Categories
Lainnya

review 5 buku

JUDUL          : FILSAFAT SENI SAKRAL DALAM KEBUDAYAAN BALI

OLEH             : I MADE YUDA BAKTI DAN I WAYAN WATRA

PENERBIT   : PARAMITA SURABAYA

TAHUN         : 2007

ISI                   : LONTAR TOPENG SIDAKARYA

Karena begitu pentingnya pentas topeng Sidakarya dalam setiap pelaksanaan upacara di Bali, baiklah dibawah akan diuraikan sejarah singkat tentang terjadinya Topeng Sidakarya sesuai dengan isi Lontar Sidakarya adalah sebagai berikut :

Pada masa kekuasaan Dalem Waturenggong di Gelgel, tepatnya ketika beliau mengadakan upacara atau karya “Nangluk Mrana” di Pura Besakih, tanpa diduga dan dinyana datanglah seorang Brahmana (walaka) dari Keling mencari saudaranya di Bali yang bernama Dalem Waturenggong. Tentu saja sang Brahmana tersebut dianggap gila oleh pengayah (pelayan) sehingga dengan segera diusir. Karena bersikeras ingin bertemu dengan saudaranya, maka dengan paksa para pengayah karya mengusirnya, sehingga Brahmana itu bersungut-sungut sambil mengutuk agar rakyat Bali diserang gering (penyakit). Keadaannya benar demikian sehingga karya tak bisa dilaksanakan karena semua pengayah sakit dan tanaman tidak berhasil (gagal panen).

Atas petunjuk sunya atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa dititahkan oleh Dalem untuk mencari Sang Brahmana Keling tersebut di Bandana Negara untuk dibawa menghadap Dalem yang sedang berada di Pura Besakih. Dalam pada waktu itu, Dalem memohon belas kasihan Sang Brahmana Keling agar kesempurnaan pulau Bali dapat dikembalikan sebagai sedia kala. Dalem menerima Sang Brahmana Keling sebagai saudara dan diberi gelar Dalem Sidhakarya. Brahmana Keling  meminta “saksi pituhu” yang membenarkan segala yang diucapkan. Setelah karya bisa dilaksanakan atau sidhakarya, maka Dalem Waturenggong menepati janjinya memberi gelar pada Sang Brahmana Keling yaitu “Dalem Sidhakarya”. Atas ketulusan Sang Prabu Waturenggong itu, Dalem Sidhakarya mengaku sebagai Dewa segala merana (tikus, walang sangit dan lain-lainnya). Berkaitan dengan hal tersebut diatas, maka semenjak itu, Dalem Waturenggong memerintahkan kepada seluruh rakyat di Bali apabila melaksanakan karya / yajna, agar memohon jatu karya ke Pura Dalem Sidhakarya yang berupa catur wija, dan panca taru serta dinasehatkan pula agar rakyat jangan memaki hama / merana.

JUDUL                       : ENSIKLOPEDI TARI BALI

OLEH                         : DR. I MADE BANDEM

PENERBIT                 : AKADEMI SENI TARI INDONESIA (ASTI) DENPASAR BALI

TAHUN                      : 1983

DICETAK OLEH      : PERCETAKAB PT. “BALI POST” OFFSET

ISI                               : “ANDIR”

Andir adalah sebuah tari seni klasik yang merupakan bentuk mula dari tari Legong Kraton yang ada sekarang. Andir ditarikan oleh tiga orang laki-laki. Tetapi akhir-akhir ini Andir ditarikan oleh wanita saja. Andir dikembangkan dari tari upacara, terutama Tari Sang Hyang sebuah tari kerauhan di Bali. Gerak tari andir merupakan salah satu dari gerak tari gambuh. Gerak yang sukar dalam tari gambuh itu diperhalus disesuaikan dengan musik yang sangat dinamis sehingga ia menjadi tari andir yang sangat indah seperti yang terlihat sekarang. Adapun sekeha andir yang masih aktif sampai sekarang ialah dari Banjar Tista, Kerambitan, Kabupaten Tabanan. Andir ini didukung oleh sekehe yang berjumlah seratus orang. Pementasan biasanya dilakukan untuk kepentingan upacara adat atau odalan di pura-pura yang ada disekitarnya.

Disamping sekehe Andir d Tista, masih ada pula sebuah sekehe andir yang kini aktivitasnya kurang menonjol yaitu andir di desa Blahbatuh Gianyar. Andir ini sangat aktif pada tahun 1906 dan seorang tokoh pelegongan yang bernama I Wayan Lotring dari desa Kuta Denpasar memperoleh latihan andir di Blahbatuh sebelum ia menjadi ahli tari legong kraton. Almarhum I Wayan Rindi, salah seorang penari legong kraton dari banjar Lebah (Denpasar), mendapat juga latihan tari andir sebelum ia menjadi ahli tari Legong Kraton di banjar Kelandis pada tahun 1930-an. Adapun tema yang dipakai oleh tari andir ialah :

Cerita malat           : khususnya bagian Prabu Lasem

Jobog                     : peperangan Subali dan Sugriwa

Kuntir                    : pertapaan Subali dan Sugriwa yang berakhir dengan peperangan

Semarandana         : terbakarnya Bhatara Semara dan Bhatara Ratih oleh sinar mata ketiga dari Bhatara Ciwa

Kupu-kupu tarum  : kisah percintaan dua ekor kupu-kupu

Bapang                  : suatu jenis tari abstrak yang menggunakan watak keras

Kuntul                   :  merupakan kisah burung bangau yang sedang bermain ditengah sawah.

