerintah untuk ikut menjaga budaya tradisi yang ada.seni adalah segalanya karna hidup kita penuh diwarnai oleh seni tanpa seni hidup ini terasa hampa bagaikan toples kosong tanpa isi.

 

 

 

 

Halo dunia!

Selamat Datang di Blog Institut Seni Indonesia Denpasar. Ini adalah post pertama anda. Edit atau hapus, kemudian mulailah blogging!