JUDUL          : MENGENAL BUDAYA HINDU DI BALI

OLEH             : I GUSTI KETUT WIDANA

PENERBIT   : PUSTAKA BALI POST

TAHUN         : 2002

ISI                   : ARTI GARUDA DAN ANGSA DI PADMASANA

Padmasana berasal dari kata “Padma” yang berarti bunga dan “asana” yang artinya tempat duduk. Padmasana berarti tempat duduk dari bunga teratai. Dalam pandangan Hindu, padmasana merupakan simbolis dari sthana Hyang Widhi yang berbentuk bangunan menjulang tinggi. Padmasana dilengkapi dengan berbagai atribut diantaranya lukisan atau pahatan garuda dan angsa.

Burung garuda adalah lambang dari perjuangan untuk mendapatkan kebebasan dengan mencari air kehidupan (tirtha amertha). Cerita tentang burung garuda ini terungkap didalam kisah Adi Parwa, dimana garuda yang tidak lain adalah anak dari Dewa Winata berjuang untuk membebaskan ibunya dari perbudakan sang naga. Garuda ini kemudian dipergunakan sebagai simbol perjuangan manusia di alam raya ini dalam mencari amertha atau kebebasan yang abadi. Dalam bahasa agama Hindu pelinggih padmasana ini merupakan simbol pendakian umat dalam ikhtiarnya mendekatkan diri dan akhirnya dapat memperoleh kebebasan dalam persatuan dengan-Nya.

Begitupun dengan burung angsa yang keberadaannya di bagian belakang padmasana dilukiskan dalam keadaan mengembangkan kedua sayapnya. Sebagaimana disebutkan didalam lontar “Indik tetanginan”, lukisan angsa merupakan simbol “Ongkara”. Dimana kedua sayapnya mengembang melukiskan “Ardha Chandra” (bulan sabit). Lalu badannya yang bulat melukiskan “windhu” dan lebar serta kepalanya yang mendongak ke atas adalah simbol “nada”. Makna lainnya, burung angsa juga merupakan lambang kebijaksanaan dan kewaspadaan. Sebab selain angsa bisa memilah dan memilih yang terbaik juga sangat peka terhadap keadaan. Dengan demikian keberadaan burung angsa di pelinggih padmasana merupakan simbolis dimana umat Hindu dalam pemujaan kepada-Nya berharap memperoleh kebijaksanaan dan selalu bersikap waspada atas tuntunan dan lindungan-Nya. Sebenarnya, selain burung garuda dan angsa, pada bagian bawah (dasar) dari padmasana juga dilukiskan keberadaan dua ekor naga yaitu naga Anantaboga (simbol kesejahteraan) dari naga Basuki (simbol kerahayuan) yang lazim disebut dengan “Bedawangnala” dengan membelit seekor kura-kura (simbol api bumi) sehingga disebut juga “Bedawang api” (kuramegi). Secara menyeluruh padmasana itu tidak lain dari simbol alam semesta dimana Hyang Widhi bersthana guna memberikan tuntunan dan perlindungan kepada umat manusia yang bakti kepada-Nya.

JUDUL          : TINJAUAN SENI

OLEH             : SOEDARSO SP.

PENERBIT   : SAKU DAYAR SANA YOGYAKARTA

TAHUN         : 1990

ISI                   : PENGERTIAN SENI DAN SENI RUPA

Walaupun seni rupa atau seni pada umumnya sudah tua usianya, tetapi gambaran orang terhadapnya biasanya tidak jelas dan seringkali terlampau sempit. Yang demikian itu selain disebabkan oleh luasnya daerah jelajah seni, juga oleh pesatnya perkembangannya, terutama akhir-akhir ini, sehingga tidak lagi terjangkau oleh orang-orang diluarnya. Dari contoh-contoh perwujudannya dimasa lampau saja sudah cukup pusing kita dibuatnya; bahwa barang-barang yang tampaknya lain sekali baik bentuk maupun fungsinya, harus dimasukkan kedalam satu kategori, ialah seni. Marilah kita lihat betapa serbanekanya contoh-contoh yang dapat kita tarik. Sebuah lukisan pemandangan Ngarai Sianok di Minangkabau yang elok tergantung di dinding kamar tamu adalah salah satu hasil seni rupa. Demikian pula arca Buda yang dipuja, sebuah vignette kecil pengisi halaman di majalah, pencakar langit yang perkasa ataupun sebuah sendok makan yang cantik dan enak dipakai. Semuanya tampak berlain-lainan sekali fitrahnya. Lalu bagaimanakah kita mesti merangkum semuanya kedalam suatu pengertian yang tepat?

Selama ini telah banyak batasan tentang seni dibuat orang dan barangkali untuk menjawab pertanyaan diatas ada baiknya kita menelusuri batasan-batasan itu. Dengan demikian kita belajar dari apa yang pernah dirangkum orang sebagai seni, dan dengan jalan menjumlahkannya kiranya akan dapat menemukan suatu wawasan yang luas mengenai apa yang sedang kita persoalkan ini.

Definisi yang paling bersahaja dan sering terdengar menyebutkan bahwa “Seni adalah segala macam keindahan yang diciptakan oleh manusia”. Maka menurut jalan pikiran ini seni adalah suatu produk keindahan, suatu usaha manusia untuk menciptakan yang indah-indah yang dapat mendatangkan kenikmatan. Kalau kita perhatikan kesenian tradisi kita, hal itu memang nampak dengan jelas, seni kerawitan adalah paduan bunyi atau suara yang indah yang mengenakkan telinga dan demikian pula ukiran-ukiran kayu dirumah adalah lukisan yang menambah semaraknya pemandangan tetapi apabila seni modern yang kita hadapi, bukan mustahil kita akan dihadapkan pada sesuatu hal yang justru sama sekali tidak indah dan tidak mengenakkan. Seniman-seniman sekarang banyak yang tidak lagi memandang seninya sebagai proyek penciptaan keindahan dan bahkan sebaliknya, menggunakannya sebagai sarana pemecahan masalah yang sedang dihadapinya. AFFANDI, pelukis besar kita itu, sering melukis kemelaratan dan kesedihan yang diangkatnya dari keadaan sekitar sebagai refleksi gejolak jiwanya yang tersentuh oleh keadaan itu. Bentuknya jelas tidak mendatangkan kenikmatan melainkan justru menggelitik perasaan kita menjadi tidak tentram.

JUDUL          : AJARAN AGAMA HINDU

OLEH             : DRS. I.B. PUTU SUDARSANA, MBA.MM.

PENERBIT   : SAKU DAYAR SANA YOGYAKARTA

TAHUN         : 2003

DICETAK     : YAYASAN DHARMA ACARYA PERCETAKAN MANDARA SASTRA

ISI                   : BENTUK, MAKNA DAN FUNGSI PERANGKAT UPACARA

“SANGGAH TUTUAN”

Sanggah ini terbuat dari bambu juga, hanya berbentuk segi empat sama sisi, biasanya memakai atap dari kelabang atau ijuk dan pada sumbu atas dibentuk simpul menyerupai pucut (simpul rambut Pedanda).

Sanggah ini bertangkai dua sebagai kakinya yang tertancap ke tanah dan bagian atasnya masing-masing bercabang dua untuk menyangga keempat sudut sanggah. Sanggah ini memiliki makna dan sebagai simbol atau personifikasi seorang wiku (orang suci) dan mengungkap maknanya berdasarkan kajian sebagai berikut : Sanggah diartikan sebagai sumber, sedangkan kata tutuan berasal dari suku kata Tu-tu-an, dengan asal katanya “Tua” dapat akhiran an, maka menjadi Tuan untuk mendapatkan suatu pengertian maka suku kata Tu menjadi Ta menjadilah Tutuan, yang dapat diberikan arti sebagai “yang dituakan”. Di masyarakat Bali umumnya yang dituakan itu disebut pengelingsir disini diinterprestasikan sebagai seorang Maha Rsi (sang meraga putus).

Dengan demikian Sanggah Tutuan merupakan simbol stana dalam pemujaan Sang Maha Rsi.

Didalam “Lontar Medang Kemulan” disebutkan sebagai berikut :

“Om begawan mercukunda,

Tinutus denira Bethara Brahma,

Tumurun ring mercapada angawe,

Lara roga durmita, durmanggala,

Mangke manusanira sang adruwe yadnya

Amaweh tadah saji sanggraha ring prawatek

Kala wadurania Begawan mercukunda,

Dang Butha Durmita,

Sang Butha mertyunjaya, sang kalantaka

Sang kala amuk, sang kala dengen sang kala rodra”………

Melihat dari isi lontar diatas, sudah jelas bahwa sanggah tutuan tersebut simbul stananya dalam pemujaan “Begawan Mercukunda”. Contoh sanggah tutuan yang dipergunakan dalam upacara mecaru Panca Kelud, untuk sanggah upakara caru itik belang kalung yang bertempat ditengah-tengah. Untuk sanggah pengalang dewasa dalam pemujaan Begawan Wrespati dan ada juga sanggah yang dipergunakan di sawah dengan pemujaan Dewa Rare Angon, demikian juga sanggah semacam ini dipakai pada saat menanam ari-ari bagi anak yang baru lahir dalam pemujaan Sang Hyang mahayoni, sebagai dewa pelindung sang bayi.